BARAT MEMBAJAK ARAH PERUBAHAN TIMUR TENGAH

19 11 2011

Oleh : KH. M. Shiddiq Al Jawi

View Full Size ImagePendahuluan
Revolusi Timur Tengah yang dahsyat telah berhasil menurunkan sebagian penguasanya yang diktator dan antek Barat. Penguasa Tunisia, Mesir, dan Libia sudah dipaksa turun. Yang sedang menunggu ajal politik kini adalah penguasa di Suriah dan Yaman.

Sungguh, perjuangan ini tentu patut disyukuri dan dihargai. Namun pertanyaannya, sudahkah perubahan ini menuju arah yang benar sesuai Islam? Perubahan yang hakiki di negeri-negeri Islam seharusnya mengandung 2 (dua) unsur utama agar arahnya benar; Pertama, menjadikan Islam, baik aqidah maupun syariahnya, sebagai panduan ideologis untuk mendirikan negara Khilafah, yang akan menerapkan Islam secara utuh di dalam negeri dan menyebarkan Islam dengan jihad ke luar negeri. Kedua, menolak secara total segala bentuk intervensi asing ke negeri-negeri Islam dan tidak minta bantuan kepada asing. (Al-Waie [Arab], No 291, Rabiul Akhir 1432/ Maret 2011, hlm. 4).
Kedua unsur tersebut nampaknya tidak terpenuhi dalam revolusi Timur Tengah hingga akhir 2011 ini. Karena yang terjadi hanyalah perubahan sosok penguasa, belum perubahan sistem menjadi negara Khilafah. Artinya unsur pertama tidak terpenuhi. Selain itu, unsur kedua juga tidak terpenuhi. Karena intervensi Barat, khususnya dari Amerika, Inggris, dan Perancis telah berlangsung, baik di Tunisia, Mesir, Libia, maupun juga di negeri-negeri yang sedang bergolak kini, yaitu di Yaman dan Suriah.

Maka dari itu, boleh dikatakan perubahan Timur Tengah kini menjadi tidak jelas lagi arahnya. Semua ini akibat ulah Barat yang dengan segala kecanggihan politiknya, berhasil membajak arah perubahan Timur Tengah ke arah yang sesuai dengan kepentingannya.

Berbagai cara digunakan Barat untuk membajak arah perubahan ini. Yang terpenting ada 5 (lima) cara, yaitu : Pertama, memanfaatkan politisi boneka. Kedua, memberi bantuan ekonomi (utang). Ketiga, melakukan intervensi militer. Keempat, mempropagandakan Islam moderat. Kelima, mengendalikan media massa guna mempengaruhi opini publik.

Politisi Boneka/Agen
Barat selalu memanfaatkan para politisi lokal untuk melayani kepentingannya. Hal ini dapat dilihat dari berbagai intervensi politik negara-negara Barat di masing-masing negeri Timur Tengah. Intervensi politik ini tak akan berjalan, kecuali ada peran para politisi lokal yang menjadi kepanjangan tangan Barat. Timur Tengah memang sejak lama telah menjadi ajang rivalitas politik yang keras di antara negara-negara imperialis Barat.

Di Tunisia, perubahan dikendalikan Eropa (Inggris dan Perancis), jauh dari pengaruh Amerika, karena Tunisia sejak lama memenag berada di bawah Eropa. Sementara di Mesir, Amerikalah yang memegang kendali lewat militer Mesir, karena tak ada pengaruh Eropa yang efektif di sana. Sedang di Libia dan Yaman, kekuatan Amerika dan Eropa hadir bersamaan, meski kekuatan Eropa lebih kuat daripada kekuatan Amerika. Di Suriah, keadaan lebih rumit. Amerika berkali-kali menegaskan tidak akan melakukan intervensi, karena posisi Suriah yang sentral dan krusial bagi kepentingan Amerika di Timur Tengah, seperti kepentingan Amerika di Israel dan Iraq. Eksistensi Inggris di Suriah juga masih ada lewat agen-agennya yang dibina sejak lama. (Al Waie [Arab], No 295-297, hlm. 137).

Bagaimanakah intervensi politik Barat ini dapat berlangsung di negeri-negeri tersebut? Ya, semua berjalan utamanya lewat para politisi-politisi lokal yang menjadi boneka Barat. Di Mesir misalnya, kepentingan Amerika dalam revolusi Timur Tengah ini dijalankan oleh Jenderal Sulaiman yang secara de facto menjadi pemimpin Mesir untuk sementara pasca turunnya Hosni Mubarak. Sulaiman tak ubahnya seperti Presiden Hosni Mubarak, atau Presiden Anwar Sadat, yang menjadi boneka politik Amerika pada masanya masing-masing.

Bantuan Ekonomi
Barat juga memanfaatkan cara ekonomi untuk mengendalikan arah perubahan Timur Tengah. Dalam pertemuan negara-negara G-8 yang berlangsung 26-27 Mei 2011 yang lalu Perancis, disepakati pemberian utang berbunga kepada Tunisia dan Mesir guna mengarahkan kedua negara itu untuk menerapkan kapitalisme di bidang ekonomi, dan demokrasi di bidang pemerintahan.

Negara-negara kapitalis G-8 itu telah menyiapkan dana lebih dari 20 miliar dólar AS untuk membendung Tunisia dan Mesir serta mengikatnya dengan berbagai syarat yang mematikan. Tujuannya agar kedua negara itu tetap berada dalam dominasi ekonomi kapitalis ribawi di bawah pimpinan Amerika dan Eropa.

Sementara itu IMF telah memberikan utang ribawi sebanyak 3 miliar dolar kepada Mesir (dari 12 miliar dólar AS yang dibutuhkan menurut perhitungan IMF) dengan bunga 3% untuk menutup defisit APBN dan mengatasi defisit perdagangan luar negeri. Mesir mengalami pelonjakan inflasi hingga 20% dan defisit APBN-nya mendekati 10% dari nilai GDP.

Sedang Tunisia, perdana menterinya telah meminta bantuan kepada G-8 sebanyak 25 miliar dólar AS dalam jangka waktu 5 tahun, guna mengatasi kemiskinan dan pengangguran yang dikatakannya dapat menyuburkan ekstremisme. Inilah cara Barat mengendalikan arah perubahan Timur Tengah melalui jalur bantuan ekonomi. (Al Waie [Arab], No 295-297, hlm. 138).

Intervensi Militer
Intervensi militer juga menjadi cara untuk membajak arah perubahan Timur Tengah. Di Libia contohnya, terdapat dua kekuatan politik yang berpengaruh, yaitu Amerika dan Eropa. Eropa lewat NATO berkepentingan untuk segera melenyapkan Qaddafi. Sementara Amerika berusaha untuk mempertahankan Qaddafi dalam rangka melenyapkan pengaruh Eropa di Libia. Inilah yang mungkin membuat Amerika agak lamban berpartisipasi dalam operasi penggulingan Qaddafi.

Di Yaman, juga terdapat persaingan kekuatan Amerika dan Eropa. Eropa ingin segera menurunkan Ali Abdullah Saleh, sedang Amerika justru ingin mempertahankannya. Inilah yang membuat revolusi Yaman tidak segera berakhir.

Intervensi militer di Libia jelas hanya bertujuan untuk mewujudkan kepentingan Barat, bukan membantu umat Islam menuju arah perubahan sesuai tuntutan Islam. Tujuan intervensi militer Barat itu ada dua, Pertama, untuk membalas dendam kepada Qaddafi yang selama ini dianggap belum cukup membayar ganti rugi bagi korban peledakan pesawat Lockerby. Kedua, untuk menguasai minyak Libia yang sangat berlimpah.

Dampak intervensi militer ini menjadi musibah yang amat buruk bagi rakyat Libia. Selain tewasnya 25 ribu orang akibat perang saudara sejak Pebruari hingga Oktober 2011, dampaknya juga akan terasa dari segi ekonomi. Rakyat Libia akan jatuh ke dalam penjajahan ekonomi yang sangat eksploitatif. Di samping itu, semua harta Qaddafi yang disimpan di bank-bank Barat akan disita Barat untuk membayar ongkos intervensi militer ini. Pemerintahan Libia selanjutnya juga akan dipaksa untuk menjual minyak dan gas Libia dengan harga amat murah kepada Barat, khususnya Amerika dan Perancis. (Al Waie [Arab], No 295-297, hlm. 156).

Islam Moderat
Barat juga memanfaatkan ide dan gerakan Islam moderat untuk mengubah haluan perubahan Timur Tengah. Ini dilakukan Barat karena terdapat opini umum yang kuat tentang Islam di Timur Tengah. Maka Barat berusaha menggunakan isu Islam moderat untuk membentuk rejim-rejim baru berbaju Islam, sehingga seolah-olah sudah sesuai dengan Islam, padahal sebenarnya hanya bungkus untuk ideologi Barat. Tujuannya agar umat Islam tertipu dan menyimpang dari arah perubahan hakiki menuju penerapan Islam secara total dalam negara Khilafah.

Cherryl Bernard dkk dari RAND Corporation, sebuah lembaga kajian strategis di Amerika, pada tahun 2007 telah menggagas strategi untuk memanfaatkan Islam moderat dalam merekonstruksi Dunia Islam. Kajian ini memberi rekomendasi kepada Amerika agar menyokong orang-orang Islam moderat guna terjun dalam perang ideologis untuk menghadapi apa yang mereka sebut sebagai kelompok jihadi fundamentalis dan kelompok Islam radikal.

Amerika merealisasikan strategi itu dengan dua langkah utama; pertama, menyuplai ide-ide sekuler kepada kelompok-kelompok Islam. Beberapa tokoh kelompok Islam di Kuwait dan Mesir pun kemudian menyuarakan ide Barat ini, antara lain orang non muslim boleh menjadi anggota partai Islam. Atau anggapan bahwa seruan penegakan Syariah hanyalah ajakan emosional belaka dan sudah ketinggalan jaman. Kedua, mengadakan kontak dengan gerakan-gerakan Islam di Mesir, Suriah, Kuwait, Lebanon, Palestina, dan lain-lain. Langkah Amerika ini juga diikuti oleh Eropa yang mengadakan kontak dengan kelompok-kelompok Islam, baik kontak terbuka maupun rahasia.

Tokoh yang dapat menjadi contoh representasi ide Islam moderat adalah Hasan Turabi (Sudan) dan Rasyid Al Ghanusyi (Tunisia). Hasan Turabi seorang doktor lulusan Sorbone Perancis, mendukung apa yang disebutnya “demokrasi Islami.” Sementara Rasyid Al Ghanusyi sebagai pimpinan Hizbun Nahdhah (Partai Kebangkitan) di Tunisia sangat akomodatif terhadap nilai-nilai Barat. Rasyid antara lain menyatakan tidak setuju dengan Khilafah. Di sisi lain dia katakan jika partainya berkuasa, tak akan melarang khamr (minuman keras) dan juga tak akan melarang wanita berpakaian bikini di pantai. (Al Waie [Arab], No 295-297, hlm. 178).

Contoh tokoh Islam moderat lainnya adalah Tayyip Erdogan, pemimpin Partai Keadilan dan Pembangunan (Turki). Erdogan pernah mengatakan,”Kami menentang ide negara agama. Kita tak perlu bicara tentang negara Islam dalam pengertiannya yang luas. Yang kita serukan adalah sebuah negara demokrasi yang hakiki, yang memberikan kebebasan, kemuliaan, dan aqidah kepada masyarakat tanpa perbedaan dan diskriminasi.” (Al Waie [Arab], No 295-297, hlm. 179).

Jelas, melalui tokoh dan gerakan seperti inilah akhirnya Barat dapat membajak arah perubahan di Timur Tengah. Umat Islam yang menghendaki syariat Islam dalam negara Khilafah, jika tak memiliki kesadaran sempurna akan ideologi Barat, akan dapat dibelokkan dan disesatkan oleh berbagai propaganda ide-ide sekuler dari tokoh-tokoh Islam moderat yang menjadi corong negara-negara kafir penjajah, semisal Hasan Turabi, Rasyid Al Ghanusyi, dan Tayyip Erdogan.

Media Massa
Media massa juga menjadi salah satu alat yang digunakan Barat untuk membajak arah perubahan Timur Tengah. Keliru jika kita menganggap bahwa media massa khususnya televisi, selalu menayangkan realitas apa adanya secara objektif. Yang benar, mereka menayangkan apa yang mereka inginkan, sesuai kepentingan mereka dan kepentingan negara Barat di baliknya.

Media massa bisa saja membesar-besarkan apa yang sebenarnya kecil. Atau sebaliknya mengecilkan sesuatu yang sebenarnya sangat dahsyat. Atau bahkan bisa juga tidak memberitakan suatu realitas sama sekali, padahal sesungguhnya realitas itu ada atau nampak dengan jelas.

Dalam revolusi Timur Tengah, kesan yang ditangkap kuat bagi penonton televisi adalah slogan-slogan perubahan sesaat, seperti “Pergilah Mubarak!” (Irhal Mubarak!). Padahal seruan-seruan yang ideologis dan mendasar seperti tuntutan penegakan Khilafah, sebenarnya cukup banyak, tapi tak mendapat liputan yang memadai.

Misalnya saja, aksi yang terjadi di Homs (Suria). Sekelompok pemuda menyerukan kembalinya Khilafah dalam sebuah masirah (long march) yang dilaksanakan di malam hari. Stasiun Aljazeera yang biasanya meliput kejadian seperti ini bahkan tidak menyebut-nyebutnya sama sekali. Demikian juga di revolusi Tunisia, terdengar seruan-seruan islami seperti ”Al khilafah hiya al hall” (Khilafah adalah solusi). Namun tak ada satu televisi pun yang menayangkan seruan seperti ini. Ketidakadilan media massa ini banyak sekali terjadi dalam revolusi Timur Tengah belakangan ini. (Al Waie [Arab], No 295-297, hlm. 216).

Semua ini tiada lain karena media massa telah diarahkan dan dikendalikan secara langsung atau tidak oleh Barat, khususnya Amerika. Menteri Luar Negeri AS, Hillary Clinton, pernah memberi peringatan (warning) pada 13 Januari 2011 kepada para kepala negara-negara Arab, agar tidak memberi kesempatan kepada kelompok ekstremis untuk memanfaatkan kondisi politik yang ada.

Memang terkadang televisi menampilkan sosok-sosok aktivis Islam beserta tuntutan-tuntutannya. Namun mereka yang muncul itu adalah tokoh-tokoh yang sudah diseleksi dan disenangi Barat, yaitu mereka yang disebut tokoh-tokoh kelompok Islam moderat.

Dengan demikian, jelaslah nampak adanya upaya Barat untuk mengendalikan media massa, sehingga arah perubahan Timur Tengah tidak lagi sesuai dengan ajaran Islam yang sesungguhnya, yaitu menuju tegaknya Khilafah, melainkan menuju arah yang sesuai dengan kehendak negara-negara kafir penjajah. [ ]





Menuju Kehancuran Ekonomi AS: “Obama minta Dana Perang $ 83 M, Amerika Siap Bangkrut!”

15 06 2011

AMERIKA – Presiden AS telah meminta kepada kongres untuk menyetujui dana tambahan sebesar 83,4 miliar dollar Amerika sebagai tambahan biaya perang dan diplomasi di Irak dan Afghanistan.
Barack Obama mengatakan bahwa 95 persen dari dana tersebut akan dipergunakan untuk mendukung operasi militer AS di Irak dan upaya untuk mengalahkan kelompok pejuang al-Qaeda dan Taliban di Afghanistan.
“Taliban kembali bangkit dan al-Qaeda mengancam Amerika dari perbatasan Afghanistan dan Pakistan,” kata Obama kepada Nancy Pelosi, juru bicara Dewan Perwakilan Rakyat, dalam sebuah surat yang dikirimkan dari gedung putih.
Tambahan dana tersebut termasuk $3,6 miliar untuk Tentara Nasional Afghanistan.
Obama juga meminta $350 juta untuk peningkatan keamanan disepanjang perbatasan AS-Meksiko dan untuk memerangi geng pengedar narkoba, kemudian sebanyak $400 juta lagi untuk menanggulangi kekacauan di Pakistan.
Permintaan presiden AS tersebut, yang termasuk tambahan dana untuk pengiriman pasukan tambahan ke Afghanistan, akan meningkatkan biaya perang di kedua tempat tersebut hingga hampir mencapai $1 Triliun sejak serangan 11 September 2001, menurut kongres.
Namun, Gedung Putih mengetahui bahwa Obama bersikap kritis terhadap undang-undang yang sama yang diajukan oleh pemerintahan George Bush, pendahulu Obama, untuk membiayai perang.
“Mengingat masalah ekonomi AS yang semakin memburuk, (tambahan dana) ini akan menjadi tambahan biaya terakhir untuk Irak dan Afghanistan. Mengenai hal ini sudah dibicarakan dengan presiden, dan dia berjanji akan mengubahnya,” kata Robert Gibbs, juru bicara Gedung Putih.
Mungkin saja keputusan tersebut membawa kebangkrutan telak bagi AS.
Pentagon kini akan menerima tambahan dana perang sebesar $142 miliar untuk tahun anggaran yang akan tutup buku pada tanggal 30 September mendatang.
Kebanyakan politisi Demokrat dan Republik kemungkinan akan mendukung rencana tersebut, namun golongan yang menentang perang mengatakan bahwa Obama harus melakukan lebih banyak lagi untuk mengakhiri operasi militer di kedua negara tersebut.
“Tambahan dana ini akan menerapkan dua hal – yang pertama, memperpanjang pendudukan AS di Irak paling tidak hingga akhir 2011, namun hal tersebut pasti akan memperdalam dan memperluas pengaruh militer kita di Afghanistan,” kata Lynn Woolsey, seorang politisi Demokrat yang juga anggota wanita kongres dari California.
“Daripada berusaha mencari solusi militer dari permasalahan yang tengah kita hadapi di Irak dan Afghanistan, presiden Obama lebih baik mengubah dasar dari misi di kedua negara untuk memfokuskan diri pada upaya rekonsiliasi, perkembangan ekonomi, bantuan kemanusiaan, dan upaya-upaya diplomasi regional,” tambahnya.
Tidak lama lalu, Obama juga telah menyetujui untuk mengirimkan pasukan tambahan ke Afghanistan sebanyak 17.000 tentara. (dn/aljz/sm/SuaraMedia)





Khawatir Revolusi Meluas di Timur Tengah, Arab Saudi Bentuk “Klub Para Raja”

11 06 2011

RIYADH, – Arab Saudi menggunakan sarana keuangan dan diplomatiknya mencegah pemberontakan dan revolusi di Timur Tengah dan Afrika Utara agar tidak berlanjut semakin luas.
Berdasarkan laporan yang diterbitkan oleh New York Times, Arab Saudi telah mengeluarkan dana empat miliar dolar AS untuk membantu Mesir, dan berusaha membantu pelarian Presiden Yaman, Ali Abdullah Saleh.
Riyadh juga mengundang kerajaan Maroko dan Yordania untuk bergabung dengan enam negara anggota Kerjasama Teluk Persia (PGCC) dalam upaya membentuk semacam “Klub Para Raja”. Upaya itu dilakukan untuk mencegah munculnya perubahan yang lebih ekstrim di kawasan.
Pada 14 Maret, Arab Saudi mengerahkan pasukannya ke Bahrain atas permintaan pemerintah Manama guna membantu menumpas gerakan protes anti-pemerintah di negara itu.
Menurut analis politik, Riyadh khawatir gelombang pemberontakan dan revolusi di dunia Arab akan merambat ke Arab Saudi. Oleh karena itu, kerajaan Saudi berjuang menggulirkan “kontra-revolusi.” [mam/rep]





Jenderal Zionis: “Gaza Memang Tempat Kami ‘Ngetes Persenjataan Baru”

8 05 2011

Hidayatullah.com–“Gaza adalah the ideal training zone, tempat latihan paling baik,” demikian kata Mayor Jenderal Yoav Galant yang menjadi komandan operasi dalam Operation Cast Lead ke Gaza yang menewaskan lebih dari 1400 orang rakyat Palestina termasuk sekitar 400 anak.

Saat berceramah di Begin – Sadat Center of Strategic Affairs di Bar-Ilan University pekan ini, Galant menjelaskan dengan terbuka bahwa penyerangan-penyerangan ke Gaza adalah sarana untuk Zionis menguji-coba berbagai persenjataannya.

Dalam Operation Cast Lead pada pergantian tahun 2008 – 2009, misalnya, Galant memerintahkan digunakannya bom fosfor putih yang ditembakkan dengan senjata-senjata artileri kaliber 155 mm. Bom yang dilarang berbagai konvensi internasional ini membakar hangus tubuh para korbannya.

Mengapa Gaza? Karena ‘Israel’ tidak punya musuh lain yang dianggap sama seriusnya dengan Hamas, demikian Galant.

“Meskipun kemampuan militer ‘Israel’ jauh lebih kuat daripada Hamas, kami menganggap mereka sebagai musuh paling serius,” demikian Galant sebagaimana dikutip oleh Occupied Palestine.

“Orang-orang Palestina di Jalur Gaza tampak sudah meningkatkan kemampuan penembakan roket mereka, dan bukan saja itu merupakan teror, tapi juga merupakan tantangan terhadap eksistensi ‘Israel’.”

Ketika mengomentari berbagai perkembangan politik yang terjadi di Timur Tengah, Galant mengatakan, “kawasan ini akan menjadi ancaman instabilitas besar karena dikuasai oleh orang-orang Islam ekstrimis.”*

Sumber : http://www.hidayatullah.com/read/16854/07/05/2011/jenderal-zionis:-

Komentar : Semoga Allah membalas kebiadaban mereka kepada saudara seaqidah kita.





Kota Kandahar Dibumihanguskan Taliban

8 05 2011

Taliban melakukan serangan besar ke gedung-gedung pemerintah di seluruh Kandahar, kota terbesar di selatan Afghanistan.
Kota kandahar dibumihanguskan pejuang Tiliban, di mana koalisi yang dipimpin Amerika Serikat dan pasukan Afghanistan sedang mencoba untuk membangun keamanan dan mengambilkan sistem pemerintahan di wilayah itu.
Serangan hari Sabtu adalah terbaru dalam serangkaian serangan oleh Taliban di seluruh gedung dan instansi pemerintahan di Kandahar. Serangan ini telah memporakporandakan seluruh bangunan yang ada di Kandahar. Sehingga, kota mengalami kehancuran.
Pemerintah dan pejabat rumah sakit mengkonfirmasi bahwa Gubernur Provinsi Kandahar, kantor walikota dan kantor-kantor badan intelijen semua diserang, bersama dengan sejumlah kantor polisi.
Lutfullah Mashal, seorang juru bicara Dinas Intelijen Afghanistan, mengkonfirmasi serangan terhadap rumah gubernur dan gedung-gedung pemerintah lainnya dengan “orang bersenjata tak dikenal”, ujarnya Sabtu sore kepada para wartawan.
“Kami tidak memiliki informasi tentang sebab-sebab atau informasi lain para penyerang,” kata Mashal. Dia menambahkan bahwa polisi memiliki kontrol kota, tetapi pertempuran itu terus berlangsung berjam-jam, sampai tengah malam.
James Bays, koresponden Al Jazeera di ibukota, Kabul, melaporkan bahwa RPG mendarat 300 meter dari kompleks gubernur. Hal itu tidak jelas apakah Gubernur Kandahar Wesa berada di kompleks.
Bays melaporkan bahwa serangan itu dilaporkan dari dekat sebuah penjara di bagian barat kota, di mana Taliban bulan lalu telah membantu ratusan tahanan melarikan diri.
Ahmed Wali Karzai, ketua dewan provinsi, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa pihak berwenang sedang berusaha untuk menguasai kembali kontrol, tetapi pejuang Taliban masih bersembunyi di beberapa tempat pusat kota.
Taliban mengatakan sejumlah besar pejuang mereka membanjiri kota Kandahar dengan tujuan menargetkan setiap bangunan yang digunakan oleh pemerintah.
“Serangan kami terhadap setiap tempat di mana pejabat pemerintah atau aparat keamanan yang ditemukan,” kata Qari Yousef Ahmadi, juru bicara Taliban, Kantor berita Associated Press melalui telepon.
Ketika pertempuran berkobar, Zalmai Ayubi, seorang juru bicara pemerintah, mengatakan melalui telepon dari dalam sebuah ruangan yang aman di kompleks gubernur bahwa “Taliban menyerang sejumlah lokasi yang berbeda”.
Ayubi menegaskan bahwa gubernur, kantor walikota dan kantor polisi berada di bawah serangan.
Setidaknya 24 terluka telah dibawa ke rumah sakit kota utama oleh sore – 14 warga sipil dan 10 polisi, menurut dokter gawat darurat yang hanya memberikan satu nama, Irsan.
“Banyak orang telah tewas,” kata Ahmadi. Penembakan di kompleks itu difokuskan di bagian belakang, dekat kediaman gubernur. Setidaknya dua ledakan yang lebih besar juga didengar.
‘Ofensif Spring’
Taliban tampaknya bertekad untuk membuktikan kekuatan mereka setelah musim dingin yang memukul mundur mereka. Minggu lalu, mereka mengumumkan awal dari “ofensif musim semi” mereka terhadap pasukan koalisi pimpinan Amerika dan pemerintah Afghanistan.
Kandahar, tempat kelahiran Taliban, telah menjadi fokus operasi militer untuk tahun terakhir, dengan komandan mengatakan mereka telah membuat keuntungan, tetapi kualifikasi kesuksesan dengan terming mereka “rapuh” dan “reversible”.
Serangan itu juga datang sehari setelah Taliban mengeluarkan pernyataan yang mengatakan bahwa pembunuhan Osama bin Laden akan meningkatkan semangat pemberontakan dan mengancam bahwa mereka akan menunjukkan kekuatan mereka.
“Para martir dari Sheik Osama bin Laden akan memberikan dorongan baru bagi jihad saat melawan penjajah,” kata kelompok itu dalam pernyataan hari Jumat.
“Waktu yang akan datang akan membuktikan hal ini baik untuk teman-teman dan musuh.” Namun Ahmadi mengatakan ini bukan serangan balas dendam atas kematian bin Laden tapi plot yang telah di bekerja selama berbulan-bulan.
“Operasi ini telah direncanakan untuk waktu yang lama, selama sebulan terakhir atau dua,” kata Ahmadi.
“Dalam operasi pembunuhan Osama bin Laden dinas intelijen Afghanistan tidak secara langsung terlibat, tetapi intelijen Afghanistan memberikan berbagi informasi tentang keberadaan Bin Laden kepda CIA,” melalui dinas Intelijen Afghanistan Lutfullah Mashal.





Revolusi Prematur Dunia Islam

5 05 2011

oleh : Iwan Januar

Tidak ada kawasan di dunia
yang bergejolak sepanas dan semenarik Timur Tengah. Selama beberapa bulan belakangan dunia menatap dengan serius dan penuh kecemasan terhadap gelombang revolusi di kawasan tersebut. Ada keyakinan bahwa angin perubahan yang terjadi di negeri-negeri itu dapat mempengaruhi wajah dunia.

Ketertarikan dan kecemasan dunia, khususnya Barat, terhadap pergolakan di wilayah Timur Tengah jelas beralasan. Sebutlah faktor minyak. Gejolak politik di Libya sudah mengubah harga minyak dunia dari 80 dolar menjadi 110 dolar perbarel. Minyak mentah jenis Brent diperdagangkan di harga US$ 116,44 perbarel. Kenaikan ini mendekati level tertinggi dalam dua tahun terakhir. Adapun minyak mentah sewwt crode berada di level US$ 104,88 perbarel. Baca entri selengkapnya »





Mayoritas Rakyat Mesir Ingin Membatalkan Camp David

27 04 2011

Sebuah jajak pendapat menunjukkan bahwa mayoritas rakyat Mesir ingin membatalkan perjanjian damai dengan Israel (Camp David) yang ditandatangani pada tahun 1979.

Organisasi think tank Amerika “The Pew Research Center” yang melakukan jajak pendapat menjelaskan bahwa perjanjian damai yang telah ditandatangani lebih dari 3 dekade, ternyata tidak populer di tengah rakyat Mesir.

Di mana 36% dari rakyat Mesir mengatakan bahwa mereka menginginkan untuk melestarikan perjanjian perdamaian dengan Israel. Sementara 54% menyatakan keinginan mereka untuk membatalkannya.”

Menurut surat kabar “Washington Post” jajak pendapat itu dilakukan terhadap ribuan rakyat Mesir di seluruh penjuru negara antara tanggal 24 Maret sampai 7 April. Sementara persentase kesalahannya hanya 4% saja.

Dijelaskan juga bahwa rakyat Mesir memandang positif terhadap “Ikhwanul Muslimin” dan terhadap gerakan “6 April”, begitu juga tentara Mesir mendapatkan popularitas sangat besar.

Menurut jajak pendapat bahwa pandangan rakyat Mesir terhadap AS tidak berbeda dari pandangannya terhadap Israel, di mana hanya 20% responden saja yang memandang positif terhadap AS. Sementara 15% responden memandang perlunya memperkuat hubungan dengan Washington. Sebaliknya, 43% responden tidak menginginkan hubungan yang lebih erat.

Dalam konteks ini perlu dicatat bahwa surat kabar “Ha’aretz” telah mengutip berita tersebut, dengan mengatakan bahwa “Jatuhnya presiden Mesir memberikan suasa baik bagi demokrasi di Mesir. Namun, sebaliknya mengancam hubungan dengan Israel.” (islamtoday.net, 26/4/2011).








%d blogger menyukai ini: