Israel Teroris Sesungguhnya

25 11 2012

Israel Teroris Sesungguhnya

Israel Teroris Sesungguhnya
Kemarin muslim Rohingya merana sekarang Palestina membara kembali. Sampai kapan kita membiarkan ini terjadi pada saudara kita sesama muslim? Ikatan nasionalisme dalam pengkotakan negara-negara Islam telah menjadi penghalang untuk kita bersatu memerangi musuh Islam yang jelas melalukan aksi teroris terhadap Islam. Sebelumnya terorisme telah dilekatkan kepada Islam. Tapi ini jelas-jelas aksi teror di Palestina, negara-negara dunia, khususnya AS sebagai negara adidaya serta PBB tidak menganggap Israel teroris.
Ancaman perang terbuka terhadap Gaza bukan hanya kita sikapi dengan seruan mengutuk atau pun solidaritas dengan mengirim dana atau relawan ke Gaza Palestina. Perlu sikap tegas dari negara-negara Islam untuk bersatu bahkan perlu mengirim pasukan militer untuk membantu warga dan pejuang Islam di Palestina. Antara Israel dan Palestina bukan pertarungan antar negara, masalahnya Israel telah mencaplok Palestina, mendirikan negara dan terus memperluas kekuasaannya mengambil hak warga Palestina. Oleh karena itu, wajar kalau Israel adalah teroris besar yang perlu kita perangi bersama dengan persatuan umat Islam seluruh dunia dalam wadah Daulah Khilafah Islamiyah.
Rahmi Surainah, Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia

Iklan




Penangkapan Aktivis Terduga Teroris Jelang Kunjungan Obama, Proyek Cari Muka AS?

16 11 2011

JAKARTA (voa-khilafah.co.cc) – Maraknya penangkapan para aktivis terduga teroris jelang kedatangan Obama ke Indonesia, ditengarai Indonesian Crime Analyst Forum (ICAF) sebagai ‘persembahan’ Densus 88 Antiteror untuk Amerika. Pasalnya, kejadian serupa sudah terjadi tahun-tahun sebelumnya.

Hal itu diungkapkan koordinator ICAF, Mustofa B Nahrawardaya dalam siaran tertulisnya kepada voa-islam.com, Selasa (15/11/2011).

Dalam catatan ICAF, selalu ada yang terulang jika Obama berkunjung ke Indonesia, yakni ramainya penggerebekan teroris. “Dua kali Obama mengunjungi Indonesia, dua kali pula orang-orang yang diduga teroris ditangkapi,” ujar Mustofa.

Tahun ini, jelas Mustofa, jelang kunjungan Obama ke Bali, media dijejali dengan berita keberhasilan Densus 88 menangkapi teroris kelompok baru bernama Kelompok Abu Omar. Konon, polisi berhasil menyita banyak amunisi beserta senjata berat lainnya, bahkan konon ada yang ditembak ‘tepat’ di kakinya karena si teroris membawa M-16 saat ditangkap.

Mustofa menambahkan, penangkapan aktivis terduga teroris juga terjadi tepat setahun yang lalu ketika Obama menginjakkan kaki di tanah air pada 9 November 2010. Waktu itu, serangkaian kejadian terorisme memenuhi halaman media massa kita sebelum kehadiran orang nomor satu di Amerika Serikat itu. Serangkaian penangkapan terhadap pelaku teror di Aceh, Pamulang, dan beberapa tempat cukup membuat masyarakat kagum. Betapa hebatnya Densus 88 mampu mengetahui dan menangkapi orang-orang yang diduga teroris untuk dijebloskan ke bui. Serangkaian perampokan yang direkam kamera, pelatihan milisi yang direkam, dijadikan bukti oleh polisi untuk menjerat para pelaku untuk dihukum. Obama pun kemudian lancar hadir di Indonesia.

Dengan fakta-fakta itu, ICAF mempertanyakan motif Densus dalam menangkapi para aktivis terduga teroris yang dilakukan jelang kedatangan Obama ke Indonesia.

“Ini murni pemberantasan terorisme atau ‘proyek’ cari muka terhadap Obama?” gugat Mustofa. [taz/voa-islam/voa-khilafah.co.cc]





Dana proyek antiterorisme Densus 88 bersumber dari AS dan penjualan narkoba

12 10 2011

BEKASI – Proyek antiterorisme oleh Densus 88 Antiteror didanai Amerika dan uang panas narkoba, karena itu DPR RI harus mengaudit sumber keuangan Densus. Demikian yang diungkapkan Ketua DPP Front Pembela Islam (FPI) Munarman SH.
“Kita punya bukti konkret Densus itu dibiayai Amerika, pada awalnya sebesar sebesar $ 12 juta atau lebih kurang seratus miliaran lebih. Nah, dana itu kontinyu sampai sekarang,” ungkapnya dalam kuliah umum ilmiah bertema “Memerangi Syariat Islam dengan Deradikalisasi” di Masjid Muhammad Ramadhan, Ahad (9/10/2011).
Munarman memaparkan salah satu bukti yang terungkap dalam bocoran kawat diplomatik yang telah dibocorkan Wikileaks baru-baru ini. Salah satu bocorannya telah diberitakan di website bahwa sampai sekarang Densus 88 membagi-bagi hadiah berupa uang yang salah satunya bersumber dari Amerika Serikat.
“Jadi, setiap peristiwa terorisme, setelah penangkapan terhadap para aktivis Islam yang difitnah sebagai teroris itu akan ada bagi-bagi hadiah mereka,” paparnya di hadapan seribuan jamaah kajian yang diadakan oleh Majelis Ilmu Ar-Royyan.
“Tempat bagi-bagi hadiah itu salah satu tempatnya di pangkalan kontra terorisme mereka. Pangkalan kontra terorisme mereka ini satu ada di Mega Mendung satunya lagi ada di Akpol Semarang.”
Lebih lanjut munarman mengatakan bahwa kedua pangkalan kontraterorisme itu tak bisa diakses oleh siapapun, bahkan oleh polisi biasa. Kasus ini sama dengan laboratorium Namru di Indonesia.
“Namru itu milik Angkatan Laut Amerika Serikat kerjasama dengan Departemen Kesehatan tetapi bahkan Menteri Kesehatan tidak bisa masuk ke laboratorium Namru. Nah sekarang ini kejadian terhadap tubuh kepolisian kita, ada pangkalan-pangkalan mereka yang bahkan polisi sendiri tidak bisa masuk,” jelas Ketua An-Nashr Institute itu.
Munarman menambahkan, tidak hanta bersumber dari Amerika Serikat dan dana Densus 88 juga berasal dari bisnis narkoba hasil tangkapan Badan Narkotika Nasional (BNN).
“Gories Mere kenapa dia ditempatkan jadi kepala BNN? ini sumber uang sebetulnya, karena saat terjadi penangkapan besar-besaran kan barang buktinya ada di BNN itu tidak ada yang tahu kalau barang buktinya dijual kembali untuk biaya-biaya deradikalisasi, itu sumber keuangannya berasal dari situ,” ujarnya.
Lebih lanjut Munarman mengungkapkan bahwa Gories Mere adalah orang yang paling berbahaya bagi para mujahidin Indonesia. Kalau polisi punya daftar DPO di kalangan mujahidin yang dituduh teroris, maka sebaliknya orang nomor satu yang masuk daftar DPO mujahidin adalah Gories Mere.
Munarman juga menjelaskan kekuatan polisi Kristen di tubuh Detaseman Khusus (Densus) 88 Antiteror yang sangat berperan dalam memerangi para aktivis Islam.
“Di dalam Densus itu sebenarnya ada unit yang diistimewakan betul daripada unit lainnya, yaitu unit Tim Anti Bom. Tim Anti Bom ini dikomandani langsung oleh Gories Mere. Kuncinya itu merekrut polisi-polisi Kristen dan polisi-polisi kafir lainnya,” paparnya.
Uniknya, jelas Munarman, meski Tim Anti Bom ini memiliki tugas buru sergap yang boleh melakukan tembak di tempat, tapi unit Densus ini hanya bisa diakses oleh Gories Mere.
Fungsi dan kewenangan Tim Anti Bom ini, lanjut Munarman, jauh melebihi Densus sendiri. Fungsi Densus hanya menangani pembinaan dan proses hukum para aktivis Islam yang dicap teroris, setelah ditangkap, dijinakkan dan dianggap tidak membahayakan.
“Jadi Densus itu proses penyidikannya saja, tapi tim yang nembak, yang nyergap, yang ngintelin, membunuhi dan memonitor itu Tim Anti Bom,” ujarnya.
Biaya operasi Tim Anti Bom, ungkap Munarman, seratus persen ditanggung oleh Amerika Serikat dan biaya dari narkoba, karena pemerintah RI tidak mampu membiayai.
“Biayanya ditanggung sepenuhnya oleh Amerika Serikat dan biaya-biaya dari narkoba. Dalam laporan deradikalisasi itu bahkan Gories Mere sendiri menyebutkan, ‘Karena pemerintah tidak menyediakan dana yang cukup untuk program deradikalisasi maka saya dan teman-teman polisi lain mencari sumber dana dari non-APBN,’” ungkapnya.
Munarman mengungkapkan bahwa dana non-APBN dalam operasi Tim Anti Bom itu salah satunya adalah penjualan narkoba hasil penangkapan di Badan Narkotika Nasional (BNN). Untuk itu, Munarman mendesak DPR RI agar mengaudit keuangan Densus. (voaI/arrahmah.com
)





Penulis AS: Serangan 9/11 Kerjaan Orang Dalam AS dan Mossad

12 09 2011

Seorang penulis Amerika terkemuka mengatakan ia percaya bahwa serangan 9/11 yang menewaskan hampir 3.000 orang, dilakukan oleh “oknum-oknum di dalam negara AS sendiri dan kemungkinan besar adalah agen Israel Mossad.”
“9/11 telah pada dasarnya digunakan untuk memasukkan uang ke dalam kompleks industri militer yang terancam setelah runtuhnya Uni Soviet,” Enver Masud, penulis “9/11 Unveiled,” mengatakan kepada Press TV Sabtu lalu.
“Belanja pertahanan naik karena serangan 9/11 yang tidak dilakukan oleh 19 pembajak Arab sebagaimana diklaim, tetapi serangan itu dilakukan oleh oknum di AS dan kemungkin besar agen Israel Mossad,” kata Masud.
Pendiri “Dana Kebijaksanaan” tersebut mengatakan bahwa “kompleks industri militer AS telah meningkat pasca 9/11, meneror dunia dan mengambil kebebasan di rumah-rumah warga Amerika.”
Pada 11 September 2001, serangkaian serangan terkoordinasi yang dilakukan di Amerika Serikat menyebabkan hampir 3.000 orang tewas.
Selama insiden itu, 19 orang yang dilaporkan sebagai anggota al-Qaidah membajak empat pesawat jet komersial dan menambrakkan dua dari pesawat ke Menara Kembar World Trade Center di New York City.
AS, di bawah pemerintahan mantan Presiden George W. Bush, menginvasi Afghanistan pada tahun 2001 setelah mengklaim bahwa serangan 9/11 dilakukan oleh anggota al-Qaidah yang dilindungi oleh rezim Taliban di Afghanistan pada saat itu.
AS juga menyerang Irak pada tahun 2003 mengklaim bahwa negara Timur Tengah tersebut memiliki senjata pemusnah massal.(fq/prtv)





Gerakan Deradikalisasi BNPT, Upaya Untuk Mengamputasi Syariat Islam

12 08 2011

Solo Baru, Sukoharjo, 2/8/2011 – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Surakarta kembali mengadakan acara bedah buku yang ditulis oleh segenap jajarannya dari para ulama di Kota Solo & sekitarnya sebagai wasilah untuk menjaga & menyelamatkan aqidah ummat islam. Acara kali ini diselenggarakan di Masjid Baitul Makmur Solo Baru Sukoharjo pada hari Ahad pagi 31 Juli 2011 yang dihadiri ± 5.000 jama’ah kaum muslimin se-Solo Raya & bahkan ada yang dari luar kota Solo.
Buku yang diberi judul “Kritik Evaluasi & Dekontruksi GERAKAN DERADIKALISASI Aqidah Muslimin Di Indonesia” kali ini dibedah oleh 3 narasumber dari berbagai unsur elemen ummat islam. Mereke adalah 1) dr. Joze Rizal dari MER-C Jakarta, 2) Munarman, S.H. selaku Ketua An-Nasr Institut sekaligus Pengacara dari Jakarta & 3) Ust. Abu Rusydan seorang Mubaligh dari Kudus.
Sebelumnya, acara seperti ini sudah pernah sekali diadakan oleh MUI Solo di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Solo bekerjasama dengan Fakultas Pasca Sarjana UMS Solo. Akan tetapi acara yang berlangsung pada tanggal 16 Juli 2011 lalu tersebut hanya untuk kalangan terbatas dengan pematerinya adalah 1) Ust. Muinudinillah Basri MA. Direktur Program Pasca Sarjana UMS & juga Pimpinan Ponpes Ibnu ‘Abbas Klaten, 2) Munarman, S.H. selaku Ketua An-Nasr Institut sekaligus Pengacara dari Jakarta & 3) (harusnya) Kepala BNPT Ansyad Mbai, akan tetapi Mbai tidak ‘berani’ datang & hanya mengutus perwakilannya.
Acara ini disamping bertujuan sebagaimana diatas, juga sebagai upaya untuk meluruskan pemahaman kaum muslimin tentang istilah-istilah & nilai-nilai islam yang coba diselewengkan & disalahtafsirkan oleh BNPT melalui kegiatan yang sebelumnya pernah diadakan oleh BNPT diberbagai kota besar diseluruh Indonesia dengan judul acara “Halaqoh Penangggulangan Terorisme”.
Acara yang dalam publikasinya telah mencantumkan nama MUI Pusat atau BNPT meng-klaim telah bekerjasama dengan MUI Pusat, ternyata setelah diinvestigasi & diklarifikasi oleh MUI Solo kepada MUI Pusat/Jakarta melalui KH. Ma’ruf Amin, MUI Jakarta sendiri tidak tau menau tentang acara yang diadakan oleh BNPT tersebut. Akhirnya MUI Solo berkesimpulan bahwa acara yang diadakan oleh BNPT pada bulan lalu diberbagai kota merupakan acara ‘ilegal’, dikarenakan acara tersebut hanya mengambil oknum yang ada di MUI Pusat tanpa minta ijin kepada MUI Pusat secara lembaga, tapi meng-atasnamakan lembaga resmi yaitu MUI Pusat/Jakarta.
PAPARAN PARA PEMATERI
Dalam kesempatan pertama yang menyampaikan makalah ringkas dari buku tersebut adalah Ust. Abu Rusydan. Sebagai orang yang pernah ditangkap oleh Densus 88 dalam kasus ‘terorisme’ & masuk dalam daftar orang yang akan di-Deradikalisasi-kan, tentunya beliau sudah sangat faham trik-trik & cara-cara serta materi yang digunakan oleh para penyidik Densus 88 dalam mengintrogasi para tahanan yang dituduh terlibat dengan kegiatan ‘terorisme’.
Maka beliau mengatakan dalam acara tersebut tidak akan menanggapi secara keseluruhan materi yang ada dalam Program Deradikalisasi BNPT tersebut. “Saya sejak awal sudah mengetahui & menduga bahwa program ini merupakan program yang cacat baik secara konsepsinya maupun prakteknya. Program ini kalau dipelajari maka akan membingungkan, maka dari itu BNPT sendiri dalam berdiskusi dengan fihak lain tentang programnya tersebut, tidak bisa menjawab pertanyaan lawan diskusinya. Untuk itu jika MUI Solo menanggapi halaman per-halaman dari program BNPT tersbut saya berharap tidak ikut bingung”. Ujar beliau dalam salah satu penyampaiannya.
Sedangkan garis besar point-point yang disampaikan oleh beliau antara lain :

Sasaran utama Gerakan Deradikalisasi Terorisme kesemuanya adalah pola pikir & nilai-nilai islam, seperti pola pikir yang menginginkan tegaknya Syari’at Islam & Khilafah Islamiyah melalui nilai-nilai/faham Al Wala’ wal Bara’, Takfir, Jama’ah, Ba’iah & sistem perjuangannya dengan Jihad & Istimata. Tidak ada satupun sasaran deradikalisasi ini yang ‘menyasar’ kepada istilah & nilai-nilai agama lain seperti Nashrani, Hindu, Budha, dll. Jadi orang yang mempunyai faham diatas patut dijadikan obyek Deradikalisasi.
BNPT sering berkoar-koar dimedia, baik cetak maupun elektronik bahwa salah satu faham kelompok Teroris adalah meng-kafirkan orang yang berada diluar kelompok/jama’ahnya. Menanggapi hal ini beliau menyampaikan bahwa hal itu merupakan kebohongan & kedustaan yang besar dari BNPT. Selama beliau berinteraksi dengan para Mujahidin baik yang ada di Indonesia maupun diluar negeri semisal Al Qoida dan bahkan pemimpin-pemipin Al Qoida, beliau tidak pernah mendengar para Mujahidin meng-Kafirkan orang yang berada diluar/selain kelompoknya.
Gerakan Deradikalisasi Terorisme merupakan program “AMPUTASI ORGAN PENTING AGAMA ISLAM & KAUM MUSLIMIN” terhadap keinginan ummat islam untuk tegaknya Syari’at Islam & untuk memecah belah kekuatan ummat islam. Salah satu sebab mereka adalah sedini mungkin merusak istilah Ukhuwah Islamiyah dengan istilah-istilah yang mereka inginkan seperti istilah Ukhuwah Wathoniyah, dll.
Salah satu program ‘Amputasi’ BNPT terhadap ruh islam adalah “Melakukan segala cara untuk menindak dan menumpas segala kegiatan yang mengarah kepada Jihad dan Hubbusy-Syahadah”. Pertanyaannya : “Apakah Jihad tidak disyari’atkan & diperintahkan dalam islam? Padahal kedudukan jihad itu didalam hadits pahalanya lebih besar dari pada ibadah lainnya seperti Sholat, Puasa, Zakat, dll?!?”
BNPT juga sering mengatakan bahwa salah satu faham kelompok Teroris adalah sering meng-kafirkan penguasa & pemerintahan ‘sah’ yang tidak mau menghukumi dengan Al Qur’an & Sunah dengan mengambil potongan ayat Al Qur’an secara sebagian & mengambil fatwa ulama yang tidak diakui oleh kalangan ulama Saudi. Dalam hal ini, beliau menanggapi bahwa apa yang disampaikan BNPT merupakan suatu asumsi yang tidak mendasar, & tidak pernah mau mempelajari Al Qur’an dengan sungguh-sungguh & keseluruhan. Menanggapi tuduhan BNPT tersebut, beliau kemudian mengutip fatwa Syeikh Bin Baz rh. yang merupakan ulama yang diakui fatwanya oleh kalangan ulama Saudi. Dalam fatwa Syeikh Bin Baz rh. tentang status hukum bagi penguasa/pemerintah yang tidak mau menghukumi manusia dengan apa yang telah Allah turunkan dan mengganti hukum Allah dengan hukum buatan manusia & menganggap hukum manusia lebih baik dari hukum Allah, maka hukumnya adalah KAFIR.

Demikian point-point yang disampaikan oleh Ust. Abu Rusydan dalam acara tersebut. Intinya bahwa sasaran Deradikalisasi Terorisme yang sedang dilakukan oleh BNPT tidak lain & tidak bukan adalah Islam & Kaum Muslimin secara keseluruhan.
Kemudian pemateri kedua, Bp. Munarman S.H memulai pemaparannya dengan menyampaikan dokumen Rant Corporation yang disampaikan didepan Konggres Amerika pada bulan Juli 2007. Dalam dokumen itu disebutkan bahwa “Pada hari/sekarang ini, jika seseorang itu menyebut istilah Terorisme pasti terkait erat dengan ideologi ekstrimis yaitu ideologi Jihad yang dilakukan oleh kelompok Salafi Jihadis”. Ucap Munarman dalam pemaparannya.
Jadi menurut beliau jika issu perang melawan teror atau War on Teror dikatakan bukan perang melawan Islam & Ummat Islam maka itu suatu kebohongan yang besar, sebab sebagian besar program Deradikalisasi Terorisme merupakan jiplakan dari dokumen Rant Corporation. “Jelas sekali disitu dikatakan bahwa perang melawan teror adalah perang melawan ideologi Jihad, sedangkan yang mempunyai ideologi & istilah Jihad hanya Islam & Ummat Islam”. Ujar Beliau
Dalam statmen lainnya beliau melanjutkan bahwa, “Program Deradikalisasi Terorisme yang sekarang ini sedang dijalankan oleh BNPT merupakan program untuk menghapus istilah & nilai-nilai yang terkandung didalam Islam khususnya istilah Jihad yang merupakan ruh ummat islam demi tegaknya Syari’at Islam. Hal ini sudah sangat jelas sekali & terang benderang sebagaimana yang acap kali diucapkan melalui mulut Kepala BNPT Ansyad Mbai, Mantan Kepala BIN Hendropriyono ataupun Dir. Penindakan BNPT Petrus Reinhard Golose”.
Selanjutnya beliau menyampaikan bahwa, “Salah satu elemen yang ada dibawah BNPT yaitu Densus 88 ada suatu satuan Satgas Bom yang langsung dikomandoi/sebagai Panglimanya adalah Gories Merre, & perlu diketahui oleh khalayak umum, satuan ini tidak berada dibawah struktur Densus 88. Satuan ini bertugas sebagai Eksekutor/tembak mati tanpa proses hukum bila polisi tidak bisa menangkap orang yang dituduh sebagai teroris. satuan ini tidak berlatih di Mabes Polri sebagaimana anggota Densus 88 lainnya, melainkan mereka berlatih di sebuah Pulau milik Pengusaha Tomi Winata”.
Dalam materi terakhir yang disampaikan oleh dr. Joze Rizal, beliau berujar bahwa, “Sebetulnya yang namanya ideologi didunia ini ada 3 macam, 1) Ideologi Islam, 2) Ideologi Nasharani & 3) Ideologi Yahudi/Zionis. Semuanya saya yakin semuanya mempunyai tujuan, kalau didalam islam untuk menegakkan Syari’at Islam & Khilafah, sedangkan didalam Zionis disebut dengan istilah ‘Membangun Tatanan Dunia Baru’. Jadi ummat islam & para aktifis islam jangan takut dengan program Deradikalisasi yang dilakukan oleh BNPT, karena kita sedang memperjuangkan ideologi yang bersumber dari Al Qur’an & As Sunah. Sebab sejatinya mereka ini juga sedang melakukan perang ideologi kepada kita”.
Terakhir beliau berpesan kepada kaum muslimin, “Hendaklah kita selalu menjaga silaturahmi sebagai senjata kedua setelah tauhid/aqidah islamiyah dalam perang pemikiran sekarang ini. Bila ada perbedaan-perbedaan sedikit dalam masalah strategi perjuangan, jangan sampai menjadi celah bagi musuh islam untuk menghantam & melemahkan kekuatan ummat islam. Sistem perjuangan ummat islam untuk menegakkan Syari’at Islam sudah jelas, yaitu melalui Da’wah & Jihad. Da’wah mari kita lakukan dengan hikmah, & Jihad sekarang ini kita lakukan dengan cara melakukan persiapan, baik fisik maupun yang lainnya”.
“Maka saya sangat mengapresiasi langkah MUI Solo & elemen serta Ormas-Ormas Islam yang mengadakan & mendukung acara seperti ini. Harapan saya, acara-acara seperti ini lebih sering diadakan baik dalam forum seminar, halaqoh, dauroh atau bedah buku untuk menguatkan ruhiyah kita dalam mendalami dienul islam, memberikan pemahaman yang benar kepada masyarakat agar mereka tidak disesatkan dengan acara Deradikalisasi lainnya, memberi informasi yang berimbang atas berita yang disampaikan oleh media-media barat yang ada di Indonesia & bisa menjadi sarana menguatkan ukhuwah serta sebagai kantong saling bertukar pandangan untuk meminimalisir perbedaan yang ada”. Tutup beliau
Dalam sambutan yang disampaikan oleh wakil dari MUI Solo yaitu Ust Dahlan, MUI Solo sudah mencetak buku ini sebanyak 30.000 eks. Rencananya acara seperti ini akan diadakan ‘Road Show’ disetiap kota yang sudah dijadikan BNPT sebagai tempat penyelenggarakan acara “Halaqoh Penangggulangan Terorisme”, pada bulan yang lalu. Tentunya kegiatan seperti ini tetap bekerjasama dengan MUI & Ormas Islam setempat untuk menjalin kekuatan disetiap lini ummat islam. [Bekti Sejati]
INFORMASI : Bila ada yang menginginkan VCD acara bedah buku diatas, silahkan datang kekantor Radio Dakwah Syariah (RDS) Solo 107.7 & 101.4 Fm atau pada nomor HP. 081 226 170 777 – 0271 765 1818 atau melalui email rdsfmsolo@yahoo.com pada tanggal 7 Ramadhan 1432 H.





Halaqoh Deradikalisasi Terorisme BNPT adalah Proyek ‘Ilegal’ Mencatut MUI

12 08 2011

SUKOHARJO – Ternyata, “Halaqoh Penangggulangan Terorisme” yang diselenggarakan oleh BNPT di seluruh Indonesia yang mencantumkan nama MUI Pusat, adalah acara ilegal. MUI Pusat tidak tahu-menahu, karena acara itu murni pencatutan nama MUI Pusat.
Hal itu terungkap dalam bedah buku “Kritik, Evaluasi dan Dekonstruksi Gerakan Deradikalisasi Aqidah Muslimin di Indonesia” yang digelar Majelis Ulama Indonesia (MUI) Solo di Masjid Baitul Makmur Solo Baru Sukoharjo, Ahad (31/7/2011).
Di hadapan lima ribuan peserta bedah buku itu, MUI Solo mengungkap penyelewengan yang dilakukan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dalam acara bertajuk “Halaqoh Penangggulangan Terorisme.” Dalam publikasinya, acara besar-besaran yang digelar di berbagai kota besar di seluruh Indonesia, mencantumkan nama MUI Pusat sebagai mitra kerjasama.
MUI Solo menjelaskan, setelah pihaknya melakukan investigasi dan klarifikasi kepada MUI Pusat di Jakarta, ternyata acara yang tersebut tidak didukung MUI Pusat.
Berdasarkan penjelasan Ketua MUI Pusat KH Ma’ruf Amin, MUI Pusat tidak tahu-menahu tentang acara yang diadakan oleh BNPT tersebut. Pencatutan nama MUI Pusat dalam acara deradikalisasi BNPT itu adalah ulah oknum yang ada di MUI Pusat tanpa minta ijin kepada MUI Pusat secara lembaga, tapi mengatasnamakan lembaga resmi yaitu MUI Pusat.
Dengan penjelasan itu, MUI Solo menyimpulkan bahwa acara yang diadakan oleh BNPT pada bulan lalu di berbagai kota merupakan acara ‘ilegal’, dikarenakan acara tersebut hanya mengambil oknum.
Buku “Kritik, Evaluasi dan Dekonstruksi Gerakan Deradikalisasi Aqidah Muslimin di Indonesia” ditulis MUI Solo itu untuk meluruskan pemahaman kaum muslimin tentang istilah-istilah dan nilai-nilai Islam yang diselewengkan dan disalahtafsirkan oleh BNPT.
Tiga narasumber yang hadir dalam bedah buku Ahad pagi tersebut adalah dr. Joze Rizal dari MER-C Jakarta, Ustadz Abu Rusydan dan Munarman SH, Ketua An-Nashr Institute yang juga Ketua Front Pembela Islam (FPI) Pusat.
Dalam sambutannya, MUI Solo yang diwakili Ustadz Dahlan menjelaskan, MUI Solo sudah mencetak buku ini sebanyak 30.000 eksemplar. Rencananya MUI Solo akan menggelar acara bedah buku dan ‘Road Show’ di setiap kota yang sudah dijadikan BNPT sebagai tempat penyelenggarakan acara “HalaqohPenangggulangan Terorisme”, beberapa bulan lalu. Tentunya kegiatan seperti ini tetap bekerjasama dengan MUI dan Ormas Islam setempat untuk menjalin kekuatan disetiapliniummatIslam.
Sebelumnya, acara serupa diadakan oleh MUI Solo bekerjasama dengan Fakultas Pasca Sarjana Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), di kampus UMS Solo, Sabtu (16/7/2011). Acara terbatas ini dihadiri dua narasumber: Muinudinillah Basri MA, Direktur Program Pasca Sarjana UMS dan Munarman SH. Kepala BNPT Ansyad Mbai yang dijadwalkan hadir, mangkir dalam acara tersebut, hanya mengutus perwakilannya. [taz/bekti sejati]





Dianggap Represif, RUU Kamnas Ditolak Ormas Islam

29 07 2011

Jakarta. Sejumlah tokoh ormas Islam menyatakan penolakannya terhadap Rancangan Undang-Undang Keamanan Nasional lantaran bila dikaji lebih cermat, RUU tersebut alih-alih bisa menciptakan keamanan, yang terjadi justru sangat berpotensi menimbulkan ancaman bagi keamanan rakyat.
“Karena RUU ini bisa digunakan sebagai alat represi pemerintah sehingga merugikan hak dan privasi rakyat,” ujar Juru Bicara Hizbut Tahrir Indonesia Muhammad Ismail Yusanto, dalam diskusi Temu Tokoh dan Ormas Islam dalam Kajian UU SJSN dan RUU Keamanan Nasional, Selasa (26/7) siang di Kantor DPP HTI, Jakarta. Baca entri selengkapnya »








%d blogger menyukai ini: