BIN usulkan penambahan anggaran menjadi Rp.2,5 triliun pasca bom Solo

28 09 2011

Sepertinya niat BIN untuk mendongkrak dana pemasukan dengan memanfaatkan aksi pemboman hampir sukses. Pasalnya pasca kerusuhan Ambon dan aksi bom Solo serta ‘penemuan’ bom rakitan di Ambon, anggota Komisi I DPR RI Max Sopacua mengusulkan agar pagu anggaran untuk Badan Inteligen Negara (BIN) ditambah menjadi Rp2,5 triliun.

Max Sopacua menyebutkan, usulan tersebut akan disampaikan dalam rapat kerja Komisi I DPR RI dengan Kepala BIN Sutanto dengan alasan bahwa kerja dari BIN sangat luas dan komplek, terutama soal mengantisipasi ‘terorisme’ dan konflik komunal di seluruh Indonesia.

“Untuk tahun 2012, pagu BIN hanya Rp1,2 triliun. Mengingat kerja BIN yang sangat komplek dan cakupan luas wilayah sangat besar, tak ada salahnya untuk menambah anggaran BIN. Kira-kira menjadi Rp2,5 triliun dan itu masuk APBNP,” kata Max di Gedung DPR RI, Jakarta, Senin (26/9/2011).

Max mengklaim dengan tambahan dana itu maka kerja dari BIN tidak hanya terfokus pada daerah atau wilayah tertentu.

“Kita harap inteligen bekerja lebih merata, tidak hanya pada wilayah tertentu seperti hanya wilayah Indonesia Timur saja, sementara wilayah lain tak terdeteksi sama sekali,” ungkap Max.

bahkan dengan membawa-bawa nama rakyat, Max berkilah bahwa kenaikan tambahan pagu anggaran itu, tambah Max, juga dalam rangka melindungi seluruh warga negara Indonesia.

“BIN harus diperkuat, kita tak bisa katakan semua aman. Pemerintah sudah lindungi rakyat, tak benar pemerintah gagal,” klaim Max.

Nah lho… sepertinya sudah teridentifikasi siapa yang diuntungkan dari kasus kerusuhan Ambon dan aksi pemboman. Jadi ada apa dibalik itu semua? Wallohua’lam. (dbs/arrahmah)

Iklan




Bom Solo, Siapa Diuntungkan?

28 09 2011

… Aksi bom bunuh diri terjadi pada tanggal 25/9 di Gereja Bethel Indonesia Sepenuh (GBIS) Kepunton Solo. Insiden ini hanya menewaskan pelakunya sendiri dan melukai 27 orang. Pada Selasa, 27/9 bahwa dari identifikasi, Mabes Polri memastikan pelaku pemboman tersebut bernama Ahmad Yosepa alias Hayat. Hayat adalah satu dari lima orang DPO kasus pengeboman masjid adz-Dzikra Mapolresta Cirebon pada 15 April 2011, seperti yang telah diumumkan oleh Polri pada pertengahan Juni lalu.

Peristiwa ini terjadi saat terjadi banyak masalah yang menghebohkan negeri ini. Misalnya, masalah korupsi di kemenakertrans, korupsi wisma atlet , hiruk pikuk reshuffle kabinet, dan mafia anggaran. Saat ini , berdasarkan hasil survei Lingkaran Survei Indonesia pada bulan September, juga terjadi penurunan tingkat kepercayaan publik terhadap pemerintah hingga tinggal 37,7%. Semua itu pada akhirnya memunculkan kecurigaan dan tanda tanya seputar peristiwa bom GBIS Solo ini. Berbagai spekulasi pun muncul . Muncul kecurigaan peristiwa ini sudah diskenariokan sebelumnya atau paling tidak terjadi pembiaran.

Hal ini mengingat jauh hari sebelumnya sudah ada informasi intelijen akan terjadi serangan bom. Pengamat intelijen Wawan H Purwanto mengatakan intelijen sebetulnya telah mengetahui gerakan para teroris sejak 14 Agustus 2011 sebelum aksi bom bunuh diri terjadi (antaranews, 26/9). Hal senada dikatakan Ketua Komisi I Mahfudz Siddiq di kompleks DPR, Selasa (27/9) menurutnya telah ada informasi intelijen akan adanya aksi-aksi bom bunuh diri dari enam orang yang sudah dipersiapkan sebelum kasus Cirebon. Bahkan, warning terhadap kasus Solo sudah dilakukan. Per tanggal 21 September itu sudah ada informasi intelijen, yang akan menjadikan Solo sebagai Ambon berikutnya” (Kompas.com, 27/9).

Mengegolkan RUU Intelijen?

Muncul pula kecurigaan bahwa bom itu ada kaitannya dengan pembahasan RUU Intelijen yang sedang berjalan di DPR. Termasuk mendorong penambahan wewenang intelijen untuk bisa melakukan penyadapan dan penangkapan. Meskipun hal ini dibantah keras oleh kepala BIN, Sutanto. Namun tidak bisa dikesampingkan begitu saja, bahwa peristiwa ini sangat mungkin dipakai untuk memperkuat penggolan RUU Intelijen.

Tampak dari pernyataan Kepala BIN yang menyatakan kalau informasi saja tanpa didukung alat bukti lain kan tidak bisa diproses secara hukum. ” Itu kendala, karena itu perlu penguatan hukum di sini sehingga bisa efektif penegak hukum di lapangan dalam menangani masalah teror ini, “ujarnya. (detik.com, 26/9).

Istana juga ingin penguatan intelijen melalui RUU Intelijen. Pemerintah mengeluhkan intelijen tidak memiliki kewenangan penangkapan. Juru Bicara Presiden Julian Aldrin Pasha, Senin (26/9), menegaskan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menginginkan penguatan intelijen melalui payung hukum. Upaya preventif yang efektif harus memberikan kewenangan penangkapan kepada intelijen (Mediaindonesia.com, 26/9).

Padahal dalam kasus bom ini hambatan itu tidak ada. Mengingat pelaku bom sudah masuk dalam daftar DPO (Daftar Pencarian Orang), yang artinya dia bisa ditangkap kapan saja dan di mana saja bila ditemukan. Apalagi faktanya, dalam penanganan terorisme selama ini, Densus 88 nyaris tanpa hambatan melakukan apapun. Termasuk melakukan penangkapan bahkan menembak mati orang-orang yang baru diduga teroris. Karenanya, tentu adalah wajar kalau muncul anggapan peristiwa ini digunakan untuk kepentingan pengesahan RUU Intelijen itu termasuk pengalihan masalah yang sedang menimpa partai panguasa.

Memang terkait RUU Intelijen itu, kemungkinan besar DPR dan pemerintah sepakat, BIN tidak diberi wewenang menangkap. Ketua Komisi I DPR, Agus Gumiwang Kartasasmita menuturkan, pemerintah dan DPR sepakat bahwa intelijen hanya bertugas melakukan deteksi dini. Intelijen tidak diberikan hak menangkap karena dikhawatirkan akan mengembalikan ke kondisi masa lalu, dimana intelijen sering dipakai sebagai alat untuk mengamankan kekuasaan dan bukan alat negara (Kompas, 27/9). Intelijen, lanjut Agus, tetap dapat menyadap untuk kepentingan terorisme, separatisme dan spionase. Namun penyadapan itu harus sesuai dengan undang-undang, maksimal dilakukan selama enam bulan dan ada keterlibatan pengadilan.

Namun bukan berarti RUU Intelijen yang sedang dibahas itu tidak perlu dicermati dan diwaspadai. Sebab di dalamnya masih mengandung hal-hal yang perlu dikritisi, seperti adanya kata dan istilah yang tidak jelas dan multi tafsir seperti kata “ancaman keamanan nasional”, “lawan dalam negeri” dan lainnya. Juga dimasukkannya masalah “subversif” di dalam RUU tersebut. Pengertian yang kabur ini sangat mungkin digunakan oleh penguasa sesuai kepentingannya, membungkam suara-suara kritis termasuk penegakan Islam dengan mempersepsikannya sebagai ancaman.

Kita tentu tidak menginginkan kembalinya era orde baru ketika penguasa menggunakan tuduhan subversif , mengancam keamanan nasional untuk memenjarakan, menyiksa, hingga membunuh lawan-lawan politiknya atau pihak-pihak yang mendakwahkan Islam. Jelas ini adalah kemunduran bagi Indonesia. Negara tetangga Malaysia sendiri telah mencabut Undang-Undang Keamanan Dalam Negeri (Internal Security Act -ISA) dan Undang-Undang Darurat (Emergency Ordinance – EO). Sebab berdasarkan UU ini , selama 5 dasawarsa, pemerintah Malaysia memenjarakan ribuan pengkritik pemerintah dan anggota kelompok dakwah Islam .

Harus Dikutuk, Merugikan Islam dan Umat Islam

Lepas dari itu semua , peristiwa pemboman ini harus dikutuk. Tindakan keji ini bertentangan dengan ajaran Islam. Sangat jelas, syariat Islam dengan tegas melarang melukai apalagi membunuh siapapun tanpa alasan yang dibenarkan secara syar’iy. Apalagi tindakan itu menimbulkan kematian bagi diri pelakunya sendiri.

Lebih dari itu, peristiwa ini tidak bisa dikatakan untuk memperjuangkan Islam atau demi kepentingan Islam. Jika dikatakan motifnya untuk memperjuangkan Islam, maka faktanya dengan peristiwa seperti ini, Islam justru menjadi bulan-bulanan. Bagaimana mungkin memperjuangkan syariah Islam dengan cara-cara yang justru bertentangan dengan syariah Islam?

Peristiwa ini juga memperkuat pihak yang ingin menghambat penegakan Islam dan syariah Islam. Dengan alasan pemboman ini , pembenaran terhadap pentingnya program deradikalisasi justru menjadi kuat. Padahal isi dari program ini adalah menyerang ajaran penting Islam seperti syariah Islam, khilafah dan jihad. Termasuk menjustifikasi propaganda untuk meliberalisasi ajaran Islam dan mengebirinya dengan isu-isu Islam moderat atau Islam inklusif (terbuka).

Disamping itu,kekerasan dan terorisme (al-irhab) bukanlah metode yang dibenarkan syariat Islam dalam memperjuangkan tegaknya syariah. Metode untuk itu seperti contoh dari Rasulullah saw adalah dengan dakwah pemikiran dan politik (al-fikriyyah wa al-siyasiyah), tanpa kekerasan (la ‘unfiyah).

Islam juga mengharamkan membunuh manusia baik muslim maupun non muslim tanpa alasan yang haq. Perbuatan itu merupakan kejahatan keji. Firman Allah:

مَن قَتَلَ نَفْسًا بِغَيْرِ نَفْسٍ أَوْ فَسَادٍ فِي الْأَرْضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيعًا وَمَنْ أَحْيَاهَا فَكَأَنَّمَا أَحْيَا النَّاسَ جَمِيعًا

Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. (QS al-Maidah [5]: 32)

Bahkan di dalam peperangan sekalipun, Rasulullah senantiasa berpesan agar pasukan Islam tidak membunuh wanita, anak-anak dan orang tua, tidak menebangi pepohonan dan tidak merusak tempat ibadah non muslim serta mengganggu para rahib di dalamnya.

Terbukti dalam sejarah bahwa hanya Islam sajalah yang bisa melindungi nyawa manusia baik muslim maupun non muslim. Orang-orang non muslim diberikan kebolehan beribadah dengan bebas. Tempat ibadah merekapun masih tetap eksis di negeri-negeri Islam, padahal sistem Islam (Khilafah Islamiyah) memerintah dan menaungi negeri-negeri itu selama 13 abad.

T.W. Arnold, dalam bukunya The Preaching of Islam, menuliskan bagaimana perlakuan yang diterima oleh non-Muslim yang hidup di bawah pemerintahan Daulah Utsmaniyah. Dia menyatakan, “Sekalipun jumlah orang Yunani lebih banyak dari jumlah orang Turki di berbagai provinsi Khilafah yang ada di bagian Eropa, toleransi keagamaan diberikan pada mereka, dan perlindungan jiwa dan harta yang mereka dapatkan membuat mereka mengakui kepemimpinan Sultan atas seluruh umat Kristen”. Karena itu demi mewujudkan masyarakat meskipun beragam namun dapat hidup damai, rukun dan harmonis, tidak ada jalan lain kecuali dengan menerapkan syariah Islam dalam bingkai Khilafah ‘ala minhaj an-nubuwwah. WalLâh a’lam bi ash-shawâb. []

Komentar al-Islam

Jajak Pendapat “Kompas”: Munculnya kasus korupsi dalam kementerian menjadi puncak ketidakpuasan publik terhadap kinerja kabinet. Perombakan kabinet pun menjadi salah satu keharusan. Namun perombakan saja bagi publik tidak cukup, patut pula dilengkapi dengan perbaikan gaya kepemimpinan Presiden (Kompas, 26/9)

1. Perombakan kabinet dan perbaikan gaya kepemimpinan tidak akan menyelesaikan masalah. Sebab masalah mendasarnya adalah sistem rusak sekuler kapitalisme demokrasi yang diadopsi negeri ini.
2. Sebagus apapun gaya mengemudi nahkoda dan seberapa baik para awak kapal, jika kapalnya bobrok tetap saja akan sulit mencapai tujuan.
3. Solusinya, terapkan syariah Islam dalam bingkai Khilafah, sistem yang bersumber dari wahyu Allah yang Maha Bijaksana; dan angkat pemimpin yang bertakwa, amanah dan mampu untuk menjalankannya. Niscaya masyarakat dapat meraih tujuan yang diidamkan.





Setelah Bom Di Solo Meledak, Pengajian Hadits Di Klaten Hendak Dibubarkan

27 09 2011

Klaten, 26/9/2011 – Sehari setelah terjadi ledakan Bom di Gereja Bethel Injil Sepenuh (GBIS) Kepunton Solo Jateng pada hari ahad 25/9/2011 kemarin yang menewaskan 1 orang yang diduga pelaku bom bunuh diri dan melukai beberapa jema’at geraja, pengajian bapak-bapak & ibu-ibu di Masjid Al Huda Kampung Kerun, Ds. Belangwetan, Kec. Klaten Utara, Kab. Klaten Jateng (tepatnya disebelah selatan perempatan lampu bangjo RSI Klaten)hendak dibubarkan oleh segelintir orang yang tidak suka islam berkembang dimasyarakat yang disinyalir oleh Takmir Masjid setempat, aksi tersebut ditunggangi oleh Inteligen.
Alasan segelintir orang tersebut meminta pengajian dibubarkan karena dianggap sebagai “Pengajian Teroris”. Segelintir orang tersebut menyebutkan bahwa jama’ah yang hadir berasal dari luar desa setempat dan jama’ah dalam pengajian tersebut katanya memenuhi kriteria sebagai “Teroris” dengan ciri-ciri berjenggot, memakai celana ‘cingkrang’ (diatas mata kaki) dan lain-lain yang pernah mereka dengar melalui TV-TV swasta. Melihat fenomena ini, kelihatannya media sekuler yang dikuasai barat dan orang-orang Nashrani di Indonesia sudah berhasil merusak pemikiran masyarakat islam yang awam dengan menghancurkan nilai-nilai sunah Nabi Muhammad saw.
Pada waktu kami menelusuri info tersebut (senin 26/9/2011 ba’da magrib), kebetulan takmir dan masyarakat sekitar masjid sedang berkumpul dimasjid karena baru berlangsung pengajian rutin tersebut. Menurut penuturan Bp. Kamidi selaku Ketua Takmir Masjid, pengajian tersebut hanya pengajian biasa pada umumnya yang membahas Syarah Kitab Aqidah Thohawiyah & Syarah Kitab Hadits Arba’in An-Nawawiyah. Pengajian itu sendiri berlangsung sudah hampir 1 tahun & diadakan rutin setiap senin malam ba’da magrib sampai isya’ seminggu sekali.
“Pengajian ini hanya pengajian hadits-hadits Nabi seperti pada umumnya sebagaimana pengajian Majelis Tarjih di Muhammadiyah itu mas. Karena saya sendiri anggota Muhammadiyah & juga sering mengikuti pengajian Tarjih Muhammadiyah di PCM (Pimpinan Cabang Muhammadiyah) sini”.Ujar beliau.
Menanggapi tuduhan segelintir orang yang mengatakan bahwa jama’ah yang hadir banyak dari luar daerah setempat, Pak Kamidi menampiknya. “Setau saya, jama’ah yang hadir 80% dari masyarakat sekitar mas. Memang ada beberapa orang dari luar desa sini, tapi mereka yang hadir itu sudah sangat kenal kita kenal, jadi mereka tidak & bukan orang asing bagi kita. Karena pengajian disini kekeluargaannya bisa dibilang cukup kuat.”. Lanjut beliau.
Pada waktu kami tanya, “Apakah pembicaranya berasal dari Pondok Pesantren yang diindikasikan Media dan Pemerintah sebagai pondok teroris? Contohnya Ngruki?” Dalam hal ini beliau menjawab, “Kalo pembicara dalam pengajian ini alumni Ponpes PERSIS Bangil & Ponpes Gontor mas. Tapi memang jama’ah yang hadir dalam pengajian ini setau saya itu lintas ormas islam yang ada di Klaten mas. Jadi jama’ah dari mana saja boleh hadir karena ini memang untuk umum”.
Sedangkan pengamatan pengurus masjid setempat bahwa aksi segelintir orang yang meminta pengajian tersebut agar dibubarkan merupakan skenario & ditunggangi oleh Inteligen adalah :
1) bahwa permintaan & ancaman pembubaran tersebut tidak hanya sekali, tapi pertengahan bulan Ramadhan lalu juga pernah ada, bahkan takmir masjid yang memutar Murotal Al Qur’an sebelum adzan Subuh berkumandang juga dipermasalahkan, padahal waktu itu bulan Ramadhan.
2) orang yang meminta agar pengajian dibubarkan itu tidak berani diajak dialog oleh Ketua Takmir Masjid setempat. Padahal rumahnya hanya berjarak ± 100 meter sebalah barat masjid, sedangkan rumah ketua takmir masjid ± 50 meter sebelah selatan masjid.
3) sudah hampir 3 kali pengajian ini, polisi berpakaian dinas (resmi) ikut sholat magrib berjama’ah disitu. Padahal sebelum-sebelumnya tidak ada polisi yang ikut sholat.
4) Polisi yang ikut sholat tersebut hanya pada waktu hari senin pada waktu sholat magrib berlangsung. Diluar waktu dan hari itu tidak ada polisi yang ikut sholat (memang sebelah utara masjid ada pos jaga polisi lalu lintas).
5) Akhir-akhir ini setelah Ramadhan, pada waktu pengajian ada orang mencurigakan yang mondar-mandir didepan masjid.
Kelihatannya, ada fihak-fihak yang tidak suka & tidak senang dengan kondisi kondusif antar umat beragama yang ada di Solo dan di Klaten. Sehingga mereka berusaha menciptakan konflik horisontal antar umat beragama untuk meraup keuntungan duniawi khususnya dalam penanganan masalah Terorisme. Atau hal ini untuk menutup-nutupi beberapa kebobrokan Pemerintah dalam mengurus rakyatnya, terbukanya kasus-kasus Korupsi yang melibatkan oknum-oknum Partai Penguasa Negeri ini, penangan bencana mulai Lumpur Lapindo yang tak kunjung selesai, Pengungsi Gunung Merapi yang belum mendapatkan hak-haknya yang sudah dijanjikan, DLL…
Setidaknya ini yang sering kali terlihat, setiap ada kasus besar yang memojokkan Pemerintah & Penguasa, PASTI BOM akan meledak dan kejadian tersebut digiring kepada Tindak Pidana Terorisme. Setelah meledak, tentu saja Umat Islam yang menjadi kambing hitam atas itu semua(meskipun secara fakta/realita pelakunya dari orang islam)& aparat yang bermain mendapatkan pundi-pundi Dolar dari sang majikan di Amerika. Tentu saja masyarakat & aktivis islam harus sangat berhati-hati dalam menyikapi kejadian demi kejadian kaitannya dengan masalah Terorisme. Bisa jadi ini merupakan proyek untuk meraup keuntungan Dolar sebanyak-banyaknya dari Amerika oleh fihak-fihak GELAP yang bermain dibelakang ini semua agar merka bisa terus eksis dan umat islam tidak bisa mengamalkan agamanya dengan sebaik-baiknya dan sebenar-benarnya. Terakhir, Pertanyaannya, “Apakah Klaten yang menjadi target selanjutnya setelah Solo”???Wallohu A’lam Bish-Showab…(Bekti Sejati) [md]





Teguh: Bom Solo Jangan Jadi Alasan Desak RUU Intelijen

26 09 2011

Anggota Komisi I DPR asal Fraksi Partai Amanat Nasional Teguh Juwarno mengatakan, aksi bom bunuh diri di Gereja Bethel Injil Sepenuh (GBIS), Solo, Jawa Tengah tidak boleh dijadikan alasan untuk mempercepat pengesahan Rancangan Undang-Undang Intelijen. Menurut Teguh, yang terpenting saat ini adalah pengungkapan pelaku di balik teror bom Solo tersebut.

“Pembahasan RUU Intelijen memang sudah cukup jauh, pembahasan sudah di Tim Perumus Panja dengan pemerintah. Namun, pembahasan RUU ini tidak boleh didesak atau diburu-buru dengan peristiwa bom Solo. Ungkap saja pelaku dibalik teror bom itu,” ujar Teguh kepada Kompas.com, di Jakarta, Senin (26/9/2011).

Teguh mengatakan, lembaga intelijen negara harus tetap menjadi milik publik. Oleh karena itu, menurut Teguh, pembahasan RUU Intelijen juga harus mencermati masukan-masukan dari masyarakat bukan hanya karena adanya teror bom.

“Jadi seharusnya pemerintah fokus saja bagaimana caranya mengungkap pelaku-pelaku di balik aksi teror itu,” kata Teguh.

Mengenai pernyataan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang akan melakukan investigasi internal di kepolisian dan intelijen negara dalam pidatonya terkait insiden bom Solo, menurut Teguh, hal itu tidak layak disampaikan ke publik. Lebih baik, menurutnya, investigasi itu langsung dijalankan, kemudian hasilnya disampaikan ke publik.

“Saya khawatir, Presiden over promises, sekedar wacana yang bagus untuk pencitraan. Seharusnya investigasi itu tidak perlu diomongkan, langsung dijalankan. Hasilnya disampaikan ke publik. Maka publik akan mengapresiasi bahwa presiden serius membenahi jajarannya,” katanya. (kompas.com, 26/9/2011)





Waspadalah, Bom Gereja Solo Adalah Operasi yang Sedang Dimainkan Intelejen

26 09 2011

Bom kembali meledak di gereja, minggu 25/9 kemarin. Umat Islam pun menjadi tertuduh. Pihak Kepolisian lagi-lagi mengaitkan kejadian itu dengan ulah umat Islam. Stigma teroris kini akan kian menghampiri mujahidin.
Namun betulkah mujahidin berada dibalik aksi yang melukai puluhan kaum Kristiani tersebut? Direktur Lembaga Pengkajian Syariat Islam, Ustadz Fauzan Al Anshari, meragukan bahwa bom yang diledakkan di Gereja Bethel Injil Solo adalah tindakan mujahidin. Ia menilai hal itu jauh dibawah kualitas mujahidin sesungguhnya.
“Saya sangat meragukan pelaku bom adalah mujahidin. Karena mujahidin yang berkualitas akan melakukan aksi yang ditujukan kepada kombatan (anggota angkatan bersenjata yang terjun ke arena konflik. red). Seperti Taliban di Afghan yang memang atas fatwa ulama melakukan aksi jihad kepada polisi pendukung pemerintah.” Terangnya saat dihubungi Eramuslim.com, senin pagi (26/9)
Dalam hal ini, Fauzan menilai ada operasi intelejen dibalik bom Solo. Hal itu dipakai sebagai gaya lama SBY ketika media menyorot kebobrokannya.
“Inil adalah drama lama yang selalu diulang-ulang ketika SBY tertimpa masalah,” tuturnya
Dewasa ini kasus yang menerpa bendahara umum dan ketua umum Partai Demokrat membuat pencitraannya menurun drastis. Pada titik inilah masyarakat sudah tidak percaya lagi kepadanya, dan SBY memutar otak untuk kembali meraih simpati publik.
“Pamor SBY saat ini sedang turun. Media banyak mengungkap kasus korupsi yang melanda partainya. Ini banyak mempengaruhi opini masyarakat. Maka bom ini adalah strategi SBY untuk mengambil simpati masyarakat.” jelas Fauzan panjang lebar.
Fauzan berpesan agar masyarakat jangan mudah percaya atas apa yang terjadi saat ini. Kita dituntut kritis memperhatikan pemberitaan yang sedang berkembang, “Initiming yang sedang dimainkan intelejen.”
Sebelumya, kemarin siang (25/9), warga Solo dikagetkan ledakan bom bunuh diri yang terjadi di Gereja Kepunton, di Jalan Arif Rahman Hakim, Solo, Jawa Tengah. Akibatnya, 1 tewas dan 14 orang lainnya mengalami luka. Pelaku sendiri dilaporkan tewas dalam kejadian tersebut setelah meledakkan dirinya.
Kapolres Solo, Kombes Listyo Sigit Prabowo mengatakan bom meledak usai jemaat melakukan ibadah kebaktian kedua sekitar pukul 11.00 WIB. Kala itu kata dia, jemaat sudah keluar dari gereja. “Saat ini kami masih melakukan penyelidikan dan mengumpulkan barang bukti. Kami (juga) sudah memasang garis polisi,” kata Listyo, Minggu (25/9). (pz)





Pengamat Intelejen: “Ada skenario intelejen di balik bom Solo untuk bidik kelompok ‘radikal’

26 09 2011

JAKARTA – Ada upaya membidik kelompok ‘radikal’ di Solo dengan menciptakan adanya pemboman di Gereja Bethel Injil Sepuluh (GBIS) Kepunton, Solo.
”Solo menjadi target serangan, karena di wilayah ini menjadi basis kelompok radikal,” kata pengamat intelijen AC Manullang kepada itoday, Ahad (25/9/2011).
AC Manullang mengungkapkan bahwa selama ini pihak pemerintah sangat sulit mendapatkan legitimasi membubarkan kelompok ‘radikal’. Dengan adanya bom ini, secara tidak langsung masyarakat yang akan mendorong pemerintah untuk membubarkan organisasi kelompok ‘radikal’ tersebut.
Manullang berpendapat bahwa aksi pemboman tersebut pada dasarnya bagian dari operasi intelijen yang tersusun secara rapi dan orang yang menjalankannya pun tidak mengetahuinya. ”Biasanya ada penyusupan yang memprovokasi kelompok radikal untuk melakukan bom bunuh diri,” papar mantan Direktur Bakin ini.
Tidak hanya itu, Manullang juga mencurigai kemunculan bom tersebut tidak lepas dari upaya meningkatkan anggaran dalam pemberantasan terorisme.
”Anggaran penanggulan terorisme menjadi lahan basah aparat keamanan maupun pihak-pihak berwenang,” jelas Manullang.
Manullang juga mempertanyakan kinerja aparat keamanan dalam mengatasi penyerangan tempat-tempat ibadah umat Kristiani. ”Sebenarnya aparat kepolisian sudah tahu, kemunculan adanya ledakan bom, tetapi seolah-olah dibiarkan,” pungkas Manullang
Hal senada diungkapkan pula oleh Wakil Ketua Komisi I DPR, Tubagus Hasanuddin yang mengatakan dirinya merasa aneh dengan sikap aparat intelijen yang mengaku sudah tahu akan tetapi tidak ada upaya untuk menangkalnya lebìh dini agar tak timbul korban.
Karena itu Tubagus mendukung pernyataan Presiden SBY yang memerintahkan aparat keamanan untuk melakukan investigasi internal.
Mantan Jenderal bintang dua TNI ini memandang seperti ada kepentingan tertentu di antara aparat keamanan dalam peristiwa Bom Gereja di Solo.
“Sepertinya ada kepentingan tertentu di antara aparat sendiri dan kita minta agar SBY mengumumkan hasil investigasinya kepada publik,” pungkasnya. (dbs/arrahmah.com)





Inilah Detik demi Detik Pembantaian Salibis Terhadap Muslim Ambon

14 09 2011

Ambon kembali membara. Rumah-rumah muslim dibakar oleh kaum salibis. Media-media sekular pun tidak banyak memberitakan kejadian seutuhnya atas pembantaian yang menimpa kaum muslimin. Mereka diam dan sengaja menutupi kasus ini. Bahkan mencoba menuduh umat Islam telah membalikkan fakta. Betullah kata Ulama Asal Inggris, Syekh Ahmad Thompson dalam bukunya Dajjal The Antichrist,“Siapapun yang mempercayai peristiwa-peristiwa menurut media massa kafir, mustahil bisa mengetahui masalah yang sebenarnya.”
Oleh karena itu, berikut adalah sebuah dokumentasi detik demi detik pembantaian kaum muslimin oleh salibis yang sampai berita ini diturunkan tidak sedikit umat muslim yang telah meninggal dunia, dan 70 lainnya kritis.
11 September 2011.Pukul 23.30 WIT
Malam ini sebagian besar kaum muslimin mulai berjaga dan memobilisasi diri untuk persiapan jika ada serangan dari kaum salibis, sementara sebagian kecil disebar ke beberapa wilayah untuk memata-matai pergerakan kaum kafir.

Pukul 23.35 WIT
Pertempuran berlangsung di daerah Kudamati, dimana konsentrasi kaum salibis terpusat. Saat ini penjagaan aparat begitu ketat sehingga para pejuang kesulitan menerobos masuk barikade aparat.

12 SEPTEMBER 2011.Pukul 00.35 WIT
Sebagian besar korban luka yang dirawat di RS Al Fatah adalah para pemuda yang mempertahankan wilayah Waiahong dan sekitarnya. Mereka kalah dalam jumlah sehingga terdesak, maka pada malam ini sebagian pejuang yang telah menguasai medan perlawanan mulai bergerak untuk melakukan serangan balasan.

Pukul 06.30 WIT
Sekitar pukul 05.00 WIT, para pejuang berhasil menyerang gerombolan salibis di wilayah Talake dan Mardika. Namun lagi-lagi aparat berpihak pada mereka dan menembaki kami. Hingga berita ini ditulis pertempuran masih terjadi.

Pukul 07.00 WIT
Kami kembali ke basecamp di masjid Al Fattah. Kami kembali berkonsolidasi dan menyusun strategi. Aparat semakin banyak dan represif tapi kami telah mulai memporak-porandakan pertahanan salibis.

12 SEPTEMBER 2011.Pukul 10.30 WIT
Bantuan aparat mulai berdatangan. Konsentrasi aparat ada di wilayah kristen. (Hal ini juga diamini oleh Ustadz Bernard yang mengatakan kepada Eramuslim.com, para aparat Brimob Nashrani dikerahkan untuk melawan umat muslim, red.). Sementara wilayah muslim kosong dari penjagaan aparat.
Pukul 8:30 WIT
Situasi mereda, karena ketatnya barikade brimob di wilayah kristen. Data sementara: 5 orang syahid (Insya Allah) dan beberapa terluka tembak dan terluka di kepala yang dirawat di Rumah Sakit Al Fattah. Insya Allah jika tak ada campur tangan aparat maka kami dengan mudah menghabisi kaum salibis.
(Sumber: Forum Islam Al Busyro). (pz)








%d blogger menyukai ini: