KEMISKINAN INDONESIA, ANTARA PRODUKSI DAN DISTRIBUSI

12 12 2010

by Kardina Ayu W

Menjelang bulan Ramadhan, masyarakat tidak hanya disibukkan dengan kenaikan taraf dasar listrik (TDL) saja. Lebih dari itu, harga kebutuhan pokok pun ikut melambung. Harga kebutuhan pokok yang biasanya diperkirakan akan naik saat bulan ramadhan ataupun menjelang Lebaran karena peningkatan jumlah permintaan, sekarang jauh dari perkiraan, belum datang bulan suci Ramadhan harga kebutuhan pokok meningkat drastis. Harga cabe 1 kg yang biasanya berkisar antara 15.000-20.000 kini menjadi 40.000-50.000, beras jenis IR 64 naik dari 6.600 – 6.750, beras jenis Ramos dan sejenisnya dari harga 8.250-8.500 dan harga beras yang 5.000 kini akan didapat dengan kualitas yang sangat rendah.

Sangat ironis memang, di negeri yang luas dan SDA yang melimpah ini kebutuhan pokok selalu saja melambung tinggi. Namun yang lebih mengherankan lagi adalah meski harga kebutuhan pokok tadi melambung, faktanya tidak juga memberikan efek yang luar biasa bagi masyarakat Indonesia. Padahal sebagian besar masyarakatnya bermatapencaharian sebagai petani dan nelayan. Baca entri selengkapnya »





Ketika Subsidi BBM Dihapus… Apa Jadinya Rakyat??!!

8 08 2010

by Fitriani, S.Pd

Tahun 2010 menjadi tahun paling memilukan untuk rakyat. Disaat pemerintah memutuskan untuk menaikkan TDL dengan kenaikan 10 persen. Pada saat yang sama pemerintah sedang mengancang-ancang menetapkan harga baru BBM. Alasannya lagi-lagi pemerintah tidak sanggup memasok subsidi BBM yang kelewat banyak Pembatasan subsidi menjadi alternatif bagi pemerintah untuk mengurangi anggaran subsidi. Direktur Jenderal Minyak dan Gas, Kementrian ESDM, Evita H Legowo memperkirakan, dengan cara itu dalam dua atau tiga tahun pemerintah dapat menghemat uang negara hingga 40 persen.
Dalam APBN 2010, pemerintah menetapkan volume subsidi BBM mencapai 36,5 juta kiloliter. Angka ini merupakan gabungan antara volume bensin, solar dan minyak tanah bersubsidi. Meski dalam APBN perubahan pemerintah tidak merubah besaran volume subsidi itu, tapi nilai subsidi BBM meningkat dari Rp.68,7 trilyun menjadi Rp. 89,3 trilyun. Berdasarkan roadmap pengalihan BBM bersubsidi,pembatasan pembelian BBM bersubsidi tertutup dimulai pada 2011. Ada beberapa opsi yang berkembang, antara lain berdasarkan tahun pembuatan, besaran cc, dan jenis kendaraan, kata Evita.
Rencana kenaikan TDL dan BBM merupakan bukti pengurangan subsidi dan pada akhirnya akan dilakukan pencabutan subsidi tersebut. Pastinya dampak yang dirasakan masyarakat akan semakin besar karena selain naiknya BBM dan TDL berimbas kepada naiknya bahan kebutuhan pokok. Baca entri selengkapnya »





RAKYAT KIAN TERJEPIT

8 08 2010

by Melly Agustina Permatasari, S.Pd

Selain kenaikan TDL, pemerintah juga akan menaikkan harga BBM karena pemerintah tidak sanggup mensubsidi BBM yang terlewat banyak, apalagi sekarang harga minyak mentah dunia sebesar 80 dolar AS/barel. Bagi pemerintah pembatasan subsidi BBM sebagai alternatif untuk mengurangi anggaran subsidi, sehingga diperkirakan dalam dua atau tiga tahun, pemerintah dapat menghemat uang negara hingga 40 persen. Pembatasan pembelian BBM bersubsidi atau distribusi tertutup merupakan tindakan pemerintah yang secara pelan-pelan mengurangi anggaran subsidi bahkan pada akhirnya akan mencabut subsidi.
Kebijakan Pemerintah baik dengan mengalihkan penggunaan BBM subsidi ke non subsidi, maupun membatasi konsumsi atau pembelian BBM subsidi akan menambah berat beban rakyat. Masyarakat harus mengeluarkan dana untuk BBM yang lebih tinggi. Pembatasan pembelian BBM bersubsidi dilakukan justru di tengah-tengah jeritan masyarakat yang tengah menderita akibat himpitan ekonomi dan beban hidup yang semakin berat.
Di tengah daya beli masyarakat yang melemah saat ini, membatasi subsidi BBM merupakan tindakan yang sangat sewenang-wenang, zalim, dan tidak memperdulikan kesulitan yang diderita masyarakat. Apabila subsidi BBM dibatasi apalagi sampai dicabut maka akan berdampak pada kenaikan harga barang kebutuhan, pengangguran akan meningkat, daya beli masyarakat akan turun dan kemiskinan bertambah. Pemerintah seharusnya mampu melindungi dan mengatur kesejahteraan rakyatnya. Jika pemerintah sudah tidak lagi memperdulikan urusan dan kesulitan yang dihadapi oleh rakyat, lalu siapa lagi yang akan mengatur dan memelihara urusan rakyat. Pemerintah sebagai pemegang amanah, wajib memelihara kemaslahatan rakyat. Baca entri selengkapnya »





BBM Naik, Rakyat Panik

5 08 2010

by Miftahurrahmah

Beberapa minggu belakangan warga Kal-Sel pada umumnya dan kota Banjarmasin pada khususnya dipusingkan dengan masalah BBM. Pasalnya, harga-harga di eceran sempat naik. Dari harga normal Rp 5.000,00 per liter menjadi Rp 5.500,00 bahkan sempat melonjak hingga Rp 6.000,00. Belum lagi sulitnya memperoleh di POM resmi. Bahkan di beberapa daerah di Hulu Sungai semat terjadi antrean panjang.
Hal ini terjadi sehubungan dengan akan dinaikkannya harga BBM pada Agustus 2010. Yang kalaupun resmi di umumkan, jangka waktunya masih sebulan lebih. Namun dampak sudah dirasakan rakyat pada saat ini. Hal ini dimungkinkan karena adanya penimbunan-peimbunan yang terjadi menjelang kenaikkan. Yang bertujuan untuk meraup untung besar.
Hal ini pun dibarengi dengan kenaikan TDL (tarif dasar listrik) per 1 Juli 2010 kemaren. Yang walaupun kenaikkan tidak berlaku bagi pemakaian 900 AV akan tetapi imbasnya jelas bagi ke seluruh rakyat. Pasalnya, perusahaan-perusahaan dan tempat usaha yang terkena kenaikan listrik jelas akan menaikkan harga barang-barang produksi. Baca entri selengkapnya »





Ketika Subsidi BBM Dihapus… Apa Jadinya Rakyat??!!

5 08 2010

by Fitriani, S.Pd

Tahun 2010 menjadi tahun paling memilukan untuk rakyat. Disaat pemerintah memutuskan untuk menaikkan TDL dengan kenaikan 10 persen. Pada saat yang sama pemerintah sedang mengancang-ancang menetapkan harga baru BBM. Alasannya lagi-lagi pemerintah tidak sanggup memasok subsidi BBM yang kelewat banyak Pembatasan subsidi menjadi alternatif bagi pemerintah untuk mengurangi anggaran subsidi. Direktur Jenderal Minyak dan Gas, Kementrian ESDM, Evita H Legowo memperkirakan, dengan cara itu dalam dua atau tiga tahun pemerintah dapat menghemat uang negara hingga 40 persen.
Dalam APBN 2010, pemerintah menetapkan volume subsidi BBM mencapai 36,5 juta kiloliter. Angka ini merupakan gabungan antara volume bensin, solar dan minyak tanah bersubsidi. Meski dalam APBN perubahan pemerintah tidak merubah besaran volume subsidi itu, tapi nilai subsidi BBM meningkat dari Rp.68,7 trilyun menjadi Rp. 89,3 trilyun. Berdasarkan roadmap pengalihan BBM bersubsidi,pembatasan pembelian BBM bersubsidi tertutup dimulai pada 2011. Ada beberapa opsi yang berkembang, antara lain berdasarkan tahun pembuatan, besaran cc, dan jenis kendaraan, kata Evita.
Rencana kenaikan TDL dan BBM merupakan bukti pengurangan subsidi dan pada akhirnya akan dilakukan pencabutan subsidi tersebut. Pastinya dampak yang dirasakan masyarakat akan semakin besar karena selain naiknya BBM dan TDL berimbas kepada naiknya bahan kebutuhan pokok. Baca entri selengkapnya »





PENGUASA KHIANAT MENZALIMI RAKYAT

1 07 2010

[Al-Islam 513] BELUM juga secara resmi diberlakukan, kebijakan Pemerintahn untuk menaikkan Tarif Dasar Listrik (TDL) mulai 1 Juli 2010 ini telah menimbulkan dampak negatif yang amat nyata. Harga-harga kebutuhan pokok masyarakat sudah mulai naik, bahkan sejak beberapa pekan lalu. Di Pasar Kemiri Depok Jawa Barat, misalnya, kenaikan bahan-bahan pokok sudah terjadi sejak sebulan lalu. “Kenaikan ini terjadi secara bertahap. Ada yang tiap pekan naik, ada juga yang tiap hari naik,” kata Mia (36), pedagang Pasar Kemiri, Senin (28/6).

Beras bermutu baik naik dari Rp 6.300,- menjadi Rp 7.000,-; daging dari Rp 18 ribu menjadi Rp 25 ribu; seikat sawi dari Rp 1 ribu menjadi Rp 3 ribu; mentimun dari Rp 2 ribu/kg menjadi Rp 4 ribu/kg; bawang merah naik 100 persen menjadi Rp 15 ribu/kg; bawang putih naik Rp 8 ribu menjadi Rp 25 ribu/kg; cabai merah keriting yang semula berkisar Rp 12-15 ribu/kg naik menjadi Rp 35 ribu/kg. Kenaikan berbagai kebutuhan pokok ini terjadi di berbagai daerah di Tanah Air (Republika, 29/06/2010).

Ekonom Universitas Indonesia, Nina Sapti, menilai ada dua faktor yang menyebabkan kenaikan harga bahan kebutuhan pokok kali ini. Pertama karena faktor musiman, dan kedua efek psikologis rencana kenaikan Tarif Dasar Listrik. Harga ini akan terus merangkak naik hingga bulan puasa dan saat Lebaran. Dari sisi psikologis, rencana kenaikan TDL pada awal Juli ini membuat tekanan harga semakin besar (Republika.co.id, 28/6).

Kenaikan TDL juga secara langsung berpengaruh terhadap industri. Salah satunya, misalnya, industri sepatu. “Multiefek kenaikan TDL sangatlah besar,” kata Ketua Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) Cabang Jawa Timur, Sutan RP Siregar di Surabaya, Jumat (25/6). Menurut dia, kalau salah satu komponen pendukung mengalami kenaikan, dipastikan berpengaruh ke komponen lainnya seperti bahan baku. “Apalagi, 70 persen hingga 80 persen bahan baku industri sepatu didatangkan dari dalam negeri,” ujarnya (Republika.co.id, 25/6). Baca entri selengkapnya »





Mendambakan Listrik Murah

29 06 2010

detik.com Jakarta – Kenaikan Tarif Dasar Listrik (TDL) dengan rata-rata 10 persen yang dimulai 1 Juli 2010 telah membuat sebagian besar rakyat Indonesia mengalami kebingungan ketika mendengar dinaikkannya harga tarif tersebut. Pasalnya hampir di sebagian besar sektor industri dan rumah tangga tergantung kepada energi listrik.

Bahkan, dalam masalah ibadah pun masyarakat sangat tergantung kepada adanya daya tersebut. Namun, ironisnya kenaikan TDL ini sebagaimana kejadian sebelumnya tidak diikuti dengan pelayanan publik yang memadai serta dalam upaya untuk meningkatkan keandalan listrik dan menambah daya. Karena, sering terjadinya pemadaman listrik. Baik terencana (terjadwal) maupun mendadak. Itu disebabkan karena PLN kekurangan daya, akibat mesin-mesinnya banyak yang sudah tua dan rusak, ketiadaannya biaya investasi, menyebabkan harus dilakukan overhaul, yang akhirnya merugikan masyarakat banyak dengan pemadaman listrik tersebut.

Sebagaimana diketahui teknologi listrik termasuk teknologi tinggi banyak alat-alat yang masih harus diimpor dan harganya mahal. Padahal APBN terbatas. Akibatnya, kenaikan Tarif Dasar Listrik secara periodik (rutin) menjadi pilihan. Kenaikan ini sebenarnya sudah berlangsung berkali-kali sejak zaman Soeharto hingga masa Susilo Bambang Yudhoono (SBY).

Saat ini pun pemerintah telah memastikan akan menaikkan kembali Tarif Dasar Listrik (TDL) untuk yang ke sekian kalinya. Tepatnya pada bulan Juli tahun 2010. Lebih dari itu, karena keterbatasan PLN untuk memasok ketersediaan listrik, pemerintah mengundang swasta untuk ikut membangun fasilitas pembangkit dan transmisi.

Swasta menjawab undangan ini dengan meminta kontrak karya (keharusan PLN membeli listrik mereka, tentu dengan harga lebih mahal). Ini pun sudah berlangsung lama. Akibatnya, dalam perkembangan selanjutnya, PLN tidak lagi menjadi pemain tunggal dalam kelistrikan. Apalagi UU Listrik yang disahkan baru-baru ini memberikan peluang lebih lebar lagi kepada pihak swasta/asing untuk bersaing dengan PLN dalam penyediaan listrik. Termasuk dalam proyek penyediaan listrik 10.000 MW. Baca entri selengkapnya »








%d blogger menyukai ini: