Kemitraan Komprehensif Indonesia – AS, Penjajahan Total Gaya Baru AS

26 09 2010

Oleh : Harits Abu Ulya (Ketua Lajnah Siyasiyah DPP HTI)

Lambat laun akhirnya hubungan bilateral AS-Indonesia mulai mengkristal. Menteri Luar Negeri AS Hillary Rodham Clinton dan Menteri Luar Negeri Indonesia Marty Natalegawa bertemu di Washington pada tanggal 17 September 2010, dalam perhelatan penting kali pertama Komisi Bersama AS-Indonesia. Sebuah kristalisasi dari pertemuan-pertemuan sebelumnya yang dilakukan oleh presiden Susilo Bambang Yudhoyono dengan Presiden Barrack Obama (AS), begitu juga pertemuan yang dilakukan pejabat terkait dari masing-masing pihak pada lawatan-lawatan sebelumnya.

Upaya menuju hubungan strategis sudah dibicarakan SBY dengan Obama di sela-sela pertemuan di Singapura (2009). Begitu pula saat kedua presiden menghadiri KTT G-20 di Toronto (6/2010), arah hubungan bilateral bergeser kepada bentuk yang lebih luas dengan titel Kemitraan Komprehensif AS-Indonesia. Jauh hari Hillary Clinton pada lawatan pertama sebagai Menlu AS, Indonesia masuk menjadi prioritas untuk kawasan Asia Pasifik. Selama di Indonesia (18-19 Febuari 2009) bertemu dengan pejabat kementerian luar negeri RI, Hilary mengenalkan pentingnya “kemitraan strategis AS – Indonesia”. Karena Indonesia adalah negara yang penting bagi AS sebagai negara dengan jumlah penduduk Muslim terbanyak di dunia. Sehingga Menlu AS merasa penting untuk merangkul Indonesia lebih awal. Pejabat Indonesia cukup respek, Menlu RI (saat itu Hasan Wirajuda) juga menggarisbawahi pernyataan Deplu AS akan pentingnya Indonesia bagi AS; “Sepanjang RI-AS menjunjung tinggi nilai-nilai hak asasi manusia, demokrasi, dan pluralisme, ada cukup alasan untuk mengeratkan hubungan bilateral” (7/2/09). Pada hari kedua lawatannya, tanggal 19 Februari 2009 Hillary melakukan kunjungan kehormatan kepada Presiden SBY.

Pada awalnya rencana kunjungan Obama, untuk meresmikan agreement (perjanjian) kemitraan komprehensif AS-Indonesia. Sekalipun batal, namun upaya intensif kedua belah pihak terus berjalan untuk menyiapkan lebih luas substansi kemitraan yang dikehendaki. Di bulan Juli 2010 Menhan AS Robert Gates juga melawat ke Indonesia bertemu dengan pejabat Dephan dan Presiden SBY. Yang sebelumnya juga sudah ada pertemuan antara Robert Gates dengan Menhan RI Purnomo Y di Singapura. Baca entri selengkapnya »

Iklan




kekuatan asing makin mencengkeram

30 08 2010

INILAH.COM, Jakarta – Indonesia era SBY-Boed terus didominasi kekuatan asing yang memberlakukan Neoliberalisme ugal-ugalan. Lewat komprador atau antek asing di dalam negeri ini, kekuatan asing itu makin mencengkeram.

Kalangan aktivis, tokoh masyarakat dan DPR mengungkapkan, tiga lembaga yang berbasis di Amerika Serikat (AS) tercatat paling banyak menjadi konsultan pemerintah dalam merancang 72 undang-undang (UU) yang disinyalir Badan Intelijen Nasional (BIN) disusupi kepentingan asing.

Ketiga lembaga tersebut adalah World Bank (Bank Dunia), International Monetary Fund (IMF), dan United States Agency for International Development (USAID). Ketiga lembaga ini merupakan ‘Bos Besar’ para teknokrat Mafia Berkeley, yang berkuasa di Indonesia puluhan tahun lamanya. Baca entri selengkapnya »





Indonesia Merdeka Hanya dengan Syariah dan Khilafah

26 08 2010

Subhanallah! Satu persatu politisi mulai sadar bahwa sebenarnya negeri ini masih dalam penjajahan asing, Drs Ali Mochtar Ngabalin, MSi, salah satunya. Ia bukan saja sadar tetapi memahami juga solusi yang harus diambil bangsa ini agar benar-benar menjadi bangsa yang merdeka. Hal itu terungkap dalam acara Halqah Islam dan Peradaban (HIP) ke-22 yang berlangsung pada Sabtu, (21/8) di Wisma Antara, Jakarta.

Dalam talkshow yang bertema Sebuah Refleksi 65 Tahun Indonesia Merdeka; Kata Siapa?(Mengurai Imperialisme Gaya Baru AS) itu, Ngabalin menegaskan bahwasepanjang tidak menerapkan syariah, Indonesia tidak akan pernah merdeka. Syariah itu tidak akan bisa tegak tanpa negara, negaranya mustilah khilafah, bukan negara nasionalisme yang memecah kaum Muslim lebih dari 50 negara bangsa. Tanpa khilafah mustahil bisa merdeka.

“Kita melakukan kemusrikan yang naudzubillahimindzalik bila kita terus menganut nasionalisme!”pekiknya dan disambut takbir sekitar 200 peserta yang hadir.Khilafahlah satu-satunya sistem pemerintahan yang dapat menjamin tegakknya aturan dari Allah SWT dan dapat menyelamatkan manusia di dunia dan akhirat. Baca entri selengkapnya »





BBM Naik Lagi?!?

8 08 2010

by Baiq Lidia Astuti

Gonjang-ganjing kabar harga BBM bakal naek lagi mendominasi pemberitaan di media massa. Untuk kedua kalinya di tahun ini sejak Pak SBY menjabat orang no. 1, harga BBM dipaksa melangit lagi (baru satu tahun udah dua kali naik, gimana nih Pak?). Malah Pak Wapres Yusuf Kalla, sempet ngasih bocoran kalo kenaikan itu bakal dipatok pemerintah minimal 50% dari harga sekarang. Waduh!
Nggak ada pilihan. Ya, jawaban klasik itu seolah jadi senjata pamungkas pemerintah dalam menghadapi kritikan pedas dari semua pihak. Soalnya, kenaikan harga BBM ini bukan satu-dua kali dihadapi pemerintah. Berarti sudah banyak pengalaman dan pelajaran yang diperoleh untuk mensiasati kondisi seperti ini. Namun sayangnya, pemerintah seolah tak memperoleh pelajaran dari kondisi yang sama pada tahun-tahun lalu. Hingga mereka tetep menggantungkan kebutuhan pasokan minyak mentah dari luar. Padahal zamrud khatulistiwa ini tajir lho akan sumber daya alam seperti minyak bumi.
Akibat kelangkaan BBM itu, ongkos transportasi jadi naik sebelum waktunya. Di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, sopir angkutan umum di dalam kota maupun luar kota mulai menaikkan tarif. Alasannya, akibat terlalu lama antre BBM, angkutan umum yang biasanya tiga rit atau pergi pulang dalam sehari hanya menjadi dua kali. Baca entri selengkapnya »





Ketidakmampuan Pemerintah dalam Pengelolaan Sumber Daya Minyak, Bukti Nyata Dampak Kebijakan Ekonomi Neoliberal

8 08 2010

by Aulia Sindy P.

Ketika Melintasi jalan-jalan di kota Banjarmasin, kita akan menemukan pengecer bensin memajang harga yang cukup bervariasi dari sebulan sebelumnya. Jika kurang lebih sebulan yang lalu para pedagang eceran bensin “satu suara” dengan memajang harga Rp 5000,- per liter bensin, saat ini ada yang Rp 5.500,- per liter, bahkan saya sempat menemukan harga bensin Rp 6.000,- per liter. Kondisi ini terlihat sederhana, karena harga bensin eceran hanya naik beberapa ribu rupiah saja. Tetapi pertanyaannya, bagaimana jika masyarakat membutuhkan banyak bahan bakar minyak dalam jumlah besar? Bagaimana dampaknya pada hasil produksi industri kecil yang memerlukan bahan bakar minyak?
Anak ayam mati di lumbung padi. Sebuah ungkapan yang membuat miris semua orang yang mendengarnya. Tetapi hal itu benar-benar terjadi di Bumi Pertiwi Indonesia ini. Indonesia terkenal dengan tanah yang subur dan sumber daya alam yang melimpah, terutama untuk persediaan minyak bumi yang merupakan salah satu komoditi ekspor andalan Indonesia. Karena sumber daya minyak yang melimpah pula Indonesia maju ke kancah perdagangan internasional melalui organisasi perkumpulan negara-negara penghasil minyak (OPEC) bersama sejumlah negara-negara Timur lainnya. Ironi memang, ketika minyak menjadi salah satu kebutuhan yang cukup urgen dalam kehidupan umat, Pemerintah negeri ini lebih memilih untuk bersama-sama memenuhi kebutuhan minyak dunia. Ekspor besar-besaran dilakukan dengan dalih meningkatkan devisa negara, sampai privatisasi sumber daya minyak ke tangan swasta – tepatnya pihak Asing – dilakukan dengan dalih efisiensi produksi. Baca entri selengkapnya »





Indonesia Menjerit

8 08 2010

by Saidah Mahtari

Rakyat Indonesia akan semakin menjerit, belum hilang jeritan rakyat dengan naiknya TDL, yang berimbas kepada harga barang-barang hingga sembako yang semakin melonjak apalagi saat bulan puasa dan menjelang lebaran tentunya semua akan naik. Sekarang pemerintah malah mau menghapuskan subsidi untuk BBM. Dengan dihapuskannya subsidi BBM akan membuat jeritan rakyat semakin kencang, hal ini pastinya akan berdampak melonjaknya harga semua barang dan komoditi, bukan hanya barang saja yang kena dampaknya tapi juga pada para pekerja, akan meningkatnya penggangguran yang mencapai jutaan orang. Untuk sekarang saja rakyat harus berpikir keras untuk dapat bertahan hidup apalagi nanti.
Pemerintah memang keterlaluan, belum satu tahun mereka menduduki jabatan tapi mereka sudah menghapus kesejarteraan rakyat . Sebenarnya berapa penghematan yang didapat oleh Pemerintah untuk penghapusan subsidi harga BBM?? 35 Trilyun. Bandingkan dengan dana BLBI yang telah dikorup yang menurut catatan harian Kompas (21/1/2008) sekitar Rp 225 trilyun! Kemana uang itu?? Mengapa untuk uang yang hanya Rp 35 trilyun yang didapat dari menaikan 28,7 persen harga BBM, Pemerintah tega mengorbankan 240 juta rakyatnya, sementara uang negara Rp 225 trilyun yang dikorup dibiarkan begitu saja?/
Mengapa Pemerintah mengeluarkan kebijakan ini? Tidak lain, demi mematuhi tekanan negara-negara imperialis melalui IMF, yang telah memaksa Pemerintah untuk melakukan liberalisasi ekonomi, termasuk migas.
Karena itu sudah saatnya sistem kapitalis-sekuler yang menjadi akar masalah dan yang selama ini mencengkeram Indonesia dan menimbulkan kesengsaraan rakyat banyak harus dicabut dan dibuang serta ditinggalkan. Penggantinya adalah sistem yang baik. Baca entri selengkapnya »





Perjuangan yang Dilakukan Terpeleset Keadaan

8 08 2010

by Astri
Banyak sekali keluhan rakyat seiring akan bergulirnya kebijakan pemerintah akan dikuranginya BBM bersubsidi, belum lagi kebijakan tersebut dilancarkan kebijakan tersebut, BBM sudah mulai langka dan mahal. Kenaikan berbagai kebutuhan sampai angkutan umum pun turut serta menjerat leher rakyat mengiringi kenaikan BBM. Banyak usaha rakyat yang harus gulung tikar akibat mahalnya berbagai kebutuhan itu dan juga jumlah PHK yang kian bertambah akibat perusahaan atau pabrik-pabrik kewalahan membeli bahan baku yang harganya terus naik, sehingga tak mampu membayar gaji karyawan, hal ini semakin menambah persentase rakyat miskin di Indonesia. Akhir-akhir ini rakyat juga diributkan oleh pemberitaan di tv yang hampir tiap hari mengabarkan terjadinya korban dalam ledakan kompor yang menggunakan gas. Ini juga merupakan dampak dari mahalnya BBM sehingga rakyat kecil lebih memilih menggunakan gas dari pada minyak tanah mengingat dari sana mereka dapat memperoleh sedikit keuntungan dari selisih harga keduanya, padahal mereka mempertaruhkan nyawa. Hal itu diakui oleh salah satu warga ketika ditanyai menngapam masih berani menggunakan tabung gas padahal terbukti berbahaya.
Rakyat Indonesia ini sering berpikir demikian, mereka berusaha membulatkan keberanian mereka menerima resiko yang amat berbahaya itu, demi menghidupi keluarga mereka. Namun miris sekali, hal ini seakan tak juga mampu menyadarkan para penguasa di negeri ini. Mereka para penguasa terus-menerus menambah jeratan di leher rakyat tanpa mengingat lagi janji-janji yang mereka ucapkan saan berkampanye.
Saya tidak ingin berpanjang lebar membahasa cabang-cabang ranatai permasalahan apa lagi yang tengah dirasakan rakyat saat ini, karena hal itu tidak ada yang samar di mata kita. Setiap ada permasalahan kita pasti berusaha mencari akar permasalahan dan solusinya, sekarang mari kita melihatnya dengan hati jernih, mata yang tajam dan menerima kebenaran. Baca entri selengkapnya »








%d blogger menyukai ini: