Pemimpin pelayan umat

30 11 2010

by by : Siti Rahmah

Gaya hidup mewah sudah mewarnai kehidupan masyarakat Indonesia terutama pada penguasa negeri ini. Mulai dari pakaian, kediaman, kantor hingga mobil dinas dengan harga ratusan juta hingga milyaran rupiah. Ini tidak terlepas dari cara pandang mereka terhadap kedudukannya.
Bagi mereka, jabatan adalah identik dengan prestise, martabat dan kehormatan,bahkan ladang penghasilan subur. Sehingga wajar jika mereka berebut untuk mendapatkannya jadi wajar mereka tidak lagi memandang jabatan itu sebagai amanah. Amanah yang harus dilaksanakan, dijalankan dan menunaikan dengan semestinya. Sebagai perbandingan di negeri ini adalah para pejabat Negara hidup serba mewah namun keadaan rakyat yang dipimpinnya berbanding terbalik dengan itu, banyak rakyat yang miskin, putus sekolah, dan sebagainya. Baca entri selengkapnya »

Iklan




Pemimpin, antara Kekayaan dan Pelayanan

30 11 2010

By,Gusmawati

Benarkah pemimpin di negeri kita adalah orang-orang yang kaya ? gaya hidup mewah pun mewarnai kehidupan hampir semua penguasa di negeri ini. akankah ini merupakan keadaan yang semestinya kita syukuri. Lihat saja pakaian, kediaman, kantor hingga mobil dinas mereka, dengan anggaran ratusan juta hingga milyaran rupiah. Sebuah angka yang dilansir oleh Forum Indonesia untuk Transparasi Anggaran (FITRA) cukup mengejutkan. Anggaran pakaian dinas Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saja mencapai Rp 893 juta per tahun atau sekitar 18 juta per minggu atau Rp 74 juta perbulan. Mencengangkan bukan, Lihat juga daftar kekayaan pimpinan DPR RI yang dikeluarkan Direktorat Laporan Harta Kekayaan penyelenggara Negara (LHKPN) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
NO Nama Total Kekayaan Ket
1 Marzuki Alie (Partai Demokrat) Rp 22.226.951.000 dan US$ 12.161 Tanggal pelaporan terakhir 30 November 2009
2 Pramono Anung (PDIP) Rp 8.479.567.737 dan
US$75.127

3 Priyo Budi Santoso (Partai Golkar) Rp 16.024.415.091.00 dan US$ 195.960
Tanggal pelaporan terakhir 12 Januari 2010

4 Anis Matta (PKS) Rp 6.479.720.000 dan US$ 10.000
Tanggal pelaporan terakhir 7 Desember 2009

5 Taufik Kurniawan (PAN) Rp 2.700.000.000
Tanggal pelaporan terakhir 6 November 2004 Baca entri selengkapnya »





Wakil Rakyat Menimbun Harta sebagai Pelayan Rakyat “ Gaji besar , kerja nol besar “

30 11 2010

by Ina Suryana,

Masalah gaji dan penghasilan pejabat Negara, terutama anggota DPR RI yang merupakan wakil rakyat sering kali menjadi polemik di tengah masyarakat bisa jadi dikarenakan tidak transparansinya tingkat gaji juga perasaan ketidakadilan, dimana faktanya dilihat dari tingginya gaji pejabat Negara sementara rakyat masih hidup susah. Jumlah penduduk miskin di Indonesia sebesar 31,02 juta jiwa (13,33%), di tambah lagi hutang Negara yang tidak ada ujungnya, sekarang saja hutang Indonesia Rp 1.625 Triliun (detik.com 11/8/10 ).
Di tengah kemiskinan rakyat dan hutang Negara yang menggunung, ternyata gaji para wakil rakyat (pejabat Negara) justru fantastis. Untuk gaji anggota DPR sendiri bersih Rp 900 juta, dengan rincian yang didapat dari FITRA (Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran), FITRA menghitung gaji bersih setiap anggota DPR sebesar Rp 913 juta/tahun, sebesar Rp 929 juta untuk posisi wakil ketua badan, dan Rp 937 juta untuk ketua badan, FITRA memperkirakan Rp 511 milyar uang rakyat habis untuk membayar gaji 560 anggota DPR RI, penghasilan perbulan anggota DPR sebesar 62 juta untuk posisi sebagai anggota DPR, 64 juta untuk wakil ketua badan dan ketua 65 juta/bulan. Selain gaji pokok tentu mereka juga mendapat tunjangan-tunjangan, diantaranya; tunjangan komisi, tunjangan fungsional, tunjangan komunikasi intensif, tunjangan listrik, telp dll. Baca entri selengkapnya »





PEMIMPIN DAMBAAN RAKYAT

30 11 2010

by Sri Damayanti

Miris memang ketika kita melihat keadaan rakyat dari sebuah negara yang katanya ‘gemah ripah loh jinawi’. Sudahlah barang-barang kebutuhan pokok naik, kelaparan dimana-mana, harga beras naik tetapi harga gabah turun, minyak goreng naik, tempe yang jadi makanan wong cilik juga ikut-ikutan naik. Belum cukup, kebijakan pemerintah untuk mengkonversi minyak tanah menjadi gas malah menimbulkan masalah baru yang sangat menyedihkan, minyak tanah yang rencananya akan di-nol-kan subsidinya malah hilang dari pasaran, ditambah lagi gas elpiji sekarang jadi langka, kalaupun ada harganyapun melambung tinggi. Anak-anak yang busung lapar atau dengan istilah yang lebih menyakitkan, gizi buruk semakin bertebaran dimana-mana. Saat ini rakyat memang sedang prihatin.
Inilah kondisi riil dari rakyat Indonesia sekarang, coba kita lihat apa yang terjadi atau yang dilakukan pemimpinnya saat ini melihat kondisi rakyat yang sedang terpuruk. Diwaktu yang lalu Presiden SBY bersama 80 duta besar negara sahabat nonton bareng film Ayat-Ayat Cinta di sebuah bioskop. Entah apakah presiden yang saat itu duduk nyaman di tempat duduk empuk diselimuti ruangan yang dingin ber-AC masih ingat dengan rakyatnya yang meronta-ronta karena kehabisan minyak tanah untuk menanak beras yang mereka beli dengan menjual bajunya? Entah apakah presiden yang pada saat itu katanya menitikkan air mata karena haru juga akan menitikkan air matanya melihat rakyat yang sedang merintih karena anaknya menderita gizi buruk?
Belum cukup dengan menonton film, dengar-dengar presiden saat ini sedang menyelesaikan album musiknya yang kedua, hasil penjualannya bukan untuk ngasih makan rakyat, tapi untuk meneguhkan komitmen menjaga HKI (Hak Kekayaan Intelektual). Baca entri selengkapnya »





SEMBAKO DAN MINYAK TANAH NAIK, PRESIDEN MALAH FOYA-FOYA

30 11 2010

by RACHMAYANTI

Tengok Rakyatnya…
Coba saja kita lihat kondisi masyarakat Indonesia sekarang, yang sering dibilang negara yang ‘gemah ripah loh jinawi’. Tapi yang ada malah kelaparan dimana-mana, barang-barang kebutuhan pokok pada naik, misalnya saja harga beras naik tapi harga gabah malah turun, minyak goreng juga naik, ditambah lagi tempe yang biasanya jadi makanan wong cilik (dan pastinya makanan paling terjangkau buat anak kos-kosan) juga ikut-ikutan naik. Cek…cek… Belum cukup itu saja.. ada lagi kebijakan pemerintahan untuk mengkonversi minyak tanah jadi gas malah menimbulkan masalah baru yang sangat menyedihkan, minyak tanah yang rencananya bakal di-nol-kan subsidinya malah hilang dari pasaran. Hasilnya adalah anak-anak busung lapar – atau dengan istilah menyakitkannya, kita sebut aja gizi buruk- makin bertebaran dimana-mana. Baca entri selengkapnya »





FITRA Tuding Anggaran Pakaian Dinas & Pengamanan Presiden Hamburkan Uang Negara

6 07 2010

Jakarta – Selain anggaran kunjungan ke luar negeri presiden yang dikritik, Forum Indonesia Untuk Transparansi Anggaran (FITRA) juga mengkritik sejumlah pos anggaran presiden. Diantaranya anggaran untuk pakaian dinas, pengadaan road blocker, dan pengamanan fisik dan nonfisik VVIP presiden.

Untuk anggaran pakaian dinas, FITRA mencatat, ketika presiden SBY akan berangkat ke luar negeri negara juga sudah harus menyediakan pakaian dinas presiden sebesar Rp 893 juta. Jumlah ini dinilai berlebihan. “Kalau setiap minggu presiden bisa membeli pakaian dinas sebesar Rp 18 juta untuk satu pakaian setiap satu minggu sekali atau setiap harus berangkat ke luar negeri,” kata Kordinator Investigasi FITRA, Uchok Sky Khadafi dalam siaran pers yang diterima detikcom, Senin (5/7/2010).

Berikutnya, kata Ucok, adalah belanja pencitraan presiden seperti pengadaan Road Blocker untuk Istana Presiden sebesar Rp 49 miliar. Pengadaan tersebut menurutnya jelas-jelas merupakan pemborosan anggaran negara. Baca entri selengkapnya »





Nafsu Ingin Menjadi Pemimpin

23 06 2010

by Dr. Daud Rasyid

Perbedaan zaman Salafus-sholeh yang paling kentara dengan zaman sekarang, salah satunya dalam ambisi kepemimpinan. Dulu, khususnya zaman sahabat, mereka saling bertolak-tolakan untuk menjadi pemimpin.

Abu Bakar Shiddiq diriwayatkan, sebelum diminta menjadi Khalifah menggantikan Rasulullah mengusulkan agar Umar yang menjadi Khalifah. Alasan beliau karena Umar adalah seorang yang kuat.

Tetapi Umar menolak, dengan mengatakan, kekuatanku akan berfungsi dengan keutamaan yang ada padamu. Lalu Umar membai’ah Abu Bakar dan diikuti oleh sahabat-sahabat lain dari Muhajirin dan Anshor.

Dari dialog ini dapat kita pahami bahwa generasi awal Islam, yang terbaik itu, memandang jabatan seperti momok yang menakutkan. Mereka berusaha untuk menghindarinya selama masih mungkin. Tapi di zaman ini, keadaannya sudah berubah jauh.

Orang saling berlomba untuk menjadi pemimpin. Jabatan sudah menjadi tujuan hidup orang banyak. Semua tokoh yang sedang bertarung mengatakan, jika diminta oleh rakyat, saya siap maju. Inilah basa basi mereka. Entah rakyat mana yang meminta dia maju jadi pemimpin. Sebuah kedustaan yang dipakai untuk menutupi ambisi menjadi pemimpin.

Keberatan para Sahabat dulu untuk menjadi pemimpin, dikarenakan mereka mengetahui konsekuensi dan resiko menjadi pemimpin. Mereka mendengar hadits-hadits Nabi Saw tentang tanggung jawab pemimpin di dunia dan di akhirat. “Setiap kamu adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggung jawabannya. Imam (kepala negara) adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggung jawabannya atas kepemimpinannya…”. Baca entri selengkapnya »








%d blogger menyukai ini: