politikus muda bermuka dasa

12 11 2011

Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi Busyro Muqoddas mengkritik langkah sejumlah politikus yang kerap memberikan komentar yang menyerang lembaganya. Ia menganggap bahwa politikus tersebut masuk dalam kategori dasa muka alias memiliki karakter yang bisa diubah-ubah.

“Inilah karakter esuk dele, sore tempe, malam onde-onde,” kata Busyro pada pidato kebudayaan bertajuk “Paguyuban Kumuh Koruptor dan Polusi Kebudayaan” di Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta, Kamis, 10 November 2011 malam.

Busyro mengatakan karakter dasa muka ini bisa memperlihatkan bermacam wajah. Pada pagi hari berwajah lembut, tetapi siang hari muram, egois, dan mudah tersinggung.

Sifat ini, lanjut Busyro, kemudian menjelma menjadi caci-maki yang menganggap lembaga antikorupsi adalah sarang teroris. “Menuduh alat politik penguasa, sarang mafia, loyo, sudah dibeli, pembohong, dan perampok,” katanya.

Tidak hanya itu, kata Busyro, mereka bahkan meminta hak penuntutan KPK dicabut, memaksakan kewenangan penghentian penyidikan, bahkan mendesak pembubaran KPK. “Mereka umbar sepuas nafsu dan hasrat hewaniah,” ujarnya.

Busyro mengatakan, kondisi ini berbanding terbalik pada malam hari, mereka mendorong agar kasus korupsi dipusatkan pada lembaga antikorupsi. Mereka juga mengumbar janji akan menguatkan dan menghalau pelemahan KPK.

Tak hanya itu, budaya kumuh dalam politik kontemporer juga sudah mendominasi entitas politikus Tanah Air belakangan ini. “Karakter mencla-mencle dalam mengemban amanat publik di lembaga negara,” ucapnya lantang.

Penyebabnya, kata Busyro, adanya lembaga negara yang kini dihuni oleh orang-orang yang tidak jelas rekam jejaknya. Akibatnya, tidak diketahui apakah mereka pernah membela atau malah memangsa rakyat.
“Banyak terindikasi lembu peteng atau anak yang lahir tak jelas bapak-ibunya,” ujarnya.

Yang jelas, lanjut Busyro, mereka tampil perlente dengan lambang burung garuda keemasan dan safari bersaku enam. Serta memiliki selusin BlackBerry. “Inilah partai politik kita yang dihuni mayoritas politisi pragmatis hedonis. Ini tragis sekaligus tragedi budaya,” katanya. (tempointeraktif.com, 11/11/2011)





Occupy Wall Street

29 10 2011

Occupy Wall Street adalah cerminan kemarahan dan kebencian massif terhadap Kapitalisme global. Berawal dari demonstrasi yang dilakukan di Wall Street, New York, kemarahan terhadap Kapitalisme kini merebak dimana-mana. Kapitalisme dikecam sebagai ideologi kriminal yang rakus, menindas dan melakukan ketidakadilan sistematis.

Mereka mengecam pelaku bisnis besar yang rakus dan menghalalkan segala cara. Kecaman yang sama ditujukan kepada Pemerintah dan Kongres AS yang selalu lebih mengutamakan kepentingan korporasi kaya. Mereka membawa poster yang menggambarkan realita ini: The Real Terrorists are in The White House, Congress and Wall Street (Terorisme Sesungguhnya Ada di Gedung Putih, Kongres dan Wall Street).

Sebagaimana diketahui, saat krisis di Amerika tahun 2008, Pemerintah AS mengucurkan dana besar untuk perusahan-perusahan besar, seperti AIG perusahan asuransi raksasa. Dari pajak, Pemerintah AS mengucurkan dana 170 miliar dolar. Ternyata kinerja AIG terpuruk karena memegang obligasi beragun aset KPR (mortgage). Obligasi itu ternyata kertas belaka yang membuat keuangan AIG berdarah-darah. Ironisnya, setelah mendapatkan dana talangan, manajemen AIG justru melanjutkan tradisi bagi-bagi bonus. Dana 165 juta dolar dibagikan sebagai bonus kepada para eksekutifnya.

Perdagangan di pasar saham tak kalah curangnya. Rajaratnam (53) dituduh mendapat-kan keuntungan secara tidak sah dari pasar modal sebesar 63,8 juta dolar AS dalam kurun waktu tujuh tahun. Rajaratnam adalah pemim-pin dan pendiri salah satu hedge fund terbesar dunia, Galleon, yang mengelola dana investasi 7 miliar dolar AS pada tahun 2008. Sesumbarnya sebagai analisis saham terbaik ternyata karena sering mendapat bocoran bahkan mencuri informasi dari berbagai kalangan.

Terdapat juga Skandal Madoff yang disebut-sebut sebagai skandal finansial terbesar di AS. Dia menipu para investor dengan menggunakan skema ponzi. Korbannya tidak hanya orang kaya, tetapi juga para pensiunan yang berharap dapat pensiun nyaman dengan uang yang mereka investasikan lewat karya Madoff. Impian mereka kandas karena uang pensiun mereka menguap di tangan Madoff.

Karena itu, dalam situs Occupywallst.org, gerakan Occupy Wall Street mengajukan beberapa tuntutan antara lain: menghentikan ketidaksetaraan kaya dan miskin di Amerika mengingat 400 orang terkaya Amerika memiliki kekayaan melebihi total kekayaan setengah penduduk Amerika. Mereka menuntut penghentian era modern kejayaan yang palsu. Kira-kira seperenam rakyat Amerika menganggur. Karena itu, mereka menuntut diakhiri pengangguran. Mereka pun menuntut penghen-tian kemiskinan rakyat Amerika karena saat ini kira-kira seperenam rakyat Amerika hidup dalam kemiskinan. Amerika juga harus menghentikan imperialismenya yang tampak dari pangkalan militer Amerika yang menyebar di 165 negara. Tuntutan lain adalah agar Amerika menghentikan perangnya di seluruh dunia.

Pada November 1997 Hizbut Tahrir sebetulnya telah menganalisis dan memprediksi keguncangan Kapitalisme ini. Hizb telah menjelaskan tiga penyebab utama krisis Kapitalisme yang bersifat siklik ini, yaitu: sistem perseroan terbatas, perbankan ribawi dan sistem uang kertas inkonvertibel (fiat money) yang tidak berbasis emas dan perak.

Dalam kritiknya, Hizbut Tahrir menjelaskan, perdagangan saham lebih banyak didasarkan pada trust (‘kepercayaan’) bahwa harga berbagai saham dan surat berharga itu akan terus naik; ditambah ketamakan untuk mendapatkan keuntungan dari harga saham yang dijual. Namun, ‘kepercayaan’ tersebut nyatanya mudah goyah karena sebab-sebab tertentu. Pasar menjadi guncang. Banyak pemilik saham berlomba-lomba menjual sahamnya untuk meraup laba dari kenaikan harga saham yang diperkirakan. Saat semua pemilik saham berlomba-lomba menjual sahamnya, secepat mungkin jatuhlah harga saham. Hal ini tentu makin mendorong pihak lain untuk menjual sahamnya. Akibatnya, harga saham terus merosot sampai ke titik terendah. Inilah peristiwa yang pernah terjadi pada tahun 1929, hampir terjadi tahun 1987 dan mungkin kembali terjadi dalam waktu dekat ini.

Kenyataan ini membuktikan terpisahnya hubungan pasar modal dengan sektor ekonomi riil. Akhirnya, pasar modal berubah menjadi kasino besar (big casino) untuk ajang perjudian. Inilah yang membuat ekonomi dunia gampang tergunjang.

Adapun sistem perbankan ribawi merupakan biang bencana dalam sistem ekonomi kapitalis. Sebab, bank telah diberi hak untuk menghimpun dana masyarakat sekaligus mengelolanya. Bank lalu mendistribusikan dana tersebut dengan cara mengkreditkannya kepada para investor dan pengusaha—termasuk para pedagang saham di pasar modal atau menyimpan sendiri—dengan memungut riba. Namun, pendistribusian dana masyarakat tersebut sesungguhnya tidak netral. Sebab, para pemilik bank—mayoritas adalah para investor dan grup perusahaan mereka sendiri—mendapat prioritas utama untuk memperoleh kredit bank dengan suku bunga rendah, baru kemudian pihak lain dengan alasan pertim-bangan risiko kerugian. Berikutnya adalah para pengusaha kecil, lalu menyusul para konsumen dari kalangan masyarakat umum. Karena itu, sistem ribawi ini secara alamiah akan membuat dana masyarakat hanya berputar pada kalangan terbatas yang sedikit jumlahnya.

Cacat prinsipil lain adalah tipudaya mata uang kertas, yang seakan-akan memiliki nilai. Padahal uang tersebut tidak mempunyai nilai intrinsik apa pun. Akibatnya, nilai uang tak pernah stabil. Gejolak kurs mata uang bisa terjadi setiap saat karena banyak faktor.

Melihat semua ini, tidak cukupkah bagi kita untuk segera mencampakkan ideologi Kapitalisme dalam kehidupan kita? Saat mereka sendiri mengkritik keras sistem Kapitalisme yang selama ini mereka banggakan, tentu aneh kalau masih ada kaum Muslim yang percaya dan mengekor kepada negara-negara kapitalis. Padahal sebagai jawara dan jantungnya kapitalis dunia, mereka terancam runtuh.

Sesungguhnya umat Islam telah memiliki pilihan jelas, yakni sistem Islam yang bersumber dari Allah SWT. Yang kita butuhkan sekarang adalah keberadaan Khilafah untuk menerapkan sistem Islam itu, plus kemauan, keberanian politik dan pengorbanan umat Islam untuk mewujudkannya. [Farid Wadjdi]





Indria Samego: SBY jangan Jadikan Reshufle Sebagai Dagangan Politik

26 09 2011

JAKARTA, Terkait rencana perombakan kabinet, Pengamat Politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Indria Samego mengatakan, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono harus mampu membuktikan perombakan (reshuffle) kabinet bukanlah dagangan politik.
“Presiden SBY harus menunjukkan pada rakyat, bahwa reshuffle bukanlah dagangan politik, tapi reshuffle memang sesuai kebutuhan, seperti apa yang menjadi debat publik akhir-akhir ini,” katanya seperti dilansir kantor berita ANTARA, Minggu.
Menurut dia, tahun ini ada alasan yang kuat bagi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk melakukan perombakan kabinet. Terutama setelah dua tahun masa pemerintahannya tidak menampakkan kinerja kabinet yang efektif.
Ia mengatakan, Presiden Yudhoyono harus berani mengambil langkah tegas terhadap para menterinya yang kinerjanya jauh dari yang diharapkan, meskipun menteri itu berasal dari partai politik pendukung pemerintah.
“Kalau tidak melakukan perombakan, Presiden SBY hanya akan disandera para menterinya, jika Presiden tetap mempertahankan para menteri yang bermasalah,” katanya.
Menurut dia, Presiden juga harus berani mengambil langkah-langkah tegas kepada para menteri yang diduga terlibat dalam korupsi. Hal ini menurut dia, akan menjadi beban bagi Presiden Yudhoyono dalam menjalankan tugasnya bila tidak diganti.
Ia menambahkan, memang ada risiko politik menggusur para menteri dari partai politik, namun demikian risiko tersebut tetap dapat dikelola.
Menurut dia, perombakan kabinet kali ini memang sangat dibutuhkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk memperbaiki kinerja kabinet dan meningkatkan kepercayaan publik terhadap pemerintah.
“Kalau kemudian perombakan hanya untuk memberikan angin surga dan hanya memindahkan para menteri dan permainan politik untuk mengelabui masyarakat yang menuntut perbaikan kinerja, maka perombakan justru semakin menurunkan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah,” katanya.
Sebelumnya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memastikan akan melakukan perombakan kabinet sebelum 20 Oktober mendatang. Presiden mengemukakan, perombakan kabinet tersebut didasarkan penilaian objektif kinerja para menteri.
Menurut Presiden, perombakan kabinet bertujuan untuk memperbaiki kinerja Kabinet Indonesia Bersatu II.[ach/antara]





Biaya Politik Tinggi Pengaruhi Tingkat Korupsi

24 09 2011

Sejumlah kasus korupsi yang mencuat belakangan ini disinyalir mempunyai kaitan dengan biaya politik yang sangat tinggi di Indonesia. Hal yang menyingkap keterkaitan tersebut adalah kasus korupsi dan permainan anggaran yang dilakoni M Nazaruddin, mantan Bendahara Umum Partai Demokrat.

Demikian dikemukakan Nico Harjanto, analis Kebijakan Publik dari Rajawali Foundation dalam diskusi “Bedah Parlemen” seri 1 yang diadakan di Kantor Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia (Formappi) di Matraman, Jakarta, Kamis (22/9/2011) sore. “Sebagai mantan operator utama penggalangan dana partai penguasa, Nazaruddin dan perusahaan-perusahaannya diperkirakan telah mengelola lebih dari Rp 6 triliun proyek pemerintah,” kata Nico. Ia menduga, penggangsiran anggaran publik dalam jumlah dan cara berbeda kemungkinan juga dilakukan politisi lain, mulai dari tingkat daerah hingga pusat.

Hal ini tak terlepas dari tuntutan biaya tinggi dalam praktik politik-demokrasi di Indonesia. Ia menerangkan, pejabat partai politik (parpol) selalu dihadapkan pada dua biaya besar, yaitu menggerakkan aktivitas dan mesin parpol serta memenangi kontestasi dan membina kelangsungan basis dukungan.

Dengan sistem pemilihan langsung dan suara terbanyak, sulit membuat perencanaan ataupun perkiraan dana. Menurut alumnus Northers Illinois University ini, banyak variabel biaya dadakan atau improvisasi yang harus dilakukan untuk memastikan dan mengamankan kemenangan. “Mulai dari menjamin patronase, memelihara afiliasi, ormas, dan basis dukungan, biaya koalisi, sampai kondisi darurat politik,” ulas Nico.

Tuntutan tersebut berdampak pada penggalangan dana parpol, baik secara legal maupun sebaliknya. Jalan yang kerap ditempuh adalah dengan memanfaatkan status politik untuk menggangsir anggaran publik, baik demi kepentingan parpol maupun perorangan.

Terkait hal ini, politisi Partai Golkar yang juga aktivis Nasional Demokrat (Nasdem), Ferry Mursyidan Baldan, menilai, pemotongan pendapatan anggota DPR sebagai sumber dana partai merupakan kebijakan yang keliru. Praktik yang jamak ditetapkan parpol di Indonesia itu justru dianggapnya menjadi biang yang memicu tingkah laku koruptif.

Pasalnya, besaran gaji para wakil rakyat, menurut Ferry, sudah disesuaikan dengan level operasional dan peran yang harus diemban anggota DPR. Dengan adanya potongan, peran yang diharapkan bisa terganggu. Alhasil sejumlah anggota DPR akan berupaya menutupi potongan tersebut dengan merekayasa sumber-sumber penghasilan lain. “Bahkan biasanya itu lebih besar dari nilai potongan yang ditetapkan partainya,” ungkap Ferry.

Pandangan tersebut disanggah Hanif Dhakiri, Ketua DPP Partai Kebangkitan Bangsa. Menurutnya, pemotongan pendapatan anggota DPR untuk membiayai parpol justru bernilai positif. “Ini bisa memperkuat ikatan antara anggota DPR dan parpolnya,” tandas Hanif yang juga menjabat Sekretaris Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa DPR RI. Sumbangan wakil rakyat tersebut juga dipandangnya sebagai kewajiban yang mengungkapkan tanggung jawab kepada parpol yang mengusungnya. Alasannya, tidak semua anggota partai juga pengurus partai. Tanpa keterikatan melalui sumbangan dari pendapatan sebagai wakil rakyat, yang bersangkutan bisa saja melepaskan diri dari tanggung jawab untuk membina dan mengembangkan partai.

Terkait adanya pandangan miring tentang kegiatan politisi dan parpol yang dinilai koruptif, Hanif menilainya sebagai suatu sikap skeptis yang terlalu dibesar-besarkan. “Pemerintah diragukan, DPR diragukan, politisi diragukan, penegakan hukum diragukan, ekonomi diragukan, lalu apa yang orang-orang itu percayai,” tanya Hanif.

Ia berpendapat, pemberitaan media dan serangan-serangan bertubi-tubi yang terus dilancarkan kalangan lembaga swadaya masyarakat berpengaruh besar terhadap sinisnya pandangan publik terhadap kinerja politisi dan parpol. (kompas.com, 22/9/2011)





Komentar Politik: Tingkat Kepercayaan Terhadap SBY Turun

20 09 2011

Lingkaran Survei Indonesia (LSI) menilai tingkat kepercayaan terhadap pemerintahan Presiden SBY turun tinggal 37,7 % (detiknews.com, 18/9)
Komentar:
Cerminan penguasa jahat yang disebutkan rosulullahu SAW “Akan ada di akhir zaman para penguasa sewenang-wenang, para pejabat pemerintah yang fasik, para hakim pengkhianat, para ahli hukum (fuqoha) pendusta ..”(HR. Thabrani) [] LS-HTI





Manuver Politik

15 09 2011

Pengantar:
Dalam konteks Daulah Islamiyah, manuver politik (al-munâwarât as-siyâsiyah) adalah tindakan yang dilakukan oleh Negara (Daulah) demi meraih tujuan tertentu yang berbeda dengan tujuan yang ditampakkan secara kasat mata oleh tindakan yang dimaksud. Dengan kata lain, manuver politik dilakukan demi merahasiakan tujuan yang sebenarnya. Contohnya adalah ketika Daulah Islamiyah menggerakkan sebagian pasukan militernya ke arah tertentu padahal yang dibidik sebetulnya adalah arah yang lain.
Tulisan ini sekadar ingin mengupas lebih jauh manuver politik yang dimaksud, yang secara singkat dimuat dalam buku, Muqaddimah ad-Dustûr, pasal 173, halaman 432-434, yang dikeluarkan oleh Hizbut Tahrir tahun 1963. Ihwal manuver politik ini juga disinggung secara implisit dan serba sedikit dalam beberapa kitab lain seperti Mafâhîm Siyâsiyah li Hizb at-Tahrîr, karya Taqiyuddin an-Nabhani, yang juga dikeluarkan Hizbut Tahrir, tahun 1969; juga pada buku As-Siyâsah wa Siyâsah Duwaliyah, karya Dr. Samih ‘Athif Azzein, yang diterbitkan asy-syirkah al-‘Alamiyyah li al-Kitâb tahun 1987.
Meskipun dalam kitab Muqaddimah ad-Dustûr sendiri pembahasan manuver politik lebih dalam konteks Daulah Islamiyah, tulisan ini akan memperluas bahasannya pada manuver politik negara-negara Barat kapitalis, khususnya Amerika, yang disinggung secara implisit dan serba sedikit dalam beberapa kitab yang disebutkan di atas. Manuver politik Barat kapitalis, khususnya AS, tentu saja perlu diketahui segera. Sebab, manuver politik mereka, di samping merupakan sesuatu yang real dihadapi saat ini, juga sangat berbahaya bagi kaum Muslim dan negeri-negeri Islam.

Manuver Politik Daulah Islamiyah
Dalam konteks Daulah Islamiyah, manuver politik yang dilakukan Negara (Daulah) adalah terbatas dalam tindakan, tidak dalam hal-hal yang bersifat prinsipil atau berupa pemikiran. Dalam kitab Muqaddimah ad-Dustûr disebutkan bahwa manuver politik (al-munâwarât as-siyâsiyah) adalah sangat urgen dalam politik luar negeri Daulah Islamiyah. Kekuatannya terletak pada kemampuan Negara (Daulah) memperlihatkan tindakan tertentu tetapi dengan merahasiakan tujuannya.
Pada masa lalu, sebagai kepala negara, Rasulullah saw. juga pernah melakukan sejumlah manuver politik. Di antaranya adalah pembentukan pasukan sarâyâ yang dilakukan beliau pada masa-masa akhir tahun pertama hijrah dan masa-masa awal tahun kedua hijrah. Saat itu, yang menonjol dalam pembentukan pasukan tersebut adalah keinginan Rasulullah saw. untuk memerangi orang-orang Qurays. Padahal, pada hakikatnya, hal itu dilakukan oleh Rasul sekadar untuk melakukan teror terhadap mereka, serta agar sejumlah kabilah Arab lain (non-Qurays) bersikap netral dalam perseteruan yang berlangsung antara Rasul/kaum Muslim dan orang-orang Qurays. Buktinya, saat itu Rasul hanya mengerahkan jumlah pasukan yang sangat sedikit, sekitar 60-300 pasukan; jumlah yang tidak memadai untuk memerangi orang-orang Qurays. Di samping berhasil meneror orang-orang Qurays, manuver tersebut juga menghasilkan perjanjian dengan sejumlah kabilah Arab, seperti dengan aliansi Bani Dhamrah dan Bani Mudalij.
Di antara manuver politik lain yang dilakukan Rasulullah adalah perginya beliau ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji meskipun saat itu masih dalam kondisi perang antara beliau dan orang-orang Qurays, sementara Makkah sendiri masih berada di bawah kekuasaan mereka. Maksud dari perjalan Rasulullah ini sebetulnya adalah untuk melakukan gencatan senjata dengan pihak Qurays dalam rangka memukul orang-orang Khaibar. Sebab, Rasul tahu bahwa telah terjadi semacam negosiasi antara Qurays dan Khaibar untuk memerangi Madinah. Bukti bahwa hal itu sekadar merupakan manuver politik Rasul adalah kesediaan beliau untuk kembali (tidak sampai menunaikan ibadah haji), setelah tercapai gencatan senjata dengan pihak Qurays. Dua minggu kemudian, setelah Rasul kembali ke Madinah, beliau segera melancarkan serangan kepada orang-orang Khaibar sekaligus menaklukan mereka.

Manuver Politik Barat
Manuver politik Daulah Islamiyah, sebagaimana yang dipraktikkan oleh Rasulullah saw. di atas, ternyata berbeda dengan manuver politik negara-negara Barat kapitalis, khususnya Amerika. Jika Daulah Islam melakukan manuver politik hanya dalam level aksi/tindakan, maka negara-negara Barat kapitalis dengan AS sebagai gembongnya melakukan manuver politik dalam semua level. Sebab, bagi mereka, manuver politik sudah merupakan metode baku (tharîqah) untuk melakukan tipudaya, memanipulasi kebenaran, sekaligus mengisap dan menjajah bangsa-bangsa serta mengeksploitasi kekayaan mereka. Prinsip mereka yang terkenal, yakni, “menghalalkan segala cara demi meraih tujuan,” menjadi dasar bagi setiap manuver politik yang mereka lakukan.
Negara-negara Barat kapitalis, dengan AS sebagai gembongnya, pada dasarnya biasa melakukan manuver politik dalam seluruh aspek: pemikiran, tindakan, maupun sarana; baik dalam hal-hal yang prinsipil maupun yang bukan; baik dalam hal-hal yang bersifat politik maupun bukan. Semua itu didasarkan pada alasan adanya perkembangan dan perubahan situasi dan kondisi politik ataupun yang lainnya, selain tentu saja didasarkan pada “tujuan menghalalkan segala cara”. Tujuannya adalah dalam rangka melakukan penyesatan serta manipulasi pemikiran dan politik; juga dalam rangka melakukan eksploitasi atas bangsa-bangsa yang ada demi memenuhi berbagai kepentingan mereka.
Dalam level pemikiran, AS melakukan manuver politik secara real dan praktis di seputar gagasan tentang demokrasi, kebebasan, egalitarianisme (persamaan), sekularisme, dan seluruh pemikirannya yang kapitalistik; juga dalam sejumlah pemikiran tentang HAM, terorisme, oposisi, pluralisme, dialog antaragama dan antar peradaban, kemerdekaan, tata dunia baru, PBB, serta seluruh pemikiran strategisnya—yakni menyangkut berbagai tindakan dan sarana yang berkaitan erat dengan berbagai pemikiran kapitalistiknya.
Secara konseptual/teoretis, pemikiran-pemikiran kapitalisme di atas memang memiliki maksud, makna, dan tujuan tertentu (yang dikesankan mulia). Akan tetapi, dalam tataran praktis, ideologi kapitalisme menghalalkan adanya penyimpangan terhadap pemikiran-pemikirannya. Gagasan demokrasi, misalnya, secara teoretis menempatkan rakyat sebagai pemilik kedaulatan tertinggi dalam negara. Akan tetapi, secara praktis, di AS dan Inggris sendiri (yang notabene negara demokrasi garda depan), yang berdaulat sesungguhnya adalah kaum kapitalis. Penyimpangan pemikiran semacam ini memang diperlukan demi mengeksploitasi bangsa-bangsa mereka semata-mata demi kepentingan kaum kapitalis.
Karena itu, meskipun secara teoretis AS, misalnya, sering berteriak dan berkoar-koar tentang demokrasi, HAM, kemerdekaan, dsb, tetapi secara praktis, AS sering melakukan sejumlah tindakan yang justru antidemokrasi, melanggar HAM, dan tidak jarang sangat otoriter. Serangan AS atas Afganistan dan Irak adalah contoh paling mutakhir dari tindakan AS yang menyalahi gagasan demokrasi dan HAM yang diembannya. AS juga sering melakukan berbagai tekanan, perampasan, penguasaan secara paksa, menyalakan api permusuhan, menciptakan berbagai krisis, serta membuat berbagai perangkap—yang semua itu dibungkus dengan berbagai pemikirannya yang destruktif (merusak), baik secara konseptual maupun praktis.
Karena itu, kapitalisme dan seluruh bangunan pemikirannya pada dasarnya merupakan pemikiran yang dapat membunuh manusia, karena mereka—dalam hal ini para kapitalis dan bangsa Amerika—melegalkan hegemoni dan dominasi atas bangsa-bangsa di dunia. Dengan itu, para kapitalis menumpahkan darah bangsa-bangsa yang ada di dunia, memanfaatkan kelemahan mereka, serta mengeksloitasi potensi dan kekayaan mereka sehingga bangsa-bangsa tersebut dijadikan oleh mereka semacam budak.
Para elit penguasa AS pada dasarnya tidak lebih merupakan alat para kapitalis yang jahat ini. Karena itu, wajar jika setiap perkara selalu menjadi bahan eksploitasi dan manuver bagi para kapitalis. Karena itu pula, tidak aneh jika mereka pun mengeskploitasi PBB dan lembaga-lembaga yang ada di bawahnya serta melakukan manuver dalam berbagai pemikiran, tindakan, dan sarana yang ada. Mereka juga mengeksploitasi berbagai lembaga regional (seperti ASEAN) maupun transnasional demi merealisasikan berbagai kepentingan kaum kapitalis yang tidak pernah mengenal rasa puas ataupun merasa cukup. Mereka, misalnya, tak segan-segan menghancurkan dan melenyapkan barang-barang dagangan dalam jumlah sangat besar hanya sekadar untuk menjaga stabilitas harganya di pasar semata-mata demi kepentingan egoistik mereka; meskipun kebanyakan manusia masih ada yang miskin, serba kekurangan, bahkan kelaparan dan tentu saja membutuhkan barang-barang tersebut. Mereka juga banyak menjerumuskan berbagai bangsa di dunia ke dalam kancah perang, pertikaian, dan berbagai bencana semata-mata demi memenuhi nafsu imperialistik dan hegemoniknya atas bangsa-bangsa tersebut. Karena itu, sangat tidak aneh jika kita melihat berbagai pemikiran dan tindakan ‘setan’ yang mereka lakukan. Sebab, mereka memang tidak berbeda dengan iblis dalam hal melakukan manipulasi, pengkaburan, makar, tindakan busuk, dan berbagai penyesatan lainnya.
Untuk melepaskan diri dari bahaya tindakan kaum kapitalis ini dan mengalahkan mereka hanya mungkin dilakukan dengan cara bersikap istiqamah. Karena itu, upaya menentang berbagai tindakan busuk dan sarana kaum kapitalis ini—dalam medan politik—tidak cukup dengan cara mengalahkan mereka, membangkitkan perlawanan, dan memerdekaan diri pada diri setiap bangsa dari setiap hegemoni, imperialisme, dan perang yang mereka kobarkan; tidak juga cukup dengan menghancurkan kekuatan mereka. Sebab, pada faktanya, kaum kapitalis hanyalah salah satu buah dari pemikiran kapitalisme yang rusak dan busuk. Karena itu, upaya melawannya harus dimulai dari akar hingga rantingnya, yakni memberangus ideologi kapitalisme itu sendiri serta para pengembannya yang berusaha menyebarluaskan ideologi tersebut melalui jalan imperialisme dan hegemoni atas bangsa-bangsa lain. Artinya, ideologi kapitalisme, baik secara pemikiran maupun secara praktis, harus dikubur dalam-dalam dan harus dilenyapkan segala pengaruhnya sehingga tidak pernah akan kembali lagi.

Manuver Politik Barat Bukan Standar Ganda
Ada isyarat bahwa sepertinya tampak ada kontradiksi—yang sering disebut sebagai standar ganda—di antara kedua realitas tersebut, yakni realitas teoris dan realitas praktis dalam kapitalisme.
Untuk melihat apakah ada kontradiksi/standar ganda ataukah tidak dalam kapitalisme (antara teori dan praktiknya, red.), ada dua pandangan yang mesti dilakukan: (1) pandangan dari segi pemikiran/teroretis; (2) pandangan dari segi praktis. Pandangan terhadap realitas kapitalisme dengan hanya menggunakan satu sudut pandang akan mendorong munculnya asumsi mengenai adanya kontradiksi/standar ganda antara hal-hal yang bersifat konseptual/teroertis dan yang real/praktis dalam kapitalisme. Padahal, tidak ada pertentangan antara hakikat kaum kapitalis sebagai penguasa hakiki di negara-negara kapitalis—merekalah yang menggaji para penguasa formal untuk merealisasikan berbagai kepentingan mereka (ini harus dilihat dari segi praktis)—dan hakikat negara-negara kapitalis yang mengadopsi pemikiran demokrasi, kebebasan, dan berbagai pemikiran kapitalistik lainnya. Pemikiran–pemikiran tersebut memang memiliki muatan-muatan makna yang khas dan tujuan-tujuan tertentu (yang harus dilihat dari segi pemikiran). Jika ditelaah lebih lanjut, di antara keduanya—yang bersifat konseptual dan yang terbukti dalam tindakan real—terdapat perbedaan. Sebab, dalam kapitalisme, memang secara praktis, ada upaya untuk selalu mengadakan penyimpangan, penyesatan, ataupun perubahan terhadap pemikiran-pemikirannya sendiri. Karena itu, untuk menghilangkan kesan adanya kontradiksi/standar ganda antara dua realitas ini harus digunakan dua cara pandang, yakni pandangan yang bersifat pemikiran dan praktis serta pandangan yang berkaitan dengan keyakinan dan hukum. Dari sini pasti tidak akan lagi ditemukan adanya kesan pertentangan satu realitas (yang bersifat teoretis)—seperti demokrasi dan kebebasan dalam pemikiran kapitalisme (yang meniscayakan rakyat memilih dan menggaji para penguasa mereka serta menentukan struktur negara untuk menjalankan dan melaksanakan berbagai undang-undang yang dikehendaki oleh mereka; juga yang meniscayakan rakyat berwenang untuk menurunkan penguasa serta melakukan perubahan atau bahkan penggantian terhadap berbagai undang-undang)—dan realitas yang lain dalam praktik kapitalisme seperti berdaulatnya para pemilik modal (bukan rakyat, red.) dalam pemerintahan negara; baik di Amerika, Inggris, atau negara-negara kapitalis lainnya. Secara real, para pemilik modallah sesungguhnya yang menggaji para penguasa dan para pejabat negara lainnya. Mereka juga yang melakukan permainan dalam pembentukan opini umum, baik secara konseptual maupun praktis, demi melayani berbagai kepentingan mereka yang destruktif dan egoistik. Mereka juga sesungguhnya (bukan rakyat) yang menurunkan para penguasa sebagaimana terjadi dalam penurunan John F. Kenedy (AS).
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa sesungguhnya tidak ada kontradiksi—yang sering diistilahkan dengan standar ganda itu—dalam kapitalisme. Sebab, yang satu berkaitan dengan kapitalisme secara konseptual/teoretis, sementara yang lain berhubungan dengan kapitalisme secara real/praktis. Dalam kapitalisme, hal semacam ini memang dibenarkan. Karena itu, sudah semestinya setiap gerakan dan kekuatan Islam melancarkan perang tanpa ampun terhadap seluruh pemikiran kapitalisme—dari akar hingga seluruh cabangnya; melawan secara intelektual dan politik pengusung utamanya, yakni Amerika; sekaligus menentang secara keras siapa pun yang menyerukannya, baik kalangan para penguasa pengkhianat maupun berbagai gerakan yang hina yang mengekor pada mereka di seluruh dunia, termasuk dunia Islam.
Sesungguhnya siapa pun yang menyadari berbagai hakikat kemanusiaan dan hakikat berbagai pemikiran kapitalisme, baik secara teoretis maupun praktis, akan menyadari sejauhmana kerusakan dan bahaya pemikiran yang mematikan ini bagi manusia; akan mengetahui hakikat penderitaan yang dialami oleh berbagai bangsa di dunia akibat begitu buruknya pemikiran kapitalisme; akan melihat sejauh mana dominasi dan hegemoni kaum kapitalis dan berbagai perusahaan mereka dalam lapangan politik, pemikiran, ilmu pengetahuan, dsb; akan memahami sejauh mana bahaya kaum kapitalis tersebut bagi bangsa-bangsa mereka sendiri dan bagi semua bangsa yang ada di muka bumi; juga akan menyadari bahwa para penguasa di dunia saat ini pada hakikatnya lebih banyak mengabdi pada berbagai kepentingan dan tujuan kaum kapitalis yang sangat rakus dan busuk. Karena itu, jelas harus ada upaya secara terus-menerus untuk menentang kaum kapitalis ini dan berbagai perangkatnya, yakni berbagai kekuatan politik yang pro mereka—di medan politik— yang mampu mengekspos niat busuk mereka; menyingkap berbagai manuver, penyimpangan, dan penyesatan yang mereka lakukan; serta menampakkan berbagai tindak kriminal dan kejahatan mereka. Sebab, melalui jalan manuver politik semacam inilah mereka melakukan penyesatan terhadap bangsa-bangsa mereka sendiri sekaligus mengekploitasinya; seolah-olah mereka memilih sendiri penguasa mereka, menentukan sendiri perundang-undangan mereka. Mereka disibukkan oleh pemikiran kapitalisme yang sesat dan menyesatkan; yang menghalalkan manuver baik dalam pemikiran, tindakan, sarana, maupun tujuan—apa pun bentuknya.
Dalam level praktis, di Amerika, yang disebut dengan kebebasan sesungguhnya adalah upaya menjadikan bangsa Amerika bebas untuk memanjakan diri; melepaskan ikatan keluarga; memutuskan tali silarurahmi, kekerabatan, dan ketetanggaan; serta hidup dalam atmosfir angan-angan, khayalan, dan dan berbagai kebohongan intelektual. Sebaliknya, di luar Amerika, kebebasan yang dimaksud adalah kebebasan Amerika untuk melakukan penjajahan dan hegemoni atas bangsa-bangsa lain. Begitulah kapitalisme dengan seluruh pemikirannya yang mewujud dalam bentuk demokrasi, HAM, pluralisme, dialog antaragama dan antaraperadaban, PBB, IMF, Bank Dunia, dll.

Penutup
Dengan melihat paparan di atas, jelas bahwa ada perbedaan mendasar antara manuver politik Islam dan manuver politik yang dikembangkan dalam kapitalisme. Islam tidak mengenal manuver dalam hal pemikiran dan tindakan yang berhubungan dengan hal-hal yang bersifat ideologis. Bahkan sebaliknya, hakikat pemikiran dan aspek-aspek ideologis Islam justru harus ditampilkan secara jelas dan tegas; tidak boleh ada penyimpangan ataupun manipulasi sedikitpun semata-mata demi meraih tujuan. Hukum Islam tentang jihad sebagai perang (al-qitâl) melawan orang-orang kafir, misalnya, tidak boleh disimpangkan maknanya sekadar perang demi mempertahankan diri—apalagi sekadar dimaknai secara bahasa saja, yakni sebagai kesungguhan—hanya demi menghindari tuduhan orang-orang Barat kafir bahwa Islam adalah agama yang disebarkan dengan pedang atau bahwa Islam identik dengan kekerasan. Kita juga tidak boleh berusaha mempertemukan Islam dan demokrasi—dua hal yang memang mustahil dipertemukan—hanya karena takut dicap antidemokrasi. Semua itu tidak dapat dikategorikan sebagai manuver politik yang dibenarkan Islam. Sebab, Islam mengharamkan upaya menghalalkan segala cara dalam manuver politik. []





Manuver Politik

23 05 2011

Pengantar:
Dalam konteks Daulah Islamiyah, manuver politik (al-munâwarât as-siyâsiyah) adalah tindakan yang dilakukan oleh Negara (Daulah) demi meraih tujuan tertentu yang berbeda dengan tujuan yang ditampakkan secara kasat mata oleh tindakan yang dimaksud. Dengan kata lain, manuver politik dilakukan demi merahasiakan tujuan yang sebenarnya. Contohnya adalah ketika Daulah Islamiyah menggerakkan sebagian pasukan militernya ke arah tertentu padahal yang dibidik sebetulnya adalah arah yang lain. Baca entri selengkapnya »








%d blogger menyukai ini: