Kebatilan Pluralisme

21 11 2011

pluralismeKonsep Pluralisme
Konsep pluralisme secara umum diartikan sebagai ga-gasan yang menyatakan bahwa semua agama sama dan tidak ada yang lebih baik antara satu dengan yang lain. Perbedaan agama hanya dianggap sebagai perbedaan persepsi dalam memahami hakekat ketuhanan yang dalam implementasi kebe-ragamaan tersebut ditemukan banyak kesamaan (Thoha:2005).

Gagasan pluralisme meru-pakan turunan dari konsep libe-ralisme yang tumbuh di Eropa pada abad pencerahan (abad ke-18). Sebagaimana diketahui pada masa itu masing-masing sekte-sekte dan madzab agama Kristen Eropa pada masa itu sangat eksklusif dan tidak toleran terhadap sekte lainnya sehingga melahirkan konflik-konflik sosial yang tidak jarang berujung pada pertumpahan darah. Pluralisme kemudian dianggap sebagai ‘obat’ untuk menghilangkan ketegangan tersebut. Pada per-kembangannya konsep plural-isme menyebar hingga ke dunia Islam. Menurut para peng-usungnya ide pluralisme dapat meredakan berbagai konflik dan ketegangan yang terjadi di antara kelompok agama di dalam masyarakat.

Dampak Pluralisme
Dengan mencermati hal tersebut dapat dimengerti jika gagasan pluralisme merupakan ide yang berhubungan erat de-ngan sekulerisme yang meman-dang bahwa agama harus dipi-sahkan dalam kehidupan publik. Sekulerisme tidak mempersoal-kan perbedaan keyakinan sese-orang namun dalam kehidupan publik agama harus dikesam-pingkan. Pluralisme yang meng-anggap semua agama sama dianggap sebagai gagasan yang tepat untuk menghilangkan eksklusifitas agama dalam kehi-dupan publik. Dengan kata lain dalam sebuah tatanan masya-rakat dan negara tidak boleh ada suatu agama yang mendominasi agama lain karena kebenaran semua agama bersifat relatif.
Tidak heran jika tokoh-tokoh pluralisme termasuk di Indonesia paling getol menen-tang pemberlakuan syariat Islam. Pada saat yang sama mereka mendukung eksistensi berbagai aliran-aliran sesat semisal Ah-madiyah dan Jamaah Sala-mullah.
Pluralisme yang meng-anggap semua agama sama telah memberikan ruang bagi siapapun untuk berpindah agama, tidak beragama atau bahkan mendirikan agama baru sekalipun. Ini karena orang yang menganut pluralisme meng-anggap tidak ada perbedaan yang substansial antara satu agama dengan agama lainnya. Oleh karena itu aktivitas ber-pindah agama (riddah) dianggap sebagai hal yang lumrah dan bukan merupakan tindakan kriminal.

Kebatilan Pluralisme
Sebagai sebuah gagasan, pluralisme haram untuk diadop-si, disebarkan dan dipraktekkan. Hal karena antara lain:
Pertama, ide tersebut lahir dari gagasan sekulerisme yang memisahkan agama dari kehi-dupan. Dari sini saja sebenarnya sudah cukup untuk menyatakan kebatilan ide tersebut, sebab gagasan apapun yang tidak bersumber dari aqidah Islam meski memiliki kesamaan tetap dianggap sebagai sebuah keba-tilan. Gagasan ini juga tidak dapat diterapkan atas umat Islam sebagaimana awalnya ditujukan kepada agama Kristen. Dengan kata lain ia bersifat ekskulisif bagi agama Kristen dan mungkin agama lain namun tidak bagi agama Islam. Hal ini karena Islam telah memiliki sejumlah solusi dalam menyikapi dan menyele-saikan berbagai konflik yang terjadi baik secara personal, kelompok maupun antar umat beragama.
Kedua, pluralisme meng-anggap hakekat semua agama sama. Kebenaran seluruh agama juga dipandang relatif dan oleh karenanya pemeluk suatu agama tidak boleh mengklaim agama-nya paling benar. Padahal di dalam Islam telah dijelaskan secara qathi’y bahwa agama Islam adalah satu-satunya agama yang benar (QS Ali Imran [3]:163), sementara selainnya adalah agama yang batil dan meyakini kebenarannya adalah kekufuran (QS al-Taubah [9]:30-31). Orang yang keluar dari agama Islam dianggap sebagai pelaku tindak kriminal yang wajib untuk dibu-nuh jika enggan bertaubat. Selain itu Islam juga menegaskan bahwa dalam ajaran Islam terdapat sejumlah ajaran yang bersifat qath’iy yang wajib untuk diyakini kebenarannya secara mutlak. Justru menganggapnya sebagai sesuatu yang relatif maka menjerumuskan sese-orang pada kekafiran seperti merelatifkan kebenaran Alquran dan Sunnah.
Ketiga, pluralisme pada faktanya telah dijadikan sebagai ‘alat’ untuk menghalangi ter-wujudnya pelaksanaan syariat Islam secara total dalam sebuah negara. Alasannya sederhana, suatu agama tidak boleh diterap-kan dalam kehidupan publik sebab hal tersebut meniscaya-kan adanya pemaksaan kepada pihak yang beragama lain. Na-mun pada sisi lain gagasan pluralisme telah menempatkan sistem kapitalisme sebagai ‘agama baru’ yang wajib ditaati. Yang jelas dirugikan oleh gaga-san ini adalah umat Islam. Hal ini karena dari semua agama yang ada, hanya Islam-lah yang merupakan sebuah ideologi yang memiliki peraturan yang lengkap dan wajib diterapkan secara menyeluruh dalam selu-ruh aspek kehidupan termasuk kepada non-Muslim.
Keempat, gagasan ini jelas sangat sesuai dengan berbagai kepentingan negara-negara Barat yang tidak menginginkan umat Islam menerapkan Islam sebagai sebuah ideologi dalam suatu negara. Ini sangat dime-ngerti mengingat berbagai ben-tuk penjajahan mereka terhadap dunia Islam akan mendapatkan perlawanan yang efektif dari negara Islam. Sebaliknya dengan ‘matinya’ negara Islam, mereka dapat leluasa melanggengkan dominasi mereka atas umat Islam seperti saat ini.

Bukan Memberangus Perbedaan
Meski menolak pluralisme bukan berarti Islam tidak meng-akui dan membolehkan keber-adaan agama-agama lain. Dalam sejarah penerapan Islam, jamak diketahui bahwa Khilafah Islam meski tidak mengakui kebenaran agama selain Islam namun tetap memberikan penghormatan kepada peme-luknya menjadi warga negaranya. Padahal saat itu konsep pluralisme sama sekali tidak dikenal.
Ini karena Islam telah menjelasakan dengan qath’iy bahwa non Muslim selama mereka membayar jizyah dan tunduk pada aturan negara dalam kehidupan publik maka dapat hidup bebas menjalankan agama mereka baik yang berkenaan dengan masalah ibadah, pakaian, makanan dan minuman serta pernikahan. Konsep ini terbukti mampu mengatasi perbedaan dan konflik yang terjadi dalam bingkai negara Islam.
Bandingkan misalnya di negara-negara Barat yang meng-klaim menjunjung tinggi pluralisme namun masih memperlakukan umat Islam secara diskri-minatif dalam menjalankan ajaran agama mereka meski yang bersifat privat semisal memakai cadar dan memanjangkan jenggot.
Berdasarkan penjelasan di atas maka sudah sepantasnya umat Islam menolak gagasan pluralisme beserta para peng-usungnya bukan malah ikut-ikutan latah mendukungnya. Wallahu a’lam bisshawab.[]- Muhammad Ishak |-

Iklan




PEMERINTAH PERLU TEGAS TERHADAP AHMADIYAH

6 04 2011

By: Fauziah

Mungkin masih belum lekang diingatan kita peristiwa bentrokan di Cikuesik yang terjadi pada tanggal 6 februari 2011 silam, yang dalam peristiwa tersebut telah menelan 3 orang korban jiwa. Kasus bentrokan antara jemaat ahmdiyah dengan warga setempat ini bukan terjadi untuk pertama kalinya bahkan bisa jadi juga bukan untuk terakhir kalinya. Peristiwa bentrokan berdarah bahkan yang bisa merenggut nyawa akan terus berlanjut selama tidak ada penyelesaian atau jalan keluar yang diberikan pemerintah terhadap permasalahan ini.
Kasus ini sering diperbincangkan, didiskusikan, dan diangkat sebagai topik utama di media-media, namun persoalan ini tetap saja minus solusi. Pemerintah pun seolah berada dalam sebuah dilema, karena disatu sisi mereka seharusnya melindungi kemurnian akidah warga negaranya namun disisi lain justru hal ini bertentangan dengan hukum positif yang diaplikasikan di negara ini yang mengakui Pluralisme dalam beragama. Baca entri selengkapnya »





Penyesatan dibalik Istilah

31 01 2011

Musuh-musuh Islam melakukan berbagai cara untuk memerangi Islam dan kaum Muslim, mulai dari cara yang keras dan kasar (hard power) hingga cara yang halus dan hampir tak terdeteksi (soft power) oleh kaum Muslim. Mereka antara lain melakukan distorsi atau penyesatan terhadap berbagai istilah. Istilah radikal, teroris dan moderat adalah beberapa dari sekian banyak istilah yang digunakan musuh-musuh Islam untuk memuluskan target mereka: memerangi Islam dan kaum Muslim.

Istilah Radikal-Teroris
Kata radikal awalnya berasal dari bahasa latin radix yang artinya akar (roots). Istilah radikal dalam konteks perubahan kemudian digunakan untuk menggambarkan perubahan yang mendasar dan menyeluruh. Dalam kamus Oxford disebutkan istilah radical kalau dikaitkan dengan perubahan atau tindakan berarti: relating to or affecting the fundamental nature of something; far-reaching or through (berhubungan atau yang mempengaruh sifat dasar dari sesuatu yang jauh jangkauannya dan menyeluruh).

Kini, kata radikal menjadi istilah politik (political words) yang cenderung multitafsir, bias dan sering digunakan sebagai alat penyesatan atau stigma negatif lawan politik. Misal: penggunaan istilah Islam radikal yang sering dikaitkan dengan terorisme, penggunaan kekerasan untuk mencapai tujuan, skriptualis dalam menafsirkan agama, menolak pluralitas (keberagamaan) dan Baca entri selengkapnya »





Siapakah Muslim “Moderat”?

4 01 2011

http://www.khilafah.com
Pada tanggal 18 Desember 2010, Toronto Star menerbitkan sebuah artikel yang menganjurkan pelarangan tidak hanya Niqab (penutup wajah) dan Burqa (penutup seluruh tubuh), tetapi juga hijab/jilbab (penutup kepala).

Artikel itu menyatakan, “burqa dan niqab merupakan tradisi yang memandang bahwa perempuan sebagai objek seksual, seorang penggoda, yang dengan gerakan pergelangan kakinya, dapat membawa laki-laki (makhluk yang lemah yang tidak mampu menahan godaan ini) untuk bertekuk lutut dihadapan mereka. Ini adalah sistem nilai yang menjijikkan dan saya menolaknya Jadi. semua warga Kanada harus menganut feminisme sekuler. Marilah kita larang burqa, niqab dan hijab.”

Artikel tersebut menggunakan istilah “Muslim moderat” untuk menggambarkan orang-orang yang menyatakan bahwa, “Hukum memakai penutup kepala tidak hanya memalukan bagi perempuan, tetapi merupakan penghinaan bagi laki-laki.”

“Muslim Moderat”: Suatu Ukuran yang Islami? Baca entri selengkapnya »





TOLERANSI TIDAK DIAJARKAN DALAM ISLAM?

5 12 2010

by Hanifah al-Amanati,

Apa realitanya?
Wacana pluralisme dalam beberapa waktu lalu memang baru banyak disuarakan oleh ‘pion-pion’ lokal, namun kemudian beberapa ‘pentolan’ luarpun mulai turun gunung dan angkat bicara. Sebut saja Franz Magnis Suseno, rohaniawan Jesuit kelahiran Eckerdorf-Jerman sekaligus guru besar Sekolah Tinggi Filsafat Driyakarya ini berusaha mengaburkan definisi pluralisme agama dengan cara menceraikannya dengan paham relativismen dan mencoba menggiring pemahaman sebagai makna toleransi. Seperti yang ditulis dalam salah satu harian ibukota, “Hanya seorang pluralis sejati yang toleran.” Pernyataan ini seolah-olah menyiratkan bahwa yang tidak pluralis berarti tidak toleran. (Lihat, Dr. Syamduddin Arif, Orientalis & Diobolisme Pemikiran, 80).
Buntut-buntutnya, tidak jarang kalangan yang mengatas namakan dirinya kaum intelektual Muslim yang terkenal kritis terhadap ulama-ulama Islam dengan mudahnya menenggak pemahaman semacam ulama pendeta tersebut tanpa terlebih dahulu dipamah dan dikunyah! Baca entri selengkapnya »





PLURALITAS YES!!! PLURALISME NO!!!

5 12 2010

by Rusma

Indonesia merupakan Negara yang sangat kaya raya, hasil alamnya begitu melimpah meski hampir seluruhnya dikuasai Negara-negara yang meminta bekerjasama dengan maksud mengeruk kekayaan yang ada. Namun ternyata tidak sekedar kaya akan hasil alamnya, Indonesia pun kaya dengan berbagai macam jenis agama yang dianut masyarakatnya. Hingga saat ini ada 6 agama yang diakui Negara di Indonesia yakni Islam, Protestan, Katolik, Hindu, Budha, dan Kong huchu. Itupun masih belum termasuk aliran-aliran sesat yang berkembang dengan pesat.
Akibat begitu beragamnya agama yang ada wajar saja akhirnya ada gagasan yang menyatakan bahwa semua agama itu benar. Jadi semua orang dengan memeluk agamanya masing-masing akan berdampingan pula di surga nanti, karena semua orang yang taat dengan agamanya maka pasti akan masuk surga, tidak perduli apapun agamanya. Inilah yang sering kita dengan dengan istilah “Pluralisme”. Baca entri selengkapnya »





PLURALITAS BUKAN PLURALISME

5 12 2010

by Melly Agustina Permatasari, S.Pd

Masih sering kita temukan kesimpangsiuran atau tumpang tindih dalam memaknai kata pluralitas maupun pluralisme yang sebenarnya adalah dua kata yang sangat berbeda maknanya sehingga jangan sampai terjadi kesalahan dalam menempatkan kata tersebut.
Pluralitas diartikan menerima dan mengakui keberagaman agama sedangkan pluralisme secara umum diartikan sebagai suatu gagasan yang menyatakan bahwa semua agama sama dan tidak ada yang lebih baik antara satu dengan yang lain. Sering terjadi ketika ingin menjelaskan tentang pluralitas tapi kata yang dipakai ternyata kata pluralisme. Ada sebuah pernyataan ‘saat ini kita berada di era pluralisme agama’ padahal kata pluralisme tidak tepat digunakan dalam konteks kalimat tersebut tapi yang lebih tepat adalah kata pluralitas. Sehingga pernyataan tersebut harus dirubah menjadi ‘saat ini kita berada di era pluralitas agama’.
Gagasan pluralisme merupakan turunan dari konsep liberalisme atau kebebasan yang tumbuh di Eropa pada abad ke-18, Baca entri selengkapnya »








%d blogger menyukai ini: