Indonesia Butuh Pemimpin Negarawan Sejati

13 11 2011

Oleh: Ali Mustofa Akbar

Meski sesuai jadwal pilpres diselenggarakan masih sekitar dua tahun lagi, akan tetapi aroma persaingan menuju RI 1 sudah mulai menggeliat. Beredar nama-nama mentereng semacam Ani Yudhoyono, Abdurizal bakri, Prabowo, dan tak ketinggalan pula nama klasik seperti Megawati Soekarno Putri.

Sementara itu dari kalangan profesional, muncul sosok fenomenal yang pernah terlibat skandal Bank Century, Sri Mulyani. Meski bukan berasal dari partai politik, nama Sri Mulyani tampak cukup berkibar dalam peredaran. Bahkan partai SRI pun siap mengusungnya menuju pilpres mendatang. Mantan menteri keuangan ini juga baru saja mendapat “hadiah pencitraan” dari Majalah Forbes yang telah menobatkan dirinya sebagai salah satu wanita berpengaruh di dunia.

Pada pemilu 2009 lalu pun sebenarnya Sri Mulyani nyaris dipinang SBY untuk mendampingi sebagai Cawapresnya. Pertanyaannya, apakah ada kekuatan besar dibelakang wanita yang sekarang menjabat sebagai Direktur Pelaksana Bank Dunia ini.

Negri ini memang sedang mencari sosok pemimpin idaman. Pemimpin yang mampu membawa Indonesia menjadi negara merdeka sepenuhnya, bukan sekedar menghantarkan ke depan pintu gerbang kemerdekaan, sebagaimana dalam pembukaan UUD 45, belum masuk ke dalam kemerdekaan sepenuhnya.

Penjajahan ini bukan lagi dalam bentuk fisik, melainkan secara non fisik. Hal ini tercermin dari tatanan politik yang opurtunistik, ekonomi kapitalistik, sosial budaya hedonistik yang sekarang ini mewabah di negri ini.

Alhasil, Indonesia butuh seorang pemimpin yang jujur, adil dan tegas. Pemimpin yang berani mengambil keputusan tepat demi kemaslahatan bangsanya, bukan pemimpin yang peragu, pemimpin yang lebih mengerti urusan rakyatnya ketimbang urusan pribadi dan golongannya, juga bukan pemimpin yang hanya mencari restu sang tuan asing.

MR Kurnia (majalah al-waie) menyebut bahwa paradigma membentuk kepemimpinan yang kuat ialah harus memiliki tiga unsur: 1. Kualitas dan integritas personal, 2. Sistem yang diterapkan, 3. Sikap pihak yang dipimpin.

Pertama, pemimpin amat penting untuk memiliki kualitas dan integritas yang mumpuni. Tidak perlu ada dikotomi antara muda dengan tua, yang penting adalah kapabelitas. Negara yang baik hanya dapat lahir dari pemimpin yang memiliki visi menjadi pelayan masyarakat. Sementara itu, pemimpin yang hanya menipu rakyat, bermuka dua, atau menjadi antek asing jelas tidak bisa diharapkan.

Kedua, sistem yang diterapkan harus sistem terbaik. Sebagai contoh, seorang pemimpin paling hebat sepanjang masa, adalah Muhammad Saw, seorang yang mulia dan amanah, pada saat menjadi pemimpin Negara Islam Madinah saat itu juga memerlukan sebuah sistem aturan yang baik, berupa sistem Islam yang bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Ketiga, pihak yang dipimpin alias rakyat harus senantiasa melakukan kontrol terhadap pemimpin. Ketika pemimpin mengambil kebijakan yang tidak tepat, maka masyarakat meski mengoreksinya. Karena pemimpin juga manusia yang tak luput dari kesalahan. Sehingga diperlukan masyarakat yang sadar politik pula.

Sejatinya negri ini sedang terpenjara dalam kerangkeng sistem Kapitalisme-sekular. Siapapun pemimpin yang akan terpilih, selama masih dalam kerangka sistem ini maka hasilnya tetap nol, apalagi jika sampai yang terpilih adalah pengemban kapitalisme sejati.

Sudah saatnya masyarakat tidak mudah terlena dengan slogan-slogan perubahan, atau janji manis terwujudnya kesempurnaan demokrasi. Ralp Nader (1972) menjelaskan bahwa dalam sistem sekular seperti ini para kapitalis yang banyak berdaulat. Sedangkan H Newton (1963) bertutur bahwa kekuasaan diperuntukkan bagi siapa pun yang mampu membayarnya.

Karena itu, Indonesia membutuhkan pemimpin sejati untuk membawa negri ini menuju Baldatun Thoyyibatun wa Rabbun Ghofur. Pemimpin sejati adalah pemimpin yang bertaqwa, pemimpin yang mau menerapkan aturan-Nya secara keseluruhan.

Para khalifah di masa kekhilafahan Islam tentu layak untuk dijadikan panutan. Keberhasilannya dalam memimpin Negara telah mampu menorehkan tinta emas peradaban. Menjadikan masyarakat yang mulia dan sejahtera.

‘Ala kulli hal, siapapun boleh naik (asal sesuai dengan kriteria Islam). Tak perlu pula adanya perdebatan yang tidak mendasar terkait pendikotomian tua-muda. Yang paling utama, syariah Islam harus diterapkan secara kaffah dalam bingkai Negara khilafah. Karena hanya ini yang bisa diandalkan untuk menyelamatkan bangsa. Wallahu a’lam.





Nasehat Imam Abdurrahman bin Amru al-Auza’iy :Empat Tipe Pemimpin

21 10 2011

Ada nasihat berharga yang disampaikan Imam Abdurrahman bin Amru al-Auza’iy kepada Khalifah Abu Ja’far al-Manshur, ketika ulama besar itu dimintai nasihat. Imam al-Auza’iy berkata kepada Khalifah Abu Ja’far al-Manshur, “Sesungguhnya, Umar bin Khaththab ra pernah berkata, “Pemimpin itu ada empat macam. Pertama, pemimpin yang dirinya dan pembantu-pembantunya memiliki jiwa yang kuat seperti halnya para mujahid yang berjuang di jalan Allah; sehingga, Tangan Allah SWT terbentang untuk memberikan rahmat kepadanya. Kedua, pemimpin yang lemah jiwanya, sehingga dikendalikan oleh pembantu-pembantunya. Sesungguhnya, pemimpin seperti ini sangat dekat dengan kehancuran, kecuali Allah SWT memberinya rahmat. Ketiga, pemimpin yang pembantu-pembantunya lemah, sehingga dia mengendalikan mereka; maka pemimpin seperti ini akan dimasukkan ke dalam neraka Huthamah, sebagaimana yang disabdakan Rasulullah SAW, “Berilah khabar gembira kepada pemimpin Huthamah, karena dia sendirilah yang akan binasa.” Keempat, pemimpin yang dirinya dan pembantu-pembantunya saling berebut pengaruh, sehingga mereka semua terjatuh dalam kebinasaan”.
Imam al-Auza’iy bertutur lagi, “Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya kesulitan yang paling besar adalah menegakkan hak Allah dan kemuliaan yang paling tinggi di sisi Allah adalah takwa. Barangsiapa meminta kemuliaan dengan ketaatan kepada Allah, niscaya Allah akan mengangkat dan memuliakannya. Sebaliknya, barangsiapa mencari kemuliaan dengan bermaksiyat kepadaNya, Allah akan menghinakan dan merendahkannya. Inilah nasihat untukmu, semoga keselamatan tetap bersamamu”.[Imam al-Ghazali, Al-Ihya’, juz 7, hal. 77]
Seorang pemimpin haruslah memiliki jiwa yang kuat untuk mengendalikan urusan-urusan rakyat; dan ia harus memilih pembantu-pembantu yang bertakwa dan memiliki kekuatan jiwa. Faktor inilah yang akan mendatangkan rahmat dan pertolongan dari Allah swt atas dirinya.
Kemampuan seorang pemimpin dalam memimpin organisasi ditentukan sejauh mana ia mampu mengorganisasi potensi yang dia miliki; karyawan, perusahaan, dan asset. Dalam konteks karyawan, ia harus mampu menempatkan karyawannya dengan tepat sesuai dengan kemampuan dan minat mereka. Seorang pemimpin harus mampu mengorganisasi karyawannya hingga menjadi super team yang hebat. Pemimpin tidak hanya memimpin karyawannya, akan tetapi ia juga mengarahkan, membimbing, mendidik, mengontrol, dan memberikan contoh kepada karyawannya. Ia harus menanamkan satu prinsip “ketaatan kepada aturan main” yang telah disepakati, dan taat kepada pemimpin adalah salah satu bagian dari aturan main sebuah organisasi. Jadikan karyawan sebagai anggota team perusahaan, bukan sebagai bawahan. [] Fathiy Syamsuddin Ramadhan An Nawiy





CARA MU’AWIYAH MEMIMPIN DUNIA

19 10 2011

Oleh : Hafidz Abdurrahman

… Setelah shalat Subuh, khalifah Mu’awiyah duduk mendengar penuturnya menuturkan ceritanya hingga selesai. Setelah itu, Mu’awiyah pun masuk ruangan. Petugas membawakan Mushof-nya, lalu dia membaca juz bacaannya. Setelah itu, dia masuk rumahnya kemudian memberikan sejumlah instruksi. Kemudian shalat empat rakaat, setelah itu dia keluar ke majelisnya untuk memberi izin kepada orang-orang tertentu. Mu’awiyah pun menuturkan sesuatu kepada mereka dan mereka membalasnya. Para wazir-nya pun menemuinya, memberikan laporan kepadanya mengenai kebijakan yang hendak mereka lakukan dari pagi itu hingga petang.

Kemudian datanglah petugas menghidangkan makanan ringan pada siang itu, yang notobene merupakan sisa makan malamnya. Mu’awiyah pun berbicara panjang lebar dengan mereka, lalu memasuki rumahnya. Setelah itu, dia pun keluar dan memanggil ajudannya: “Wahai Ghulom, bawakanlah kursi.” Dia pun keluar menuju masjid, kemudian kursi itu diletakkan di masjid. Mu’awiyah pun menyandarkan punggungnya ke sandaran, sambil duduk di atas kursi. Beberapa orang tuna netra pun berdiri, lalu menghadaplah kepadanya orang-orang yang lemah, anak-anak kecil (yatim), para janda, termasuk orang-orang Badui. Mu’awiyah berkata: “Aku telah berbuat zalim? Maka muliakanlah dia.” Dia berkata lagi: “Dia telah melakukan sesuatu untukku. Maka, perhatikanlah urusannya.”

Ketika tidak ada lagi yang tersisa, Mu’awiyah pun masuk ke rumahnya, istirahat di atas tempat tidurnya, kemudian berkata: “Izinkanlah orang-orang untuk masuk sesuai dengan tempat tinggal mereka, dan jangan ada satupun yang menyibukkanku untuk membalas salam”, Ketika ada yang bertanya: “Bagaimana kondisi Amirul Mukminin, semoga Allah memanjangkan umur dan kekuasaannya?” Maka, Mu’awiyah pun menjawab: “Dengan nikmat Allah.”

Ketika mereka sudah duduk berjajar, dia berkata: “Bagaimana mereka? Kalian disebut orang-orang terhormat,
karena kalian telah memuliakan orang-orang lain di majelis ini. Sampaikanlah kebutuhan siapapun yang tidak sampai ke sini kepada kami.” Berdirilah seorang pria lalu berkata: “Si Fulan ingin mati syahid.” Mu’awiyah berkata: “Kembalikan kepada anaknya.” Yang lain lagi berkata: “Si Fulan meninggalkan keluarganya.” Mu’awiyah berkata: “Berikanlah komitmen kepada mereka, berilah santunan, penuhi kebutuhannya, dan bantulah mereka.” Lalu, makan siang pun dihidangkan kepada mereka.

Sekretaris Mu’awiyah pun menghampirinya, kemudian ada seorang pria maju menghadapnya. Mu’awiyah pun mempersilakannya: “Duduklah di kursi.” Mu’awiyah juga duduk, mengulurkan tangannya, sembari makan dua suap atau tiga, sedangkan sekretarisnya terus membacakan catatannya. Mu’awiyah pun memberikan instruksi terkait urusan pria tersebut. Setelah selesai, kemudian ada, petugas yang memanggil: “Wahai hamba Allah, berikutnya.” Kemudian yang lain berdiri dan maju menghadapnya sehingga semua orang yang mempunyai kebutuhan tersebut bisa diselesaikan semuanya. Terkadang ada 40 orang yang menghadapnya. Setelah selesai, ada petugas yang memberikan aba-aba: “Sudah selesai.” Mereka pun keluar meninggalkan ruangan tersebut. Mu’awiyah pun masuk ke rumahnya dan tak ada seorang pun yang masih mempunyai kebutuhan tinggal di sana.

Panggilan adzan Dhuhur pun dikumandangkan. Mu’awiyah ke masjid untuk shalat berjamaah. Dia pun shalat Dhuhur, kemudian duduk dan memberikan izin kepada orang-orang tertentu. Jika mereka datang pada musim kemarau panjang, maka Mu’awiyah pun membekali mereka. Mulai dari pakaian, makanan dan sebagainya. Jika mereka datang di musim semi, maka Mu’awiyah membekali mereka dengan buah-buah yang basah.

Mu’awiyah duduk bersama mereka dan para wazir-nya hingga tiba waktu Ashar, kemudian keluar ke masjid untuk menunaikan shalat Ashar. Setelah itu, dia masuk ke rumahnya. Memasuki akhir waktu Ashar, dia pun keluar dan istirahat di atas tempat tidurnya. Orang-orang diizinkan untuk masuk, sesuai dengan tempat tinggalnya. Mereka dijamu jamuan makan malam, hingga kira-kira panggilan adzan Maghrib dikumandangkan. Setelah jamuan diangkat, adzan Maghrib pun dikumandangkan. Mu’awiyah pun keluar menuju ke masjid untuk shalat. Ketika shalat, dia membaca 50 ayat tiap rakaatnya, terkadang dengan keras dan terkadang pelan. Lalu, masuk ke rumahnya hingga ada panggilan adzan shalat Isya’. Dia pun keluar untuk shalat berjamaah. Setelah itu, dia mengizinkan orang-orang tertentu,wazir dan pembantunya.

Para wazir-nya melaporkan apa yang hendak mereka laporkan mulai dari permulaan malam. Mu’awiyah pun terus mendengarkan berbagai laporan hingga sepertiga malam, baik tentang berita dan peristiwa bangsa Arab, non-Arab, para raja dan kebijakan mereka terhadap rakyatnya, biografi raja-raja itu, peperangan, strategi dan kebijakan mereka terhadap rakyatnya, termasuk berbagai informasi tentang bangsa-bangsa/umat terdahulu. Dari ujung barat, dari para istrinya, datanglah kue dan makanan ringan lainnya. Setalah itu, Mu’awiyah masuk rumah, tidur sebentar di sepertiga malam. Setelahnya, dia bangun, duduk dan sejumlah kertas catatan tentang raja-raja tersebut sudah siap di sisinya. Para pembantunya pun siap membacakannya secara berurutan. Ada yang ditugaskan untuk menyimpan dan membacakannya. Setiap malam, Mu’awiyah pun selalu mendengarkan berbagai berita, biografi, kebijakan dan sejumlah pengalaman. Setelah itu, dia pun keluar dan shalat Subuh. Lalu, kembali mengerjakan rutinitasnya, sebagaimana yang dijelaskan di atas setiap hari.

Begitulah, cara Mu’awiyah memimpin kekhilafahannya, mengisi waktu dan hari-harinya untuk mengurus urusan umat. Begitulah cara Mu’awiyah memonitor peristiwa dan perkembangan dunia, sehingga di tangannya khilafah menjadi adidaya, dan zamannya dikenal sebagai era penaklukan yang luar biasa (Disadur dari Al Allamah Al Mas’udi, Muruj Ad Dzahab: Min Akhlaqi Mu’awiyah wa Siyasatihi)





Siapakah Ulil Amri?

8 10 2011

Soal:

Siapa sebenarnya ulil amri yang keputusannya layak ditaati? Dalam hal apa ulil amri wajib ditaati? Dalam hal apa pula ulil amri tidak boleh ditaati?

Jawab:

Secara harfiah, frasa ulil amri (uli al-amr) dan wali al-amr mempunyai konotasi yang sama, yaitu al-hakim (penguasa). Jika wali adalah bentuk mufrad (tunggal) maka uli adalah jamak (plural). Namun demikian, kata uli bukan jamak dari kata wali. Al-Quran menggunakan frasa ulil amri dengan konotasi dzawi al-amr, yaitu orang-orang yang mempunyai (memegang) urusan.[1]

Ini berbeda dengan frasa wali al-amr, yang hanya mempunyai satu makna harfiah, yaitu al-hakim (penguasa).[2] Karena itu, frasa ulil amri bisa disebut musytarak (mempunyai banyak konotasi). Imam al-Bukhari memaknai frasa tersebut dengan dzawi al-amr (orang-orang yang mempunyai dan memegang urusan). Ini juga merupakan pendapat Abu Ubaidah. Adapun Abu Hurairah ra. memaknai frasa tersebut dengan al-umara’ (para penguasa); Maimun bin Mahran dan Jabir bin Abdillah memaknainya dengan ahl al-’ilm wa al-khayr (ahli ilmu dan orang baik); Mujahid, ‘Atha’, Abi al-Hasan dan Abi al-’Aliyah memaknainya dengan al-’ulama’ (ulama’). Dalam riwayat lain, Mujahid menyatakan bahwa mereka adalah Sahabat. Bahkan Ikrimah menyebutkan lebih spesifik, mereka adalah Abu Bakar dan Umar.[3]

Imam ar-Razi telah mengumpulkan pendapat para mufassir dalam kitabnya tentang makna frasa ini. Beliau menyatakan, bahwa ulil amri mempunyai banyak konotasi. Pertama: Khulafaur Rasyidin. Kedua: Komandan detasemen. Ketiga: para ulama’ yang mengeluarkan fatwa hukum syariah serta mengajarkan agama kepada masyarakat. Keempat: pendapat Syiah Rawafidh, bahwa mereka adalah imam yang maksum.[4]

Terkait ulil amri, Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنكُمْ ۖ فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

Wahai orang-orang yang beriman taatilah Allah, taatilah Rasul serta ulil amri di antara kalian. Jika kalian berselisih dalam suatu urusan, maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul jika kalian memang mengimani Allah dan Hari Akhir. Itu lebih baik dan merupakan sebaik-baik penjelasan (QS an-Nisa’ [4]: 59).

Konotasi kata ulil amri di sini, menurut Ibn Abbas, adalah al-umara’ wa al-wullat (para penguasa). Konteks ayat ini juga turun berkaitan dengan kewajiban untuk menaati penguasa.[5] Karena itu, ulil amri dengan konotasi penguasa dalam konteks ini jelas lebih tepat ketimbang konotasi ulama atau yang lain. Dengan demikian, ayat ini jelas memerintahkan agar menaati penguasa. Namun, penguasa seperti apa?

Sayyidina Ali bin Abi Thalib-karrama-Llahu wajhah-menjelaskan, bahwa seorang imam/kepala negara wajib memerintah berdasarkan hukum yang diturunkan oleh Allah, serta menunaikan amanah. Jika dia melakukan itu maka rakyat wajib untuk mendengarkan dan menaatinya.[6] Karena itu, konteks menaati ulil amri dalam surat an-Nisa’ [4]: 59 di atas tidak berlaku mutlak, sebagaimana menaati Allah dan Rasul-Nya yang maksum; tetapi terikat dengan ketaatan ulil amri tersebut kepada perintah dan larangan Allah dan Rasul-Nya. Sebab, dengan tegas Nabi saw. bersabda:

لاَ طَاعَةَ لِمَخْلُوْقٍ فِيْ مَعْصِيَةِ الْخَالِقِ

Tidak boleh ada sedikit pun ketaatan kepada makhluk dalam melakukan maksiat kepada Khaliq (Allah SWT) (HR Ahmad).

Hukum dan perundang-undangan yang diterapkan penguasa bisa diklasifikasikan menjadi dua. Pertama: hukum dan perundang-undangan yang bersifat syar’i (al-ahkam wa al-qawanin al-ijra’iyyah). Kedua: hukum dan perundang-undangan yang bersifat administratif (al-ahkam wa al-qawanin al-ijra’iyyah). Hukum dan perundang-undangan yang pertama seperti sistem pemerintahan, ekonomi, sosial, pendidikan, politik luar negeri, atau hukum-hukum syariah yang lain, seperti penentuan awal/akhir Ramadhan. Dalam hal ini, tidak boleh seorang pun penguasa atau seorang Muslim mengkaji atau mengambil dari sumber lain, selain syariah Islam. Adapun hukum dan perundang-undangan kedua seperti peraturan lalu lintas, KTP, SIM, Paspor dan sejenisnya. Dalam hal ini, penguasa atau seorang Muslim bisa mempelajari atau mengambil dari sumber manapun, selama tidak bertentangan dengan syariah Islam.[7]

Karena itu, konteks perintah ketaatan di dalam surat an-Nisa’ [04]: 59 di atas berlaku untuk: Pertama, penguasa Muslim yang menerapkan syariah Islam secara kaffah. Kedua, penguasa Muslim yang menerapkan syariah Islam secara parsial; dia wajib ditaati dalam konteks syariah yang dia terapkan, seperti peradilan agama Islam (mahkamah syariah) yang mengatur kawin, cerai dan sebagainya, termasuk ketika seorang penguasa menyerukan jihad untuk melawan pendudukan negara kafir penjajah. Ketiga, penguasa Muslim yang tidak menerapkan syariah Islam, baik secara kaffah maupun parsial. Dalam hal ini, dia hanya ditaati dalam konteks hukum dan perundang-undangan yang bersifat ijra’i saja. Lebih dari itu, hukum menaati penguasa tersebut bukan saja tidak wajib, tetapi justru tidak dibolehkan.

Menarik untuk disebut di sini, bahwa keputusan pemerintah dalam menentukan awal/akhir Ramadhan adalah keputusan yang berkaitan dengan hukum syariah, bukan masalah yang terkait dengan ijra’i. Karena ini merupakan masalah hukum syariah, maka prosedur istidlal dan istinbat yang benar harus ditempuh sehingga hukum yang dijadikan sebagai keputusan benar-benar merupakan hukum syariah. Dari aspek dalil, rukyat harus didahulukan ketimbang hisab. Sebab, hisab hanyalah saranan untuk melakukan rukyat. Bukan sebaliknya, jika rukyat bertentangan dengan hisab, maka rukyat harus ditolak, karena dianggap mustahil. Sikap yang terakhir ini jelas keliru, karena tidak dibangun berdasarkan satu dalil syariah pun.

Memang, ada dalil yang digunakan, seperti frasa faqduru lahu (perkirakanlah) yang terdapat dalam hadis Nabi saw.:

فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدُرُوْا لَهُ

Jika kalian terhalang mendung maka perkirakanlah (hitung) bulan itu.

Dalil sebenarnya sangat jauh dari konotasi hisab. Sebab, dalam hadis lain dinyatakan, fa akmilu ‘iddata Sya’bana tsalatsina yawm[an] (maka sempurnakanlah hitungan Sya’ban menjadi tiga puluh hari).

Dengan demikian, jika prosedur istidlal dan istinbat ini ditempuh dengan benar, maka perbedaan antara hisab dan rukyat tersebut bisa diselesaikan. Sebab, masing-masing bisa didudukkan secara proporsional tanpa menegasikan satu dengan yang lain. Ini jika perbedaan tersebut terjadi karena faktor fikih maupun astronomi. Namun, jika masalahnya adalah masalah politik, maka solusinya haruslah solusi politik. Di sinilah fungsi imam/kepala negara yang merupakan institusi dengan otoritas untuk menghilangkan perselisihan, sebagaimana dalam kaidah syariah:

أَمْرُ الإمَامِ يَرْفَعُ الْخِلاَفَ

Perintah imam/kepala negara bisa menghilangkan perselihan pendapat.

Namun, kaidah ini hanya berlaku efektif jika imam/kepala negara tersebut memang wajib ditaati. Sebaliknya, jika dia tidak wajib ditaati, maka perintahnya tidak akan pernah bisa menghilangkan perselisihan. Sebagai contoh, pemerintah memutuskan awal/akhir Ramadhan berdasarkan hisab, dengan menolak rukyat, padahal syariah menetapkan harus tunduk pada hasil rukyat, maka keputusan seperti ini tidak akan pernah bisa menghilanghkan perselisihan di tengah-tengah umat. Sebab, keputusan itu sendiri merupakan keputusan yang batil, dan tidak boleh ditaati. WalLahu a’lam. []

Catatan kaki:

[1] Abu al-’Ala’ al-Mubarakfuri, Tuhfadzu al-Ahwadzi: Syarah Sunan at-Tirmidzi, Dar al-Fikr, Beirut, III/207.

[2] Al-’Allamah Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani, As-Syakhshiyyah al-Islamiyyah al-Juz’ as-Tsani, Dar al-Ummah, Beirut, cet. Muktamadah.

[3] Abu al-’Ala’ al-Mubarakfuri, Ibid, III/207.

[4] Al-Fakhr ar-Razi, Tafsir ar-Razi, Dar Ihya’ at-Turats al-’Arabi, Beirut, X/107.

[5] As-Syaukani, Naylu al-Awthar fi Syarh Muntaqa al-Akhbar, Dar al-Fikr, Beirut, 1994, VIII/46.

[6] Al-Baghawi, Tafsir al-Qur’an, Dar al-Kutub al-’Ilmiyyah, Beirut, t.t, surat an-Nisa’ [04]: 59.

[7] Dr. Muhammad Ahmad Mufti dan Dr. Sami Shalih al-Wakil, Legislasi Hukum Islam vs Legislasi Hukum Sekuler, Pustaka Thariqul Izzah, Bogor, cet. I, 2006, 32.

Sumber : http://hizbut-tahrir.or.id/2011/09/23/siapakah-ulil-amri/





Kerjasama Rezim Brutal Gaddafi dan Barat : Cermin Kemunafikan dan Kerakusan Imperialis Barat

8 09 2011

Yang Perlu Diketahui Tentang Kolusi Inggris dan Penyiksaan oleh Gaddafi

London, Inggris, 5 September 2011-Ketika Pemerintah Inggris membanggakan soal tentang “intervensi kemanusiaan” di Libya, keterlibatan Inggris dan Amerika dalam penyiksaan dan penyerahan tokoh oposisi Libya kepada kedua negara itu telah terungkap dari diperolehnya dokumen-dokumen dari kantor Moussa Koussa, mantan kepala keamanan dan tangan kanan rezim Muammar Gaddafi.

Dokumen-dokumen itu menunjukkan betapa jauhnya Barat terlibat dalam mendukung rezim yang brutal dalam melawan pihak penentang Gadaffi hingga terjadinya pemberontakan pada Februari lalu.

Mengomentari hal ini, Taji Mustafa, pewakilan media Hizbut Tahrir di Inggris mengatakan: “pengungkapan ini merupakan pukulan telak bagi reputasi yang sudah tercela dari negara-negara Barat dan mengungkap kemunafikan mereka dan klaim apapun soal kepemimpinan moral.”

“Sementara David Cameron berbicara soal ‘HAM’ di Libya Baru, MI6 Inggris dan Amerika CIA telah terlibat dalam penyiksaan dan penyerahan para penentang rezim Gadaffi kepada mereka. Ketika dihadapkan dengan bukti-bukti yang baru terungkap ini, Menteri Luar Negeri Inggris William Hague berusaha menyalahkan pemerintahan sebelumnya dan mengatakan dia tidak mengomentari masalah-masalah keamanan meskipun hal itu hanya beberapa bulan yang lalu, padahal pemerintah Cameron lah yang mempersenjatai dan mendukung rezim Gadaffi yang brutal dan mempertahankan hubungan keamanan yang ‘mesra “dengan rezim itu.”

“Jelaslah bahwa ketika pemberontakan Libya meluas, perubahan sikap Barat dari yang semula mendukung dan mempersenjatai Gadaffi itu tidaklah keluar dari keprihatinan ‘kemanusiaan’, melainkan adalah upaya untuk mencoba mengelola proses perubahan di wilayah ini dalam rangka memastikan bahwa kepentingan mereka tetap terlindungi. Kepentingan untuk membatasi imigrasi, mempertahankan akses untuk minyak murah dan mencegah kebangkitan Islam adalah yang mendorong kebijakan kolonialis Inggris. NTC harus berhati-hati dari negara-negara Barat yang sama, yang kini menawarkan dukungan dengan imbalan mendapatkan transaksi minyak, pengaruh ekonomi dan politik. Rakyat tidak mengorbankan hidup mereka untuk menggulingkan seorang diktator brutal yang didukung Barat hanya untuk melihat berlanjutnya cengkeraman kolonial di negeri-negeri mereka. ”

Libya – yang merupakan daerah yang luas – saat ini memerlukan kemerdekaan sejati yang bebas dari pengaruh ekonomi dan politik negara-negara kapitalis Barat yang siap untuk mendukung kediktatoran paling brutal atau demokrasi – yang membunuh warganya – asalkan hal itu melayani kepentingan mereka. Hanya Khilafah Islam lah sebuah sistem yang memberikan kepemimpinan Islam yang tulus yang akan sekali lagi memastikan kemerdekaan sejati bebas dari kekuatan asing dan memastikan bahwa rakyat di wilayah itu bisa mengkontrol kekayaan, ekonomi dan nasib politik mereka dan itulah sebabnya mengapa kekuatan Barat berusaha untuk menjelek-jelekkan usaha pendirian kembali Kekhalifahan. “

(rz/http://www.hizb.org.uk/press-releases/the-ugly-truth-of-british-collusion-with-gaddafis-torturers)





Nikmatnya Pemimpin Partai Model Panjat Pinang?

19 05 2011

Pernah melihat lomba panjat pinang? Pasti. Setiap menjelang 17 an, di kampung-kampung ada lomba panjat pinang. Tempatnya dilapangan terbuka. Orang-orang dan anak-anak ramai melihat lomba panjat pinang. Apalagi kalau sudah sampai mendekati bulatan yang digantungi hadiah, orang-orang dan anak-anak semakin ramai bersorak.
Lomba panjat pinang ini, mereka yang berada di bawah paling berat, harus menanggung beban orang-orang yang diatasnya. Berjam-jam. Terkadang menanggung beban empat atau lima orang dipundaknya. Orang senang melihat sebagai sebuah tontonan setiap menjelang 17 an, dan sudah menjadi lomba rakyat.
Bagi mereka yang memiliki kepekaan hati, pasti akan merasa sedih melihat orang yang paling bawah. Apalagi kalau orang yang dibawah itu orangnya kecil dan kurus, dan tetap terus bertahan menanggung beban orang-orang yang diatasnya. Sampai orang yang paling atas dapat mengambil hadiah satu-satu. Sampai habis. Para penonton disekelilingnya bersorak dengan kegembiraan, tanpa melihat bagaimana penderitaan orang yagn paling bawah yang menanggung beban berat itu.
Partai model “Panjat Pinang” ini menjadikan kader-kader dibawahnya sebagai ujung tombak atau berada di “front line” garis depan menghadapi rakyat. Bukan mereka yang diatas yang berhadapan dengan rakyat. Mereka yang diatas kerjanya hanya mengambil hadiah, sampai hadiah itu habis, terkadang tidak dibagi.
Kader-kader model Partai “Panjat Pinang” , mereka yang dibawah melakukan komunikasi, merekrut, membina, mengarahkan, mendoktrin, dan memobilisasi rakyat. Kader-kader yang dibawah, mereka hanya tahu targer-target politik, yang sudah ditetapkan, dan itu harus diwujudkan. Sepanjang tahun, mereka yang berada di bawah harus terus melakukan sosialiasi kepada rakyat atau konstituen tentang partai dan programnya. Mereka yang atas hanya menerima laporan, pokoknya semua sudah beres saat menjelang “pemilu”. Mereka yang dibawah mirip-mirip budak.
Kalau partai yang mengaku-ngaku partai agama, pasti mereka dengan “menu” yang khas, berupa doktrin-doktrin agama yang kental kepada kadernya. Partai “Panjat Pinang” yang berbaju agama, mempunyai acara-acara yang sifatnya reguler, semua tujuannya memompa semangat dan membangkitkan motivasi para kader dibawahnya untuk lebih khusuk bekerja. Tujuannya memenangkan partainya di pemilu. Tentu agar para kader semangatnya tetap tinggi, teknik-teknik “mencekoki” kadernya yang dibawah dengan doktrin-doktrin agama yang canggih. Sudah biasa. Seperti mengkaitkan pemilu dengan jihad atau pemilu dikaitkan dengan kemenangan dakwah.
Makanya kegiatan pemilu menjadi sebuah ritual yang sakral, dan para kadernya berlomba-lomba menyongsong pemilu dengan segenap jiwa dan raga. Karena sudah mendapatkan doktrin dan motivasi yang luar biasa. Mereka bersedia berkorban apa saja demi kemenangan pemilu. Siang malam para kadernya bekerja untuk pemilu. Karena pemilu disamakan dengan jihad. Itulah doktrin yang sangat mujarab. Para pemimpin diatasnya akan puas melihat kerja para kadernya yang optimal.
Partai model “Panjat Pinang” tentu yang paling untung yang paling atas, dan yang paling sengsara yang paling bawah harus menanggung beban berat. Mereka tak dapat mendongak melihat keatas, karena menanggung beban yang sangat berat. Pundak mereka terus menerus harus menanggung empat atau lima orang diatasnya, sehingga tak sempat lagi mendongak ke atas.
Sementa yang paling atas tertawa-tawa dan mendapatkan tepukan penonton, karena berhasil mengambil hadiah satu-satu. Sampai hadiah dilingkaran yang bundar itu habis. Mereka yang diatas tidak lagi dapat melihat ke bawah. Karena sibuk mengambili hadiah yang sangat menggiurkan. Biarkan yang dib awah sengsara menanggung beban. Tidak penting. Karena, yang dibawah itu, takdirnya harus menanggung beban berat dari yang ada diatas.
Usai pemilu Partai model “Panjat Pinang” tinggal menerima hadiah. Hadiahnya tidak tanggung kekuasaan. Kursi menteri, fulus, jabatan departemen, dan seabrek hadiah lainnya. Lebih-lebih para pemimpin partai “Panjat Pinang”, kalau partai mendapatkan suara lumayan, maka akan menjadi perhatian semua media, dan tokoh-tokoh serta pengamat politik, pasti akan memberikan komentar yang menyanjung, dan membuat posisi tawarnya melangit.
Seperti gadis “molek” yang menjadi perhatian dan rebutan. Padahal, dulunya pemimpin partai “Panjat Pinang” itu dulunya sangat “misterius”, orang tak banyak yang mengenalnya. Tetapi, hanya satu dekade, menjadi orang paling terkenal, dan selalu menjadi bahan perbincangan. Riwayat hidupnya, karirnya, hobinya,dan kesukaannya mendapatkan perhatian. Gerak-geriknya pun menjadi perhatian.
Lebih ajaib lagi. Dulunya pemimpin partai model “Panjat Pinang” itu, sebelum ada partai tergolong orang yang sangat bersahaja. Rumahnya bilik, lantainya tanpa ubin, dan isterinya jualan kue. Tetapi, satu dekade kemudian, hidupnya berubah total. Tak bisa dimengerti dan dipahami oleh orang-orang yang pernah mengenalnya. Benar-benar sebuah keajaiban terjadi.
Dahulu, para pemimpin partai model “Panjat Pinang” mencari uang sangat susah. Seperti mencari hantu. Tetapi, sesudah partainya ikut dan mendapatkan suara yang lumayan, uang mencarinya. Uang berdatangan tanpa ada yang menyuruh. Semua orang berkepentingan dengannya. Mulai penguasa, seperti calon presiden, calon menteri, calon gubernur, pengusaha dan para calopun berkepentingan.
Calon presiden yang ingin menang mendatanginya. Calon gubernur yang ingin menang mendatanginya. Calon bupati yang ingin menang mendatangi. Calon walikota yang ingin menang mendatangi. Pejabat yang ingin naik karirnya mendatanginya. Orang-orang yang ingin menjadi direktur perusahaan pemerintah (BUMN), pasti mendatangi. Pemimpin partai model “Panjat Pinang” hidupnya benar-benar berubah. Menjadi orang yang paling penting. Karena semuanya membutuhkannya.
Sayangnya partai model “Panjat Pinang” menjadikan jabatan dan kekuaasaan itu sebagai barang dagangan. Semuanya diukur dengan fulus. Bukan lagi nilai-nilai (agama). Mereka menjadi kaya raya. Tanpa keluar keringat setetespun. Karena yang menanggung beban, mereka yang dibawah. Para pemimpinnya hanya tinggal memunguti hadiah. Sungguh enak menjadi pemimpin partai model “Panjat Pinang” itu. Wallahu’alam.





Penguasa Negara Islam

14 05 2011

Pengantar

Penguasa (al-Hâkim) adalah ulil amri yang memiliki otoritas untuk mengurusi semua urusan, baik meliputi seluruh wilayah kekuasaan negara maupun hanya di sebagian wilayah saja. Dalam hal ini, penguasa adalah pihak yang menjadi sandaran dalam penanganan semua urusan dan penegakkan hukum. Dalam penegakkan hukum ini, penguasa merupakan satu-satunya pihak yang harus didengarkan dan ditaati. Baca entri selengkapnya »








%d blogger menyukai ini: