Pendeta Masuk Ma’had NII Al-Zaytun, Ustadz pun Murtad Masuk Kristen

22 05 2011

Ada Misi Kristen di Pesantren NII Al-Zaytun (2)
Hubungan Pesantren Az-Zaytun dengan para misionaris Kristen nampak terlalu berlebihan. Menyambut Natal tahun 2005, Al-Zaytun mengizinkan tamu dari Yayasan The Gideon International membagi-bagikan 1.400 Bibel secara cuma-cuma di pesantren.
Bermula dari hubungan dekat Al-Zaytun dengan pendeta dan misionaris Kristen inilah, berakibat murtadnya Saifuddin Ibrahim, salah seorang pengasuh ma’had.
Dalam testimoni 138 halaman yang ditulisnya, ustadz asal Bima NTB ini bercerita bahwa Al-Zaytun, dirinya mengajar Al-Qur’an, Hadits, Akidah, Akhlak, Sejarah Kebudayaan Islam dan Jurnalistik selama enam tahun sejak 1999. Sebagai orang yang sangat dekat dengan syaikhul ma’had Panji Gumilang, Ibrahim dipercaya menjadi Editor Kepala Majalah Al-Zaytun yang bertiras 30.000 eksemplar.
Dalam testimoninya, Ibrahim menjelaskan kronologi mengapa ia murtad meninggalkan Islam dan beralih profesi dari dewan guru Ma’had Al-Zaytun Indramayu menjadi seorang evangelis Kristen.
Dalam sub judul “Nubuat Syaikh,” Ibrahim menulis bahwa peristiwa kemurtadan dirinya bermula pada tanggal 16 Januari 2006, ketika Panji Gumilang menyebut dirinya dengan panggilan “Pendeta Abraham.” Sejak saat itu, Ibrahim lebih suka dipanggil Abraham. “Syaikh telah bernubuat untuk saya. Sejak beliau mengatakan hal itu saya semakin kacau dan pikiran tidak tentang. Itu juga sebabnya kenapa saya lebih suka dipanggil Abraham,” tulis Ibrahim pada halaman 8.
Usai peristiwa itu Ibrahim mulai mendekati para penginjil Yayasan The Gideon International yang dikenalnya ketika membagi-bagikan ribuan Bibel di pesantren pada Natal tahun 2005. Ibrahim pun mulai belajar ilmu perbandingan agama kepada para misionaris dan pendeta. Singkat cerita, setelah berliku-liku mencari pintu masuk Kristen, akhirnya Ibrahim dibaptis di Semarang tanggal 7 Maret 2006. Setelah meninggalkan Islam dan dibaptis di Semarang tanggal 7 Maret 2006, ia pun rela berpisah dengan istri dan ketiga anaknya di Jepara, Jawa Tengah.
Dalam tempo 3 bulan Ibrahim murtad dari Islam. Itulah salah satu buah kedekatan syaikhul ma’had NII Al-Zaytun Panji Gumilang dengan para pendeta dan misionaris Kristen.
Bila diteliti dari testimoni tertulisnya, wawasan agama Saifuddin Ibrahim masih perlu dipertanyakan. Misalnya, dalam sub judul “Percaya Kepada Yesus,” Ibrahim mengutip nas: “Al-dinu huwal aqlu, laa diina liman laa aqqla lahu. Agama adalah akal, tidak ada agama tanpa akal,” yang disebutnya sebagai hadits Nabi (hlm 60).
Pernyataan ini sangat aneh bila ditulis oleh seorang dosen hadits. Sebagai dosen hadits di pesantren terbesar se Asia Tenggara, seharusnya dia tahu bahwa nas tersebut bukan hadits, tapi kutipan yang tidak diketahui asal-usulnya.
Para ulama ahli hadits sepakat memvonis nas tersebut bukan sabda Nabi, melainkan hadits yang tidak ada asalnya (la ashla lahu). Imam An-Nasa’idan Syaikh Albani berkomentar bahwa hadits tersebut batil munkar. Dalam sanadnya terdapat nama Bisyir yang majhul (asing/tidak dikenal).
Ketika membuktikan ketuhanan Yesus, Saifuddin Ibrahim mengutip Al-Qur’an surat Maryam 33 sebagai pendukung. Menurutnya, ayat ini menegaskan ketuhanan Yesus karena memakai fi’il amar (kata kerja masa lampau/past tense).
“Ayat Al-Qur’an surat Maryam 33 meyakinkan saya memahami ketuhanan Yesus. Ayat ini menggenapi semua kisah Yesus yang telah berlaku. Ayat ini menggunakan Fi’il Madhi, kata kerja masa lampau, berarti kejadian kebangkitan Yesus dan hidup kembali telah terjadi lebih 2000 tahun yang lalu,” (hlm. 87-88).
Dengan kutipan itu, patut dipertanyakan wawasan Ibrahim terhadap Ilmu bahasa Arab. Tidak benar kesimpulannya bahwa surat Maryam 33 menyatakan ketuhanan Yesus karena menggunakan fi’il madhi. Padahal dalam ayat ini terdapat tiga kata kerja (fi’il), yaitu: “wulidtu” (fi’il madhi majhul), “amuutu” (fi’il mudhari’ majhul) dan “ub’atsu” (fi’il mudhari’ majhul).
Ungkapan Nabi Isa pada ayat tersebut memakai kalimat “wulidtu” (telah dilahirkan) karena peristiwa kelahirannya sudah terjadi. Sedangkan kalimat “amuutu” (akan dimatikan) dan “ub’atsu” (akan dibangkitkan) memakai fi’il mudhari’ karena peristiwa kematian dan kebangkitannya belum dan akan terjadi.
Ustadz Saifuddin Ibrahim yang sekarang berganti nama menjadi Ev Saifuddin Abraham, adalah salah satu contoh korban pemurtadan akibat kedekatan syaikhul ma’had NII Al-Zaitun Panji Gumilang dengan para pendeta dan penginjil Kristen. bersambung [ahmad hizbullah mag/suaraislam]





NII KW 9 Adalah Gerakan Kriminal Buatan Intelijen

11 05 2011

JAKARTA – Penyimpangan ajaran NII sepeninggal Kartosuwiryo adalah ulah intelijen pada masa Ali Murtopo untuk membusukkan NII yang benar. NII KW 9 buatan intelijen itu adalah aliran sesat dan gerakan kriminal.
Pernyataan ini disampaikan Wakil Sekretaris Komisi Fatwa MUI Pusat, KH Aminuddin Ya`qub pada acara ‘Halqah Islam dan Peradaban’ bertema “Teror NII: Kriminalisasi Perjuangan Islam (Membongkar Skenario Jahat di Balik Isu NII),” Selasa sore, (10/5/2011) di Auditorium Adhiyana Wisma Antara Jalan Medan Merdeka Selatan Jakarta. Baca entri selengkapnya »





Mantan Camat NII: Panji Gumilang Itu Penipu yang Sangat Ulung

11 05 2011

JAKARTA, – Mantan camat teritorial Negara Islam Indonesia Komandemen Wilayah IX (NII KW IX) untuk wilayah teritorial Bekasi, Imam Shalahudin, mengatakan, pimpinan Pondok Pesantren Al Zaytun, Panji Gumilang adalah orang yang sangat berorientasi terhadap uang. Panji selama ini disebut-sebut sebagai pimpinan NII KW IX. Hal tersebutdikatakan Imam usai mengikuti seminar bertajuk “Membongkar Skenario Jahat di Balik NII” di Wisma Antara, Jakarta, Selasa (10/5/2011).
“Dalam otak Panji Gumilang hanya ada duit, tidak ada itu yang namanya perjuangan Islam,” ujar Imam.
Imam yang juga Pemimpin Redaksi NII Crisis Center ini menuturkan, beberapa waktu lalu ia pernah melakukan penelitian bersama sejumlah jurnalis dengan mengunjungi Ponpes Al-Zaytun. Dalam kunjungannya tersebut, ia melihat beberapa jamaah dan pengurus pondok pesantren tersebut amat tidak dilakukan secara manusiawi. Imam mencontohkan, tidak ada standar gaji bagi para pengurus Yayasan Al-Zaytun.
Menurutnya, para pengurus yayasan tersebut hanya diberi gaji sekitar Rp1 juta, dan nominal tersebut belum dipotong infaq dan zakat yang menjadi kewajiban-kewajibannya.
“Misalnya juga ketika parkir juga harus membayar sedekah, dan lain-lain. Jadi Ini kan sama sekali tidak ada perjuangan Islam, karena orientasinya sangat mengandalkan keuangan,” tuturnya.
Untuk itu, Imam mengharapkan, agar Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa untuk melarang kelompok tersebut. Fatwa tersebut, lanjutnya, setidaknya dapat menjadi pintu bagi umat Islam untuk mendorong pemerintah melakukan penangkapan, paling tidak mempermasalahkan praktik-praktik yang dilakukan Panji Gumilang.
“Agar orangtua juga paham bahwa Panji Gumilang itu penipu yang sangat ulung, sehingga mereka tidak lagi memasukkan anak-anaknya ke Al Zaytun. Dan saya juga saat ini bersama Kontras, NCC, terus berupaya kepada pihak kepolisian, bahwa jeratan hukum apa yang pantas bagi Panji Gumilang,” pungkasnya.
Panji Gumilang sendiri telah mengeluarkan bantahan atas tudingan bahwa pondok pesantren yang dikelolanya dikaitkan dengan NII. Dikatakannya, Al Zaytun adalah lembaga pendidikan yang tak terkait dengan aktivitas NII.
“Ketika di bangku SD sudah diajarkan sejarah bahwa NII yang diproklamirkan oleh Kartosuwiryo telah selesai sejak 1962. Sudah selesai. Sama dengan PKI yang telah selesai,” kata Panji Gumilang saat ditemui Tribun di Pondok Pesantren Al-Zaytun, Sabtu (30/4/2011).
Menurut pria asal Lamongan, Jawa Timur, itu saat ini hanya ada negara Republik Indonesia yang memiliki UUD 1945 dan Pancasila. Sementara NII hanya bagian dari sejarah lama.(ach/KCMRIMANEWS)





MUI Kutip Ucapan Mantan Kepala Intelijen: NII KW9, Buatan Intelijen!

11 05 2011

Apakah ada relasi antara kelompok yang bernama Negara Islam Indonesia Komandemen Wilayah 9 (NII KW9) dengan Mahad Az Zaytun di Indramayu? Untuk mendapat jawabannya, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat pun melakukan investigasi.

Disamping menemukan kaitannya, MUI pun mendapat pengakuan dari mantan kepala Badan Koordinasi Intelijen Nasional (Bakin, sekarang Badan Intelijen Nasional/BIN) bahwa badan intelijen negara era Soeharto telah melakukan Operasi Khusus (Opsus) untuk pembusukan NII dengan membuat NII KW9 yang menyimpang jauh dari NII asli.

Hal itu diungkap Wakil Sekretaris Komisi Fatwa MUI Pusat H Aminuddin Yaqub dalam acara talkshow Halqah Islam dan Peradaban (HIP) ke-30, Selasa (10/5) siang di Wisma Antara, Jakarta.

Pada Maret 2002, MUI membentuk tim investigasi yang diketuai KH Makruf Amin untuk menjawab pertanyaan: (1) apa dan bagaimana sistem pendidikan di Az Zaytun? (2) apa dan bagaimana NII itu? dan (3) apakah ada relasi antara NII dan Az Zaytun?

Untuk menjawab pertanyaan nomor satu relatif mudah. “Saya menginap delapan hari tujuh malam di Az Zaytun,” ujar Aminuddin yang saat itu menjadi sekretaris tim investagasi MUI. “Belum kita temukan aktivitas penyimpangan. Santri tetap shalat. Silabinya pun berupa silabi gabungan dari Depag, Diknas, dan Gontor,” ujarnya.

Untuk menjawab pertanyaan nomor dua, relatif sulit dan ini pula yang menyebabkan penelitian berlangsung lama hingga baru selesai delapan bulan kemudian. “NII ini sangat kompleks, kita kaji dan datangi korban-korbannya sampai ke Jakarta, Banten bahkan Gorontalo!” ujarnya.

Dari hasil penelusuran itu dapat disimpulkan dua hal. Pertama, ada NII asli yang didirikan SM Kartosoewirjo pada tahun 1949 dan ada NII palsu alias NII KW9 yang menyimpang jauh dari NII Kartosoewirjo apalagi ajaran Islam lantaran menganggap shalat tidak wajib, serta melakukan pencurian, penipuan bahkan pelacuran untuk mendapatkan sejumlah uang untuk disetorkan kepada ‘negara’ NII KW9.

NII Kartosoewirjo tidak bisa dikatakan sesat karena tidak ada ajarannya yang menyimpang dari Islam, hanya saja NII Kartosoewirjo berbeda visi politiknya dengan pemerintah sehingga dilarang. “NII Kartosoewirjo murni politik untuk menengakkan syariah Islam, dari sudut pandang agama, kita tidak melihat ada penyimpangan,” ujarnya.

Bagaimana dengan jawaban atas pertanyaan nomor tiga? Menurutnya ternyata ada tiga relasi yang sangat signifikan antara Az Zaytun dan NII KW9.

Pertama, dari aspek historis. Az Zaytun lahir tidak lepas dari NII KW9. Apakah NII KW9 bermetamorfosa jadi Az Zaytun? Untuk mendapat jawabannya, MUI pun menghubungi Abu Toto (pimpinan NII KW9) alias Panji Gumilang (Pimpinan Az Zaytun). “Saya komfirmasi ke Abu Toto tapi Abu Toto tidak mau diwawancarai,” ujarnya.

Kedua, relasi kepemimpinan. Ternyata pemimpin dan petinggi Az Zaytun dengan NII KW9 sama. “Mulai dari Panji Gumilang, eksponen Yayasan Pesantren Indonesia, sampai para gurunya ternyata adalah anggota NII KW9!” ujarnya.

Ketiga, ada aliran dana yang sangat relevan. “Yakni adanya haraqah muharam alias adanya setoran dana dari ‘camat’ dan ‘gubernur’ NII KW9 di Az Zaytun,” tegasnya.

Dalam investigasi itu,MUI pun tidak lupa mengundang mantan Ketua Bakin ZA Maulani untuk pendalaman karena MUI mensinyalir kasus ini ada campur tangan intelijen negara. Menurutnya, mantan kepala intelijen negara era BJ Habibie itu tidak membantah dugaan itu bahkan ZA Maulani pun dengan tegas menyatakan bahwa NII KW9 merupakan Operasi Khusus (Opsus) Defeksi (pembusukan dari dalam) yang dipimpin wakil ketua Bakin saat itu Ali Moertopo.

“Almarhum ZA Maulani dengan tegas menyatakan bahwa NII merupakan defeksi pada masa Ali Moertopo,” ujarnya. Kemudian pada 2003, MUI pun menyerahkan temuannya kepada Mabes Polri untuk ditindaklanjuti.

“Saya menghadap Dada Rosada, Kabes Intelkam Mabes Polri, semua database saya serahkan,” ujarnya. Namun sayangnya temuan tersebut tidak ditindaklanjuti secara serius oleh Polri.

Lelaki yang konsern menangani korban NII KW9 ini pun merasa kecewa dan menganggap pemerintah telah bertindak dzalim. “Saya konsern ke korban yang terjebak NII KW9, pembiaran terhadap itu merupakan kedzaliman yang luar biasa dari pemerintah,” sesalnya.

Mantan ‘camat’ di NII KW9 Imam Shalahuddin dan Juru Bicara Hizbut Tahrir Indonesia Muhammad Ismail Yusanto hadir pula sebagai pembicara dalam acara yang digelar sebulan sekali oleh HTI tersebut.

Dalam talkshow yang bertema Teror NII, Kriminalisasi Perjuangan Islam (Membongkar Skenario Jahat di Balik Isu NII) Ismail menegaskan, merebaknya kembali isu NII merupakan politik monsterisasi yang dilakukan pemerintah karena kekalahan intelektual untuk menghadang semakin kuatnya keinginan masyarakat untuk hidup dalam negara yang menerapkan syariah Islam kaffah yang sering disebut sebagai negara Islam, daulah Islam atau khilafah.

Akibat dari politik monsterisasi ini sangat berbahaya karena orang jadi takut bergabung dengan kelompok dakwah yang berjuang diberlakukannya syariah Islam secara kaffah oleh negara karena takut terjebak NII KW9.

Lebih parahnya lagi korban politik monsterisasi ini tidak lagi berfikir secara rasional atau pun logis. Buktinya, si korban meyakini Islam itu bagus, buktinya, mereka ingin membangun keluarga Islam, anaknya pun disekolahkan di sekolah Islam, ekonominya pun ingin ekonomi Islam. Tapi ketika menyebut negara Islam, jadi takut.

“Mestinya kita juga percaya bahwa negara Islam itu bagus. Jadi mengapa bisa giliran negara Islam, itu kok jelek? jadi tidak logis, orang kok tiba-tiba tidak mau negara Islam?” pungkasnya retorik.[]joko prasetyo/mediaumat.com





Apa Beda Abu Bakar Ba’asyir dengan Abu Maarik? Abu Ba’asyir Tak Punya Anti Densus 88, Abu Maarik Kebal Densus 88!, Inilah Democrazy kawan..!!!

9 05 2011

JAKARTA, –Amir Jamaah Anshorut Tauhid Abu Bakar Baasyir dan Pimpinan Pondok Pesantren Az Zaytun Panji Gumilang tampaknya mendapat perlakukan berbeda dari aparat Kepolisian.
Ustad Abu langsung diciduk Densus 88 setelah beberapa pelaku bom menyebut-nyebut namanya terkait dalam serangkaian aksi teror. Tapi, Panji Gumilang alias Abu Maarik alias Abu toto , meski sudah banyak pengakuan dari mantan pengurus Negara Islam Indonesia bahwa dirinya merupakan pimpinan NII KW 9, tetap saja masih melenggang hingga saat ini. Keheranan itu lah yang diungkapkan anggota Komisi I DPR Teguh Juwarno.
“Yang aneh, ketika bicara terorisme, Abu Bakar Baasyir langsung ditangkap. Tapi ketika ini NII sudah menjadi teroris, banyak sekali pengakuan korban, banyak saksi mata, bahkan mereka yang insyaf mengatakan bahwa memang Panji Gumilang (pemimpin NII), tapi tidak ditangkap, ada apa? Kan memang ada pembiaran,” katanya.
Makanya, selain berencana memanggil Kepala Badan Intelijen Negara Sutanto dan juga Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan, Djoko Suyanto, Komisi intelijen dan pertahanan ini juga berencana memanggil Panji Gumilang.

RIMANEWS





Negara Islam Bukan Ancaman dan Bukan Ide Kampungan !

8 05 2011

Negara Islam yang menerapkan syariah Islam yang rahmatan lil ‘alamin bukanlah ancaman, justru kapitalisme lah ancaman nyata bangsa ini.

Isu Negara Islam kembali ramai dibicarakan. Beberapa teror bom disebut-sebut dilakukan kelompok yang mengatasnamakan NII (Negara Islam Indonesia). Meskipun belum bisa dipastikan kebenarannya, kelompok ini diduga terlibat cuci otak beberapa mahasiswa yang tiba-tiba menghilang. Termasuk menghalalkan berbagai cara untuk mendapatkan dana.

Beberapa media pun dengan gencar mengopinikan bahaya mendirikan negara Islam yang dikatakan menj adi tujuan kelompok ini. Perjuangan mendirikan negara Islam dianggap membahayakan Indonesia dan menjadi ideologi kelompok teroris.

Ironisnya, salah seorang petinggi partai yang dulu mengklaim partai Islam dan sekarang sudah menjadi partai terbuka (sekuler), menyatakan ide negara Islam adalah kampungan.

Adalah penting bagi kita untuk memahami , perjuangan mendirikan negara Islam sesungguhnya adalah perjuangan yang mulia. Sebab negara Islam, dalam pengertian negara yang menerapkan syariah Islam secara kaffah adalah kewajiban syar’i. Sebab , tanpa ada negara yang didasarkan kepada Islam, kewajiban menerapkan seluruh syariah Islam, yang menjadi konsekuensi keimanan seorang muslim, mustahil bisa dilakukan.

Sebab, banyak hukum syariah Islam yang membutuhkan institusi politik yang sekarang disebut negara. Hukum syariah Islam yang berkaitan dengan hudud seperti potong tangan bagi pencuri,rajam bagi pezina, tentu membutuhkan institusi politik atau otoritas yang legal atau negara.

Demikian juga menerapkan kebijakan mata uang yang didasarkan pada dinar dan dirham (berbasis emas dan perak), pendidikan dan kesehatan gratis, pengaturan pemilikan umum (milkiyah ‘amah) seperti barang tambang yang melimpah (emas, minyak, batu bara) harus dikelola negara , tidak boleh diberikan kepada swasta asing, dan hasilnya harus digunakan untuk kepentingan rakyat, tentu membutuhkan otoritas negara.

Imam Abul Qasim Al-hasan bin Muhammad bin Habib bin Ayyub Asy-syafi’I An-naisaburi, menjelaskan “…umat telah sepakat bahwa yang menjadi obyek khitab (”maka jilidlah”) adalah imam. Dengan demikian mereka berhujjah atas wajibnya mengangkat imam. Sebab, apabila suatu kewajiban itu tidak sempurna tanpa adanya sesuatu tersebut maka ada sesuatu tersebut menjadi wajib pula”(Tafsir An-naisaburi, juz 5 hal 465)

Kewajiban membangun otoritas politik seperti inilah yang oleh para ulama disebut imamah atau khilafah, amirul mukminan yang makna sama. Syeikh Muhammad Abu Zahrah menjelaskan Khilafah adalah imamah al-kubra (imamah yang agung). Disebut khilafah karena yang memegang dan yang menjadi penguasa yang agung atas kaum Muslim menggantikan Nabi SAW dalam mengatur urusan mereka. Disebut imamah karena khalifah itu disebut Imam. Karena ta’at padanya adalah wajib. Karena manusia berjalan di belakang imam tersebut layaknya mereka shalat dibelakang yang menjadi imam shalat mereka” (Tarikh Al-madzahib Al-islamiyyah, juz I hal 21)

Kewajiban imamah atau khilafah ini berdasarkan kepada al Qur’an , As Sunnah dan ijma’ush shohabah, dimana kewajiban ini disepakati oleh para ulama. …”. Imam Mansur bin Yunus bin Idris Al-bahuti Al-hanafi menjelaskan : “…(mengangkat Imam yang agung itu) atas kaum Muslimin (adalah fardhu kifayah). Karena manusia membutuhkan hal tersebut untuk menjaga kemurnian (agama), menjaga konsistensi (agama), penegakan had, penunaian hak serta amar ma’ruf dan nahi munkar (Kasyful Qina’ an Matnil Iqna’, juz 21 hal. 61)

Syariah Islam yang diterapkan dalam Daulah Islam (negara Islam) yang disebut Khilafah , bukanlah merupakan ancaman bagi masyarakat. Bagaimana mungkin syariah Islam yang berasal dari Allah SWT yang memiliki sifat ar rahman dan ar rahim disebut sebagai ancaman. Syariah Islam yang bersumber dari Al Qur’an dan As Sunnah justru merupakan rahmatan lil ‘alamin, memberikan kebaikan kepada manusia baik muslim ataupun non muslim .

Bagaimana mungkin syariah Islam yang mengatur bahwa pendidikan dan kesehatan harus gratis bagi seluruh rakyat, negara wajib menjamin kebutuhan pokok tiap individu rakyat (sandang, pangan, dan papan), hukuman yang tegas (hukuman mati) bagi pembunuh, larangan bughot (memisahkan diri) dari negara, barang tambang harus dikelola negara dengan baik dan hasilnya untuk kepentingan rakyat disebut mengancam masyarakat ?

Sesungguhnya sistem kapitalisme yang dipraktikkan oleh elit sekuler Indonesia sekarang inilah yang menjadi ancaman negara, musuh negara, karena membahayakan rakyat dan negara. Puluhan juta rakyat miskin, tingginya angka pengangguran, meluasnya kemaksiatan, perampokan atas nama privatisasi BUMN , investasi, dan pasar bebas, termasuk maraknya korupsi dan manipulasi merupakan dampak nyata dari penerapan sistem kapitalisme di negara kita.

Namun mendirikan negara Islam tentu bukan dengan cara-cara yang bertentang dengan syariah Islam seperti teror bom, mengkafirkan orang tua atau pihak lain , menganggap militer dan kepolisian sebagai ancaman atau kafir, cuci otak, penipuan atau perampokan. Semua itu jelas-jelas bertentangan dengan syariah Islam.

Cara seperti itu justru kontroproduktif dan dapat dimanfaatkan untuk memberikan stigma negatif terhadap Islam , negara Islam atau syariah Islam. Kalau cara-cara seperti itu dibiarkan atau dipelihara, kita tentu wajar curiga kalau semua itu memang sengaja dan direkaya , untuk menyudutkan Islam. Tujuannya, agar umat jauh dari Syariah Islam, sehingga penjajah kapitalisme tetap kokoh di negeri ini. (Farid Wajdi)





STIGMATISASI NEGATIF DI BALIK ISU NII

8 05 2011

Oleh : MMH

Isu NII bisa menimbulkan asosiasi yang berdampak pada gerakan Islam lainnya. Citra buruk Islam bisa muncul.

Pernahkah Anda perhatikan bagaimana isu NII ini muncul ke permukaan? Isu NII ini kembali dihembuskan oieh media massa hampir bersamaan dengan munculnya isu terorisme, khususnya menyangkut bom buku.

Kedua isu bermuara pada satu hal yang sama yakni Islam. Wajar bila kemudian ada yang menduga isu ini sengaja digulirkan lagi untuk mendiskreditkan Islam. Soalnya, sebenarnya isu NII KW9 ini sudah lama, bertahun-tahun dan tidak pernah menjadi perhatian. Mungkinkah, isu ini untuk memperlancar pembahasan RUU Intelijen yang sedang dibahas di DPR?

Juru bicara Hizbut Tahrir Indonesia M Ismail Yusanto tak menampik adanya kemungkinan tersebut. Saat ini wacana penerapan syariat Islam secara kaffah memang sedang marak di Indonesia suatu hal yang wajar muncul di negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam dan ada kebebasan menyatakan pendapat. “Akibatnya masyarakat jadi takut dan phobia kalau mendengar negara Islam, karena terbayang penculikan, hipnotis, cuci otak. Jadi gagasan negara Islam tidak tumbuh secara wajar, dan banyak mengalami pendiskreditan,”tambahnya.

Ia menjelaskan, pada tataran tertentu, khususnya di kalangan masyarakat awam, gerakan-gerakan Islam memang sulit dihindarkan dari pengasosiasian. “Yang kita khawatirkan ada akibat pendiskreditan, mungkin jadi phobia terhadap misalnya bila diajak pengajian” jelas Ismail.

Ia berharap masyarakat bisa cerdas melihatnya. Menurutnya, NII KW 9 ini sudah jelas-jelas bertentangan dengan prinsip Islam. “Ketika mereka menggunakan cara-cara penculikan, mengumpulkan dana dengan menghalalkan segala cara, lalu disebut tidak ada kewajiban shalat lima waktu dan puasa, ini kan jadi aneh dan kontradiktif,”terang Ismail.

Namun kenapa kasus NII ini dibiarkan dan didiamkan pemerin¬tah? Muncul spekulasi jangan-jangan NII KW9 sengaja dipelihara dan ketika diperlukan isu ini dimunculkan. “Kan jadi muncul spekulasi, apakah ini untuk memuluskan RUU intelijen. Karena ada gerakan-gerakan seperti ini maka menunjukkan intelijen lemah, dan harus diperkuat kewenangannya melalui UU,” kata Ismail.

Mantan anggota NII KW9 Al Chaidar, menjelaskan NII KW9 adalah NII palsu. Menurutnya, NII yang asli tidak melakukan cuci otak, tidak melakukan penculikan, tidak memeras orang, dan tidak menyesatkan orang. “Yang mela¬kukan itu semua adalah NII yang palsu buatan pemerintah,”katanya kepada Media Umat.

NII KW9, ungkapnya, lahir dari tangan Ali Moertopo. Saat itu Ali Moertopo menjabat sebagai Ketua Opsus (Operasi Khusus) di era awal pemerintahan Soeharto. Desepsi terhadap NII ini dimulai sejak tahun 1971.

Ia menjelaskan, tujuan membuat NII palsu ini untuk menjelek-jelekkan yang asli. “Itu namanya program desepsi,”jelas Al Chaidar yang selama enam tahun rnengikuti gerakan NII.
Anggota NII KW9 ini, lanjutnya, dijerat dan disiksa habis-habisan, baik secara finansial dan kultural, seperti disuruh untuk menipu, mencuri, dan perbuatan-perbuatan yang bertentangan dengan prinsip NII asli. Tindakan tersebut rnerusak hubungan sosial orang-orang yang terjebak itu dengan rnasyarakat.

Akhirnya setelah sadar, orang-orang yang terjebak ini pun merasa kapok, jera dan tidak mau lagi mendengar ide-ide tentang negara Islam. “Itulah tujuan pemerintah membuat NII palsu ini, karena pemerintah merasa tersaingi ideologinya, digerogoti oleh ideologi Islam”, ta ndasnya.

————————————————————

SEPAK TERJANG DAN KARAKTER NII KW9

NII KW9 bergerak cukup lama di bawah tanah. Namun bukan berarti gerakannya tak terdeteksi sama sekali. Selama ini mereka melakukan aktivitas yang menunjukkan jati diri ciri khas gerakan ini. Berikut di antaranya.

• Dalam mendakwahi calon anggotanya mata sang calon ditutupi rapat. Penutup itu baru akan dibuka ketika mereka sampai ketempat tujuan.

• Para calon yang akan mereka dakwahi rata-rata memiliki ilmu keagamaan yang relatif rendah bahkan boleh dibilang tidak memilki ilmu agama. Sehingga para calon dengan mudah dijejali omongan-omongan yang menurut mereka adalah omongan tentang dinul Islam. Padahal kebanyakan akal merekalah yang berbicara dan bukan dinul Islam yang mereka ungkapkan.

• Calon utama mereka adalah mereka yang memiliki harta yang berlebihan atau yang orang tuanya berharta lebih, anak-anak orang kaya yang jauh dari keagamaan, sehingga yang terjadi adalah penyedotan uarg para calon dengan dalih Islam. Islam hanya sebagai alat penyedot uang.

• Pola dakwah yang relatif singkat, hanya kurang lebih tiga kali pertemuan sang calon dimasukkan kedalam anggota mereka. Sehingga yang terkesan adalah pemaksaan ideologi. bukan lagi keikhlasan. Dan rata-rata para calon memiliki kadar keagamaan yang sangat rendah sekali. Selama hari terakhir pendakwahan, sang calon dipaksa dengan dijejali ayat-ayat yang mereka terjemahkan seenaknya hingga sang calon mengatakan siap dibaiat.

• Ketika sang calon akan dibaiat. dia harus menyerahkan uang yang mereka namakan dengan uang penyucian jiwa. Besar uang yang harus diberikan mulai Rp. 250.000 ke atas. Jika sang calon tidak mampu saat itu, maka infaq itu menjadi utang sang calon yang wajib dibayar.

• Tidak mewajibkan menutup aurat bagi anggota wanitanya. Dengan alasan Kahfi.

• Tidak mewajibkan shalat lima waktu bagi para anggotanya dengan alasan belum futuh. Padahal, mereka mengaku telah berada dalam Madinah. Seandainya mereka tahu bahwa selama di Madinahlah justru Rasul benar-benar menerapkan syariat Islam. Dan justru Rasul wafat beberapa waktu setelah futuh mekkah.

• Shalat lima waktu mereka ibaratkan dengan doa dan dakwah. Sehingga jika mereka sedang berdakwah maka saat itu mereka sedang shalat.

• Shalat Jumat diibaratkan dengan rapat syura. Sehingga pada saat mereka rapat. maka saat itu pula mereka namakan shalat Jumat.

• Bagi pemula mereka dibolehkan shalat yang dilaksanakan dalam satu waktu untuk lima waktu shalat.
• Infak yang dipaksakan per periode (per bulan). sehingga menjadi utang yang wajib dibayar bagi yang tidak mampu berinfaq.

• Adanya Qiradh (uang yang dikeluarkan untuk dijadikan modal usaha) yang diwajibkan walaupun tak punya uang. bila perlu berutang kepada kelompoknya. Pembagian bagi hasil dari Qiradh yang mereka janjikan tak akan pernah kunjung datang. Jika diminta tentang pembagian hasil bagi itu, mereka menjawabnya dengan ayat Alquran sedemikian rupa sehingga upaya meminta hasil bagi itu menjadi hilang.

• zakat yang tidak sesuai dengan syariat Islam. Takaran yang terlalu melebihi dari yang semestinya. Mereka menyejajarkan sang calon dengan sahabat Abu Bakar dengan menafikan syariat yang sesungguhnya.

• Tidak adanya mustahik di kalangan mereka. sehingga bagi mereka yang tak mampu makan sekalipun wajib membayar zakat infaq yang besarnya sebetulnya sebanding dengan dana untuk makan sebulan. Bahkan mereka masih saja memaksa pengikutnya untuk mengeluarkan ‘infaq’ padahal pengikutnya itu dalam keadaan kelaparan (saking kelaparannya, dia melakukan shaum Daud. Bukan karena sunah tapi memang tidak ada barang yang mesti dimakan).

• Belum berlakunya syariat islam di kalangan mereka sehingga perbuatan apapun tidak mendapatkan hukuman apapun.

• Mengkafirkan orang yang di luar kelompoknya bahkan menganggap halal berzina dengan orang di luar kelompoknya.

• Dihalakannya mencuri/mengambil barang milik orang lain (mencuri).

• Menghalalkan segala cara demi tercapai tujuan seperti menipu/berbohong meskipun kepada orang tuanya sendiri.








%d blogger menyukai ini: