Krisis Global Hantui Indonesia

8 12 2011

HTI Press, Banjarmasin. Forum Intelektual Muslim (FIM) Kalimantan Selatan kembali digelar pada hari Kamis, 1 Desember 2011 bertempat di Aula Lembaga Pengabdian Masyarakat Universitas Lambung Magkurat (LPM Unlam) Banjarmasin. Mengambil tema “Dampak Krisis Global di Indonesia”, FIM kali ini menghadirkan pembicara Muhammad Hatta, SE, M.SI dosen luar biasa Ekonomi Islam IAIN Antasari Banjarmasin, dan Dr. Arim Nasim, SE, M.Si, Ak. Ekonom dan anggota DPP HTI Jakarta.
Hadir sebagai peserta antara lain Prof. Dr. H. Asmaji Darmawi, Guru Besar FISIP Unlam yang juga aktif sebagai Dewan Pembina ICMI Kalsel, Dr. Samahuddin, M.Si dosen FISIP Unlam, Drs. M.H. Kasyful Anwar yang juga aktifis dalam gerakan Islam, Siswanto, M.Si dari FISIP Unlam. Tampak hadir juga Drs. Sabhan, M.Pd dosen FKIP Unlam. Deden Koswara, SH, MH, Mispansyah, SH, MH, M Ananta Firdaus, SH, MH dari Fakultas Hukum Unlam. Dari STKIP Banjarmasin hadir Abdul Jabar, M.Pd dan Wahyudi, M.Pd. Tampak hadir juga dosen dari Fakultas Ekonomi Unlam, MIPA Unlam Banjarbaru, IAIN Antasari dan beberapa aktifis pergerakan mahasiswa di Banjarmasin.
Dalam paparannya, Muhammad Hatta dengan dukungan slide berisi data-data yang akurat menjelaskan bahwa krisis global yang terjadi di Eropa disebabkan karena pengeluaran negara yang amat besar di sektor publik yang celakanya berbasis utang yang ribawi. Begitu besarnya krisis ini hingga Yunani harus melengserkan PM George Papandreou dan diganti Lucas Papademos. Italia juga harus melengserkan PM Silvio Berlusconi. Krisis ekonomi dan finasial telah merambat ke krisis kepercayaan politik. Bukan hanya di Yunani dan Italia saja, namun beberapa negara seperti Irlandia, Spanyol, Postugal, bahkan Jepang si macan Asia tidak luput dari badai krisis.
Dr Arim Nasim dalam paparannya menjelaskan bagaimana solusi Islam terkait krisis global. Ia menjelaskan bahwa terjadi kesalahan analisa terkait apa yan menjadi masalah ekonomi, akibatnya berdampak kesalahan pula pada penanganannya. Dalam Sistem Ekonomi Islam, peluang untuk terjadinya krisis sudah ditutup. Perbankan dan bisnis yang ribawi ditinggalkan. Mata uang mengunakan standar emas dan perak. Sumber daya alam dikelola oleh SDM yang ahli dan amanah dalam bingkai Negara Khilafah untuk kemakmuran rakyat. SDA tidak diserahkan kepada swasta apalagi asing penjajah seperti saat ini. APBN Negara disusun berdasarkan aturan syariah, dll jika dijalankan dengan baik maka insya Allah tidak akan terjadi krisis.
Dalam sesi diskusi, banyak sekali terlontar tanggapan dari para dosen yang hadir. Sabhan, M.Pd misalnya mengusulkan agar HTI segera melakukan perubahan mendasar (revolusi) karena keadaan begitu parah. Abdurrahman Malik yang juga pimpinan Al Irsyad Kalsel menyatakan bahwa terjadinya krisis adalah karena diterapkannya sistem kapitalisme yang bersifat self destructive. Sementara Prof Asmaji mengatakan bahwa masalahnya sudah sangat jelas, tinggal peran kita untuk merubahnya menjadi lebih baik.
Secara umum diskusi yang diikuti sekitar 30 akademisi yang dipimpin oleh Sutarto, S.Sos, M.IP berjalan lancar, meskipun terjadi gangguan listrik. Diskusi berjalan seru penuh keakraban dan sesekali diselingi joke-joke segar dari para peserta penanggap. Acara ini merupakan acara rutin bulanan yang dilaksanakan oleh Lajnah Khusus Intelektual Kalsel. (SUTARTO, LKI DPD I HTI KALSEL – FOTO By FERMADI).

Iklan




Indahnya Memuliakan Sesama Muslim

13 10 2011

Oleh : Arief B. Iskandar

Allah SWT sesungguhnya telah memuliakan manusia dalam kedudukan yang amat tinggi. Betapa tinggi kemuliaan manusia di mata Allah SWT hingga jika seorang manusia membunuh manusia lain tanpa alasan yang dibenarkan, maka di mata Allah SWT, sama saja ia dengan membunuh seluruh manusia. Allah SWT berfirman (yang artinya): Siapa saja yang membunuh suatu jiwa bukan karena orang itu membunuh atau membuat kerusakan di muka bumi, maka dia seperti membunuh seluruh manusia (TQS al-Maidah [5]: 32).

Apalagi jika itu menyangkut jiwa seorang Muslim. Baginda Rasulullah SAW bersabda, “Mencela seorang Muslim adalah kefasikan, sementara membunuhnya adalah kekufuran.” (HR al-Bukhari dan Muslim).

Sebaliknya, Allah SWT dan Rasul-Nya, telah memerintahkan untuk memuliakan sesama Muslim. Tentu karena sesama Muslim adalah saudara. Ibn Umar ra menuturkan bahwa Rasulullah pernah bersabda, “Muslim itu saudara bagi Muslim yang lain. Ia tidak saling menzalimi dan saling membiarkan. Siapa saja yang menghilangkan suatu kesulitan dari seorang Muslim, maka Allah SWT akan menghilangkan kesulitan bagi dirinya di antara berbagai kesulitan pada Hari Kiamat kelak. Siapa saja yang menutupi aib seorang Muslim, Allah pasti akan menutupi aibnya pada Hari Kiamat nanti.” (Muttafaq a’laih).

Abu Hurairah pun berkata bahwa Baginda Rasulullah SAW pernah bersabda, “Muslim itu saudara bagi Muslim yang lain. Ia tidak saling mengkhianati, saling mendustakan dan saling menghinakan. Setiap Muslim adalah haram bagi Muslim yang lain menyangkut kehormatan, harta dan darahnya.” (HR at-Tirmidzi).

Bahkan terhadap Muslim yang zalim pun, Rasulullah tetap menyuruh kita menyayangi dia dengan cara menolongnya. Beliau pernah bersabda, “Tolonglah saudaramu, baik pelaku kezaliman maupun korban yang dizalimi.” Seorang sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, saya menolongnya jika ia dizalimi. Lalu bagaimana saya harus menolong orang yang melakukan kezaliman?” Rasul menjawab, “Cegahlah dia dari berlaku zalim. Itulah bentuk pertolongan kamu kepadanya.” (HR al-Bukhari).

Begitu indahnya sikap memuliakan sesama Muslim juga ditunjukkan oleh sabda Rasulullah sebagaimana dituturkan oleh Abu Hurairah, “Hak Muslim atas Muslim yang lain ada lima: menjawab salam, mengunjungi yang sakit, mengiringi jenazah, memenuhi undangan dan mendoakan yang bersin.” (Muttafaq ‘alaih).

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Rasulullah bersabda, “Hak Muslim atas Muslim yang lain ada enam: jika bertemu, ucapkanlah salam; jika mengundang, penuhilah; jika meminta nasihat, berilah nasihat; jika bersin, ucapkanlah hamdallah dan doakanlah; jika sakit, jenguklah; jika meninggal, iringilah jenazahnya.” (HR Muslim).

Selain itu, sudah sepantasnya sesama Muslim saling menguatkan, sebagaimana sabda Baginda Rasulullah, “Mukmin dengan Mukmin yang lain itu seperti satu bangunan; satu sama lain saling menguatkan.” (Muttafaq ‘alaih).

Beliau pun bersabda sebagaimana dituturkan oleh Nu’man bin Busyair, “Perumpamaan kaum Mukmin itu dalam kasih-sayang dan sikap lemah-lembut mereka adalah seperti satu tubuh; jika salah satu anggota tubuh itu merasakan sakit, maka seluruh bagian tubuh yang lain akan panas dan demam.” (Muttafaq ‘alaih).

Lebih dari sekadar saling menguatkan, sikap memuliakan sesama Muslim juga sejatinya tercermin dalam hal saling menyayangi sepenuh hati. Apalagi Baginda Rasulullah pernah bersabda, sebagaimana dituturkan oleh Jarir bin Abdillah. “Siapa saja yang tidak menyayangi manusia, Allah tidak akan menyayangi dirinya.” (Muttafq ‘alaih).

Aisah ra pun menuturkan bahwa suatu ketika datang sekelompok Arab pedalaman kepada Baginda Rasulillah. Mereka lalu berkata, “Apakah kalian bisa menciumi anak-anak kalian?” Beliau menjawab, “Betul.” Mereka berkata, “Akan tetapi, kami, demi Allah, tidak melakukannya.” Beliau kembali bersabda, “Apakah kalian ingin Allah mencabut sikap welas-asih dari kalbu-kalbu kalian?” (Muttafaq ‘alaih).

Bagaimana pula gambaran sikap memuliakan sesama Muslim tercermin dalam sabda Rasulullah sebagaimana dituturkan oleh Abu Hurairah, “Jika salah seorang di antara kalian mengimami orang-orang, hendaklah dia meringankan shalatnya karena sesungguhnya di antara mereka ada orang yang lemah, sakit dan tua. Jika salah seorang di antara kalian shalat sendirian, maka silakan dia memanjangkan shalatnya sesuka hatinya.” (Muttafaq ‘alaih).

Abu Qatadah pun menuturkan bahwa Baginda Rasulullah pernah bersabda, “Sesungguhnya aku pernah mengimami shalat dan ingin memanjangkannya. Tiba-tiba aku mendengar tangisan bayi. Aku pun mempercepat shalatku karena khawatir tangisan bayi itu membebani ibunya.” (HR al-Bukhari).

Sungguh, betapa indahnya jika sikap memuliakan sesama Muslim ini benar-benar selalu kita wujudkan dalam keseharian kita. Wama tawfiqi illa bilLah.





Bagaimana nasib kaum Muslimin Ambon sebulan pasca kerusuhan?

13 10 2011

AMBON – Sebulan telah berlalu dari kerusuhan Ambon, 11 September 2011. Bagaimana nasib kaum Muslimin di sana? Apakah para pengungsi sudah kembali ke rumah-rumah mereka? Apakah kondisi mereka masih memprihatinkan? Berikut kabar terbaru tentang kondisi kaum Muslimin Ambon sebagaimana diceritakan oleh Koresponden Arrahmah.com langsung dari TKP!
Jeritan kaum Muslimin Ambon
Sebulan sudah kaum Muslimin kampung Waringin, Ambon menjalani hidup sebagai pengungsi di negeri sendiri. Mereka adalah korban kekejaman kaum nasrani pada peristiwa kerusuhan Ambon, 11 September 2011. Pada peristiwa tersebut nyawa 7 Muslim Ambon terenggut, 100 orang lebih kaum Muslimin terluka parah dan ringan, ratusan rumah kaum Muslimin di Kampung Waringin ludes dibakar pihak nasrani.
Hari ini kaum Muslimin mengungsi di beberapa tempat di kota Ambon, seperti gedung Telkom Talake & bangunan pasar belakang Ambon Plaza yang belum difungsikan. Ketika saya mengunjungi para pengungsi tadi siang, mereka mengatakan bahwa untuk kebuutuhan makan seperti beras, mie instan, dan ikan kaleng tercukupi. Perlengkapan pakaian seperti selimut, baju, dan seragam sekolah juga tercukupi. Untuk peralatan dapur seperti kompor, alat masak, piring, dan lain-lain juga terpenuhi. Pelayanan kesehatan selama 24 jam juga terpenuhi dilayani oleh tenaga medis dari Puskesmas.
Saat ini yang mereka butuhkan adalah uang untuk memenuhi kebutuhan mereka di luar kebutuhan makan dan minum, seperti untuk membayar biaya anak-anak sekolah dan ongkos transport anak-anak mereka menuju sekolah, yang dengan mereka mengungsi maka tentunya jarak menuju sekolah anak-anak mereka lebih jauh. Hingga hari ini, baru satu kali mereka menerima bantuan uang tunai sebesar Rp. 35.000,- untuk setiap satu kepala keluarga.
Kaum Muslimin wajib bantu
Demikianlah kondisi kaum Muslimin Ambon sebulan pasca kerusuhan. Apakah dengan uang Rp. 35.000 yang pernah mereka dapatkan sekali itu sudah cukup? Bagaimana dengan kehidupan mereka selanjutnya? Bagaimana dengan nasib anak-anak yang kehilangan ayah dan ibunya menjadi janda? Juga nasib para pengungsi yang hingga kini belum juga bisa kembali ke rumah mereka, karena memang sudah musnah dibumihanguskan kaum nasrani. Semoga dengan informasi ini kaum Muslimin di manapun tergerak hatinya untuk dapat meringankan beban kaum Muslimin Ambon. Insya Allah!
(M Fachry/arrahmah.com)





Forum Intelektual Muslim: Sejahtera Hanya Dengan Syariah dan Khilafah

27 09 2011

Hizbut Tahrir Indonesia DPD 2 Kabupaten Bogor kembali mengadakan Forum Intelektual Muslim (FIM) ke-6 dengan tema “Raih Kesejahteraan Dengan Syariah dan Khilafah” di Ruangan Papandayan Hotel Pangrango 2 Bogor, Ahad 25/09/2011. Acara yang dimulai tepat pukul 08.30 WIB dihadiri 56 peserta yang terdiri dari tokoh intelektual hingga cendekiawan. Para peserta intelektual muslim yang diantaranya bergelar professor dengan berbagai profesi keilmuannya sangat antusias mengikuti acara ini untuk menggali informasi mengenai konsep Sistem Islam dalam mensejahterakan dunia.
Forum Intelektual Muslim yang diselenggarakan secara rutin pada setiap bulannya pada kesempatan ini menghadirkan pembicara Dr. Arim Nasim, M.Si.,Ak (Direktur PKPEI -FPEB Universitas Pendidikan Indonesia) beliau menguraikan bahwa “Kesejahteraan dalam pandangan Islam muncul dari peradaban Islam, tanpa ada peradaban islam tidak mungkin ada kesejahteraan” paparnya.
Sementara itu beliau juga menjelaskan tentang kegagalan sistem kapitalisme yang diterapkan sekarang ini dengan dibuktikan adanya fakta bahwa melalui Laporan Global Hunger Index (GHI) yang dibuat oleh International Food Policy Research Institutemenyebutkan bahwa sepanjang tahun 2010 terdapat 1 miliar penduduk dunia yang mengalami kelaparan. Tingkat kelaparan di 25 negara bahkan sudah mencapai level ekstrim, sementara untuk negara lainnya masuk level serius. Adapun di Indonesia menurut BPS penduduk miskin masih sangat tinggi mencapai 32,03 juta orang. Padahal Indonesia memiliki potensi kekayaan alam yang melimpah ruah seperti sektor tambang meliputi potensi minyak (9.746,40 juta barel), gas (176,60 triliun kubik), batu bara (145,8 miliar ton), emas (1.300 ton), potensi hutan Indonesia yang saat ini hasil hutan diperkirakan sebesar US$ 2.5 miliar, selain itu terdapatnnya potensi laut yang diperkirakan dari sektor kelautan diperoleh sebesar US$ 82 miliar dengan asumsi 1 $ sebesar Rp 10.000. Artinya, dari potensi laut dapat dihasilkan pendapatan sebesar Rp 820 triliun.
Lalu mengapa Indonesia yang memiliki kekayaan alam melimpah ruah tidak berkorelasi dengan kesejahteraan rakyat Indonesia?. Itu semua diakibatkan oleh penerapan sistem Kapitalisme sebagai sebuah ideologi sekuler sehingga telah menghilangkan peran agama dalam pengaturan ekonomi, dari sinilah kemudian muncul paradigma yang salah yang membangun sistem ekonomi kapitalis. karena itu melihat fakta tersebut maka sistem kapitalisme hanya untuk menyengsarakan rakyat. Berbeda halnya dengan sistem Islam yang akan menjamin kesejahteraan sejak manusia lahir di dunia hingga akhirat nanti.
Karena itu beliau menyerukan kepada para intelektual muslim untuk melakukan perubahan, adapun perubahan akan terjadi bila 1) muncul kesadaran fakta yang rusak, 2) Ada bayangan sistem penggantinya, 3) ada gerakan untuk perubahan tersebut. Perubahan tersebut harus sesuai dengan manhaj Rasulullah untuk kehidupan yang lebih baik. Karenanya peran intelektual muslim yang dibutuhkan saat ini adalah melakukan upaya penyadaran umat secara terus menerus untuk mewujudkan kembali peradaban islam melalui tegaknya syariah dan khilafah serta terlibat langsung dalam upaya melakukan perubahan (agent of change).tegasnya. (Andi Perdana)





Ditengah Penjajahan Intel Asing, Umat Muslim Justru Dikerjai oleh Intel Dalam Negeri

27 09 2011

Rakyat sendiri dimata-matai, musuh dari luar dibiarkan. Bangsa sendiri dipereteli, agen asing dipersilahkan. Fenomena tersebut kian nyata dirasakan umat muslim saat ini. Kontradiksi ini dilakukan oleh intelijen Indonesia.
Hal inilah yang membuat, Ustadz Bernard Abdul Jabar, dari Forum Umat Islam (FUI), menilai intelijen Indonesia seperti kurang kerjaan. Mereka hanya berani mengawasi bangsa sendiri, tapi diam ketika musuh dari luar menyusupi Indonesia.
“Sekarang ada 60.000 intel asing di Indonesia berkeliaran. Mereka menyusup ke Negara ini, tapi kenapa Intel kita tidak bertindak? Ini mau diapakan?” ujarnya kepada Eramuslim.com, (26/9), menindaklanjuti ledakan Solo yang diendus sebagai permainan intelijen.
Isu adanya puluhan ribu intel asing memang bukan hisapan jempol semata. Setidaknya, hal ini pernah dilontarkan oleh Ryamizard Ryacudu, Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI, pada tahun 2003. Menurutnya, jumlah agen asing yang melakukan infiltrasi dihitung dari total yang berada di seluruh Indonesia. Dan cara mereka masuk ke Indonesia juga bermacam-macam.
Ketika intel Indonesia diam, dan semakin lama kekuatan intel asing semakin kuat, maka tepat rasanya jika kenyataan ini sebagai sebuah penjajahan model baru yang menyandera bangsa ini.
“Ini penjajahan intel asing namanya,” tegas Pembina Gerakan Pelajar Anti Pemurtadan Bekasi ini.
Maka mirisnya ditengah penjajahan asing yang kian pahit dirasakan umat, intel dalam negeri justru “mengerjai” bangsa sendiri. Kejadian ledakan Solo kemarin, lanjut Ustadz Bernard sejatinya adalah grand design yang bertujuan untuk menyudutkan umat muslim. Cara ini adalah sebuah rangkaian panjang yang pada gilirannya akan menggolkan Rancangan Undangan Undang Intelijen yang tengah digodok di DPR. “Jadi, grand design ini sudah bisa dibaca.”
Walhasil, Ustadz Bernard menekankan kepada umat muslim di seluruh Indonesia untuk waspada, hati-hati, serta merapatkan barisan agar jangan mudah dipecah belah oleh makar-makar Intelijen. “Ada upaya serangan kepada umat muslim. Maka umat muslim harus bersatu padu melawan rencana ini.” pesannya kepada seluruh umat. (pz)





20.000 Warga Amerika Masuk Islam Tiap Tahun

26 09 2011

Tragedi serangan World Trade Centre (WTC) 2001, membawa perubahan cukup luar biasa bagi Islam di seluruh dunia. Selain ada perubahan negatif, juga ada sisi positif. Salah satunya adalah warga Amerika semakin terbuka kepada umat Islam dan ajaran Islam. Mereka dengan kesadaran sendiri ingin memahami Islam secara mendalam.
Pernyataan ini disampaikan Syamsi Ali, tokoh muslim terkemuka di New York yang kini menjadi imam imam Masjid Al-Hikmah, Masjid Islamic Center, dan imam Masjid Jamaica Muslim Center, New York.
“Pasca tragedi 9/11, orang yang masuk Islam meningkat empat kali lipat daripada sebelum tragedi 9/11,” kata pria asal Indonesia ini.

Sementara itu, menurut NBC News, sekitar 20.000 warga Amerika masuk Islam setiap tahun. Para pemimpin muslim mengatakan, minat warga Amerika terhadap Islam meningkat dalam beberapa tahun terakhir.

Pada situs video Voice Of Amerika (VOA), ada puluhan video yang menunjukkan jumlah perempuan di Amerika Serikat dan Inggris masuk Islam. CNN News pernah menurunkn laporan tentang 1.5 juta warga Amerika masuk Islam.

Muhammad Al-Nassir, Direktur Pusat Islam dari wilayah metropolitan Washington, yang meliputi lima area termasuk Maryland, Virginia dan Washington, DC, menyatakan, sekitar 180 orang Amerika dari berbagai usia dan jenis kelamin telah menyatakan diri masuk Islam, bertepatan dengan adanya ancaman membakar al-Quran pada 11 September tahun lalu dan terkait pro-kontra rencana pembangunan masjid di dekat lokasi Ground Zero di New York.

Nassir menghubungkan, penyebab tingginya warga AS yang menyatakan diri masuk Islam di daerah vital atau kota utama Amerika Serikat karena mereka membaca dan mempelajari tentang Islam dan biografi Nabi Muhammad SAW yang menyebabkan mereka tertarik lebih jauh untuk belajar tentang Islam.

Seorang warga negara Amerika Serikat, bernama Robert Spencer, dari timur laut Washington, DC, yang setelah masuk Islam berganti nama menjadi “Abdul Rahman” mengatakan: “Saya mengikuti pertumbuhan pesat agama Islam di dunia Barat, dan orang-orang di sini mengakui bahwa jumlah orang yang masuk Islam setiap tahun di dunia Barat sangat besar dan cepat, dalam 12 tahun telah dibangun lebih dari 1.200 masjid di Amerika Serikat (rata-rata seratus masjid setahun), dan hal itu adalah aneh bahwa sebagian besar orang-orang yang memeluk Islam adalah warga Amerika yang beralih menjadi pendukung Islam yang kemudian melaksanakan ajaran-ajaran Islam yang luar biasa! ”

Moran (33 tahun), seorang peneliti dari negara bagian Virginia, menegaskan, 20 ribu orang Amerika masuk Islam setiap tahunnya setelah peristiwa 11 September 2001.

“Kunjungan warga AS semakin meningkat ke masjid dan tidak terbatas pada masjid, tetapi mereka juga mengunjungi Islamic Center yang ada di Washington, Virginia, Minnesota, dan tempat lainnya,” kata pimpinan Darul Huda AS ini.

Menurut situs riseofislam.com, jumlah umat Islam di Amerika saat ini berkisar antara 6-7 juta jiwa. Jumlah pastinya tidak diketahui karena sensus penduduk AS tidak mencantumkan agama warga negara.

Sejarah Islam di Amerika Serikat bermula sekitar abad ke 16. Estevánico dari Azamor adalah Muslim pertama yang tercatat dalam sejarah Amerika Utara. Walau begitu, kebanyakan para peneliti di dalam mempelajari kedatangan Muslim di AS lebih memfokuskan pada kedatangan para imigran yang datang dari Timur Tengah pada akhir abad ke 19.

Migrasi Muslim ke AS berlangsung dalam periode yang berbeda, yang sering disebut “gelombang”, sekalipun para ahli tidak selalu sepakat dengan apa yang menyebabkan gelombang ini.

Saat ini masjid di Amerika Serikat lebih dari 1.209 masjid. Masjid terbesar adalah Islamic Center of America di Dearborn, Michigan. * [hidayatullah]





PEDULI TERHADAP SESAMA MUSLIM

3 07 2011

Banyak nash, baik dalam Alquran maupun al-Hadits, yang menegaskan bahwa sesama Muslim itu bersaudara. Allah SWT, misalnya, berfirman (yang artinya): Sesungguhnya kaum Mukmin itu bersaudara (TQS al-Hujurat [49]: 10). Baginda Rasulullah SAW pun antara lain bersabda, “Muslim itu saudara bagi Muslim lainnya.” (HR al-Hakim).

Persaudaraan sesama Muslim tentu tidak akan bermakna apa-apa jika masing-masing tidak memperhatikan hak dan kewajiban saudaranya, tidak saling peduli, tidak saling menutupi aibnya, tidak saling menolong, dst. Baginda Rasulullah SAW memerintahkan hal demikian, sebagaimana sabdanya, “Siapa saja yang meringankan beban seorang Mukmin di dunia, Allah pasti akan meringankan bebannya pada Hari Kiamat. Siapa saja yang memberikan kemudahan kepada orang yang kesulitan, Allah pasti akan memberi dia kemudahan di dunia dan akhirat. Siapa saja yang menutupi aib seorang Muslim di dunia, Allah pasti akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat. Allah SWT selalu menolong hamba-Nya selama hamba itu menolong saudaranya.” (HR Muslim dan at-Tirmidizi).

Itulah penghargaan Allah SWT yang luar bisa kepada hamba-Nya yang peduli kepada sesamanya. Sebaliknya, Allah SWT menegur seorang Muslim yang tidak memedulikan sesamanya. Dalam hal ini, Abu Hurairah ra menuturkan bahwa Baginda Rasululullah SAW pernah bersabda: Sesungguhnya Allah SWT berkata pada Hari Kiamat nanti, “Wahai manusia, Aku pernah sakit. Mengapa engkau tidak menjenguk Aku.” Manusia menjawab, “Tuhanku, bagaimana aku menjenguk Engkau, sementara Engkau adalah Tuhan alam semesta?” Allah SWT berkata, “Bukankah engkau dulu tahu hamba-Ku si fulan pernah sakit di dunia, tetapi engkau tidak menjenguknya? Bukankah engkau pun tahu, andai engkau menjenguk dia, engkau akan mendapati diri-Ku di sisinya? Wahai manusia, Aku pernah meminta makan kepada engkau di dunia, tetapi engkau tidak memberi Aku makan.” Manusia menjawab, “Tuhanku, bagaimana Aku memberi Engkau makan, sementara Engkau adalah Tuhan alam semesta?” Allah SWT menjawab, “Bukankah engkau tahu, hamba-Ku pernah meminta makan kepada engkau, tetapi engkau tidak memberi dia makan? Bukankah andai engkau memberi dia makan, engkau mendapati diri-Ku ada di situ?” Wahai manusia, Aku pernah meminta minum kepada engkau, tetapi engkau tidak memberi Aku minum?” Manusia berkata, “Tuhanku, bagaimana aku memberi Engkau minum, sementara engkau adalah Tuhan alam semesta?” Allah SWT menjawab, “Bukankah engkau tahu, hamba-Ku pernah meminta makan kepada engkau di dunia, tetapi engkau tidak memberi dia makan? Bukankah andai engkau memberi dia makan, engkau mendapati diri-Ku ada di situ?” (HR Muslim).

Berkaitan dengan kepedulian kepada sesama Muslim, Baginda Rasulullah SAW juga pernah bersabda, sebagaimana penuturan Bara’ bin ‘Azib, “Baginda Rasulullah SAW telah memerintahkan kepada kami tujuh perkara dan melarang kami dari tujuh perkara pula. Beliau memerintahkan kami untuk: menjenguk orang sakit; mengiringi jenazah (ke kuburan); mendoakan orang yang bersin; membenarkan sumpah; menolong orang yang terzalimi; memenuhi undangan; dan menebarkan salam…” (HR al-Baihaqi).

Ditegaskan pula oleh Rasulullah SAW dalam hadits lain yang berbunyi, “Hak Muslim atas Muslim yang lain ada lima: menjawab salam; mengunjungi orang sakit; mengiringi jenazah; memenuhi undangan; mendoakan orang yang bersin.” (HR Ahmad).

Mengunjungi saudara sesama Muslim, termasuk menjenguknya saat sakit, merupakan salah satu amal terpuji. Dalam hal ini, Tsauban menuturkan bahwa Baginda Rasulullah SAW pernah bersabda, “Sesungguhnya seorang Muslim itu, jika mengunjungi saudaranya, berarti selama itu ia berada di taman surga.” (HR Muslim).

Adapun Ali ra menuturkan bahwa Baginda Rasulullah pernah bersabda, “Tidaklah seorang Muslim mengunjungi Muslim yang lain pada pagi hari, kecuali seribu malaikat mendoakan dirinya hingga sore hari. Jika ia mengunjungi Muslim yang lain pada siang hari, seribu malaikat akan mendoakannya hingga pagi hari.” (HR at-Tirmidzi).

Adapun tentang mendoakan orang yang bersin, sebagian menghukumi sunnah, dan sebagian lagi bahkan menghukumi wajib; tidak ada yang menghukumi mubah. Sebab, Rasulullah SAW pernah bersabda, “Sesungguhnya Allah menyukai orang yang bersin. Karena itu, jika salah seorang dari kalian bersin, maka hendaklah memuji Allah. Sesungguhnya hak Muslim atas Muslim lainnya, jika ia mendengarnya bersin, hendaklah menjawab (mendoakan)-nya.” (HR al-Bukhari).

Sementara itu, terkait menerbarkan salam, Baginda Rasulullah SAW dalam hadits lain tegas memerintahkan, “Sebarkanlah salam di antara kalian.” (HR Muslim).

Di antara faedah menebarkan salam adalah: asma Allah menjadi tersebar; bisa menumbuhkan rasa cinta kepada sesama Muslim; menunjukkan pelakunya rendah hati dan tidak sombong; membuktikan pelakunya memiliki kesucian hati; mewujudkan rasa kasih sayang sesama Muslim (Iqazh al-Afham fi Syarh Umadh al-Ahkam, IV/51).

Semoga kita termasuk orang yang selalu memedulikan saudara sesama Muslim.

Wama tawfiqi illa billah.








%d blogger menyukai ini: