KHILAFAH Akan Tegak

25 11 2012

khilafah akan tegak

Para musuh-musuh Islam memerlukan waktu kurang lebih 1 abad untuk benar2 dapat mencabut ideology Islam pada kaum Muslimin, yaitu pada awal2 abad ke 19 Khilafah mulai melemah hingga akhirnya pada abad ke 20 tepatnya tanggal 3 Maret 1924 Khilafah islam di Turki terakhir telah dihapuskan. Suatu peristiwa yang tlah mencabik-cabik kaum muslimin, mencerai-beraikan kesatuannya, dan menambah lemah dan kesengsaraan pada manusia. Dan tahukah kalian, melemahnya kaum muslimin hingga runtuhnya Khilafah bukannya karena sistem/ideology Islam ini salah… namun saat itu kekuatan kaum muslimin telah benar2 dilemahkan, para umat Rasul ini telah banyak berbuat maksiat dengan kemunduran berpikirnya dan menyekutukan Allah (syirik)… wajarlah ketika kemaksiatan inilah yang hingga akhirnya membuat kekalahan kaum muslimin… seperti yang pernah dikhawatirkan oleh Khalifah Umar bin Khattab dalam surat yang pernah disampaikannya kepada Sa’ad bin Abi Waqash ketika akan menghadapi sebuah pertempuran. Pada surat itu ditulis pesan sebagai berikut:

“Umar bin Kaththab ra. telah menulis sepucuk surat kepada Sa’ad bin Abi Waqash r.a.: ‘Sesungguhnya kami memerintahkan kepadamu dan kepada seluruh pasukan yang kamu pimpin, agar taqwa dalam segala keadaan, karena taqwa kepada Alloh merupakan seutama-utamanya persiapan dan strategi paling kuat dalam menghadapi pertempuran. Aku perintahkan pula kepadamu dan pasukan yang kamu pimpin agar benar-benar menjaga diri dari berbuat maksiat. Karena maksiat yang engkau perbuat pada saat berjuang lebih aku khawatirkan daripada kekuatan musuh, sebab engkau akan ditolong Alloh jika musuh-musuh Alloh telah berbuat banyak maksiat, karena jika tidak demikian kamu tidak akan punya kekuatan sebab jumlah kita tidaklah sebanyak jumlah pasukan mereka, dimana persiapan mereka berbeda dengan persiapan yang kita lakukan. Jika kita sama-sama berbuat maksiat sebagaimana yang dilakukan oleh musuh-musuh kita, maka kekuatan musuh akan semakin hebat. Sangatlah berat kita akan dapat mengalahkan musuh kita jika hanya mengandalkan pada kekuatan yang kita miliki, kecuali dengan mengandalkan ketaqwaan kita kepada Alloh dan senantiasa menjaga diri dari berbuat maksiat…” (Lihat : Kitab Al ‘Aqdul Farid jilid I, hlm. 101; Kitab Nihayatul Arab jilid VI, hlm. 168; Kitab Ikhbarul Umar wa Ikhbaru Abdullah bin Umar jilid I, hlm. 241-242; Kitab Ikbasu min Ikhbarul Khulafa Ar-Rosyidin hlm 779, serta buku Jihad tulisan Dr. Mahfudz Azzam, hlm. 28).

Kawan, Khilafah telah hilang ditengah-tengah kita selama kurang lebih 88 tahun lamanya, jikalau Khilafah berhasil diruntuhkan dan Ideologi ini telah hilang di dada2 kaum muslimin dengan usaha 1 abad oleh musuh Allah, maka tinggal sedikit lagi bagi kita dalam mengembalikannya…. Wajarlah kaum muslimin telah begitu asing dengan Islam kaffah, karena 88 tahun bukanlah waktu yang singkat untuk mencerabut ideology mulia ini dalam dada-dada mereka… namun kita harus bangkit kawan!!! Kitalah yang akan meneruskan perjuangan para mujahid mulia pejuang Islam… detik ini juga!!! Mari berazzam kawan!!!

(by_Titien Al-Mustanir)





Khilafah Islamiyah, Negara bagi umat islam sedunia

25 11 2012

kesejahteraansatu-khilafah.jpg” alt=”kesejaht” />er

Kehidupan umat Islam tanpa Daulah Khilafah penuh dengan kehinaan dan keterpurukan.? Bidang-bidang kehidupan umat seperti sosial, politik, ekonomi, budaya, dan sebagainya jauh dari aturan Allah SWT.? Umat pun tidak memiliki benteng yang mampu melindunginya, sehingga negara-negara imperialis Barat dapat terus melestarikan hegemoninya atas umat Islam.? Karenanya, eksistensi Khilafah sangatlah urgen.? Selain itu, tegaknya hukum-hukum Islam secara menyeluruh yang tak dapat sempurna terwujud tanpa Khilafah merupakan kewajiban dari Allah SWT yang tak bisa ditawar-tawar lagi.? Untuk itu, perlu ada perjuangan mengembalikan Khilafah.? Jalannya tidak dapat lain kecuali mengikuti metode Rasululah SAW.? Di samping itu, diperlukan langkah-langkah strategis ataupun praktis dalam menjalankan metode tersebut.? Menegakkan Khilafah bukan perkara utopis, karena secara i’tiqodiy dan juga berdasarkan tinjauan sejarah dan realitas kekinian, Khilafah adalah suatu keniscayaan.
?
Urgensi Penegakan Khilafah Islamiyah
Kehidupan Islam secara nyata mulai ditegakkan Rasulullah SAW di Madinah semenjak Rasulullah dan para shahabatnya berhijrah dari Makkah Al Mukarramah ke kota itu pada tahun 622 M.? Setelah beliau SAW berpulang ke haribaan Allah SWT, kehidupan Islam pun dilanjutkan oleh para sahabat di bawah pimpinan Khalifah Abu Bakar Ash Shiddiq, Umar bin Khathab, Utsman bin Affan, lalu Ali bin Abi Thalib.

Puluhan Khalifah dari kalangan Umawiyyin, Abbassiyin, dan Utsmaniyyin terus melanjutkan kehidupan Islam yang mulia itu, hingga hancurnya Daulah Khilafah Islamiyyah yang berpusat di Turki pada tanggal 3 Maret 1924,? setelah Musthofa Kamal yang murtad mengumumkan penghapusan Khilafah di hadapan Dewan Nasional Raya Turki.

Setelah itu tidak ada lagi kehidupan Islam.? Yang ada hanyalah kehidupan orang-orang Islam yang menerapkan aturan Islam sebagian kecilnya saja dan meninggalkan sebagian besar lainnya.? Yang ada hanyalah kehidupan sekuleristik yang menceraikan kehidupan dari agama.

Sejak musnahnya payung dunia Islam itu, umat Islam di berbagai belahan dunia hidup nista dan terlunta-lunta didera krisis demi krisis yang seakan tiada pernah berakhir. Wilayah Islam yang semula luas terbentang di seluruh jazirah Arab, Syam, Irak, Turki, semenanjung Balkan, sebagian Asia Tengah, Afrika Bagian Utara, bahkan sebagian Eropa Barat, Asia Tenggara dan Selatan, terpenggal-penggal menjadi lebih dari lima puluh kepingan kecil wilayah yang dikuasai oleh penjajah yang kafir.? Jazirah Arab, wilayah Syam, Irak, Asia Selatan dikuasai Inggris, Afrika Bagian Utara dikuasai Perancis, demikian halnya dengan wilayah lainnya.? Meskipun mulai dekade 40-an hingga 60-an wilayah-wilayah itu satu per satu “merdeka�, yakni terbebas dari penjajahan secara fisik (militer), tapi sesungguhnya pengaruh penjajahan tetap saja bercokol di wilayah-wilayah itu dalam berbagai bentuk penjajahan gaya baru di bidang ekonomi, sosial, politik, budaya, biologis, dan lainnya melalui para penguasa muslim yang menjadi boneka kaum imperialis.

Kaum muslimin akhirnya terpecah-belah dan bercerai-berai dalam kerangkeng puluhan negara bangsa (nation-state) dan dibelenggu oleh batas teritorial yang berbasis pada paham nasionalisme yang sempit. Sekalipun boleh jadi kaum muslimin masih memiliki perasaan ukhuwah Islamiyah, namun perasaan tersebut hanya berhenti sebatas emosi kosong belaka, yang tidak dapat diwujudkan secara konkret untuk membela kepentingan kaum muslimin yang sedang menderita di seluruh pelosok dunia, karena dihalangi oleh sikap dan orientasi politik masing-masing negara yang berhaluan nasionalistis.? Padahal Allah SWT berfirman :

“Sesungguhnya kaum mukminin itu bersaudara� (QS. Al Hujurat : 10)

Di negeri masing-masing, kaum muslimin mengalami berbagai problem yang sangat berat.? Untuk wilayah yang miskin dan melarat, kemiskinan menjadi pemandangan sehari-hari yang memprihatin-kan.? Penindasan oleh penguasa, korupsi, kedzaliman, kebodohan, kebejatan moral, dan kerusakan lingkungan ibarat cerita bersambung yang tak pernah diketahui kapan akan tamat.

Secara internasional, wilayah-wilayah itu juga tak henti-hentinya menjadi objek jarahan, eksploitasi, dan penindasan negara-negara adidaya.? Emas di Indonesia habis diangkut ke Amerika dan Kanada melalui Freeport, minyak di negara-negara Teluk tandas disedot melalui politik perdagangan yang culas dan curang.

Ternyata, semua tragedi memilukan ini bukanlah akhir cerita.? Di bidang kemanusiaan, terjadi pembantaian yang kejam terhadap kaum muslimin di Palestina, Bosnia, Kosovo, Maluku, dan wilayah lainnya.? Di bidang ekonomi, para penguasa yang sebenarnya tidak becus mengurus negara itu rela didikte secara hina tanpa berani memberikan bantahan apalagi perlawanan terhadap pihak-pihak asing yang menyetir berbagai kebijakan.? Utang luar negeri, persoalan perbankan, pergantian pejabat BUMN, rekapitalisasi perbankan, subsidi listrik dan BBM, bahkan penentuan bea masuk impor beras pun tidak lepas dari tekanan, intimidasi, dan teror negara-negara Barat melalui IMF.? Dalam bidang politik, kaum muslimin harus menerima kenyataan pahit : tidak dapat menentukan nasibnya sendiri.? Kaum muslimin di berbagai belahan dunia dipenjara aqidah dan pemikirannya dalam penjara-penjara demokrasi, hak asasi manusia, dan pluralisme.? Sekularisme menjadi paham sakral yang betul-betul disucikan dan diagung-agungkan, seolah-olah para perumusnya adalah orang-orang ma’shum yang mustahil tersentuh dosa. Ucapan-ucapan propagandisnya dianggap firman atau sabda suci yang bernilai benar secara absolut, yang haram untuk dibantah. Sebagai contoh, di Indonesia sendiri Presiden Gus Dur menyatakan bahwa agama jangan dijadikan institusi dalam kehidupan negara.Katanya, “Biarkan agama berkembang, negara tidak usah campur tangan.� (Republika, 23/3/2000).? Ketika membuka Kongres? Muslimat NU XIV di Istora Senayan hari Senin 27 Maret 2000 lalu, Gus Dur kembali menyatakan bahwa negara Islam itu tidak wajib. Selain itu, menurutnya mereka yang menghendaki negara Islam hanyalah orang-orang yang gagal memahami hakikat ajaran Islam.Dengan mulutnya Gus Dur berkata, �Saya sendiri dalam menjalankan pemerintahan juga berpegang pada keputusan para ulama, yaitu kita tidak wajib mendirikan negara Islam, melainkan wajib menegakkan keimanan Islam dan akhlak Islam di dalam diri orang-orang yang percaya. Dengan kata lain, tidak ada kewajiban mendirikan negara Islam. Kalau ini tidak diterima orang, bagi saya orang itu belum paham.� (Kompas, 28/3/2000). Agama betul-betul dikebiri secara total dan hanya diperankan secara formalitas di pojok-pojok masjid dalam perkara ibadah ritual. Dalam kehidupan, agama hanya dijadikan semacam spirit, etika, moral, semangat, ruh, atau entah istilah apa lagi yang intinya adalah mengingkari peran Islam secara total dan holistik untuk mengatur kehidupan manusia.? Dalam bidang pendidikan, putera-puteri kaum muslimin terus dicekoki dan didoktrinasi dengan persepsi-persepsi kapitalis yang penuh dengan? kerancuan dalam sistem pendidikan sekuler yang serba materialistik.? Diskursus pemikiran dan budaya yang sangat berbahaya dan bertentangan dengan Islam seperti dialog antar agama dibiarkan merajalela untuk meracuni, membodohi, dan memurtadkan? kaum muslimin.

Semua krisis ini menunjukkan betapa keroposnya pertahanan umat Islam menghadapi hegemoni negara-negara Barat dan segenap agen-agennya dari kalangan penguasa yang zalim dan kejam.? Umat Islam yang jumlahnya lebih dari? 1,2 milyar tak ubahnya bagai lautan buih yang tak memiliki kekuatan apa-apa.? Realitas demikian sungguh bertolak belakang? 180 derajat dengan kondisi umat yang sedemikian jaya saat Daulah Khilafah Islamiyah tegak selama lebih dari 1000 tahun.

Jelaslah, tanpa Daulah Khilafah Islamiyah (biasa disingkat Khilafah) kaum muslimin akan hidup bergelimang dengan kehinaan dan keterpurukan. Mereka terpecah belah menjadi puluhan negara, kekayaannya dirampok dan diangkut ke luar negeri, kezhaliman negara-negara imperialis Barat tak mampu dilawan, hukum-hukum kufur merajalela dengan leluasa,? dan anak cucu Adam semakin jauh dari sifat fitri kemanusiaannya. Sementara itu hukum-hukum Allah yang adil, agung, dan mulia teronggok secara nista hanya dalam kitab-kitab fiqih yang usang dan berdebu. Kalaupun dikaji, hukum-hukum yang mulia itu hanya sekedar menjadi pengetahuan dan konsumsi otak belaka, jauh dari penerapannya dalam kehidupan nyata.

Pada gilirannya, kaum muslimin akan terhalang untuk taat melaksanakan aturan-aturan Islam dalam setiap aspek kehidupan.? Padahal, untuk itulah sebenarnya manusia diciptakan.? Allah SWT berfirman :

“Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia selain untuk beribadah kepada-Ku.�(QS. Adz Dzariyat:56).?

Berdasarkan semua uraian ini, tak dapat disangkal lagi, bahwa tegaknya Daulah Khilafah Islamiyah memang sesuatu yang sangat urgen bagi kaum muslimin.

Menegakkan Khilafah : Wajib
Secara ringkas, Imam Taqiyyuddin An Nabhani mendefinisikan Daulah Khilafah sebagai kepemimpinan umum bagi seluruh kaum muslimin di dunia untuk menegakkan hukum-hukum Syariat Islam dan mengemban risalah Islam ke seluruh penjuru dunia (Imam Taqiyyuddin An Nabhani, Nizhamul Hukmi fil Islam, hal. 17).

Dari definisi ini, jelas bahwa Daulah Khilafah adalah hanya satu untuk seluruh dunia.? Karena nash-nash syara’(nushush syar’iyah) memang menunjukkan kewajiban umat Islam untuk bersatu dalam satu institusi negara. Sebaliknya haram bagi mereka hidup dalam lebih dari satu negara.

Kewajiban tersebut didasarkan pada nash-nash Al Qur`an, As Sunnah, Ijma’ Shahabat, dan Qiyas. Dalam Al Qur`an Allah SWT berfirman :
“Dan berpeganglah kalian semuanya dengan tali (agama) Allah, dan janganlah kalian bercerai berai…� (QS Ali �Imraan : 103)?

Rasulullah SAW dalam masalah persatuan umat ini bersabda :
“Barangsiapa mendatangi kalian sedang urusan (kehidupan) kalian ada di bawah kepemimpinan satu orang (Imam/Khalifah) dan dia hendak memecah belah kesatuan kalian dan mencerai-beraikan jamaah kalian, maka? bunuhlah dia!� (HR. Muslim)

Rasulullah SAW bersabda :
“Jika dibai’at dua orang Khalifah, maka bunuhlah yang terakhir dari keduanya.� (HR. Muslim)

Rasulullah SAW bersabda :
“Barangsiapa membai’at seorang Imam (Khalifah), lalu memberikan genggaman tangannya dan menyerahkan buah hatinya, hendaklah ia mentaatinya semaksimal mungkin.? Dan jika datang orang lain hendak mencabut kekuasaannya, penggallah leher orang itu.�? (HR. Muslim)
?
Di samping itu, Rasulullah SAW menegaskan pula dalam perjanjian antara kaum Muhajirin-Anshar dengan Yahudi :

“Dengan nama Allah, Yang Maha Pengasih lagi MahaPenyayang. Surat Perjanjian ini dari Muhammad —Nabi antara orang-orang beriman dan kaum muslimin dari kalangan Quraisy dan Yatsrib serta yang mengikut mereka dan menyusul mereka dan berjihad bersama-sama mereka bahwa mereka adalah ummat yang satu, di luar golongan orang lain…â€? (Lihat Sirah Ibnu Hisyam, Jilid II, hal. 119)

Nash-nash Al Qur`an dan As Sunnah di atas menegaskan adanya kewajiban bersatu bagi kaum muslimin atas dasar Islam (hablullah) bukan atas dasar kebangsaan atau ikatan palsu lainnya yang direkayasa penjajah yang kafir di bawah satu kepemimpinan, yaitu seorang Khalifah. Dalil-dalil di atas juga menegaskan keharaman berpecah-belah, di samping menunjukkan pula jenis hukuman syar’i bagi orang yang berupaya memecah-belah umat Islam menjadi beberapa negara, yakni hukuman mati.

Selain Al Qur`an dan As Sunnah, Ijma’ Shahabat pun menegaskan pula prinsip kesatuan umat di bawah kepemimpinan seorang Khalifah. Abu Bakar Ash Shiddiq? suatu ketika pernah berkata,�Tidak halal kaum muslimin mempunyai dua pemimpin (Imam).� Perkataan ini didengar oleh para shahabat dan tidak seorang pun dari mereka yang mengingkarinya, sehingga menjadi ijma’di kalangan mereka.

Bahkan sebagian fuqoha menggunakan Qiyas sumber hukum keempat untuk menetapkan prinsip kesatuan umat. Imam Al Juwaini berkata,�Para ulama kami (madzhab Syafi’i) tidak membenarkan akad Imamah (Khilafah) untuk dua orang…Kalau terjadi akad Khilafah untuk dua orang, itu sama halnya dengan seorang wali yang menikahkan seorang perempuan dengan dua orang laki-laki!�

Artinya, Imam Juwaini mengqiyaskan keharaman adanya dua Imam bagi kaum muslimin dengan keharaman wali menikahkan seorang perempuan dengan dua orang lelaki yang akan menjadi suaminya. Jadi, Imam/Khalifah untuk kaum muslimin wajib hanya satu, sebagaimana wali hanya boleh menikahkan seorang perempuan dengan satu orang laki-laki, tidak boleh lebih. (Lihat Dr, Muhammad Khair, Wahdatul Muslimin fi Asy Syari’ah Al Islamiyah, majalah Al Wa’ie, hal. 6-13, no. 134, Rabi’ul Awal 1419 H/Juli 1998 M)

Jelaslah bahwa kesatuan umat di bawah satu Khilafah adalah satu kewajiban syar’i yang tak ada keraguan lagi padanya. Karena itu, tidak mengherankan bila para imam-imam madzhab Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i, dan Imam Ahmad bersepakat bulat bahwa kaum muslimin di seluruh dunia hanya boleh mempunyai satu orang Khalifah saja, tidak boleh lebih :

“…para imam madzhab (Abu Hanifah, Malik, Syafiâ€?i, dan Ahmad) rahimahumullah bersepakat pula bahwa kaum mulimin di seluruh dunia pada saat yang sama tidak dibenarkan mempunyai dua imam, baik keduanya sepakat maupun tidak.â€?(Lihat Syaikh Abdurrahman Al Jaziri, Al Fiqh â€?Ala Al Madzahib Al Arba’ah, jilid V, hal. 416)

Hukum menegakkan Khilafah itu sendiri adalah wajib, tanpa ada perbedaan pendapat di kalangan imam-imam madzhab dan mujtahid-mujtahid besar yang alim dan terpercaya.

Siapapun yang menelaah dalil-dalil syar’i dengan cermat dan ikhlas akan menyimpulkan bahwa menegakkan Daulah Khilafah hukumnya wajib atas seluruh kaum muslimin.? Di antara argumentasi syar’i yang menunjukkan hal tersebut adalah :

Dalil dari Al Quran.? Di dalam Al Quran memang tidak terdapat istilah Daulah Khilafah.? Tetapi di dalam Al Quran terdapat ayat yang menunjukkan wajibnya umat memiliki pemerintahan/ negara (ulil amri) dan wajibnya menerapkan hukum dengan hukum-hukum yang diturunkan Allah SWT.?
Allah SWT berfirman :

“Wahai orang-orang yang beriman, taatlah kalian kepada Allah dan taatlah kalian kepada Rasul-Nya dan ulil amri di antara kalian.� (QS An Nisaa` : 59)

Ayat di atas telah memerintahkan kita untuk mentaati Ulil Amri, yaitu Al Haakim (Penguasa). Perintah ini, berarti perintah pula untuk mengadakan atau mengangkat Ulil Amri itu, seandainya Ulil Amri itu tidak ada, sebab tidak mungkin Allah memerintahkan kita untuk mentaati pihak yang eksistensinya tidak ada.

Di samping itu, Allah SWT telah memerintah-kan Rasulullah SAW untuk mengatur urusan kaum muslimin berdasarkan dengan apa yang diturunkan Allah SWT. Firman Allah SWT :

“Maka putuskanlah perkara di antara di antara mereka dengan apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka (dengan) meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu.�? (QS Al Maidah : 48).

“Dan putuskanlah perkara di antara di antara mereka dengan apa yang diturunkan Allah dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka supaya mereka tidak memalingkan kamu dari apa yang telah diturunkan Allah kepadamu�? (QS? Al Maidah: 49).

Perintah Allah kepada Rasulullah juga merupakan perintah kepada umat selama tidak ada dalil yang mengkhususkan perintah ini hanya untuk Rasulullah. Dalam hal ini tidak ada dalil yang mengkhususkan perintah tersebut kepada Rasulullah SAW.? Oleh karena itu, ayat-ayat tersebut bersifat umum, yang memerintahkan kaum muslimin untuk menerapkan hukum-hukum Allah SWT di segala bidang, dalam sistem sosial, politik, ekonomi, budaya, dan lain-lain. Hal ini tidak mungkin terlaksana tanpa adanya kekuasaan negara. Dengan demikian, ayat-ayat ini menunjukkan wajibnya keberadaan sebuah negara untuk menjalankan semua hukum Islam, yaitu negara Khilafah.

Dalil dari As Sunnah.? Abdullah bin Umar meriwayatkan, “Aku mendengar Rasulullah mengatakan, ’Barangsiapa melepaskan tangannya dari ketaatan kepada Allah, niscaya? dia akan menemui Allah di Hari Kiamat dengan tanpa alasan. Dan barangsiapa mati sedangkan di lehernya tak ada bai’ah (kepada Khalifah) maka dia mati dalam keadaan mati jahiliyah�? (HR. Muslim).?

Hadits ini menunjukkan kewajiban mengangkat seorang Khalifah, yang dengannya dapat terwujud bai’at di leher setiap muslim. Sebab bai’at baru ada di leher kaum muslimin kalau terdapat Khalifah/Imam yang memimpin Khilafah.

Rasulullah SAW bersabda pula :
“Barangsiapa membai’at seorang Imam (Khalifah), lalu memberikan genggaman tangannya dan menyerahkan buah hatinya, hendaklah ia mentaatinya semaksimal mungkin.? Dan jika datang orang lain hendak mencabut kekuasaannya, penggallah leher orang itu.�? (HR. Muslim)

Rasulullah SAW bersabda :
“Bahwasanya Imam itu bagaikan benteng (perisai/ tameng), dari belakangnya umat berperang dan dengannya umat berlindung�? (HR Muslim)

Rasulullah SAW bersabda :
“Dahulu para nabi yang mengurus Bani Israil.? Bila wafat seorang? nabi diutuslah nabi berikutnya, tetapi tidak ada lagi nabi setelahku.? Akan ada para Khalifah dan jumlahnya akan banyak.� Para shahabat bertanya,�Apa yang engkau perintahkan kepada kami?? Nabi menjawab,’Penuhilah bai’at yang pertama dan yang pertama itu saja.? Penuhilah hak-hak mereka.? Allah akan meminta pertanggungjawaban terhadap apa yang menjadi kewajiban mereka.�

Rasulullah SAW bersabda :
“Bila seseorang melihat sesuatu yang tidak disukai dari amirnya (pemimpinnya) maka bersabarlah.? Barangsiapa memisahkan diri dari penguasa (pemerintahan Islam) walau sejengkal saja lalu ia mati, maka matinya adalah mati jahiliyah� (HR. Bukhari – Muslim).

Hadits-hadits Nabi ini menunjukkan bahwa yang mengelola urusan kaum muslimin adalah Imam/Khalifah. Demikian pula Rasulullah SAW menjelaskan bahwa para Khalifahlah yang merupakan benteng umat. Selain itu, secara gamblang ditegaskan adanya larangan meninggalkan pemerintahan Islam (sulthan).

Semua ini merupakan penjelasan tentang wajibnya keberadaan penguasa kaum muslimin, yaitu Imam atau Khalifah.? Wajib adanya Khalifah berarti pula wajib adanya daulah.? Bagaimana mungkin ada kepala negara tanpa adanya negara.

Dengan demikian, kewajiban kaum muslimin memiliki daulah yang dipimpin oleh Khalifah adalah perkara yang tidak perlu diragukan lagi.? Dengan kata lain, wajib kaum muslimin memiliki satu Daulah Khilafah.

Dalil dari Ijma’ Shahabat. Sebagai sumber hukum Islam ketiga, Ijma’ Shahabat menunjukkan bahwa mengangkat seorang pemimpin pengganti Rasulullah SAW hukumnya wajib.? Mereka telah sepakat mengangkat Khalifah Abu Bakar Ash Shiddiq, Umar bin Khaththab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib, ridlwanullah �alaihim.

Kesepakatan para sahabat dalam pengangkatan seorang Khalifah terwujud dengan sungguh-sungguh pada saat Rasulullah SAW wafat.? Para sahabat menunda pemakaman jenazah Rasulullah SAW dan menyibukkan diri mereka untuk mengangkat seorang pengganti beliau.? Padahal telah diketahui bahwa pemakaman jenazah seseorang adalah fardlu dan merupakan dosa bagi mereka untuk menyibukkan diri dalam urusan-urusan lain sampai mereka selesai mengurus jenazah.? Tetapi, justru sebagian sahabat menyibukkan diri dalam pengangkatan seorang Khalifah walaupun mereka berkewajiban mengurus jenazah Rasulullah SAW.? Sahabat yang lain mendiamkan perbuatan mereka dan menyetujui penundaan penguburan selama dua malam meskipun mereka mampu menyalahkan penundaan dan mampu untuk menguburkan Rasulullah SAW.

Perbuatan sahabat ini merupakan Ijma’ mereka tentang lebih pentingnya mengangkat Khalifah daripada penguburan jenazah seseorang.

Dalil dari Kaidah Syar’iyah.Bahkan dilihat dari analisis ushul fiqih, mengangkat Khalifah juga wajib.? Dalam ushul fiqih dikenal kaidah syar’iyah yang disepakati para ulama :

“Sesuatu kewajiban yang tidak sempurna kecuali adanya sesuatu, maka sesuatu itu wajib pula keberadaannya.�?

Menerapkan hukum-hukum yang berasal dari Allah SWT dalam segala aspeknya adalah wajib.? Sementara hal ini tidak dapat dilaksanakan dengan sempurna tanpa adanya kekuasaan Islam yang dipimpin oleh seorang Khalifah.? Maka dari itu, berdasarkan kaidah syar’iyah tadi, eksistensi Khilafah hukumnya menjadi wajib.

Jelaslah, berbagai sumber hukum Islam tadi menunjukkan bahwa menegakkan Daulah Khilafah merupakan kewajiban dari Allah SWT atas seluruh kaum muslimin.

Seluruh imam madzhab dan para mujtahid besar tanpa kecuali telah bersepakat bulat akan wajibnya Khilafah (atau Imamah)? ini.? Syaikh Abdurrahman Al Jaziri menegaskan hal ini dalam kitabnya Al Fiqh �Ala Al Madzahib Al Arba’ah, jilid V, hal. 416:

“Para imam madzhab (Abu Hanifah, Malik, Syafiâ€?i, dan Ahmad) rahimahumullah telah sepakat bahwa Imamah (Khilafah) itu wajib adanya, dan bahwa ummat Islam wajib mempunyai seorang imam (khalifah,) yang akan meninggikan syiar-syiar agama serta menolong orang-orang yang tertindas dari yang menindasnya…â€?

Tak hanya kalangan Ahlus Sunnah saja yang mewajibkan Khilafah, bahkan seluruh kalangan Ahlus Sunnah dan Syiah termasuk Khawarij dan Mu’tazilah tanpa kecuali bersepakat tentang wajibnya mengangkat seorang Khalifah.? Kalau pun ada segelintir orang yang tidak mewajibkan Khilafah, maka pendapatnya itu tidak perlu dianggap, karena bertentangan dengan nash-nash syara’ yang telah jelas.
Imam Asy Syaukani dalam Nailul Authar jilid 8 hal. 265 mengatakan :

“Menurut golongan Syi’ah, mayoritas Mu’tazilah dan Asy’ariyah, (Khilafah) adalah wajib menurut syara’.”

Ibnu Hazm dalam Al Fashl fil Milal WalAhwa’ Wan Nihal juz 4 hal. 87 mengatakan :

“Telah sepakat seluruh Ahlus Sunnah, seluruh Murji’ah, seluruh Syi’ah, dan seluruh Khawarij, mengenai wajibnya Imamah (Khilafah)…â€?

Bahwa Khilafah adalah sebuah sebuah ketentuan hukum Islam yang wajib bukan haram apalagi bid’ah— dapat kitab temukan dalam khazanah? Tsaqafah Islamiyah yang sangat kaya. Berikut ini sekelumit referensi yang menunjukkan kewajiban Khilafah : Imam Al Mawardi,? Al Ahkamush Shulthaniyah,? hal.5, Abu Ya’la Al Farraa’, Al Ahkamush Shulthaniyah, hal.19, Ibnu Taimiyah, As Siyasah Asy Syar’iyah, hal.161, Ibnu Taimiyah, Majmu’ul Fatawa,? jilid 28 hal. 62, Imam Al Ghazali, Al Iqtishaad fil I’tiqad,hal. 97, Ibnu? Khaldun, Al Muqaddimah, hal.167,? Imam Al Qurthubi, Tafsir Al Qurthubi, juz 1 hal.264, Ibnu Hajar Al Haitsami, Ash Shawa’iqul Muhriqah,? hal.17, Ibnu Hajar A1 Asqallany, Fathul Bari, juz 13 hal. 176,Imam An Nawawi,? Syarah Muslim, juz 12 hal. 205, Dr. Dliya’uddin Ar Rais, Al Islam Wal Khilafah, hal.99, Abdurrahman Abdul Khaliq,? ? Asy Syura, hal.26, Abdul Qadir Audah,? Al Islam Wa Audla’una As Siyasiyah, hal. 124, Dr. Mahmud Al Khalidi,? Qawaid Nizham Al Hukum fil Islam, hal. 248, Sulaiman Ad Diji,? Al Imamah Al ‘Uzhma, hal.75, Muhammad Abduh, Al Islam Wan Nashraniyah, hal. 61, dan masih banyak lagi yang lainnya.

Adapun buku-buku yang mengingkari wajibnya Khilafah –seperti Al Islam Wa Ushululul Hukm oleh Ali Abdur Raziq, Mabadi` Nizham Al Hukmi fil Islam oleh Abdul Hamid Mutawalli, Tidak Ada Negara Islam oleh Nurcholis Madjid—sebenarnya tidak perlu dianggap sebagai buku yang serius dan bermutu. Sebab isinya bertentangan dengan nash-nash syara’ yang demikian jelas dan terang. Buku-buku seperti ini tak lain hanya penyambung lidah kaum kafir penjajah –dan agen-agennya yaitu para penguasa muslim yang zalim yang selalu memaksakan Sekulerisme kepada umat Islam, dengan tujuan untuk menghapuskan hukum-hukum Islam dari muka bumi dengan cara menghapuskan ide Khilafah yang bertanggung jawab melaksanakan hukum-hukum tersebut.

Langkah Menuju Daulah Khilafah
Setiap gerak-gerik manusia akan dihisab oleh Allah SWT.? Oleh karenanya, dalam setiap perbuatan semua muslim diperintahkan Allah SWT terikat dengan aturan-Nya yang dibawa dan dicontohkan oleh Rasulullah SAW, termasuk dalam menentukan jalan menuju Daulah Khilafah.? Firman-Nya :

“Sungguh telah ada pada diri Rasulullah suatu teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharapkan (keridlaan) Allah dan hari kemudian, serta banyak mengingat Allah.� (QS Al Ahzab : 21).?

Merujuk kepada apa yang dicontohkan Rasulullah dalam membangun Daulah Islamiyah, nampak bahwa yang pertama kali beliau lakukan adalah pembinaan umat (tatsqif).? Sejak ditutus Allah SWT, Rasulullah membina individu-individu saat itu sehingga memiliki kepribadian Islam.? Orang-orang yang menerima dakwahnya dikumpulkan di rumah Al Arqam bin Abi Al Arqam untuk dikader.? Selain itu, orang-orang tersebut berupaya juga untuk menyampaikan dakwah kepada orang lain.? Bahkan ada yang diutus, seperti Khabbab bin Arts yang mengajarkan Al Quran kepada Fatimah binti Khathab bersama suaminya.

Terbentuklah kemudian kekuatan politik yang dibangun Rasulullah.? Para shahabat menyatu dalam satu barisan yang kokoh, bersama-sama menyampaikan dakwah Islam.? Kelompok para shahabat dibawah pimpinan Rasulullah SAW ini lebih nampak ke permukaan sebagai sebuah kekuatan bersama sejak beliau menerima wahyu dalam surat Al Hijr ayat 94 :

“Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala yang diperintahkan (kepadamu), dan berpalinglah dari orang-orang musyrik.â€? (QS Al Hijr 😕 94)

Turunnya ayat ini menjadi pertanda bahwa yang dilakukan Nabi bukan hanya pembinaan, namun juga berinteraksi (tafa’ul) dengan masyarakat luas untuk menyampaikan Islam secara terbuka. Semua orang tahu bahwa ketika itu beliau langsung menampakkan risalahnya secara terang-terangan dengan mengajak orang-orang Quraisy pergi berkumpul ke bukit Shafa.Lalu, beliau menyampaikan kepada mereka tentang kenabiannya dan meminta mereka mengimaninya. Berikutnya, beliau dan shahabatnya menentang orang-orang Quraisy, sesembahan mereka, keyakinan-keyakinan dan ide-ide mereka dengan cara menjelaskan kepalsuan dan kerusakannya.? Ayat-ayat Al Quran pun turun menyerang kebiasaan mereka, seperti kebiasaan memakan harta riba, mengubur hidup-hidup anak perempuan, curang dalam timbangan, perzinahan.? Al Quran menyerang para pemimpin dan tokoh-tokoh Quraisy, memberinya predikat sebagai orang-orang bodoh disertai dengan pengungkapan persekongkolan-persekongkolan yang mereka rencanakan untuk menentang Rasulullah SAW, dakwah beliau, dan para shahabatnya.

Beliau pun senantiasa berupaya mendapatkan dukungan dari kalangan pemimpin-pemimpin qabilah.? Sampai akhirnya, beliau mendapatkan dukungan dari penduduk Madinah (golongan Aus dan Khazraj).? Allah SWT pun memerintahkan Rasulullah berhijrah ke Madinah untuk memasuki tahap ketiga dalam perjuangan beliau, yaitu penerapan (tathbiq) Islam secara nyata dalam sebuah negara dan masyarakat Islam di Madinah.? Sejak itu terbentuklah tatanan masyarakat Islam dalam sebuah Daulah Islamiyah.? Wahyu pun kemudian turun menyangkut berbagai persoalan kehidupan bernegara dan bermasyarakat, seperti ayat-ayat tentang hukum, ekonomi, sosial, pendidikan, dan pemerintahan.

Berdasarkan sirah Nabi SAW itu, dapat disimpulkan bahwa metode syar’i untuk mengubah masyarakat tidak Islami menjadi masyarakat Islami akan melalui 3 (tiga) tahap.

Pertama, Marhalah Tatsqif yaitu tahap pembinaan dan pengkaderan. Dari segi individu, pembinaan ditujukan untuk membentuk muslim yang berkepribadian Islam, yakni seseorang yang berpikir dan berperilaku Islami.? Ia tidak berpikiran kecuali sesuai dengan Aqidah Islam, dan tidak berperilaku kecuali sesuai dengan Syariat Islam. Harus ditanamkan pemahaman Aqidah yang benar dan kuat beserta segenap konsekuensi dari orang yang telah beraqidah Islam, yakni taat kepada Syariat.? Juga, ditanamkan pemahaman atas Syariat itu sendiri dalam persoalan ibadah, pakaian, makanan, minuman, bergaul, bermuamalah, dan bernegara.? Lebih jauh lagi, pembinaan ini ditujukan untuk menyadarkan masyarakat bahwa seharusnya masyarakat ini diatur sesuai dengan syarit Islam.

Dari segi komunitas, pembinaan kepada umat ditujukan agar setiap muslim yang telah berkepribadian Islam tadi terorganisir dalam sebuah kelompok (takattul) yang bergerak secara politik untuk melakukan upaya perubahan masyarakat ke masyarakat Islam dalam Daulah Khilafah.

Kedua, Marhalah Tafa’ul Ma’al Ummah (berinteraksi dengan masyarakat), yaitu tahap berinteraksi dengan masyarakat dengan umat agar umat turut memikul kewajiban dakwah, sehingga mereka akan menjadikan Islam sebagai masalah utama hidupnya, serta berusaha untuk menerapkannya dalam kehidupan bernegara dan bermasyarakat.? Satu hal yang penting diingat, pembinaan dan pengkaderan pun terus berlangsung tanpa henti dalam tahapan ini.

Ketiga, Marhalah Istilam Al Hukmi, yaitu tahap pengambilalihan kekuasaan, dan penerapan Islam secara utuh serta menyeluruh melalui Daulah Khilafah, lalu mengemban Islam sebagai risalah ke seluruh penjuru dunia melalui dakwah dan jihad fi sabilillah.

Dalam prakteknya, perlu ada langkah-langkah strategis ataupun praktis saat menjalani dan menempuh tahapan-tahapan tadi.?

Relevankah Ide Khilafah dengan Situasi dan Kondisi Yang Ada Sekarang ?
Ditinjau dari status, ide Khilafah itu wajib diperjuangkan.? Adapun dilihat dari realitas saat ini, ide Khilafah sangatlah relevan.? Hal ini dapat dilihat dari beberapa indikasi, di antaranya :

Pertama, ideologi yang ada di dunia kini sebenarnya hanya ada 3 (tiga) : Islam, Kapitalisme, dan Sosialisme.? Sosialisme, secara politis, telah tumbang akarnya pada awal tahun 90-an, saat luluh lantahnya Uni Sovyet.? Hal ini merupakan fakta yang menjelaskan kegagalan sosialisme dalam mengurusi masyarakat.? Bila dihitung dari kelahirannya sekitar tahun 1917, kurang lebih hanya ?¾? abad Sosialisme berkuasa.

Di sisi lain, Kapitalisme yang didalangi oleh Amerika Serikat tengah melaju meninggalkan kemanusiaan.? Memang benar, dilihat dari sudut kemajuan budaya materil, pertumbuhan ekonomi, dan perkembangan sains sungguh menakjubkan.? Namun, dalam perkara jati diri manusia tengah berada di titik nadir. Perbudakan hawa nafsu, ketidakadilan, kehidupan liar melebihi hewan, sikap materialistik, konsumtif, hedonistik, dan machiavelis merupakan buah dari sistem Kapitalis yang rusak.? Dengan diatur oleh sistem ini manusia semakin mendekati sifat dan perilaku hewan.? Belum 2 abad berkuasa, kehancuran terjadi dalam segala aspek kehidupan.? Lantas, mau lari kemana ?? Bukankah hanya ada satu jalan solusi : Islam ?

Kedua, saat ini jaman globalisasi.? Dunia menjadi sebuah dusun kecil.? Semua bangsa berupaya untuk menyatu.? Amerika Serikat, misalnya, semakin berupaya untuk menyatukan dunia dibawah cengkramannya lewat Perserikatan Bangsa-Bangsa.? Lalu, 12 negara Eropa menandatangani Perjanjian Maastricht 1992 yang memuat pokok penyatuan Eropa mencakup : kesatuan moneter Eropa, kewarganegaraan Eropa Bersatu, imigrasi, pemberian visa, politik luar negeri, dan keamanan bersama, pengadilan, dan urusan dalam negeri.? Sementara, NATO tetap dipertahankan sekalipun Pakta Warsawa yang merupakan seterunya telah musnah.? Di sisi lain, Hongkong telah kembali kepada Cina, sementara Taiwan terus diupayakan untuk disatukan dengan Cina.

Semua ini memberikan gambaran gagalnya konsep negara-bangsa (nation state).? Sekalipun negara-negara besar menggembar-gemborkan konsep itu, namun dalam prakteknya mereka justru melebarkan sayapnya ke pelosok dunia.? Jadi, kini bukan lagi jaman nasional, melainkan jaman mendunia dan mondial. Khilafah itu sendiri, adalah sistem pemerintahan untuk umat Islam yang bersifat universal dan mondial, bukan untuk segolongan bangsa, ras, atau penganut madzhab tertentu.

Khilafah Bukan Utopia
Boleh jadi ada sebagian orang yang sinis dan menyebarluaskan sikap pesimis bahwa Khilafah adalah suatu hal yang utopis, yang mustahil terwujud. Orang-orang seperti ini meragukan dan meragu-ragukan orang lain perihal keberhasilan tegaknya Daulah Khilafah di era modern sekarang.?

Apakah Khilafah hal yang utopis? Benar, akan jadi utopis bila tidak diperjuangkan atau sekedar diomongkan saja sambil lalu. Tetapi bila diperjuangkan dengan teguh, insya Allah cita-cita itu akan tercapai juga suatu saat.

Bagi orang-orang yang yakin akan janji Allah SWT dan mampu mengabstraksikan apa yang terjadi saat ini untuk masa depan, Khilafah bukan suatu utopia, apalagi ide yang gila.? Rasa optimisme ini didasarkan pada beberapa hal berikut :

Pertama, secara i’tiqodi? Allah SWT berulang kali menegaskan janji-Nya bahwa kemenangan akan dapat diraih oleh orang yang menolong (agama) Allah dengan berupaya menegakkan hukum-hukum-Nya di muka bumi ini. Allah SWT memfirmankan :

? “Apabila kalian menolong (agama) Allah, maka (pasti) Allah akan memberi kalian kemenangan� (QS. Muhammad? : 7).

Selain itu, Allah SWT mengabarkan bahwa Daulah Khilafah Islamiyah akan tegak lagi.? Padahal Allah SWT adalah Dzat Maha Tahu, dan mustahil dusta.? Di antara kabar syar’i tersebut adalah :

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal shalih (diantaranya berjuang menegakkan Islam di muka bumi) bahwa Dia sungguh pasti menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa.? Dan sungguh Dia pasti meneguhkan bagi mereka dien yang telah diridlai-Nya (Islam) untuk mereka.? Dan Dia benar-benar akan menukar keadaan mereka mereka dalam ketakutan menjadi mana sentausa, (dengan syarat) mereka tetap menyembah-Ku dengan tidak mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku.? Dan siapa saja yang (tetap) kafir sesudah janji itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik�? (QS. An Nur? : 55).

Rasulullah SAW bersabda :

“Telah datang suatu masa kenabian atas kehendak Allah kemudian berakhir.? Setelah itu akan datang masa Khilafah Rasyidah sesuai dengan jalan kenabian, atas kehendak Allah, kemudian akan berakhir.? Lalu, akan datang masa kekuasaan yang terdapat di dalamnya banyak kezhaliman, atas kehendak Allah, kemudian berakhir pula.? Lantas, akan datang zamannya para diktator (mulkan adludan), atas kehendak Allah, akan berakhir juga.? Kemudian (terakhir), akan datang kembali masa Khilafah Rasyidah yang mengikuti jalan kenabian.�? (HR. Imam Ahmad dan Al Bazzar)

Juga, dicatat sejarah bahwa shahabat pernah bertanya kepada Nabi SAW : “Ya, Rasulullah, kota manakah yang akan lebih dahulu ditundukan, Konstantinopel ataukah Roma ?�? Rasulullah pun menjawab : “Kota Heraklius (Konstantinopel) yang akan ditundukan terlebih dahulu.� (HR. Ahmad dan Ad Darmi).

Sejarah mencatat bahwa Konstantinopel pernah ditundukan oleh pasukan kaum muslimin tahun 1453 M. Sekarang namanya Istambul, di Turki.? Sementara, Roma belum pernah ditaklukan.? Jadi, Insya Allah, penaklukan Roma pun akan terjadi suatu saat nanti, bila Khilafah telah kembali !

Berdasarkan semua ini, setiap muslim yang benar-benar yakin kepada janji Allah SWT sadar betul bahwa Khilafah akan kembali.? Kebanyakan orang percaya atau tidak Daulah Khilafah akan tegak kembali, dengan seizin Allah.? Sebab, Allahlah yang telah mengabarkan hal ini kepada seluruh umat manusia.

Kedua, secara faktual, suatu ideologi akan mengungguli ideologi yang lain apabila ideologi tersebut makin lama makin menguat, sementara ideologi lawannya makin lama makin melemah.? Pada titik di mana ideologi tersebut kuat dan ideologi lawannya pada posisi lemah, pada saat itulah ideologi tersebut mendapatkan kemenangan.

Realitas saat ini dengan jelas menunjukkan bahwa ideologi Sosialisme telah hancur.? Sementara, Kapitalisme sedang banyak diprotes termasuk oleh pendukungnya sendiri.? Kehancuran akibat penerapan Kapitalisme pun semakin gamblang di depan mata.? Di sisi lain, tambal sulam Kapitalisme dengan Sosialisme pun terus terjadi. Semua ini meng-isyaratkan Kapitalis sedang mengalami pembusukan dan meluncur cepat menuju jurang kehancuran.

Pada saat yang sama, semangat keislaman kaum muslimin semakin jelas terlihat.? Kalau dulu agak risi menampakkan keislaman, sekarang malah sebaliknya.? Buku-buku Islam makin banyak digemari, pengajian dimana-mana, tuntutan penerapan Islam kian nyaring terdengar, dan para pengemban dakwah dengan gagah bermunculan di mana-mana.? Di sisi lain, kekhawatiran Barat akan kebangkitan Islam semakin menggunung dan menggumpal.? Tentu saja, hal ini bukan tanpa alasan.? Mereka tahu fakta bangkitnya Islam dan kaum muslimin. Munculnya tuduhan-tuduhan fundamentalis, teroris, ataupun ekstremis menunjukkan ketakutan mereka akan kekuatan Islam yang makin membesar. Sebaliknya, Kapitalisme semakin keropos.? Suatu ketika, insya Allah, Islam benar-benar kuat dan menang.? Ini semua adalah realitas dan keniscayaan yang terus berjalan.

Ketiga, secara historis, sejarah menunjukkan bahwa perubahan yang besar seperti berkobarnya revolusi dan berdirinya negara seperti halnya berdirinya Khilafah nanti bukanlah suatu hal yang utopis apalagi mustahil.

Ketika paham Komunisme tahun 1848 dicetuskan oleh Karl Marx dan Engels dengan Manifesto Komunis-nya, masyarakat menyambut dingin.? Mungkin saja saat itu masyarakat mengatakan negara Komunis adalah utopis. Namun, setelah terus diupayakan dan? berkobar Revolusi Bolshevik, tegaklah negara Uni Soviet tahun 1917.

Tahun 1898 saat Konferensi Zionisme di Bazel (Swiss) kaum zionis belum punya negara. Orang bisa berkata bahwa mendirikan negara Yahudi adalah suatu kemustahilan melihat konteks dan konstelasi politik internasional saat itu, di mana Khilafah Utsmaniyah masih tegak berdiri. Namun toh pada tahun 1948 Israel terlaknat berhasil mendirikan sebuah negara setelah menjarah bumi Palestina yang suci dan diberkahi.

Juga saat Indonesia dijajah Belanda, tidak terbayang kita akan dapat “merdeka�.? Bagi sebagian orang, “merdeka� dari Belanda adalah utopis !? Tapi realitasnya,? Belanda berhasil diusir dan kemudian berdirilah apa yang disebut-sebut dengan Republik Indonesia.

? Jadi, sesuatu yang dikatakan utopis oleh seseorang belum tentu memang benar utopis.? Sebab, boleh jadi sikap utopisnya itu lahir dari tipisnya keimanan yang ada pada dirinya, sempitnya wawasan yang dimilikinya dalam memandang realitas sejarah dan realitas kekinian, ketakmampuannya merumuskan idealitasnya dalam konsep dan metode yang jelas, serta ketidakbecusannya dalam mewujudkan visi-visinya.

Khatimah
Tanpa kehidupan Islam di bawah naungan negara Khilafah Islamiyah, jelas kita tak bisa mengharapkan tatanan kehidupan yang baik yang dapat membebaskan masyarakat dari kapitalisme di bidang ekonomi, westernisasi di bidang budaya, nasionalisme di bidang politik, dan sinkretisme di bidang agama. Tanpa Khilafah kita tidak akan mendapatkan kebaikan dari Dienul Islam yang kita yakini datang untuk mendatangkan rahmat bagi seluruh manusia di dunia.

Karena itu, sudah seharusnya kita segera berbenah diri dengan penuh kesadaran dan keteguhan untuk menapaki jalan seperti yang dicontohkan Rasulullah SAW untuk menuju Khilafah Islamiyah yang kita cita-citakan bersama, meskipun orang-orang kafir membencinya.

Allah SWT berfirman :

“Mereka hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka dan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir benci.� (QS Ash Shaff : 8)

[dari Muhammad Shiddiq Al Jawi’]
sumberhttp://www.gaulislam.com





Refleksi Hijrah: Menyongsong Perubahan Besar Dunia Menuju Khilafah

25 11 2012

hijrah
[Al-Islam 631] Kita sudah memasuki tahun baru 1434 hijriyah. Tentu tidak seharusnya kesemarakan menyambut tahun baru hijriyah ini hanya sekadar perayaan seperti halnya semarak penyambutan tahun baru masehi.

Keputusan Umar bin al-Khaththab yang menjadikan tahun hijrah Nabi dan para sahabat dari Makkah ke Madinah sebagai awal penanggalan tahun hijriyah dan kemudian disepakati oleh para sahabat, tentu memiliki makna besar. Pasalnya, dengan hijrah itulah berdiri Daulah Islam dan terbentuk masyarakat Islam di Madinah. Karena itu makna hijrah inilah yang harus direnungkan dan direfleksikan ke tataran riil sat ini.

Jahiliyah Modern

Kondisi masyarakat modern saat ini jika dibandingkan dengan kondisi masyarakat jahiliyah pra hijrah tampak banyak kemiripan, dan bahkan dalam beberapa hal justru lebih buruk. Ciri utama masyarakat jahiliyah dahulu adalah kehidupan diatur dengan aturan dan sistem jahiliyah, yaitu aturan dan sistem buatan manusia sendiri. Pada masyarakat Quraisy, aturan dan sistem kemasyarakatan dibuat oleh para pemuka kabilah. Hal itu mereka rumuskan melalui pertemuan para pembesar dan tetua kabilah di Dar an-Nadwah. Kondisi yang sama persis juga berlangsung saat ini. Kehidupan diatur dengan aturan dan sistem buatan manusia yang dibuat oleh para wakil yang berkumpul di gedung parlemen.

Dalam aspek ekonomi, riba, manipulasi, kecurangan dalam timbangan dan takaran, penimbunan, eksploitasi oleh pihak ekonomi kuat terhadap ekonomi lemah, konsentrasi kekayaan pada segelintir orang, dsb, kental mewarnai kehidupan ekonomi masyarakat jahiliyah. Hal yang sama juga mewarnai kehidupan ekonomi modern saat ini. Bahkan saat ini riba justru menjadi pilar sistem ekonomi dan negara menjadi salah satu pelaku utamanya.

Pada aspek sosial, masyarakat jahiliyah pra hijrah identik dengan kebobrokan moral yang luar biasa. Mabuk, pelacuran dan kekejaman menyeruak di mana-mana. Anak-anak perempuan yang baru lahir pun dibunuh. Kondisi itu juga terjadi saat ini bahkan lebih buruk. Perzinaan difasilitasi dengan lokalisasi. Jika dahulu anak perempuan yang dibunuh, sekarang banyak anak tanpa pandang laki-laki atau perempuan dibunuh bahkan sebelum lahir. Lihat saja data menunjukkan lebih dari dua juta aborsi terjadi setiap tahunnya di negeri ini.

Dalam aspek politik dan konstelasi internasional, bangsa Arab jahiliyah pra hijrah bukanlah bangsa yang istimewa. Dua negara adidaya saat itu, Persia dan Byzantium, sama sekali tidak melihat Arab sebagai sebuah kekuatan politik yang patut diperhitungkan. Begitu pula saat ini. Negeri-negeri kaum Muslim, termasuk negeri ini, juga tidak pernah diperhitungkan oleh negara-negara lain; kecuali sebagai obyek penjajahan. Kekayaan alam negeri kita dijadikan jarahan oleh negara-negara penjajah dan para kapitalis. Jutaan kilometer persegi perairan dan jutaan hektar daratan negeri ini sudah dikapling-kapling untuk perusahaan-perusahaan yang kebanyakan asing. Sampai-sampai dalam eksploitasi migas, hampir sulit sekali menemukan bendera sendiri.

Karena itu tepat jika kondisi kehidupan saat ini disebut jahiliyah modern. Maju secara sains dan teknologi, namun aturan dan sistemnya tetap aturan dan sistem jahiliyah, aturan dan sistem buatan manusia, yang menentukan format, corak dan kondisi kehidupan masyarakat.

Sebab Utama: Kapitalisme, Demokrasi dan Pengaruh Asing

Kondisi jahiliyah modern saat ini pada dasarnya kembali kepada tiga sebab utama, yaitu ideologi kapitalisme, demokrasi dan pengaruh asing. Ideologi kapitalisme berlandaskan akidah pemisahan agama dari kehidupan dan negara. Agama dibatasi tidak lebih pada batas-batas tembok masjid. Akidah ini mengharuskan penyerahan pengaturan berbagai interaksi kehidupan kepada manusia.

Pelaksanaannya dilakukan melalui sistem demokrasi. Inti demokrasi adalah kedaulatan rakyat. Artinya, rakyatlah yang berhak membuat dan menetapkan aturan, hukum dan sistem. Tidak ada demokrasi tanpa kedaulatan rakyat. Karena tidak mungkin semua rakyat berkumpul setiap kali ingin membuat aturan, maka dicetuskanlah konsep perwakilan. Rakyat memilih wakil untuk mewakili mereka membuat dan menetapkan hukum. Pada akhirnya, pembuatan dan penetapan hukum sejatinya berada di tangan para wakil itu. Dengan begitu demokrasi menjadi pintu sekaligus mekanisme masuk dan lahirnya aturan dan sistem jahiliyah. Akibat aturan dan sistem jahiliyah itulah segala kebobrokan, keburukan, kerendahan dan masalah jahiliyah modern sekarang ini terjadi. Karena itu sebab utama dari semua kejahiliyah modern saat ini adaah sistem demokrasi itu sendiri. Sistem demokrasi itulah yang menjadi sebab utama segala bentuk kebobrokan, keburukan, problem dan penderitaan yang dialami dan menimpa masyarakat modern sekarang ini.

Sementara pengaruh asing, negeri-negeri kaum Muslimin sejak lepas dari penjajahan fisik, pengaruh asing tetap dipertahankan dan dijadikan sandaran. Bahkan eksistensi dan keberlangsungan para penguasanya banyak bergantung kepada pengaruh asing itu. Dengan pengaruh asing itulah, aturan dan sistem penjajah dipaksakan dan dipertahankan.

Hal itu membuat orang-orang kafir mempunyai jalan untuk menguasai kaum Muslimin. Orang –orang kafir barat memperalat negeri kaum Muslimin termasuk negeri ini demi kepentingan-kepentingan mereka. Mereka merampas kekayaan alam kita dengan transaksi-transaksi ilusif, dan merampok migas kita dengan perjanjian-perjanjian yang tidak fair dan manipulatif. Jadilah orang-orang kafir itu bisa meracuni akal-akal kita dengan tsaqafah dan kultur mereka, merusak kehidupan kita dengan peradaban mereka, membuat keamanan kita tergadai pada pengaruh mereka dan lebih dari itu mereka merampas kehendak kita. Melalui pengaruh itulah, asing penjajah memaksakan sistem demokrasi kepada kita. Dan melalui sistem demokrasi itu sendiri, asing penjajah terus memaksakan dan mempertahankan pengaruhnya atas kita agar makin menancap dalam. Banyaknya UU dan aturan yang dipaksakan, didektekan, dirumuskan, dan diarahkan oleh asing melalui Bank Dunia, ADB, IMF, USAID, berbaga lembaga dan oleh negara asing adalah buktinya.

Perubahan Besar Sebuah Keharusan

Di tengah kungkungan kehidupan jahiliyah modern inilah penting bagi kita merefleksikan makna hijrah pada tataran riil. Dalam hal itu, perjuangan merealisasi hijrah seperti yang dilakukan Nabi saw dan para sahabat untuk saat ini tentu sangat relevan, bahkan merupakan keniscayaan. Sebab, hal itu memungkinkan kaum Muslim untuk: meninggalkan kekufuran dan dominasi kaum kafir menuju iman dan kekuasaan Islam; meninggalkan darul kufur menuju Darul Islam; meninggalkan sistem jahiliah menuju ideologi dan sistem syariah; meninggalkan kekalahan menuju kemenangan dan kemuliaan Islam; dan merubah penindasan menjadi tebaran kerahmatan.

Untuk itu mutlak harus dilakukan perubahan. Perubahan itu tidak akan datang begitu saja. Akan tetapi perubahan itu harus kita usahakan. Sebab Allah SWT berfirman:

… إِنَّ اللَّهَ لاَ يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ …

Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. (TQS ar-Ra’du []: 11)

Imam al-Qurthubi dalam tafsirnya menjelaskan: “Allah dalam ayat ini memberitahukan bahwa Dia tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga terjadi perubahan dari mereka sendiri, baik dari mereka atau dari orang yang mengatur/mengurusi mereka atau dari sebagian mereka dengan sebab tertentu.”

Perubahan yang harus diwujudkan itu bukan sembarang perubahan, tetapi haruslah perubahan besar. Yaitu perubahan besar untuk merubah kejahiliyahan modern ini menjadi kehidupan yang Islami dan Allah ridhai. Perubahan besar dari akidah sekulerisme menjadi akidah tauhid; dari ideologi kapitalisme menjadi ideologi Islam; dari demokrasi dengan kedaulatan rakyatnya menjadi Islam dengan kedaulatan syara’; dan perubahan besar dari aturan dan sistem jahiliyah buatan manusia menjadi aturan, hukum dan sistem Islam dengan syariahnya yang sumbernya wahyu yang diturunkan dari sisi Allah Sang Pencipta dan Maha Bijaksana. Allah SWT berfirman:

أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ

Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin? (QS al-Maidah [5]: 50)

Menyongsong Perubahan Besar Dunia Menuju Khilafah

Perubahan besar itu hanya bisa direalisasikan dengan mencampakkan sekulerisme kapitalisme berikut sistem ekonominya dan sistem demokrasinya. Dan selanjutnya menggantinya dengan akidah Islam dengan hukum-hukum syariah yang diterapkan ecara total dan menyeluruh dalam sistem Islam yaitu al-Kilafah ar-Rasyidah.

Saat ini, dunia Islam tengah dan terus memproses perubahan. Masing-masing negeri berlomba untuk merealisasi perubahan besar yang diridhai Allah SWT itu. Karena itu, kita yang ada di negeri ini tentu saja tidak boleh tertinggal dalam perlombaan merealisasi perubahan besar dari sistem jahiliyah kapitalisme demokrasi menuju penerapan syariah Islam dalam bingkai al-Khilafah ar-Rasyidah ini.

Masing-masing dari kita wajib ambil bagian dalam proses dan perjuangan merealisasi perubahan besar dunia menuju Khilafah Rasyidah ini. Selain untuk merefleksikan makna hijrah pada tataran praktis, hal itu juga menjadi manifestasi dan pembuktian atas kebenaran keimanan kita.

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ

Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu (TQS al-Anfal [8]:24)

Wallâh a’lam bi ash-shawâb. []

Komentar:

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ingin Indonesia tetap menjadi negara berdaulat, salah satunya pada bidang ekonomi (finance.detik.com, 13/11).

Selama sitem ekonomi kapitalisme masih diterapkan, kedaulatan termasuk kedaulatan ekonomi tidak akan pernah terwujud. Sebaliknya, negeri ini akan terus dijadikan jajahan dan kekayaannya dijadikan jarahan penjajah barat kapitalis.
Kedaulatan ekonomi hanya bisa direalisasi dengan Sistem Ekonomi Islam. Sistem Ekonomi Islam hanya bisa diterapkan dalam bingkai al-Khilafah ar-Rasyidah.
Dari Hizbut-tahrir.or.id





Prediksi Kekuatan Militer Negara Khilafah

24 11 2012

kekuatan militer

Jalan untuk mulai menjadi negara nomor satu terkemuka antara lain membutuhkan suatu kekuatan militer yang besar, kuat dan termotivasi. Memang peran militer sangat penting dalam melestarikan, melindungi dan menyebarkan dasar-dasar ideologis negara. Dari waktu ke waktu kekuatan militer dari negara-negara yang berbeda telah memperkuat mereka untuk bisa tetap
berdiri di dunia. Era Perang Dingin antara bekas Uni Soviet dan Amerika Serikat memberi kesaksian bahwa kekuatan militer yang tangguh dan jangkauan globalnya telah membantu kekuatan-kekuatan itu untuk menjaga roda dunia bipolar pada abad kemarin untuk dapat tetap bergerak.

Pentingnya kekuatan militer sebagai pendorong utama untuk tetap menjadi negara-negara berada pada posisi terdepan digambarkan oleh anggaran pertahanan Amerika Serikat, Rusia, Cina atau Inggris. Bahkan selama beberapa tahun terakhir di era terburuk resesi keuangan dan ekonomi sekalipun, tidak satu pun dari negara-negara itu yang telah mengurangi anggaran pertahanan mereka. Dalam 10 tahun terakhir data dari abad ke-21 ini menunjukkan, bahwa anggaran pertahanan Amerika Serikat terus meningkat.

Kekuatan Militer Dunia Islam

Dunia Islam memiliki potensi untuk menjadi suatu negara adidaya dengan kekuatan militer yang amat besar yang merupakan gabungan militer aktif berkekuatan 5,59 juta personil. Sebenarnya kekuatan ini jauh lebih tinggi daripada kekuatan global Amerika saat ini, yang berhasil mempertahankan supremasi hegemoninya yang tidak terbantahkan atas seluruh dunia setelah jatuhnya Uni Soviet pada tahun 1990-an lalu. Sebenarnya Amerika Serikat hanya memiliki 1,47 juta personil militer aktif, Rusia memiliki 1.037.000, Cina memiliki 2,25 juta, sementara dua anggota permanen Dewan Keamanan PBB lainnya Prancis dan Inggris berturut-turut hanya memiliki 0,26 dan 0,24 juta personil militer aktif.

Seluruh Dunia Islam memiliki tentara aktif sekitar 0,4 juta lebih banyak dibandingkan dengan total kelima anggota tetap Dewan Keamanan PBB, yang bertindak sebagai otoritas keamanan dunia. Selain itu, Dunia Islam memiliki sekitar 0,6 juta militer aktif lebih banyak dibandingkan dengan jumlah total negara-negara BRIC (Brazil, Rusia, India dan Cina). Memang, kelima anggota Dewan Keamanan secara bersama-sama memiliki pasukan cadangan yang lebih dibandingkan dengan total tentara dari Dunia Islam. Namun, jumlah total dari pasukan cadangan Dunia Islam lebih besar dari Amerika Serikat, Rusia, Cina, Prancis dan Inggris secara individual.

Apalagi dalam hal kemungkinan terjadinya perang antara negara Khilafah Islam dan kekuatan-kekuatan militer Barat, pasukan paramiliter akan memainkan peran penting. Karena pasukan paramiliter bisa bekerja sebagai pasukan tempur, pada perang gerilya, dan dapat juga bekerja sebagai staf pendukung untuk perang.

Sungguh menakjubkan untuk dicatat bahwa seluruh dunia memiliki pasukan paramiliter sebesar 20.526 juta personil; 11.32 juta di antaranya adalah milik Dunia Islam. Salah satu negara Muslim, yakni Iran, memiliki lebih dari 11 kali lebih besar pasukan paramiliter dari gabungan lima anggota permanen Dewan Keamanan PBB. Selain itu, Iran memiliki 5 kali lebih banyak pasukan paramiliter tentara dari jumlah gabungan negara-negara BRIC. Dalam hal jumlah kekuatan militer, jumlah kekuatan dari Dunia Islam melebihi tiap anggota permanen Dewan Keamanan PBB baik secara individual maupun secara bersama-sama. Kekuatan militer gabungan dari Dunia Islam adalah 22.42 juta personil, sedangkan lima anggota tetap Dewan Keamanan PBB secara bersama-sama memiliki 15.95 juta personil dan BRIC secara bersama-sama punya 17.53 juta personil.

Kekuatan militer umat Muhammad saw. ini dengan skala tersebut, memperjelas mengapa Barat sangat cemas atas Dunia Islam? Hal ini juga memperjelas bagi setiap pengamat internasional, para pembuat kebijakan tentang alasan mengapa kekuatan Barat bekerja siang-malam untuk menjaga Dunia Islam secara fisik tetap terpisah satu dari yang lain dengan batas-batas palsu negara masing-masing seperti ‘Garis Durand’ antara Pakistan dan Afganistan. Hal ini juga menjelaskan mengapa ide nasionalisme tetap hidup di kalangan Dunia Muslim sebagai alat untuk menjaga mereka terpisahkan dan untuk mendatangkan malapetaka atas umat seperti Perang Irak-Iran, Perang Afganistan-Pakistan dll atau pemisahaan yang tidak perlu antara Sunni dan Syiah.

Dari fakta-fakta dan angka-angka di atas jelas bahwa kekuatan Militer Dunia Islam tidak tertandingi dan tidak ada duanya. Patut disebutkan adanya laporan Steven Kull et. al. (April, 2007) yang diterbitkan oleh Universitas Maryland di Amerika yang menunjukkan bahwa sebagian besar responden (di lima negara-negara Muslim utama) mengungkapkan dukungan yang kuat untuk memperluas peran Islam dalam masyarakat mereka. Mayoritas di sebagian besar negara itu—rata-rata 71% setuju (39% sangat setuju)—dengan tujuan dibutuhkannya “Penerapan hukum syariah yang ketat di setiap negara Islam.”

Bahkan dapat dhtegaskan bahwa secara mayoritas, yaitu lebih dari 64%, bahkan setuju dengan tujuan ambisius untuk menyatukan negara-negara Muslim menjadi satu Negara Islam tunggal atau Khilafah ‘.

Kemampuan Militer Dunia Islam

Bagi negara manapun saat ini, kemampuan militer secara luas terbagi menjadi tiga bidang utama. Di dalamnya ada Angkatan Darat, Angkatan Udara dan Angkatan Laut.

Dalam hal karakteristik umum dari berbagai kemampuan militer itu, menurut Laporan tahun 2008, Dunia Islam memiliki lebih banyak orang untuk tugas militer. Sebenarnya hanya lima negara terkuat di Dunia Islam (Pakistan, Indonesia, Mesir, Iran dan Turki) yang memiliki hampir dua kali lipat (217.67 juta) orang untuk tugas militer dibandingkan dengan kekuatan global saat ini, yakni Amerika Serikat (118 juta). Suatu diskusi singkat tentang posisi kemampuan militer Dunia Islam yang diwakili oleh lima negara Muslim terkuat mempertimbangkan perbandingannya dengan Amerika Serikat untuk menjelaskan realitas umat Islam untuk menjadi satu-satunya kekuatan global dunia pada tahun-tahun mendatang dengan munculnya Khilafah Islam.

1. Angkatan Darat.

Tahun 2008 Amerika memiliki 29.920 senjata berbasis di darat, sedangkan Dunia Islam dengan hanya lima negara telah hampir setara dengan 27.519 senjata berbasis di darat.

Selain itu, data yang sedikit lebih lama tahun 2001 menunjukkan bahwa Amerika memiliki 5.178 artileri derek dibandingkan dengan 9.333 artileri derek di Dunia Islam. Amerika Serikat memiliki 7.851 tank dibandingkan dengan 8.704 tangki di Dunia Islam. Selain itu, selain kelima negara itu, Suriah memiliki 4.100 tank, Bangladesh memiliki 1.980 tank, Kazakhstan memiliki 1.266 tank, Yaman 1.250, Jordan memiliki 1.179, Saudi Arabia punya 1.055, Aljazair punya 950, Maroko punya 871, Libya punya 800, dan negara-negara Muslim lainnya memiliki tank yang konvensional maupun yang maju. Dunia Islam yang diwakili oleh lima negara (Pakistan, Indonesia, Mesir, Iran dan Turki) memiliki 3.300 pembawa personel lapis baja (armored personnel carrier), 1.012 sistem roket, 13.118 motor, 13.687 senjata anti-tank terpandu, 5.779 senjata anti-pesawat. Selain itu, Iran, Turki dan Pakistan dapat membuat tank-tank modern dan meningkatkan kemampuannya.

2. Angkatan Udara.

Amerika Serikat memiliki 18.169 pesawat udara dibandingkan dengan lima negara Muslim utama dengan total 3.536 pesawat. Selain itu, Amerika punya 1.593 helikopter dibandingkan dengan 1.055 helikopter dari Dunia Islam yang diwakili oleh Pakistan, Indonesia, Mesir, Iran dan Turki. Meskipun negara-negara Muslim lainnya seperti Bangladesh, KSA, Libya dan lain-lain punya ratusan jet tempur, Dunia Islam tertinggal dalam hal ini. Namun, mungkin bisa disebutkan bahwa negara-negara seperti Iran dapat memproduksi jet tempur seperti HESA Azarakhsh yang telah dikembangkan sampai generasi ke-5, sedangkan generasi terbaru Hesa Saeqeh memiliki jangkauan 3000 km. Pesawat-pesawat tempur-pengebom itu memiliki kemampuan untuk melacak pesawat-pesawat musuh, terlibat dalam pertempuran, menargetkan lokasi di darat, dan membawa berbagai macam senjata dan amunisi. Kompleks Angkatan Udara Pakistan—Pakistan Aeronautical Complex (PAC)—dapat merakit dan membuat pesawat udara. Komplesk itu juga dapat mengembangkan LKM-17 Mushshak yang digunakan sebagai pelatih oleh angkatan udara Pakistan.

Fasilitas itu juga melakukan pemeliharaan berbagai jet tempur seperti F-16 dan Dassault Mirage 5. Pakistan dan Cina bersama-sama mengembangkan pesawat JF-17 Thunder (pesawat jet tempur generasi ke-4). Pakistan juga telah menciptakan rudal jelajah yang mampu membawa hulu-hulu ledak nuklir. Selain itu, Turki dapat menghasilkan F-35 jet tempur dan helikopter.

Selanjutnya, Turki dapat menghasilkan pesawat tanpa awak dan juga memiliki perangkat lunak angkatan udara yang sangat modern sesuai dengan teknologi standar global.

3. Angkatan Laut.

Dunia Islam memiliki kapal angkatan laut sekitar 400 kapal laut dibandingkan dengan jumlah kapal laut Amerika sebanyak 1.559. Namun kekuatan armada niaga Dunia Islam 4 kali lebih besar dari yang dimiliki oleh Amerika.

Selain itu, hanya 5 besar negara Muslim yang menyatakan memiliki 27 pelabuhan utama termasuk Selat Malaka, Selat Homruz, Terusan Suez, Teluk Bengal, Tanduk Afrika,

Selat Bosphorus dan Teluk Persia. Tempat-tempat tersebut memberikan kesempatan unik untuk mengambil kendali atas tempat-tempat geostrategis dunia bagi angkatan laut di bawah kepemimpinan Negara Khilafah Islam masa depan. Bahkan saat kembalinya Negara Khilafah Islam, Dunia Islam dengan mudah dapat mengontrol rute bisnis dunia dan wilayah yang di bawah kendalinya mencakup Samudera Hindia akibat kehadiran pasukan di perbatasan Bangladesh, Pakistan dan Indonesia. Selain itu, Dunia Islam memiliki kontrol mutlak juga atas Mediterania, Teluk Persia dan Laut Merah.

Selain itu, Dunia Islam memiliki sekitar 33 kapal selam dibandingkan dengan 50 kapal selam milik Amerika Serikat. Dunia Islam memiliki jumlah frigat yang tidak setara, yang jumlahnya dua kali lipat patroli dan kontrol wilayah pesisir, dan dua kali lipat jumlah kapal amfibi dibandingkan dengan yang saat ini dimiliki oleh kekuatan global Amerika Serikat pada statistik tahun 2007. Ditambah lagi, baik Pakistan maupun Turki dapat memproduksi kapal-kapal selam. Dunia Islam tidak memiliki kapal perusak dan kapal pembawa pesawat yang sangat penting pada kondisi sekarang ini. Namun, kesenjangan ini dapat dengan mudah diatasi dengan kemampuan Dunia Islam untuk mempertahankan kehadirannya dalam skala global di berbagai benua melalui jangkauan geografisnya sendiri.

Memang, kemampuan militer Dunia Islam adalah ancaman tetap bagi Amerika Serikat. Keprihatinan Amerika menjadi berlipat dengan adanya uji senjata nuklir di Pakistan. Memang, salah satu tempat yang paling mungkin untuk kembalinya Khilafah adalah Pakistan karena negara itu adalah negara dengan senjata nuklir. Rudal-rudal balistik Pakistan dapat membawa hulu ledak nuklir. Iran juga telah memperoleh teknologi nuklir. Libya diduga telah memiliki hulu ledak nuklir. Turki di bawah perjanjian dengan NATO saat ini memiliki lebih dari 90 hulu ledak nuklir B-61. Sebanyak 50 dari jumlah itu ditempatkan di Pangkalan Udara Incirlik, 40 lainnya berada di bawah kepemilikannya dan hulu-hulu ledak nuklir itu dijaga oleh Angkatan Bersenjata Turki.

Selain itu, Kazakhstan memiliki sebuah reaktor nuklir bernama BN-350 di Aktau, yang dirancang dan cocok untuk memproduksi senjata yang diperkaya plutonium. Meskipun pada bulan November 1997 Presiden Nursultan Nazarbayev menandatangani perjanjian dengan Amerika untuk menyerahkan limbah bahan bakar dari reaktor ini dalam pemantauan IAEA, reaktor ini masih ada di Kazakhstan. Selain itu, baik Iran maupun Pakistan telah mengembangkan rudal balistik antarbenua maupun rudal berjarak jauh, rudal yang mampu melintasi jarak sekitar 2000-3000 km. Memang, dengan besarnya penduduk usia muda yang mampu menjadi wajib militer dan dengan sumber daya energi yang besar, dan logistik yang tersedia, Negara Khilafah Islam bisa mengatasi berbagai kebutuhan militer dalam hitungan bulan dengan ‘kebijakan industri militer’ nya. []

note: diambil dari http://www.globalmuslim.web.id





Sejauh Mana Sistem Khilafah Steril dari Akal Pikiran Manusia?

11 12 2011

syariatSelama ini Hizbut Tahrir selalu mengkritik sistem saat ini adalah sistem yang rusak karena menjadikan akal manusia sebagai sentral pengambil keputusan. Nah, sejauh mana Sistem Khilafah steril dari akal pikiran manusia?

Harus kita pahami bahwa di dalam Islam menggunakan akal bukanlah sesuatu yang haram. Menggunakan akal justru diperintahkan di dalam Islam dan menjadi syarat wajib seseorang dapat beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Sebaliknya, seseorang yang tidak menggunakan akalnya akan sesat dari jalan-Nya.

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (TQS Ali Imraan [3]: 190)

Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahanam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai qalbu (akal), tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (memikirkan) (ayat-ayat Allah) (TQS Al-A’raf [7]: 179)

Dengan akal, kaum Muslim menemukan keimanan mereka terhadap Allah dengan keimanan 100% yang memiliki argumen. Dengan keimana yang dapat dipertanggungjawabkan. Keimanan yang lahir dari proses berpikir inilah yang pada gilirannya meyakini secara penuh pula bahwa apapun yang diputuskan Allah adalah yang terbaik bagi manusia.

Disinilah beda diameteral antara demokrasi dan Islam. Di dunia Barat, konsep keimanan dengan berpikir tidak dikenal, bahkan mereka mengklaim seharusnya seseorang tidak beragama jika dia berpikir. Hasilnya, mereka menentukan baik dan buruk, benar dan salah, indah dan jelek berdasarkan standar akal mereka. Muncullah sistem demokrasi contohnya.

Sedangkan Islam, menyandarkan segala sesuatu pada keimanan. Bahwa Allah adalah Tuhan pencipta manusia yang sudah pasti lebih mengetahui ciptaan-Nya dan lebih berhak mengatur ciptaan-Nya dibandingkan manusia yang notabene ciptaan-Nya dan sangat terbatas.

“Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah, Dia menerangkan sebenarnya dan Dia pemberi keputusan yang terbaik.” (QS Al An’am [6]: 57)

“Maka apakah hukum jahiliyah yang mereka cari? Dan hukum siapakah yang lebih baik (hukumnya) dari pada hukum Allah bagi kaum yang yakin?” (TQS AL Maidah [5]: 50)

Secara praktis, di dalam Islam fungsi akal adalah sebagai alat untuk memahami fakta yang dihukumi, memahami hukum-hukum yang diberikan Allah, dan menghukumi fakta.

Dalam melakukan proses ini, maka tolok ukur dan sumber hukumnya telah jelas, yaitu Al-Qur’an, As-Sunnah, Ijma shahabat dan Qiyas (analogi). Tidak pada yang lain seperti maslahat dalam pandangan manusia, ataupun pendapat manusia.

“Dari Muadz ibn Jabal ra bahwa Nabi Saw ketika mengutusnya ke Yaman, Nabi bertanya: “Bagaimana kamu jika dihadapkan permasalahan hukum? Ia berkata: “Saya berhukum dengan kitab Allah”. Nabi berkata: “Jika tidak terdapat dalam kitab Allah”, ia berkata: “Saya berhukum dengan sunnah Rasulullah saw”. Nabi berkata: “Jika tidak terdapat dalam sunnah Rasul saw”? ia berkata: “Saya akan berijtihad dan tidak berlebih (dalam ijtihad)”. Maka Rasul memukul ke dada Muadz dan berkata: “Segala puji bagi Allah yang telah sepakat dengan utusannya (Muadz) dengan apa yang diridhai Rasulullah saw” (HR Thabrani)

Bedanya sekali lagi, di dalam Islam akal bukan sentral dari pemutusan hukum, tapi hukum Allah-lah pemutusnya. Artinya, di dalam Islam kerja akal dibatasi oleh hukum Allah, hanya dilakukan dalam koridor hukum syara’. Sedangkan di dalam demokrasi, justru hukum dibatasi oleh akal. Bahkan dalam demokrasi akal-lah yang membuat hukum.

Misalnya, sampai kapanpun seorang Muslim akan memandang seks pra-nikah adalah perbuatan haram dan termasuk hal yang buruk. Walaupun mungkin ijtihad hakim-hakim terhadap satu kasus berbeda, namun perbedaan itu berada dalam koridor yang masih diizinkan Allah. Namun tidak akan pernah terjadi suatu masa ketika kaum Muslim memandang seks pra-nikah adalah kebutuhan, sebagaimana yang terjadi sekarang pada beberapa negeri barat yang menerapkan demokrasi.

Sebagai tambahan, di dalam Islam tidak semua perkara di dalam Islam mengharuskan ijtihad. Ada perkara-perkara yang sudah jelas aturan hukumnya dari Allah, yaitu suatu perkara yang dibatasi batasan-batasannya oleh Allah (had Allah) seperti cambuk 100x pada pezina yang belum menikah, potong tangan pada pencuri dengan curian lebih dari ¼ dinar, dan lainnya. Juga termasuk perkara yang jelas hukumnya adalah perkara yang dibatasi oleh Rasulullah pelaksanaan hukumnya seperti rajam pada pezina yang telah menikah juga hukuman mati bagi pengkhianat negara.

Dalam hal-hal yang telah jelas semacam ini ijtihad tidak diperlukan. Yang diperlukan hanyalah memahami fakta yang dihukumi dan menghukumi fakta.

Kesimpulannya, bisa dikatakan bahwa Sistem Khilafah tidaklah mensterilkan peran akal dalam keputusan hukum ataupun wilayah lainnya. Lebih tepatnya, Sistem Khilafah meletakkan fungsi akal pada tempatnya. Sistem Khilafah memberi akal peran sebenarnya, bukan peran yang berlebihan sebagaimana demokrasi.

follow @felixsiauw





Panji-panji Khilafah Berkibar di Pusat Revolusi Mesir, Tahrir Square, Perubahan Menuju Khilafah Semakin Dekat!

21 11 2011

mesirSyabab.Com – Ratusan ribu rakyat Mesir turun ke jalanan kota-kota Mesir untuk memprotes pengaruh dari kepemimpinan militer di negara itu, Jumat, 18/11/2011. Aksi protes tersebut dipimpin oleh wakil-wakil dari organisasi Islam. Bahkan dalam aksi kali ini, panji-panji royatul ‘uqob, panji Rasulullah yang akan menjadi panji Khilafah, pun berkibar di pusat revolusi Mesir tersebut.

Rakyat Mesir ambil bagian dalam demonstrasi besar-besar ini dilakukan setelah kegagalan negoisasi “Ikhwanul Muslimin” dan pemerintah untuk mencabut alat yang disebut “prinsip-prinsip dasar konstitusi”.

Para demonstran telah mengumumkan protes terbatas sampai pemenuhan semua persyaratan dari kaum revolusioner. Beberapa komponen umat dari berbagai organisasi ikut serta dalam aksi besar tersebut, termasuk gerakan yang menyerukan penegakkan syariah dan khilafah.

Salah satu diantaranya Hizbut Tahrir Wilayah Mesir juga ikut serta turun ke jalan pada Jumat lalu di Tahrir Square untuk berinteraksi dengan orang-orang serta mendistribusikan selebaran. Aksi besar tersebut menjadi arena dakwah para pejuang syariah dan khilafah untuk menggencarkan solusi tuntas yang sebenarnya.

Para pemuda Hizbut Tahrir juga meninggikan panji-panji ar-royah di tengah-tengah kerumunan massa yang masih berpegang dengan bendera nasionalisme Mesir.

Para aktivis Hizbut Tahrir itu menyebarkan selebaran diantaranya Keterangan Pers “Untuk Memperjelas” yang berjudul Hizbut Tahrir-wilayah Mesir: Kami Tidak Memiliki Hubungan dengan “Hizbut Tahrir Mesir yang Sufi (Hizb at-Tahrir al-Mishri ash-Shufiy)” atau “Hizbut Tahrir Baru yang Syiah (Hizb at-Tahrir al-Jadid asy-Syi’iy)“. Kami adalah Partai Politik yang Berjuang untuk Menegakkan Daulah al-Khilafah al-Islamiyah ar-Rasyidah.

Bendera hitam Rasulullah bertuliskan kalimah tauhid tersebut pun berkibar menjulang tinggi di tengah-tengah kerinduan rakyat Mesir atas perubahan setelah tumbangnya rezim diktator Hosni Mubarak.

Hizbut Tahrir mengingatkan bahwa perubahan nyata tersebut terjadi ketika kaum Muslim kembali menegakkan Khilafah Rasyidah yang akan menyatukan seluruh negeri Muslim di bawah panji al-uqob.

“Kami menyeru warga kami di Mesir dan di seluruh negeri kaum Muslim agar berjuang bersama Hizbut Tahrir untuk menegakkan al-Khilafah al-Islamiyah yang telah diwajibkan oleh Allah atas mereka dan yang hanya dengan al-Khilafah sajalah jalan keluar mereka. Juga agar mereka mencampakkan apa yang dipasarkan oleh barat kafir kepada kita baik demokrasi liberalisme, sekulerisme, nasionalisme dan patriotisme,” seru Hizbut Tahrir Wilayah Mesir dalam selebarannya.

Demikianlah, panji-panji Rasulullah akan terus berkibar di berbagai kota pusat pergolakkan Timur Tengah, mulai dari Tunis hingga Kairo. Panji-panji negara Khilafah masa depan tersebut akan terus berkibar hingga di setiap kota di seluruh negeri Muslim. Panji inilah yang akan menyatukan kaum Muslim di bawah naungan Khilafah Islamiyyah yang dijanjikan.

Maka sudah saatnya, kaum muslim bahu membahu bekerja untuk segera mewujudkan janji sekaligus kewajiaban dari Tuhan Rabb Semesta Alam tersebut. Orang yang bekerja dengan yang diam tentu memiliki nilai yang berbeda di sisi Allah Swt. Insya Allah, kedatangannya semakin dekat! [f/m/htinfo/syabab.com]





Khutbah Idul Adha 1432 H: Ibadah Haji; Persatuan Umat dan Urgensi Daulah Khilafah

2 11 2011

Ibadah Haji: Persatuan Umat dan Urgensi Daulah Khilafah
Assalamualaikum wr. wb.
اَللهُ أَكْبَرُ x 9 ا َللهُ أَكْبَرُ وَ ِللهِ الْحَمْدُ
إنَّ الحَْمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ باللهِ مِنْ شُرُوْرِ أنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ.
وأَشْهَدَ أَنَّ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى سَيِّدِ الْمُرْسَلِيْنَ، وَإِمَامِ الْمُتَّقِيْنَ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الطَّيِّبِيْنَ الطَّاهِرِيْنَ،
وَ قَالَ اللهُ تَعَالَى : يَآيُّهَا النَّاسُ إنَّا خَلقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوْبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوْا ِ
أمَّا بَعْدُ
فَيَا أيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَإيَّايَ بِتَقْوى اللهِ فَاتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
اَللهُ أَكْبَرُ… اَللهُ أَكْبَرُ… اَللهُ أَكْبَرُ وَ ِللهِ الْحَمْدُ
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah.
Alhamdulillah, hari ini kita merayakan Hari Raya Idul Adha yang penuh dengan kegembiraan. Kata id itu sendiri memang menunjukkan makna kegembiraan, karena berasal dari kata ‘aud yang artinya kembali atau berulang. Jadi, setiap id artinya ialah ya’udu as-surur, yakni kembali atau berulangnya kegembiraan. (Imam Syaukani, Nayl al-Authar, hlm. 680).
Kegembiraan seperti ini pula kiranya yang dirasakan oleh saudara-saudara kita yang tengah melaksanakan serangkaian manasik haji di Tanah Suci.
Namun demikian, kegembiraan kita ini hendaknya jangan sampai berlebihan atau melampaui batas, sehingga kita melupakan nasib saudara-saudara kita umat Islam di seluruh dunia, yang sampai detik ini masih terpuruk di segala bidang. Keterpurukan ini adalah akibat dominasi Kapitalisme global pimpinan Amerika Serikat, sang pemimpin kafir penjajah, beserta antek-antek mereka. Keterpurukan ini juga akibat tiadanya pelindung hakiki bagi umat Islam, yaitu Imam atau Khalifah. Betapa benar sabda Rasulullah saw.:
إنَّمَا اْلإمَامُ جُنَّةٌ يُقاتَلُ منْ وَرَائِهِ وَيُتَّقى بهِ
Sesungguhnya Imam (Khalifah) itu bagaikan perisai; tempat orang-orang berperang di belakangnya dan berlindung dengannya (HR Muslim).
Rasa gembira itu hendaknya juga jangan sampai membuat kita gagal menangkap pelajaran (ibrah) yang penting dari ibadah haji; ibadah yang menjadi rukun Islam kelima yang diwajibkan Allah SWT atas kita semua, yang pada hari-hari ini sudah dan sedang dilaksanakan oleh para jamaah haji di Makkah dan sekitarnya.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah.
Dalam kesempatan yang mulia ini, ada baiknya kita meresapi berbagai pelajaran (ibrah) penting dari ibadah haji itu. Pelajaran ini tak hanya penting untuk mereka yang sedang berhaji, melainkan juga bagi seluruh umat Islam di mana pun berada.
Berbagai pelajaran ibadah haji ini sesungguhnya tercakup dalam apa yang disebut “hikmah haji“, yaitu manfaat-manfaat yang dapat dipersaksikan oleh para jamaah haji, sebagaimana firman Allah SWT:
لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ
…agar mereka (jamaah haji) menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka (QS al-Hajj [22] : 28).
Ayat ini menunjukkan, dalam ibadah haji kaum Muslim akan mendapatkan berbagai manfaat yang sangat penting dalam segala aspek kehidupan (Ali bin Nayif Asy-Syahud, Al-Khulashah fi Ahkam al-Hajj wa al-Umrah, hlm.2).
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah.
Di antara pelajaran terpenting dari ibadah haji ini adalah pesan persatuan umat (wahdah al-ummah). Pesan ini tampak jelas sekali. Jamaah haji akan dapat menyaksikan berkumpulnya umat Islam dari seluruh pelosok dunia untuk melakukan ibadah yang sama, zikir yang sama, di tempat yang sama dan dengan busana ihram yang sama; tanpa mempedulikan lagi batasan negara bangsa (nation state), perbedaan suku, warna kulit dan bangsa.
Semua itu semestinya mengingatkan umat Islam akan karakter mereka sebagai umat yang satu (ummat[an] wahidah), sebagaimana pernah ditegaskan sendiri oleh Nabi Muhammad saw. dalam Piagam Madinah:
هَذَا كِتَابٌ مِنْ مُحَمَّدٍ النَّبِيِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُسْلِمِيْنَ مِنْ قُرَيْشٍ وَيَثْرِبٍ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ فَلَحِقَ بِهِمْ، وَجَاهَدَ مَعَهُمْ إِنَّهُمْ أُمَّةٌ وَاحِدَةٌ مِنْ دُوْنِ النَّاسِ‏.
Ini adalah piagam perjanjian dari Muhammad saw. antara orang-orang Muslim dan Mukmin dari Quraisy dan Yatsrib serta orang-orang yang menyusul mereka, bergabung dengan mereka dan berjihad dengan mereka. Sesungguhnya mereka adalah satu umat (ummat[an] wahidah), berbeda dengan manusia lainnya (Shafiyurrahman Mubarakfuri, Ar-Rahiq Al-Makhtum, hlm. 153; Abul Hasan Ali An-Nadwi, Ma Dza Khasir al-‘Alam bi-[I]nhithath al-Muslimin, hlm. 176).
Perwujudan karakter umat yang satu itu tiada lain karena adanya tali pengikat di antara mereka, yaitu agama Islam, sebagaimana firman Allah SWT:
وَاعْتَصْمُوْا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيْعٌا وَلا تَفَرَّقُوْا
Berpeganglah kalian semuanya dengan tali (agama) Allah dan jangan bercerai-berai (QS Ali Imran [3]: 103).
Berkumpulnya jamaah haji dengan sesama Muslim dari seluruh pelosok dunia akan menyadarkan mereka, bahwa yang mempersatukan umat Islam hanya satu faktor saja, tidak lebih, yaitu agama Allah (Islam). Tak ada faktor pemersatu lainnya; apakah itu suku, warna kulit, bangsa ataupun negara bangsa (nation state).
Faktor suku, warna kulit dan kebangsaan sesungguhnya bukanlah faktor pemersatu. Semua itu tidak layak menjadi faktor pemersatu. Semua itu sekadar qadha‘ yang memang bukan dalam kuasa dan hak pilih seorang anak manusia. Tak ada manusia yang memilih menjadi suku Jawa, atau memilih berkulit hitam, atau memilih menjadi bangsa Indonesia. Semua itu merupakan qadha` yang terkait dengan penciptaan manusia, tanpa ada hak memilih bagi manusia.
Jadi faktor kesukuan, warna kulit dan kebangsaan itu bukanlah pemersatu; juga bukan pula sebagai dasar pembentukan sebuah negara, melainkan qadha` Allah dalam penciptaan yang menjadi sarana untuk saling mengenal. Allah SWT berfirman:
يَآيُّهَا النَّاسُ إنَّا خَلقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوْبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوْا
Hai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan seorang perempuan serta menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kalian saling mengenal (QS al Hujurat [49]: 13).
Memang, dalam kenyataannya umat Islam itu bermacam-macam, terdiri dari beragam suku-bangsa. Ada bangsa Melayu, bangsa Pakistan, bangsa Mesir, bangsa Afrika, bangsa Arab, dan seterusnya. Namun demikian, walaupun berbeda-beda bangsa, umat Islam tetap satu. Walaupun berbeda-beda bangsa, umat Islam seluruh dunia adalah ibarat satu tubuh, sebagaimana digambarkan dalam sabda Nabi saw.:
مَثَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ فَِي تَواَدِهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُم عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَى
Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam hal saling mencintai, saling menyayangi dan saling berlemah lembut adalah laksana satu tubuh. Jika ada satu anggota tubuh yang sakit maka seluruh tubuh lainnya akan turut tak bisa tidur dan merasa demam (HR Muslim).
Jelaslah, berdasarkan uraian di atas, terdapat pelajaran penting sekali dari ibadah haji, yaitu pesan persatuan umat Islam. Umat Islam dari seluruh pelosok dunia seharusnya menjadi umat yang satu. Mereka diikat oleh faktor pemersatu hakiki berupa tali agama Allah semata, bukan diikat oleh faktor lainnya seperti warna kulit, suku, bangsa, atau negara bangsa.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah.
Persatuan umat Islam dan karakter umat yang satu itulah yang menjadi dasar dari adanya negara yang satu (dawlah wahidah), yaitu satu negara Khilafah untuk umat Islam di seluruh dunia.
Maka dari itu, jika kebangsaan menjadi dasar bagi negara-bangsa, maka bagi umat Islam, karakter umat yang satu menjadi dasar bagi negara Khilafah yang satu. Tidak boleh ada lebih dari satu negara Khilafah di seluruh dunia. Khilafah yang satu itu sajalah yang akan menaungi seluruh umat Islam seluruh dunia, mulai dari Maroko hingga Merauke, dalam satu negara. Dasarnya adalah sabda Nabi Muhammad saw.:
إِذَا بُوْيِعَ لِخَلِيْفَتَيْنِ فَاقْتُلُوْا الآخِرَ مِنْهُمَا
Jika dibaiat dua orang khalifah, maka bunuhlah yang terakhir dari keduanya (HR Muslim).
Berdasarkan dalil-dalil seperti itulah, para ulama mazhab yang empat dari mazhab Hanafi, Maliki, Syafii dan Hanbali sepakat untuk melarang adanya dua orang khalifah di seluruh dunia pada waktu yang sama. Syaikh Abdurrahman Al-Jazairi dalam kitabnya, Al-Fiqh ‘ala Al-Madzahib al-Arba’ah (Fiqih Menurut Empat Mazhab), menegaskan:
وَعَلَى أَنَّهُ لاَ يَجُوْزُ أَنْ يَكُوْنَ عَلَى الْمُسْلِمِيْنَ فِي وَقْتٍ وَاحِدٍ فِي جَمِيْعِ الدُّنْيَا إِمَامَانِ لاَ مُتَّفِقَانِ وَلاَ مُفْتَرِقَانِ
(Imam mazhab yang empat sepakat) bahwa tidak boleh kaum Muslim pada waktu yang sama di seluruh dunia mempunyai dua Imam (Khalifah), baik keduanya bersepakat maupun bermusuhan (Abdurrahman al-Jazairi, Al-Fiqh ‘ala al-Madzahib al-Arba’ah, V/416).
Iman an-Nawawi juga menegaskan:
وَاتَّفَقَ الْعُلَمَاءُ أَنَّهُ لاَ يَجُوْزُأَنْ يعقِدَ لِخَلِيْفَتَيْنِ فَي عَصْرٍ وَاحِدٍ سَوَاءٌ اِتَّسَعَتْ دَار الإِسْلاَمِ أَمْ لاَ
Para ulama telah sepakat bahwa tidak boleh mengangkat dua orang Khalifah pada waktu yang sama, baik Darul Islam luas maupun tidak (Imam an-Nawawi, Syarh Muslim, XII/232).
Ma’asyiral Muslimin, rahimakumullah.
Pelajaran penting lainnya dari ibadah haji adalah kesadaran akan urgensi negara Khilafah (ahammiyah dawlah al-Khilafah). Betapa tidak, jamaah haji akan menyaksikan, bahwa Muslim yang datang di Tanah Suci untuk berhaji bermacam-macam asal negerinya, bermacam-macam asal benuanya; bukan hanya dari Jazirah Arab yang memang menjadi tanah kelahiran agama Islam yang dibawa Nabi Muhammad saw. Ada yang berasal dari Sudan, Mesir, Libia; dari benua Afrika. Ada yang berasal dari Uzbelistan, Tajikistan dan Turkmenistan; dari Asia Tengah). Ada yang datang Cina, Eropa, dan seterusnya.
Bagaimana fenomena mengagumkan ini dapat dipahami? Bukankah dulu agama Islam lahir di Jazirah Arab? Bagaimana Islam lalu dapat tersebar sedemikian luas? Sesungguhnya, jawaban untuk itu hanya satu saja. Adanya umat Islam yang berada di berbagai negeri di berbagai pelosok bumi terjadi karena adanya negara Khilafah yang melakukan futuhat (penaklukan) dan aktivitas dakwah ke seluruh dunia.
Bahkan termasuk Walisongo yang menyebarkan dakwah di Tanah Jawa pada sekitar abad 14 atau 15 M yang lalu, juga tak lepas dari jasa Khilafah. Khilafah Utsmaniyah di Turki-lah yang dulu berjasa besar mengirim para dai yang kelak disebut Walisongo itu untuk menyebarkan dakwah Islam di Tanah Jawa.
Maka dari itu, fenomena jamaah haji yang berasal dari berbagai negeri di segala penjuru dunia itu semestinya menyadarkan kita akan urgensi Daulah Khilafah. Sebab, salah satu urgensi Khilafah adalah mengemban risalah Islam ke seluruh dunia, dengan dakwah dan jihad fi sabilillah. Tanpa adanya negara Khilafah yang melakukan aktivitas dakwah dan jihad, niscaya kita tak akan menyaksikan fenomena hebat dalam ibadah haji, yakni adanya kaum Muslim yang asal-usulnya bukan hanya dari Jazirah Arab sebagai tempat lahirnya Islam, melainkan berasal dari segala negeri di segala benua dunia.
Jelaslah, negara Khilafah sangat urgen karena menjadi pelaksana aktivitas dakwah dan jihad itu untuk menyebarkan Islam kepada seluruh umat manusia. Aktivitas Khilafah ini sejalan dengan karakter agama Islam sebagai risalah universal untuk semua manusia. Allah SWT berfirman:
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلاَّ كَافَةً لِلنَّاسِ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا وَلَكِنْ أَكْثَرُ النَّاسِ لاَ يَعْلَمُوْنَ
Tidaklah Kami mengutus kamu (Muhammad) melainkan kepada seluruh umat manusia, sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui (QS Saba` [34]: 28).
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah.
Selain urgen untuk misi dakwah dan jihad, Khilafah juga sangat urgen demi penerapan syariah Islam. Boleh dikatakan, semua kewajiban syariah-seperti penegakan hudud, jinayat, pemungutan dan pendistribusian zakat, serta pelaksanaan berbagai sistem kehidupan-bertumpu dan bergantung pada satu poros, yaitu keberadaan negara Khilafah. Artinya, tanpa adanya Khilafah, pelaksanaan berbagai kewajiban syariah itu tak akan mungkin terlaksana secara keseluruhan.
Ibadah haji, tanpa negara Khilafah, memang dapat terlaksana. Namun, tetap pelaksanaaanya menjadi kurang sempurna karena masih banyak mendapat hambatan dan kendala tanpa Khilafah. Misalnya, urusan paspor haji. Dengan Khilafah yang akan menghapuskan Negara-bangsa di Dunia Islam, paspor menjadi tidak relevan dan tak dibutuhkan lagi. Sebab, orang Indonesia, Mesir, atau Sudan, tatkala pergi ke Makkah, tak akan dianggap lagi pergi ke luar negeri, melainkan masih perjalanan dalam negeri. Paling banter perjalanan antarpropinsi. Dengan demikian, pengelolaan administrasi haji akan lebih sederhana dan menghemat banyak ongkos. Mereka yang pernah naik haji, tentu sangat memahami kerepotan administrasi yang sebenarnya tidak perlu ini.
Maka dari itu, Khilafah jelas sangat urgen demi pelaksanaan berbagai kewajiban syariah. Khilafah menjadi mutlak adanya. Hal ini sesuai kaidah syariah:
مَا لاَ يَتِمُّ الْوَاجِبُ إِلاَّ بِهِ فَهُوَواَجِبٌ
Selama suatu kewajiban tidak terlaksana kecuali dengan sesuatu, maka sesuatu itu wajib pula hukumnya.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah.
Demikianlah sekilas pelajaran terpenting dari ibadah haji yang dapat kami sampaikan pada kesempatan ini. Kesimpulannya, paling tidak ada dua pelajaran terpenting. Pertama: pesan persatuan umat dalam Khilafah (wahdah al-ummah fi dawlah al-Khilafah al-wahidah). Kedua: urgensi negara Khilafah (ahammiyah dawlah al-Khilafah) untuk dakwah dan penerapan syariah. Kedua pelajaran penting itu tak dapat dilepaskan dari keberadaan negara Khilafah.
Mudah-mudahan Khilafah ‘ala Minhaj an-Nubuwwah yang kita idam-idamkan akan berdiri sebentar lagi. Tanda-tanda kehadirannya mulai tampak dengan terang. Gelombang perubahan politik yang dahsyat di Timur Tengah merupakan salah satu tanda akan datangnya negara baru itu. Para thaghut mulai berjatuhan dan bergelimpangan. Yang masih bertahan insya Allah akan segera jatuh menyusul teman-temannya.
Semoga kita semua nanti masih sempat mengalami indahnya hidup di bawah naungan Khilafah. Amin, ya Rabbal ‘Alamin.
Ma’asyiral Muslimin rahimakummullah.
Akhirnya, marilah kita berdoa kepada Allah SWT.
أَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَ الْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ
نَسْأَلُكَ اَللَّهُمَّ اَنْ تَجْعَلَ الْقُرْآنَ الْكَرِيْمَ رَبِيْعَ قُلُوْبِنَا، وَ نُوْرَ صُدُوْرِنَا، وَ جَلاَءَ اَحْزَانِنَا، وَ ذِهَابَ هُمُوْمِنَا وَ غُمُوْمِنَا، وَ قَائِدَنَا وَ سَائِقَنَا اِلَى رِضْوَانِكَ، اِلَى رِضْوَانِكَ وَ جَنَّاتِكَ جَنَّاتٍ نَعِيْمٍ.
اَللَّهُمَّ اجْعَلِ الْقُرْآنَ شَفِيْعَنَا، وَ حُجَّةً لَنَا لاَ حُجَّةً عَلَيْنَا.
أَللَّهُمَّ اغْفِرْلَنَا وَلِوَالِدَيْنَا وَ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانَا صِغَارًا،
اَللَّهُمَّ ارْحَمْ اُمَّةَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ رَحْمَةً عَامَّةً تُنْجِيْهِمْ بِهَا من النَّارَ وَتُدْخِلُهُمْ بِهَا الْجَنَّةَ
اَللَّهُمَّ اجْعَلْناَ فِي ضَمَانِكَ وَأَمَانِكَ وَبِرِّكَ وَاِحْسَانِكَ وَاحْرُسْنَا بِعَيْنِكَ الَّتِيْ لاَ تَناَمُ وَاحْفِظْناَ بِرُكْنِكَ الَّذِيْ لاَ يُرَامُ.
اَللَّهُمَّ يَامُنْـزِلَ الْكِتَابِ وَمُهْزِمَ اْلأَحْزَابِ اِهْزِمِ اْليَهُوْدَ وَاَعْوَانَهُمْ وَصَلِيْبِيِّيْنَ وَاَنْصَارَهُمْ وَرَأْسُمَالِيِّيْنَ وَاِخْوَانَهُمْ وَاِشْتِرَاكِيِّيْنَ وَشُيُوْعِيِّيْنَ وَاَشْيَاعَهُمْ
اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ دَوْلَةَ الْخِلاَفَةِ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ تُعِزُّ بِهَا اْلإِسْلاَمَ وَاَهْلَهُ وَتُذِلُّ بِهَا الْكُفْرَ وَاَهْلَهُ، وَ اجْعَلْناَ مِنَ الْعَامِلِيْنَ الْمُخْلِصِيْنَ ِلإِقَامَتِهَا
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
وَسُبْحَانَ رَبُّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، كُلُ عَامٍ وَ أَنْتُمْ بِخَيْرٍ.
Wassalamu ‘alaikum wr. wb.








%d blogger menyukai ini: