WANITA: ANTARA KESETARAAN GENDER DAN PERANAN RUMAH TANGGA

23 04 2011

Oleh: Rizqi Awal El-Falimbani
(Komunitas Sastra Cerdas)

Perempuan dalam wacana sistem demokrasi adalah sosok yang setara dengan laki-laki, yakni sebagai individu yang berdaulat penuh atas dirinya. Pandangan terhadap perempuan harus tegak di atas prinsip kesetaraan yang adil yaitu tidak membedakan manusia atas dasar fungsi reproduksi. Dengan demikian, tidak diterima adanya pembagian fungsi dan peran dalam struktur social masyarakat, termasuk dalam keluarga. Sehingga terkadang perempuan hanya berperan sebagai ibu, pengasuh anak kecil, pengelola urusan dapur dan pelayan di atas ranjang. Inilah yang menimbulkan gerakan kesetaraan gender dalam Demokrasi. Baca entri selengkapnya »





KEMISKINAN INDONESIA, ANTARA PRODUKSI DAN DISTRIBUSI

12 12 2010

by Kardina Ayu W

Menjelang bulan Ramadhan, masyarakat tidak hanya disibukkan dengan kenaikan taraf dasar listrik (TDL) saja. Lebih dari itu, harga kebutuhan pokok pun ikut melambung. Harga kebutuhan pokok yang biasanya diperkirakan akan naik saat bulan ramadhan ataupun menjelang Lebaran karena peningkatan jumlah permintaan, sekarang jauh dari perkiraan, belum datang bulan suci Ramadhan harga kebutuhan pokok meningkat drastis. Harga cabe 1 kg yang biasanya berkisar antara 15.000-20.000 kini menjadi 40.000-50.000, beras jenis IR 64 naik dari 6.600 – 6.750, beras jenis Ramos dan sejenisnya dari harga 8.250-8.500 dan harga beras yang 5.000 kini akan didapat dengan kualitas yang sangat rendah.

Sangat ironis memang, di negeri yang luas dan SDA yang melimpah ini kebutuhan pokok selalu saja melambung tinggi. Namun yang lebih mengherankan lagi adalah meski harga kebutuhan pokok tadi melambung, faktanya tidak juga memberikan efek yang luar biasa bagi masyarakat Indonesia. Padahal sebagian besar masyarakatnya bermatapencaharian sebagai petani dan nelayan. Baca entri selengkapnya »





Dunia maya yang melenakan

30 11 2010

by azizah

Perkembangan teknologi telah manjadi sarana yang sangat membantu manusia dalam setiap aktivitasnya,salah satunya, kehadiran internet yang membuat dunia terasa tanpa sekat. Internet telah menjadi alat paling cepat dan murah dalam mencari informasi apapun. Dalam satu kali klik saja seluruh dunia dapat mengakses atau menyebarkan informasi yang diperlukan.
Saat ini yang paling digandrungi semua kalangan adalah situs jejaring social, bukan saja melanda dunia tapi juga Indonesia. Sebagai negeri yang berpenduduk mayoritas muslim, Indonesia ternyata telah menempati posisi ke-3 negara pengakses jejaring social terbesar diseluruh dunia. Dilansir melalui Inside Facebook, sekitar 70 persen dari pengguna Facebook berasal dari luar Amerika. Posisi Indonesia berada di bawah Amerika dan Turki dengan total pengguna, pada Januari 2010 ini, mencapai 15,3 juta. Sedangkan Turki mencapai 16,9 juta pengguna. Hal ini tentu saja menimbulkan dua kemungkinan, yaitu menjadi potensi yang sangat baik atau menjadi potensi yang sangat buruk . Baca entri selengkapnya »





Pertambahan Penduduk, Problem atau Potensi?

8 08 2010

Penulis : Faridah Afifah, S.Pd;

Jumlah penduduk Indonesia, sudah mencapai 238 juta dengan pertumbuhan penduduk pertahun 3,2 juta jiwa. Dengan laju pertumbuhan seperti ini, dalam beberapa tahun ke depan diperkirakan jumlah penduduk Indonesia akan menyalip jumlah penduduk Amerika Serikat (AS). Ketakutan akan pertambahan penduduk khususnya di Indonesia bahkan dilukiskan sama dengan terorisme, sebagai mana yang terdapat dalam situs http://www.bkkbnonline. Dalam situs tersebut menyatakan: “Ancaman bom yang mengintai Indonesia saat ini bukan hanya datang dari kelompok teroris. Ada ancaman bom lain yang diam-diam mengintai dan tidak kalah gawat dampaknya dari ancaman kelompok teroris: Bom Kepedudukan. Indonesia akan menghadapi ancaman Bom Kependudukan dalam 5 tahun ke depan”
Di Indonesia pertambahan penduduk karena angka fertilitas yang relatif tinggi juga dianggap suatu masalah besar dan harus mendapat perhatian. Kondisi ini tidak menguntungkan dari sisi pembangunan ekonomi karena ini terkait dengan kualitas pendidikan masyarakat yang masih rendah sehingga penduduk lebih diposisikan sebagai beban pembangunan daripada modal pembangunan. Logika ini secara makro digunakan untuk memberikan justifikasi mengenai pentingnya suatu keluarga melakukan pembatasan jumlah anak.
Oleh karena itu, beberapa tahun belakangan ini program KB kembali digalakkan. Bahkan dengan slogan baru. Jika dulu “2 anak cukup” kini pemerintah semakin menganjurkan warganya untuk hanya memiliki 2 orang anak saja dengan slogan “2 anak lebih baik”. Penggalakan kembali program KB ini dilatarbelakangi oleh pesatnya pertumbuhan penduduk Indonesia, bahkan dunia. Baca entri selengkapnya »





Astagfirullah, Tiga Juta Remaja Jabar Lakukan Seks Pranikah

4 07 2010

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG–Gaya hidup seks bebas semakin memprihatinkan di Indonesia, khususnya di Jawa Barat. Hari Anak-anak Indonesia (HAI) yang jatuh hari Kamis (1/7) mengungkapkan fakta yang memalukan di Jabar.

Berdasarkan hasil survei yang dilakukan Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (BPPKB) Provinsi Jawa Barat di enam kabupaten pada 2009, terdapat sekitar 29 persen remaja di Jawa Barat pernah melakukan hubungan seks pranikah.

Jika jumlah remaja di Jabar sebanyak 11 juta orang, diperkirakan sebanyak tiga juta remaja pernah melakukan hubungan seksual sebelum melakukan ikatan pernikahan secara resmi.

Sekretaris BPPKB Jabar, Suryadi, menyatakan tingginya survei tersebut disebabkan kehidupan seks bebas di kalangan remaja di Jabar semakin meningkat. Kondisi ini diperparah dengan beredarnya media-media pornografi yang mudah diakses oleh semua umur, bahkan anak-anak dan remaja.

“Pornografi telah dianggap wajar oleh berbagai kalangan. Anak-anak pun dapat dengan mudah mendapatkannya,” kata Suryadi kepada Republika, usai melakukan pertemuan dengan Tetty Kadi Biwono, salah satu anggota Komisi VIII DPR RI, Selasa (29/6) siang. Baca entri selengkapnya »





Mendudukkan Kembali Fungsi Keluarga

4 07 2010

Oleh Kholda Naajiyah

Tanggal 29 Juni diperingati sebagai Hari Keluarga Nasional. Keluarga adalah elemen terkecil masyarakat yang diharapkan menjadi sumber kebahagiaan dan kesejahteraan. Sudahkkah itu terwujud? Marilah kita cermati, betapa masih banyak problem yang dialami keluarga-keluarga di Indonesia. Seperti keluarga yang kesulitan ekonomi, kesulitan mengakses pendidikan hingga keluarga yang tercerai berai. Krisis keluarga ini bermula dari terjadinya bergeseran fungsi dan peran keluarga itu sendiri.

Keluarga idealnya menjalankan delapan fungsi, namun hal ini sudah mulai mengalami disfungsi. Pertama, fungsi reproduksi. Keluarga yang dibangun melalui lembaga suci pernikahan, dimaksudkan untuk melahirkan keturunan yang sah. Namun saat ini, makin banyak keluarga yang tidak mampu melaksanakan fungsi ini. Selain faktor takdir Allah SWT, gaya hidup tak sehat, memicu kegagalan pasangan suami-istri mendapatkan keturunan.

Di sisi lain, keluarga makin membatasi jumlah keturunan karena adanya kekhawatiran-kekhawatiran seperti: biaya persalinan mahal, biaya pendidikan anak mahal, dan malu kalau banyak anak. Terlebih kaum perempuan, makin banyak yang enggan hamil, melahirkan dan menyusui anak karena sibuk berkarier atau takut merusak keindahan tubuhnya. Padahal, bila fungsi reproduksi ini diabaikan, eksistensi keluarga dan bahkan manusia akan terancam. Bagaimana nasib generasi penerus jika proses reproduksi tidak berjalan?

Sementara itu, fungsi ini juga sudah diambil-alih oleh pelaku seks bebas, di mana keturunan yang mestinya hanya lahir dari pernikahan bisa dilahirkan di luar nikah. Hal ini jelas membahayakan eksistensi lembaga pernikahan.

Kedua, fungsi ekonomi. Terbentuknya keluarga, berarti terwujudnya kesatuan dan kemandiri ekonomi. Keluarga mendapatkan harta dan membelanjakan untuk memenuhi keperluan seluruh anggota keluarga sehingga terwujud kesejahteraan. Namun, fungsi ini kerap sulit dilakukan sebuah keluarga manakala problem akses terhadap sumber-sumber ekonomi tertutupi. Banyak pengangguran dari kalangan suami, padahal dialah penopang nafkah keluarga. Di sisi lain, harga-harga kebutuhan pokok terus meroket sehingga nafkah kerap tak mencukupi untuk seluruh anggota keluarga. Tak heran bila masih banyak yang berada di bawah garis kemiskinan. Jelas, ini sangat mengganggu terwujudnya keluarga bahagia dan sejahtera. Baca entri selengkapnya »





96 Persen Anak-anak Buka Situs Negatif

4 07 2010

Saatnya semakin memperhatikan anak-anak, terutama buah hati anda. Menurut laporan Laporan Norton Online Family 2010, 96 persen anak-anak pernah membuka konten negatif di internet dan 36 persen orang tua tidak tahu apa yang dibuka anaknya karena pengawasan yang minim.

“Laporan ini menekankan peran pendidikan orang tua dalam ‘kehidupan online’ anak-anak dan menjaga komunikasi yang terbuka dan terus-menerus sebagai cara meningkatkan keselamatan berinternet,” ujar Effendy Ibrahim, Norton Internet Safety Advocate & Consumer Business Lead, Asia, Kamis di Jakarta.

Dalam laporan tersebut, hanya satu dari tiga orang tua tahu tentang yang dilihat anak-anak mereka ketika online, padahal anak-anak menghabiskan 64 jam untuk online setiap bulan. “Orang tua terlalu meremehkan tingkat keterlibatan anak-anak dalam mengunduh games, musik, dan video yang membuat anak-anak menemukan konten yang tidak layak dan mengungkapkan informasi pribadi,” ujar Ibrahim. Baca entri selengkapnya »








%d blogger menyukai ini: