Menggugat Wall Street, Menggugat Kapitalisme?

13 10 2011

Gerakan demonstrasi menentang keserakahan Wall Street di AS belakangan ini makin meluas. Gerakan yang bertema Occupy Wall Street itu, menggugat simbol pasar finansial Kapitalisme di AS itu karena dianggap sebagai salah satu penyebab ambruknya perekonomian Amerika Serikat. Selain itu, mereka juga memprotes ketidakadilan ekonomi dan sosial yang dilambangkan oleh para eksekutif Wall Street, keserakahan lembaga-lembaga finansial. Mereka juga menyerukan penghentian intervensi para kapitalis melalui lobi dan dana mereka terhadap pemerintah. Michael Moore, aktivis gerakan tersebut dan juga sutradara yang sering mengkritik kegagalan Kapitalisme di AS, menyatakan bahwa tuntutan Occupy Wallstreet adalah pernyataan bersama atas korupsi yang berlangung di pemerintahan dan kuatnya pengaruh bisnis raksasa dan satu persen orang-orang kaya AS terhadap UU dan kebijakan AS.

Meskipun demikian sejumlah kalangan juga melancarkan kritik atas aksi occupy wall street tersebut. Pasalnya eksistensi dan sepak terjang Wall Street merupakan konsekuensi dari kelemahan bank sentral AS Federal Reserve dan Legislatif dalam menekurkan undang-undang yang membatasi gerak para investor. Bahkan Henry Paulson sekalipun – menteri Keuangan AS yang juga mantan CEO Goldman Sachs – turut mengakui bahwa krisis yang menimpa sektor finansial akibat terlalu bebasnya sektor tersebut sehingga diperlukan lebih banyak regulasi. Meskipun demikian, suara-suara untuk membenahi sektor tersebut hingga kini belum terwujud.

Wall Street sendiri merupakan kawasan finansial di New York dimana bursa saham terbesar di dunia New York Stock Exchange dan sejumlah lembaga keuangan raksasa seperti Goldman Sachs Group dan Morgan Stanley berkantor. Beberapa perusahaan keuangan raksasa seperti JP Morgan dan Citigroup meski tidak lagi berkantor di kawasan tersebut masih dikategorikan sebagai perusahaan-perusaahaan Wall Street.

Pengaruh Modal

Bukan rahasia lagi jika setiap kandidat presiden hingga parlemen di AS senantiasa menjadikan Wall Street sebagai sumber pendanaan kampanye mereka. Bahkan sejumlah pejabat pemerintah AS seperti Menteri Keuangan Robert Rubin di Era Bill Clinton dan Henry Paulson pada masa George W. Bush merupakan mantan CEO Goldman Sachs, perusahan raksas Wall Street. Bahkan Obama sekalipun yang berjanji mengurangi perngaruh lobi Wall Street juga takluk dibawah pengaruh para pemodal raksasa tersebut. Beberapa saat lalu misalnya Obama mengadakan perjamuan khusus dengan para eksekutif Wall Street termasuk diantaranya Burrent Buffet, salah satu orang terkaya dunia untuk meminta restu peningkatan pajak bagi orang kaya di AS. Kepala staf Menteri Keuangan Timothy Geithner juga dipimpin oleh mantan pelobi Goldmann Sachs Mark Patterson. Bahkan menurut laporan Washington Examiner Goldman Sachs merupakan penyumbang terbesar kampanye Obama tahun 2008. Dalam buku Sold Out: How Wall Street & Washington Betrayed America, disebutkan daftar belanja kampanye dan lobby lembaga-lembaga finansial (perbankan, asuransi, investasi, real estate). Untuk periode 1998-2008 dana kampanye sektor tersebut sebesar US$1,7 miliar dan dana lobby sebanyak US$ 3,4 miliar.

Inilah yang menjadi salah satu alasan mengapa regulasi terhadap sektor finasial di AS tidak pernah mampu membatasi keserakahan para pemodal di Wall Street. Bahkan yang terjadi adalah deregulasi yang memberikan kebebasan kepada mereka untuk menciptakan dan mengembangkan produk dan model transaksi keuangan derivatif. Padahal kerap kali krisis ekonomi yang terjadi di negara tersebut justru bersumber dari Wall Street. Tidak heran ketika Jerman dan Perancis yang didukung oleh negara-sejumlah negera Eropa pada forum G-20 meminta agar para spekulan di sektor finansial ditertibkan dengan menerapkan pajak transaksi keuangan, namun pemerintah AS serta merta menolak gagasan tesebut. Padahal kegiatan spekulasi di pasar modal merupakan salah satu bagian yang memicu krisis finansial dalam sistem kapitalisme.

Krisis finansial 2008 lalu yang ditandai dengan bangkrutnya Lehman Brother merupakan salah satu buah dari keserakahan dari sektor finansial Wall Street. Triliunan rupiah dana yang bersumber dari para pembayar pajak AS dipakai untuk menyelamatkan sektor finansial tersebut. Meski alasannya untuk menyelamatkan perekonomian secara makro, namun kebijakan tersebut memiliki tendensi politik yang cukup kental untuk menyelamatkan perusahaan-perusahan tersebut. Parahnya, di tengah krisis tersebut, para petinggi perusahaan-perusaahan Wall Street masih mendapatkan bonus yang sangat fantastis. Keserakahan di Wall Street juga tercermin dari banyak kasus kriminalitas kerah putih seperti pemalsuan dan penipuan. Salah satu kasus yang cukup heboh adalah penipuan yang dilakukan oleh Maddof yang diganjar 150 tahun akibat penipuan terhadap nasabahnya yang mencapai US$ 65 miliar atau sekitar 585 triliun! Kasus Enron, World Com merupakan contoh lain bobroknya sistem finansial Kapitalisme. Belakangan Goldman Sach juga digugat di pengadilan karena dituduh memanipulasi dan menghilangkan sebagaian data data produk subrime mortgage (CDO).

Korporatokrasi

Kebobrokan Wall Street yang kini makin mendapatkan penolakan dari para penganut Kapitalisme sendiri setidaknya menujukkan beberapa pelajaran antara lain:

Pertama, besarnya ketergantungan modal terhadap para pejabat pemerintah membuat kebijakan mereka lebih berpihak pada pemodal ketimbang rakyat. Meski rakyat yang menjadi pemilih, namun dalam sistem demokrasi untuk mendapatkan simpati dan dukungan tersebut kekuatan modal menjadi kunci untuk memenangkan persaingan dalam meriah dukungan publik. Konsekuensinya tatkala kemenangan diraih maka kebijakan mereka menjadi bias sehingga lebih berpihak kepada kepentingan para pemodal yang kadangkala bertentangan dengan kepentingan rakyat. Inilah yang kerap disebut dengan korporatokrasi yakni pemerintahan yang dipengaruhi bahkan dijalankan sesuai dengan kepentingan para pemilik perusahaan.

Kedua, wall street merupakan cermin bagaimana sistem finansial kapitalisme hanya menguntungkan segelintir orang dan merugikan rakyat dan pemerintah. Keuntungan yang didapat dari sektor finansial memang amat menggiurkan. Berbekal analisa dan spekulasi, para investor dapat melipatgandangan keuntungan tanpa perlu banyak ‘berkeringat’. Namun demikian, tatlaka terjadi krisis para investor kemudian menuntut pemerintah untuk campur tangan. Dana talangan yang diguyurkan pemerintah AS, Uni Eropa hingga Indonesia guna menjaga stabilitas finansial merupakan bukti betapa besarnya dana publik yang dihabiskan untuk hal tersebut. Di Indonesia dapat dilihat pada kasus bank Century yang menyedot anggaran sebesar Rp 6,7 triliun dengan alasan akan berdampak sisitemik terhadap kondisi perekonomian jika tidak diselamatkan. Kemudian terbukti menurut investigas BPK, bail out tersebut mengandung banyak cacat hukum dan kerugian bank tersebut akibat keserakahan pemilikya sendiri.

Ketiga, krisis kegoncangan dan penipuan yang berlangsung di wall street dan sistem finansial kapitalisme lainnya menunjukkan rapuhnya sistem kapitalisme. Banyak yang beralasan bahwa ambruknya sistem keuangan AS akibatnya terlalu liberalnya sistem tersebut sehingga solusinya diperlukan regulasi yang lebih ketat. Akan tetapi jika merunut sejarah sistem finansial kapitalisme, di didapati bahwa sepanjang sejarahnya sistem tersebut senantiasa dihamtam krisis. Padahal berbagai regulasi telah diberlakukan dan sejumlah otoritas pengawas dibuat untuk mengamankan para pelaku di sektor tersebut. Di sisi lain dengan adanya doktrin kebebasan memiliki dan berprilaku seringkali regulasi yang ada tidak mampu mengimbangi perkembangan model produk di sektor finansial yang tumbuh dengan cepat. Selain itu, adanya conflict of interest antara regulator dan pelaku pasar seringkali menjadi celah terjadinya krisis.

Keempat, Kebobrokan sistem ekonomi kapitalisme yang kini mulai digugat sendiri oleh para pengusungnya menunjukkan bahwa betapa sebenarnya masyarakat dunia sudah muak dengan sistem kapitalisme dan membutuhkan sistem yang adil, stabil dan mampu memberikan kesejahteran secara menyeluruh dan berkesinambungan. Padahal tidak ada sistem yang lebih adil dan bijaksana selain sistem yang berasal dari Allah SWT pecipta alam semesta.





Di Ambang Keruntuhan Kapitalisme: Are We Ready?

15 09 2011

Oleh: Muhaimin Iqbal
Di bidang ekonomi, undang-undang korporasi yang dikeluarkan oleh pemerintahan Gorbachev di Uni Soviet bulan Mei 1988 menandai runtuhnya rezim ekonomi komunisme di negeri itu. Tahun berikutnya keruntuhan sistem ekonomi ini diikuti pula dengan runtuhnya system politik komunisme dari Uni Soviet dan sekutu-sekutunya yang ditandai dengan diruntuhkannya tembok Berlin pada bulan November 1989. Lantas apa kiranya tanda-tanda keruntuhan system kapitalisme? saya sendiri menjagokan keruntuhan Dollar sebagai perlambang runtuhnya kapitalisme itu. Dan kini seperti tahap akhir dari suatu permainan catur, Dollar tinggal memiliki dua langkah lagi sebelum terkena skak mat!

Skenario kematian Dollar ini pernah saya sajikan link videonya di situs ini melalui tulisan saya The Day the Dollar Died, dalam film yang disiapkan dengan sangat serius oleh NGO National Inflation Association ini digambarkan bahwa Dollar akan mati manakala Quantitative Easing (QE) – bahasa lain untuk mencetak uang dari awang-awang – memasuki tahap QE 4.

Memang the Fed-nya Amerika sangat tidak suka disebut mereka telah melakukan QE 3 saat ini, tetapi tindakan mereka dengan menekan tingkat bunga yang sangat rendah sampai pertengahan tahun 2013 – membuat mereka harus membeli sangat banyak bond – lantas darimana uangnya?, ya mencetak dari awang-awang tadi alias secara defacto mereka telah melakukan Quatitative Easing tahap 3.

Pasar tidak lagi percaya pidato atau statement, pasar meresponse tindakan dengan tindakan. Bila the Fed melakukan langkah-langkah yang berdampak pada menurunnya nilai Dollar, maka pasar bereaksi langsung dengan membeli asset-aset yang nilainya tidak lagi dipengaruhi oleh Dollar. Bentuk dari reaksi pasar ini antara lain adalah melonjaknya secara luar biasa harga emas sebulan terakhir – karena orang perlu sesuatu yang nilainya mampu bertahan .
Bahwasanya kapitalisme ribawi pasti hancur atau dihancurkan kita yakin karena sudah dikabarkan di Al-Qur’an (QS 2 : 276);

يَمْحَقُ اللّهُ الْرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ وَاللّهُ لاَ يُحِبُّ كُلَّ كَفَّارٍ أَثِيمٍ

“Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa.”
Hanya masalah waktunya yang kita hanya bisa menduga atau memprediksinya – kita belum bisa tahu persis, tetapi tanda-tandanya nampak begitu dekat.

Megenai kapan waktunya Dollar akan mati ini memang tidak terlalu penting bagi kita, yang lebih penting adalah apakah kita siap menggantikannya bila kapitalisme ikut mati bersama matinya Dollar ini? Jangan sampai justru kita ikut menjadi korbannya karena selama ini begitu tergantung dengan system kapitalisme dengan Dollar-nya ini.

Nah agar kita bisa menghadirkan system penggantinya, berikut adalah dua langkah yang menurut saya patut kita persiapkan:

Pertama kita memiliki dua pegangan yang bila kita berpegang pada keduanya dijamin tidak akan tersesat selama-lamanya. Dua pegangan ini tidak lain adalah al-Qur’an dan al- Hadits. Persiapan logis untuk hal ini adalah mendalami al-Qur’an dan petunjuk-petunjuk yang ada di dalamnya, mendalami pula hadits-hadits sahih sebagai rujukan atas berbagai hal urusan kehidupan tidak terkecuali urusan ekonomi ini.

Kedua harus dipahami bahwa kapitalisme tidak identik dengan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek). Memang banyak sekali ilmu pengetahuan dan teknologi yang dilahirkan di era kapitalisme, tetapi tidak berarti bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi itu sendiri bagian dari kapitalisme. Iptek adalah value neutral, bila mereka yang menggunakannya maka ia menjadi instrumen kapitalisme – bila kita yang menggunakannya maka ia bisa menjadi sarana untuk membangun sistem ekonomi yang mengikuti petunjukNya.

Teknologi web dan social media misalnya, sangat mungkin kita gunakan untuk mengaplikasikan system ekonomi yang memenuhi kriteria di ayat
لَا يَكُونَ دُولَةً بَيْنَ الْأَغْنِيَاء مِنكُمْ وَمَا آتَاكُمُ

“ …agar harta itu jangan hanya beredar diantara orang-orang yang kaya saja diantara kamu…” (QS 59 :7).

Dengan teknologi misalnya bisa saja pedagang busana kecil bersaing head to head dengan retailer fashion raksasa di dunia maya. Pengusaha perumahan yang hanya memiliki satu dua kluster rumah kecil – bisa saja bersaing langsung dengan perusahaan real estate besar yang tengah membangun kota mandiri, dlsb-dlsb.

Dengan teknologi, kesetaraan akses terhadap pasar dan sumber daya bisa dicapai, tinggal akses terhadap kapital saja yang perlu didandani. Ketika tembok yang terakhir ini – yaitu tembok yang membatasi akses terhadap kapital–berhasil di rubuhkan, akses terhadap kapital menjadi bukan lagi hanya milik golongan tertentu – maka lengkaplah sudah keruntuhan kapitalisme itu.InsyaAlah kita akan siap…!.

Penulis adalah kolumnis hidayatullah.com dan Direktur Gerai Dinar





Nekat, Komisi VIII DPR RI Ke Australia Lupa Email dan Tidak Bisa Bahasa Inggris

5 05 2011

Video di YouTube berjudul “Email Resmi Komisi 8 DPR RI” menjadi bahan pembicaraan masyarakat akhir-akhir ini. Video berisi dialog antara Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Australia dengan Komisi VIII DPR RI di Australia itu diunggah seseorang dengan nama ppiaLATROBE pada 30 April 2011.
Sejak diunggah di YouTube pada 30 April 2011 hingga Kamis, 5 Mei 2011 pukul 10.27 WIB, pengunjungnya sudah mencapai 64.391 pengunjung. Baca entri selengkapnya »





Pertamax Sentuh Rp9.000/Liter, Subsidi BBM Melonjak!

3 05 2011

JAKARTA, – Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan Bambang Brodjonegoro mengaku akan ada kenaikan subsidi dengan melonjaknya harga pertamax.
“Pasti ada kenaikan subsidi, karena volume BBM subsidi akan menambah tinggi,” ujar Bambang di Jakarta.
Bambang menjelaskan jika kenaikan harga pertamax yang akan berefek ke premium sudah menjadi exercise pemerintah. “Kami sudah melakukan simulasi, tetapi belum untuk publikasi yang penting defisit dijaga tidak dua persen terahdap Product Domestik Bruto,” terangnya.
Baca entri selengkapnya »





Kediktatoran Senayan & Akrobatik Demokrasi

9 04 2011

Meski dikecam oleh berbagai kalangan, Ketua DPR RI Marzuki Ali tetap ngotot dengan pendapatnya untuk melanjutkan rencana pembangunan gedung DPR. Berbagai dalih digunakan untuk meng”haram”kan pembatalan pembangunan gedung baru ini.

Kenekatan Marzuki Ali ini didukung oleh sejumlah fraksi di DPR terutama fraksi demokrat dan fraksi Golkar. Hanya fraksi Gerindra dan PAN yang secara all out menolak rencana pembangunan gedung baru ini. Sedangkan yang lain tampaknya memilih untuk tidak konsisten alias abu-abu. Wakil Ketua DPR Anis Matta (07/04) menyatakan hanya Fraksi PAN dan Gerindra yang menolak rencana pembangunan gedung baru DPR. Baca entri selengkapnya »





Media Dijadikan Corong Pertempuran Ideologi

12 03 2011

By: Rahmi Surainah
Ada dua landasan utama dalam “menghidupkan” media massa saat ini, yakni kepentingan ideologi dan kepentingan industri. Pada industri informasi, wacana yang dikomodifikasi menjadi komoditi bukan lagi suatu hal yang bertendensi kebutuhan masyarakat, melainkan menarik perhatian pasar. Sementara dalam tatanan ideologi, media massa sangat berperan penting khususnya pada perspektif kekuasaan.
Wacana yang disajikan kadang di dalamnya ada motif terselubung agar suatu definisi semakin mendapatkan legitimasinya di ranah psikologi publik, maka ia perlu diwacanakan berulang-ulang. Baca entri selengkapnya »





Mesir: Masa Depan Baru

1 02 2011

by Adnan Khan in Komunitas Rindu Syariah & Khilafah’s page

Masa depan Mesir berakar pada Islam, yakni agama dan cara hidup penduduknya

Ketika situasi di Mesir menjadi ekstrem setelah selama puluhan tahun dibawah penindasan beberapa rezim secara berturut-turut, kita berada dalam posisi di mana kita bisa mendiskusikan skenario potensial setelah penguasa muslim itu digulingkan. Hingga sekarang aturan yang brutal yang dilakukan rezim korup itu berhasil mempertahankan kekuasaan mereka melalui layanan para agen rahasia yang memastikan lumpuhnya setiap langkah bagi sebelum mendapatkan momentum apapun. Kejadian-kejadian di Tunisia telah menggema di seluruh dunia Arab dan kini mulai mendidih di Mesir, negara terbesar di dunia Arab. Baca entri selengkapnya »








%d blogger menyukai ini: