Bangga Menjadi Ibu

27 12 2010

by Fauziah

Siapa bilang menjadi seorang ibu rumah tangga itu mudah. Adalah sebuah kesalahfahaman yang sangat besar jika pilihan seorang wanita untuk menjadi seorang ibu rumah tangga dianggap lebih gampang dibandingkan menjadi seorang wanita karier. Bayangkan saja seorang ibu rumah tangga mampu melakukan banyak sekali aktivitas pekerjaan rumah setiap harinya. Mulai dari membersihkan rumah, memasak, mencuci, mengurus anak dan suami dan lain sebagainya. Selain itu, seorang ibu memiliki peran yang sangat besar dalam pembentukan generasi suatu bangsa. Ibu adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya, sosok yang sangat dekat, yang pertama kali berinteraksi dengan anak. Sejak anak dalam kandungan, ibu sudah mulai mempengaruhi fisik dan mentalnya, dan ketika anak lahir, ibu yang menggoreskan warna dalam lembar-lembar putihnya untuk pertama kali. Hanya dengan kesadaran, pengorbanan dan kasih sayang yang besar dari seorang ibu, benih tumbuh berkembang dalam rahimnya selama 9 bulan. Baca entri selengkapnya »





Pertambahan Penduduk, Problem atau Potensi?

8 08 2010

Penulis : Faridah Afifah, S.Pd;

Jumlah penduduk Indonesia, sudah mencapai 238 juta dengan pertumbuhan penduduk pertahun 3,2 juta jiwa. Dengan laju pertumbuhan seperti ini, dalam beberapa tahun ke depan diperkirakan jumlah penduduk Indonesia akan menyalip jumlah penduduk Amerika Serikat (AS). Ketakutan akan pertambahan penduduk khususnya di Indonesia bahkan dilukiskan sama dengan terorisme, sebagai mana yang terdapat dalam situs http://www.bkkbnonline. Dalam situs tersebut menyatakan: “Ancaman bom yang mengintai Indonesia saat ini bukan hanya datang dari kelompok teroris. Ada ancaman bom lain yang diam-diam mengintai dan tidak kalah gawat dampaknya dari ancaman kelompok teroris: Bom Kepedudukan. Indonesia akan menghadapi ancaman Bom Kependudukan dalam 5 tahun ke depan”
Di Indonesia pertambahan penduduk karena angka fertilitas yang relatif tinggi juga dianggap suatu masalah besar dan harus mendapat perhatian. Kondisi ini tidak menguntungkan dari sisi pembangunan ekonomi karena ini terkait dengan kualitas pendidikan masyarakat yang masih rendah sehingga penduduk lebih diposisikan sebagai beban pembangunan daripada modal pembangunan. Logika ini secara makro digunakan untuk memberikan justifikasi mengenai pentingnya suatu keluarga melakukan pembatasan jumlah anak.
Oleh karena itu, beberapa tahun belakangan ini program KB kembali digalakkan. Bahkan dengan slogan baru. Jika dulu “2 anak cukup” kini pemerintah semakin menganjurkan warganya untuk hanya memiliki 2 orang anak saja dengan slogan “2 anak lebih baik”. Penggalakan kembali program KB ini dilatarbelakangi oleh pesatnya pertumbuhan penduduk Indonesia, bahkan dunia. Baca entri selengkapnya »





**WARNING…!!! SELAMATKAN PEREMPUAN DARI UU PERKAWINAN..***

25 07 2010

A. PENDAHULUAN

Desakan kalangan aktivis perempuan agar pemerintah segera merevisi UU Perkawinan No.1/1974 terus bergulir. Telah bertahun-tahun upaya itu dilakukan. Namun,belum ada respon signifikan dari pemerintah, selain pencantuman rencana Amandemen UU Perkawinan dalam daftar Program Legislasi Nasional (Prolegnas) 2005-2009 dan rencana revisi PP 45/1990 tentang Perkawinan. Namun kini, para aktivis yang mengklaim sebagai pejuang hak perempuan itu boleh berbunga-bunga. Betapa tidak, upaya amandemen UU Perkawinan No.1 Tahun 1974 yang juga memuat pasal yang mengklaim pembela hak perempuan, menemukan cahaya cerah. Minimal berpeluang besar untuk kembali tentang poligami seolah menemukan momennya. Amandemen UU Perkawinan yang telah lama digagas para aktivis dilirik dengan harapan kemudian di bahas dan dapat digolkan.

B. KRITISI DRAF AMANDEMEN DAN UUP

Kerangka amandemen UU Perkawinan telah lama disusun oleh para aktivis perempuan, pasca kegagalan mengusung Counter Legal Draft Kompilasi Hukum Islam (CLDKHI) yang dimotori Feminis Musdah Mulia. CLDKHI memang secara terang-terangan dan frontal menyerang Islam, karena itu langsung dianulir. Namun, para pengagas CLDKHI tak kurang akal. Mereka berupaya memasukkan substansi-substansi CLDKHI dalam peraturan perundang-undangan yang lain. Baca entri selengkapnya »





Mendudukkan Kembali Fungsi Keluarga

4 07 2010

Oleh Kholda Naajiyah

Tanggal 29 Juni diperingati sebagai Hari Keluarga Nasional. Keluarga adalah elemen terkecil masyarakat yang diharapkan menjadi sumber kebahagiaan dan kesejahteraan. Sudahkkah itu terwujud? Marilah kita cermati, betapa masih banyak problem yang dialami keluarga-keluarga di Indonesia. Seperti keluarga yang kesulitan ekonomi, kesulitan mengakses pendidikan hingga keluarga yang tercerai berai. Krisis keluarga ini bermula dari terjadinya bergeseran fungsi dan peran keluarga itu sendiri.

Keluarga idealnya menjalankan delapan fungsi, namun hal ini sudah mulai mengalami disfungsi. Pertama, fungsi reproduksi. Keluarga yang dibangun melalui lembaga suci pernikahan, dimaksudkan untuk melahirkan keturunan yang sah. Namun saat ini, makin banyak keluarga yang tidak mampu melaksanakan fungsi ini. Selain faktor takdir Allah SWT, gaya hidup tak sehat, memicu kegagalan pasangan suami-istri mendapatkan keturunan.

Di sisi lain, keluarga makin membatasi jumlah keturunan karena adanya kekhawatiran-kekhawatiran seperti: biaya persalinan mahal, biaya pendidikan anak mahal, dan malu kalau banyak anak. Terlebih kaum perempuan, makin banyak yang enggan hamil, melahirkan dan menyusui anak karena sibuk berkarier atau takut merusak keindahan tubuhnya. Padahal, bila fungsi reproduksi ini diabaikan, eksistensi keluarga dan bahkan manusia akan terancam. Bagaimana nasib generasi penerus jika proses reproduksi tidak berjalan?

Sementara itu, fungsi ini juga sudah diambil-alih oleh pelaku seks bebas, di mana keturunan yang mestinya hanya lahir dari pernikahan bisa dilahirkan di luar nikah. Hal ini jelas membahayakan eksistensi lembaga pernikahan.

Kedua, fungsi ekonomi. Terbentuknya keluarga, berarti terwujudnya kesatuan dan kemandiri ekonomi. Keluarga mendapatkan harta dan membelanjakan untuk memenuhi keperluan seluruh anggota keluarga sehingga terwujud kesejahteraan. Namun, fungsi ini kerap sulit dilakukan sebuah keluarga manakala problem akses terhadap sumber-sumber ekonomi tertutupi. Banyak pengangguran dari kalangan suami, padahal dialah penopang nafkah keluarga. Di sisi lain, harga-harga kebutuhan pokok terus meroket sehingga nafkah kerap tak mencukupi untuk seluruh anggota keluarga. Tak heran bila masih banyak yang berada di bawah garis kemiskinan. Jelas, ini sangat mengganggu terwujudnya keluarga bahagia dan sejahtera. Baca entri selengkapnya »





PERAN ISTERI DALAM ISLAM

4 07 2010

by Nurul Hikmah

Sebuah berita gembira datang dari sebuah hadits Rosul bahwa Rosulullah saw. Bersabda :
” Seluruh dunia ini adalah perhiasan dan perhiasan terbaik di dunia ini adalah wanita yang sholehah”.
Ketika seorang wanita muslimah menikah (menjadi seorang istri) maka dia harus mengerti bahwa dia memiliki peranan yang khusus dan pertanggungjawaban dalam Islam kepada pencipta-Nya, Allah swt. Di dalam Islam, peranan seorang istri memainkan peranan yang sangat penting dalam kehidupan berumah tangga dan peranannya yang sangat dibutuhkan menuntutnya untuk memilih kualitas yang baik sehingga bisa menjadi seorang istri yang baik. Pemahamannya, perkataaannya dan kecenderungannya, semua ditujukan untuk mencapai keridho’an Allah swt., Tuhan semesta Alam. Ketika seorang istri membahagiakan suaminya yang pada akhirnya, hal itu adalah untuk mendapatkan keridho’an dari Allah swt. sehingga dia (seorang istri) berkeinginan untuk mengupayakannya. Kualitas seorang istri seharusnya memenuhi sebagaimana yang disenangi oleh pencipta-Nya yang tersurat dalam surat Al-Ahzab. Seorang wanita muslimah adalah seorang wanita yang benar (dalam aqidah), sederhana, sabar, setia, menjaga kehormatannya tatkala suami tidak ada di rumah, mempertaankan keutuhan (rumah tangga) dalam waktu susah dan senang serta mengajak untuk senantiasa ada dalam pujian Allah swt.
Wanita yang mukmin lagi shalih adalah wanita yang tidak pernah memayahkan suaminya dengan tuntutan yang banyak. Dia adalah seorang istri yang menerima rezeki yang diberikan Allah kepadanya dan teladan yang baik dalam keluarganya. Allah SWT telah menciptakan isteri sebagai tempat menanam benih suami. Isteri dipersipakan oleh Allah dengan naluri keibuan untuk mampu melaksanakan tugas mengandung, melahirkan, menyusui, mengasuh dan mendidik anak. Isteri memiliki kasih sayang yang penuh kelembutan dan perhatian. Inilah yang dibutuhkan oleh anak-anak sejak dari dalam kandungan hingga masa tumbuh kembangnya. Naluri seperti ini tidak dimiliki oleh sang suami. Baca entri selengkapnya »





HAK DAK KEWAJIBAN SEORANG ISTRI DALAM ISLAM

4 07 2010

by Nur Helmah

Sebuah berita gembira datang dari sebuah hadits Rosul bahwa Rosulullah saw. Bersabda :
” Seluruh dunia ini adalah perhiasan dan perhiasan terbaik di dunia ini adalah wanita yang sholehah”.
Di dalam Islam, peranan seorang istri memainkan peranan yang sangat penting dalam kehidupan berumah tangga dan peranannya yang sangat dibutuhkan menuntutnya untuk memilih kualitas yang baik sehingga bisa menjadi seorang istri yang baik. Pemahamannya, perkataaannya dan kecenderungannya, semua ditujukan untuk mencapai keridho’an Allah swt., Tuhan semesta Alam. Ketika seorang istri membahagiakan suaminya yang pada akhirnya, hal itu adalah untuk mendapatkan keridho’an dari Allah swt. sehingga dia (seorang istri) berkeinginan untuk mengupayakannya.
Kualitas seorang istri seharusnya memenuhi sebagaimana yang disenangi oleh pencipta-Nya yang tersurat dalam surat Al-Ahzab. Seorang wanita muslimah adalah seorang wanita yang benar (dalam aqidah), sederhana, sabar, setia, menjaga kehormatannya tatkala suami tidak ada di rumah, mempertaankan keutuhan (rumah tangga) dalam waktu susah dan senang serta mengajak untuk senantiasa ada dalam pujian Allah swt. Baca entri selengkapnya »





Menikah Sebagai Sunnah para Nabi

6 06 2010

by Luky Rouf Tahrera

Kami telah mengutus beberapa rasul sebelum kamu dan Kami telah berikan kepada mereka istri dan keturunan”.
(QS Ar Ra’du : 38)
***
Tiga orang sahabat pernah datang ke salah satu rumah istri baginda Nabi saw dan bertanya perihal ibadah beliau. Setelah mendapatkan keterangan, mereka merasa dirinya kecil, “Seberapalah kita ini kalau dibandingkan dengan baginda Nabi saw” kata mereka, “Padahal beliau telah diampuni dosanya baik yang telah lalu maupun yang akan datang!”
Salah seorang di antara mereka kemudian berkata: “Kalau begitu, aku akan shalat malam terus-menerus selamanya”. “Sedangkan aku akan berpuasa terus-menerus dan tidak berbuka”, sahut yang satunya. Adapun yang ketiga berkata: “Aku akan menjauhi perempuan dan tidak akan menikah selama-lamanya!” Baca entri selengkapnya »








%d blogger menyukai ini: