Benarkah Penjajah Israel Tidak Bisa Dikalahkan

25 11 2012

Salah satu argumentasi yang sering dilontarkan oleh pihak-pihak yang ingin menghentikan perjuangan membebaskan Palestina adalah anggapan bahwa Israel adalah negara yang kuat. Fakta di lapangan menunjukkan sebaliknya. Israel adalah negara yang sangat kecil yang tidak memiliki kedalaman strategis. Sebuah pesawat tempur jet hanya dapat terbang di seluruh Israel (sejauh 40 mil laut dari Sungai Yordan ke Laut Mediterania) dalam waktu empat menit. Tidak memiliki tentara regular yang besar karena penduduknya harus mengandalkan cadangan. Jumlah Populasi Israel yang kecil menambah kepekaan terhadap kerugian sipil dan militer.

Israel, dari awal, mengandalkan migrasi dari berbagai kawasan dunia . Di masa lalu memang banyak yang bermigrasi ke Israel, namun saat ini kecenderungan ini terbalik. Karena kekhawatiran keamanan , semakin meningkat jumlah warga Israel ingin meninggalkan Israel. Sekarang ini , lebih banyak warga Israel yang pindah ke Eropa dan Amerika Serikat daripada sebaliknya.

Dari segi motivasi tentara Israel sangat lemah. Padahal motifasi inilah sangat menentukan kemenangan dalam perang. Tentara-tentara muda tidak mengalami pergulatan ideologis seperti di awal-awal pendirian Israel. Mereka juga banyak bermigrasi karena ingin mendapat kenyamanan hidup seperti perumahan gratis. Namun, mereka pasti berpikir seribu kali, ketika harus mempertaruhkan nyawa mereka. Terdapat fakta-fakta bagaimana prajurit Israel tampak ketakutan menghadapi rudal-rudal yang diluncurkan dari Gaza.

Pasukan konvensional Israel terdiri dari hanya memiliki 176.000 tentara aktif dengan 500.000 tentara cadangan. Persenjataan -yang banyak yang dibeli dari AS- meliputi 600 pesawat tempur. Sementara penduduk Israel hanya 7,5 juta.

Bandingkan dengan Mesir memiliki 240 pesawat tempur F-16 dari total 1200 pesawat udara. Mesir juga memiliki 450.000 tentera reguler. Sementara Turki memiliki 700 jet tempur dengan tentara aktif yang berjumlaah 400.000 personel.

Jumlah tentara regular ini tentu semakin kalau ditambah dengan pasukan cadangan yang bisa diambil dari total penduduk Mesir yang berjumlah 77 juta. Ditambah lagi dengan tentara cadangan dari 72 juta total penduduk Turki.

Persoalan umat Islam sekarang tinggal satu, adakah komando yang mau menggerakkan tentara-tentara regular dengan persenjataannya yang tidak kalah dengan Israel. Tentara regular ini akan didukung oleh jutaan umat Islam yang siap jihad fi sabillah membebaskan Palestina. Motifasi tentara Islam ini juga sangat kuat didasarkan pada aqidah Islam dan kerinduan syahid fi sabilillah.

Komando ini seharusnya muncul dari penguasa Mesir , Turki, Saudi dan Iran. Namun karena hampir seluruh penguasa Arab dan militernya memberikan loyalitasnya kepada Amerika,hal ini sangat sulit diharapkan. Karena itu penggulingan penguasa pengecut ini dan menggantikannya dengan Kholifah yang akan menerapkan sistem Khilafah menjadi sangat penting. Sebab hanya dengan menggerakan tentara lah Israel akan bisa dikalahkan hingga ke akar-akarnya.

Diambil dari situs hizbut-tahrir.or.id

Iklan




Tentara Israel Penakut dan Pakai Popok

25 11 2012

israel

Mediaumat.com. Jakarta- Banyak kalangan menuturkan sulit untuk mengalahkan Israel. Padahal, menurut Ketua Lajnah Siyasiyah DPP Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Yahya Abdurrahman hal tersebut hanya berupa mitos-mitos. “Militer Israel bisa dikalahkan walau persenjataan mereka canggih,” ujarnya di hadapan peserta Halqoh Islam dan Peradaban (HIP) Edisi ke 43, Kamis (22/11) di Wisma Antara, Jakarta.
“Militer Israel itu penakut, tentaranya menggunakan Pampers (baca; popok) dan lebih memilih sembunyi dalam tank karena takut tertembak,” ucapnya.
Mitos yang lain menurut Yahya, yaitu dilindungi oleh pelindung yang sangat kuat yakni Amerika. Padahal, Israel hanya dilindungi oleh penguasa-penguasa negeri muslim di sekeliling Israel.
“Ketakutan Israel itu, kalau penguasa-penguasa negeri muslim berbalik menyerang Israel dan tidak melindungi Israel lagi,” imbuhnya.
Yahya melanjutkan revolusi di timur tengah membuat Israel ketakutan. “Jika penguasa negeri muslim itu sadar dan berbalik mengepung Israel. Ibarat mengencingi Israel saja Israel akan tenggelam,” ujarnya.
HIP edisi 43 kali ini bertajuk Mengungkap Motif Serangan Israel Terhadap Gaza, menghadirkan pembicara Hamdan Basyar (Pengamat Timur Tengah), Jendral (purn) Tyasno Sudarto (Mantan KSAD), dan Hafidz Abdurrahman (DPP HTI).diambil dari http://hizbut-tahrir.or.id





Benarkah Penjajah Israel Tidak Bisa diKalahkan

25 11 2012

Salah satu argumentasi yang sering dilontarkan oleh pihak-pihak yang ingin menghentikan perjuangan membebaskan Palestina adalah anggapan bahwa Israel adalah negara yang kuat. Fakta di lapangan menunjukkan sebaliknya. Israel adalah negara yang sangat kecil yang tidak memiliki kedalaman strategis. Sebuah pesawat tempur jet hanya dapat terbang di seluruh Israel (sejauh 40 mil laut dari Sungai Yordan ke Laut Mediterania) dalam waktu empat menit. Tidak memiliki tentara regular yang besar karena penduduknya harus mengandalkan cadangan. Jumlah Populasi Israel yang kecil menambah kepekaan terhadap kerugian sipil dan militer.

Israel, dari awal, mengandalkan migrasi dari berbagai kawasan dunia . Di masa lalu memang banyak yang bermigrasi ke Israel, namun saat ini kecenderungan ini terbalik. Karena kekhawatiran keamanan , semakin meningkat jumlah warga Israel ingin meninggalkan Israel. Sekarang ini , lebih banyak warga Israel yang pindah ke Eropa dan Amerika Serikat daripada sebaliknya.

Dari segi motivasi tentara Israel sangat lemah. Padahal motifasi inilah sangat menentukan kemenangan dalam perang. Tentara-tentara muda tidak mengalami pergulatan ideologis seperti di awal-awal pendirian Israel. Mereka juga banyak bermigrasi karena ingin mendapat kenyamanan hidup seperti perumahan gratis. Namun, mereka pasti berpikir seribu kali, ketika harus mempertaruhkan nyawa mereka. Terdapat fakta-fakta bagaimana prajurit Israel tampak ketakutan menghadapi rudal-rudal yang diluncurkan dari Gaza.

Pasukan konvensional Israel terdiri dari hanya memiliki 176.000 tentara aktif dengan 500.000 tentara cadangan. Persenjataan -yang banyak yang dibeli dari AS- meliputi 600 pesawat tempur. Sementara penduduk Israel hanya 7,5 juta.

Bandingkan dengan Mesir memiliki 240 pesawat tempur F-16 dari total 1200 pesawat udara. Mesir juga memiliki 450.000 tentera reguler. Sementara Turki memiliki 700 jet tempur dengan tentara aktif yang berjumlaah 400.000 personel.

Jumlah tentara regular ini tentu semakin kalau ditambah dengan pasukan cadangan yang bisa diambil dari total penduduk Mesir yang berjumlah 77 juta. Ditambah lagi dengan tentara cadangan dari 72 juta total penduduk Turki.

Persoalan umat Islam sekarang tinggal satu, adakah komando yang mau menggerakkan tentara-tentara regular dengan persenjataannya yang tidak kalah dengan Israel. Tentara regular ini akan didukung oleh jutaan umat Islam yang siap jihad fi sabillah membebaskan Palestina. Motifasi tentara Islam ini juga sangat kuat didasarkan pada aqidah Islam dan kerinduan syahid fi sabilillah.

Komando ini seharusnya muncul dari penguasa Mesir , Turki, Saudi dan Iran. Namun karena hampir seluruh penguasa Arab dan militernya memberikan loyalitasnya kepada Amerika,hal ini sangat sulit diharapkan. Karena itu penggulingan penguasa pengecut ini dan menggantikannya dengan Kholifah yang akan menerapkan sistem Khilafah menjadi sangat penting. Sebab hanya dengan menggerakan tentara lah Israel akan bisa dikalahkan hingga ke akar-akarnya.

Diambil dari situs Hizbut-tahrir.or.id





Serangan Brutal Israel ke Gaza Disebabkan Kepasrahan Otoritas dan Penguasa Dhirar

25 11 2012

Keterangan Pers

Serangan Brutal Entitas Yahudi terhadap Warga Gaza Tak Bersenjata

Disebabkan Kepasrahan Otoritas dan Para Penguasa Dhirar

Entitas Yahudi penjahat memanfaatkan kepasrahan menyedihkan dan terus menerus pada diri rezim-rezim Arab dan Otoritas, maka entitas Yahudi pada hari Rabu melakukan operasi militer secara luas pemboman dari udara terhadap warga Gaza. Sejumlah laki-laki dan anak-anak syahid dan yang terdepan adalah asy-syahid (komandan) al-Qasam Ahmad al-Ja’bari. Dan Israel pun terus melakukan serangan terhadap warga Gaza yang menghadapi serangan pengecut itu dengan dada telanjang mereka dan dengan senjata ringan seadanya.

Serangan pengecut itu datang setelah entitas Yahudi paham bahwa peran rezim Mesir yang baru tidak lebih dari peran mediator antara entitas Yahudi dan Otoritas Gaza untuk mengikat gencatan senjata jangka panjang yang menjaga keamanan Yahudi. Serangan itu juga datang setelah presiden Otoritas menegaskan pemberian konsesi atas sebagian besar Palestina untuk Yahudi. Dia menegaskan bahwa warga Palestina tidak memiliki hak menuntut atas pendudukan tahun 48 atau untuk kembali ke sana. Dia juga menegaskan, Otoritas hanya berusaha mendapat pengakuan atas negara kecil di atas kertas pada batas pendudukan tahun 67 dengan posisi sebagai anggota peninjau di PBB.

Entitas Yahudi makin berani melakukan serangan karena rezim Turki, Qatar, Saudi, Iran, Mesir dan rezim-rezim dhirar lainnya, menegaskan berulang-ulang kali bahwa peran mereka tidak lebih hanya melontarkan pernyataan-pernyataan di media dan mengerahkan remah-remahan harta untuk dua otoritas di Gaza dan Ramallah. Mereka menegaskan bahwa mereka berlaku tuli, bisu, dan buta; tidak bisa melihat teriakan-teriakan meminta pertolongan dari orang-orang yang kehilangan anak, para wanita, orang-orang tua, anak-anak dan laki-laki tak bersenjata ketika mereka dibombardir oleh pesawat tempur pendudukan Yahudi yang menguji coba bermacam jenis baru senjata dan rudal.

Entitas Yahudi penjahat ini merasa aman dari sanksi sehingga terus melakukan serangan. Berapa banyak komandan yang dibunuh oleh tangan-tangan teroris ini! Mulai dari Abu Jihad, syaikh Ahmad Yasin, komandan asy-Syaikh ar-Rantisi dan syuhada’ lainnya. Apakah para penguasa menggerakkan pesawat mereka untuk menyerang entitas Yahudi supaya tidak mengulangi lagi kejahatannya, ataukah bahwa pesawat-pesawat milik para penguasa dhirar itu hanya untuk membombardir rakyatnya sendiri seperti yang terjadi di Suria, Pakistan, dan lainnya?!

Fakta kebenaran yang sudah dipahami oleh setiap orang berakal dan jujur adalah bahwa rezim-rezim boneka Amerika dan Barat ini diadakan untuk melindungi entitas Yahudi dan untuk melakukan konspirasi terhadap bangsa-bangsa seperti yang terjadi di Qatar akhir-akhir ini dengan dibuatnya koalisi yang disusupkan dalam revolusi. Koalisi yang dibuat di bawah pengawasan Amerika dan Eropa, agar menjadi alternatif pengganti rezim Assad yang jahat dalam menjaga kepentingan-kepentingan barat dan entitas Yahudi. Rezim-rezim yang berkomplot melawan rakyatnya sendiri ini seharusnya memobilisasi pasukannya untuk membebaskan Palestina atau untuk membela warga Gaza atau kaum muslimin lainnya yang berteriak meminta pertolongan.

Balasan yang benar terhadap serangan Yahudi yang berulang-ulang ini adalah dengan memobilisasi pasukan untuk membela warga Palestina dan meghancurkan entitas Yahudi penjahat serta mengembalikan Palestina dan warganya ke pangkuan Umat Islam. Para komandan pasukan yang telah mengetahui pengkhianatan para politisi yang mencengkeram tengkuk mereka dan tengkuk umat itu, wajib mencabut para penguasa itu dan membaiat seorang imam yang memerintah mereka dengan kitabullah dan sunnah rasul-Nya saw, memimpin mereka di medan jihad untuk membebaskan Palestina dan seluruh negeri islami yang diduduki. Untuk itulah Hizbut Tahrir yang ada di tengah Anda dan bersama-sama Anda, berjuang. Maka tolonglah Hizbut Tahrir agar Islam dan pemeluknya menjadi mulia dan sebaliknya kekufuran dan penganutnya menjadi hina, atas izin Allah SWT.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ

Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu (TQS al-Anfal [8]:24)





Israel Langgar Gencatan Senjata , Tembak Satu Orang Palestina, Syahid

25 11 2012


Menurut sumber militer Rusia bahwa Moskow telah mengirim kapal perang ke lepas pantai Jalur Gaza, untuk mengevakuasi warga Rusia yang ada di wilayah tersebut, mengantisipasi adanya eskalasi baru di Gaza.

Sebuah sumber di Pusat Komando angkatan Laut Rusia menyatakan, “Kapal perang tersebut akan ditempatkan di area spesifik di bagian timur Mediterania.”

Sementara itu, satu orang Palestina telah di tembak mati, jumat pagi lalu, oleh tentara Israel di selatan jalur Gaza, yang merupakan pelanggaran pertama setelah perjanjian gencatan senjata antara faksi perlawanan Palestina dan Israel.

Adham abu Salmiyah, juru bicara manajemen “Ambulan dan gawat darurat” mengatakan,”Pemuda bernama Anwaar Abdul Hadi Qudeih (20tahun) telah di bunuh oleh pasukan Israel di kota Khuza’ah sebelah timur Khan Younis,” ia juga menambahkan bahwa ,”tujuh warga sipil terluka oleh pasukan Israel yang menembaki sejumlah petani di kota Khuza’a.” Saksi mata mengatakan bahwa tentara Israel menembak sekelompok warga Palestina beberapa kali dari lokasi Kissufim militer Timur Khan Younis, kebanyakan dari mereka adalah petani yang mencoba untuk mencapai lahan pertanian mereka pada Jumat pagi. (hr)

Sumber:http://www.eramuslim.com





Obama Curhat di Mikrofon yang Menyala: Kau Lelah dengan Netanyahu? Apalagi Aku

10 11 2011

Jurnalis yang meliputi KTT ekonomi minggu lalu terhenyak mendengar Presiden Prancis Nicolas Sarkozy ngedumel soal Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Ia menyebut Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sebagai “pembohong” saat berbicara dengan Presiden AS Barack Obama, sementara mikrofon masih menyala.

Percakapan pribadi itu secara tidak sengaja terdengar, sesaat sebelum konferensi pers Obama-Sarkozy di sela-sela KTT Kelompok 20 ekonomi di resor Prancis, Cannes. Isinya pertama kali dilaporkan oleh situs Arret Sur Images, yang mengatakan wartawan mendengar komentar Sarkozy dalam bahasa Prancis dan Obama menjawab melalui penerjemah.

“Aku tidak bisa percaya dia lagi. Dia seorang pembohong,” kata Sarkozy menurut situs web itu.

Obama menjawab, “Kau lelah dengan dia? Bagaimana denganku, aku harus berurusan dengan dia setiap hari,” lapor situs.

Wartawan telah mendengarkan pembicaraan tetapi telah sepakat untuk tidak melaporkannya. Reuters dan Associated Press membenarkan laporan itu, selasa.

“Kami tidak merekamnya, dan untuk menggunakannya (sebagai bahan berita) kami melakukannya secara sembunyi-sembunyi,” kata juru bicara Arret Sur Images. (republika)





Mengapa Zionis-Israel Ngotot Hancurkan Masjid Al-Aqsha?

26 10 2011

Selasa, 6 Februari 2007, Zionis-Israel telah secara terang-terangan memulai proyek penghancuran Masjidil Aqsha yang merupakan masjid tersuci ketiga bagi umat Islam sedunia.

Jika sebelumnya kaum Zionis ini melakukan hal tersebut secara diam-diam, bahkan menyangkalnya dengan berbagai dalih, namun di hari kedua bulan Februari ini mereka telah menyatakan secara terbuka bahwa mereka memang berniat menghancurkan masjid yang pernah menjadi kiblat pertama bagi kaum Muslimin.

Upaya Zionis-Israel untuk menghancurkan Masjidil Aqsha sudah lama diketahui dunia. Keinginan mereka untuk membangun kembali Haikal Sulaiman (The Solomon Temple), di atas reruntuhan Masjidil Aqsha juga telah menjadi rahasia umum. Hanya saja, apa dasar ideologi dan maksud-maksud tersembunyi di balik penghancuran Masjidil Aqsha dan pendirian Haikal Sulaiman tersebut, hal ini masih menjadi pertanyaan besar.

Klaim Sepihak
Haikal Sulaiman diyakini dibangun tahun 960 SM oleh Nabi Sulaiman a.s, 370 tahun kemudian bangsa Babylonia menginvasi Yerusalem dan menghancurkan kuil tersebut.

Setelah itu, tentara Persia yang dipimpin Cyrus merebut Yerusalem dari tangan Babylonia dan membangun kembali Haikal Sulaiman.

Tahun 70 M, pasukan Romawi menyerang Yerusalem dan menghancurkan kembali Haikal Sulaiman rata dengan tanah.

Abad demi abad terus berjalan, namun cita-cita kaum Zionis-Yahudi untuk membangun kembali Haikal Sulaiman terus terpelihara dengan baik di dalam memori bangsanya.

Ketika gerakan Zionisme Internasional menyelenggarakan kongresnya yang pertama di Bassel, Swiss, tahun 1897, memori ini menemukan momentumnya dan Theodore Hertzl menyerukan agar semua Yahudi Diaspora berbondong-bondong memenuhi Tanah Palestina yang disebutnya sebagai Tanah Perjanjian.

Atas klaim sepihak, kaum Zionis ini mengatakan bahwa di bawah tanah Masjidil Aqsha inilah Haikal Sulaiman berdiri. Sebab itu, mereka mengatakan tidak ada pilihan lain kecuali menghancurkan Masjidil Aqsha dan kemudian membangun kembali Haikal Sulaiman di atasnya.

Bagi kaum Zionis, Haikal Sulaiman merupakan pusat dari dunia. Bukan Makkah, bukan pula Vatikan. Haikal Sulaiman-lah pusat seluruh kepercayaan dan pemerintahan segala bangsa. Keyakinan ini bukanlah berangkat tanpa landasan.

Dalam keyakinan Yudaisme yang sesungguhnya telah bergeser jauh dari Taurat yang dibawa oleh Musa a. S., bangsa Yahudi meyakini bahwa di suatu hari nanti seorang Messiah (The Christ) akan mengangkat derajat dan kedudukan bangsa Yahudi menjadi pemimpin dunia.

Kehadiran Mesiah inilah yang menjadi inti dari semangat kaum Yahudi untuk memenuhi Tanah Palestina. Namun hal ini menjadi perdebatan utama di kalangan Yahudi yang pro-Zionis dengan yang anti-Zionis.

Bagi yang pro-Zionisme, mereka menganggap Kuil Sulaiman harus sudah berdiri untuk menyambut kedatangan Messiah yang akan bertahta di atas singgasananya. Sedangkan bagi kaum Yahudi yang menolak Zionisme, bagi mereka, Messiah sendirilah yang akan datang dan memimpin pembangunan kembali Haikal Sulaiman yang pada akhirnya diperuntukkan bagi pusat pemerintahan dunia (One World Order).

Mengenai benar tidaknya lokasi bekas reruntuhan Kuil Sulaiman tepat berada di bawah Masjidil Aqsha, para sejarawan masih berbeda pendapat. Beberapa peneliti bahkan meyakini bahwa wilayah bekas berdirinya Kuil Sulaiman tersebut sesungguhnya berasa di luar kompleks Masjidil Aqsha sekarang ini.

Sejak menjajah Yerusalem di tahun 1967, kaum Zionis selalu berupaya merusak Masjidil Aqsha. Tahun 1969 sekelompok Yahudi fanatik berupaya membakar Masjid ini. Mereka juga terus melakukan penggalian di bawah tanah Masjidil Aqsha dengan alasan tengah melakukan riset arkeologis.

Belum cukup dengan itu, di dalam terowongan-terowongan yang digali, mereka juga mengalirkan air dalam jumlah besar dengan tujuan menggoyahkan kekuatan tanah di bawah masjid agar pondasi masjid menjadi rapuh. Akibatnya sekarang ini banyak pondasi masjid yang sudah rapuh dan jika ada gempa bumi sedikit saja maka bukan mustahil Masjidil Aqsha bisa runtuh.

Sekarang, tentara Zionis sudah secara terang-terangan hendak menghancurkan Masjidil Aqsha. Mereka tidak lagi mengeluarkan dalih macam-macam. Apakah ini merupakan tanda bahwa mereka sudah yakin bahwa sebentar lagi Messiah yang dinanti-nantikan akan segera hadir?

Hari Akhir
Menyongsong berdirinya Kuil Sulaiman, ‘Presiden’ Zionis-Israel Moshe Katsav melayangkan sepucuk surat kepada Perdana Menteri Vatikan yang berisi permintaan agar Tahta Suci Vatikan mengembalikan seluruh harta karun dan benda-benda berharga yang kini memenuhi kompleks Tahta Suci kepada mereka.

Kaum Zionis masih ingat betul, ketika di tahun 70M, pasukan Romawi menyerbu Yerusalem dan memboyong banyak harta karun dari Kuil Sulaiman dan membawanya ke Vatikan.

Jika harta karun sudah dikembalikan, maka ada satu syarat lagi menjelang hadirnya Messiah, yakni mereka harus menemukan dan menyembelih serta membakar seekor sapi betina berbulu merah berusia tiga tahun dan belum pernah melahirkan anak.

Untuk yang satu ini pun kaum Zionis telah mempersiapkannya. Melalui suatu proses rekayasa genetika, di tahun 1997, mereka telah mendapatkan seekor sapi dengan ciri-ciri tersebut.

Hanya saja, mereka terbentur satu persyaratan lagi, yakni penyembelihan dan pembakaran sapi merah ini harus dilakukan di atas kaki Bukit Zaitun.

Masalahnya, daerah ini sekarang belum bisa dijajah Zionis-Israel seperti wilayah Palestina lainnya. Kaki Bukit Zaitun masih berada di tangan yang berhak, yakni di tangan bangsa Palestina. Sebab itu, kaum Zionis selalu berupaya tanpa lelah mengusir orang-orang Palestina dari wilayah ini.

Memperdaya Pemeluk Kristen
Guna mencapai tujuannya, kaum Zionis tidak berusaha sendirian. Mereka juga memperdaya musuh-musuhnya yakni umat Kristen dan kaum Muslimin. Untuk memperdaya umat Kristiani, kaum Zionis menyusupkan nilai-nilai Talmud ke dalam Bibel seperti yang terjadi atas Injil Scofield atau Injil Darby.

Bahkan Injil versi King James sebagai Injil resmi Barat pun demikian. Sebab itu, tidak aneh jika sekarang ini sikap politik umat Kristiani seolah sama sebangun dengan kaum Yahudi. Padahal di dalam banyak ayat-ayat Talmud, kaum Yahudi ini begitu keras permusuhannya terhadap Kristen dan Yesus.

Keyakinan Injil juga menyebutkan tentang hadirnya The Christ kembali ke muka bumi (Maranatha atau The Second Coming) dalam wujud Tuhan seutuhnya. Kaum Yahudi menggiring opininya bahwa Maranatha tidak akan terjadi sebelum Haikal Sulaiman berdiri kembali di Yerusalem.

Kesamaan pandangan inilah yang membuat orang-orang Kristen mendiamkan ulah kaum Zionis yang hendak menghancurkan Masjidil Aqsha. Orang-orang Kristen ini telah terbius dengan retorika dan racun Zionis sehingga tidak bisa bersikap kritis dan mereka lupa bahwa salah satu agenda utama Zionis ini adalah juga meruntuhkan Tahta Suci Vatikan dan memindahkannya ke Yerusalem.

Dari sisi hukum internasional, upaya penghancuran Masjidil Aqsha juga tidak bisa dibenarkan. Berdasarkan Resolusi DK-PBB Nomor 242 dan beberapa resolusi lainnya, rezim Zionis Israel wajib melindungi masjid ini dan menuntut Zionis agar mundur dari seluruh wilayah Tepi Barat Sungai Jordan dan Jalur Gaza, dan menyerahkan wilayah itu kepada penduduk aslinya yang tak lain adalah rakyat Palestina. Namun dalam tataran praktek, resolusi ini tidak dijalankan.

Menurut keyakinan Yahudi, jika Messiah sudah bertahta di atas singgasana Haikal Sulaiman, maka Messiah itu akan memimpin kaum Yahudi untuk memerangi siapa pun yang tidak mau tunduk pada The New World Order, yakni si Yahudi itu sendiri. (Rz/eramuslim)








%d blogger menyukai ini: