Ustadz Abu Bakar Ba’asyir: Masyarakat Rusak Tauhidnya Karena Ideologi Demokrasi dan Pancasila

19 09 2011

Jum’at 16 September lalu, Eramuslim.com mendapat kesempatan berharga untuk menjenguk Ulama sekaligus Mujahid, yang kini mendekam di Mabes Polri, yakni Ustadz Abu Bakar Ba’asyir. Beliau yang kini tengah meringkuk di penjara karena tuduhan terorisme terihat sehat meski mengalami permasalahan pada mata kanannya.
“Jadi mata saya ini mau diobati. Kalau sudah begini (sambil menutup mata kirinya), saya itu sudah ndak lihat. Yang kanan ini mau dioperasi lagi atau disinar.” Jelas Ustadz Abu penuh senyum.
Pada kesempatan ba’da shalat Jum’at itu, Amir Jama’ah Anshorut Tauhid ini meminta umat muslim untuk serius mempelajari tauhid. Karena tauhid itu tidak hanya bersifat penghambaan kepada Allah semata, tapi juga ingkar kepada ilah-ilah lainnya seperti hukum buatan manusia.
“Masyarakat Islam ini sudah rusak tauhidnya, karena ideologi-ideologi yang berlaku di Indonesia bukan Islam, tapi Demokrasi, Nasionalis, Sosialis, dan Pancasila. Semua ideologi itu musyrik.” Tuturnya penuh keyakinan.
Tidak Menyetujui Negara Islam Berarti Murtad
Ustadz yang juga memimpin Ponpes Al Mukmin Ngruki ini mengecam berkembangnya pemahaman dibenak umat muslim yang tidak menyetujui Negara Islam. Tentu masih membekas di kalangan umat muslim ucapan petinggi sebuah partai Islam maupun sekuler yang mengatakan konsep ‘negara Islam adalah ide kampungan’, ‘syariat Islam sudah masa lalu’ atau statement pejabat pemerintah yang melecehkan syariat dengan mengatakan ‘Negara Islam bertentangan dengan NKRI’.
Menurut Ustadz Abu, kita tidak perlu ragu menjatuhkan vonis murtad kepada mereka yang jelas-jelas tidak menyetujui Negara Islam.
“Umat Islam menegakkan Negara Islam itu harus karena tuntutan tauhid, bukan politik. Maka jika ada orang Islam yang tidak menyetujui Negara Islam, maka dia sudah murtad. Kita jangan shalat dibelakang dia. Faham ya?” tanyanya.
Hal ini kata Ustadz Abu sudah tuntutan tauhid. Karena, tambah beliau, tauhid itu tidak saja sekedar perkataan manis dimulut tapi ia memiliki konsekuensi. Konsekuensi tersebut adalah dilanjutkan dengan amal perbuatan
“Tauhid itu mesti diyakini dalam hati, diucapkan dalam lisan, dan dibuktikan dengan perbuatan. Jika satu saja tidak dijalankan, maka semuanya gugur. SBY itu dihati mengakui Islam, tapi dalam kenyataannya menentang hukum Allah. Maka itu SBY Kafir. Pemerintahan ini kafir, murtad, dan pancasila musyrik. Kita jangan ragu,” imbunya penuh semangat.
Untuk menguatkan tauhid, maka Eramuslim.com dan beberapa kalangan umat muslim yang menjenguk beliau diberikan sebuah hadiah yakni dua buah buku. Pertama berjudul Hakikat Tauhid dan Syirik. Sedangkan buku lainnya berbicara mengenai Iman. (pz)

Iklan




Pancasila Sudah Tamat?

8 05 2011

Media nasional yang menjadi corong golongan Nashara, Kompas menjerit, dan menurunkan berita utamanya dengan judul, “Pendidikan Pancasila Dihapus”, dan ada sub title judul, “Nilai-nilai Toleransi Ditinggalkan”, tulisnya.
Selanjutnya, dalam “heading” tulisan itu berbunyi, “Dihapuskannya Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan di semua jenjang pendidikan membawa konsekuensi ditinggalkannya nilai-nilai Pancasila, seperti musyawarah, gotong royong, kerukunan, dan toleransi beragama”, tulis koran itu.
Sebenarnya, tanpa dihapuskan dari kurikulum pendidikan di sekolah-sekolah pun, hakekatnya ajarannya Pancasila itu sudah tidak ada. Karena praktek-praktek dalam kehidupan bernegara, bermasyarakat, dan beretika, serta beragama tidak ada lagi nilai-nilai Pancasila.
Praktek-praktek kehidupan bernegara, bermasyarakat, dan beretika tidak lagi menggunakan prinsip-prinsip Pancasila, yang menjadi ideologi negara. Pancasila hanya menjadi formalitas, dan sebutan bahwa Indonesia menganut sistem ideologi Pancasila. Tetapi, hakekat seluruh praktek dalam kehidupan masyarakat itu, tidak ada sedikitpun yang menggambarkan, bahwa masyarakat Indonesia adalah masyarakat Pancasilais.
Semasa Soekarno yang menjadi pencetus Pancasila, kemudian berkomplot dengan PKI, yang merusak nilai-nilai Pancasila, dan lebih condong kepada PKI, sampai terjadi pembrontakan di tahun 1965. Masa Soekarno Pancasila hanya digunakan untuk menghancurkan golongan Islam, dan Soekarno membubarkan Partai Masyumi, di tahun l960, karena Masyumi, yang nyata-nyata ingin memperjuangkan Islam sebagai dasar negara.
Sementara itu, partai-partai sekuler, seperti PNI, PKI, Partai Sosialis, dan Partai Kristen mendukung Pancasila sebagai dasar negara di Konstituante. Tetapi, masing-masing golongan itu, hanya menjadikan Pancasila sebagai kedok belaka, terutama untuk mencapai tujuan ideologi dan keyakinan mereka. Semuanya terbukti, bagaimana PKI, berhasil menukangi Soekarno, dan masuk di pusat kekuasaan, dan melakukan konsolidasi, kemudian melakukan pembrontakan di tahun 1965, yang tujuannya ingin merebut kekuasaan.
Dibidang politik Indonesia, di masa Soekarno tak pernah mandiri, meskipun Soekarno gigih menjadi salah satu tokoh Gerakan Non Blok, tetapi kebijakan politik luar negeri Indonesia menganut poros Jakarta – Moskow dan Jakarta – Peking. Kedua negara yang menjadi kiblat Soekarno adalah merupakan epicentum kekuatan komunis dunia.
Ketika kekuasaan berpindah ke tangan Jenderal Soeharto, yang dengan gigihnya ingin menjadikan Pancasila sebagai “way of life”, hanyalah omong kosong. Soeharto yang sangat fasistis itu, tak pernah mempraktekkan ajaran dan esensi Pancasila. Soeharto menjadi kaki tangan kepentingan Barat, yang menjajah Indonesia, dan menguasai sumber daya alam dan kekayaan alam Indonesia.
Di zaman Soeharto tidak ada secuil pun nilai-nilai Pancasila yang dipraktekkanya dalam kehidupan ini. Soeharto adalah jenderal yang menjadi kaki tangna kepentingan AS di Indonesia. Soeharto adalah operator penjajah AS, yang ingin menjadikan Indonesia sebagai negara bagiannya.
Di zaman Soeharto yang menjadikan kebijakan politik luar negeri Indonesia 100 persen berkiblat ke AS. Di zaman Soeharto masuk seluruh kepentingan AS ke dalam pusat kekuasasan. Indonesia benar-benar menjadi satelit AS. Kebijakan ekonominya, tak nampak bersumber dari nilai dan ideologi Pancasila, gotong royong dan koperasi yang ada sistem ekonomi kapitalis. Sistem ekonomi kapitalis yang mencekik rakyat Indonesia.
Pancasila di zaman Soeharto hanya digunakan alat “menggebuk” golongan Islam. Bahkan, Soeharto berkomplot dengan jenderal-jenderal Kristen, seperti Maraden Panggabean, Benny Murdani, dan Soedomo, serta sejumlah penjabat lainnya, untuk menghancurkan Islam. Selama pemerintahan Orde Baru, di bawah Jenderal Soeharto itu, tak terhingga jumlah umat Islam yang dibantai oleh Soeharto, melalui kaki tangan mereka, seperti di Aceh, Lampung, Tanjung Priok, dan Madura.
Jadi hakekatnya, Pancasila itu, selama ini hanya dijadikan alat dan kedok oleh berbagai kepentingan politik dan ideologi, dan lebih khusus lagi untuk menghancurkan golongan Islam. Pancasila hanya dijadikan alat untuk menyudutkan dan mendeskridetkan golongan Islam dengan tuduhan sebagai golongan yang anti ideologi Pancasila.
Sekarang, media Nashara, Kompas, menjerit dan kawatir, dan dengan dihapuskannya pendidikan kewarganegaraan dan Pancasila semua tingkatan akan mereduksi sikap toleransi? Tetapi, adakah golongan Nashara itu memiliki ajaran sikap toleransi yang sejati? Atau hakekatnya, Pancasila hanya menjadi kedok dan alat untuk menyudutkan dan menuduh golongan Islam sebagai anti Pancasila.
Bagaimana koran seperti Kompas dengan kampanye yang tidak habis-habis berbicara tentang terorisme, radikalisasi, dan fudementalisme yang selalu dikonotasikan dengan Islam dan umat Islam? Media itu terlibat secara aktif dan sistematis dalam sebuah kampanye untuk kebijakan deradikalisasi. Orang-orang Islam yang ingin berbuat taat dan melaksanakan agamanya, kemudian mendapat baju sebagai radikal, ekstrimis, dan fundamentalis.
Hakekatnya yan melakukan kejahatan, kekejian, kebiadaban, dan genoside, tak lain para penguasa Nshara-Barat terhadap umat Islam dan kaum muslimin. Mereka melakukan kejahatan kemanusiaan di mana-mana. Mereka dengan memberikan stempel “teroris” dan “al-Qaidah” kepada siapa saja, dan mereka yang mendapatkan stempel seperti itu layak dibunuh. Mereka para penguasa Nashara Barat mengahancurkan negara yang dituduh terlibat dengan “teroris” dan “al-Qaidah”.
Sesungguhnya, apa hak mereka untuk membunuh, menghancurkan umat lslam dan kaum Muslimin itu? Tetapi, mereka tanpa malu masih berani berbicara tentang toleransi dan kerukunan beragama?
Mereka hanyalah menggunakan kedok Pancasila untuk membangun kekuatan mereka, kaum Nashara di negeri Muslim ini, dan sesudah mereka kuat akan menghancurkan dan membunuhi umat Islam dan kaum Muslimin seperti di Philpina dan di tempat-tempt lainnya. Wallahu’alam.
[eramuslim]





Ideologi Sebagai Faktor Dominan Dalam Invasi Pemikiran Dan Budaya Barat

4 05 2011

Oleh M. Kusman Sadik
Pada tanggal 25 Desember 1991, dunia internasional dikagetkan oleh suatu peristiwa besar, yaitu runtuhnya Partai Komunis Uni Soviet. Partai yang lahir lewat Revolusi 10 hari Bolshevik tahun 1917 itu berakhir setelah kudeta selama 60 jam. Peristiwa itu diikuti dengan pembubaran partai-partai komunis di seluruh negara bagian Uni Soviet, juga di sebagian Eropa Timur. Bercerai-berainya negara-negara bagian Uni Soviet itu menandai berakhirnya eksistensi salah satu negara adidaya yang telah 70 tahun disegani dunia internasional.
Runtuhnya Uni Soviet menjadi babak akhir dari Perang Dingin (Cold War) yang telah dimulai semenjak tahun 1989-1991. Hal ini memunculkan diskursus yang luas tentang teori hubungan internasional. Selama periode itu, sebagian besar teori hubungan internasional didasarkan pada persaingan utama antara Amerika Serikat dan Uni Soviet. Akan tetapi, era pasca Perang Dingin, terdapat kecenderungan-kecenderungan baru yang harus diperhitungkan dalam penataan dunia baru. Sebagian pakar politik menganggap faktor kepentingan ekonomi akan menjadi asas utama dalam perumusan pola hubungan internasional. Namun, dengan sudut pandang berbeda, Samuel Huntington menyebutkan bahwa faktor benturan peradaban (the clash of civilization) merupakan unsur terpenting dalam pembentukan teori-teori pola hubungan internasional dan model hubungan tata dunia baru. Dalam bukunya, The Clash of Civilizations and The Remaking of World Order (1996), Huntington menulis bahwa “the central and most dangerous dimension on the emerging global politics would be conflict between groups from differing civilizations.”[i]
Mencermati tingginya tingkat konsentrasi perbedaan (global politics) antara dua peradaban, maka benturan yang paling besar itu akan terjadi antara Islam dan Barat. Tentunya, benturan tersebut akan diwarnai hanya oleh benturan fisik, tetapi juga benturan pemikiran dan budaya.

Ideologi: Asas Budaya dan Peradaban
Berbagai fakta di dunia menunjukkan bahwa perumusan teori hubungan internasional memang tidak bisa hanya didasarkan pada faktor ekonomi, tetapi juga menyangkut masalah budaya, agama, dan ideologi. Oleh karena itu, diperlukan adanya analisis tentang budaya, peradaban, dan ideologi serta keterkaitan antar ketiganya. Dengan begitu, titik-titik yang akan mengalami benturan akan mudah dibaca.
Clifford Geertz mendefinisikan kebudayaan (culture) sebagai sebuah pola makna-makna (a pattern of meanings) atau ide-ide yang termuat dalam simbol-simbol yang dengannya masyarakat menjalani pengetahuan mereka tentang kehidupan dan mengekspresikan kesadaran mereka melalui simbol-simbol itu.[ii] Melaui simbol, ide, dan adat-istiadat, Geertz menemukan pengaruh agama di setiap celah dan sudut kehidupan masyarakat Jawa. Dalam bukunya tersebut, Geertz menyebutkan bahwa agama merupakan satu sistem simbol yang bertujuan untuk menciptakan perasaan dan motivasi yang kuat, mudah menyebar, dan tidak mudah hilang dalam diri seseorang. Hal tersebut pada akhirnya akan menciptakan perasaan dan motivasi yang terlihat sebagai suatu realitas yang unik. Analisis dan teori Geertz lebih menekankan pada aspek pengaruh agama pada munculnya simbol-simbol (bentuk pakaian, model rumah, jenis peralatan, dll) sebagai sebuah budaya. Teori tersebut belum memberikan gambaran tentang keterkaitan antara budaya, peradaban, dan ideologi yang bisa mendasari teori benturan budaya antara Islam dan Barat yang sekular.
Menurut M. Husain Abdullah, peradaban (Inggris: civilization) dalam kosakata Arab disebut hadhârah, sedangkan kebudayaan (Inggris: culture) disebut tsaqâfah. Hadhârah secara bahasa berasal dari al-hadhar (perkotaan) sebagai lawan dari kata al-badwu (pedalaman); yang dimaksud oleh kata tersebut adalah metode kehidupan (tharîqah al-hayâh). Secara istilah, hadhârah (peradaban) adalah sekumpulan pemahaman (persepsi) tentang kehidupan (majmû‘ al-mafâhîm ‘an al-hayâh). Sedangkan tsaqâfah (budaya) adalah sekumpulan pengetahuan dan pemikiran yang mempengaruhi akal dan sikap seseorang terhadap fakta (benda maupun perbuatan), seperti masalah hukum, ekonomi, sosial, pendidikan, sejarah, dan lain sebagainya. Dengan demikian, tsaqâfah merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari hadhârah, karena tsaqâfah merupakan pemikiran-pemikiran yang menjelaskan sudut pandang dalam kehidupan. Pemikiran-pemikiran tersebut nantinya akan menjadi sebuah mafâhîm (persepsi) yang akan mengantarkan pada terciptanya sebuah peradaban.[iii]
Berdasarkan pemaparan di atas, istilah peradaban dan budaya (al-hadhârah wa ats-tsaqâfah) mengacu pada persoalan metode kehidupan tertentu, yaitu suatu gaya hidup yang khas dalam kehidupan masyarakat. Jika ditinjau lebih mendalam, gaya hidup yang khas ini haruslah lahir dari pandangan hidup yang khas pula, yaitu ideologi (mabda’). Menurut Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani, ideologi (mabda’) merupakan ‘aqîdah ‘aqliyyah (akidah yang lahir melalui proses berpikir) yang melahirkan peraturan hidup secara menyeluruh.[iv] Peraturan yang lahir dari akidah tersebut berfungsi untuk memecahkan dan mengatasi berbagai problem kehidupan manusia. Jadi, yang dimaksud dengan tsaqâfah (budaya) Islam adalah pemikiran-pemikiran tentang metode dan gaya hidup yang menyangkut seluruh aspek kehidupan, seperti ekonomi, politik, sosial, tata negara, hukum, dan sebagainya yang lahir dari akidah (ideologi) Islam. Sebaliknya, tsaqâfah Barat adalah pemikiran-pemikiran tentang metode hidup yang mencakup ekonomi, politik, sosial, tatanegara, tata hukum, dan sebagainya yang lahir dari akidah (ideologi) Barat, yaitu Kapitalisme-Sekularisme.
Benturan peradaban yang dirumuskan oleh Samuel Huntington mencakup benturan pemikiran dan benturan tatanilai pemikiran-pemikiran dan tatanilai Islam dengan pemikiran-pemikiran dan tatanilai Barat. Nilai-nilai itulah yang akan mempengaruhi pola penataan masyarakat di dunia, termasuk penataan hubungan antarnegara dan antarbangsa di dunia internasional.

Persimpangan Tsaqâfah Islam dengan Tsaqâfah Barat
Superioritas geopolitik Barat telah membelah dunia menjadi dua bagian, yaitu The West and The Rest (Barat dan bukan Barat). Mereka menyadari bahwa Barat telah memiliki metode kehidupan yang khas yang berbeda dengan metode kehidupan selain mereka. Bangsa-bangsa yang mengambil metode Barat sebagai landasan kehidupannya akan dimasukkan sebagai bagian dari komunitas mereka, sedangkan yang menolak akan disebut sebagai The Rest. Jadi, istilah Barat tidak selalu mengacu pada posisi letak geografis di bumi, tetapi lebih mengacu pada sistem dan metode kehidupan yang dipakai, yaitu ideologi.
Sekularisme merupakan ideologi yang melandasi tsaqâfah Barat. Kelahiran ideologi ini bermula pada saat kaisar dan raja-raja di Eropa dan Rusia menjadikan agama sebagai alat untuk memeras, menganiaya, dan menghisap darah rakyat. Para pemuka agama dijadikan sebagai perisai untuk mencapai keinginan mereka. Lalu timbullah pergolakan sengit yang kemudian membawa kebangkitan bagi para filosof dan cendekiawan. Sebagian mereka mengingkari adanya agama secara mutlak (ateis); sebagian lainnya mengakui adanya agama, tetapi menyerukan agar dipisahkan dari kehidupan, khususnya dalam mengatur negara. Berdasarkan ini, Barat kemudian menjadikan sekularisme, yaitu pemisahan agama dari kehidupan, sebagai ideologi mereka.[v]
Dalam The Encyclopedia of Religion, sekularisasi didefinisikan sebagai “the process in which religious consciousness, activities, and institutions, lose social significance. It indicates that religion becomes marginal to the operation of social system and that the essential functions for operation of society become rationalized.”[vi] Dalam tsaqâfah Barat, agama hanya berfungsi sebagai urusan individu dengan Tuhan, tidak bisa dimasukkan dalam institusi negara untuk mengatur ruang publik dan sosial. Peran agama dimarjinalkan dari sektor publik.
Berdasarkan tsaqâfah Barat, hukum dan perundang-undangan di tingkat negara diserahkan kepada wakil-wakil rakyat untuk merumuskannya dengan cara mengadopsi kehendak mayoritas rakyat. Dengan begitu, hukum dan undang-undang yang berlaku mencerminkan hasil kompromi dari berbagai akumulasi keinginan dan kehendak rakyat. Sumber hukum publik dalam pandangan tsaqâfah Barat adalah akal manusia, yaitu para anggota parlemen yang mengkompromikan berbagai kehendak rakyat tersebut. Untuk mencapai tujuan itu, digagaslah teori-teori tentang kebebasan (freedom) sebagai perwujudan dari perlindungan terhadap hak asasi manusia. Misalnya, pada tahun 1966, sidang umum PBB menyetujui secara aklamasi Perjanjian tentang Hak-hak Sipil dan Politik (Convenant on Civil and Political Rights). Pasal 9 menyinggung perlindungan terhadap hak kebebasan berperilaku dan keamanan seseorang (rights to liberty and security person) dan pasal 18 tentang kebebasan berpendapat dan beragama (rights to freedom of thought, conscience, and religion).
Negara akan menjamin kebebasan berperilaku tersebut selama tidak mengganggu kepentingan publik. Seorang wanita bisa melakukan pornografi ataupun pornoaksi selama hal itu tidak merugikan publik, apalagi bisa menghibur. Negara juga menjamin kebebasan berpendapat, yang salah satu wujudnya adalah penetapan hukum dan perundang-undangan oleh parlemen berdasarkan pendapat mayoritas. Penetapan hukum dengan mempertimbangkan agama (baca: syariat Islam) akan dianggap sebagai sikap sektarian yang mengancam demokrasi dan hak asasi manusia.
Kondisi umum masyarakat Amerika Serikat dapat dijadikan sebagai contoh pengaruh tsaqâfah Barat terhadap kehidupan. Hasil penelitian pakar AS, Andrew Shapiro, pada tahun 1992 sempat mengguncang masyarakat AS dari mimpi-mimpi narcisisme. Melalui bukunya yang berjudul, Where America Stands and Falls in the New World Order, Shapiro menuturkan tentang gejala-gejala kehancuran struktur politik, ekonomi, pendidikan, sosial, dan budaya dalam masyarakat AS. Dilaporkan bahwa satu berbanding lima (1:5) dari anak-anak AS, dan satu berbanding sepuluh (1:10) dari warga dewasa hidup dalam kemiskinan parah; 27 juta orang AS lebih layak untuk disebut sebagai buta huruf dan 40 juta orang berusia setengah baya mendapatkan kesulitan berat untuk membaca koran. Lebih dari 20.000 kasus kejahatan pembunuhan terjadi setiap tahunnya di tengah masyarakat AS atau satu kejahatan pembunuhan dalam setiap 25 menit. Satu dari sepuluh gadis AS yang berusia 15 sampai 19 tahun mengalami kehamilan akibat hubungan intim di luar nikah. Terdapat lebih dari satu juta kejahatan penyalahgunaan obat terlarang yang berhasil dicatat setiap tahunnya oleh lembaga-lembaga terkait. Berdasarkan laporan DW-World (27 Juli 2003), Amerika Serikat merupakan negara dengan jumlah narapidana terbanyak di dunia. Akhir tahun 2002 lalu, tercatat lebih dari 2 juta warga Amerika Serikat yang mendekam di penjara akibat melakukan tindak kriminal. Ada suatu kecenderungan bahwa tindak kriminal di AS naik rata-rata 2.6 persen setiap tahunnya.
Konsep dasar ideologi Barat yang memisahkan agama dari kehidupan tersebut bertolak belakang dengan ideologi Islam. Perbedaan diametral inilah yang bisa menjadi alasan mengapa Islam dan Barat akan mengalami benturan dalam membangun peradaban dunia. Wacana tentang ‘Islam Kultural’ yang dihembuskan oleh Barat sebenarnya ditujukan untuk mengakhiri benturan itu dengan kemenangan di pihak Barat. Istilah kultural dalam wacana ini sangat dekat dengan konsep kultural/budaya yang dikemukakan oleh Geertz. Karena itu, apabila konsep Islam kultural diterima oleh umat Muslim, akan terjadi pereduksian terhadap Islam. Wacana tersebut pada dasarnya merupakan konsep yang berusaha mendudukkan Islam hanya sebatas persoalan di ruang privat (ibadah dan akhlak), tidak memasuki ruang publik yaitu negara. Artinya, bahwa Islam tidak perlu dijadikan sebagai asas bagi negara untuk mengatur wilayah publik. Jadi, secara umum, tsaqâfah Barat tidak akan mengalami benturan dengan Islam kultural di atas. Benturan hanya akan terjadi dengan Islam yang diposisikan sebagai ideologi umat Muslim, yaitu Islam yang dijadikan sebagai asas hukum dan perundang-undangan dalam penataan kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat, dan negara (politik dalam negeri); juga sebagai asas bagi pola hubungan dengan negara-negara dan bangsa-bangsa di dunia (politik luar negeri).
Islam secara built-in telah mengharamkan pengadopsian tsaqâfah (budaya) yang bertentangan dengan Islam, seperti tsaqâfah Barat misalnya. Allah Swt. berfirman:
وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الإِسْلاَمِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ
Siapa saja yang mencari dîn (agama, ideologi, budaya, peradaban, dll) selain Islam, sekali-kali tidak akan diterima darinya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi. (QS Ali Imran [3]: 85).

Jadi, persoalannya bukanlah mengkompromikan tsaqâfah Islam dengan tsaqâfah Barat, karena memang dari asasnya sudah berbeda. Perbedaan pada sisi asas ini, yaitu antara ideologi Islam dengan ideologi sekularisme, akan menyebabkan perbedaan pada seluruh pemikiran dan tsaqâfah yang lahir dari ideologi tersebut. Karena itu, untuk menjaga umat dan kemurnian Islam dari gencarnya al-ghazwu ats-tsaqâfî dari Barat maka perlu dilakukan beberapa hal penting. Pertama, mendakwahkan Islam sebagai ideologi (mabda’). Dengan begitu, akan lahir kesadaran di tengah-tengah umat Muslim bahwa sistem penataan ekonomi, sosial, politik, tata hukum dan pemerintahan harus berasal dari tsaqâfah Islam yang digali dari al-Quran, as-Sunnah, Ijma Sahabat, dan Qiyas. Hal itu dilakukan seraya membongkar kekeliruan tsaqâfah Barat yang sedang dijajakan secara dahsyat dengan berbagai sarananya di tengah-tengah umat Muslim.
Kedua, mengajak umat Muslim untuk bersama-sama berjuang secara sungguh-sunguh mengembalikan payung kejayaan Islam, yaitu Daulah Khilafah Islamiyah. Saat ini tsaqâfah Barat didukung oleh institusi negara pimpinan AS, sedangkan tsaqâfah Islam hanya terakumulasi di kalangan umat Muslim tanpa ada kekuasaan dan kekuatan yang menjaganya. Al-Ghazwu ats-tsaqâfî yang dilancarkan Barat terhadap Islam sebenarnya berada dalam kondisi yang tidak seimbang. Sebentar lagi, insya Allah, Daulah Khilafah akan tegak kembali untuk menjadi perisai penjaga dan penyebar tsaqâfah Islam. Penyebarluasan tsaqâfah Islam terhadap warga negara yang Muslim adalah melalui penerapan sistem Islam, sedangkan bagi non-Muslim ahlu dzimmah melalui ‘aqad dzimmah dengan tujuan memperlihatkan keadilan sistem Islam. Sementara itu, ke luar negeri, Islam akan disebarkan melalui dakwah dan jihad (futûhât) yang bertujuan agar umat manusia tersentuh cahaya Islam. Tujuannya adalah agar mereka masuk Islam secara sukarela atau bersedia hidup di bawah sistem Islam, setelah melihat penerapan sistem Islam yang agung. Pada saat itulah akan terjadi perubahan peta politik internasional yang dibarengi dengan proses transformasi menuju tsaqâfah dan peradaban Islam. Mereka yang melihat kemuliaan Islam akan berbondong-bondong untuk meraihnya. Allah Swt. berfirman:
إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللهِ وَالْفَتْحُ(1)وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللهِ أَفْوَاجًا(2)فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا
Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, kamu akan melihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong. Karena itu, bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima Tobat. (QS an-Nashr [110]: 1-3).

Wallâhu a‘lam bi ash-shawâb. []

Catatan kaki:

[i] Huntington, Samuel P. 1996. The Clash of Civilizations and The Remaking of World Order, hlm.14.
[ii] Geertz, Clifford. 1966. Religion as Cultural System (Interpretation of Culture), hlm. 89.
[iii] Abdullah, M Husain. 1990. Diraasat fi al-Fikri al-Islamiyyah. Daar al-Bayariq, Beirut, hlm. 74.
[iv] An-Nabhani, Taqiyuddin. 2001. Nidzaamul Islam, Edisi 6. Mansyuurat Hizbut Tahrirh, hlm. 24.
[v] An-Nabhani. Ibid, hlm. 27.
[vi] Mircea, Eliade, et al. The Encyclopedia of Religion, vol. XIII, hlm. 160.





2011 : Harapan Membentang Luas

17 01 2011

(Farid Wadjdi)

Tahun 2010 , sama dengan tahun-tahun sebelumnya kondisi umat Islam masih menyedihkan. Namun penderitaan ini bukanlah tanpa akhir. Muncul kesadaran yang semakin menguat untuk menegakkan khilafah dan syariah, bersamaan dengan menguatnya tanda-tanda kehancuran peradaban Kapitalisme Barat. Hal ini membuat kita semakin optimis. Harapan ke depan masih membentang luas.

Survei terbaru Pew Research Center (desember 2010) menunjukkan mayoritas muslim di Indonesia, Mesir, Nigeria dan Yordania yang paling antusias untuk memberlakukan hukum Islam di negaranya. Lebih dari 3/4 responden survei di negara-negara itu memberikan pandangan yang positif terhadap peran Islam dalam politik. Hal ini mengokohkan survey-survey sebelumnya yang juga menunjukkan angka trend yang meningkat untuk perjuangan syariah dan khilafah.

Tanda-tanda kebangkrutan Amerika banyak dinyatakan intelektual Barat sendiri. Moris Berman dalam bukunya, Dark Ages America: The Final Phase of Empire (Norton, 2006) : Imperium Amerika segera akan rubuh. Ia menggambarkan Amerika sebagai sebuah kultur dan emosional yang rusak oleh peperangan, menderita Baca entri selengkapnya »





Kemitraan Komprehensif Indonesia dengan Negara Adidaya (AS)

25 12 2010

by : Rusidawati

Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Marty Natalegawa memaparkan bahwa kunjungan Obama tersebut merupakan peluncuran kemitraan komprehensif antara RI dan AS. Dalam beberapa bulan terakhir ini, Kementerian Luar Negeri telah mengantisipasi berbagai hal terkait kunjungan Obama. Dalam kunjungan itu akan dibahas kemitraan yang bersifat komprehensif, antara lain hubungan politik, keamanan, ilmu pengetahuan, dan hubungan antarmasyarakat. Kunjungan tersebut akan melanjutkan beberapa hal yang telah disepakati, di antaranya investasi dan perdagangan (MICOM).

Istilah “Kemitraan” ini sepertinya mengandung makna positif bagi pendengarnya. Namun, sebenarnya istilah ini perlu dikritisi karena seolah-olah menjadi sebuah peluang baik bagi Indonesia untuk menjadi mitra AS. Posisi yang tampak seimbang antara AS dengan Indonesia. Meskipun sebenarnya tidak sama sekali. Sebagaimana yang telah diketahui bahwa AS adalah negara adidaya, sekaligus penjajah, sementara Indonesia adalah negara koloni AS. Baca entri selengkapnya »





FAKTA KONFERHENSIF BAGI INDONESIA

25 12 2010

by ukhti

Masih segar dalam ingatan kita bagaimana prosesi menyambut kedatangan Presiden Amerika Serikat ( Barack Obama ) beberapa waktu lalu yang sangat menyita perhatian publik. Hampir setiap media informasi Indonesia memberitakan bagaimana kehebohan masyarakat di saat-saat kedatangan Obama tersebut. Sambutan yang luar biasa meriah dari sebagian masyarakat akan kedatangan Obama bukan berarti ia diterima secara mutlak di Indonesia pada 9 November yang lalu. Banyak pihak yang tidak mengharapkan bahkan menolak kedatangan orang nomor satu di AS tersebut. Akan tetapi kenapa Obama bisa melenggang mulus memasuki Indonesia padahal kecaman datang dari berbagai pihak ?
Jauh hari sebelum datangnya Obama di negara yang mayoritas muslim ini, Menlu Indonesia, Martin Natalegawa telah melakukan pertemuan dengan Menlu AS, Bill Clinton mengenai hubungan antara dua negara tersebut. Hubungan yang dimaksud disini kerjasama atas investasi-investasi yang telah ditanamkan Amerika bagi Indonesia. Tidak hanya sampai disitu, hubungan yang sudah terjalin ini ingin ditingkatkan lagi melalui program yang dinamakan dengan kemitraan konferhensif.
Kemitraan konferhensif berarti suatu bentuk kerjasama yang dilakukan antara dua negara atau lebih dalam berbagai bidang yang terkait secara kompleks menyangkut bidang politik, ekonomi, pendidikan, sosial, budaya dan sebagainya. Bentuknya pun tidak sebatas hanya investasi bisnis atau terikat perjanjian biasa, akan tetapi lebih dari itu pihak negara yang melakukan kemitraan konferhensif akan turut campur secara lebih jauh dalam urusan dalam negeri rekannya. Bahkan mulai ikut campur dalam penetapan kebijakan dan ikut andil dalam menyebarluaskan apa yang ingin dicapai atau ide-ide yang diemban negara yang bersangkutan. Baca entri selengkapnya »





Khilafah Dalam Pandangan Barat

27 10 2010

by 250 Juta Dukungan Untuk Ganti Kapitalisme, Sosialisme/Komunisme dgn ISLAM

Jika Anda ingin berbicara tentang Khilafah dalam pandangan Barat, itu artinya Anda akan berbicara tentang tamatnya dominasi negara-negara itu dan tamatnya penjajahannya atas dunia, sekaligus Anda akan berbicara tentang rancangan hadhârah (peradaban) yang amat kuat dasarnya (qawiyy al-autâd), amat kokoh kesadaran akan harga diri dan identitasnya (shalb al-syakîmah) yang akan bangkit menjadi tantangan internasinal (tahaddiy[an] ‘âlamiyy[an] bagi hadharah Barat, bahkan akan menggusurnya. Artinya, Anda akan berbicara tentang sebuah sistem universal yang baru; model ideologi yang akan mengganti ideologi liberal-sekular Barat.

Jika Anda berbicara tentang Khilafah, itu artinya Anda sedang berbicara tentang sebuah mimpi buruk yang menghantui ketenangan Barat dan menjadikan mereka terjangkiti insomnia pada saat tidur maupun terjaga. Artinya, Anda berbicara tentang ‘Kerajaan Islam Universal’ –meminjam ungkapan para pemimpin Barat –yang akan menaungi negeri-negeri Islam saat ini maupun di masa lampau, yang akan membentang dari Eropa ke Afrika utara, ke Timur Tengah, dan ke Asia Tenggara. Dimana hal ini akan kembali menjadikannya mampu untuk memimpin dunia. Baca entri selengkapnya »








%d blogger menyukai ini: