WANITA: ANTARA KESETARAAN GENDER DAN PERANAN RUMAH TANGGA

23 04 2011

Oleh: Rizqi Awal El-Falimbani
(Komunitas Sastra Cerdas)

Perempuan dalam wacana sistem demokrasi adalah sosok yang setara dengan laki-laki, yakni sebagai individu yang berdaulat penuh atas dirinya. Pandangan terhadap perempuan harus tegak di atas prinsip kesetaraan yang adil yaitu tidak membedakan manusia atas dasar fungsi reproduksi. Dengan demikian, tidak diterima adanya pembagian fungsi dan peran dalam struktur social masyarakat, termasuk dalam keluarga. Sehingga terkadang perempuan hanya berperan sebagai ibu, pengasuh anak kecil, pengelola urusan dapur dan pelayan di atas ranjang. Inilah yang menimbulkan gerakan kesetaraan gender dalam Demokrasi. Baca entri selengkapnya »

Iklan




BUNDA, AKU SAYANG KAMU

9 04 2011

by : Zulia Ilmawati

Apa yang paling dinanti seorang wanita yang baru saja menikah ?
Sudah pasti jawabannya adalah : k-e-h-a-m-i-l-a-n.
Seberapa jauh pun jalan yang harus ditempuh, Seberat apa pun langkah yang mesti diayun, Seberapa lama pun waktu yang harus dijalani, Tak kenal menyerah demi mendapatkan satu kepastian dari seorang bidan: p-o-s-i-t-i-f.

Meski berat, tak ada yang membuatnya mampu bertahan hidup kecuali benih dalam kandungannya. Baca entri selengkapnya »





Ibu Pencetak Generasi Unggul

29 12 2010

by Ayu Maulani,

“Ibu adalah sekolah yang jika engkau telah mempersiapkannya berarti engkau telah mempersiapkan suatu bangsa yang mempunyai akar-akar yang baik.”
Tidak ada yang dapat mengingkari betapa pentingnya peran sosok yang kita sebut Ibu. Banyak orang besar yang tampil dikancah dunia karena peran seorang ibu.Ibu imam syafi’I mewakili perjuangan ibu dari tokoh-tokoh agama.suaminya meninggal sebelum imam syafi’i lahir.Ia membesarkan Syafi’i sendirian.memotivasinya untuk belajar,mendidiknya sehingga mampu menjadi seorang mujtahid.
Sosok seorang Ibu dari Imam syafi’i adalah salah satu contoh sosok ibu yang kita harapkan.Namun bukanlah hal yang mudah untuk kita temui saat-saat ini.Karena pada faktanya banyak ibu sekarang yang lebih memilih untuk menghabiskan waktunya diluar rumah mencari uang, dibanding untuk mendidik anaknya dirumah.Atau kalaupun dirumah banyak ibu sekarang yang tersibukan dengan rutinitas pekerjaan rumah mereka.
Dengan banyaknya ibu yang berkiprah di luar rumah mencari nafkah,peluang terjadinya disharmonisasi keluarga lebih terbuka,Ibu yang lelah bekerja lebih mudah emosi .Anak sering kali menjadi sasaran pelampiasan. Baca entri selengkapnya »





Muliakan Kaum Ibu (Refleksi Hari Ibu tanggal 22 Desember 2010)

27 12 2010

by FARIDAH, S.PD

Ibu adalah insan yang mulia. Islam, sejak keberadaannya dan sejak dibawa oleh Rasulullah, telah meletakkan posisi seorang ibu sangat tinggi. Ibu, ibu, ibu, baru kemudianlah seorang ayah, yang wajib dihormati oleh seorang anak, begitu hadist Rasulullah saw yang sudah terkenal. Pemuliaan kepada seorang ibu terjadi setiap waktu, bukan hanya satu hari saja.
Tentu jika sekarang ada Hari Ibu, maka ada sesauatu yang lain di sana. Hari Ibu adalah hari peringatan/ perayaan terhadap peran seorang ibu dalam keluarganya, baik untuk suami, anak-anaknya, maupun lingkungan sosialnya. Peringatan dan perayaan biasanya dilakukan dengan membebas-tugaskankan ibu dari tugas domestik yang sehari-hari dianggap merupakan kewajibannya, seperti memasak, merawat anak, dan urusan rumah tangga lainnya. Dan Hari Ibu dilaksanakan di seluruh dunia dengan nama Mother’s Day dengan berbeda-beda tanggalnya.
Mungkin ada pembenaran; yah, nggak apa-apalah, dalam satu hari, seorang ibu libur dulu dari tugas-tugas rutinnya. Ibnu Umar ra berkata, Sabda Rasulullah saw bersabda: “Wanita yang tinggal di rumah bersama anak-anaknya, akan tinggal bersama-samaku dalam surga.” Artinya, tidak ada berhenti atau cuti ketika sudah menjadi ibu—posisi yang sangat mulia dalam kehidupan. Adapun beban pekerjaan, bukankah Islam telah mengatur sedemikian rupa pendelegasian dengan suami hingga semua tugas dbibagi rata antara suami dan istri? Baca entri selengkapnya »





Bangga Menjadi Ibu

27 12 2010

by Fauziah

Siapa bilang menjadi seorang ibu rumah tangga itu mudah. Adalah sebuah kesalahfahaman yang sangat besar jika pilihan seorang wanita untuk menjadi seorang ibu rumah tangga dianggap lebih gampang dibandingkan menjadi seorang wanita karier. Bayangkan saja seorang ibu rumah tangga mampu melakukan banyak sekali aktivitas pekerjaan rumah setiap harinya. Mulai dari membersihkan rumah, memasak, mencuci, mengurus anak dan suami dan lain sebagainya. Selain itu, seorang ibu memiliki peran yang sangat besar dalam pembentukan generasi suatu bangsa. Ibu adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya, sosok yang sangat dekat, yang pertama kali berinteraksi dengan anak. Sejak anak dalam kandungan, ibu sudah mulai mempengaruhi fisik dan mentalnya, dan ketika anak lahir, ibu yang menggoreskan warna dalam lembar-lembar putihnya untuk pertama kali. Hanya dengan kesadaran, pengorbanan dan kasih sayang yang besar dari seorang ibu, benih tumbuh berkembang dalam rahimnya selama 9 bulan. Baca entri selengkapnya »





Pertambahan Penduduk, Problem atau Potensi?

8 08 2010

Penulis : Faridah Afifah, S.Pd;

Jumlah penduduk Indonesia, sudah mencapai 238 juta dengan pertumbuhan penduduk pertahun 3,2 juta jiwa. Dengan laju pertumbuhan seperti ini, dalam beberapa tahun ke depan diperkirakan jumlah penduduk Indonesia akan menyalip jumlah penduduk Amerika Serikat (AS). Ketakutan akan pertambahan penduduk khususnya di Indonesia bahkan dilukiskan sama dengan terorisme, sebagai mana yang terdapat dalam situs http://www.bkkbnonline. Dalam situs tersebut menyatakan: “Ancaman bom yang mengintai Indonesia saat ini bukan hanya datang dari kelompok teroris. Ada ancaman bom lain yang diam-diam mengintai dan tidak kalah gawat dampaknya dari ancaman kelompok teroris: Bom Kepedudukan. Indonesia akan menghadapi ancaman Bom Kependudukan dalam 5 tahun ke depan”
Di Indonesia pertambahan penduduk karena angka fertilitas yang relatif tinggi juga dianggap suatu masalah besar dan harus mendapat perhatian. Kondisi ini tidak menguntungkan dari sisi pembangunan ekonomi karena ini terkait dengan kualitas pendidikan masyarakat yang masih rendah sehingga penduduk lebih diposisikan sebagai beban pembangunan daripada modal pembangunan. Logika ini secara makro digunakan untuk memberikan justifikasi mengenai pentingnya suatu keluarga melakukan pembatasan jumlah anak.
Oleh karena itu, beberapa tahun belakangan ini program KB kembali digalakkan. Bahkan dengan slogan baru. Jika dulu “2 anak cukup” kini pemerintah semakin menganjurkan warganya untuk hanya memiliki 2 orang anak saja dengan slogan “2 anak lebih baik”. Penggalakan kembali program KB ini dilatarbelakangi oleh pesatnya pertumbuhan penduduk Indonesia, bahkan dunia. Baca entri selengkapnya »





Mendudukkan Kembali Fungsi Keluarga

4 07 2010

Oleh Kholda Naajiyah

Tanggal 29 Juni diperingati sebagai Hari Keluarga Nasional. Keluarga adalah elemen terkecil masyarakat yang diharapkan menjadi sumber kebahagiaan dan kesejahteraan. Sudahkkah itu terwujud? Marilah kita cermati, betapa masih banyak problem yang dialami keluarga-keluarga di Indonesia. Seperti keluarga yang kesulitan ekonomi, kesulitan mengakses pendidikan hingga keluarga yang tercerai berai. Krisis keluarga ini bermula dari terjadinya bergeseran fungsi dan peran keluarga itu sendiri.

Keluarga idealnya menjalankan delapan fungsi, namun hal ini sudah mulai mengalami disfungsi. Pertama, fungsi reproduksi. Keluarga yang dibangun melalui lembaga suci pernikahan, dimaksudkan untuk melahirkan keturunan yang sah. Namun saat ini, makin banyak keluarga yang tidak mampu melaksanakan fungsi ini. Selain faktor takdir Allah SWT, gaya hidup tak sehat, memicu kegagalan pasangan suami-istri mendapatkan keturunan.

Di sisi lain, keluarga makin membatasi jumlah keturunan karena adanya kekhawatiran-kekhawatiran seperti: biaya persalinan mahal, biaya pendidikan anak mahal, dan malu kalau banyak anak. Terlebih kaum perempuan, makin banyak yang enggan hamil, melahirkan dan menyusui anak karena sibuk berkarier atau takut merusak keindahan tubuhnya. Padahal, bila fungsi reproduksi ini diabaikan, eksistensi keluarga dan bahkan manusia akan terancam. Bagaimana nasib generasi penerus jika proses reproduksi tidak berjalan?

Sementara itu, fungsi ini juga sudah diambil-alih oleh pelaku seks bebas, di mana keturunan yang mestinya hanya lahir dari pernikahan bisa dilahirkan di luar nikah. Hal ini jelas membahayakan eksistensi lembaga pernikahan.

Kedua, fungsi ekonomi. Terbentuknya keluarga, berarti terwujudnya kesatuan dan kemandiri ekonomi. Keluarga mendapatkan harta dan membelanjakan untuk memenuhi keperluan seluruh anggota keluarga sehingga terwujud kesejahteraan. Namun, fungsi ini kerap sulit dilakukan sebuah keluarga manakala problem akses terhadap sumber-sumber ekonomi tertutupi. Banyak pengangguran dari kalangan suami, padahal dialah penopang nafkah keluarga. Di sisi lain, harga-harga kebutuhan pokok terus meroket sehingga nafkah kerap tak mencukupi untuk seluruh anggota keluarga. Tak heran bila masih banyak yang berada di bawah garis kemiskinan. Jelas, ini sangat mengganggu terwujudnya keluarga bahagia dan sejahtera. Baca entri selengkapnya »








%d blogger menyukai ini: