Hukum Menggambar Makhluk Bernyawa

25 09 2011

Soal: Saya mau tanya seputar hukum membuat gambar. Seperti yang pernah saya baca dari beberapa buku dan info dari teman-teman saya, katanya menggambar akhluk bernyawa itu haram. Tapi bagaimana kalau hanya menggambar alam bentuk kartun? Misalnya dalam bentuk karikatur, komik kayak ‘manga’ dan ‘animasi’ ala Jepang yang kadang-kadang nggak sempurna menggambarkan seorang manusia. Secara lebih konkrit, sebut saja sailormoon, kura-kura ninja, dragon ball, doraemon, pokemon, dan lain-lain. Atau yang ceritanya rada-rada Islami kayak Ali Baba, serial Aladin, serial Abu Nawas, dan lain-lain. Dan di beberapa stiker Islam yang dibuat oleh sejumlah parpol intra dan ekstra parlemen juga memuat kartun-kartun lucu. Apakah hukumnya juga haram? Bagaimana status semua itu? Apa yang dimaksud dengan menyerupai makhluk Allah? Apakah menggambar yang dimaksud itu adalah melukis seperti aliran realis ala Basuki Abdullah, dan kawan-kawan? Mohon penjelasannya.

Jawab: Hukum Menggambar Makhluk Bernyawa

Pada dasarnya para ‘ulama sepakat bahwa hukum menggambar makhluk bernyawa adalah haram. Banyak riwayat yang menuturkan tentang larangan menggambar makhluk bernyawa, baik binatang maupun manusia. Sedangkan hukum menggambar makhluk yang tidak bernyawa, misalnya tetumbuhan dan pepohonan adalah mubah.

Berikut ini akan kami ketengahkan riwayat-riwayat yang melarang kaum muslim menggambar makhluk bernyawa.

Dari Ibnu, dia berkata, “Rasulullah Saw bersabda, ‘Barangsiapa menggambar suatu gambar dari sesuatu yang bernyawa di dunia, maka dia akan diminta untuk meniupkan ruh kepada gambarnya itu kelak di hari akhir, sedangkan dia tidak kuasa untuk meniupklannya.’” [HR. Bukhari].

Rasulullah Saw bersabda, “Sesungguhnya diantara manusia yang paling besar siksanya pada hari kiamat adalah orang-orang yang menggambar gambar-gambar yang bernyawa.” (lihat Sayyid Sabiq, Fiqh Sunnah, bab Tashwiir).

Diriwayatkan oleh Imam Muslim, bahwa seorang laki-laki dateng kepada Ibnu ‘Abbas, lalu katanya, “Sesungguhnya aku menggambar gambar-gambar ini dan aku menyukainya.” Ibnu ‘Abbas segera berkata kepada orang itu, “Mendekatlah kepadaku”. Lalu, orang itu segera mendekat kepadanya. Selanjutnya, Ibnu ‘Abbas mengulang-ulang perkataannya itu, dan orang itu mendekat kepadanya. Setelah dekat, Ibnu ‘Abbas meletakkan tangannya di atas kepala orang tersebut dan berkata, “Aku beritahukan kepadamu apa yang pernah aku dengar. Aku pernah mendengar Rasulullah Saw bersabda, ‘Setiap orang yang menggambar akan dimasukkan ke neraka, dan dijadikan baginya untuk setiap gambarnya itu nyawa, lalu gambar itu akan menyiksanya di dalam neraka Jahanam.’” Ibnu ‘Abbas berkata lagi, “Bila engkau tetap hendak menggambar, maka gambarlah pohon dan apa yang tidak bernyawa.” [HR. Muslim].

Dari ‘Ali ra, ia berkata, “Rasulullah Saw sedang melawat jenazah, lalu beliau berkata, ‘Siapakah diantara kamu yang mau pergi ke Madinah, maka janganlah ia membiarkan satu berhala pun kecuali dia menghancurkannya, tidak satupun kuburan kecuali dia ratakan dengan tanah, dan tidak satupun gambar kecuali dia melumurinya?’ Seorang laki-laki berkata, ‘Saya, wahai Rasulullah.’ ‘Ali berkata, “Penduduk Madinah merasa takut dan orang itu berangkat, kemudian kembali lagi. Lelaki itu berkata, ‘Wahai Rasulullah, tidak aku biarkan satu berhala pun kecuali aku hancurkan, tidak satupun kuburan kecuali aku ratakan, dan tidak satu pun gambar kecuali aku lumuri’. Rasulullah bersabda, ‘Barangsiapa kembali lagi membuat sesuatu dari yang demikian ini, maka berarti dia telah kafir terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad Saw.’” [HR. Ahmad dengan isnad hasan].

Larangan menggambar gambar di sini mencakup semua gambar yang bernyawa, baik gambar itu timbul maupun tidak, sempurna atau tidak, dan distilir maupun tidak. Seluruh gambar yang mencitrakan makhluk bernyawa, baik lengkap, setengah, kemungkinan bisa hidup atau tidak, distilir (digayakan), maupun dalam bentuk karikatur adalah haram. Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani dalam kitab al-Syakhshiyyah al-Islamiyyah, juz 2, menyatakan, bahwa gambar yang dimaksud di dalam riwayat-riwayat di atas adalah semua gambar yang mencitrakan makhluk bernyawa, baik lengkap, setengah, kemungkinan bisa hidup atau tidak, maupun distilir atau tidak. Semuanya terkena larangan hadits-hadits di atas (Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani, al-Syakhshiyyah al-Islamiyyah, juz 2, bab Tashwiir).

Larangan yang terkandung di dalam nash-nash di atas juga tidak mengandung ‘illat. Larangan menggambar makhluk bernyawa bukan karena alasan gambar itu sempurna atau tidak. Larangan itu juga tidak berhubungan dengan apakah gambar tersebut mungkin bisa hidup atau tidak, distilir maupun tidak. Semua gambar makhluk hidup walaupun tidak lengkap hukumnya tetap haram.

Walhasil, gambar manusia dalam bentuk karikatur, komik, maupun batik yang distilir adalah haram, tanpa ada keraguan sedikitpun. Semua gambar makhluk bernyawa baik digambar secara gaya natural, surealik, kubik, maupun gaya-gaya yang lain adalah haram. Demikian juga, gambar potongan kepala, tangan manusia, sayap burung dan sebagainya adalah haram. Untuk itu, menggambar komik Sailormoon, Dragon Ball, Ninja Boy, Kunfu Boy, Samurai X, dan lain sebagainya adalah perbuatan haram.

Sedangkan proses mendapatkan gambar-gambar yang diperoleh dari proses bukan “menggambar”, misalnya dengan cara sablon, cetak, maupun fotografi, printing dan lain sebagainya, bukanlah aktivitas yang diharamkan. Sebab, fakta “menggambar dengan tangan secara langsung” dengan media tangan, kuas, mouse dan sebagainya (aktivitas yang haram), berbeda dengan fakta mencetak maupun fotografi. Oleh karena itu, mencetak maupun fotografi bukan tashwir, sehingga tidak berlaku hukum tashwir. Atas dasar itu stiker bergambar manusia yang diperoleh dari proses cetak maupun printing tidak terkena larangan hadits-hadits di atas.

Gambar Untuk Anak Kecil

Adapun menggambar makhluk bernyawa yang diperuntukkan untuk anak kecil hukumnya adalah mubah. Kebolehannya diqiyaskan dengan kebolehan membuat patung untuk boneka dan mainan anak-anak.

Diriwayatkan dari ‘Aisyah, dia berkata, “Aku bermain-main dengan mainan yang berupa anak-anakan (boneka). Kadang-kadang Rasulullah Saw mengunjungiku, sedangkan di sisiku terdapat anak-anak perempuan. Apabila Rasulullah Saw dateng, mereka keluar dan bila beliau pergi mereka datang lagi.” [HR. Bukhari dan Abu Dawud].

Dari ‘Aisyah dituturkan bahwa, Rasulullah Saw datang kepadanya sepulang beliau dari perang Tabuk atau Khaibar, sedangkan di rak ‘Aisyah terdapat tirai. Lalu bertiuplah angin yang menyingkap tirai itu, sehingga terlihatlah mainan boneka anak-anakannya ‘Aisyah. Beliau berkata, “Apa ini wahai ‘Aisyah?” ‘Aisyah menjawab, “Ini adalah anak-anakanku” Beliau melihat diantara anak-anakanku itu sebuah kuda-kudaan kayu yang mempunyai dua sayap. Beliau berkata, “Apakah ini yang aku lihat ada di tengah-tengahnya?” ‘Aisyah menjawab, “Kuda-kudaan.” Beliau bertanya, “Apa yang ada pada kuda-kuda ini?” ‘Airyah menjawab, “Dua sayap.” Beliau berkata, “Kuda mempunyai dua sayap?” ‘Aisyah berkata, “Tidakkah engkau mendengar bahwa Sulaiman mempunyai kuda yang bersayap banyak?” ‘Aisyah berkata, “Maka tertawalah Rasulullah Saw sampai kelihatan gigi-gigi taring beliau.” [HR. Abu Dawud dan Nasa’i].

Riwayat-riwayat ini menyatakan dengan jelas, bahwa boneka baik yang terbuat dari kayu maupun benda-benda yang lain boleh diperuntukkan untuk anak-anak. Dari sini kita bisa memahami bahwa membuat boneka manusia, maupun binatang yang diperuntukkan bagi anak-anak bukanlah sesuatu yang terlarang. Demikian juga membuat gambar yang diperuntukkan bagi anak-anak juga bukan sesuatu yang diharamkan oleh syara’. Ibnu Hazm berkata, “Diperbolehkan bagi anak-anak bermain-main dengan gambar dan tidak dihalalkan bagi selain mereka. Gambar itu haram dan tidak dihalalkan bagi selain mereka (anak-anak). Gambar itu diharamkan kecuali gambar untuk mainan anak-anak ini dan gambar yang ada pada baju.” (lihat Sayyid Sabiq, Fiqh Sunnah). Wallahu A’lam bi al-Shawab.(www.konsultasi-islam.com)

[Tim Konsultan Ahli Hayatul Islam (TKAHI)]

Iklan




Pejabat Tinggal 40 Persen Jika KPK Tangkap Semua Koruptor

19 09 2011

Jika Komisi Pemberantasan Korupsi bisa menangkap semua koruptor yang ada di negeri ini, maka jumlah pejabat baik di eksekutif, legislatif maupun yudikatif hanya tinggal 40 persen saja dari total yang ada. Sebanyak 60 persen pejabat negeri ini termasuk yang akan ditahan Komisi Pemberantasan Korupsi karena perilaku korup mereka.
Ini diungkapkan anggota Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat dari Fraksi Partai Amanat Nasional Teguh Juwarno. Teguh menyitir kata-kata penasehat KPK Abdullah Hehamahua yang menyatakan, kalau KPK diperbolehkan menangkap semua koruptor, maka 60 persen pejabat eksekutif, legislatif dan yudikatif masuk penjara.
“Saya kira yang namanya korupsi terjadi di birokrasi tidak hanya di kementerian yang menterinya berasal dari parpol atau tidak. Jadi kalau kita secara obyektif menyitir kata-katanya Abdullah Hehamahua, kalau KPK diperbolehkan menangkap koruptor, maka 60 persen eksekutif, legislatif dan yudikatif masuk penjara,” kata Teguh di Jakarta.
Teguh yang juga mantan wartawan itu menyatakan, bukan tidak percaya dengan ucapan Abdullah. Menurut Teguh, apa yang diungkapkan calon pimpinan KPK tersebut merupakan bahan perenungan. “Bahwa korupsi sudah sangat mengakar di negeri ini. Jadi, dibutuhkan ketegasan sikap untuk memberantasnya,” kata Teguh. (kompas.com, 19/9/2011)





Institusi Penegak Hukum Sudah Tidak Mampu Berantas Korupsi

19 09 2011

ICW menyayangkan kinerja KPK yang kalah oleh Polri dan Kejaksaan, padahal anggaran untuk KPK jauh lebih besar yakni Rp 170 M atau Rp 440 jt/kasus. Tapi dari 50 kasus korupsi hanya 9 yang masuk pengadilan. Sedangkan Polri bisa 15 kasus ke pengadilan, lalu kejaksaan 28 kasus (inilah.com, 15/9).
Komentar:
Inilah bukti semua institusi penegak hukum sudah tidak mampu memberantas korupsi, butuh perombakan negara secara total dan hukum yang lebih pasti: syariat Islam.





Abaikan Saksi Ahli, Jaksa Tuntut Ba’asyir Penjara Seumur Hidup

9 05 2011

JAKARTA– Jaksa menuntut Abu Bakar Ba’asyir dengan penjara seumur hidup. Dalam tuntutannya, jaksa mengabaikan keterangan saksi ahli dan tidak mengakui keterangan terdakwa di persidangan.
Amir Jamaah Ansharut Tauhid (JAT), Ustadz Abu Bakar Baasyir dituntut penjara seumur hidup terkait pelatihan ala militer di Pegunungan Jalin Jantho di Aceh Februari 2010. Tuntutan itu dibacakan Jaksa Penuntut Umum (JPU) dalam sidang yang dipimpin Ketua Majelis Hakim Herri Swantoro di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Senin (9/5/2011).
JPU mengatakan, Ba’asyir dianggap telah terbukti secara sah dan meyakinkan melanggar pasal penyediaan dana pelatihan militer di Aceh.
“Kami meminta Majelis Hakim menyatakan terdakwa Abu Bakar Ba’asyir terbukti secara sah dan meyakinkan, merencanakan, dan atau menggerakkan orang lain untuk mengumpulkan dana guna tindak pidana terorisme,” kata Ketua Tim JPU, Andi M. Taufik, saat membacakan amar tuntutan.
Menurut jaksa, hal yang memberatkan tuntutan karena Ustadz Abu, demikian biasa disapa, dianggap telah menganggu stabilitas keamanan negara dan tidak mendukung upaya pemerintah memberantas terorisme. Ustadz Abu juga dianggap tidak konsisten dalam memberikan keterangan, sudah pernah dihukum, dan tidak pernah menyesali perbuatannya. “Sudah sepantasnya terdakwa menerima hukuman setimpal-timpalnya,” ujar Andi M. Taufik.
Sementara faktor yang meringankan adalah usia Ustadz Abu yang sudah lanjut.
Tuntutan JPU itu sesuai dengan dakwaan lebih subsider pasal 14 jo 11 UU no 15 tahun 2003 tentang pemberantasan tindak pidana terorisme. Dalam tuntutannya, jaksa mendasarkan dakwaannya pada keterangan sekitar 40 saksi.
Uniknya, Jaksa tak mau mengakui keterangan Ustadz KH Mudzakir (63) dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) Surakarta, Jawa Tengah, yang dihadirkan Ustadz Abu sebagai ahli agama. Jaksa beralasan bahwa latar belakang yang bersangkutan tidak mencukupi sebagai ahli. Padahal selain pengurus Majelis Ulama Indonesia, Ustadz Mudzakir juga pemimpin pondok pesantren yang ilmu agamanya diakui umat.
Jaksa juga tak mau mengakui berbagai pernyataan Ustadz Abu di persidangan yang tidak menyetujui pelatihan ala militer Aceh yang direncanakan oleh Ubaid dan Abu Tholud.
Para pendukung Ustadz Abu yang turut menghadiri sidang meneriakkan takbir berkali-kali begitu jaksa menyampaikan tuntutan. Bahkan, di antara mereka ada yang meneriaki majelis sidang dengan kalimat dzolim. Hakim pun memerintahkan untuk mengusir mereka. ”Tolong hormati sidang,” ujar ketua majelis hakim.
Sidang pembacaan tuntutan berlangsung sekitar tiga jam sejak pukul pukul 10.05 WIB sampai dengan pukul 13.10 WIB.
Menghadapi tuntutan tersebut, Ustadz Abu dan tim kuasa hukumnya akan menyampaikan pledoi atau nota pembelaan pada tanggal 25 Mei 2011 mendatang.
Menghadapi tuntutan JPU, Ustadz Abu tak panik. Tuntutan penjara seumur yang dilayangkan kepadanya merupakan bagian dari perjuangan Islam.

 “Saya memperjuangkan Islam. Negara thogut memang seperti ini. Yang penting saya menegakkan kebenaran menjalankan perintah Tuhan. Biar Allah yang menghukumnya,” kata Ustadz Abu usai persidangan. [taz/dbs/voa-islam]





Indonesia Negara Mafia Hukum Bukan Tuduhan Asal-asalan

9 05 2011

Disadari atau tidak, Indonesia kini masuk dalam kontek negara mafia. Fenomena ini adalah bukan tuduhan asal asalan.
mafia-hukum.jpg (280×195)
“Sekarang negara mafia karena SBY-lah yang mengumumkan sendiri yang memprioritaskan tugas pemerintahan yang pertama adalah memberantas mafia hukum,” ujar pengamat kepolisian, Jhonson Panjaitan dalam diskusi bertema “Rekayasa Kekuasaan Terhadap Kasus Antasari” di Rumah Perubahan 2.0 di Duta Merlin, Harmoni, Jakarta Pusat (Senin, 9/5)

Mafia selalu terkait dengan aparat hukum dan lingkaran kekuasaan. Maka dari itu, menurut dia, konteks pembunuhan Nazaruddin Zulkarnaen pun sebetulnya tak jauh dari persoalan politik.

“Kenapa? Karena sebelum dipanggil Kejaksaan Agung langsung mencekal, ada apa. Dan ini membuktikan negara mafia,” tambahnya.

Di sisi lain, bila ada orang yang menyerang negara, maka dia akan diserang balik yang merupakan ciri lain dari negara mafia hukum.

“Inilah bukti negara mafia contoh kasusnya adalah kasus Antasari dan Susno Duadji,” ujarnya.[wid/RMOL]





Hukum Indonesia Kehilangan Nyawa

20 04 2011

REPUBLIKA.CO.ID, PADANG – Ketua Mahkamah Konstitusi (MK), Mahfud MD, menyatakan hukum Indonesia telah kehilangan nyawa, sehingga mudah dimasuki kepentingan sesaat yang bertentangan dengan hukum itu sendiri.

Statemen ini disampaikan Ketua MK, saat memberikan kuliah umum dalam rangka memperingati 60 tahun Fakultas Hukum Universitas Andalas (Unand) Padang, Sumbar bertema “Peran Mahkamah Konstitusi Dalam Mewujudkan Cita Hukum Nasional” di Padang, Rabu (20/4).

Mahfud mengatakan, sebagai cita hukum, Pancasila ibarat nyawa yang tidak hanya memberikan panduan kemana hukum dan penegakannya akan dibawa. Tapi sekaligus nilai axiologis dalam menentukan hukum apa yang akan dibentuk dan bagaimana menjalankannya.

Sayangnya, ia menilai, pembentukan dan penegakan hukum saat ini telah meminggirkan Pancasila. Bahkan, ia menyatakan, perdebatan akademis dan proses pendidikan tinggi hukum mungkin juga semakin jarang mendalami cita hukum dan studi-studi filsafat hukum.

Karena itu, kata Mahfud, gagasan revitalisasi Pancasila sebagai cita hukum menjadi mendesak untuk tidak hanya diwacanakan, malainkan harus dijalankan.Tujuan dari gagasan revitalisasi, katanya, untuk mengembalikan Pancasila sebagai cita hukum, mulai dari pembentukkan hukum hingga pelaksanaan dan penegakannya.

Menurut dia, revitalisasi sangat perlu dilakukan untuk menjadikan Pancasila sebagai paradigma dalam berhukum sehingga dapat memperkecil jarak antara das sollen dan das sein, sekaligus memastikan nilai-nilai Pancasila senantiasa bersemayam dalam praktik hukum.

Ia menilai, melakukan revitalisasi tentu bukan hal yang mudah, tapi bukan berarti sesuatu yang tak mungkin dilakukan.

Jadi proses revitalisasi tidak dapat dilakukan dengan sekadar sistem pendidikan aparat penegak hukum yang menekankan pada aspek pengetahuan. Tetapi, ia menilai, harus terinternalisasi serta menyatu dengan sistem dan kultur hukum.

Makanya, menurut Mahfud, dalam proses ini, diperlukan peran semuan pihak, terutama pendidikan tinggi hukum sebagai kawag candradimuka pemikiran-pemikiran hukum serta institusi yang bertanggungjawab atas kualitas dan integritas para ahli dan praktisi hukum Indonesia.
(republika.co.id/21/04/2011)

komentar:
hukum di Indonesia memang tidak memiliki nyawa, karena hukum ini merupakan buatan manusia yang punya banyak kelemahan. sampai kapan hukum yang lemah ini akan dipertahankan. saatnya kita kembali kehukum yang sempurna yaitu hukum Allah. Allah SWT yang menciptakan manusia tentunya paling mengetahui hukum yang diperlukan oleh manusia.
saatnya hidup sejahtera dibawah naungan khilafah





Hukum yang Konyol

11 04 2011

Penegakan hukum di Republik ini lagi-lagi memperlihatkan kekonyolan. Konyol karena terpaku pada kalimat-kalimat tekstual. Juga konyol karena hukum hanya terampil buat orang-orang kecil, bahkan yang tergolong anak-anak.

Contoh paling mutakhir adalah kasus yang dialami Deli Suhandi. Bocah yang baru berusia 14 tahun itu ditangkap polisi karena dituduh mencuri voucer kartu perdana senilai Rp10 ribu di kawasan Johar Baru, Jakarta Pusat, pertengahan bulan lalu. Baca entri selengkapnya »








%d blogger menyukai ini: