HTI: Bersama Ulama Tegakan Khilafah

9 10 2011

Maraknya gerakan radikalisme yang menyimpang, membuat Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) terus menyerukan untuk menggandeng seluruh umat Islam, untuk selalu menjaga ukhwah islamiahnya.

“Bersama Ulama Tegakan Khilafah, mari kita saling merangkul agar tetap menjaga ukhuwah Islamiah kita,” ujar Ketua Umum Hizbut Tahrir Indonesia, Rohmat S Labib dalam pembukaan ceramah Hizbut Tahrir Indonesia, di Hall Volley, GBK Senayan Jakarta, Minggu (9/10/2011).

Kegiatan ini bertema ‘Bersama Ulama Tegakan Khilafah’, para jamaah berkumpul bersama di Hall Volley, Glora Bung Karno, Jakarta, Minggu (9/10/2011) untuk mendapatkan pesan yang baik dalam melakukan perilakunya sehari-hari.

“Untuk kesekian kalinya para ulama bersama Hizbut Tahrir berdiri pada shaff yang sama dengan semua kekuatan yang dimiliki dan menyeru untuk melakukan aktivitas dengan sungguh-sungguh, dengan mencurahkan semua kekuatan serta dalam waktu secepatnya untuk merintis kehidupan Islam,” imbuh Rohmat. (tribunnews.com, 9/10/2011)

Iklan




Liqa Syawal HTI Riau : Ulama dan Tokoh Riau Bersatu Tekadkan untuk Wujudkan Syariah dan Khilafah

29 09 2011

HTI Press. Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa Universitas Islam Riau (PKM UIR) Pekanbaru, sudah mulai didatangi para peserta sejak pukul 07.00 wib, lebih dari 700 orang baik dari kalangan ulama, tokoh masyarakat, asatidz, mubalighah, dosen dan mahasiswa berkumpul dalam Liqo Syawal 1432 H DPD 1 HTI Riau, Ahad (25/09). Dalam acara yang bertemakan “Raih Kesejahteraan dengan Syariah dan Khilafah” ini, peserta dari berbagai kalangan umat hadir dalam rangka meneguhkan tekad dalam perjuangan mewujudkan penegakan Syariah dan Khilafah. Acara dimulai dengan pembacaan ayat suci Al Quran dan sambutan Ketua DPD 1 HTI Riau, Ust. Muhammadun MSi yang menekankan urgensi keberadaan Khilafah yang mampu mensejahterakan dan memberikan keadilan hakiki bagi umat. Dalam sambutannya, beliau mengatakan, “Jika umat dipimpin oleh orang-orang bodoh maka hancurlah urusan mereka. Sebaliknya, jika orang-orang bertakwa memimpin mereka maka urusannya akan baik dan semakin baik. Maka, tidak ada pilihan lain bagi kita saat ini untuk secepat-cepatnya mengambil tindakan untuk tidak lagi percaya dan membuang sistem rusak yang diterapkan saat ini, kemudian segera memperjuangkan dengan sungguh-sungguh tegaknya hukum Allah secara kafah yang merupakan kewajiban yang paling agung bagi umat Islam.

Setelah sambutan, para peserta menyaksikan tayangan perkembangan peran Hizbut Tahrir bersama umat dalam penegakan Syariah dan Khilafah. Acara berikutnya pemaparan para pembicara yang diawali oleh ulama kharismatik Riau: Dr.KH.Mustofa Umar,Lc,MA. Dalam pemaparannya, beliau mengatakan, “kalau ada orang mengaku ulama tapi menolak Khilafah, berarti ada 3 kemungkinan, 1. Dia tidak tahu/bodoh, maka kewajiban kita memberi tahu, 2.dia lalai mungkin ada kepentingan tertentu, maka tugas kita mengingatkan, 3.dia sombong, terselimuti hatinya dengan dengki, maka kita harus berdoa dan bersabar, kita tunggu balasan dari sisi Allah swt atas orang-orang yang sombong ini. Karena kalau ada orang menolak Khilafah,apalagi mengaku ulama,berapa banyak ayat al Quran yang harus dia buang?”. Di akhir presentasinya beliau menjelaskan tentang kesejahteraan. “Di dalam Al Quran terdapat kalimat wa jannatin al falfa, yaitu tumbuhan yang penuh protein yang di gunakan sebagai makanan ternak oleh kaum Muslimin. Pada masa penaklukan Eropa Pasukan Thoriq bin Ziyad membawa kuda-kuda sebagai kendaraan perang beserta pakannya al falfa”, kemudian beliau melanjutkan: hanya dengan menegakkan Syariah dalam bingkai Khilafahlah kesejahteraan yang hakiki itu bisa di dapat. “Jika saat ini ada individu atau negara yang mengaku sudah sejahtera, maka hal itu tak lebih dari kesehjahteraan semu. Terbukti saat ini, negara-negara Barat yang katanya sudah sejahtera, ternyata terjebak dalam krisis hutang,” paparnya. Beliau pun menyampaikan bahwa kewajiban menegakkan khilafah merupakan kewajiban yang disepakati para ulama.” Tidak ada perselisihan di kalangan ulama bahwa menegakkan Khilafah adalah wajib,” terangnya. Sementara itu, Dr. KH. Muhammad Rahmat Kurnia menyampaikan pentingnya penegakan Syariah dan Khilafah. Tanpa Khilafah kita dijajah secara ekonomi, politik, budaya, pendidikan, dll. Salah satunya, fakta menunjukkan ketika barat memberikan utang kepada negeri-negeri muslim, maka dengan mudah mereka mengatur urusan pemerintahan dan politik di dunia muslim, akibatnya kita umat Islam dikendalikan dalam seluruh sendi kehidupan. Beliau menekankan agar umat Islam mengambil peran untuk melakukan perubahan menuju kepada satu-satunya pilihan yaitu tegaknya syariah dalam bingkai Khilafah Islamiyah. Setelah pemaparan materi diadakan sesi diskusi. Peserta merespon dengan sangat antusias, dalam sesi tanya jawab banyak sekali pertanyaan menarik, diantaranya menanyakan kapankah Khilafah Islam akan tegak, dijelaskan oleh Dr. KH. Muhammad Rahmat Kurnia bahwa sudah seharusnya yang kita tanyakan pada diri kita adalah apa yang sudah kita lakukan terhadap perjuangan ini, bukan kapan Khilafah akan tegak. Di tambahkan oleh Dr. KH. Mustafa Umar, bahwa tegak nya Khilafah Islam adalah suatu janji yang pasti dari Allah SWT, sebagaimana orang tua memberi janji kepada anak nya. Akan tetapi yang menjanjikan tegaknya Khilafah adalah Allah SWT zat yang tidak akan mengingkari Janjinya, jika Allah sudah berjanji pasti allah akan memenuhi janjinya, tapi semua itu tergantung hambanya menyakini atau tidak, berbeda dengan seorang ayah berjanji kepada anaknya akan memberikan sesuatu maka bisa jadi orang tua memenuhinya atau tidak. Pertanyaan berikutnya ditujukan kepada Dr. KH. Mustafa Umar, beliau mengatakan “jelas saya setuju dengan Khilafah karena jika saya tidak setuju dengan Khilafah berarti saya menghilangkan ayat-ayat al-quran yang berisi tentang khilafah/al-khulafa”. Maka, tidak ada jalan lain kecuali kembali menerapkan kepada Al Quran dan As Sunnah secara kafah melalui Khilafah, kalau tidak kemana lagi kita akan kembali, demikian beliau tegaskan. Acara di tutup dengan penyerahan cinderamata oleh panitia kepada pembicara, dan do’a oleh Ust. Usman.[]





Liqa’ Syawal Ulama 1432 H Jawa Timur di Madura: Khilafah Berdiri Tahun 2020 Itu Terlalu Lama

29 09 2011

HTI Press. Selasa Malam (27/9) sekitar 1000 ulama, kiai, asatidz hadir di Pondok pesantren Tanwirul Islam, Tambangan Sampang Madura, menghadiri Liqa’ Syawal Untuk menghadiri Liqa Syawal Ulama ke-4 di tahun ini, setelah jombang, pasuruan dan jember.

Tidak ada pilihan, tegaknya kembali syariah dan khilafah adalah mutlak. Muhammad Ismail Yusanto, Juru Bicara Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), tampil sebagai pembicara di gawe HTI DPD Jatim ini menyampaikan bahwa umat ini perlu bersegera dan cepat-cepat untuk meng-qodlo penegakkan syariah dan khilafah, selayaknya bersegera menunaikan sholat ketika kehilangan batas waktunya.

Senada dengan Juru Bicara HTI, KH. Amin Zaini, Pengasuh PP Darul ‘Ulum, Banyuanyar, Pamekasan dengan nada tidak terima akan prediksi CIA khilafah berdiri tahun 2020 mengatakan “Khilafah berdiri tahun 2020 itu terlalu lama”.

Liqa Syawal Ulama di pulau yang kaya migas ini menggelorakan semangat para ualama yang hadir. “Hizbut Tahrir”, pekik berulang-ulang KH. Fani Rosyidi, Pengasuh PP Al-Ibrahimy, Galis, Bangkalan disela-sela testimoninya dan yang selalu disambut pekik “Yes” peserta Liqa’ Syawal Ulama 1432 H ini seraya mengangkat tangan mereka untuk menunjukkan bahwa para audiens mendukung perjuangan penegakan syariah dan khilafah. Tidak hanya itu dia mengajak untuk bergerak bersama HTI dalam perjuangan penegakan syariah dan khilafah. Tidak ketinggalan Kiai Mahmudi, Pengasuh Ponpes Subulussalaam, Poncokusumo, Malang juga menyeru ulama harus menyambut seruan Hizbut Tahrir untuk perjuangkan penegakan syariah dan Khilafah. Di akhir acara seperti Liqa’ Syawal sebelumnya dibacakan Syair Syaikh Hafidz Shalih, ulama Hizbut Tahrir oleh Ali Wafa, serta seruan Hizbut Tahrir Indonesia pasca ramadhan oleh KH. Ahmad Danniji yang menegaskan bahwa Khilafah satu-satunya solusi dan kewajiban yang wajib diwujudkan, untuk mewujudkannya perlu dukungan ulama karena perannya sangat strategis. [iqbal/gus/lijatim]





Pernyataan HTI Tentang Bom GBIS Solo

27 09 2011

Maktab I’lamiy
Hizbut Tahrir Indonesia
NO: 211/09/11
26 September 2011/27 Syawal 1432 H
PERNYATAAN
HIZBUT TAHRIR INDONESIA
Tentang
BOM GBIS SOLO

Seperti telah ramai diberitakan, pada hari Ahad 25 September kemarin telah terjadi bom bunuh diri di dalam Gereja Bethel Injil Sepenuh (GBIS) Solo sekitar jam 11 WIB. Ledakan ini mengakibatkan belasan jamaah gereja mengalami luka-luka. Sedang seorang yang diduga pelaku bom bunuh diri tewas.

Siapapun pelaku dan apa motivasinya, peristiwa ini harus dikutuk. Tindakan keji ini bertentangan sama sekali dengan ajaran Islam. Sangat jelas, syariat Islam melarang dengan tegas melukai apalagi membunuh siapapun tanpa alasan yang dibenarkan secara syar’iy, terlebih bila tindakan itu menimbulkan kematian bagi dirinya.

Sangat boleh jadi tindakan ini bertujuan untuk mengadu domba antar anggota masyarakat. Bisa juga untuk makin mematangkan situasi dan kondisi masyarakat menjelang pengesahan RUU Intelijen. Dengan peristiwa itu seolah ingin dikatakan bahwa RUU memang diperlukan untuk memberikan kewenangan lebih kepada lembaga intelijen guna mengantisipasi peristiwa semacam itu tidak terjadi lagi di masa mendatang.

Berkenaan dengan hal itu, Hizbut Tahrir Indonesia menyatakan:

1. Mengutuk dengan keras pelaku bom bunuh diri itu sebagai tindakan keji yang bertentangan dengan ajaran Islam.

2. Menyerukan kepada pihak berwenang untuk segera mengusut tuntas siapa pelaku dan apa motivasinya, termasuk siapa otak di balik tindakan keji itu. Hanya dengan cara itu, spekulasi berkaitan dengan peristiwa bom itu bisa segera diakhiri.

3. Menolak mengkaitkan peristiwa itu dengan kepentingan untuk segera melakukan pengesahan RUU Intelijen. Sebab, RUU tersebut sangat potensial akan menimbulkan kemudharatan bagi rakyat, khususnya umat Islam, sebagaimana pernah terjadi di masa Orde Baru.

4. Menyerukan kepada seluruh umat Islam untuk tetap teguh, sabar dan istiqamah dalam perjuangan menegakkan syariah dan khilafah. Tidak gentar terhadap setiap tantangan, hambatan dan ancaman hingga cita-cita mulia itu benar-benar tegak
.
Hasbunallah wa ni’mal wakiil, ni’mal maula wa ni’man nashiir

Jurubicara Hizbut Tahrir Indonesia
Muhammad Ismail Yusanto

Hp: 0811119796 Email: Ismailyusanto@gmail.com





HTI Desak Bangladesh Hentikan Kezaliman terhadap Aktivis Dakwah

24 09 2011

Jakarta. Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) menuntut pemerintah Bangladesh untuk menghentikan kezaliman terhadap aktivis dakwah khususnya terhadap para aktivis Hizbut Tahrir Bangladesh (HTBa) dari penangkapan dan penyiksaan. Tuntutan tersebut disampaikan delegasi HTI kepada Duta Besar Bangladesh untuk Indonesia, Kamis (21/9) siang di Kedutaan Besar Bangladesh, Jakarta.

Delagasi HTI yakni Juru Bicara HTI Muhammad Ismail Yusanto, Ketu DPP HTI Rokmat S Labib, dan Sekretaris Jubir HTI Roni Ruslan disambut hangat oleh Duta Besar Bangladesh untuk Indonesia Mr Ghulam Muhammad dan salah satu deputinya yakni SM Anisul Hok. Namun demikian sempat terjadi debat panas antara keduabelah pihak.

“Anda benar-benar diterima di Kedubes Bangladesh,” ujar Ghulam.

“Ya, terima kasih. Tapi mengapa HTBa ditangkapi dan disiksa?” ujar Ismail. Padahal, lanjutnya, Hizbut Tahrir di mana pun berada termasuk di Bangladesh maupun di Indonesia sama saja, hanya melakukan aktivitas tanpa kekerasan dalam mengkritik pemerintah, membina dan mengajak umat untuk menegakkan kembali syariah dalam bingkai khilafah.

“Bangladesh adalah negara yang menjunjung kebebasan berekspresi dan juga menjunjung tinggi supremasi hukum jadi tidak mungkin melakukan penyiksaan di dalam penjara,” sanggah Ghulam.

“Justru itu masalahnya, mereka tidak pernah dibawa kepengadilan, mereka langsung disiksa begitu saja oleh pemerintah Anda! Apakah itu yang Anda maksud sebagai menjunjung tinggi supremasi hukum?” tanya Ismail retorik.

Ghulam pun kembali membantah dengan argumen yang sama. “Tidak, tidak mungkin. Bangladesh adalah negara yang menjunjung tinggi kebebasan berekspresi, salah satu buktinya di Bangladesh ada sekitar 24 televisi swasta dan hanya pengadilanlah yang menentukan seseorang itu bersalah sehingga harus dihukum atau tidak bersalah sehingga dibebaskan,” ujarnya.

“Tapi fakta berbicara lain, sejak 2009 lalu, ratusan aktivis HTI ditangkapi dan disiksa termasuk Jubir HTBa Prof Mohiuddin Ahmed. Profesor Universitas Dakka itu sudah dua tahun ditangkap dan disiksa tapi sampai sekarang belum juga diadili! Dan 13 Agustus lalu, 16 aktivis HTBa ditangkap dan disiksa ketika melakukan aksi unjuk rasa di Kota Dakka,” bantah Ismail.

“Oh, kami tidak mendapatkan informasi terkait itu semua, yang jelas Bangladesh adalah negara demokratis yang menjunjung tinggi hukum,” keukeuh Ghulam.

“Tapi data yang kami kemukakan adalah data yang valid. Kalau memang menjunjung tinggi supremasi hukum, seharusnya tidak boleh dong menangkap seseorang tanpa diadili? Jadi omong kosong kalau pemerintah Anda benar-benar menjunjung tinggi hukum,” tohok Ismail.

Dipenghujung pertemuan, dubes pun menerima surat tuntutan HTI untuk pemerintah Bangladesh yang ditulis dalam bahasa Indonesia, Arab dan Inggris. “Baiklah akan saya sampaikan tuntutan Anda kepada pemerintah kami,” janji Ghulam.

Dalam kesempatan itu pun Ismail menyatakan. “Kami bukan hanya meminta untuk menghentikan penangkapan dan penyiksaan, tetapi kami juga meminta agar pemerintah Bangladesh mendukung perjuangan HTBa dalam menegakkan syariah dalam bingkai khilafah,” tegas Ismail.

Kekejian Diktator Hasina

Di luar sekitar 300 massa HTI berkumpul mendengarkan para orator berorasi mengutuk para diktator yang menangkapi, menyiksa dan membunuh para aktivis dakwah serta memberikan semangat kepada massa agar tetap istiqamah menyadarkan dan membina umat untuk berjuang menegakkan kembali syariah dalam bingkai khilafah.

Sejak 2009 dengan gelap mata pemerintah Bangladesh menangkapi dan menyiksa ratusan aktivis HTBa, lantaran HTBa secara terbuka membongkar kejahatan pemerintah Sheikh Hasina yang ketika itu membantai sejumlah perwira militer Muslim Bangladesh.

“Di dalam penjara para aktivis HTBa disiksa secara kejam, organ kemaluannya distrum, ditahan diruang pendingin, ditelanjangi dan digantung dengan kaki di atas dan kepala di bawah, sedangkan malam hari dipaksa berdiri dan dilarang tidur,” ungkap Ismail.[] joko prasetyo





HTI Desak Bangladesh Hentikan Kezaliman terhadap Aktivis Dakwah

23 09 2011

Syabab.Com – Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) menuntut pemerintah Bangladesh untuk menghentikan kezaliman terhadap aktivis dakwah khususnya terhadap para aktivis Hizbut Tahrir Bangladesh (HTBa) dari penangkapan dan penyiksaan. Tuntutan tersebut disampaikan delegasi HTI kepada Duta Besar Bangladesh untuk Indonesia, Kamis (21/9) siang di Kedutaan Besar Bangladesh, Jakarta.

Delegasi HTI yakni Juru Bicara HTI Muhammad Ismail Yusanto, Ketu DPP HTI Rokmat S Labib, dan Sekretaris Jubir HTI Roni Ruslan disambut hangat oleh Duta Besar Bangladesh untuk Indonesia Mr Ghulam Muhammad dan salah satu deputinya yakni SM Anisul Hok. Namun demikian sempat terjadi debat panas antara keduabelah pihak.

“Anda benar-benar diterima di Kedubes Bangladesh,” ujar Ghulam.

“Ya, terima kasih. Tapi mengapa HTBa ditangkapi dan disiksa?” ujar Ismail. Padahal, lanjutnya, Hizbut Tahrir di mana pun berada termasuk di Bangladesh maupun di Indonesia sama saja, hanya melakukan aktivitas tanpa kekerasan dalam mengkritik pemerintah, membina dan mengajak umat untuk menegakkan kembali syariah dalam bingkai khilafah.

“Bangladesh adalah negara yang menjunjung kebebasan berekspresi dan juga menjunjung tinggi supremasi hukum jadi tidak mungkin melakukan penyiksaan di dalam penjara,” sanggah Ghulam.

“Justru itu masalahnya, mereka tidak pernah dibawa kepengadilan, mereka langsung disiksa begitu saja oleh pemerintah Anda! Apakah itu yang Anda maksud sebagai menjunjung tinggi supremasi hukum?” tanya Ismail retorik.

Ghulam pun kembali membantah dengan argumen yang sama. “Tidak, tidak mungkin. Bangladesh adalah negara yang menjunjung tinggi kebebasan berekspresi, salah satu buktinya di Bangladesh ada sekitar 24 televisi swasta dan hanya pengadilanlah yang menentukan seseorang itu bersalah sehingga harus dihukum atau tidak bersalah sehingga dibebaskan,” ujarnya.

“Tapi fakta berbicara lain, sejak 2009 lalu, ratusan aktivis HTI ditangkapi dan disiksa termasuk Jubir HTBa Prof Mohiuddin Ahmed. Profesor Universitas Dakka itu sudah dua tahun ditangkap dan disiksa tapi sampai sekarang belum juga diadili! Dan 13 Agustus lalu, 16 aktivis HTBa ditangkap dan disiksa ketika melakukan aksi unjuk rasa di Kota Dakka,” bantah Ismail.

“Oh, kami tidak mendapatkan informasi terkait itu semua, yang jelas Bangladesh adalah negara demokratis yang menjunjung tinggi hukum,” keukeuh Ghulam.

“Tapi data yang kami kemukakan adalah data yang valid. Kalau memang menjunjung tinggi supremasi hukum, seharusnya tidak boleh dong menangkap seseorang tanpa diadili? Jadi omong kosong kalau pemerintah Anda benar-benar menjunjung tinggi hukum,” tohok Ismail.

Dipenghujung pertemuan, dubes pun menerima surat tuntutan HTI untuk pemerintah Bangladesh yang ditulis dalam bahasa Indonesia, Arab dan Inggris. “Baiklah akan saya sampaikan tuntutan Anda kepada pemerintah kami,” janji Ghulam.

Dalam kesempatan itu pun Ismail menyatakan. “Kami bukan hanya meminta untuk menghentikan penangkapan dan penyiksaan, tetapi kami juga meminta agar pemerintah Bangladesh mendukung perjuangan HTBa dalam menegakkan syariah dalam bingkai khilafah,” tegas Ismail.

Kekejian Diktator Hasina

Di luar sekitar 300 massa HTI berkumpul mendengarkan para orator berorasi mengutuk para diktator yang menangkapi, menyiksa dan membunuh para aktivis dakwah serta memberikan semangat kepada massa agar tetap istiqamah menyadarkan dan membina umat untuk berjuang menegakkan kembali syariah dalam bingkai khilafah.

Sejak 2009 dengan gelap mata pemerintah Bangladesh menangkapi dan menyiksa ratusan aktivis HTBa, lantaran HTBa secara terbuka membongkar kejahatan pemerintah Sheikh Hasina yang ketika itu membantai sejumlah perwira militer Muslim Bangladesh.

“Di dalam penjara para aktivis HTBa disiksa secara kejam, organ kemaluannya distrum, ditahan diruang pendingin, ditelanjangi dan digantung dengan kaki di atas dan kepala di bawah, sedangkan malam hari dipaksa berdiri dan dilarang tidur,” ungkap Ismail. [jp/htipress/syabab.com]





KEMAUAN DAN SEMANGAT PERJUANGAN PASCA RAMADHAN

7 09 2011

Oleh : H.M. Ismail Yusanto

Puasa Ramadhan baru saja meninggalkan kita. Apa yang kita dapatkan dari melaksanakan puasa sebulan penuh itu? Rasa makin bertakwa? Semoga.

Memang, meski secara fikih puasa merupakan ibadah yang sepenuhnya fisikal, artinya dilakukan dalam bentuk tidak menkonsumsi makanan dan minuman serta tidak melakukan hal yang membatalkan puasa di siang hari Ramadhan, hasilnya ternyata berupa sesuatu yang sangat non-fisikal. Allah SWT meminta kita berpuasa agar bertakwa (la’allakum tattaqun). Nabi saw. sendiri menyatakan, “Bukanlah puasa dari sekadar menahan makan dan minum. Puasa yang sesungguhnya adalah menahan dari laghwu dan rafats.” (HR Ibn Khuzaimah).

Itu menunjukkan bahwa ada makna yang lebih dalam dalam puasa dari sekadar menahan lapar dan dahaga. Coba perhatikan, selama puasa kita dilarang makan dan minum serta berhubungan seksual dengan istri atau suami kita. Padahal makanan dan minuman itu halal; suami atau istri pun juga halal. Ternyata, dengan tekad dan kemauan yang besar, kita bisa. Nah, bila untuk menjauhi yang halal saja bisa, mestinya dengan tekad yang sama semua perkara yang haram lebih bisa lagi kita ditinggalkan.

Ramadhan memang bulan riyadhah (latihan) untuk meningkatkan kemauan kita untuk taat pada aturan Allah SWT. Bila berhasil, kelak pada penghujung bulan Ramadhan kita benar-benar bisa disebut muttaqin (orang yang bertakwa), yakni orang yang mempunyai kemauan yang kuat untuk senantiasa melaksanakan perintah dan menjauhi larangan Allah SWT. Artinya, semestinya di bulan lain setelah Ramadhan, kita menjadi lebih taat pada syariah-Nya.

Namun, mengapa kenyataannya tidak demikian? Kita melihat tetap saja kemaksiatan terjadi di mana-mana. Karena ini negeri yang penduduknya mayoritas Muslim, maka pelaku kejahatan juga kebanyakan Muslim. Dalam kegiatan pelacuran, misalnya, hampir pasti pelacurnya kebanyakan adalah Muslim, germonya Muslim, yang datang juga Muslim. Begitu juga pelaku perjudian, pornografi dan pornoaksi tetap saja kebanyakan adalah Muslim. Koruptor juga kebanyakan Muslim. Bila ada mafia peradilan maka polisi, jaksa, hakim, pengacara dan terdakwa yang terlibat di dalamnya kebanyakan adalah juga Muslim. Bila semua itu sudah berlangsung bertahun-tahun lamanya, lantas mana pengaruh puasa yang setiap tahun dilaksanakan?

Kita selama ini memang ternyata kurang peduli terhadap esensi ibadah. Shalat rajin, rajin pula maksiyt. Haji ditunaikan, korupsi digalakkan. Bacaan al-Quran dilombakan, tetapi ajarannya dilecehkan. Benarlah kata nabi, “Betapa banyak orang berpuasa tidak mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan dahaga.” (HR Ahmad).

Dengan kemauan untuk taat yang ditempa selama bulan Ramadhan, sesungguhnya puasa—bila benar-benar dihayati—akan menjadi bekal yang sangat berharga guna membentuk karakter penting dalam diri seorang Muslim. Dari pribadi-pribadi yang taat inilah semangat perjuangan bisa dilecut sehingga bangunan khayru ummah bisa diwujudkan kembali.

Pengamatan menunjukkan bahwa lebih dari yang lain, yakni kemampuan dan kreatifitas, karakter menyumbang unsur terbesar dalam sukses seseorang. Di antara karakter terpenting dari seorang itu adalah adanya kemauan keras dan semangat menggebu-gebu untuk berbuat dan meraih cita-cita.

Tirto Utomo, bos Aqua, berjuang tak kenal menyerah selama bertahun-tahun untuk mengenalkan produk air dalam kemasan. Ketika ia membuat produk itu, banyak pengusaha menertawakan. Bagaimana mungkin “jualan air” bisa laku dan menjadi bisnis besar. Namun, dengan kemauan dan semangat yang kuat, terbukti setelah lima tahun angka penjualan Aqua melesat dan sekarang tak seorang pun di negeri ini yang tak mengenal air minum dalam kemasan itu. Yang luar biasa, orang mau saja membeli Aqua meski harga seliternya hampir sama dengan bensin premium.

Contoh lain, KFC tidak akan pernah menjadi restoran besar andai saja Kolonel Sander tidak memiliki karakter untuk meraih sukses. Semua diawali ketika ia menawarkan resep ayam gorengnya ke restoran. Meski selalu saja ditolak, dengan kemauan dan semangat ia terus menawarkan hingga restoran ke 141. Di situ resepnya diterima. Itu pun dengan percobaan. Andai Sander putus asa di restoran ke 140, niscaya kita tidak akan pernah melihat restoran KFC “jagonya ayam” ada di mana-mana.

Begitu juga dengan Thomas Alpha Edison, sang penemu lampu pijar. Andai ia tidak gigih untuk terus melakukan percobaan, mungkin dunia tidak akan seterang sekarang ini di malam hari. Setelah lebih dari 1000 macam bahan, akhirnya ia mendapatkan material yang cocok untuk lampu pijarnya.

Jelas sekali, banyak sekali peristiwa besar dunia di sepanjang lintasan sejarah yang itu hanya mungkin lahir dari kemauan dan semangat yang besar. Bila Edison, Sander Tirto Utomo dan lain-lain dengan kemauan kuat yang didorong oleh semangat material saja bisa mencetak kemajuan dan sukes besar, apalagi seorang Muslim yang dorongan semangatnya bukan hanya bersifat material melainkan juga non-material (ibadah dan ridha Allah); mestinya lebih besar lagi.

Fakta pada masa lalu menunjukkan hal itu. Islam juga tidak akan pernah meraih kejayaan selama lebih dari 700 tahun yang oleh para sejarahwan disebut sebagai the golden age bila Rasulullah Muhammad dan para sahabat serta para pejuang sesudahnya tidak memiliki tekad dan kemauan serta semangat membaja untuk berjuang menyebarkan risalah Islam. Peran Ramadhan sebagai bulan pembentuk kemauan dan semangat perjuangan secara faktual ternyata memang terbukti. Bahkan banyak peristiwa besar pada masa lalu terjadi dalam bulan Ramadhan. Perang Badar terjadi dalam bulan Ramadhan. Penaklukkan Makkah atau Fathu Makkah juga terjadi pada bulan Ramadhan. Yang sangat monumental, yaitu penaklukkan Andalusia juga terjadi pada bulan Ramadhan. Meski bukan terjadi pada bulan Ramadhan, Konstantinopel. ibukota Romawi Timur, yang ketika itu dianggap sebagai negara yang memiliki kemampuan militer dan pertahanan paling kuat toh akhirnya berhasil juga ditaklukkan pada tahun 1453 setelah upaya tak kenal lelah yang didorong oleh kemauan dan semangat luar bisasa untuk menyebarkan risalah Islam ke seluruh penjuru dunia selama lebih dari 700 tahun! Yang istimewa, pada hari penaklukan itu, Panglima Muhammad al-Fatih ternyata juga memerintahkan pasukannya untuk berpuasa!

Nah, selama sebulan Ramadhan lalu umat Islam terus menerus ditempa jiwa dan karakternya untuk menjadi pribadi yang mulia, yakni pribadi yang memiliki kemauan untuk taat, semangat perjuangan serta optimisme untuk meraih keberhasilan. Jadi, sekali lagi, bila dihayati dengan sungguh-sungguh, puasa Ramadhan semestinya akan memberikan efek luarbiasa kepada seorang Muslim dan umat Islam secara keseluruhan, yaitu berupa kemauan untuk meraih kembali derajat khayru ummah yang didorong oleh semangat material dan non-material. Maka dari itu, mestinya setelah bulan Ramadhan, dakwah makin marak dan semangat perjuangan makin menggelora. Seiring dengan itu, kemaksiatan makin meredup. Namun, bila itu tidak terjadi, berarti puasa Ramadhan tidak memberikan efek apa-apa. Yang bersisa cuma rasa lapar dan dahaga saja. Umat tetap saja terpuruk, kalah dan menjadi pecundang di segala bidang. Na’udzubilLah min dzalik.








%d blogger menyukai ini: