Sekularisme, akar merosotnya moral generasi muda Indonesia

8 10 2011

PADANG – Pendidikan terkait pemahaman agama yang sangat kurang, arus informasi dan teknologi yang tidak terproteksi dengan baik, pengawasan yang lemah orang tua terhadap anak, kebutuhan ekonomi, serta penegakan hukum yang kurang berjalan dengan baik, dinilai sebagai faktor penyebab merosotnya moral anak.
Hal tersebut diungkapkan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Barat yang menyatakan prihatin terhadap kemerosotan moral generasi muda yang kurang menghayati nilai-nilai keagamaan, hingga melakukan perbuatan yang dilarang agama.
Ketua Majelis Dakwah MUI Sumbar Duski Samad di Padang, Rabu (5/10/2011) mengatakan, saat ini sudah terlihat kemerosotan moral generasi muda, yang kurang meresapi nilai-nilai agama, budaya dan adat istiadat yang ada.
“Kita dapat melihat kemerosotan moral generasi muda itu dari jumlah kasus pemerkosaan yang terjadi di Sumbar periode Januari hingga Agustus 2011 yang mencapai 55 kasus, begitu juga tahun 2010 yang jumlahnya sama persis dengan kasus pada tahun ini,” kata Duski.
Untuk mengatasi semakin merosotnya moral generasi muda, peran keluarga sebagai lingkungan terdekat harus lebih aktif dalam memberikan pemahaman keagamaan agar anak-anak tidak gampang menuruti budaya sekuler yang kerapkali merusak moral anak.
Selain data yang ada di Polda Sumbar terkait kasus pemerkosaan yang mencapai 55 kasus, beberapa waktu belakangan di Sumbar juga marak pemberitaan tentang tersebarnya video porno pelajar yang baru duduk di SMK dan SMP provinsi itu.
Data dan fakta yang ada tersebut dapat menjadi acuan kemerosotan generasi muda saat ini, yang sudah harus dibenahi dan mengharuskan peran serata semua pihak, mulai dari keluarga, sekolah, masyarakat, alim ulama, cendikiawan, pemuka adat, serta pihak pemerintah.
Penyebab kemerosotan moral generasi muda menurut MUI Sumbar, diantaranya disebabkan oleh Pendidikan terkait pemahaman agama yang sangat kurang, arus informasi dan teknologi yang tidak terproteksi dengan baik, pengawasan orang tua terhadap anak yang lemah karena kesibukan masing-masing, pengaruh kebutuhan ekonomi, serta penegakan hukum yang kurang berjalan dengan baik.
“Semua pihak saat ini perlu memberikan keteladanan yang dapat dijadikan panutan bagi generasi muda agar terhindar dari bahaya kemerosotan moral, sebab itu, semua pihak harus merapatkan barisan dalam menangani permasalahan ini,” jelas Duski.
Kepada aparat penegak hukum sudah sepatutnya menjalankan fungsinya dengan baik, dengan menghukum seberat-beratnya para pelaku dan sumber yang dapat menyebabkan kemerosotan moral generasi muda ini.
Yang paling penting tentu saja, peran orang tua dan alim ulama yang harus lebih proaktif dalam mendidik dan mengisi akidah generasi saat ini. Yang patut dipahami oleh setiap orang tua, dan para calon orang tua tentunya, bahwa saat ini kaum Muslimin tidak hanya diserang secara fisik oleh musuh-musu Islam seperti yang terjadi di Afganistan atau Palestina.
Serangan yang tidak kalah bahayanya adalah serangan pemikiran dari musuh Islam yang bertujuan menjauhkan Ummat dari ajaran Islam yang benar. Liberalisme, secularism, pluralism, dan isme-isme lain sengaja dikoarkan-koarkan untuk mengaburkan Islam. Dampak serangan ini memang tak tampak secara fisik, karena tak menimbulkan kerusakan rumah, wilayah, atau bahkan kematian. Tetapi merosotnya moral, terkotorinya aqidah, hingg amenjadikan Islam hanya sebagai agama di KTP adalah tujuan utama serangan pemikiran tersebut. Wallohua’lam.

Iklan




Sekularisasi Pendidikan

3 05 2011

Oleh : Zulia Ilmawati

Salah satu persoalan pelik yang dihadapi oleh masyarakat, selain ekonomi dan politik, adalah persoalan pendidikan. Ketika tawuran antar pelajar marak terjadi di berbagai kota, ditambah dengan sejumlah perilaku mereka yang sudah tergolong kriminal, penyalahgunaan narkoba dan meningkatnya seks bebas di kalangan pelajar, dunia pendidikan kembali dituding sebagai telah gagal membentuk watak mulia pada anak didik. Maka, seperti biasa, segera muncul saran untuk memperbaiki kurikulum atau muatan pada mata ajaran seperti misalnya, munculnya seruan untuk kembali diajarkan budipekerti beberapa waktu lalu. Baca entri selengkapnya »





WikiLeaks: AS Kirim US$ 100.000 Untuk Mainkan Social Media di Indonesia

21 01 2011

(detiknews.com, 19/1/2011)
Jakarta – Pemerintah AS memanfaatkan social media di Indonesia mulai dari blog, Facebook sampai Twitter, untuk menyebar pengaruhnya. Dana tambahan yang diminta oleh Kedubes AS Jakarta mencapai US$ 100.000 atau Rp 900 juta rupiah.

Hal ini terungkap dalam sebuah kawat pada 12 Februari 2010 silam dari Kedubes AS Jakarta, kepada pejabat Kemlu AS bernama Jared Cohen. Seperti dilansir Guardian, Rabu (19/1/2011), kawat itu mengungkap strategi AS untuk memanfaatkan social media di Indonesia untuk kepentingan AS.

“Kedubes AS Jakarta meminta tambahan dana segera untuk menggunakan media baru dan jejaring sosial untuk memaksimalkan raihan online untuk kunjungan Presiden AS yang dijadwalkan akhir Maret 2010,” demikian bagian ringkasan kawat tersebut.

Dana yang dimintakan ini besarnya US$ 100.000 atau sekitar Rp 900 juta. “Kami meminta US$ 100.000 dalam pendanaan dari R untuk mendorong keanggotaan fans Facebook kami menjadi 1 juta orang, dan dapat mencapainya dalam 30 hari,” demikian permintaan mereka. Baca entri selengkapnya »





Berantas AIDS dan Seks Bebas dengan Syariah

29 12 2010

By,Gusmawati

Tanggal 1 Desember lalu baru saja Hari AIDS se-Dunia diperingati, tentu momen ini mengingatkan kita sebuah kampanye berskala nasional bertajuk “Pekan Kondom Nasional” (PKN) yang diselenggarakan 2007 lalu , yaitu pada 1-8 Desember 2007. Tujuannya adalah untuk meningkatkan pemahaman dan penggunaan kondom sebagai salah satu cara untuk mengatasi Infeksi Menular Seksual (IMS), khususnya HIV; suatu virus yang menyerang sel darah putih manusia dan menyebabkan menurunnya kekebalan tubuh sehingga tubuh mudah terserang (terinfeksi) penyakit. Adapun AIDS adalah Acquired Immune Deficiency Syndrome, yaitu timbulnya sekumpulan gejala penyakit yang terjadi karena kekebalan tubuh menurun akibat adanya virus HIV di dalam darah. Berikut Data survei terakhir Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menyebutkan sebanyak 5.912 wanita di umur 15-19 tahun secara nasional pernah melakukan hubungan seksual.Temuan tersebut mengacu Survei Kesehatan Reproduksi Remaja Indonesia tahun 2007.
Bertolak dengan itu, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Pangkalpinang, Provinsi Bangka Belitung, mengharamkan kondomisasi karena akan melegalkan seks bebas di daerah itu. Baca entri selengkapnya »





WABAH FREE SEX DI KALANGAN REMAJA

29 12 2010

by Noor Maulida

Generasi muda adalah tulang punggung bangsa, yang diharapkan di masa depan mampu meneruskan tongkat estafet kepemimpinan bangsa ini agar lebih baik. Dalam mempersiapkan generasi muda juga sangat tergantung kepada kesiapan masyarakat yakni dengan keberadaan budayanya. Termasuk di dalamnya tentang pentingnya memberikan filter tentang perilaku-perilaku yang negatif, yang antara lain; minuman keras, mengkonsumsi obat terlarang, sex bebas, dan lain-lain yang dapat menyebabkan terjangkitnya penyakit HIV/AIDS.
Pada saat ini, kebebasan bergaul sudah sampai pada tingkat yang menguatirkan. Para remaja dengan bebas dapat bergaul antar jenis. Tidak jarang dijumpai pemandangan di tempat-tempat umum, para remaja saling berangkulan mesra tanpa memperdulikan masyarakat sekitarnya. Mereka sudah mengenal istilah pacaran sejak awal masa remaja. Pacar, bagi mereka, merupakan salah satu bentuk gengsi yang membanggakan. Akibatnya, di kalangan remaja kemudian terjadi persaingan untuk mendapatkan pacar.
Melihat berbagai fakta yang terjadi saat ini, tidak sedikit para pemuda dan pemudi yang terjerumus ke dalam lembah perzinahan (Free sex), disebabkan terlalu jauhnya kebebasan mereka dalam bergaul, Baca entri selengkapnya »





SEKS BEBAS : BUAH KAPITALIS-SEKULER

29 12 2010

by Siti Rahmah,

Setiap tanggal 1 desember kita selalu memperingati hari anti-AIDS sedunia, berbagai macam yang di lakukan ada yamg menolak seks bebas dengan lokalisasi di tutup , ada juga yang membagikan bunga dan kondom kepada masyarakat secara gratis. Menimbulkan pro dan kontra dalam menangani seks bebas ini. Seperti Selasa, 27 April 2010 18:33 WIB Surabaya (ANTARA News) – Puluhan warga penghuni lokalisasi Dolly Kota Surabaya menggelar unjuk rasa di Gang Dolly, Selasa sore, menolak adanya rencana penutupan lokalisasi Dolly yang dilakukan pemerintah setempat dalam waktu dekat ini. Selain warga setempat seperti pekerja seks komersial (PSK), Germo, Mucikari, aksi tersebut juga didukung organisasi sosial Comunitas Pemuda Indonesia (COPI) dengan mendirikan posko penolakan di Gang Dolly.
Sedangkan ada lagi yang mengatakan dengan adanya kondomisasi terhadap masyarakat merupakan salah satu cara penaggulangan tersebarnya virus HIV / AIDS di tanah air , sehingga jangan di salah artikan itu merupakan legalisasi perzinaan seperti perkataan “Jangan diartikan melegalkan hubungan seks bebas, tetapi sebagai upaya penanggulangan penyebaran virus HIV/AIDS. Gerai kondom hanya didirikan di tempat tertentu,” tegas Wakil Ketua DPRD Kota Pangkalpinang, Provinsi Bangka Belitung, Irianto Tahor, Selasa (7/12). Menurut dia, letak gerai kondom harus tepat. Seperti di lokalisasi dan tempat lain yang dinilai rawan terjadi penyebaran virus HIV/AIDS. “Gerai kondom didirikan di tempat khusus, seperti di hotel, lokalisasi, pelabuhan, panti pijat. Lokasi itu rentan penularan kondom. Baca entri selengkapnya »





BERANTAS SEKS BEBAS HANYA DENGAN ISLAM

29 12 2010

by Sri Damayanti,

Kondisi zaman sekarang berbeda dengan yang dulu, zaman sekarang dikatakan sebagai zaman yang sudah maju dan berkembang. Inilah pendapat yang ada didalam masyarakat sekarang. Apakah sebuah kebenaran jika kondisi sekarang dikatakan maju? Inilah yang menjadi pertanyaan besar bagi negeri ini.
Pemuda itu dikatakan sebagai tonggak bagi kemajuan sebuah negara. Jika kita lihat apakah pemuda negeri ini sudah menjadi tonggak kemajuan, maka ketika melihat fakta ternyata pemuda sekarang malah sedang mengalami kemuduran. Pemuda negeri ini sedang terjebak dalam balutan pergaulan bebas, jumlah pelajar atau mahasiswa yang melakukan seks bebas semakin banyak, tingkat aborsi, pemakaian kondom juga semakin menjamur.

Majalah-majalah porno dijual di sembarang tempat dengan pembeli yang bebas bagi siapa saja. Acara-acara telivisi, dengan adegan yang tidak senonoh, dan bahkan rumah-rumah bordir bertaburan dimana-mana. Inilah yang menjadi contoh bagi remaja dan pemuda negeri ini. Mereka belajar dari televisi, kaset-kaset tak senonoh yang akhirnya mereka lakukan secara riil dalam kehidupan pergaulan mereka. Mereka menjadi cepat matang dalam hal seksual sebelum waktunya. Baca entri selengkapnya »








%d blogger menyukai ini: