Serangan Brutal Israel ke Gaza Disebabkan Kepasrahan Otoritas dan Penguasa Dhirar

25 11 2012

Keterangan Pers

Serangan Brutal Entitas Yahudi terhadap Warga Gaza Tak Bersenjata

Disebabkan Kepasrahan Otoritas dan Para Penguasa Dhirar

Entitas Yahudi penjahat memanfaatkan kepasrahan menyedihkan dan terus menerus pada diri rezim-rezim Arab dan Otoritas, maka entitas Yahudi pada hari Rabu melakukan operasi militer secara luas pemboman dari udara terhadap warga Gaza. Sejumlah laki-laki dan anak-anak syahid dan yang terdepan adalah asy-syahid (komandan) al-Qasam Ahmad al-Ja’bari. Dan Israel pun terus melakukan serangan terhadap warga Gaza yang menghadapi serangan pengecut itu dengan dada telanjang mereka dan dengan senjata ringan seadanya.

Serangan pengecut itu datang setelah entitas Yahudi paham bahwa peran rezim Mesir yang baru tidak lebih dari peran mediator antara entitas Yahudi dan Otoritas Gaza untuk mengikat gencatan senjata jangka panjang yang menjaga keamanan Yahudi. Serangan itu juga datang setelah presiden Otoritas menegaskan pemberian konsesi atas sebagian besar Palestina untuk Yahudi. Dia menegaskan bahwa warga Palestina tidak memiliki hak menuntut atas pendudukan tahun 48 atau untuk kembali ke sana. Dia juga menegaskan, Otoritas hanya berusaha mendapat pengakuan atas negara kecil di atas kertas pada batas pendudukan tahun 67 dengan posisi sebagai anggota peninjau di PBB.

Entitas Yahudi makin berani melakukan serangan karena rezim Turki, Qatar, Saudi, Iran, Mesir dan rezim-rezim dhirar lainnya, menegaskan berulang-ulang kali bahwa peran mereka tidak lebih hanya melontarkan pernyataan-pernyataan di media dan mengerahkan remah-remahan harta untuk dua otoritas di Gaza dan Ramallah. Mereka menegaskan bahwa mereka berlaku tuli, bisu, dan buta; tidak bisa melihat teriakan-teriakan meminta pertolongan dari orang-orang yang kehilangan anak, para wanita, orang-orang tua, anak-anak dan laki-laki tak bersenjata ketika mereka dibombardir oleh pesawat tempur pendudukan Yahudi yang menguji coba bermacam jenis baru senjata dan rudal.

Entitas Yahudi penjahat ini merasa aman dari sanksi sehingga terus melakukan serangan. Berapa banyak komandan yang dibunuh oleh tangan-tangan teroris ini! Mulai dari Abu Jihad, syaikh Ahmad Yasin, komandan asy-Syaikh ar-Rantisi dan syuhada’ lainnya. Apakah para penguasa menggerakkan pesawat mereka untuk menyerang entitas Yahudi supaya tidak mengulangi lagi kejahatannya, ataukah bahwa pesawat-pesawat milik para penguasa dhirar itu hanya untuk membombardir rakyatnya sendiri seperti yang terjadi di Suria, Pakistan, dan lainnya?!

Fakta kebenaran yang sudah dipahami oleh setiap orang berakal dan jujur adalah bahwa rezim-rezim boneka Amerika dan Barat ini diadakan untuk melindungi entitas Yahudi dan untuk melakukan konspirasi terhadap bangsa-bangsa seperti yang terjadi di Qatar akhir-akhir ini dengan dibuatnya koalisi yang disusupkan dalam revolusi. Koalisi yang dibuat di bawah pengawasan Amerika dan Eropa, agar menjadi alternatif pengganti rezim Assad yang jahat dalam menjaga kepentingan-kepentingan barat dan entitas Yahudi. Rezim-rezim yang berkomplot melawan rakyatnya sendiri ini seharusnya memobilisasi pasukannya untuk membebaskan Palestina atau untuk membela warga Gaza atau kaum muslimin lainnya yang berteriak meminta pertolongan.

Balasan yang benar terhadap serangan Yahudi yang berulang-ulang ini adalah dengan memobilisasi pasukan untuk membela warga Palestina dan meghancurkan entitas Yahudi penjahat serta mengembalikan Palestina dan warganya ke pangkuan Umat Islam. Para komandan pasukan yang telah mengetahui pengkhianatan para politisi yang mencengkeram tengkuk mereka dan tengkuk umat itu, wajib mencabut para penguasa itu dan membaiat seorang imam yang memerintah mereka dengan kitabullah dan sunnah rasul-Nya saw, memimpin mereka di medan jihad untuk membebaskan Palestina dan seluruh negeri islami yang diduduki. Untuk itulah Hizbut Tahrir yang ada di tengah Anda dan bersama-sama Anda, berjuang. Maka tolonglah Hizbut Tahrir agar Islam dan pemeluknya menjadi mulia dan sebaliknya kekufuran dan penganutnya menjadi hina, atas izin Allah SWT.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ

Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu (TQS al-Anfal [8]:24)





Perang dan Damai di Palestina

17 10 2011

Oleh : Budi Mulyana

Perang dan damai adalah dua konsep kontradiktif yang selalu berdampingan. Secara fitrah manusia memimpikan hidup damai, bahkan perdamaian abadi, namun realitasnya nafsu manusia sering mendorong terjadinya konflik yang kadang berujung perang.

Itulah yang juga terjadi di bumi Palestina. Tanah yang kaya dengan dinamika sejarah ini sepanjang waktu diisi dengan peperangan dan perdamaian. Mulai dari zaman para nabi hingga kini. Dalam kohteks penyelesaian masalah Palestina, maka perang dan jalan damai pun menjadi pilihan.

Kekalahan Khilafah Turki Utsmani pada Perang Dunia I menjadikan Palestina berada pada Mandat Britain (Inggris Raya) pada tahun 1922 sesuai dengan perjanjian Sykes-Picot dalam rangka memuluskan janji Inggris kepada bangsa Yahudi dalam Deklarasi Balfour.

Inggris dengan mandat yang dimilikinya memanfaatkan kekuasaannya untuk memfasilitasi migrasi bangsa Yahudi dari berbagai penjuru Eropa dan Timur Tengah dan mempersiapkan pemerintahan Negara Yahudi. Hal inilah yang memicu Revolusi Arab 1936-1939 yang mengakibatkan 5.000 bangsa Arab terbunuh oleh pasukan Inggris.

Walau Majelis Umum PBB merancang pembagian wilayah Palestina bagi dua bangsa, Palestina dan Yahudi pads tahun 1947, namun Israel kemudian dideklarasikan kemerdekaannya pada 14 Mei 1948. Merasa sudah selesai misinya, Inggris kemudian hengkang dari Palestina. Negara-negara Arab seperti Mesir, Suriah, Irak, Libanon, Yordania, dan Arab Saudi menabuh genderang perang melawan Israel, maka terjadilah Perang Arab-Israel 1948.

Lelah berperang, 3 April 1949 dilakukan Persetujuan Gencatan Senjata 1949. Israel dan Arab bersepakat melakukan gencatan senjata. Israel mendapat kelebihan wilayah 50 persen lebih banyak dari yang diputuskan dalam Rencana Pemisahan PBB 1947.

Perang Palestina – Israel terjadi berulang baik dalam skala besar seperti Perang Enam Hari 1967, Perang Yom Kippur 1973 atau juga pertempuran dalam skala kecil yang sepanjang tahun tidak kunjung henti. Semangat jihad mengusir penjajah terus membara walau juga tergerus dengan cara-cara musuh yang juga terus berusaha memadam¬kan jalan mulia kaum Muslimin ini.

Alternatif jalur diplomatik, yang awalnya hanya sekadar pilihan, kemudian seolah menjadi satu-satunya jalan. Beberapa di antaranya, tahun 1978 ditandatangani Kesepakatan Damai Mesir Israel di Camp David. Dan tahun 1993 dibuat Kesepakatan Damai Oslo antara Palestina dan Israel.

Selain itu juga terdapat Perjanjian Wye River Oktober 1998 berisi penarikan Israel dan dilepaskannya tahanan politik dan kesediaan Palestina untuk menerapkan butir-butir perjanjian Oslo, termasuk soal penjualan senjata ilegal. Termasuk di dalamnya sebagaimana yang dilakukan saat ini, upaya Palestina mendapatkan keanggotaan penuh di PBB.

Berbagai jalan diplomatik yang belakangan dilakukan oleh elite Palestina nyatanya tidak kunjung menjadikan bumi Palestina kembali ke pangkuan kaum Muslimin. Mestinya mereka berkaca pada sejarah.

Pada 1902, Theodor Hertzl, Bapak Yahudi Dunia sekaligus penggagas berdirinya Negara Yahudi, untuk kesekian kalinya menghadap Khalifah Abdul Hamid II. Setelah berbagai bujuk rayunya gagal, kedatangannya kali ini untuk menyogok sang penguasa kekhalifahan Islam tersebut.

Hertzl menyodorkan: (1) uang 150 juta poundsterling khusus untuk Sultan; (2) Membayar semua utang pemerintah Utsmaniyyah yang mencapai 33 juta poundsterling; (3) Membangun kapal induk untuk peme-rintah dengan biaya 120 juta frank; (4) Memberi pinjaman 5 juta poundsterling tanpa bunga; dan (5) Membangun Universitas Utsmaniyyah di Palestina.

Khalifah menolak, ia tetap teguh dengan pendiriannya untuk melindungi tanah Palestina dari kaum Yahudi. Bahkan Sultan tidak mau menemui Hertzl, melalui Tahsin Basya, ia menyampaikan, “Nasihati Mr Hertz agar jangan meneruskan rencananya. Aku tidak akan melepaskan walaupun sejengkal tanah ini (Palestina), karena ia bukan milik¬ku. Tanah itu adalah hak umat Islam. Umat Islam telah berjihad demi kepentingan tanah ini dan mereka telah menyiraminya dengan darah mereka.”

Sultan juga mengatakan, “Yahudi silakan menyimpan harta mereka. Jika suatu saat Kekhilafahan Turki Utsmani runtuh, kemungkinan besar mereka akan bisa mengambil Palestina tanpa membayar harganya. Akan tetapi, sementara aku masih hidup, aku lebih rela menusukkan pedang ke tubuhku daripada melihat Tanah Palestina dikhianati dan dipisahkan dari Khilafah Islamiyah. Perpisahan adalah sesuatu yang tidak akan terjadi. Aku tidak akan memulai pemisahan tubuh karni selagi kami masih hidup.”

Jadi mau pilih jalan jihad yang mulia atau diplomatik yang tidak jelas ujung pangkalnya?

PERANG DAN PERJANIJAN PALESTINA – ISRAEL
1. Kekalahan Khilafah Turki Utsmani pada PD I menjadikan Palestina berada pada Mandat Britania (Inggris) sejak tahun 1922.
2. MU PBB membuat Rencana Pembagian Wilayah 1947.
3. Israel mendeklarasikan Pembentukan Negara Israel, 14 Mei 1948. Inggris hengkang dari Palestina. Mesir, Suriah, Irak, Libanon, Yordania, dan Arab Saudi menabuh genderang perang melawan Israel.
4. Perang Arab-Israel 1948.
5. Persetujuan Gencatan Senjata 1949. 3 April 1949. Israel dan Arab bersepakat melakukan gencatan senjata. Israel mendapat kelebihan wilayah 50 persen lebih banyak dari yang diputuskan dalam Rencana Pemisahan PBB.
6. Perang Enam Hari 1967.
7. Perjaniian Nasional Palestina dibuat pada 1968, Palestina secara resmi menuntut pembekuan Israel.
8. 1970 War of Attrition.
9. Perang Yom Kippur 1973.
10. Kesepakatan Damai Mesir-Israel di Camp David 1978.
11, Perang Lebanon 1982.
12. Perang Teluk 1990-1991.
13. Kesepakatan Damai Oslo antara Palestina dan Israel 1993. 13 September 1993. Israel dan PLO bersepakat untuk saling mengakui kedaulatan masing-masing. Pada Agustus 1993, Arafat duduk semeja dengan Perdana Menteri Israel Yitzhak Rabin. Hasilnya adalah Kesepakatan Oslo. Rabin bersedia menarik pasukannya dari Tepi Barat dan Jalur Gaza serta memberi Arafat kesempatan menjalankan sebuah lembaga semiotonom yang bisa “memerintah” di kedua wilayah itu. Arafat “mengakui hak Negara Israel untuk eksis secara aman dan damai”.
14. 28 September 1995. Implementasi Perjanjian Oslo. Otoritas Palestina segera berdiri.
15. 18 Januari 1997 Israel bersedia menarik pasukannya dari Hebron, Tepi Barat.
16. Perjanjian Wye River Oktober 1998 berisi penarikan Israel dan dilepaskannya tahanan politik dan kesediaan Palestina untuk menerapkan butir-butir perjanjian Oslo, termasuk soal penjualan senjata ilegal.
17. KTT Camp David 2000 antara Palestina dan Israel.
18. Maret-April 2002 Israel membangun Tembok Pertahanan di Tepi Barat dan diiringi rangkaian serangan bunuh diri Palestina.
19. Juli 2004 Mahkamah Internasional menetapkan pembangunan batas pertahanan menyalahi hukum internasional dan Israel harus merobohkannya.
20. Peta menuju perdamaian (Road Map) 2002.
Agustus 2005 Israel hengkang dari permukiman Gaza dan empat wilayah permukiman di Tepi Barat.





Kisah Ibrahim Zaza; Bocah Gaza yang Dibom Zionis

17 10 2011

“Kedua lengan Ibrahim dipotong. Sebuah lubang menganga di paru-parunya. Beberapa bagian dari kakinya hilang. Ginjalnya dalam kondisi buruk. Kami butuh orang-orang yang rela mendampingi kami, di sisi kami,” tutur seorang lelaki yang tampak terlalu letih itu saat menjelaskan kondisi anaknya yang sekarat kepada situs The Real News.

Ibrahim Zaza adalah seorang anak lelaki berusia dua belas tahun. Ia dan sepupunya, Mohammed, 14 tahun, diserang misil Zionis. Ditembakkan dari pesawat berawak saat sedang bermain di depan rumah mereka di Gaza.

Disembunyikan Media

Kisah ini terjadi 18 Agustus lalu. Keesokan harinya, harian British Telegraph menurunkan berita: “Israel” Melawan Serangan Militan di Perbatasan Mesir. Serangan-serangan Zionis terhadap Gaza, penghancuran desa-desa, dan pelanggaran hak asasi manusia tidak disebutkan sama sekali oleh para reporter. Hal ini membuat semua orang bertanya mengapa selalu menggunakan sudut pandang tentara Zionis dalam menyampaikan cerita?

Rakyat Palestina dihukum atas sebuah serangan yang terjadi di perbatasan “Israel” dan Mesir. Tidak ada bukti bahwa Gaza terlibat dalam serangan tersebut. Bahkan Mesir mencurigai bahwa “Israel” berperan dalam kejadian itu.

Di dunia media, persoalan Palestina hanya terasa penting ketika sejumlah besar manusia menjadi korban. Bahkan, alih-alih menunjukkan simpati, media justru menyalahkan militan Palestina adalah pihak yang bertanggung jawab. Sementara “Israel” hanya mempertahankan diri demi keamanan.

Kata “keamanan” pun hanya boleh digunakan oleh Zionis. Keamanan Palestina sama sekali tidak diperhitungkan, meski ribuan rakyat Gaza telah dibunuh selama tiga tahun terakhir.

Kursi Roda

Ayah Ibrahim Zaza, yang mengantongi izin untuk menemani Ibrahim dan Mohammed ke Rumah Sakit “Israel”, ditahan di rumah sakit tersebut karena dianggap mengancam keamanan. Ia pun terus mengelilingi tubuh lemah anaknya. Sambil berharap dan berdoa.

Ia meminta dukungan orang-orang untuk membantunya membeli kursi roda. Karena ia berpikir Ibrahim akan membutuhkannya begitu ia bangun.

Akan tetapi, Ibrahim tidak lagi membutuhkan kursi roda. Ia juga tidak lagi butuh pengobatan untuk luka-lukanya, untuk kakinya yang lepas seluruh kulitnya, untuk perutnya yang terkoyak.

Kematian Ibrahim hanya menarik sedikit, jika memang ada, pemberitaan media. Tidak ada fitur New York Times. Tidak ada ulasan foto sang ibu yang menangis dan masyarakat yang menderita. Tidak akan ada perdebatan mengenai pesawat tempur Zionis yang digunakan untuk membunuh rakyat sipil.

Keberadaan Ibrahim amatlah singkat. Kepergiannya tidak dirasakan orang-orang di luar keluarganya.

“Logika” Tak Masuk Akal

Dalam laporan video The Real News, Lia Tarachansky berbicara kepada Letkol Avital Leibowitz, juru bicara Pasukan Pertahanan “Israel”.

Lia Tarachansky: “Hanya ada satu tembakan misil. Sementara menurut para saksi, tembakan tersebut memang ditargetkan kepada dua anak berusia 12 dan 14 tahun yang sedang duduk di depan rumah mereka.”

Avital Leibowitz: “Logikanya, apabila seseorang mencoba meluncurkan roket kepada kita. Maka lebih baik menarget orang tersebut sebelum kita yang menjadi target.”

Foto Ibrahim Zaza yang tersenyum sipu, menjadi saksi satu lagi korban “logika” Zionis yang tidak masuk akal.*

Hidayatullah.com–





Israel Penjajah Tak Akan Cabut Blokade Jalur Gaza

9 09 2011

Syabab.Com – Israel tidak akan meminta maaf kepada Turki atas serangan Mei 2010 terhadap armada tujuan Gaza dan tidak akan mencabut blokade terhadap Jalur Gaza, kata seorang menteri Israel seperti dikutip AFP, Rabu.

“Israel akan mempertahankan kepentingan-kepentingannya dan pemerintahnya tidak akan meminta maaf,” kata Israel Katz, menteri transpor dan anggota partai Likud yang dipimpin PM Benjamin Netanyahu.

Katz, yag berbicara di radio publik Israel, mengemukakan hal itu sehari setelah Ankara menegaskan kembali penangguhan perjanjian militer dengan negara Yahudi itu, sementara Perdana Menteri Turki Recep Tayyip Erdogan menegaskan akan mengunjungi Gaza.

Hubungan Turki dan Israel yang pernah erat, dilanda krisis belakangan ini karena serangan Israel tahun 2010 terhadap armada bantuan kemanusiaan untuk Gaza, yang menewaskan sembilan warga Turki.

Demikianlah, Israel telah menyata menjajah negeri milik kaum muslim, Palestina, serta memblokade Jalur Gaza. Ketika penjajah Israel berani mempertahankan kepentingan-kepentingannya, sungguh sangat memalukan bila para penguasa negeri Muslim tak mampu mempertahankan kepentingan ummah dan Islam, termasuk kepentingan untuk mengusir penjajah Israel. Bahkan sebagian para penguasanya malah berjabat tangan dengan sang penjajah tersebut.

Umat benar-benar membutuhkan Khilafah Islamiyyah yang akan mengurusi urusan umat ini dengan syariah. Di bawah naungannya, Khalifah akan mengerahkan para tentara Muslim yang tersebar dari Maroko hingga Merauke untuk membebaskan negeri-negeri Muslim dari cengkraman penjajah. Insya Allah, semakin dekat. [m/ant/syabab.com]





**TRAGEDI PALESTINA: MASALAH AKIDAH, BUKAN SEKADAR MASALAH KEMANUSIAAN**

9 06 2010

[Al-Islam 510]
“It’s not about jews nor muslim nor christian. It’s about humanity (Ini bukan masalah Yahudi, Muslim atau Kristen. Ini masalah kemanusiaan).” Itulah di antara kalimat yang diusung oleh salah satu organisasi mahasiswa Islam saat berdemo menyikapi tragedi paling mutakhir di Palestina.

Pernyataan tersebut boleh jadi mewakili sebagian kaum Muslim saat ini dalam menyikapi penyerangan pasukan Israel terhadap para relawan di Kapal Marvi Marmara–satu dari 6 kapal Armada Kebebasan (Freedom Flotilla)–yang menewaskan puluhan relawan pada hari Senin (31/5).

Memang, dengan hanya melihat tragedi mutakhir ini, siapapun akan menilai bahwa ini masalah kemanusiaan. Alasannya, Israel menyerang para relawan dari berbagai negara dan lintas agama. Korban serangan Israel pun tak hanya Muslim, tetapi juga non-Muslim. Baca entri selengkapnya »





Menamatkan Kepungan Terhadap Gaza Bukanlah Dengan Kecaman Dan Kunjungan Ke PBB

6 06 2010

“Menamatkan Kepungan Terhadap Gaza Bukanlah Dengan Kecaman Dan Kunjungan Ke PBB Tetapi Dengan Menggerakkan Tentera Mengelilingi Entiti Yahudi Umpama Gelang Yang Mengelilingi Tangan”

Di atas bahtera yang meredah samudera, telah gugurlah sejumlah manusia. Dari pelbagai benua mereka datang untuk memecahkan kepungan ke atas Gaza dan menghulur bantuan kemanusiaan…mereka belayar di atas kapal-kapal dalam misi untuk meringankan kepungan ke atas orang-orang tua, wanita dan anak-anak…tindakan mereka ini disanjung oleh para pemerintah negara umat Islam. Para pemerintah ini bersorak keriangan dengan mengatakan bahawa mereka yang berada di atas kapal pembebasan untuk menghentikan kepungan ke atas Gaza adalah para pahlawan…Erdogan (Perdana Menteri Turki) adalah yang paling banyak melaungkan bahawa hari untuk memecahkan kepungan kian hampir, maka bergembiralah wahai Gaza!

Pada pagi 31 Mei 2010, entiti Yahudi mengerahkan tentera untuk menyerang kapal-kapal tersebut di tengah lautan. Ada yang terbunuh dan tercedera. Yang lain dibawa ke pelabuhan Usdud di tanah Palestin yang dirampas…lalu para pemimpin umat Islam dari kalangan bangsa Arab dan bukan Arab pun menyeru kepada Majlis Keselamatan PBB dan Liga Arab, mengecam negara Yahudi dan jenayah kejinya, mengutuk Yahudi yang melanggar undang-undang antarabangsa dan perairan antarabangsa, melaknatnya dengan semua kata-kata kasar. Ada yang menambah dengan mengatakan bahawa apa yang berlaku akan mengganggu proses damai!! Baca entri selengkapnya »





Menyedihkan, Palestina Telah Dibuang dari Peta Dunia

6 06 2010

By [Salim Syarief MD] voa-islam

Semaraknya berita tentang kekejaman tentara Israel terhadap relawan kemanusiaan yang terjadi Minggu (30 Mei 2010) lalu membuat saya tertarik untuk mencari lokasi jalur gaza, tempat saudara muslim kita di palestina di penjarakan atau diblokade secara masive oleh israel.

Berbekal fasilitas Google Earth, saya mencoba menelusuri lokasi-lokasi yang saya inginkan. Tapi sayang sekali, informasi tentang gaza sangat sedikit. Yang lebih mengagetkan lagi, ketika saya coba menelusuri tempat suci kita “Masjid Al-Aqsa, Palestina,” ternyata tidak ada di peta elektronik tersebut. Kata kunci untuk menemukan tempat suci umat muslim itu kini berubah menjadi “Masjid Al-Aqsa, Jerusalem, Israel.” Menyedihkan, Palestina telah dihapus dari peta dunia, diganti dengan nama Israel, sehingga Masjid Al-Aqsha diklaim sebagai milik Israel, bukan Palestina.

Baca entri selengkapnya »








%d blogger menyukai ini: