Mustofa B Nahrawardaya: Setiap Aksi Bom Terkait Intelijen Hitam

8 10 2011

Jakarta- Koordinator Indonesian Crime Analyst Forum (ICAF), Mustofa B. Nahrawardaya menilai, semua aksi pengeboman yang terjadi di Indonesia terkait dengan ‘permainan’ intelijen. Bom Solo misalnya, ia melihat adanya kejanggalan-kejanggalan dalam aksi pengeboman tersebut. Yang patut dipertanyakan adalah, kenapa sang bomber meledakkan dirinya di pintu gereja. Padahal, bisa saja ia meledakkan tubuhnya di tengah jemaat gereja.
“Sudah tak bisa dipungkiri, intelijen telah menempel ke seluruh organisasi, baik yang organisasi yang dianggap radikal maupun yang tidak radikal. Saat ini, kerjaan intelijen itu ada tiga. Bisa menghentikan, memperlambat atau mempercepat. Kalau menghentikan dan memperlambat tidak bisa, maka yang dipilih adalah mempercepat. Sebenarnya, aparat intelijen sudah tahu, tapi kemungkinan dibiarkan,” ujar Mustofa.
Yang perlu dipertanyakan adalah, apakah gerak inteljen sesuai komando atau diluar komando? “Yang saya khawatirkan adalah banyak inteljen diluar komando. Itulah yang disebut intelejen hitam. Mereka bermain sendiri, sesuai dengan kepentingannya sendiri. Bukan tidak mungkin, mereka dibayar oleh asing,” tandasnya.
Presiden SBY pernah bilang, perlu diadakan audit internal. Yang dimaksud dengan audit internal adalah mengaudit di tubuh inteljen, kepolisian, terutama Densus 88, kemungkinan ada yang bermain. Sangat disayangkan, jika statemen SBY itu disikapi secara sedehana saja. Yang jelas, ini bukan soal administrasi.
Kepada voa-islam di Jakarta, sebelum bom Solo, Mustofa mengaku pernah kedatangan tamu dari Australia bernama Alan Fox. Ia adalah Senior Analist Terorism , yang diutus oleh PM Australi, khusus untuk menemuinya. Dalam pertemuan itu, Mustofa ditanya, apakah anda tidak khawatir, bila pendapat-pendapat anda akan dipakai oleh para teroris untuk melakukan aksi kekerasan?
Seperti diketahui, Mustofa dalam beberapa forum, telah mengemukakan pendapatnya sola kejanggalan-kejanggan bom dan terorisme selama ini. Lalu apa kata Mustofa. “Kalau ada yang menghina saya, tidak soal. Tapi, kalau menghina dan menjelek-jelekkan agama saya, maka saya harus bela agama saya. Untuk itu saya harus jujur, dan memegang prinsip, tidak akan pernah saya biarkan seorang pun menghina agama saya,” ungkap Mustofa.
Sebagai contoh, ketika pemerintah dalam hal ini polisi, “menyeret-nyeret” Al- Qur’an sebagai barang bukti, lalu menyangkut-pautkan ayat Al Qur’an sebagai pendorong terorisme, adalah tuduhan yang harus ditentang. Mengait-ngaitkan ideologi secara terus menerus, melalui konferense, press release, barang bukti, pengakuan tersangka dan sebagainya, jelas tidak fair. Tidak lazim, di negeri yang mayoritas penduduknya muslim ini, agama yang kita anut, di hina-hinakan seperti itu.
Lebih aneh lagi, jika mengaitkan orang yang hidup dengan kesaksian orang yang sudah mati. Mustofa mempertanyakan, kenapa kesaksian orang yang masih hidup dipercayai, meskipun mereka mengerti tentang kehidupan orang yang sudah mati. Orang yang sudah mati tak perlu mencari kesaksian dari orang yang masih hidup. Jelas ini tidak etis. “Orang yang masih hidup jangan bersaksi pada orang yang mati. Ini rancu. Karena yang mati tidak bisa membela,” tukas Mustofa.
RUU Intelijen Bisa Gol
Mustofa melihat adanya upaya Badan Intelijen Negara (BIN) yang dipimpin Sutanto, bergerilya ke Komisi I DPR RI, untuk meminta kenaikan anggaran menjadi Rp. 1,4 triliun. Bukan hanya itu, BIN juga bergerilya di DPR untuk segera mensahkan RUU Intelijen dalam waktu dekat. “BIN begitu getol bergerilya di DPR,” kata Mustofa.
Ibarat kentut, tidak tahu siapa yang ketut, tapi baunya tercium. Seperti itulah upaya BIN ketika mendesak DPR agar tindakan penangkapan dan penyadapan diatur dalam RUU tersebut.
“Meski tidak ada penangkapan dan penyadapan, bisa saja nanti akan ada RUU tersendiri, yakni penangkapan dan penyadapan. Itulah trik mereka. Dan ide ini sudah digagas. Mereka punya prinsip, strategi, dan hasil,” jelasnya.
Mustofa memprediksi, RUU Intelijen akan gol. DPR bisa saja menolak, tapi pada akhirnya mensahkan juga. “Penolakan di DPR itu biasa, untuk mendapat simpati dari rakyat. Sama halnya ketika wacana beras impor. PKS awalnya menolak, tapi kemudian mensahkan juga. Itu strategi politik saja. Bagi masyarakat, penolakan itu adalah sebuah nilai, tapi tanpa disadari, rakyat sering terkecoh dengan ulah politikus di DPR.”
Seperti diketahui, Mabes Polri telah mengumumkan, akan ada tujuh bom lagi yang meledak. Mengenai hal itu, Mustofa menduga, polisi sebenarnya sudah mencium, bahkan menangkap buron tersebut. Tapi pernyataan berikutnya adalah siapa yang menangkap? Ada kemungkinan, kelompok intelejen hitam yang bermain.
“Ada indikasi, polisi seperti menabung peristiwa. Sebetulnya, polisi sudah tahu, tinggal mempersiapkan moment yang diinginkan. Sekarang siapa yang bisa menjamin, bahwa informasi itu betul, sementara media hanya percaya pada satu sumber , yakni polisi,” tandas Mustofa. (Desastian/VOAISLAM)

Iklan




BIN usulkan penambahan anggaran menjadi Rp.2,5 triliun pasca bom Solo

28 09 2011

Sepertinya niat BIN untuk mendongkrak dana pemasukan dengan memanfaatkan aksi pemboman hampir sukses. Pasalnya pasca kerusuhan Ambon dan aksi bom Solo serta ‘penemuan’ bom rakitan di Ambon, anggota Komisi I DPR RI Max Sopacua mengusulkan agar pagu anggaran untuk Badan Inteligen Negara (BIN) ditambah menjadi Rp2,5 triliun.

Max Sopacua menyebutkan, usulan tersebut akan disampaikan dalam rapat kerja Komisi I DPR RI dengan Kepala BIN Sutanto dengan alasan bahwa kerja dari BIN sangat luas dan komplek, terutama soal mengantisipasi ‘terorisme’ dan konflik komunal di seluruh Indonesia.

“Untuk tahun 2012, pagu BIN hanya Rp1,2 triliun. Mengingat kerja BIN yang sangat komplek dan cakupan luas wilayah sangat besar, tak ada salahnya untuk menambah anggaran BIN. Kira-kira menjadi Rp2,5 triliun dan itu masuk APBNP,” kata Max di Gedung DPR RI, Jakarta, Senin (26/9/2011).

Max mengklaim dengan tambahan dana itu maka kerja dari BIN tidak hanya terfokus pada daerah atau wilayah tertentu.

“Kita harap inteligen bekerja lebih merata, tidak hanya pada wilayah tertentu seperti hanya wilayah Indonesia Timur saja, sementara wilayah lain tak terdeteksi sama sekali,” ungkap Max.

bahkan dengan membawa-bawa nama rakyat, Max berkilah bahwa kenaikan tambahan pagu anggaran itu, tambah Max, juga dalam rangka melindungi seluruh warga negara Indonesia.

“BIN harus diperkuat, kita tak bisa katakan semua aman. Pemerintah sudah lindungi rakyat, tak benar pemerintah gagal,” klaim Max.

Nah lho… sepertinya sudah teridentifikasi siapa yang diuntungkan dari kasus kerusuhan Ambon dan aksi pemboman. Jadi ada apa dibalik itu semua? Wallohua’lam. (dbs/arrahmah)





Inilah Skenario Intelijen Asing Dalam Bom Solo

27 09 2011

Indikasi mengenai keterlibatan intel asing dalam kejadian Bom Solo tampak semakin kuat. Konteks ini tidak terlepas dari isu war on terorism yang digelindingkan Barat untuk menenggelamkan pemahaman Ideologi Islam di tengah-tengah umat.
Hal itu disampaikan oleh Direktur Lembaga Pengkajian Syariat Islam, Ustadz Fauzan Al Anshari, kepada Eramuslim.com, selasa siang, (27/9). “Keterlibatan intelijen Asing di (Bom) Solo sangat kuat. Mereka ada dimana-mana seperti pernah dikatakan oleh Pak Ryamizard. Salah satunya menyerang isu penegakan Syariat Islam.”
Menurut Fauzan cara yang dimainkan oleh Barat dalam menyudutkan umat Islam lewat peledakan bom Solo adalah dengan menggembar-gemborkan demokrasi. Syariat Islam pada gilirannya akan dibenturkan dengan perlawanan terhadap NKRI yang memegang teguh demokrasi. “Makanya pengamat-pengamat sekarang sudah mengaitkan Bom Solo dengan kelompok anti demokrasi, anti thoghut, anti Pancasila dan sebagainya.”
Salah satu peran yang dimainkan Barat dalam hal ini adalah media. Media adalah fasilitas yang telah dikuasai oleh Barat. Oleh karenanya tidak aneh jika sekarang media mulai menggiring opini masyrakat antara Bom Solo dengan penegakkan hukum-hukum Islam.
“Media-media saat ini adalah alat dari kepentingan asing. Mereka tidak suka Islam tegak.” Imbuh Ustadz Fauzan.
Sejatinya, genderang perang antara umat muslim versus Barat adalah agenda jangka panjang yang terus berlangsung. Jika ada yang meyakini peperangan tejadi hanya pada konteks global, dan tidak melokalisir di Indonesia, hal itu adalah pendapat yang keliru. Sebab Barat memandang Indonesia adalah Negara yang potensial untuk disusupi. “Indonesia adalah subordinat dari perang Global melawan Islam yang sekarang sedang berlangsung.”
Lantas apa tujuan atau kepentingan Barat dalam memainkan isu bom di Indonesia? “Mereka tidak ingin Islam bangkit.” Jawab Fauzan. “Karena lawan dari demokratisasi adalah Islamisasi.” Sambungnya. (pz)





Setelah Bom Di Solo Meledak, Pengajian Hadits Di Klaten Hendak Dibubarkan

27 09 2011

Klaten, 26/9/2011 – Sehari setelah terjadi ledakan Bom di Gereja Bethel Injil Sepenuh (GBIS) Kepunton Solo Jateng pada hari ahad 25/9/2011 kemarin yang menewaskan 1 orang yang diduga pelaku bom bunuh diri dan melukai beberapa jema’at geraja, pengajian bapak-bapak & ibu-ibu di Masjid Al Huda Kampung Kerun, Ds. Belangwetan, Kec. Klaten Utara, Kab. Klaten Jateng (tepatnya disebelah selatan perempatan lampu bangjo RSI Klaten)hendak dibubarkan oleh segelintir orang yang tidak suka islam berkembang dimasyarakat yang disinyalir oleh Takmir Masjid setempat, aksi tersebut ditunggangi oleh Inteligen.
Alasan segelintir orang tersebut meminta pengajian dibubarkan karena dianggap sebagai “Pengajian Teroris”. Segelintir orang tersebut menyebutkan bahwa jama’ah yang hadir berasal dari luar desa setempat dan jama’ah dalam pengajian tersebut katanya memenuhi kriteria sebagai “Teroris” dengan ciri-ciri berjenggot, memakai celana ‘cingkrang’ (diatas mata kaki) dan lain-lain yang pernah mereka dengar melalui TV-TV swasta. Melihat fenomena ini, kelihatannya media sekuler yang dikuasai barat dan orang-orang Nashrani di Indonesia sudah berhasil merusak pemikiran masyarakat islam yang awam dengan menghancurkan nilai-nilai sunah Nabi Muhammad saw.
Pada waktu kami menelusuri info tersebut (senin 26/9/2011 ba’da magrib), kebetulan takmir dan masyarakat sekitar masjid sedang berkumpul dimasjid karena baru berlangsung pengajian rutin tersebut. Menurut penuturan Bp. Kamidi selaku Ketua Takmir Masjid, pengajian tersebut hanya pengajian biasa pada umumnya yang membahas Syarah Kitab Aqidah Thohawiyah & Syarah Kitab Hadits Arba’in An-Nawawiyah. Pengajian itu sendiri berlangsung sudah hampir 1 tahun & diadakan rutin setiap senin malam ba’da magrib sampai isya’ seminggu sekali.
“Pengajian ini hanya pengajian hadits-hadits Nabi seperti pada umumnya sebagaimana pengajian Majelis Tarjih di Muhammadiyah itu mas. Karena saya sendiri anggota Muhammadiyah & juga sering mengikuti pengajian Tarjih Muhammadiyah di PCM (Pimpinan Cabang Muhammadiyah) sini”.Ujar beliau.
Menanggapi tuduhan segelintir orang yang mengatakan bahwa jama’ah yang hadir banyak dari luar daerah setempat, Pak Kamidi menampiknya. “Setau saya, jama’ah yang hadir 80% dari masyarakat sekitar mas. Memang ada beberapa orang dari luar desa sini, tapi mereka yang hadir itu sudah sangat kenal kita kenal, jadi mereka tidak & bukan orang asing bagi kita. Karena pengajian disini kekeluargaannya bisa dibilang cukup kuat.”. Lanjut beliau.
Pada waktu kami tanya, “Apakah pembicaranya berasal dari Pondok Pesantren yang diindikasikan Media dan Pemerintah sebagai pondok teroris? Contohnya Ngruki?” Dalam hal ini beliau menjawab, “Kalo pembicara dalam pengajian ini alumni Ponpes PERSIS Bangil & Ponpes Gontor mas. Tapi memang jama’ah yang hadir dalam pengajian ini setau saya itu lintas ormas islam yang ada di Klaten mas. Jadi jama’ah dari mana saja boleh hadir karena ini memang untuk umum”.
Sedangkan pengamatan pengurus masjid setempat bahwa aksi segelintir orang yang meminta pengajian tersebut agar dibubarkan merupakan skenario & ditunggangi oleh Inteligen adalah :
1) bahwa permintaan & ancaman pembubaran tersebut tidak hanya sekali, tapi pertengahan bulan Ramadhan lalu juga pernah ada, bahkan takmir masjid yang memutar Murotal Al Qur’an sebelum adzan Subuh berkumandang juga dipermasalahkan, padahal waktu itu bulan Ramadhan.
2) orang yang meminta agar pengajian dibubarkan itu tidak berani diajak dialog oleh Ketua Takmir Masjid setempat. Padahal rumahnya hanya berjarak ± 100 meter sebalah barat masjid, sedangkan rumah ketua takmir masjid ± 50 meter sebelah selatan masjid.
3) sudah hampir 3 kali pengajian ini, polisi berpakaian dinas (resmi) ikut sholat magrib berjama’ah disitu. Padahal sebelum-sebelumnya tidak ada polisi yang ikut sholat.
4) Polisi yang ikut sholat tersebut hanya pada waktu hari senin pada waktu sholat magrib berlangsung. Diluar waktu dan hari itu tidak ada polisi yang ikut sholat (memang sebelah utara masjid ada pos jaga polisi lalu lintas).
5) Akhir-akhir ini setelah Ramadhan, pada waktu pengajian ada orang mencurigakan yang mondar-mandir didepan masjid.
Kelihatannya, ada fihak-fihak yang tidak suka & tidak senang dengan kondisi kondusif antar umat beragama yang ada di Solo dan di Klaten. Sehingga mereka berusaha menciptakan konflik horisontal antar umat beragama untuk meraup keuntungan duniawi khususnya dalam penanganan masalah Terorisme. Atau hal ini untuk menutup-nutupi beberapa kebobrokan Pemerintah dalam mengurus rakyatnya, terbukanya kasus-kasus Korupsi yang melibatkan oknum-oknum Partai Penguasa Negeri ini, penangan bencana mulai Lumpur Lapindo yang tak kunjung selesai, Pengungsi Gunung Merapi yang belum mendapatkan hak-haknya yang sudah dijanjikan, DLL…
Setidaknya ini yang sering kali terlihat, setiap ada kasus besar yang memojokkan Pemerintah & Penguasa, PASTI BOM akan meledak dan kejadian tersebut digiring kepada Tindak Pidana Terorisme. Setelah meledak, tentu saja Umat Islam yang menjadi kambing hitam atas itu semua(meskipun secara fakta/realita pelakunya dari orang islam)& aparat yang bermain mendapatkan pundi-pundi Dolar dari sang majikan di Amerika. Tentu saja masyarakat & aktivis islam harus sangat berhati-hati dalam menyikapi kejadian demi kejadian kaitannya dengan masalah Terorisme. Bisa jadi ini merupakan proyek untuk meraup keuntungan Dolar sebanyak-banyaknya dari Amerika oleh fihak-fihak GELAP yang bermain dibelakang ini semua agar merka bisa terus eksis dan umat islam tidak bisa mengamalkan agamanya dengan sebaik-baiknya dan sebenar-benarnya. Terakhir, Pertanyaannya, “Apakah Klaten yang menjadi target selanjutnya setelah Solo”???Wallohu A’lam Bish-Showab…(Bekti Sejati) [md]





Pernyataan HTI Tentang Bom GBIS Solo

27 09 2011

Maktab I’lamiy
Hizbut Tahrir Indonesia
NO: 211/09/11
26 September 2011/27 Syawal 1432 H
PERNYATAAN
HIZBUT TAHRIR INDONESIA
Tentang
BOM GBIS SOLO

Seperti telah ramai diberitakan, pada hari Ahad 25 September kemarin telah terjadi bom bunuh diri di dalam Gereja Bethel Injil Sepenuh (GBIS) Solo sekitar jam 11 WIB. Ledakan ini mengakibatkan belasan jamaah gereja mengalami luka-luka. Sedang seorang yang diduga pelaku bom bunuh diri tewas.

Siapapun pelaku dan apa motivasinya, peristiwa ini harus dikutuk. Tindakan keji ini bertentangan sama sekali dengan ajaran Islam. Sangat jelas, syariat Islam melarang dengan tegas melukai apalagi membunuh siapapun tanpa alasan yang dibenarkan secara syar’iy, terlebih bila tindakan itu menimbulkan kematian bagi dirinya.

Sangat boleh jadi tindakan ini bertujuan untuk mengadu domba antar anggota masyarakat. Bisa juga untuk makin mematangkan situasi dan kondisi masyarakat menjelang pengesahan RUU Intelijen. Dengan peristiwa itu seolah ingin dikatakan bahwa RUU memang diperlukan untuk memberikan kewenangan lebih kepada lembaga intelijen guna mengantisipasi peristiwa semacam itu tidak terjadi lagi di masa mendatang.

Berkenaan dengan hal itu, Hizbut Tahrir Indonesia menyatakan:

1. Mengutuk dengan keras pelaku bom bunuh diri itu sebagai tindakan keji yang bertentangan dengan ajaran Islam.

2. Menyerukan kepada pihak berwenang untuk segera mengusut tuntas siapa pelaku dan apa motivasinya, termasuk siapa otak di balik tindakan keji itu. Hanya dengan cara itu, spekulasi berkaitan dengan peristiwa bom itu bisa segera diakhiri.

3. Menolak mengkaitkan peristiwa itu dengan kepentingan untuk segera melakukan pengesahan RUU Intelijen. Sebab, RUU tersebut sangat potensial akan menimbulkan kemudharatan bagi rakyat, khususnya umat Islam, sebagaimana pernah terjadi di masa Orde Baru.

4. Menyerukan kepada seluruh umat Islam untuk tetap teguh, sabar dan istiqamah dalam perjuangan menegakkan syariah dan khilafah. Tidak gentar terhadap setiap tantangan, hambatan dan ancaman hingga cita-cita mulia itu benar-benar tegak
.
Hasbunallah wa ni’mal wakiil, ni’mal maula wa ni’man nashiir

Jurubicara Hizbut Tahrir Indonesia
Muhammad Ismail Yusanto

Hp: 0811119796 Email: Ismailyusanto@gmail.com





Teguh: Bom Solo Jangan Jadi Alasan Desak RUU Intelijen

26 09 2011

Anggota Komisi I DPR asal Fraksi Partai Amanat Nasional Teguh Juwarno mengatakan, aksi bom bunuh diri di Gereja Bethel Injil Sepenuh (GBIS), Solo, Jawa Tengah tidak boleh dijadikan alasan untuk mempercepat pengesahan Rancangan Undang-Undang Intelijen. Menurut Teguh, yang terpenting saat ini adalah pengungkapan pelaku di balik teror bom Solo tersebut.

“Pembahasan RUU Intelijen memang sudah cukup jauh, pembahasan sudah di Tim Perumus Panja dengan pemerintah. Namun, pembahasan RUU ini tidak boleh didesak atau diburu-buru dengan peristiwa bom Solo. Ungkap saja pelaku dibalik teror bom itu,” ujar Teguh kepada Kompas.com, di Jakarta, Senin (26/9/2011).

Teguh mengatakan, lembaga intelijen negara harus tetap menjadi milik publik. Oleh karena itu, menurut Teguh, pembahasan RUU Intelijen juga harus mencermati masukan-masukan dari masyarakat bukan hanya karena adanya teror bom.

“Jadi seharusnya pemerintah fokus saja bagaimana caranya mengungkap pelaku-pelaku di balik aksi teror itu,” kata Teguh.

Mengenai pernyataan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang akan melakukan investigasi internal di kepolisian dan intelijen negara dalam pidatonya terkait insiden bom Solo, menurut Teguh, hal itu tidak layak disampaikan ke publik. Lebih baik, menurutnya, investigasi itu langsung dijalankan, kemudian hasilnya disampaikan ke publik.

“Saya khawatir, Presiden over promises, sekedar wacana yang bagus untuk pencitraan. Seharusnya investigasi itu tidak perlu diomongkan, langsung dijalankan. Hasilnya disampaikan ke publik. Maka publik akan mengapresiasi bahwa presiden serius membenahi jajarannya,” katanya. (kompas.com, 26/9/2011)





Waspadalah, Bom Gereja Solo Adalah Operasi yang Sedang Dimainkan Intelejen

26 09 2011

Bom kembali meledak di gereja, minggu 25/9 kemarin. Umat Islam pun menjadi tertuduh. Pihak Kepolisian lagi-lagi mengaitkan kejadian itu dengan ulah umat Islam. Stigma teroris kini akan kian menghampiri mujahidin.
Namun betulkah mujahidin berada dibalik aksi yang melukai puluhan kaum Kristiani tersebut? Direktur Lembaga Pengkajian Syariat Islam, Ustadz Fauzan Al Anshari, meragukan bahwa bom yang diledakkan di Gereja Bethel Injil Solo adalah tindakan mujahidin. Ia menilai hal itu jauh dibawah kualitas mujahidin sesungguhnya.
“Saya sangat meragukan pelaku bom adalah mujahidin. Karena mujahidin yang berkualitas akan melakukan aksi yang ditujukan kepada kombatan (anggota angkatan bersenjata yang terjun ke arena konflik. red). Seperti Taliban di Afghan yang memang atas fatwa ulama melakukan aksi jihad kepada polisi pendukung pemerintah.” Terangnya saat dihubungi Eramuslim.com, senin pagi (26/9)
Dalam hal ini, Fauzan menilai ada operasi intelejen dibalik bom Solo. Hal itu dipakai sebagai gaya lama SBY ketika media menyorot kebobrokannya.
“Inil adalah drama lama yang selalu diulang-ulang ketika SBY tertimpa masalah,” tuturnya
Dewasa ini kasus yang menerpa bendahara umum dan ketua umum Partai Demokrat membuat pencitraannya menurun drastis. Pada titik inilah masyarakat sudah tidak percaya lagi kepadanya, dan SBY memutar otak untuk kembali meraih simpati publik.
“Pamor SBY saat ini sedang turun. Media banyak mengungkap kasus korupsi yang melanda partainya. Ini banyak mempengaruhi opini masyarakat. Maka bom ini adalah strategi SBY untuk mengambil simpati masyarakat.” jelas Fauzan panjang lebar.
Fauzan berpesan agar masyarakat jangan mudah percaya atas apa yang terjadi saat ini. Kita dituntut kritis memperhatikan pemberitaan yang sedang berkembang, “Initiming yang sedang dimainkan intelejen.”
Sebelumya, kemarin siang (25/9), warga Solo dikagetkan ledakan bom bunuh diri yang terjadi di Gereja Kepunton, di Jalan Arif Rahman Hakim, Solo, Jawa Tengah. Akibatnya, 1 tewas dan 14 orang lainnya mengalami luka. Pelaku sendiri dilaporkan tewas dalam kejadian tersebut setelah meledakkan dirinya.
Kapolres Solo, Kombes Listyo Sigit Prabowo mengatakan bom meledak usai jemaat melakukan ibadah kebaktian kedua sekitar pukul 11.00 WIB. Kala itu kata dia, jemaat sudah keluar dari gereja. “Saat ini kami masih melakukan penyelidikan dan mengumpulkan barang bukti. Kami (juga) sudah memasang garis polisi,” kata Listyo, Minggu (25/9). (pz)








%d blogger menyukai ini: