Bagaimana nasib kaum Muslimin Ambon sebulan pasca kerusuhan?

13 10 2011

AMBON – Sebulan telah berlalu dari kerusuhan Ambon, 11 September 2011. Bagaimana nasib kaum Muslimin di sana? Apakah para pengungsi sudah kembali ke rumah-rumah mereka? Apakah kondisi mereka masih memprihatinkan? Berikut kabar terbaru tentang kondisi kaum Muslimin Ambon sebagaimana diceritakan oleh Koresponden Arrahmah.com langsung dari TKP!
Jeritan kaum Muslimin Ambon
Sebulan sudah kaum Muslimin kampung Waringin, Ambon menjalani hidup sebagai pengungsi di negeri sendiri. Mereka adalah korban kekejaman kaum nasrani pada peristiwa kerusuhan Ambon, 11 September 2011. Pada peristiwa tersebut nyawa 7 Muslim Ambon terenggut, 100 orang lebih kaum Muslimin terluka parah dan ringan, ratusan rumah kaum Muslimin di Kampung Waringin ludes dibakar pihak nasrani.
Hari ini kaum Muslimin mengungsi di beberapa tempat di kota Ambon, seperti gedung Telkom Talake & bangunan pasar belakang Ambon Plaza yang belum difungsikan. Ketika saya mengunjungi para pengungsi tadi siang, mereka mengatakan bahwa untuk kebuutuhan makan seperti beras, mie instan, dan ikan kaleng tercukupi. Perlengkapan pakaian seperti selimut, baju, dan seragam sekolah juga tercukupi. Untuk peralatan dapur seperti kompor, alat masak, piring, dan lain-lain juga terpenuhi. Pelayanan kesehatan selama 24 jam juga terpenuhi dilayani oleh tenaga medis dari Puskesmas.
Saat ini yang mereka butuhkan adalah uang untuk memenuhi kebutuhan mereka di luar kebutuhan makan dan minum, seperti untuk membayar biaya anak-anak sekolah dan ongkos transport anak-anak mereka menuju sekolah, yang dengan mereka mengungsi maka tentunya jarak menuju sekolah anak-anak mereka lebih jauh. Hingga hari ini, baru satu kali mereka menerima bantuan uang tunai sebesar Rp. 35.000,- untuk setiap satu kepala keluarga.
Kaum Muslimin wajib bantu
Demikianlah kondisi kaum Muslimin Ambon sebulan pasca kerusuhan. Apakah dengan uang Rp. 35.000 yang pernah mereka dapatkan sekali itu sudah cukup? Bagaimana dengan kehidupan mereka selanjutnya? Bagaimana dengan nasib anak-anak yang kehilangan ayah dan ibunya menjadi janda? Juga nasib para pengungsi yang hingga kini belum juga bisa kembali ke rumah mereka, karena memang sudah musnah dibumihanguskan kaum nasrani. Semoga dengan informasi ini kaum Muslimin di manapun tergerak hatinya untuk dapat meringankan beban kaum Muslimin Ambon. Insya Allah!
(M Fachry/arrahmah.com)

Iklan




Perhatian Kepada Pengungsi Muslim Ambon Hanya Bertahan 3 Pekan

8 10 2011

AMBON – Setelah direlokasi ke tempat pengungsian, keadaan pengungsi Muslim Ambon sempat membaik. Sayangnya, perhatian pemerintah setempat hanya bertahan tiga pekan.
Ribuan pengungsi Muslim Ambon direlokasi dari pengungsian SD Silale, THR Waihaong, dan Masjid Jami’ ke Pasar Gotong Royong yang biasa disebut Pasar Lama Ambon, Kamis (22/9/2011).
Setelah dipindahkan ke lokasi pengungsian yang baru, para pengungsi mendapat perhatian yang lebih baik dari Pemerintah Kota Ambon setempat. Para pengungsi Muslim sangat diperhatikan, mulai dari kebutuhan makanan sehari-hari, tempat tidur, seragam sekolah hingga kebutuhan papan untuk memperbaiki tempat tinggal mereka yang terbakar.
Sayangnya, perhatian itu hanya bertahan selama tiga pekan. Kini perhatian pemerintah turun drastis. Tim khusus (TAGANA) yang biasa menangani makan sehari-hari mereka kini tak nampak lagi. Bahkan suplai air minum kepada pengungsi Muslim pun berangsur-angsur surut. “Saat saat ini belum ada tindakan konkret dari pemerintah untuk menangani kekurangan air tersebut,” keluh Hasani salah satu pengungsi asal waringin kepada voa-islam.com, Rabu (5/9/2011). [taz/ahmed widad, F Gibran]





Suara SBY Lantang Untuk Kristen Solo, Tapi Sumbang Untuk Muslim Ambon

26 09 2011

Peledakan Bom yang terjadi di Gereja Bethel Injil Solo membuat pihak pemerintah panik. Baru beberapa jam ledakan terjadi, SBY langsung menggelar konferensi pers. Secara lantang, SBY menginstrusikan polisi membongkar jaringan terorisme ini.
“Saya instruksikan agar investigasi lanjutan dilakukan secara intensif untuk mengetahui dan membongkar habis rangkaian jaringan pelaku teror di Cirebon dan Solo,” katanya dalam konferensi pers, Minggu (25/9).
Tapi hal berbeda justru terjadi pada kasus Ambon. Tidak sebersit pun membuat SBY siaga menyiapkan aparatnya untuk mengusut tuntas kasus tersebut. SBY pun tidak terlihat lantang berbicara untuk meminta polisi dan Densus mengungkap habis jaringan Kristen yang membantai umat muslim, “Padahal jumlah korban (umat muslim di Ambon, red) lebih banyak,” kata Direktur Lembaga Pengkajian Syariat Islam, Fauzan Al Anshari kepada Eramuslim.com, senin pagi, (26/9)
Ketimpangan inilah yang menjadi bukti bahwa SBY tidak adil dalam menyikapi dua kasus dari dua agama berbeda ini. Dalam kasus Solo, belum saja pengusutan tuntas dilaksakanakan, Dewan Pembina Partai Demokrat itu langsung menunjung hidung kejadian Solo terkait dengan jaringan Cirebon yang notabene banyak umat Islam menjadi tertuduh.
“Investigasi sementara yang dilakukan, pelaku pembom bunuh diri ini adalah anggota dari jaringan teroris Cirebon dan kelompok itu melakukan aksi terorisme di Cirebon,” katanya di Kantor Presiden, Jl Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Minggu (25/9) sore.
Hal ini lagi-lagi berbeda dengan yang dialami warga muslim Ambon. Sampai sekarang umat muslim masih tinggal di barak pengungsian. Rumah mereka hangus dibakar. Lima orang Nashrani yang membunuh lima orang muslim pun belum tertangkap. “Bayangkan kasus Ambon saja belum ditemukan siapa pembunuh Darmin (Tukang Ojek Muslim, red). Tapi untuk Bom Solo, sudah dikaitkan ke jaringan Cirebon,” tukas Fauzan Al Anshari.
Menurut Fauzan, SBY diuntungkan dalam kasus Solo. Masyarakat tidak akan banyak mendapatkan informasi mengenai kasus Korupsi yang menimpa partainya. “Karena pasti media akan mengalihkan berita ke Solo,” ujarnya.
Sebaliknya, umat Muslim lagi-lagi bagai petikan lama yang kembali tersudutkan. Terorisme bagai paku mati yang hanya bisa menancap di tubuh umat muslim, tapi tidak untuk kaum Kristiani. Tutur Fauzan, hal inlilah yang membuat umat takut untuk berIslam secara kaffah. “Saya sudah dapat laporan di beberapa mesjid banyak jama’ah khawatir, mereka takut menyuarakan tentang Syariat.” ujarnya prihatin. (pz)





Akibat Ketidakadilan dan Kesenjangan Sosial

24 09 2011

Pasca penandatanganan Perjanjian Damai Maluku di Malino (12/2/2002) kerusuhan Ambon sejak 1999 terhenti. Namun ternyata itu bukan perdamaian abadi. Terbukti rusuh kembali terjadi hanya karena meninggalnya seorang tukang ojek. Menariknya, salah seorang deklarator perjanjian Malino, Yusuf Kalla, Menko Kesra saat itu, menyatakan saat ini kerusuhan dengan mudah bisa terjadi di berbagai negara mana saja bukan hanya di Indonesia. Apa sebabnya? Temukan jawabannya dalam wawancara wartawan Tabloid Media Umat Joko Prasetyo dengan mantan Wakil Presiden Yusuf Kalla berikut ini.

Ambon kembali membara…
Kan sudah padam. Meletus sehari, dua hari, tiga hari.

Meski sudah padam, tapi tidak ada jaminan tidak akan meletus lagi kan?
Iya. Karena sekarang ini kerusuhan bisa terjadi di mana-mana akibat kecanggihan teknologi. Sebab kerusuhan di Ambon itu sebenarnya ialah rumor yang tiba-tiba dikembangkan.Tapi memang yang harus diperbaiki di Ambon sekarang ini adalah pemukiman. Karena setelah kerusuhan 1999, terjadi segmentasi pemukiman. Ada pemukiman komunitas Islam, ada komunitas Kristen, itu ada di banyak tempat di Ambon. sehingga akibat kerusuhan 1999 sulit dinetralisir kembali itu atau harmoninya menjadi sulit. Jadi itu harus diperbaiki. Masyarakat harus lebih berhati-hati. Yang lain-lainnya, oke-oke saja.

Di Ambon, mengapa masalah kecil saja bisa menjadi masalah besar sehingga terjadi rusuh sosial?
Bukan hanya di Ambon, di mana-mana juga. Itu sebenarnya kan hanya rumor, tiba-tiba terjadi curiga.

Menurut evaluasi Anda, apakah perjanjian damai Malino II dilanggar sehingga terjadi rusuh?
Tidak ada. Itu semua sudah baik. Kerusuhan itu bisa terjadi di mana-mana. sekarang juga kan terjadi di London, Inggris. Isu yang awalnya berkembang dari sms pun bisa terjadi di Jakarta. Timbul kecurigaan, saling curiga, kok ada orang yang mati, jangan-jangan ada yang membunuh, jangan-jangan pihak ini yang membunuhnya, kemudian rusuh. Itu saja.

Mengapa bisa muncul rasa saling curiga?
Lha iya, saling curiga itu bisa terjadi di mana-mana. tetapi memang di Ambon itu lebih sensitif.

Mengapa bisa lebih sensitif?
Itu akibat segmentasi penduduk. Jadi harus diatur lagi pemukiman penduduknya.

Harus dicampur, warga Muslim dan warga Kristen?
Iya. Dulu memang sudah tercampur. Setelah 1999 lalu. terjadilah segmentasi, pengumpulan.Terjadi perpindahan-perpindahan. Pencampuran itu harus dilakukan kembali walau pun agak sulit, karena mereka sudah memiliki tanah itu, masing-masing.

Agar terjadi integrasi sosial?
Saya ulangi lagi, dulu telah terintegrasi.Terpisah setelah konflik itu, akibat mereka mengungsi ke tempat yang aman. Jadi tidak kembali ke tempat asal.

Ada pelanggaran terhadap Mallino II?
Setahu saya tidak ada. Sekali lagi, ini hanya karena isu yang berkembang tiba-tiba. Begitu saja.

Tapi kok kejadiannya tepat tanggal 11 September, berbarengan dengan peringatan sepuluh tahun runtuhnya WTC?
Ah, boleh 11, boleh 10, boleh 9. Kapan-kapan saja.

Lho, tapi mengapa bisa pas 11 September, jadi muncul kecurigaan banyak pihak bahwa ini rekayasa intelijen.
Coba, Anda sendiri yang bikin isu.Tiba-tiba Anda sendiri, curiga lagi.

Karena tanggalnya pas.
Tanggal berapa pun tidak ada artinya apa-apa.

Antisipasi untuk mencegah terulang kembali rusuh karena masalah-masalah sepele?
Warga jangan langsung percaya atas berbagai isu.Tetapi harus dicek dulu kebenarannya. Oleh karena itu pemerintah harus cepat mengklarifikasi dan cepat mengkonter isu.

Jangan seolah sebagai pemadam kebakaran saja ya?
Iya, memang saat ini pemerintah kalah cepat dengan teknologi seperti yang Anda pegang itu (ponsel, red). Dulu kan isu berkembang dari mulut ke mulut, pemerintah masih bisa ngejar. Sekarang lewat sms, cepat menyebar, bagaimana coba?

Siapa yang kirim sms, oknum intelijen kah?
Wah siapa yang tahu, semua orang bisa. Anda juga bisa!

Bagaimana agar Ambon tetap aman?
semua pihak harus kerja sama, kooperatif untuk terjadinya integrasi sosial.

Ada kemungkinan intelijen asing bermain untuk mengobok-obok Ambon?
Tidak.

Kan ada kelompok separatis RMS yang didukung Belanda.
Percaya saya tidak? Anda jangan coba-coba membikin masalah. Anda sendiri berbahaya. Jadi tidak ada itu.

Walau hanya kemungkinan?
Tidak ada. Saya tegaskan sekali lagi, tidak ada! Jangan mencoba-coba Anda memprovokasi orang.

Baiklah.Tadi Anda tadi katakan kerusuhan bisa di mana-mana bukan hanya di Ambon tetapi di London, Jakarta, dan berbagai tempat lainnya. Mengapa itu semua bisa terjadi?
Karena emosi, diperlakukan tidak adil, orang susah hidup. Karena itulah, itu semua bisa terjadi. Media massa harus membantu, jangan Anda berpikir ada campur tangan asing, tidak ada itu. Pikiran Anda ubah dulu, jangan berpikir yang macam-macam.

Sekarang di mana-mana terjadi kesenjangan sosial, orang banyak stres. Itu juga bisa sebagai pemicu kerusuhan?
Bisa lah, memang itu salah satunya. Jadi kita harus perbaiki itu, ekonomi kita agar lebih adil.

Mengapa kesenjangan bisa merata di seluruh penjuru dunia?
Justru kesenjangan, artinya tidak merata.

Maksudnya kesenjangan sosial terjadi di berbagai negara. Termasuk Inggris, sehingga London rusuh kan?
Oh, iya. Setelah pemerintah mencabut jaminan sosial tiba-tiba ekonominya rusak.

Di Indonesia, kesenjangan terjadi akibat apa?
Ya macam-macam. Kebijakan pemerintahnya, kemampuan ekonomi kita dalam membangun sesuatu dan juga macam-macam lah.

Kesenjangan sosial ini terjadi, apa karena diterapkannya sistem kapitalisme?
Ya tentu.Tapi di mana-mana kan memang diterapkan sistem ekonomi kapitalisme. Di Cina juga kapitalisme.

Iya, jadi timbullah kesenjangan kan?
Iya, di Timur Tengah juga begitu. Jadi ini harus dikelola dengan keseimbangan sosial. sudah ya.





Ambon Membara, Ulah Siapa?

24 09 2011

Oleh : Mujiyanto

Ambon kembali membara. Gara-gara kematian seorang tukang ojek, dua kelompok yang dulu berhadap-hadapan dalam konflik 1999 tersulut kemarahannya. Selama sehari, tepat 11 September 2011, Kota Ambon rusuh.

Hingga kini belum jelas benar, mengapa peristiwa itu bisa terjadi. Memang aparat kepolisian melalui Mabes Polri telah menegaskan bahwa tukang ojek bernama Darvin Saiman meninggal karena kecelakaan. Namun bisa jadi penjelasan itu tak memuaskan pihak Darvin karena adanya beberapa kejanggalan di tubuh korban.

Muncul berbagai isu. Tidak hanya di Maluku tapi sampai ke Jakarta. Ada provokasi yang ingin membenturkan pihak-pihak yang berseberangan. Siapa mereka? Hingga kini pun belum diketahui.

Tapi korban sudah kadung jatuh. Setidaknya tujuh orang tewas dalam kerusuhan itu dan ratusan lainnya luka-luka. Itu belum termasuk harta benda yang rusak dan terbakar.

Kerusuhan itu mengingatkan semua pihak bahwa bara perpecahan di Ambon memang belum padam. Perjanjian Malino yang pernah ditandatangani tahun 2002 ternyata hanya berlaku sementara. Artinya, perjanjian itu tidak menyelesaikan akar persoalan konflik Ambon. Malah setelah itu integrasi yang di-harapkan muncul justru gagal karena masing-masing pihak justru melokalisasi kelompok mereka dalam kantong-kantong pemukiman.

Faktor pemicu utama berbagai konflik yang pernah terjadi sebelumnya, sebenarnya bukan masalah agama. Agama lebih sering dimanfaatkan untuk kepentingan tertentu. Banyak di antara pemicunya adalah masalah solidaritas kelompok secara buta, premanisme, kepentingan politik atau ekonomi, ketidakadilan, perasaan terpinggirkan, ketimpangan ekonomi, dll.

Ada pula faktor depresi karena tingginya tekanan hidup akibat himpitan ekonomi. Juga kesenjangan dan ketidakadilan ekonomi. Semua perasaan itu terakumulasi. Ketika ada yang memantik di ‘bara’ ini, mereka mudah terpicu dan melampiaskan marahnya kepada pihak-pihak yang dianggap meminggirkan dan merugikan mereka. Muncullah kerusuhan sosial.

Potensi konflik itu diperparah lagi dengan makin suburnya ikatan primordialisme, kepentingan dan kelompok di negeri ini. Parahnya lagi proses demokrasi, pemilihan langsung dan proses politik menciptakan kubu-kubu dan kelompok-kelompok yang saling bersaing, mengikis kohesi sosial yang ada di masyarakat.

Bahkan dalam beberapa konflik justru dipicu langsung oleh proses demokrasi khususnya pilkada. Walhasil, masyarakatlah yang dirugikan dan harus menanggung derita. Sayangnya, konflik-konflik tak jarang dimanfaatkan untuk kepentingan-kepentingan politik tertentu atau bisa jadi demi asing. Tentu bukan sebuah kebetulan kalau di beberapa daerah yang kerap mengalami kerusuhan terdapat kelompok-kolompok separatis yang ingin memisahkan diri dari Indonesia, seperti di Papua dan Maluku.

Dalam berbagai kasus, umat Islam sering kali justru mengalami diskriminasi. Meskipun menjadi korban, justru umat Islam kerap disalahkan dan dijadikan kambing hitam. Sementara pihak yang merugikan umat Islam malah berlagak sebagai korban.

Kejadian Ambon ini seharusnya menyadarkan umat Islam bahwa seperti inilah situasi yang akan terus dialami kaum Muslim bila hidup di dalam sistem sekuler terutama di daerah-daerah yang secara demografis relatif sama atau didominasi non Muslim.

Sangat penting bagi umat memiliki kesadaran politik dan ideologi agar tidak termakan oleh provokasi dan rekayasa yang mengantarkan pada terjadinya konflik di masyarakat. Kesadaran semacam itu hanya akan dimiliki umat ketika umat menjadikan Islam sebagai ideologinya dan menjadikan politik Islam yang berporos pada pemeliharaan urusan umat sebagai tolok ukur dalam menilai dan memandang perpolitikan yang ada.

Hanya saja kalau umat Islam diserang, itu persoalan lain. Jika itu terjadi, tidak ada pilihan lain kecuali umat Islam harus mempertahankan diri dengan jihad seperti yang terjadi pada tahun 1999 di Ambon.

Solusi Islam

Sistem sekuler-kapitalis tak mampu melahirkan integrasi sosial yang hakiki. Sistem ini telah gagal total. Sebagai gantinya, tidak ada pilihan lain kecuali sistem Islam. Sejarah mencatat keberhasilan Islam melebur masyarakat dan membangun integrasi sosial dalam masyarakat yang heterogen sesama belasan abad.

Dalam membangun integrasi sosial, Islam telah menghilangkan sekat perbedaan diantara manusia karena ikatan primordial, ashabiyah, suku bangsa, warna kulit, bahasa, jenis kelamin, dsb. Islam memandang bahwa ikatan semacam itu adalah ikatan jahiliyah yang menyebabkan kesengsaraan bagi umat manusia dan harus ditanggalkan.

Sebagai gantinya, Islam menempatkan akidah sebagai pemersatu umat manusia. Dari sinilah terbangun ikatan ukhuwah Islamiyah dengan landasan keimanan. Perwujudan dari ukhuwah Islamiyah itu adalah adanya syariat untuk menjaga kehormatan dan keamanan sesama Muslim.

Ikatan Islam ini tidak saja menjaga kehormatan sesama Muslim, tapi juga melindungi non Muslim yang bergabung dalam masyarakat Islam sebagai kafir dzimmi. Kaedah syara’ mengatakan bahwa kafir dzimmi memiliki hak dan kewajiban setara dengan kaum Muslim secara adil.

Islam pun memperlakukan semua warga sama di depan hukum. Islam juga mengharuskan ketegasan dan keadilan dalam menerapkan hukum. Karena perlakuan tak sama di depan hukum akan menghancurkan masyarakat.

Islam juga akan mengelola kekayaan dan mendistribusikannya secara adil kepada semua individu rakyat baik Muslim maupun non Muslim. Setiap individu rakyat akan mendapatkan jaminan pemenuhan kebutuhan pokoknya baik sandang, pangan dan papan, dan juga kebutuhan dasarnya baik pendidikan, pelayanan kesehatan dan keamanan. Semua orang juga akan bisa mendapatkan pelayanan yang sama. Apakah tidak rindu dengan sistem yang seperti ini?





Sepekan Mengungsi, Depsos Hanya Bantu Beras, Mie Instan dan Ikan Sarden

21 09 2011

AMBON (voa-islam.com) – Umat Islam Ambon tak hanya terzalimi, tapi juga terpinggirkan.

Ketika perkampungan Muslim di Kampung Waringin diserbu massa Salibis selama 5 jam sejak sore, Ahad (9/11/2011), tak ada aparat yang mengamankan, sehingga massa dengan leluasa membakar kampung Muslim itu.

Usai bentrok, kondisi pengungsi makin memprihatinkan. Pemerintah melarang pendirian posko dengan dalih keamanan. Di pengungsian masjid-masjid, Departemen Sosial hanya membantu enam karung beras, dua dus ikan dan mie instan.

Itulah yang menjadi keprihatinan para aktivis Islam dan relawan lokal. Aziz, Ketua Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Ambon, sangat menyesalkan kurangnya kepedulian pemerintah terhadap nasib para pengungsi.

“Kondisi Pengungsi di sini (Masjid Jami’) seperti yang terlihat, sejak awal konflik sentuhan bantuan dari pemerintah masih kurang. Bantuan lebih banyak diberikan oleh swadaya masyarakat. Yayasan ada juga yang bantu, dari bank,” jelasnya kepada voa-islam.com, Senin (19/9/2011).

“Tapi dari dinas sosial sendiri sejak awal konflik hanya pernah memberikan bantuan enam karung beras, empat karton mie instan dan dua karton ikan sarden,” tambahnya.

Azis menuturkan, sejak pecahnya insiden hari Ahad (11/9/2011), sebenarnya sudah banyak LSM ingin membuka posko tetapi dilarang pemerintah setempat, berdasarkan kesepakatan Pemprov dan Pemkot Ambon saat rapat koordinasi hari Senin (12/9). “Menurut mereka terindikasi nanti persoalan ini menjadi panjang kemudian terlihat banyak pengungsi,” jelasnya.

Karena pemerintah melarang keras pendirian posko, maka pada hari Senin (12/9) itu pula HMI cabang Ambon mengambil inisiatif sendiri untuk mendata pengungsi di Masjid Al-Fatah, Masjid Jami’ dan di tempat lain. Anehnya, langkah HMI inipun dicurigai oleh Majelis Ulama Islam (MUI) Ambon. “Setelah berjalan kami mendata kami dipanggil pihak Yayasan Al Fatah dan MUI menyangkut persoalan pengungsi. Kami katakan bahwa fokus kami hanya mendata tidak sampai ke tingkat lain seperti penyaluran dan sebagainya karena memang kami tidak memiliki dana,” terang Azis.

Menurut data HMI, umumnya pengungsi yang berada di masjid Jami’ dan Masjid Al-Fatah ini berasal dari beberapa tempat seperti Diponegoro dan tempat lain yang berada di perbatasan. Mereka masih mengalami trauma pasca penyerangan kelompok Kristen, karena rumah mereka tak jauh dari perkampungan Kristen. “Mereka mengungsi karena merasa takut,” jelas Azid.

Sambil berbincang kami kemudian berkeliling melihat situasi dan kondisi pengungsian. Di antara para pengungsi tersebut ada beberapa orang yang kami wawancarai. [taz/ahmed widad]





Meski Klaim Ambon Kondusif, Pemerintah Tak Berani Jamin Keamanan Warga Muslim

21 09 2011

AMBON – Bukan semata-mata trauma pasca bentrok Ambon 9/11 yang menjadi alasan warga Muslim memilih bertahan di pengungsian. Alasan lainnya, tak ada jaminan keamanan dari aparat pemerintah dan aparat keamanan.
Ternyata, di balik klaim situasi Ambon kondusif pasca bentrok 9/11, sampai sekarang belum ada jaminan keamanan dari aparat, baik pemerintah maupun keamanan. Karenanya, warga Muslim yang berdekatan dengan kampung Kristen memilih bertahan di pengungsian.
Karenanya, Aziz, Ketua Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Ambon, sangat memaklumi mengapa para pengungsi tetap bertahan di pengungsian.
“Tentu bukan kemauan mereka mengungsi, tapi karena situasi dan kondisi yang seperti ini. Dengan jaminan keamanan dari pemerintah yang tidak ada mereka harus mencari keamanan sendiri seperti ini,” jelasnya kepada voa-islam.com, Senin (19/9/2011).
Menurut Azis yang sudah mendata seluruh pengungsi di berbagai lokasi, sampai saat ini aparat pemerintah hanya bisa memerintahkan pengungsi pulang ke kampungnya tanpa mau memberikan jaminan keamanan. Padahal, jaminan keamanan itulah yang sangat dibutuhkan pengungsi untuk bisa kembali ke kampungnya, meski porak-poranda pasca bentrok 9/11.
“Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kota sepertinya tidak mau memperhatikan mereka dengan alasan sudah aman, kemudian pengungsi harus dikembalikan ke daerahnya masing-masing,” ujarnya. “Dan sayangnya mereka (Pemprov dan Pemkot, red.) tidak berani datang sendiri ke sini dan mengatakan kepada pengungsi biar ada jaminan keamanan dari pemerintah secara langsung,” tutupnya. [taz/ahmed widad] (voa-islam.com)








%d blogger menyukai ini: