Indonesia dalam Ancaman Genosida AIDS

11 12 2011

AIDSKetua BKKBN, Sugiri Syarief, memaparkan bahwa Indonesia merupakan negara dengan penularan HIV tercepat di Asia Tenggara. “Ini tentu saja belum mencerminkan data yang sesungguhnya, karena AIDS merupakan fenomena gunung es, di mana yang terlihat hanya sekitar 20 persen saja, sedangkan yang tidak diketahui jumlahnya akan lebih banyak,” ujarnya (vivanews.com, 20/11).

Direktur Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kementerian Kesehatan, M. Subuh, di Jakarta, Jumat, 25 November 2011 mengungkapkan bahwa menurut data kementerian Kesehatan, diperkirakan sebanyak lebih dari 200.000 penduduk Indonesia menderita penyakit HIV/Aids (lihat, tempo.co.id, 25/11). Seperti kata ketua BKKBN, angka sesungguhnya jauh lebih besar dari angka ini.

Lebih tragis lagi, pemerhati HIV/AIDS dari Elijah Generation, Mena Robert Satya mengatakan seks bebas di Papua adalah kebiasaan buruk yang bahkan sampai tahap sistematis dan tak terkendali. “AIDS di Papua sudah seperti genosida. Jadi butuh tindakan nyata oleh semua pihak baik pemerintah, gereja, dan masyarakat agar tidak makin parah. Jika tidak, maka diperkirakan 20 tahun kemudian kita hanya mendengar bahwa di atas tanah Papua pernah ada bangsa kulit hitam yang hidup dan akhirnya Papua hanya menjadi museum.”(vivanews.com, 2/11).

Seks Bebas Pemicunya
HIV/AIDS sudah masuk ke Indonesia diperkirakan pada tahun 1983. Sejak itu seiring merebaknya gaya hidup liberal seperti pemakaian narkoba, seks bebas, dan penyimpangan seksual seperti gay-lesbian, jumlah pengidap HIV/AIDS terus meningkat berlipat-lipat.

Data Komisi Nasional Penanggulangan AIDS menunjukkan, penyebaran HIV/AIDS berubah dalam lima tahun terakhir. Berdasarkan penelitian tahun 2011, penyebab transmisi tertinggi adalah seks bebas (76,3 persen), diikuti jarum suntik (16,3 persen) (kompas.com, 22/11).

Meski telah terbukti gaya hidup liberal dan hedonis adalah pangkal dari penyebaran virus HIV/AIDS, sebagian kalangan masih saja menyangkal kenyataan ini. Bagi mereka, pencegahan HIV/AIDS bukan dengan menghapuskan gaya hidup serba bebas, apalagi melarang perzinaan dan prostitusi. Tapi mencegah HIV/AIDS adalah dengan mengkampanyekan A-B-C, yakni menghindari seks bebas (Abstinence), setia pada pasangan (Be faithful) dan menggunakan kondom (Condom).

Hal ini sejalan dengan keyakinan sebagian orang bahwa ada otoritas tubuh pada setiap insan yang tidak boleh dilarang atau diintervensi oleh siapa pun, termasuk oleh agama sekali pun. Ini berarti setiap orang bebas menggunakan dan mengeksploitasi tubuhnya, termasuk untuk kepentingan pornografi dan seks bebas. Melarangnya bebas berarti melanggar otoritas tubuh orang lain dan itu melanggar HAM. HAM dan demokrasi memang menjadi tameng ampuh bagi para budak nafsu rendahan ini. Dalam demokrasi setiap warga negara diberikan jaminan untuk mengeksploitasi tubuhnya sendiri.

Bagi mereka pencegahaan HIV/AIDS adalah dengan kondomisasi, bukan melarang perzinahan. Itulah diantara alasan gencarnya program kondomisasi. Selain ditujukan kepada kalangan dewasa, program kondomisasi juga ditujukan kepada para remaja. Tujuannya agar remaja yang rawan sebagai pelaku seks bebas dan rawan tertular penyakit kelamin termasuk HIV/AIDS dapat menjaga diri mereka.

Sejumlah kalangan berkeyakinan bahwa membubarkan prostitusi juga bukan solusi pencegahan penyebaran HIV/AIDS. Selain persoalan ekonomi, yakni para PSK membutuhkan makan, pembubaran lokalisasi diyakini justru akan membuat pelacuran menjadi liar sehingga menyulitkan pengontrolan terhadap penyebaran HIV/AIDS.

Menurut mereka, dengan dilokalisasi, maka akan sangat mudah mencegah penyebaran wabah ini. Sehingga dinas kesehatan maupun LSM yang bergerak di bidang kesehatan dapat mudah melakukan penyuluhan kesehatan, penyebaran alat-alat kontrasepsi, dan pemberian pelayanan kesehatan bagi pelaku seks resiko tinggi.

Melihat pola penanggulangan HIV/AIDS yang ada kita patut pesimis negeri ini akan terbebas dari ancaman HIV/AIDS. Meski miliaran rupiah telah digelontorkan, nyatanya angka penderita HIV/AIDS justru meningkat. Pembelanjaan untuk program AIDS tahun 2010 mencapai US $ 50,8 juta atau Rp 457,2 miliar dengan kurs Rp 9000. Tapi itu ibarat membuang garam ke laut, semua usaha itu percuma. Faktanya, angka penderita HIV/AIDS di negeri ini terus saja meningkat. Hal itu juga terjadi di tingkat dunia. Terlihat dari tingginya angka penularan baru. Kini jumlah penularan baru di dunia sekitar 2,7 juta orang setiap tahun. Artinya program kondomisasi yang dikampanyekan secara besar-besara oleh kelompok liberal selama ini terbukti gagal !

Kegagalan itu wajar saja. Sebab mesin penyebaran HIV/AIDS yaitu seks bebas dan narkoba tidak dipangkas sejak akarnya. Pelacuran justru dilokalisasi dan diluar lokaliasi pun tetap marak. Pornografi, pornoaksi dan sensualitas terus dipasarkan. Dan ditambah lagi, gaya hidup bebas terus dikampanyekan.

Tegakkan Islam, Umat Sehat & Selamat
Ancaman HIV/AIDS hanya bisa diatasi dengan menerapkan syariah Islam. Pada dasarnya, upaya penanggulangan penyakit menular ditempuh dengan beberapa hal: akar penyebab dan penyebarannya dipangkas, penyebarannya dihentikan/dibatasi, penderitanya diobati/disembuhkan, masyarakat dibina ketakwaan mereka dan diedukasi secara memadai.

Syariah Islam memangkas akar penyebaran HIV/AIDS yaitu seks bebas dan narkoba. Terkait narkoba, Islam jelas-jelas mengharamkannya. Ummu Salamah menuturkan:

« نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ كُلِّ مُسْكِرٍ وَمُفَتِّرٍ»

Rasulullah saw melarang setiap zat yang memabukkan dan menenangkan (HR Abu Dawud dan Ahmad)

Mufattir adalah setiap zat relaksan atau zat penenang, yaitu yang kita kenal sebagai obat psikotropika. Al-‘Iraqi dan Ibn Taymiyah menukilkan adanya kesepakatan (ijmak) atas keharaman candu/ganja (lihat, Subulus Salam, iv/39, Dar Ihya’ Turats al-‘Arabi).

Mengkonsumsi narkoba apalagi memproduksi dan mengedarkannya merupakan dosa dan perbuatan kriminal. Penggunanya dikenai sanksi disamping harus diobati/direhabilitasi. Sementara produsen dan pengedarnya harus dijatuhi sanksi berupa sanksi ta’zir yang berat sebab telah membahayakan dan merusak masyarakat.

Sementara seks bebas atau perzinahan juga haram dan merupakan dosa besar dan perbuatan keji. Pelakunya jika belum menikah (ghayr muhshan) dijilid seratus kali. Allah SWT berfirman:

الزَّانِيَةُ وَالزَّانِي فَاجْلِدُوا كُلَّ وَاحِدٍ مِّنْهُمَا مِائَةَ جَلْدَةٍ ۖ وَلَا تَأْخُذْكُم بِهِمَا رَأْفَةٌ فِي دِينِ اللَّهِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۖ وَلْيَشْهَدْ عَذَابَهُمَا طَائِفَةٌ مِّنَ الْمُؤْمِنِينَ ﴿٢﴾

Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus dali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman. (QS an-Nur [24]: 2)

Sementara jika pelaku zina itu sudah menikah (muhshan) maka sanksinya adalah dirajam hingga mati, seperti ditetapkan di dalam as-Sunnah. Rasulullah saw menetapkan hukuman rajam untuk pezina muhshan. Nabi pernah melakukannya terhadap Ma’iz, al-Ghamidiyah, dll.

Pelaksanaan semua hukuman itu harus dilakukan secara terbuka disaksikan oleh khalayak seperti ketentuan ayat di atas. Sehingga siapapun tentu tidak akan berani melakukan zina atau seks bebas.

Disamping itu syariah Islam juga dengan tegas mengharamkan segala bentuk pornografi dan pornoaksi, dan pelakunya dikenai sanksi ta’zir. Produsen dan pengedarnya dikenai sanksi yang berat, sebab tersebarnya pornografi dan pornoaksi akan membahayakan dan merusak masyarakat.

Dengan semua itu maka akar penyebaran HIV/AIDS bisa dipangkas sejak akarnya. Sekaligus itu bisa meminimalkan penyebarannya hingga mendekati nol.

Sementara bagi penderitanya, syariah Islam mewajibkan negara untuk menyediakan pengobatan bagi mereka -juga bagi seluruh rakyat- secara gratis. Mereka akan mendapatkan pengobatan sesuai dengan kebutuhan medisnya, tanpa melihat kemampuan ekonominya.

Sementara secara ekonomi, negara memberikan jaminan pemenuhan kebutuhan pokok dan peluang bagi setiap orang untuk bisa memenuhi kebutuhan pelengkapnya sesuai kemampuannya. Negara membuka seluas-luasnya lapangan kerja. Kekayaan didistribusikan secara merata dan adil melalui penerapan sistem ekonomi Islam. Jika masih ada yang tida mampu, maka negara menanggung pemenuhan kebutuhan hidupnya. Dengan itu artinya tidak akan ada perempuan yang “terpaksa” melacur karena alasan ekonomi.

Diluar semua itu, solusi itu disempurnakan dengan menciptakan kehidupan sosial yang sehat berlandaskan akidah dan syariat Islam. Umat akan dibina keimanan dan ketakwaannya secara terus menerus. Sehingga umat akan meninggalkan segala bentuk kemaksiyatan terutama diantaranya zina dan narkoba atas dasar kesadaran dan dorongan iman dan ketakwaan. Pintu amar makruf nahi mungkar pun dibuka lebar, bahkan hal tu merupakan kewajiban semua muslim, termasuk untuk mengoreksi penguasa jika lalai melakukan semua itu.

Dengan semua itu ancaman HIV/AIDS bisa diatasi. Lebih dari itu, kehidupan umat akan menjadi kehidupan yang sehat dan rakyat akan selamat. Semua itu hanya bisa diwujudkan sempurna jika syariah Islam diterapkan secara total dan utuh. Dan itu hanya bisa dilakukan melalui institusi Khilafah ‘ala minhaj an-nubuwwah. Karena itu makin banyaknya penderita dan makin besarnya ancaman kerena HIV/AIDS, kebutuhan akan tegaknya Khilafah yang menerapkan syariah Islam secara total juga makin besar dan mendesak. Karena itu sudah saatnya segenap komponen umat bergerak bersama memperjuangkan tegaknya Khilafah ‘ala minhaj an-nubuwwah. Wallâh a’lam bi ash-shawâb.
Komentar Al Islam:
Komisi IV DPR ternyata mengunjungi empat negara yakni Amerika Serikat, Jepang, Cina, dan India. Kepergian pimpinan dan anggota Komisi IV itu diklaim untuk mencari masukan dalam penyusunan Rancangan Undang-Undang (RUU) Pangan dan RUU Perlindungan dan Pemberdayaan Petani. (Kompas.com, 5/12/2011)

1. Studi banding selama ini banyak hanya kedok belaka untuk pelesiran dan menghambur-hamburkan uang rakyat.
2. Studi banding terbukti tidak berdampak pada kualitas peraturan, yang lahir hanya UU yang merugikan rakyat dan menguntungkan kapitalis dan asing.
3. UU yang baik hanya akan bisa didapatkan jika merujuk kepada syariah. Terapkan syariah secara total, niscaya lahir UU yang berkualitas mengedepankan kemaslahatan rakyat dan mendapat ridha Allah SWT.

Al-Islam edisi 584, 9 Desember 2011 M-14 Muharram 1433 H

Iklan




“BUDAYA SEKS BEBAS MENJERAT REMAJA”

25 12 2010

By: IkaErmayana,

Orang yang berakal itu adalah orang yang diikat oleh akalnya dari segala perbuatan tercela.” (Imam Syafi’i)

Fakta
Sejumlah penelitian yang dilakukan terhadap para remaja menunjukkan kecenderungan revolusi perilaku remaja dalam urusan seks. Seperti hasil survei Synovate Research tentang perilaku seksual remaja (15 – 24 tahun) di kota Jakarta, Bandung, Surabaya dan Medan, September 2004 lalu. Hasilnya, 44% responden mengaku mereka sudah pernah punya pengalaman seks di usia 16-18 tahun. Sementara 16% lainnya mengaku pengalaman seks itu sudah mereka dapat antara usia 13-15 tahun. Selain itu, rumah menjadi tempat paling favorit (40%) untuk melakukan hubungan seks. Sisanya, mereka memilih hubungan seks di kos (26%) dan hotel (26%). (penapendidikan.com, 02/04/08)

Penelitian mutakhir dilakukan oleh Dr. Rita Damayanti saat meraih program doktoralnya di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia. Ia meneliti 8.941 pelajar dari 119 SMA atau yang sederajat di Jakarta, tahun 2007 lalu. Hasilnya, sekitar 5% pelajar telah melakukan perilaku seks pranikah. Pada perkembangannya, di tahun 2010, BKKBN melakukan survei dan hasilnya cukup mengejutkan, yakni 51% remaja Jabodetabek mengakui telah melakukan seks pranikah. Baca entri selengkapnya »





PERANG SEMESTA MELAWAN PERGAULAN BEBAS !!

25 12 2010

by RACHMAYANTI

FAKTA….
JAKARTA (Arrahmah.com) – Program Pekan Kondom Nasional (PKN) yang diselenggarakan komite penanggulangan Aids Nasional (KPAN) dan Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) diprotes karena dinilai sebagai ajang legalisasi seks bebas.
PKN yang diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari AIDS Sedunia tanggal 1 Desember dinilai sebagai upaya penggiringan opini masyarakat ke arah pembolehan seks bebas dan dinilai ada motif komersial sebagai ajang promosi produsen kondom tertentu.
Demikian isi pernyataan bersama Medical Emergency Rescue Committee (Mer-c), Forum Umast Islam (FUI), Aliansi Selamatkan Anak Indonesia (SA Indonesia), dan Aliansi Pemuda dan Masyarakat Selamatkan Bangsa (APSB) di Jakarta, Jumat, kemarin. “Jelas, terdapat motif ekonomi yang tidak dapat disangkal lagi. Adanya keterlibatan produsen kondom besar sebagai koordinator PKN 2008,” ungkap ketua presidium Mer-C, Joserizal Jurnalis. Dia menjelaskan, kondom tidak akan berpengaruh pada pengurangan penyebaran virus HIV/AIDS sebab ukuran pori-pori kondom lebih besar daripada ukuran virus HIV. Baca entri selengkapnya »





Muslimah Peduli Generasi Muslim

12 12 2010

by Latiwatul Ainia

Sebagai bentuk kepedulian terhadap persoalan meningkatnya laju HIV/AIDS yang telah mengancam manusia, ribuan massa dari Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia menggelar Aksi Peduli Generasi dengan tema “Selamatkan Generasi dari Bahaya HIV/AIDS dan Seks Bebas”.
“Kami mendesak setiap orang untuk mendukung penegakkan syariah dalam naungan Khilafah Islamiyyah yang akan membebaskan kita dari ancaman HIV/AIDS,” kata jurubicara Muslimah HTI Febrianti Abbasuni seperti dikutip media Australia. Baca entri selengkapnya »





1 Desember Hari Pelestarian Aids Sedunia????

30 11 2010

by Siti Rahmah
Setiap 1 desember selalu di peringati hari aids sedunia, beraneka ragam di seluruh dunia merayakannya dengan berbagai tema yang di pakai untuk meriahkan peringatan itu. Salah satunya aksi yang di gelar di Jakarta pada tahun 2009, sejumlah aktivis Madani Mental Health Center di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta. Mereka melakukan aksi teatrikal dengan dibungkus kain kafan sebagai simbol betapa berbahayanya Human Immunodeficiency Virus dan Acquired Immune Deficiency Syndrome (HIV/AIDS).
Di Bandung, Jawa Barat, ratusan mahasiswa memperingati hari AIDS sedunia di depan kompleks Gedung Sate. Mereka menyerukan waspada terhadap bahaya HIV/AIDS dengan menghindari seks bebas dan narkotik. Sementara sejumlah penderita HIV/AIDS atau yang biasa disebut ODHA di Temanggung, Jawa Tengah, mencoba menggugah masyarakat tidak mengucilkan para penderita HIV/AIDS. Jumlah penderita AIDS di kota ini mencapai 130 orang atau meningkat hingga 300 persen dibanding tahun lalu.
Namun Peringatan Hari AIDS se-Dunia setiap 1 Desember seolah hanya rutinitas. Pada hari itu, semua menjadi latah untuk bicara tentang HIV/AIDS. Baca entri selengkapnya »





KONSPIRASI AIDS YANG MENDUNIA

30 11 2010

by Noor Maulida

Peringatan Hari AIDS se-Dunia setiap 1 Desember seolah hanya rutinitas. Pada hari itu, semua menjadi latah untuk bicara tentang HIV/AIDS. Seperti tahun-tahun sebelumnya, euforia ini hanya berlaku sesaat. Selebihnya, HIV/AIDS menjadi isu yang tak lagi menarik untuk diperbincangkan.
“Adalah sebuah catatan yang sangat menarik bahwa Epidemik AIDS mencuat di tahun 70-an dan telah merenggut sejumlah nyawa yang bilangannya sangat luar biasa, dimana para korban merupakan penduduk negara-negara dunia ketiga selain juga warga kulit hitam dan Hispanik di Amerika”.
Dinyatakan bahwa virus AIDS bersumber dari monyet hijau di benua Afrika yang selanjutnya menjalar melalui manusia yang terkena virusnya melalui warga yang tergigit dan atau karena telah menjadikan monyet bagai api yang berkobar dengan ganasnya ke seluruh benua Afrika yang selanjutnya menyebar ke seluruh bagian dunia di mana telah merenggut jutaan nyawa manusia. Baca entri selengkapnya »





MALAPETAKA VIRUS HIV-AIDS

30 11 2010

BY RACHMAYANTI_CIBEN

FAKTA…
Tanggal 1 Desember diperingati sebagai hari anti Aids sedunia. Meski tiap tahun diperingati agar orang menyadari bahaya HIV/AIDS, nyatanya jumlah penderita AIDS makin meningkat. Departemen Kesehatan memperkirakan, 19 juta orang saat ini berada pada risiko terinfeksi HIV. Sedangkan berdasarkan data Yayasan AIDS Indonesia (YAI), jumlah penderita HIV/AIDS di seluruh Indonesia per Maret 2009, mencapai 23.632 orang. Angka tersebut meningkat tajam bila dibandingkan jumlah penderita HIV/AIDS sepanjang 2008 yang mencapai 22.262 orang.
Tentu saja angka ini ibarat fenomena gunung es, dimana yang terlihat hanya permukaannya saja. Angka sebenarnya jauh lebih besar karena orang dengan HIV/AIDS (ODHA) masih banyak yang tidak terdata disebabkan enggan memeriksakan diri karena takut dan malu.
ANALISIS……. ASAL MUASAL…
Masalah AIDS dan seks belakangan sudah sangat akrab dengan kehidupan remaja. Bila kita bicara masalah? remaja, tidak bisa dilepaskan dari persoalan kehidupan seks. Bahkan bila kita membicarakan seks lebih jauh, seperti seks bebas misalkan, kita juga tidak salah apabila menghubungkannya dengan AIDS.
Penyakit AIDS kerap muncul, tumbuh dan berkembang lewat jalur ini. Karena memang penyebaran virus HIV (AIDS) ini paling efektif lewat kontak fisik (baca: hubungan kelamin).
Pertama, terlebih dahulu kita harus mengetahui apa itu AIDS itu dan bagaimana asal mulanya. Baca entri selengkapnya »








%d blogger menyukai ini: