Cahaya Islam di Tengah Kegelapan Eropa

12 04 2012

Masjid Jami’ Andalusia adalah saksi sejarah betapa besar kontribusi Islam pada bangsa Eropa. Ketika mereka hidup di Abad Kegelapan (Dark Age), Islam sampai ke Spanyol hingga Prancis. Di Spanyol, mereka melakukan apa yang telah dilakukan oleh Abu Ubaidah dan Khalid bin Walid, saat menaklukkan Suriah, di masa Khalifah Umar bin al-Khatthab. Berdasarkan instruksi Khalifah Umar, gereja di Damaskus dibagi menjadi dua, separuh untuk kaum Nasrani, separuh lagi untuk masjid kaum Muslim. Hal yang sama juga dilakukan oleh panglima kaum Muslim di Spanyol. Pada tahun 92 H/710 M, gereja terbesar di Cordoba, mereka bagi menjadi dua, separuh untuk kaum Kristen, dan separuh lagi untuk masjid.

Setelah jumlah kaum Muslim semakin banyak di Cordoba, maka masjid itu pun tidak muat, sehingga separuhnya lagi yang masih menjadi gereja, mereka beli. Bangunan lama Masjid Jami’ Cordoba dan gereja pun dihancurkan, lalu dibangun kembali menjadi Masjid Jami’ Cordoba yang baru dan lebih luas. Selama tiga tahun, masjid tersebut dibangun, dimulai tahun 168 H/784 M sampai 170 H/786 M. Amir Andalusia, Abdurrahman ad-Dakhil, penguasa yang membangun masjid jami’ tersebut hingga menjadi masjid yang sangat megah. Proyek itu kemudian diteruskan dan dimodernisasi oleh para penguasa setelahnya.

Masjid Jami’ Cordoba ini merupakan masjid terbesar di Spanyol yang bisa menampung 80.000 jamaah. Panjang masjid 175 m dan lebar 134 m. Tinggi masjid mencapai 20 m. Bentuk tiangnya melengkung. Masjid ini mempunyai 11 ruangan besar yang dipisahkan oleh lengkupan atap. Lebar ruangan kiblat mencapai 7 m dengan ketinggian 16 m. Kubah yang berukuran besar disangga 300 pilar marmer dan dikelilingi 19 kubah kecil serta menara setinggi 20 m.

Masjid ini tidak hanya berfungsi untuk ibadah tetapi juga menjadi pusat kajian ilmu pengetahuan, mahkamah dan kantor Amir Andalusia. Berbagai halqah ilmu pengetahuan dan satra diajarkan di sini. Ada halqah Hadits Nabi, yang dipimpin oleh ulama Ahli Hadits Abu Bakar bin Mu’awiyah al-Qursyi. Ada halqah sastra yang dipimpin oleh tamu Andalusia, Abu ‘Ali al-Qali. Ada halqah Nahwu dan Sharaf, yang dipimpin oleh Ibn al-Quthiyyah. Selain itu, berbagai ilmu pengetahuan alam, matematika, astronomi, kimia, geografi, logika dan sejarah sains diajarkan di sini. Di halaman sekitar masjid ini telah dibangun 27 madrasah, yang menampung fuqaha berikut muridnya sebanyak 4.000 orang. Mereka dibiayai oleh negara.

Masjid ini juga difungsikan sebagai mahkamah sehingga ketika itu dikenal Qadhi Masjid Jami’ Cordoba, sekaligus Qadhi Qudhat (Kepala Qadhi). Qadhi Cordoba juga dikenal kuat berpegang teguh pada kebenaran, menjaga hukum syariah, dan tidak takut kepada siapapun, termasuk Khalifah sekalipun. Ditemani oleh beberapa sekretaris, pengacara, polisi dan tukang cambuk. Pencurian, pembunuhan dan pelanggar kehormatan pun dihukum di masjid ini dengan disaksikan oleh khalayak ramai. Biasanya dilakukan seusai pelaksanaan shalat Jumat. Di sini, Amir Andalusia melakukan shalat jamaah, termasuk shalat Jumat. Di sini pula, berbagai kebijakan negara diumumkan kepada khalayak sehingga mereka mengetahuinya.

Masjid ini tetap dengan fungsinya hingga jatuh ke tangan kaum Kristen pada tahun 22 Syawal 633 H/29 Juni 1236 M, setelah selama 525 tahun menerangi Eropa, menyebarkan cahaya Islam di saat bangsa Eropa hidup dalam kegelapan pada abad pertengahan. Hingga kini masjid ini menjadi saksi sejarah keemasan Islam di Eropa, meski telah diubah fungsinya sebagai gereja dengan nama La Mezquita, dari Mosque (bahasa Inggris: Masjid).[]har

Iklan




Permaisuri Harun ar-Rasyid, Zubaidah: Arsitek Jalur Haji Kufah-Makkah

12 03 2012

Harun ar-Rasyid, menjadi lebih istimewa, karena mempunyai istri yang cerdas, cantik dan luar biasa jasanya kepada Islam. Dia tak lain adalah Zubaidah binti Ja’far al-Akbar bin Abi Ja’far al-Manshur. Keinginannya untuk memberikan pelayanan kepada kaum Muslim, khususnya jamaah haji, sehingga memudahkan perjalanan mereka, diwujudkannya dalam megaproyek “Jalur Zubaidah”, yaitu jalur perjalanan yang berbasis arsitektur dan logistik modern.

Dia mulai dengan membuka jalan, mendirikan waduk, mengebor sumur, membangun perumahan dan tempat peristirahatan (rest area) di sepanjang jalur perjalanan tersebut. Dia juga mendirikan sejumlah tempat peristirahatan dan telaga air raksasa di Mina dan Arafah, juga melakukan pengeboran untuk sejumlah sumur. Dia menginstruksikan kepada para insinyur untuk mengalirkan air dari pegunungan yang ada di sekitar Makkah melintasi saluran air yang dibuat khusus untuk memindahkan ke waduk raksasa di dalam kota Makkah, yang kemudian diberi nama Birkah Zubaidah (Waduk Zubaidah).
Untuk mengerjakan mega proyeknya, dia memo-bilisir banyak potensi, pakar dan tenaga ahli untuk melak-sanakan mega proyek pembangunan ini. Dia meng-gunakan jasa para insinyur sipil untuk membuka dan memperbarui jalur perjalanan, menggambar rambu-rambu, serta mendirikan kolam-kolam raksasa, perumahan dan tempat peristirahatan, sementara para insinyur ahli geologi melakukan pengukuran sumber air. Para tukang bangunan juga telah dikerahkan untuk membangun kolam-kolam raksasa, telaga air raksasa, sumur bor dan saluran air kolam raksasa.

Sedangkan para petani diperintahkan untuk menanami tanah di sekelilingnya. Para penggembala diminta untuk mengusahakan dan mengembangkan kekayaan hewani untuk membekali para musafir dengan makanan, minuman dan logistik lainnya. Tidak lupa para arsitek dan ahli bangunan diminta untuk menghitung kebutuhan jalur perjalanan ini, termasuk pekerjaan perencanaan dan kajian untuk pengembangan dan peremajaannya agar sejalan dengan tuntutan dan kebutuhan jamaah haji dan para musafir di masa mendatang. Perlu diketahui, mega proyek ini berhasil diselesaikan melalui kerja keras permaisuri yang luar biasa, dengan supervisi dan nafkah pribadinya.

Jalur Zubaidah ini sendiri meliputi Kufah, di Irak hingga Rafha, yang berbatasan dengan Saudi, lalu Rafha hingga Fida, dengan jarak kira-kira 120 km di sebelah tenggara; Fida hingga ar-Rabdzah (terletak 190 km dari Madinah ke arah timur, dengan jarak 350 km); ar-Rabdzah hingga berakhir di Makkah. Peninggalan mega proyek Zubaidah ini sampai sekarang masih. Di sini terdapat rest area Fida, dengan kolam Qarnatain, kolam al-Makhruqah Tuz, kolam al-Arainabah al-‘Inabah dan kolam al-Jufailiyah al-Fahimah. Juga rest area Sumaira’ dengan kolam Harir al-Hasanah, kolam Katifah al-‘Abbasiyah. Selain itu, juga ada rest area al-Jafniyyah dengan kolam Wasad al-Mawiyah, dan rest area as-Shaq’a. Terakhir ar-Rabdzah yang dikenal sebagai kawasan arkeologis.
Fida, terletak di tenggara Hail, sekitar 120 km. Pada zaman ‘Abbasiyah, Fida adalah kota terpenting yang berada di jalur perjalanan Zubaidah ini. Karena letaknya yang ada di tengah-tengah antara Kufah dan Makkah. Fida di masa itu telah dipersiapkan oleh Khilafah ‘Abbasiyah untuk menyambut para jamaah haji dan umrah dengan makanan, minuman dan kendaraan yang mereka butuhkan. Para jamaah haji dan umrah pun bisa menitipkan barang-barang dan kendaraan mereka kepada penduduk Fida, untuk mereka ambil kembali sepulang mereka dari tanah suci. Karena itu, nama Fida terukir dalam syair Arab, Zahir bin Abi Salma.

Itulah wujud tanggung jawab seorang Khalifah dan permaisurinya yang begitu besar kepada Islam dan umatnya. Karenanya, Harun ar-Rasyid dan Zubaidah terpatri dalam ingatan umat Muhammad sepanjang masa.[] har





Abu Uqail, Meninggal Dengan Jari Menunjuk Ke Langit

3 02 2012

Dari Ja’far bin Abdillah bin Aslam berkata, “Tatkala peperangan Yamamah berlangsung dan kaum muslimin berada di tengah medan perang, orang yang pertama kali mendapat luka adalah Abu Uqail. Dia terkena panah pada bagian antara kedua bahu dan dadanya namun tidak meninggal dunia. Kemudian panah itu dicabut sehingga pada siang hari tangan kirinya terasa lemah. Kemudian ia dibawa ke dalam kemah.

Ketika peperangan semakin memanas, umat Islam tampak mengalami kekalahan serta mulai melewati batas yang diten-tukan, sementara itu Abu Uqail dalam kondisi lemah karena luka, tiba-tiba ia mendengar Ma’n bin Addy menyeru, ‘Wahai kaum Anshar, mohonlah pertolongan kepada Allah, mohonlah pertolongan kepada Allah, seranglah musuhmu!’

Ibnu Umar berkata, “Setelah mendengar seruan itu Abu Uqail berdiri untuk menemui kaumnya. Maka aku bertanya, ‘Apa yang kamu inginkan? Kamu tidak wajib menyerang!’

Abu Uqail menjawab, ‘Tadi ada seseorang memanggil namaku.’

Aku katakan kepadanya, ‘Orang yang memanggil itu mengatakan, ‘Wahai orang-orang Anshar, bukan memanggil wahai orang-orang yang terluka!’Abu Uqail berkata, ‘Aku termasuk salah satu orang Anshar, oleh karena itu aku harus menyambut seruannya sekalipun dengan merangkak.’

Kemudian Abu Uqail memakai ikat sabuknya dan mengambil pedang dengan tangan kanannya seraya menyeru, ‘Wahai kaum Anshar, seranglah musuh sebagaimana dalam perang Hunain! Bersatulah kamu sekalian semoga Allah melimpahkan rahmatNya kepadamu. Majulah ke medan perang sebab kaum muslimin itu bersembunyi sekedar memperdayakan musuh, giringlah musuhmu sehingga masuk ke dalam kebun kemudian kamu membaur dengan mereka dan pedang-pedang kalian memenggal mereka.’

Aku perhatikan bagian-bagian tubuh Abu Uqail ternyata tangannya yang terluka telah lepas dari bahunya dan jatuh di medan peperangan. Pada tubuhnya terdapat 14 luka yang menyebabkan ia meninggal dunia. Saat itu musuh Allah, Musailamah telah terbunuh.

Aku berada di sisi Abu Uqail ketika dia menghembuskan nafas yang terakhir. Aku memanggil namanya, ‘Wahai Abu Uqail! Dia menjawab, ‘Labbaik -dengan terbata-bata- siapa yang kalah?’ Aku menjawab, ‘Bergembiralah, musuh Allah telah terbunuh.’ Kemudian ia menunjuk ke langit dengan jarinya sambil memuji Allah lalu meninggal dunia. Semoga Allah melimpahkan rahmat kepadanya.”

(Sumber: Buku “99 Orang Shalih”, Penerbit Darul Haq/Pz)





Jika Kau Masuk Islam Itulah Mahar Bagiku

30 01 2012

Didalam sejarah perjuangan tegaknya Kalimatillah diatas bumi ini tidak bisa dipungkiri bahwa peranan wanita adalah tidak kecil. Mereka adalah ibarat sumbu yang menawarkan bara perjuangan kepada suami dan anak anak mereka. Banyak orang orang besar lahir dari rahim seorang wanita yang besar pula keimanan dan cintanya kepada Allah. Ada ibunda kita Khadijah r.a. Fatimah Az Zahra r.a yang melahirkan Imam Hasan r.a dan Imam Husein r.a. juga seorang pembantu wanita dari Ummul Mukminin Ummu Salamah yang kemudian melahirkan Ulama Besar dari Irak yaitu Imam Hasan Al Bashri rahimahullah.
Diantara para sahabiyah r.a terdapat nama Ummu Sulaim r.a yang memiliki kisah menawan dalam deretan kisah penuh teladan generasi umat manusia terbaik sepanjang masa. Dia seorang wanita yang sholehah, wara’, dan tidak kemilau oleh perhiasan dunia. Dia adalah ibunda sahabat Anas bin Malik r.a, seorang sahabat Nabi SAW yang termasuk golongan Ulama dan terkenal dalam pemahamannya tentang Islam.
Ummu Sulaim r.a adalah seorang Anshor yang awal awal masuk islam. Keistiqomahannya dan ketabahannya dalam menjalani kehidupan telah menjadi buah bibir di masyarakat Yatsrib. Ketidaksetujuan suaminya yang masih kafir tidak menggoyahkan Iman yang telah tertancap dalam di lubuk hatinya. Suaminyapun pergi meningalkan Ummu Sulaim r.a
Selang berapa lama seorang laki laki bernama Abu Thalhah yang waktu itu masih kafir memberanikan diri melamarnya dengan mahar yang tinggi. Tapi Ummu Sulaim tidak melirik sedikitpun terhadap apa yang ditawarkan di depan kedua matanya. Baginya Islam adalah harga mati yang tidak bisa ditukar dengan apapun. Sebuah riwayat menyebutkan bahwa Ummu Sulaim r.a berkata, “Demi Allah, orang seperti anda tidak layak untuk ditolak, hanya saja engkau adalah orang kafir, sedangkan aku adalah seorang muslimah sehingga tidak halal untuk menikah denganmu. Jika kamu mau masuk Islam maka itulah mahar bagiku dan aku tidak meminta selain dari itu.” Akhirnya menikahlah Ummu Sulaim r.a dengan Abu Thalhah dengan mahar yang teramat mulia, yaitu Islam.
Ummu Sulaim r.a telah memberi kita sebuah pelajaran bahwa gemerlap dunia dengan segala kemewahannya adalah tidak lebh utama dari nilai Iman seorang hamba. Pernikahan adalah salah satu jalan bagi tersebarnya hidayah bagi mereka yang rindu akan petunjuk Allah. Kita juga mendapat pelajaran bahwa mahar sebagai pemberian yang diberikan kepada istri berupa harta atau selainnya dengan sebab pernikahan tidak selalu identik dengan uang, emas, atau segala sesuatu yang bersifat keduniaan.
Namun, mahar bisa berupa apapun yang bernilai dan diridhai istri selama bukan perkara yang dibenci oleh Allah SWT dan Rasulullah SAW. Sebuah hadits diriwayatkan dari Anas r.a menyebutkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Aku belum pernah mendengar seorang wanita pun yang lebih mulia maharnya dari Ummu Sulaim karena maharnya adalah Islam.” (HR An Nasa’i)
Semoga kita dapat meneladani sifat sifat mulia yang ada pada pada diri sahabat sahabat Nabi SAW. Mereka adalah contoh nyata manusia manusia paling agung dalam sejarah. Mereka bukan agung karena assesory yang mahal, bukan pula oleh berlimpahnya dinar dan dirham tapi oleh besarnya rasa cinta dan tingginya pengorbanan mereka untuk tegaknya Islam di atas bumi ini. Wallahu’alam. (Pz/kisah islami)





Muawiyah Ra mencela Ali bin Abi Tholib Ra adalah riwayat palsu

25 01 2012

Riwayat yang disebarkan oleh kaum sesat Syiah Rafidhoh bahwa Muawiyah Ra dan bani Ummayah secara umum melaknat Ali bin Tholib adalah riwayat yang tidak benar. Hal, ini diungkapkan anggota Komisi dan Pengkajian MUI Pusat, ustadz Fahmi Salim, MA.

“Cerita tentang Muawiyah dan bani Umayyah melaknat Ali selama 70 tahun itu riwayat-riwayat palsu semua,” kata ustadz Fahmi Salim kepada arrahmah.com di kantor MUI Pusat, Jl. Proklamasi, Jakarta Selasa (24/1).

Beliau menjelaskan, bahwa riwayat-riwayat tersebut hanya ada di kitab-kitab sejarah yang ditulis di masa-masa akhir atau belakangan seperti Al Kamil fit Tarikh, Tarikhul khulafa As Suyuti, dan Mu’jamul Buldan. Bahwa asal muasal berita yang mengatakan bahwa kebijakan Bani Umayyah mencela Imam Ali ibn Abi Thalib di mimbar-mimbar jumat dan baru dihilangkan itu oleh ‘Umar ibn Abdul Aziz, bersumber dari Ibnu Sa’ad dalam kitab Thabaqat, yang ia riwayatkan dari Ali ibn Muhammad al-Madaini dari gurunya Luth ibn Yahya. Berita semacam ini tidak benar dan sudah diteliti oleh Dr. Ali Muhammad Shallabi dalam bukunya Al-Khalifah Al-Rasyid Umar bin Abdul Aziz.

“Riwayatnya tidak ada yang shohih. Ali bin Muhammad Al Madaini dan Luth bin Yahya sering meriwayatkan dari Syiah,” ujar ustadz Fahmi yang menjelaskan bahwa Ibnu Sa’ad bukan Syi’ah, hanya saja tasahul (terlalu mudah) dalam mengambil dari riwayat syi’ah.

Sambung Ustadz Fahmi, cerita tersebut memang sering diexpose oleh syi’ah, untuk menunjukkan bahwa bukan mereka saja yang senang mencela para sahabat.

“Ini semacam counter attack dari Syi’ah, bahwa Sunni juga mencaci maki Ali bin Abi Tholib,” tukasnya.

Sebagian ulama mengkafirkan Syi’ah Istna Asyariyah, menurutnya bukan karena mencaci maki sahabat, akan tetapi ulama mengkafirkan mereka karena doktrin mereka tentang tahrif (adanya perubahan) pada Al-Qur’an dan doktrin Imamah.

“Mencaci maki sahabat hanya dampak dari keyakinan Imamah Syiah, itu furuiyah (cabang). Jika mereka sudah tidak meyakini Imamah, tidak akan mencela sahabat,” pungkasnya.

Dr. Ali Muhammad Shallabi sendiri dalam bukunya Al-Khalifah Al-Rasyid Umar bin Abdul Aziz (Shallabi: 107) menerangkan bahwa hampir semua pakar dan imam hadis ahlisunnah menilai Ali Al-Madaini dan Luth ibn Yahya sebagai perawi yang tidak bisa dipercaya dan terbiasa meriwayatkan dari orang-orang yang lemah hafalannya dan tak dikenal (majhul).

Selain tinjauan ilmu riwayat hadis, Shallabi juga menganalisis bahwa tidak benar pula fakta puluhan tahun Imam ‘Ali dikutuk Bani Umayyah, sementara kitab-kitab sejarah yang ditulis semasa dengan daulah Umayyah tidak pernah menceritakan adanya fakta sejarah itu.

Kisah itu baru ditulis oleh para ahli sejarah mutakhir dalam kitab-kitab yang disusun pada era Bani Abbasiyah dengan motif politis, untuk menjelek-jelekkan citra Bani Umayyah di tengah umat.

Shallabi juga yakin bahwa kisah itu baru disusun dalam kitab Muruj al-Dzahab karya Al-Mas’udi (Syi’i) dan penulis syiah lainnya hingga kisah fiktif itu ikut tersusupi ke dalam kitab tarikh ahlisunnah yang ditulis belakangan seperti Ibnul Atsir dalam Al-Kamil fi Tarikh. Namun tidak ada sandaran satupun riwayat yang sahih. (bilal/arrahmah)





..**Kisah Sahabat Nabi, Bilal bin Rabah**..

4 01 2012

bilal
Bilal bin Rabah, Muazin Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam, memiliki kisah menarik tentang sebuah perjuangan mempertahankan aqidah. Sebuah kisah yang tidak akan pernah membosankan, walaupun terus diulang-ulang sepanjang zaman. Kekuatan alurnya akan membuat setiap orang tetap penasaran untuk mendengarnya.

Bilal lahir di daerah as-Sarah sekitar 43 tahun sebelum hijrah. Ayahnya bernama Rabah, sedangkan ibunya bernama Hamamah, seorang budak wanita berkulit hitam yang tinggal di Mekah. Karena ibunya itu, sebagian orang memanggil Bilal dengan sebutan ibnus-Sauda’ (putra wanita hitam).

Bilal dibesarkan di kota Ummul Qura (Mekah) sebagai seorang budak milik keluarga bani Abduddar. Saat ayah mereka meinggal, Bilal diwariskan kepada Umayyah bin Khalaf, seorang tokoh penting kaum kafir.

Ketika Mekah diterangi cahaya agama baru dan Rasul yang agung Sholallahu ‘alaihi wasallam mulai mengumandangkan seruan kalimat tauhid, Bilal adalah termasuk orang-orang pertama yang memeluk Islam. Saat Bilal masuk Islam, di bumi ini hanya ada beberapa orang yang telah mendahuluinya memeluk agama baru itu, seperti Ummul Mu’minin Khadijah binti Khuwailid, Abu Bakar ash-Shiddiq, Ali bin Abu Thalib, ‘Ammar bin Yasir bersama ibunya, Sumayyah, Shuhaib ar-Rumi, dan al-Miqdad bin al-Aswad.

Bilal merasakan penganiayaan orang-orang musyrik yang lebih berat dari siapa pun. Berbagai macam kekerasan, siksaan, dan kekejaman mendera tubuhnya. Namun ia, sebagaimana kaum muslimin yang lemah lainnya, tetap sabar menghadapi ujian di jalan Allah itu dengan kesabaran yang jarang sanggup ditunjukkan oleh siapa pun.

Orang-orang Islam seperti Abu Bakar dan Ali bin Abu Thalib masih memiliki keluarga dan suku yang membela mereka. Akan tetapi, orang-orang yang tertindas (mustadh’afun) dari kalangan hamba sahaya dan budak itu, tidak memiliki siapa pun, sehingga orang-orang Quraisy menyiksanya tanpa belas kasihan. Quraisy ingin menjadikan penyiksaan atas mereka sebagai contoh dan pelajaran bagi setiap orang yang ingin mengikuti ajaran Muhammad.

Kaum yang tertindas itu disiksa oleh orang-orang kafir Quraisy yang berhati sangat kejam dan tak mengenal kasih sayang, seperti Abu Jahal yang telah menodai dirinya dengan membunuh Sumayyah. Ia sempat menghina dan mencaci maki, kemudian menghunjamkan tombaknya pada perut Sumayyah hingga menembus punggung… , dan gugurlah syuhada pertama dalam sejarah Islam.

Sementara itu, saudara-saudara seperjuangan Sumayyah, terutama Bilal bin Rabah, terus disiksa oleh Quraisy tanpa henti. Biasanya, apabila matahari tepat di atas ubun-ubun dan padang pasir Mekah berubah menjadi perapian yang begitu menyengat, orang-orang Quraisy itu mulai membuka pakaian orang-orang Islam yang tertindas itu, lalu memakaikan baju besi pada mereka dan membiarkan mereka terbakar oleh sengatan matahari yang terasa semakin terik. Tidak cukup sampai di sana, orang-orang Quraisy itu mencambuk tubuh mereka sambil memaksa mereka mencaci maki Muhammad.

Adakalanya, saat siksaan terasa begitu berat dan kekuatan tubuh orang-orang Islam yang tertindas itu semakin lemah untuk menahannya, mereka mengikuti kemauan orang-orang Quraisy yang menyiksa mereka secara lahir, sementara hatinya tetap pasrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kecuali Bilal-semoga Allah meridhainya. Baginya, penderitaan itu masih terasa terlalu ringan jika dibandingkan dengan kecintaannya kepada Allah dan perjuangan di jalan-Nya.

Orang Quraisy yang paling banyak menyiksa Bilal adalah Umayyah bin Khalaf bersama para algojonya. Mereka menghantam punggung telanjang Bilal dengan cambuk, namun Bilal hanya berkata, “Ahad, Ahad … (Allah Maha Esa).” Mereka menindih dada telanjang Bilal dengan batu besar yang panas, Bilal pun hanya berkata, “Ahad, Ahad ….“ Mereka semakin meningkatkan penyiksaannya, namun Bilal tetap mengatakan, “Ahad, Ahad….”

Mereka memaksa Bilal agar memuji Latta dan ‘Uzza, tapi Bilal justru memuji nama Allah dan Rasul-Nya. Mereka terus memaksanya, “Ikutilah yang kami katakan!”

Bilal menjawab, “Lidahku tidak bisa mengatakannya.” Jawaban ini membuat siksaan mereka semakin hebat dan keras.

Apabila merasa lelah dan bosan menyiksa, sang tiran, Umayyah bin Khalaf, mengikat leher Bilal dengan tali yang kasar lalu menyerahkannya kepada sejumlah orang tak berbudi dan anak-anak agar menariknya di jalanan dan menyeretnya di sepanjang Abthah2 Mekah. Sementara itu, Bilal menikmati siksaan yang diterimanya karena membela ajaran Allah dan Rasul-Nya. Ia terus mengumandangkan pernyataan agungnya, “Ahad…, Ahad…, Ahad…, Ahad….” Ia terus mengulang-ulangnya tanpa merasa bosan dan lelah.
Suatu ketika, Abu Bakar Rodhiallahu ‘anhu mengajukan penawaran kepada Umayyah bin Khalaf untuk membeli Bilal darinya. Umayyah menaikkan harga berlipat ganda. Ia mengira Abu Bakar tidak akan mau membayarnya. Tapi ternyata, Abu Bakar setuju, walaupun harus mengeluarkan sembilan uqiyah emas.
Seusai transaksi, Umayyah berkata kepada Abu Bakar, “Sebenarnya, kalau engkau menawar sampai satu uqiyah-pun, maka aku tidak akan ragu untuk menjualnya.”

Abu Bakar membalas, “Seandainya engkau memberi tawaran sampai seratus uqiyah-pun, maka aku tidak akan ragu untuk membelinya…”

Ketika Abu Bakar memberi tahu Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam bahwa ia telah membeli sekaligus menyelamatkan Bilal dari cengkeraman para penyiksanya, Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada Abu Bakar, “Kalau begitu, biarkan aku bersekutu denganmu untuk membayarnya, wahai Abu Bakar.”

Ash-Shiddiq Rodhiallahu ‘anhu menjawab, “Aku telah memerdekakannya, wahai Rasulullah.”
Setelah Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam mengizinkan sahabat-sahabatnya untuk hijrah ke Madinah, mereka segera berhijrah, termasuk Bilal Rodhiallahu ‘anhu.. Setibanya di Madinah, Bilal tinggal satu rumah dengan Abu Bakar dan ‘Amir bin Fihr. Malangnya, mereka terkena penyakit demam. Apabila demamnya agak reda, Bilal melantunkan gurindam kerinduan dengan suaranya yang jernih,

Duhai malangnya aku, akankah suatu malam nanti
Aku bermalam di Fakh3 dikelilingi pohon idzkhir4 dan jalil
Akankah suatu hari nanti aku minum air Mijannah5
Akankah aku melihat lagi pegunungan Syamah dan Thafil6

Tidak perlu heran, mengapa Bilal begitu mendambakan Mekah dan perkampungannya; merindukan lembah dan pegunungannya, karena di sanalah ia merasakan nikmatnya iman…. Di sanalah ia menikmati segala bentuk siksaan untuk mendapatkan keridhaan Allah…. Di sanalah ia berhasil melawan nafsu dan godaan setan.

Bilal tinggal di Madinah dengan tenang dan jauh dari jangkauan orang-orang Quraisy yang kerap menyiksanya. Kini, ia mencurahkan segenap perhatiannya untuk menyertai Nabi sekaligus kekasihnya, Muhammad Sholallahu ‘alaihi wasallam.. Bilal selalu mengikuti Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam ke mana pun beliau pergi. Selalu bersamanyma saat shalat maupun ketika pergi untuk berjihad. Kebersamaannya dengan RasulullahSholallahu ‘alaihi wasallam ibarat bayangan yang tidak pernah lepas dari pemiliknya.

Ketika Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam selesai membangun Masjid Nabawi di Madinah dan menetapkan azan, maka Bilal ditunjuk sebagai orang pertama yang mengumandangkan azan (muazin) dalam sejarah Islam.

Biasanya, setelah mengumandangkan azan, Bilal berdiri di depan pintu rumah Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam seraya berseru, “Hayya ‘alashsholaati hayya ‘alashsholaati…(Mari melaksanakan shalat, mari meraih keuntungan….)” Lalu, ketika Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam keluar dari rumah dan Bilal melihat beliau, Bilal segera melantunkan iqamat.

Suatu ketika, Najasyi, Raja Habasyah, menghadiahkan tiga tombak pendek yang termasuk barang-barang paling istimewa miliknya kepada Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam. Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam mengambil satu tombak, sementara sisanya diberikan kepada Ali bin Abu Thalib dan Umar ibnul Khaththab, tapi tidak lama kemudian, beliau memberikan tombak itu kepada Bilal. Sejak saat itu, selama Nabi hidup, Bilal selalu membawa tombak pendek itu ke mana-mana. Ia membawanya dalam kesempatan dua shalat id (Idul Fitri dan Idul Adha), dan shalat istisqa’ (mohon turun hujan), dan menancapkannya di hadapan beliau saat melakukan shalat di luar masjid.

Bilal menyertai Nabi Sholallahu ‘alaihi wasallam dalam Perang Badar. Ia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Allah memenuhi janji-Nya dan menolong tentara-Nya. Ia juga melihat langsung tewasnya para pembesar Quraisy yang pernah menyiksanya dengan hebat. Ia melihat Abu Jahal dan Umayyah bin Khalaf tersungkur berkalang tanah ditembus pedang kaum muslimin dan darahnya mengalir deras karena tusukan tombak orang-orang yang mereka siksa dahulu.

Ketika Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam menaklukkan kota Mekah, beliau berjalan di depan pasukan hijaunya bersama ‘sang pengumandang panggilan langit’, Bilal bin Rabah. Saat masuk ke Ka’bah, beliau hanya ditemani oleh tiga orang, yaitu Utsman bin Thalhah, pembawa kunci Ka’bah, Usamah bin Zaid, yang dikenal sebagai kekasih Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam dan putra dari kekasihnya, dan Bilal bin Rabah, Muazin Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam..

Shalat Zhuhur tiba. Ribuan orang berkumpul di sekitar Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam, termasuk orang-orang Quraisy yang baru masuk Islam saat itu, baik dengan suka hati maupun terpaksa. Semuanya menyaksikan pemandangan yang agung itu. Pada saat-saat yang sangat bersejarah itu, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam memanggil Bilal bin Rabah agar naik ke atap Ka’bah untuk mengumandangkan kalimat tauhid dari sana. Bilal melaksanakan perintah Rasul Sholallahu ‘alaihi wasallam dengan senang hati, lalu mengumandangkan azan dengan suaranya yang bersih dan jelas.

Ribuan pasang mata memandang ke arahnya dan ribuan lidah mengikuti kalimat azan yang dikumandangkannya. Tetapi di sisi lain, orang-orang yang tidak beriman dengan sepenuh hatinya, tak kuasa memendam hasad di dalam dada. Mereka merasa kedengkian telah merobek-robek hati mereka.

Saat azan yang dikumandangkan Bilal sampai pada kalimat, “Asyhadu anna muhammadan rosuulullaahi (Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah)”. Juwairiyah binti Abu Jahal bergumam, “Sungguh, Allah telah mengangkat kedudukanmu…. Memang, kami tetap akan shalat, tapi demi Allah, kami tidak menyukai orang yang telah membunuh orang-orang yang kami sayangi.” Maksudnya, adalah ayahnya yang tewas dalam Perang Badar.
Khalid bin Usaid berkata, “Aku bersyukur kepada Allah yang telah memuliakan ayahku dengan tidak menyaksikan peristiwa hari ini.” Kebetulan ayahnya meninggal sehari sebelum Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam masuk ke kota Mekah..
Sementara al-Harits bin Hisyam berkata, “Sungguh malang nasibku, mengapa aku tidak mati saja sebelum melihat Bilal naik ke atas Ka’bah.”
Al-Hakam bin Abu al-‘Ash berkata, “Demi Allah, ini musibah yang sangat besar. Seorang budak bani Jumah bersuara di atas bangunan ini (Ka’bah).”
Sementara Abu Sufyan yang berada dekat mereka hanya berkata, “Aku tidak mengatakan apa pun, karena kalau aku membuat pernyataan, walau hanya satu kalimat, maka pasti akan sampai kepada Muhammad bin Abdullah.”

Bilal menjadi muazin tetap selama Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam hidup. Selama itu pula, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam sangat menyukai suara yang saat disiksa dengan siksaan yang begitu berat di masa lalu, ia melantunkan kata, “Ahad…, Ahad… (Allah Maha Esa).”

Sesaat setelah Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam mengembuskan napas terakhir, waktu shalat tiba. Bilal berdiri untuk mengumandangkan azan, sementara jasad Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam masih terbungkus kain kafan dan belum dikebumikan. Saat Bilal sampai pada kalimat, “Asyhadu anna muhammadan rosuulullaahi (Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah)”, tiba-tiba suaranya terhenti. Ia tidak sanggup mengangkat suaranya lagi. Kaum muslimin yang hadir di sana tak kuasa menahan tangis, maka meledaklah suara isak tangis yang membuat suasana semakin mengharu biru.
Sejak kepergian Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam, Bilal hanya sanggup mengumandangkan azan selama tiga hari. Setiap sampai kepada kalimat, “Asyhadu anna muhammadan rosuulullaahi (Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah)”, ia langsung menangis tersedu-sedu. Begitu pula kaum muslimin yang mendengarnya, larut dalam tangisan pilu.

Karena itu, Bilal memohon kepada Abu Bakar, yang menggantikan posisi Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam sebagai pemimpin, agar diperkenankan tidak mengumandangkan azan lagi, karena tidak sanggup melakukannya. Selain itu, Bilal juga meminta izin kepadanya untuk keluar dari kota Madinah dengan alasan berjihad di jalan Allah dan ikut berperang ke wilayah Syam.
Awalnya, ash-Shiddiq merasa ragu untuk mengabulkan permohonan Bilal sekaligus mengizinkannya keluar dari kota Madinah, namun Bilal mendesaknya seraya berkata, “Jika dulu engkau membeliku untuk kepentingan dirimu sendiri, maka engkau berhak menahanku, tapi jika engkau telah memerdekakanku karena Allah, maka biarkanlah aku bebas menuju kepada-Nya.”

Abu Bakar menjawab, “Demi Allah, aku benar-benar membelimu untuk Allah, dan aku memerdekakanmu juga karena Allah.”

Bilal menyahut, “Kalau begitu, aku tidak akan pernah mengumandangkan azan untuk siapa pun setelah Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam wafat.”

Abu Bakar menjawab, “Baiklah, aku mengabulkannya.” Bilal pergi meninggalkan Madinah bersama pasukan pertama yang dikirim oleh Abu Bakar. Ia tinggal di daerah Darayya yang terletak tidak jauh dari kota Damaskus. Bilal benar-benar tidak mau mengumandangkan azan hingga kedatangan Umar ibnul Khaththab ke wilayah Syam, yang kembali bertemu dengan Bilal Rodhiallahu ‘anhu setelah terpisah cukup lama.

Umar sangat merindukan pertemuan dengan Bilal dan menaruh rasa hormat begitu besar kepadanya, sehingga jika ada yang menyebut-nyebut nama Abu Bakar ash-Shiddiq di depannya, maka Umar segera menimpali,

“Abu Bakar adalah tuan kita dan telah memerdekakan tuan kita (maksudnya Bilal).”Dalam kesempatan pertemuan tersebut, sejumlah sahabat mendesak Bilal agar mau mengumandangkan azan di hadapan al-Faruq Umar ibnul Khaththab. Ketika suara Bilal yang nyaring itu kembali terdengar mengumandangkan azan, Umar tidak sanggup menahan tangisnya, maka iapun menangis tersedu-sedu, yang kemudian diikuti oleh seluruh sahabat yang hadir hingga janggut mereka basah dengan air mata. Suara Bilal membangkitkan segenap kerinduan mereka kepada masa-masa kehidupan yang dilewati di Madinah bersama Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam..

BiIal, “pengumandang seruan langit itu”, tetap tinggal di Damaskus hingga wafat. Saat menjelang kematiannya, istri Bilal menunggu di sampingnya dengan setia seraya berkata, “Oh, betapa sedhhnya hati ini….”

Tapi, setiap istrinya berkata seperti itu, Bilal membuka matanya dan membalas, “Oh, betapa bahagianya hati ini…. ” Lalu, sambil mengembuskan napas terakhirnya, Bilal berkata lirih,

“Esok kita bersua dengan orang-orang terkasih…
Muhammad dan sahabat-sahabatnya
Esok kita bersua dengan orang-orang terkasih…
Muhammad dan sahabat-sahabatnya”

(Senopati Revolt)





..**Perang Tabuk, Antara Yang Taqwa dan Yang Munafik**..

4 01 2012

tabuk
Perang tabuk, sebuah peperangan yang di pimpin Rasulullah untuk menghadapi bangsa Romawi, sebuah peperangan yang menjadi sebuah pembeda antara mereka yang taqwa dan yang munafik. Perang ini dilakukan oleh Rasulullah pada masa-masa sulit bagi kaum muslimin saat itu, dimana cuaca yang sangat panas sekali, musim kemarau, dan pada saat itu pula buah-buahan mulai ranum sehingga menyebabkan orang-orang lebih suka pada tempat-tempat mereka berteduh daripada ikut berperang bersama Rasulullah.
Kondisi inilah yang telah membuat sebagian kaum muslimin yaitu orang-orang munafik lebih memilih tinggal di rumah-rumah mereka daripada pergi berperang, Padahal perang yang akan dilakukan oleh Rasulullah tersebut membutuhkan bala tentara yang cukup besar karena Beliau akan menghadapi bangsa Romawi yang dalam jumlah besar pula. Pada perang kali ini sikap Rasulullah tidak lah biasanya sebagaimana ketika akan perang pada perang-perang sebelumnya, dimana pada perang-perang sebelumnya Rasulullah selalu merahasiakan tentang peperangan yang akan di tuju namun pada perang Tabuk ini Rasulullah menjelaskannya kepada kaum muslimin tidak lain adalah agar kaum muslimin bersiap-siap karena peperangan yang akan dilakukan itu akan menempuh perjalanan yang panjang, masa-masa yang sulit, dan banyak musuh yang ingin beliau tuju.

Kondisi yang sangat sulit tersebut menyebabkan dari kaum muslimin banyak yang meminta izin kepada Rasulullah untuk tidak ikut berperang dengan berbagai alasan. Salah satunya adalah Al-jadd bin Qais dari Bani Salamah. Suatu ketika saat kaum muslimin tengah bersipa-siap untuk pergi berperang, Rasulullah bersabda kepada Al-jadd “Hai al-jadd apakah tahun ini engkau ikut memerangi orang-orang berkulit kuning (Romawi)? Al-jadd berkata, “Wahai Rasulullah berilah aku izin dan engkau jangan menjerumuskanku kedalam fitnah. Demi Allah, kaumku telah mengenaliku bahwa tidak ada orang laki-laki yang cepat tertarik kepada wanita daripada aku. Oleh karena itu, aku khawatir jika aku melihat wanita-wanita berkulit kuning, maka aku tidak sabar.” Rasulullah memalingkan muka dari al-jadd dan bersabda “aku mengizinkan”. Dalam riwayat tersebut terlihat jelas sebuah alasan yang dibuat oleh orang-orang munafik agar lepas dari beban untuk ikut serta dalam perang Tabuk. Sehingga tentang al-jadd ini turunlah firman Allah Ta’ala dalam surat

وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ ائْذَنْ لِي وَلَا تَفْتِنِّي ۚ أَلَا فِي الْفِتْنَةِ سَقَطُوا ۗ وَإِنَّ جَهَنَّمَ لَمُحِيطَةٌ بِالْكَافِرِينَ
Di antara mereka ada orang yang berkata: “Berilah saya keizinan (tidak pergi berperang) dan janganlah kamu menjadikan saya terjerumus dalam fitnah”. Ketahuilah bahwa mereka telah terjerumus ke dalam fitnah. Dan sesungguhnya Jahannam itu benar-benar meliputi orang-orang yang kafir.(At-taubah:49)

Tidak sampai disitu saja, orang-orang munafik itu pun selain mencari-cari alasan untuk tidak ikut berperang mereka juga memprovokasi orang-orang mukmin lainnya agar untuk tidak ikut berperang juga. Memang seperti ini lah watak dari golongan munafik yang terkadang justru lebih membahayakan dari pada kaum kafir dzimmi, yang mereka bagai duri dalam daging.

Namun pada perang tabuk ini juga telah menunjukan siapa saja orang-orang yang benar-benar taat kepada Allah dan Rasul-Nya yang memiliki keimanan yang tinggi yang mereka rela menginfaqkan harta dan jiwa mereka di jalan Allah. Mereka lebih memilih keridhaan Allah dan Rasul-Nya daripada kebun-kebuh mereka yang tengah berbuah atau rumah-rumah tempat berteduh mereka yang nyaman. Di antara mereka adalah sahabat Rasulullah Ustman bin Affan Ra yang menginfaqkan hartanya sebanyak seribu dinar untuk keperluan tentara yang mengalami kesulitan pada perang Tabuk. Hingga Rasulullah bersabda “Ya Allah, ridhailah Ustman, karena aku ridha kepadanya”. Dalam suatu kisah yang lain bahkan ada para sahabat yang sampai menangis lantaran mereka tidak dapat ikut berperang dengan Rasulullah. dalam kisahnya ada 7 orang sahabat yang datang kepada Rasulullah, setelah bertemu dengan Rasulullah mereka semua meminta Rasulullah untuk membiayai persiapan jihad mereka karena mereka orang-orang miskin. Namun Rasulullah menjawab dalam sabdanya “Aku tidak mempunyai apa-apa untuk membiayai jihad kalian”.

Lalu mereka pun keluar dalam keadaan sedih dan menangis lantaran tidak dapat ikut serta dalam peperangan tersebut. Dalam perjalanan dari rumah Rasulullah mereka berjumpa dengan Ibnu Yamin. Ibnu Yamin yang pada waktu itu berpapasan dengan mereka melihat mereka menangis lantas bertanyalah Ibnu Yamin “kenapa engkau menangis?” mereka menjawab “Kami datang kepada Rasulullah untuk meminta beliau membiayai persiapan jihad kami, namun Rasulllah tidak memiliki apa-untuk membiayai kami,karena kami tidak mempunyai bekal untuk berangakat berperang”. Kemudian Ibnu Yamin memberikan 2 untanya dan beberapa kurma untuk mereka dan setelah itu mereka pun ikut serta bersama Rasulullah dalam peperangan.

Selain dari mereka juga ada 3 orang sahabat yang dikenal baik keislamanya dan mereka bukan lah seorang yang dikenal sebagai orang yang munafik. Salah satu dari mereka adalah Ka’ab bin Malik Ra. Sejak islamny Ka’ab bin malik, ia tidak pernah ketinggalan sekali pun dalam setiap peperangan kecuali pada perang badar. namun pada perang Tabuk ini ia tidak ikut serta bersama yang lainnya untuk pergi berperang. Hal ini disebabkan lantaran pada masa-masa perang Tabuk itu Ka’ab bin Malik sedang dalam kondisi kaya Raya dan juga di dukung dengan keadaan dimana buah-buahan telah ranum dan tempat berteduh diminati banyak orang sehingga ia menunda-nunda untuk melakukan persiapan untuk ikut dalam perang Tabuk tersebut. Hal itu terjadi terus menerus sampai-sampai pasukan telah siap untuk berangkat pergi berperang. Dalam kondisi itu Ka’ab bin Malik berkata pada dirinya “aku akan bersiap-siap besok atau besok lusanya, kemudian aku akan menyusul mereka”. Setelah kaum muslimin berangkat, Ka’ab bin malik keluar rumah untuk bersiap-siap dan bertekad akan menyusul rombongan kaum muslimin namun ia tidak jadi dan menundanya pada keesokan harinya, pada hari berikutnya pun ia tunda lagi sampai berhari-hari kemudian ia sama sekali belum bersiap-siap hingga kaum muslimin telah berjalan jauh dan tidak terkejar lagi. Hingga pada akhirnya ia pun tidak jadi berangkat dan tetap berada di madinah.

Pada suatu pagi Rasulullah beserta Rombongan kaum muslimin telah pulang dari berperang, dan sudah menjadi kebiasaan Rasulullah setiap setelah pulang dari perjalanan beliau langsung menuju masjid dan shalat 2 rakaat lalu keluar duduk-duduk bersama penduduk lainnya. pada saat itu para orang-orang munafik pun berbondong-bondong mendatangi Rasulullah yang jumlahnya sekitar 80 orang, mereka bersumpah kepada beliau dan meminta udzur atas ketidak ikut sertaan. Namun Ka’ab bin Malik tidak melakukan hal serupa, ia datang kepada Rasulullah dan menceritakan dengan jujur perihal ketidak ikut sertaannya dalam berperang. Setelah menceritakan perihal ketidak ikut sertaannya kepada Rasulullah, Rasulullah bersabda “Adapun orang ini(Ka’ab bin Malik) berkata benar. Berdirilah dan pulanglah hingga Allah memberi putusan tentang dirimu”. Tidak lama setelah itu Rasulullah memberikan perintah kepada orang-orang untuk tidak berbicara dan menjahui Ka’ab bin malik beserta 2 sahabat yang lainnya yang juga berperilaku sama sebagaimana Ka’ab.

Mereka dalam kondisi seperti itu selama 50 malam, dalam kondisi itu Ka’ab bin malik beserta 2 sahabat lainnya merasakan seakan akan tidak mengenal lagi dengan dunia ini. Dalam pengasingan tersebut 2 sahabat lainnya lebih memilih berdiam di rumah sampai keputusan Allah turun, namun tidak bagi Ka’ab bin Malik yang tetap keluar rumah, ke pasar, dan juga berjamaah ke masjid namun tidak seorang pun mau berbicara dengannya. pernah suatu saat, ketika ia ke masjid melihat Rasulullah, lantas ia mendekati Rasulullah dan mengucapkan salam kepada beliau sambil berharap Rasulullah menjawab salamnya, kamudia Ka’ab mengerjakan shalat di samping Rasulullah guna mencuri-curi pandangan kepada beliau. Jika Ka’ab mengerjakan shalat Rasulullah melihatnya tapi ketika ia menoleh maka Rasulullah memalingkan wajahnya. Hal tersebut terus terjadi hingga hari ke-40, pada hari ke-40 seorang utusan Rasulullah datang kepada Ka’ab dan 2 sahabat yang lainnya menyampaikan kepada mereka untuk menjahui istri-istri mereka pula. Hal itu berlangsung 10 hari, hingga pada pagi hari pada hari ke-50 Ka’ab keluar rumah untuk menunaikan shalat shubuh dan setelah itu ia pergi ke gunung sala’ dan mendirikan tenda disana. Tiba-tiba seorang penyeru berteriak keras “Hai Ka’ab bin Malik bergembiralah!”, seketika itu Ka’ab bersujud karena solusi telah tiba. Rasulullah mengumumkan diterimanya taubat Ka’ab bin Malik beserta 2 orang sahabat yang lain. (Oleh Firdaus, BKLDK Malang)








%d blogger menyukai ini: