Witing Tresno Jalaran Soko Kulino (Sebuah Muhasabah)

24 11 2012

muhasabah

Witing Tresno Jalaran Soko Kulino

Kalimat sakti yang biasanya diucapkan para mbok-mbok dan pa’e-pa’e jaman baheula untuk menikahkan anaknya dengan orang yang tidak dicintainya atau dengan orang yang belum dikenalnya.

Kalimat itu ga sepenuhnya keliru, buktinya buanyaak para ortu hasil tradisi ini perkawinannya langgeng hingga sekarang, yo po ra’? 😀

Well, itu cuma mukaddimah, sekedar pengantar bahwa content tulisan ini memang relevan dengan judul.

>Berawal dari urgensi interaksi.

Manusia ga bisa hidup sendiri. Dengan anugerah akalnya ia mampu mengerahkan dan mengarahkan segenap potensinya untuk saling melengkapi dengan orang-orang disekitarnya, melalui komunikasi dan interaksi. Aktivitas dakwah pun begitu. Lucu ajja kalo ada yang ngaku pengemban dakwah tapi ga pernah berkomunikasi. Terlebih ketika medan dakwah mengharuskan adanya koordinasi dan komunikasi lintas gender (baca: ikhwan-akhwat).

Yeah,, tulisan ini memang mencoba mengangkat fenomena, yang disatu sisi miris menyaksikan fakta, tapi bukan berari ingin membuka aib saudara. Hanya saja, berharap bisa menjadi pengingat saat kita mulai meremehkan kemaksiatan ‘kecil’. Kita coba angkat beberapa fenomena, tidak perlu mencari-cari siapa, dimana dan kapan kejadiannya, tak perlu bisik sana bisik sini hanya sekedar menyatakan ‘aku tau ini siapa’, sekali lagi, tidak perlu!! Diulangi, tidak perlu!! Ini hanya untuk muhasabah bagi kita semua :

KASUS I :

Alkisah, seorang akhwat menganggap seorang ikhwan sebagai ‘adik’nya (memang faktanya adik kelas, sih), tapi interaksi antar keduanya yaa cukup perhatian, apalagi kalo si adik ga masuk kuliah, nilainya rendah, dan sebagainya. Hmm….

KASUS II :

Disebuah lembaga antah berantah, terjadi kekeringan kepemimpinan. Terpaksa ikhwan ’golongan tua’ turun kaki untuk demi mempertahankan tetap tegaknya salah satu wasilah dakwah ini. Penguasaannya terhadap medan, ditambah kepiawaiannya dalam manajemen lembaga diluar dugaan ternyata mampu ‘menyihir’ beberapa oknum di Keputrian. Akhirnya keputusan berat harus diambil dengan ‘mengasingkan’ sang Ketum idola. Ckckckck…

KASUS III :

Di sebuah lembaga dakwah XXXXXX, terpilihlah ketum yang berpengaruh lagi mempesona. Dengan pesonanya, si ketum ‘menjaring’ para mahasiswi baru sebagai ushlub perekrutan. Wow..

KASUS IV :

Di sebuah lembaga dakwah ZZZZZZZ , beda lagi ceritanya. Terjadi ‘tag’ illegal yang dilakukan seorang ikhwan senior kepada seorang akhwat. Parahnya nih ya, dia bilang2 ma temen-temennya kalo dia men-‘tag’ si akhwat itu dan berencana akan mengkhitbahnya. Sayangnya nih ikhwan NAPO (Not Action Planning Only). Coba bayangin kalo disaat yang sama ada temennya yang juga punya kecenderungan yang sama, udah siap lahir batin, siap action, tapi junior. Mana beraanii ngelangkahin seniornya?? Apalagi udah main ‘tag’ begitu… jadi ingat kata Azzam di pilem KCB “Mendahulukan saudara dalam perkara ibadah itu makruh hukumnya!”

KASUS V

Ada beberapa lembaga yang memperbolehkan membuka jalur koordinasi antar ketua panitia pelaksana acara ikhwan-akhwat, dibalik kesuksesan menggarap acara ternyata juga meninggalkan bekas ‘sukses’nya curi-curi perhatian, nah lho!??

KASUS VI

Seorang ikhwan militan, cukup terkenal dikalangan aktivis dikampusnya. Namun siapa sangka ia kepincut dengan ‘gadis biasa’. ‘Dididiknya’-lah si gadis dengan memintanya berjilbab dan ngaji. Diberi buku-buku hingga kitab Islami. Tapi sebelum halal udah pake antar-jemput segala???? Ini yang namanya pacaran ideologis??? Ngaco…

CUKUP!!!

Baru 6 kasus aja udah bikin merinding disco… Penulis terus berharap ini bukan seperti fenomena gunung es yang keliatannya dikit tapi kenyataannya*)… Masya Allah… Istigfar… Istigfar…

*) Belum termasuk kasus di dunia maya lho!

Di dunia ini hanya ada laki-laki dan perempuan. Itu qadha, sunnatullah. Kita ga mungkin menyalahkan mahluk bernama ikhwan atau akhwat yang memang ditakdirkan untuk menjadi pasangan kita. But, sadar diri adalah dua kata yang paling tepat untuk membuka mata yang mulai ditutupi kabut cinta imitasi, terutama buat yang meyandang gelar: hamlud dakwah.

Cuma kagum kok, katanya mulai ngeles. Kagum kok sampe ngumpulin foto si dia, sampe mengorek-ngorek sisi kehidupan pribadi si dia, nangis-nangis pas tau dia akhirnya nikah ma yang lain?? Sadar diri laaah, yang namanya setan mana mau pake jurus murahan dengan musuh sekaliber pengemban dakwah yang udah pada tau dalil-dalil pengaturan gharizah na’unya???

Witing Tresno Jalaran soko Kulino.

Terjemah bebasnya sih, cinta bersemi karena seringnya berinteraksi. Anggapan ini kondisional. Ia tepat jika memang dalam kondisi yang juga sesuai konteksnya. Dalam hal khitbah, ta’aruf hingga pernikahan. Tapi bisa jadi bencana kalau terjadi dalam organisasi dakwah dan tidak terkendali.

So, bukan menggurui, hanya sekedar berbagi kiat berinteraksi secara sehat, setidaknya ada 4 hal yang mesti diperhatikan oleh kita sebagai pengemban mabda yang tidak main-main dalam perjuangannya:

1. Tetap berpegang teguh pada syariat

Pahami urgensi, tujuan, motivasi dan tata cara berinteraksi. Pastikan semua tidak ada yang bertentangan dengan hukum syara. Urgensi adanya koordinasi dan komunikasi lintas gender dalam sebuah organisasi dakwah tidak lain adalah adanya akad untuk mengelola sebuah lembaga hingga semua target-target lembaga berhasil diraih bersama. Tujuan dan motivasinya ya tidak lain hanya untuk kepentingan aktivitas dakwah, bukan yang lain. Hormati setiap tata cara yang disepakati diawal; tidak berkhalwat, tidak ikhtilath, batas-batas waktu koordinasi, dan kesepakatan lainnya selama tidak bertentangan dengan hukum syara’.

2. Gunakan Orientasi (Cara Pandang) yang Benar Mengenai Interaksi

Interaksi dakwah akan menjadi berbahaya ketika orientasinya menggunakan sudut pandang maskulinitas-feminitas. Orientasi ini menjadi orientasi pandangan mengenai interaksi antar lawan jenis yang diterapkan oleh kaum Kapitalis dan Sosialis. Om Sigmund Freud menyatakan kalau dorongan naluri (nau’) tidak disalurkan/dipenuhi akan menyebabkan kematian. Well, wajar bagi mereka yang menganut paham ini begitu mendewakan kepuasan jasmani semata. Mau?? Ich… Kada usah gin…

Sementara Islam memperbolehkan orientasi berinteraksi dengan sudut pandang perempuan dan laki-laki sebagai sesama hamba Allah, sebagai sesama aktivis dakwah, sesama mahasiswa, sesama anggota masyarakat yang menjadikan hukum syara sebagai landasan setiap perbuatannya. Dengan sudut pandang yang benar seperti ini, insya Allah tidak akan muncul gejolak-gejolak yang tidak diinginkan, minimal mampu diredam lah…

3. Minimalkan Faktor Pendorong Munculnya Gharizah Na’u

Pernah denger ikhwan genit atau akhwat genit?? Pelakunya salah?? Belum tentu. Bisa jadi si korban ke-genit-an itu yang justru mengundang pelaku untuk menjadi genit. Bisa jadi cara bicara yang dibuat-buat agar mendayu-dayu, performance yang dibuat-buat hingga tampak lebih hebat, pakai minyak wangi, dan hal-hal yang terkait interaksi langsung lainnya yang mengundang munculnya gharizah nau’. Atau dengan interaksi tidak langsung, lewat sms misalnya dengan kalimat gombal, romantis, atau smile grafik ^_^, L, T_T, dan seterusnya biar efeknya lebih berrrasssa. Heiii, ingat yang kita sms itu lawan jenis… Astagfirullah…

4. Jika terasa orientasi mulai bergeser, maka hentikan interaksi saat itu juga!

Diamanahkan sebagai seseorang yang mempunyai jalur koordinasi memang susah-susah gampang. Kalau dipikir-pikir, buat apa berkoordinasi dengan lawan jenis yang tidak ada kepentingan pribadi dengan kita? Hanya saja, karena ada akad pengelolaan lembaga yang menuntut kerapian dan keprofesionalan kerja lembaga maka dipercayakanlah perwakilan masing-masing dari departemen rijal dan nisa. Memilih dan memilah topik pembicaraan juga terkadang sulit karena setan senantiasa menggoda lewat jalur mana saja. Tergantung bagaimana kesadaran kita bahwa ada Dia Yang Maha Menyaksikan dan malaikat di kiri dan kanan senantiasa melaksanakan tugasnya tanpa lalai sedikitpun. Bahasa kerennya sih, menyertakan ‘ruh’ disetiap aktivitas. Ketika perkara yang dibicarakan mulai bergeser dari perkara dakwah, misalnya mengarah pada aspek personal; cara ngomong, cara duduk, cara makan, maka perlu diwaspadai, jangan-jangan saat itu dominasi orientasi kita adalah maskulinitas-feminitas… So, analisa mutlak dilakukan. Jika ternyata orientasi kita maskulinitas-feminitas, hentikan interaksi saat itu juga. Beda perkaranya kalau yang dibicarakan memang hal lain tapi masih dibenarkan oleh syara; muamalah, pendidikan, persaksian atau kesehatan. Itu pun tetap berpegang pada hal-hal yang dibenarkan oleh syara. Lha kalo misalnya si ikhwan di Fakultas Kedokteran nanya PR ke akhwat di Fakultas Keguruan?? Plis deh,,,

Baiklah… setitik inspirasi untuk ikhwahfillah_

Sungguh, tidak ada niat apa-apa. Jika pun benar adanya, biarlah menjadi evaluasi bersama. Jikapun terjadi dengan orang-orang disekitar kita, kewajiban kita sebagai saudara-lah untuk meluruskannya dengan ma’ruf. Sungguh, dakwah ini akan menjadi beban yang luar biasa berat ketika menjadikannya sebagai kambing hitam tidak bebasnya kita bermain-main dengan perasaan-perasaan kita karena sebenarnya ia menjaga kita. Sungguh, tidak sedikit daun-daun yang berguguran hanya karena perkara ‘rasa’, maukah kita menyusulnya??

I don’t think so_

Ya Allah, kami telah memulainya, maka teguhkanlah kami dalam menjejaki setiap anak-anak tangga ini hingga kami sampai dipuncak tertinggi, saat Islam menjadi pemenang ideologi_

Tetaplah saling mengingatkan, tetaplah saling menginspirasi_

Allahu Akbar!!

By : Jadwa BKLDK Kalsel





Remaja Islam, Say No to Pacaran!

4 02 2012

pacaran
Konon, punya pacar emang asik. Ada yang diajak hang out di akhir pekan, ada yang bisa diajak curhat-curhatan, dan yang lebih keren lagi, ada yang bisa diajak belajar bareng. Hmm,emang kalau sama teman yang sesama jenis kenapa? “Nggak seru. Kayaknya, gimana gitu,” komentar Tia (19), salah seorang mahasiswi sebuah Perguruan Tinggi di Jakarta.

Sebagian besar anak muda menganggap, pacaran bisa menjadi bukti kalau dirinya itu normal. Yang nggak punya pacar dianggap nggak normal. Duh, kasian banget ya. Pacaran juga bisa dijadikan alat bukti bahwa dirinya cakep, karena ada yang mau. Dan juga itu tadi, aktivis pacaran mengatakan bahwa dengan berpacaran bisa meningkatkan semangat belajar dan bekerja. Benarkah?!

Dewasa ini, pacaran merupakan suatu hal yang dianggap wajib oleh sebagian kalangan. Banyak alasan, mengapa anak muda jadi merasa krisis Pe’De kalau nggak punya pacar. Dari yang takut dikatakan kurang gaul, hingga yang katanya semangat belajarnya semakin meningkat setelah punya pacar. Lalu, sebenarnya apa sih definisi pacaran itu? Pacaran –menurut para pelakunya—adalah suatu ikatan perasaan cinta dan kasih antara lelaki dan perempuan untuk menjalin suatu hubungan yang lebih dekat yang pada esensinya untuk saling mengenal lebih jauh untuk menuju proses pernikahan atau untuk mencari pasangan hidup yang dianggap cocok.

Karena ingin mengenal lebih jauh itu tadi akhirnya lelaki dan perempuan yang pacaran jadi semakin intens menjalin hubungan. Dari yang sekedar sms’an, telpon, hingga ketemuan. Dalam keseharian, di banyak tempat sering kita dapati berpasang-pasang orang pacaran. Di sekolah, kampus, mal, bahkan di sebuah kamar kos yang sepi.

Sobat muda, pernah nggak sih kita berfikir, bahwa ketika seorang laki-laki dan perempuan berduaan di suatu tempat, ada yang ikut serta meramaikan suasana? Ya, dialah setan. Sebagaimana yang disabdakan Nabi kita Muhammad SAW:

“Janganlah salah seorang diantara kalian berduaan dengan seorang wanita (yang bukan mahramnya) karena setan adalah orang ketiganya, maka barangsiapa yang bangga dengan kebaikannya dan sedih dengan keburukannya maka dia adalah seorang yang mukmin.” (HR. Ahmad)
Dalam sejarah, nggak pernah kita dengar bahwa setan menggoda manusia untuk berbuat baik. Yang ada, pekerjaan utama setan adalah untuk menjerumuskan manusia agar berbuat dosa dan kemaksiatan. Hampir mustahil perempuan dan lelaki yang tengah memendam bara cinta bisa terbebas dari ‘keinginan tertentu’ ketika berinteraksi, berdekatan, apalagi bersentuhan. Hingga akhirnya, terjadilah zina.

Kalau sudah berzina, tidak sedikit kaum hawa yang akhirnya hamil di luar nikah. Pada tahun 2010, di Mojokerto, 60 siswi hamil di luar nikah. Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (BPPKB) kabupaten Mojokerto, Yudha Hadi menjelaskan, dari jumlah tersebut sebanyak 42 di antaranya adalah siswi SMA, 12 siswi SMP, dan 6 siswi SD. Masya Allah…!

Dan yang lebih parah, beragam maksiat dalam aktivitas pacaran itu berakhir dengan pembunuhan. Lho,kok bisa? Iya, wanita yang hamil di luar nikah itu akan melakukan aborsi terhadap janin yang dikandungnya. Rangkuman kasus aborsi yang direkam Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) perlu dibuat pelajaran. Kasus aborsi mulai 2008 hingga 2010 terus meningkat. Dan yang membuat miris, 62 persen pelakunya adalah anak-anak di bawah umur.
Komnas PA memperkirakan,selama kurun waktu tadi, kenaikan angka kasus aborsi rata-rata 15 persen setiap tahunnya. Pada 2008 ditemukan ada dua juta jiwa anak korban aborsi. Tahun berikutnya, anak korban aborsi bertambah 300 ribu jiwa. Pada 2010, bertambah lagi 200 ribu jiwa.
Terbukti kan, pacaran membuka banyak sekali efek negatif. Selain zina tadi, mau tahu apa saja dampak negatif pacaran?

– Menyebarkan Penyakit
Salah satu dampak dari zina adalah mewabahnya berbagai jenis penyakit kelamin seperti HIV/AIDS, sipilis, dan penyakit kelamin lainnya.

– Meningkatnya Penggunaan Narkoba
Bila pacarnya adalah pengguna narkoba maka kemungkinan besar dia juga akan terseret.

– Meningkatnya Kriminalitas
Misalnya, mencuri uang teman untuk menraktir sang pacar

– Membangkang Orang Tua
Para remaja yang sudah terlanjur mencintai pacarnya lebih dari orang tuanya, tentunya akan lebih memilih pacarnya daripada orang tuanya.

– Meningkatnya Presentasi Bunuh Diri
Remaja yang diputuskan sepihak oleh pacarnya bila tidak bisa mengontrol dirinya bisa memutuskan untuk bunuh diri karena merasa hidupnya tidak ada gunanya tanpa pacarnya.

Jika pada faktanya pacaran merupakan wadah antara dua insan yang kasmaran, yang dengan aktivitas pacarannya itu bisa menimbulkan banyak dampak negatif yang berujung pada perzinahan, maka ingatlah bahwa Allah SWT telah berfirman:

“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al Isra’ : 32).
Jelas kan?! Ya, dengan demikian, Islam dengan tegas menyatakan bahwa hukum pacaran bagaimanapun bentuknya adalah: HARAM!

So, bagi sobat muda yang sudah siap lahir batin untuk mencintai dan dicintai, Islam memberikan solusi indah bagi para pemuda, yakni: MENIKAH! Jika pernikahan itu diniatkan untuk Ibadah dan melindungi diri dari kemaksiatan, maka hal tersebut akan mendatangkan barakah dalam kehidupan kita. Rasulullah SAW bersabda :

“… barang siapa menikahi seorang wanita karena ingin menundukkan pandangannya dan menjaga kesucian farjinya, atau ingin mendekatkan ikatan kekeluargaan maka Allah akan memberkahi bagi isterinya dan memberkahi isterinya baginya.” (HR Thabrani)

Akan tetapi, jika kesiapan itu belum ada, bersabar dan rajin-rajinlah berpuasa. Selain akan menambah tabungan pahala kita, puasa juga dapat menghindarkan kita dari hal-hal yang dilarang agama. Sebagaimana diwasiatkan Rasulullah SAW:

“Wahai segenap pemuda, barang siapa diantara kamu telah mempunyai kemampuan maka hendaklah segera menikah, karena itu lebih menundukkan pandangan, dan menjaga kemaluan. Barang siapa yang belum mampu (memberi nafkah) maka hendaklah ia berpuasa, karena itu menjadi perisai baginya. “ (HR Jamaah)

Akhirnya, ingatlah bahwa dalam diri pemuda tersimpan banyak sekali potensi. Manfaatkanlah waktu mudamu untuk berperan serta dalam berbagai kegiatan positif. Insya Allah, jika kita menghabiskan seluruh waktu kita untuk beramal sholeh, maka tak ada ruang bagi setan untuk membisikkan godaannya demi menjerumuskan kita dalam kemaksiatan bagaimana pun bentuknya, termasuk salah satunya: PACARAN. Mulai sekarang, katakan pada dunia: Remaja Islam, Say No to Pacaran!

(Haifa Ramadhan/dari berbagai sumber)





Indahnya Memuliakan Sesama Muslim

13 10 2011

Oleh : Arief B. Iskandar

Allah SWT sesungguhnya telah memuliakan manusia dalam kedudukan yang amat tinggi. Betapa tinggi kemuliaan manusia di mata Allah SWT hingga jika seorang manusia membunuh manusia lain tanpa alasan yang dibenarkan, maka di mata Allah SWT, sama saja ia dengan membunuh seluruh manusia. Allah SWT berfirman (yang artinya): Siapa saja yang membunuh suatu jiwa bukan karena orang itu membunuh atau membuat kerusakan di muka bumi, maka dia seperti membunuh seluruh manusia (TQS al-Maidah [5]: 32).

Apalagi jika itu menyangkut jiwa seorang Muslim. Baginda Rasulullah SAW bersabda, “Mencela seorang Muslim adalah kefasikan, sementara membunuhnya adalah kekufuran.” (HR al-Bukhari dan Muslim).

Sebaliknya, Allah SWT dan Rasul-Nya, telah memerintahkan untuk memuliakan sesama Muslim. Tentu karena sesama Muslim adalah saudara. Ibn Umar ra menuturkan bahwa Rasulullah pernah bersabda, “Muslim itu saudara bagi Muslim yang lain. Ia tidak saling menzalimi dan saling membiarkan. Siapa saja yang menghilangkan suatu kesulitan dari seorang Muslim, maka Allah SWT akan menghilangkan kesulitan bagi dirinya di antara berbagai kesulitan pada Hari Kiamat kelak. Siapa saja yang menutupi aib seorang Muslim, Allah pasti akan menutupi aibnya pada Hari Kiamat nanti.” (Muttafaq a’laih).

Abu Hurairah pun berkata bahwa Baginda Rasulullah SAW pernah bersabda, “Muslim itu saudara bagi Muslim yang lain. Ia tidak saling mengkhianati, saling mendustakan dan saling menghinakan. Setiap Muslim adalah haram bagi Muslim yang lain menyangkut kehormatan, harta dan darahnya.” (HR at-Tirmidzi).

Bahkan terhadap Muslim yang zalim pun, Rasulullah tetap menyuruh kita menyayangi dia dengan cara menolongnya. Beliau pernah bersabda, “Tolonglah saudaramu, baik pelaku kezaliman maupun korban yang dizalimi.” Seorang sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, saya menolongnya jika ia dizalimi. Lalu bagaimana saya harus menolong orang yang melakukan kezaliman?” Rasul menjawab, “Cegahlah dia dari berlaku zalim. Itulah bentuk pertolongan kamu kepadanya.” (HR al-Bukhari).

Begitu indahnya sikap memuliakan sesama Muslim juga ditunjukkan oleh sabda Rasulullah sebagaimana dituturkan oleh Abu Hurairah, “Hak Muslim atas Muslim yang lain ada lima: menjawab salam, mengunjungi yang sakit, mengiringi jenazah, memenuhi undangan dan mendoakan yang bersin.” (Muttafaq ‘alaih).

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Rasulullah bersabda, “Hak Muslim atas Muslim yang lain ada enam: jika bertemu, ucapkanlah salam; jika mengundang, penuhilah; jika meminta nasihat, berilah nasihat; jika bersin, ucapkanlah hamdallah dan doakanlah; jika sakit, jenguklah; jika meninggal, iringilah jenazahnya.” (HR Muslim).

Selain itu, sudah sepantasnya sesama Muslim saling menguatkan, sebagaimana sabda Baginda Rasulullah, “Mukmin dengan Mukmin yang lain itu seperti satu bangunan; satu sama lain saling menguatkan.” (Muttafaq ‘alaih).

Beliau pun bersabda sebagaimana dituturkan oleh Nu’man bin Busyair, “Perumpamaan kaum Mukmin itu dalam kasih-sayang dan sikap lemah-lembut mereka adalah seperti satu tubuh; jika salah satu anggota tubuh itu merasakan sakit, maka seluruh bagian tubuh yang lain akan panas dan demam.” (Muttafaq ‘alaih).

Lebih dari sekadar saling menguatkan, sikap memuliakan sesama Muslim juga sejatinya tercermin dalam hal saling menyayangi sepenuh hati. Apalagi Baginda Rasulullah pernah bersabda, sebagaimana dituturkan oleh Jarir bin Abdillah. “Siapa saja yang tidak menyayangi manusia, Allah tidak akan menyayangi dirinya.” (Muttafq ‘alaih).

Aisah ra pun menuturkan bahwa suatu ketika datang sekelompok Arab pedalaman kepada Baginda Rasulillah. Mereka lalu berkata, “Apakah kalian bisa menciumi anak-anak kalian?” Beliau menjawab, “Betul.” Mereka berkata, “Akan tetapi, kami, demi Allah, tidak melakukannya.” Beliau kembali bersabda, “Apakah kalian ingin Allah mencabut sikap welas-asih dari kalbu-kalbu kalian?” (Muttafaq ‘alaih).

Bagaimana pula gambaran sikap memuliakan sesama Muslim tercermin dalam sabda Rasulullah sebagaimana dituturkan oleh Abu Hurairah, “Jika salah seorang di antara kalian mengimami orang-orang, hendaklah dia meringankan shalatnya karena sesungguhnya di antara mereka ada orang yang lemah, sakit dan tua. Jika salah seorang di antara kalian shalat sendirian, maka silakan dia memanjangkan shalatnya sesuka hatinya.” (Muttafaq ‘alaih).

Abu Qatadah pun menuturkan bahwa Baginda Rasulullah pernah bersabda, “Sesungguhnya aku pernah mengimami shalat dan ingin memanjangkannya. Tiba-tiba aku mendengar tangisan bayi. Aku pun mempercepat shalatku karena khawatir tangisan bayi itu membebani ibunya.” (HR al-Bukhari).

Sungguh, betapa indahnya jika sikap memuliakan sesama Muslim ini benar-benar selalu kita wujudkan dalam keseharian kita. Wama tawfiqi illa bilLah.





Astaghfirullah…Sebagian Besar Remaja Perkotaan Pernah Berhubungan Seks

8 10 2011

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Enam puluh persen remaja perkotaan pernah berhubungan suami istri. Sedangkan untuk remaja pedesaan, jumlahnya diperkirakan sekitar empat puluh persen. Hal ini didasarkan pada survei yang dilakukan Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN).

Menurut ginekolog Prof Dr dr Biran Affandi SpOG (K) FAMM, hal ini diakibatkan perkembangan media yang memudahkan penyebaran informasi. “Sekarang ini informasi informasi bisa menyebar lewat mana saja. Bisa perseorangan atau social media,” katanya

Perkembangan teknologi informasi ini tentunya harus disikapi secara bijak. Surveiyang dilakukan APCOC dan PT Bayer Indonesia pada Juli 2011 menunjukkan, hampir 60 persen remaja merasa saling mencintai menjadi alasan cukup untuk berhubungan suami istri. Survei ini dilakukan di sembilan negara yaitu China, Korea Selatan, Thailand, Singapura, Indonesia, India, Pakistan, Taiwan, dan Malaysia. Jumlah responden adalah 100 orang pria dan 100 orang wanita.

Wakil dari Asia Pacific Council on Contraception (APCOC) ini menyarankan, supaya para remaja dibekali pengetahuan dini tentang seks. Pengetahuan ini menurutnya dibutuhkan supaya remaja tidak salah kaprah dalam memahami seks.
Redaktur: Siwi Tri Puji B
Reporter: Roshma Widiyani

STMIK AMIKOM





ROK MINI DAN KEKERASAN SEKSUAL

8 10 2011

Oleh : Kholda Naajiyah

Setiap 2 Oktober diperingati sebagai Hari Anti Kekerasan. Salah satu isu menarik yang tak henti diperbincangkan adalah kekerasan terhadap perempuan, termasuk kekerasan seksual. Ambil contoh terjadinya pemerkosaan di angkutan umum belakangan ini.

Dari sana muncul perdebatan: apakah perempuan atau lelaki yang salah? Para lelaki umumnya bilang begini:”Lihat aurat merangsang, ya jelas saja nafsu. Kita kan laki-laki normal. Ibarat kucing, disodori ikan, mana nolak?” Lantas kaum perempuan dengan sengit membela diri: “Dasar otak ngeres, lihat barang mulus langsung nafsu. Benahi otakmu, jangan cara berpakaian kami diatur-atur.”

Demikianlah, tak heran bila kritik Gubernur DKI Fauzi Bowo soal rok mini pun menuai kontroversi. Seolah menantang, dengan rok mininya para perempuan pro kebebasan mendemo Fauzi Bowo. “Jangan Salahkan Baju Kami, Hukum Pemerkosa”, “Tubuhku Tidak Porno, yang Porno Otakmu”, “Jangan Salahkan Bajuku, Salahkan Pemerkosa” dan “Pemerkosa = Foke You”. Begitu proses mereka.

Aktivis Perempuan Menolak Pemerkosaan, Tunggal Pawestri mengatakan, pemerkosaan bukan karena rok mini, namun lebih karena jaminan keamanan yang diberikan pemerintah kepada masyarakat minim. “Selain itu, hukum bagi pelaku pemerkosaan tidak menimbulkan ada efek jera” ujarnya.

Komisioner Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan), Neng Dara Affiah tak kalah argument pemerkosaan terjadi karena cara pandang yang salah, bukan karena cara berpakaian korban. “Pernyataan itu termasuk kekerasan verbal bagi perempuan,” kata Neng seraya menilai pernyataan itu tidak layak diucapkan pejabat publik.

Otak Ngeres Vs Aurat

Mencari sumber terjadinya perkosaan, ibarat mempertanyakan: duluan telur atau ayam? Namun sejatinya itu sangat mudah dijawab. Ingat, hubungan seksual—dengan atau tanpa kekerasan—terjadi antara laki-laki dan perempuan. Jadi, keduanya sama-¬sama punya kontribusi, baik langsung maupun tidak.

Jika laki-laki yang disalahkan atas terjadinya kekerasan seksual, itu memang fakta tak terbantahkan. Pemerkosa adalah pria bejat, lemah iman, tidak takut Sang Pencipta, hanya menghendaki kenikmatan sesaat, tidak menghargai perempuan dan tidak takut neraka. Jadi, kalau ingin laki-laki di dunia ini tidak menjadi pemerkosa, terlebih dia Muslim, benahilah keimanannya, pola pikirnya.

Pahamkan dengan hukum-hukum perbuatan dan halal-haram. Insya Allah, jika iman menjadi pondasi setiap perbuatannya, meski di hadapannya disuguhi pemandangan yang membangkitkan syahwat, akan terjaga kemaluannya. Ia hanya akan memenuhi hasratnya dengan perempuan yang dihalalkannya. Persis kisah Nabi Yusuf yang tak tergoda rayuan Zulaikha.

Sebaliknya jika perempuan yang dituduh sebagai pemicu syahwat, hendaknya perempuan introspeksi. Jangan merasa tertuduh. Faktanya memang begitu. Perempuan perlu memahami bahwa hampir seluruh bagian tubuhnya memiliki daya tarik seksual bagi lawan jenisnya.

Ada yang melihat betis saja sudah ngiler, apalagi di atas betis. Ada yang melihat leher saja sudah nafsu, apalagi di bawah leher.Tak heran bila ada ungkapan “bagaimana angka perkosaan tidak semakin tinggi jika rok Nona juga semakin tinggi?”

Mungkin perempuan kembali ngeyel, “ada kok yang sudah menutup aurat, tetap diperkosa?” Itu terjadi, karena nafsu syahwat tidak serta-merta muncul oleh rangsangan dari korban. Pemerkosa itu, bisa jadi sebelumnya telah terangsang oleh aurat perempuan lain, melihat gambar porno, nonton blue film, tarian erotis, dll.

Artinya, perempuan yang mengumbar aurat, tanpa dia sadari, telah “membuka” kesempatan pada pemerkosa hingga mengancam perempuan lain yang sudah melindungi dirinya dengan menutup aurat.

Jadi, sekali lagi, keindahan tubuh perempuan memang memicu syahwat laki-laki. Tak perlu marah, karena itu fakta. Bahkan, itu adalah qodho (ketetapan) dari Allah SWT. Maka, anjuran agar perempuan menjaga auratnya, tidak mengenakan busana yang merangsang, adalah wajar belaka.

Bahkan sudah selayaknya itu menjadi sebuah kewajiban, khususnya bagi Muslimah. Itu sebabnya Allah SWT sampai “harus” mengatur-atur urusan pakaian, yang dalam timbangan sekulerisme dianggap intervensi atas hak asasi manusia (perempuan).

Aturan itu akan menjadi jaminan keamanan bagi kaum perempuan dan juga laki-laki agar nafsunya tidak bangkit secara liar—jika diterapkan dalam Skala sistem. Artinya, memang dibutuhkan peran negara untuk “mengatur” penampilan. Jangan dikira ini perkara remeh-temeh. Ini adalah salah satu bentuk jaminan keamanan yang diberikan pemerintah kepada masyarakat.

Allah SWT berfirman: ‘Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang Mukmin, “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah dikenal sehingga mereka tidak diganggu’. (TQS Al Ahzab [33]:59).

Jadi, kenapa harus marah rok mini dikritik? Katanya mau aman, ogah diperkosa, tapi diatur agar aman tak mau.

Arab Vs Khilafah

Maraknya kekerasan seksual yang menimbulkan korban para perempuan, tak lepas dari diterapkannya ideologi sekuler, yang memisahkan agama dan kehidupan. Dalam paradigma ini, kebebasan individu harus diutamakan. Kebebasan ini bahkan berkembang sangat liar, terutama soal tata berpakaian.

Dalam filosofi sekuler, pakaian yang bagus adalah yang mampu mempercantik/mempertampan seseorang. Karena itu, pakaian harus mampu menonjolkan kelebihan tubuh pemakainya. Perempuan (juga laki-laki) pun bebas tampil memenuhi segala imajinasi mereka. Rok mini, kemben, legging, hot pant, gaun transparan, bikini atau apapun yang dikenakan di tempat umum, tak boleh dilarang. Sampai-sampai ada busana dari daun, kertas, daging, bahkan puting susu sapi. Na’udubillahi min zalik.

Nah, kebebasan cara berpakaian ini pun mencuatkan syahwat di mana-mana. Jika syahwat butuh pemenuhan, mereka pun bebas melampiaskan kepada siapa saja. Inilah akar masalah munculnya pemerkosaan. Kebebasan perempuan di satu sisi, harus dibayar mahal dengan berjatuhannya perempuan-perempuan lain –termasuk anak-anak—sebagai korban perkosaan. Ironisnya, pemerkosa tidak dihukum berat sehingga tak jera.

Karena itu, selama sistemnya masih sekuler, sulit menurunkan, atau bahkan menghapuskan angka perkosaan. Sulit menjaga aurat perempuan. Sulit mencegah pelampiasan nafsu secara liar. Sulit memberi jaminan pada perempuan khususnya, dan masyarakat pada umumnya.

Karena itu, tidak ada cara lain kecuali menerapkan ideologi Islam dalam segala aspek kehidupan dalam naungan
khilafah. Mungkin ada masyarakat yang ngeyel: “Di Arab saja perkosaan banyak” Jawabnya: Arab bukan negara Islam. Arab bukan khilafah. Arab bukan representasi penerapan syariah Islam secara kaffah. Lagipula, perlu lihat data, seberapa tingginya angka perkosaan di sana? Adakah lebih tinggi dibanding Amerika misalnya, atau bahkan Indonesia? Jelaslah, tak ada alasan untuk tidak menerapkan syariat Islam. Inilah satu-satunya peraturan yang mampu mengayomi masyarakat. Itu sudah dijamin Allah SWT dalam firman-Nya: “Apakah hukum jahiliyyah yang mereka kehendaki? Siapakah yang lebih baik hukumnya daripada Allah bagi orang-orang yang yakin?” (TQS al-Maidah [5]: 50). Wallahu’alam bi shawab.





Stop Dakwah Lintas Gender…!!!

23 04 2011

Dakwah adalah sebuah kegiatan yang bersifat menyeru, mengajak, dan memanggil orang untuk beriman kepada Allah SWT. Sesuai dengan garis aqidah, syariat, dan akhlak islam. Kata dakwah merupakan masdar ( kata benda) dari kata kerja yad’u yang berarti panggilan, seruan atau ajakan.

Tujuan dakwah ialah menjadikan kebahagian dan kesejahteraan hidup dunia dan akhirat. Yang diridhoi Allah, Nabi Muhammad SAW mencontohkan dakwah kepada umatnya dengan berbagai cara: lisan, tulisan dan perbuatan yang dimulai dari istri, keluarga bahkan penguasa. Baca entri selengkapnya »





Buang Bayi Akibat Gaul Bebas

9 03 2011

Kita sempat dikejutkan dengan sosok mayat seorang bayi laki-laki yang ditemukan di toilet salah satu SMA di Surabaya beberapa waktu lalu. Ini bukan kasus yang pertama, tapi sudah sangat banyak remaja-remaja yang dengan tega membuang bayinya. Yang menyedihkan, kasus pembuangan atau pembunuhan bayi hanya merupakan pengulangan yang dianggap biasa. Simak saja, dari tahun ke tahun kasusnya terus meningkat. Menurut Komisi Perlindungan Anak (KPA), pada 2009 terdapat 219 bayi yang dibuang di negeri ini, atau naik 53 persen jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Itu baru angka yang diketahui. Yang pasti ada bayi yang dibuang dan tidak masuk hitungan KPA atau luput dari perhatian kita.
Apa sebenarnya salah bayi-bayi itu? Mengapa mereka harus dibuang? Bukankah kehadiran seorang bayi seharusnya memang diterima, disambut dengan gembira, dan dicintai ayah ibunya. Ada banyak alasan kenapa dengan tega para remaja melakukan hal tersebut. Biasanya karena panik saat mengetahui melahirkan. Kepanikan sesaat itu kemudian membuat mereka memutuskan untuk membuang/membunuh bayi yang baru dilahirkan. Ada pula karena untuk menutup aib. Mereka biasanya merasa malu dan akhirnya memutuskan untuk membunuh anaknya sendiri. Atau banyak dari mereka (remaja-remaja) yang sebetulnya belum siap menjadi ibu. Fisiknya mungkin bisa, tetapi kondisi psikisnya tidak siap. Kehadiran si janin di rahim kemudian menimbulkan persoalan rumit, dan tidak jarang dalam kondisi demikian, laki-laki ayah si bayi meninggalkannya. Tidak heran jika saat bayi lahir, si bayi pun segera dibuang si ibu yang seharusnya menyusui dan menyayanginya.
Gaul Bebas, Faktor Penyebab
Hampir sebagaian besar bayi yang dibuang adalah hasil dari pergaulan bebas. Dan pergaulan bebas pada remaja yang kian parah disebabkan karena rangsangan-rangsangan yang semakin subur, terutama melalui media. Tayangan mesum kita jumpai dimana-mana, VCD/DVD porno laris manis terjual, di jalan, mall, dan tempat-tempat umum lainnya, nampak perempuan-perempuan yang berpakaian seronok mengumbar aurat. Bagi para remaja, harus menghadapi kenyataan bahwa energi yang semestinya mereka fokuskan untuk berkarya dan berprestasi, terpaksa harus teralihkan untuk menahan gejolak syahwat yang berpeluang muncul setiap saat. Sementara kecanggihan teknologi memberi fasilitas untuk berkomunikasi dengan siapapun, termasuk dalam mengungkapkan rasa dan gejolak ini kepada lawan jenisnya. Tak jarang komunikasi lewat HP atau dunia maya, berlanjut pula pada pertemuan hingga mengarah pada kedekatan fisik dan penyaluran kebutuhan seksual yang berakhir dengan kehamilan.
Karena itu, Islam hanya memperbolehkan hubungan seks ketika laki-laki dan perempuan resmi diikat dalam dalam perkawinan. Satu-satunya penyaluran yang dibolehkan adalah melalui jalan pernikahan, sebab dengan menikah berarti seseorang telah dapat menyalurkan naluri jenisnya dengan cara yang halal dan terselamatkan dari separuh agamanya, seperti dijelaskan dalam HR Tabrani dan Hakim.

Dra. Zulia Ilmawati, Psi. http://www.hizbut-tahrir.or.id Agustus 2010








%d blogger menyukai ini: