Peran Guru Dalam Menyelamatkan Generasi untuk Bangsa

25 11 2012

Muslimah
HTI Press. Bojonegoro, Ahad 18 November 2012 Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia (MHTI) DPD II Bojonegoro menggelar acara Diskusi Terbatas dengan tema “Peran Guru Dalam Menyelamatkan Generasi Untuk Bangsa”. Acara ini dilaksanakan di aula SMKN 2 Bojonegoro, Jl. Patimura Bojonegoro, diselenggarakan dalam rangka Hari Guru yang bertepatan pada 25 November nanti. Dihadiri oleh sekitar 70 orang baik internal maupun eksternal dari kalangan guru, mulai guru PAUD hingga guru SMA yang tersebar di berbagai wilayah kabupaten Bojonegoro. Diskusi terbatas ini menghadirkan dua pembicara, yaitu Ustadzah Mu’jizatin Fadiana, M.Pd (Dosen Universitas Ronggolawe Tuban) yang memaparkan materi dengan tema “Peradaban Islam Mencetak Generasi Berkualitas” dan Ustadzah Khoirin Nisa, S.Pd yang memaparkan materi dengan tema “Peran Strategis Guru Dalam Menyelamatkan Generasi Bangsa.

Setelah para peserta disuguhkan persembahan teatrikal, acara dilanjutkan dengan pemaparan materi pertama, dimana ustadzah Fadiana memulai materinya dengan menjelaskan alasan kita memilih Islam, yang secara itiqody/keyakinan hal itu adalah bagian konsekuensi iman, secara rasional, Islam merupakan aturan terbaik dari pencipta manusia, secara normatif, Islam memiliki nidzom (sistem kehidupan) sempurna, dan secara empirik, terbukti Islam telah mewujudkan kemuliaan dan kesejahteraan kehidupan. Untaian pemaparan pemateri pertama membawa para peserta kembali untuk merenungkan dan memahami bahwa peradaban Islam telah berhasil mencetak generasi yang berkualitas. Pemateri kedua, Ustadzah Nisa menjelaskan akar permasalahan yang terjadi saat ini karena kapitalisme sekuler, sehingga sebagai seorang guru, banyak hal yang bisa kita lakukan antara lain, guru sebagai profesi yang mulia, mampu mengembalikan kesadaran generasi sebagai hamba Allah, menjadi teladan dalam berpikir dan berbuat berlandaskan aqidah Islam, dan menyadarkan generasi bahwa untuk menjadi negara yang mandiri, kuat, besar dan terdepan, hanya kembali kepada syariat Islam.

Testimoni dari Ibu Endang, seorang guru dari SMP diwilayah Baureno, diharapkan mampu memompa semangat para guru untuk tetap berjuang mendidik anak bangsa ke arah yang lebih baik. Acara ditutup dengan doa yang dipimpin Ustadzah Kusmiah. Semoga acara ini menjadi titik tolak perubahan bagi guru dan pendidik pada umumnya untuk kembali kepada syariat Islam dalam naungan Daulah Khilafah Islamiyah sehingga menghasilkan generasi yang cemerlang. Selamat Hari Guru, 25 November 2012. Jadilah guru ideologis, guru yang jadi teladan dan senantiasa menyampaikan kebenaran.[]





Palestina Yang Terluka

25 11 2012

palestina

Kembali tanah Gaza basah oleh darah. Zionis Israel kembali berulah dengan melakukan aksi pemboman yang menewaskan ratusan penduduk sipil. Keterangan resmi pihak Hamas mengatakan pada hari keenam (19/11) setidaknya 105 warga terbunuh (insya Allah syahid) akibat aksi serangan biadab Israel yang menyasar jalur Gaza, Palestina. Bahkan menurut informasi tambahan, Pada hari kelima, agresi Israel di Jalur Gaza telah menyebabkan puluhan syuhada terbunuh dan ratusan terluka di antara warga sipil Palestina termasuk anak-anak, perempuan, dan orang tua. Menurut Palestinian Information Centre (PIC), sejak agresi Zionis rabu kemarin, 69 orang telah menjadi syuhada akibat serangan udara, tank, dan kapal perang Israel, termasuk 20 orang anak-anak, 8 orang wanita, dan 9 orang tua. Kementerian Kesehatan menginformasikan dari 660 orang yang terluka, 135 diantaranya adalah anak-anak, 53 diantaranya berusia dibawah lima tahun dan 224 wanita dan 50 orang tua.
Zionis Israel menggempur Gaza sejak Rabu (14/11). Serangan bertubi itu dilakukan dari berbagai sudut wilayah. Dari udara, jet tempur dan helikopter serbu menghujani pemukiman di Gaza dengan peluru dan rudal kendali. Dari laut, kapal perang mereka juga meluncurkan roket jarak jauh untuk menghantam wilayah yang sama. Hingga Ahad (18/11), tidak kurang dari 50 warga Palestina tewas, kebanyakan adalah sipil, diantaranya adalah bayi berusia sebelas bulan. Sedangkan lebih dari lima ratus lainnya mengalami luka-luka dan kritis. (republika.co.id, 18/11/2012).
Peristiwa pembantaian yang terjadi di Palestina adalah peristiwa pembantaian terlama dan sampai sekarang masih terus terjadi. Kepada siapa dunia berharap untuk melindungi nyawa-nyawa tak berdosa di Gaza? Kepada Presiden Obama? Rasanya Anda akan kecewa. Karena sebagaimana dilaporkan kantor Berita AFP (17/11/2012) Presiden AS ini menegaskan kembali dukungannya terhadap Israel, walau ia menyesali jatuhnya korban sipil.
Kepada negara-negara di sekitar Palestina yang penduduknya mayoritas Islam? Rasanya itu juga harapan kosong, sebab rezim Turki, Qatar, Arab Saudi, Iran, dan Mesir berulang kali menegaskan bahwa peran mereka tidak lebih dari melakukan perang media dan membuat gerakan dana untuk dua otoritas di Gaza dan Ramallah. Mereka diam seribu bahasa pada saat pesawat Israel membombandir penduduk Gaza dengan berbagai senjata dan rudal jenis baru. Kepada PBB? OKI? berharap kepada keduanya seperti menggantang asap.
Dalam suasana seperti ini dibutuhkan pemimpin yang kuat dan mampu menyatukan berbagai kekuatan bukan hanya menyelamatkan penduduk Gaza, tetapi juga melindungi umat yang tertindas di berbagai penjuru dunia. Serta kepemimpinan yang mampu menyatukan berbagai negeri Islam yang kini tercerai berai menjadi 50 lebih negara, Pemimpin dan kepemimpinan itu adalah seorang Khalifah yang memimpin negeri-negeri kaum muslimin yang bernama Khilafah.
Wallahu’alam bish Showab.

by Fitriani





Benarkah Penjajah Israel Tidak Bisa Dikalahkan

25 11 2012

Salah satu argumentasi yang sering dilontarkan oleh pihak-pihak yang ingin menghentikan perjuangan membebaskan Palestina adalah anggapan bahwa Israel adalah negara yang kuat. Fakta di lapangan menunjukkan sebaliknya. Israel adalah negara yang sangat kecil yang tidak memiliki kedalaman strategis. Sebuah pesawat tempur jet hanya dapat terbang di seluruh Israel (sejauh 40 mil laut dari Sungai Yordan ke Laut Mediterania) dalam waktu empat menit. Tidak memiliki tentara regular yang besar karena penduduknya harus mengandalkan cadangan. Jumlah Populasi Israel yang kecil menambah kepekaan terhadap kerugian sipil dan militer.

Israel, dari awal, mengandalkan migrasi dari berbagai kawasan dunia . Di masa lalu memang banyak yang bermigrasi ke Israel, namun saat ini kecenderungan ini terbalik. Karena kekhawatiran keamanan , semakin meningkat jumlah warga Israel ingin meninggalkan Israel. Sekarang ini , lebih banyak warga Israel yang pindah ke Eropa dan Amerika Serikat daripada sebaliknya.

Dari segi motivasi tentara Israel sangat lemah. Padahal motifasi inilah sangat menentukan kemenangan dalam perang. Tentara-tentara muda tidak mengalami pergulatan ideologis seperti di awal-awal pendirian Israel. Mereka juga banyak bermigrasi karena ingin mendapat kenyamanan hidup seperti perumahan gratis. Namun, mereka pasti berpikir seribu kali, ketika harus mempertaruhkan nyawa mereka. Terdapat fakta-fakta bagaimana prajurit Israel tampak ketakutan menghadapi rudal-rudal yang diluncurkan dari Gaza.

Pasukan konvensional Israel terdiri dari hanya memiliki 176.000 tentara aktif dengan 500.000 tentara cadangan. Persenjataan -yang banyak yang dibeli dari AS- meliputi 600 pesawat tempur. Sementara penduduk Israel hanya 7,5 juta.

Bandingkan dengan Mesir memiliki 240 pesawat tempur F-16 dari total 1200 pesawat udara. Mesir juga memiliki 450.000 tentera reguler. Sementara Turki memiliki 700 jet tempur dengan tentara aktif yang berjumlaah 400.000 personel.

Jumlah tentara regular ini tentu semakin kalau ditambah dengan pasukan cadangan yang bisa diambil dari total penduduk Mesir yang berjumlah 77 juta. Ditambah lagi dengan tentara cadangan dari 72 juta total penduduk Turki.

Persoalan umat Islam sekarang tinggal satu, adakah komando yang mau menggerakkan tentara-tentara regular dengan persenjataannya yang tidak kalah dengan Israel. Tentara regular ini akan didukung oleh jutaan umat Islam yang siap jihad fi sabillah membebaskan Palestina. Motifasi tentara Islam ini juga sangat kuat didasarkan pada aqidah Islam dan kerinduan syahid fi sabilillah.

Komando ini seharusnya muncul dari penguasa Mesir , Turki, Saudi dan Iran. Namun karena hampir seluruh penguasa Arab dan militernya memberikan loyalitasnya kepada Amerika,hal ini sangat sulit diharapkan. Karena itu penggulingan penguasa pengecut ini dan menggantikannya dengan Kholifah yang akan menerapkan sistem Khilafah menjadi sangat penting. Sebab hanya dengan menggerakan tentara lah Israel akan bisa dikalahkan hingga ke akar-akarnya.

Diambil dari situs hizbut-tahrir.or.id





Tentara Israel Penakut dan Pakai Popok

25 11 2012

israel

Mediaumat.com. Jakarta- Banyak kalangan menuturkan sulit untuk mengalahkan Israel. Padahal, menurut Ketua Lajnah Siyasiyah DPP Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Yahya Abdurrahman hal tersebut hanya berupa mitos-mitos. “Militer Israel bisa dikalahkan walau persenjataan mereka canggih,” ujarnya di hadapan peserta Halqoh Islam dan Peradaban (HIP) Edisi ke 43, Kamis (22/11) di Wisma Antara, Jakarta.
“Militer Israel itu penakut, tentaranya menggunakan Pampers (baca; popok) dan lebih memilih sembunyi dalam tank karena takut tertembak,” ucapnya.
Mitos yang lain menurut Yahya, yaitu dilindungi oleh pelindung yang sangat kuat yakni Amerika. Padahal, Israel hanya dilindungi oleh penguasa-penguasa negeri muslim di sekeliling Israel.
“Ketakutan Israel itu, kalau penguasa-penguasa negeri muslim berbalik menyerang Israel dan tidak melindungi Israel lagi,” imbuhnya.
Yahya melanjutkan revolusi di timur tengah membuat Israel ketakutan. “Jika penguasa negeri muslim itu sadar dan berbalik mengepung Israel. Ibarat mengencingi Israel saja Israel akan tenggelam,” ujarnya.
HIP edisi 43 kali ini bertajuk Mengungkap Motif Serangan Israel Terhadap Gaza, menghadirkan pembicara Hamdan Basyar (Pengamat Timur Tengah), Jendral (purn) Tyasno Sudarto (Mantan KSAD), dan Hafidz Abdurrahman (DPP HTI).diambil dari http://hizbut-tahrir.or.id





PERLUKAH MEMPERTAHANKAN PENDIDIKAN ALA SEKULERISME..?!?

25 11 2012

pendidikan
Pendidikan sekarang seolah-olah tujuannya sangat jauh sekali dengan pendidikan sebenarnya, yang namanya pendidikan seharusnya adalah mencerdaskan anak bangsa bukan sebaliknya yang hanya mengambil keuntungan dengan menjadikan pendidikan itu sendiri sebagai lahan basah untuk berbisnis. Wajar, kalau kita lihat pendidikan sekarang ini seperti itu, karena kita berada ada system yang sekuler tentunya pendidikan yang komersialisasi dan materialistik ini adalah pendidikan ala sekulerisme-kapitalisme yang ujung-ujungnya mengarah kepada ,materialisme dan perbisnisan.
Pendidikan yang materialistik merupakan gambaran dari kehidupan sekuleristik yang terbukti telah gagal menghantarkan manusia menjadi sosok pribadi yang utuh. Hal ini disebabkan oleh dua hal. Pertama, paradigma pendidikan yang keliru di mana dalam sistem kehidupan sekuler, asas penyelenggaraan pendidikan juga sekuler. Tujuan pendidikan yang ditetapkan juga adalah buah dari paham sekuleristik, yakni sekedar membentuk manusia-manusia yang berpaham materialistik dan individu. Jadi, tanpa kita sadari atau tidak, berkembang penilaian bahwa hasil pendidikan haruslah dapat mengembalikan investasi yang telah ditanam. Pengembalian itu dapat berupa gelar kesarjanaan, jabatan, kekayaan, atau apapun yang setara dengan nilai materi yang telah dikeluarkan. Agama ditempatkan pada posisi yang sangat individual. Nilai agama dinomor sekiankan dijadikan sebagai standar penilaian sikap dan perbuatan. Tempatnya telah digantikan yang pada faktanya bernilai materi terlihat pada saat ini.
Dalam sistem sekuler saat ini, aturan-aturan, pandangan, dan nilai-nilai Islam memang tidak pernah secara sengaja digunakan untuk menata berbagai bidang, termasuk bidang pendidikan. Karena itu, di tengah-tengah sistem sekularistik ini lahirlah berbagai bentuk tatanan yang jauh dari nilai-nilai agama. Apakah dengan ini kita dapat menghasilkan generasi penerus yang benar-benar berkualitas? Tentu tidak. Dari sini dapat kita lihat kalau sistem sekarang ini seolah-olah yang hanya bisa mengemban pendidikan hanyalah orang-orang kaya saja, karena biaya pendidikan yang begitu sangat tinggi, sehingga orang yang pintar tetapi tidak mempunyai uang tidak bisa bersekolah karena tidak mampu membayar biaya pendidikan dan kalah kualifikasi hanya dari segi biaya, tetapi orang yang kurang pandai tapi memiliki uang banyak dia bisa merentas pendidikannya hanya dia mampu memiliki uang… Pendidikan merupakan hak setiap warga negara. Oleh karena itu, negaralah yang seharusnya mengelola bidang pendidikan, baik pembiayaan maupun kurikulumnya. Karena, baik/buruknya pendidikan akan berdampak langsung bagi baik/buruknya suatu negara. Paradigma baru dalam bidang pendidikan tersebut, seperti sebuah gagasan yang mulia. Akan tetapi, dampak yang nampak saat ini adalah privatisasi dan komersialisasi pendidikan.
Pendidikan yang diharapkan dapat melepaskan bangsa ini dari belenggu kebodohan dan keterbelakangan, tetapi menjadi komoditas bisnis yang menguntungkan. Peserta didik dari keluarga miskin tidak akan mampu membayar biaya kuliah di perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta, yang mahal. Hasilnya, apabila ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, mereka terpaksa mencari universitas yang biasa-biasa saja. Dampak nyata dari kebijakan privatisasi PTN adalah merosotnya mutu pendidikan tinggi negeri karena dasar penerimaan mahasiswa baru tidak murni tes, tetapi tawar menawar modal yang disetorkan.
Selain itu, apalagi jika UU BHP (Badan Hukum Pendidikan) BHP itu akan diterapkan pada semua universitas di negeri ini yang mana BHP itu adalah upaya pengalihan tanggungjawab negara terhadap pendidikan dengan meminta masyarakat memikul pembiayaan pendidikan. Jika RUU ini diterapkan akan makin sedikit masyarakat tidak mampu yang bisa mengakses pendidikan tinggi. Konsekuensinya, kampus hanya bisa diakses oleh mahasiswa kaya, sementara yang miskin kian tersisih. Kampus yang sudah terlanjur besar dengan mudah membuat jaringan/link dengan dunia usaha sehingga kian maju. Sebaliknya, kampus yang terbelakang sulit dilirik oleh dunia usaha sehingga tetap tertinggal di tengah ketatnya persaingan pasar.

Hal ini sangat berbeda sekali dengan pendidikan berdasarkan system Islam, . Pendidikan Islam Adalah Pendidikan Terpadu Agar keluaran pendidikan menghasilkan SDM yang sesuai harapan, harus dibuat sebuah sistem pendidikan yang terpadu. Artinya, pendidikan tidak hanya terkonsentrasi pada satu aspek saja. Sistem pendidikan yang ada harus memadukan seluruh unsur pembentuk sistem pendidikan yang unggul. Tujuan Pendidikan Islam Pendidikan Islam merupakan upaya sadar, terstruktur, terprogram, dan sistematis yang bertujuan untuk membentuk manusia yang berkarakter, yakni: berkepribadian Islam. Ini sebetulnya merupakan konsekuensi keimanan seorang Muslim. Intinya, seorang Muslim harus memiliki dua aspek yang fundamental, yaitu pola pikir (aqliyyah) dan pola jiwa (nafsiyyah) yang berpijak pada akidah Islam. Pada zaman khulafaur rasyidin, biaya pendidikan gratis ditanggung oleh negara bahkan negara sangat menghargai pentingnya pendidikan. Dalam konteks pendidikan, Islam telah menentukan bahwa negaralah yang berkewajiban untuk mengatur segala aspek yang berkenaan dengan sistem pendidikan yang diterapkan dan mengupayakan agar pendidikan dapat diperoleh rakyat secara mudah. Rasulullah saw. bersabda: “Imam (Khalifah) adalah pengurus rakyat dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas urusan rakyatnya.” (HR al-Bukhari dan Muslim). Perhatian Rasulullah saw. terhadap dunia pendidikan tampak ketika beliau menetapkan para tawanan Perang Badar dapat bebas jika mereka mengajarkan baca-tulis kepada sepuluh orang penduduk Madinah. Hal ini merupakan tebusan. Dalam pandangan Islam, barang tebusan itu merupakan hak Baitul Mal (Kas Negara). Tebusan ini sama nilainya dengan pembebasan tawanan Perang Badar. Artinya, Rasulullah saw. telah menjadikan biaya pendidikan itu setara nilainya dengan barang tebusan yang seharusnya milik Baitul Mal. Dengan kata lain, beliau memberikan upah kepada para pengajar (yang tawanan perang itu) dengan harta benda yang seharusnya menjadi milik Baitul Mal. Kebijakan beliau ini dapat dimaknai, bahwa kepala negara bertanggung jawab penuh atas setiap kebutuhan rakyatnya, termasuk pendidikan. Jika kita melihat sejarah Kekhalifahan Islam, kita akan melihat begitu besarnya perhatian para khalifah terhadap pendidikan rakyatnya. Misalnya saja, masa Khalifah Umar bin al-Khaththab memberikan gaji kepada setiap guru saat itu sebesar 15 dinar (1 dinar=4,25 gram emas). Perhatian para khalifah tidak hanya tertuju pada gaji pendidik dan sekolah, tetapi juga sarana pendidikan seperti perpustakaan, auditorium, observatorium, dll. Bahkan para khalifah memberikan penghargaan yang sangat besar terhadap para penulis buku, yaitu memberikan imbalan emas seberat buku yang ditulisnya. Subhanallah, begitu besarnya perhatian para khalifah (pemimpin) saat itu terhadap pendidikan.

Wahai saudara ku kaum muslim mari kita membuka mata, hati, dan pikiran kita , apakah sistem pendidikan sekuler saat ini akan terus kita pertahankan? Apakah sistem pendidikan yang terbukti gagal ini akan terus kita wujudkan? Marilah kita bergegas membangun sistem pendidikan Islam, dalam sebuah naungan negara Khilafah, yang akan melahirkan generasi yang berkepribadian Islam. Generasi inilah yang akan mampu mewujudkan kemakmuran dan kemuliaan peradaban manusia di seluruh dunia. Jadi, pilihan ditangan kalian, apakah tetap mempertahankannya atau menggantinya dengan system pendidikan yang benar-benar bisa membawa perubahan? Yaitu sistem pendidikan Islam yang telah terbukti keunggulannya… Wallahu’alam Bishawab…
By Hayatun Izati Annisa





Lingkungan Hidup, kenapa harus Islam

25 11 2012

Lingkungan rusak

Isu mengenai energi, lingkungan hidup, dan pemanasan global menjadi isu yang penting untuk dibahas karena melibatkan banyak aktor dan kepentingan. Ini tercermin dari alotnya perundingan dan negosiasi pengurangan emisi gas rumah kaca dalam banyak perundingan yang diselenggarakan oleh badan-badan di lingkungan PBB ataupun berbagai perundingan multilateral lainnya.
Pernahkah terpikirkan oleh kita atau sekedar membandingkan mengapa kualitas lingkungan hidup di negara-negara asing seringkali terasa lebih baik dibandingkan dengan negara yang mayoritas penduduknya adalah muslim, misalnya Indonesia. Krisis lingkungan seperti polusi udara, degradasi lahan, defisitnya sumber daya air dan kualitasnya yang buruk, serta berbagai masalah lingkungan lainnya seakan-akan menjadi hal yang sudah biasa terjadi. Padahal Indonesia dijuluki sebagai negeri khatulistiwa yang hijau ranau bak untaian zamrud khatulistiwa, dan para seniman mengabadikan Indonesia dengan berbagai gambaran penuh kebaikan dan keindahan. Wilayahnya luas, tanahnya subur dan mengandung kekayaan sumber daya alam yang melimpah, hutannya luas, lautnya luas mengandung ikan dan kekayaan yang luar biasa besar. Saking suburnya, tongkat kayu dilempar pun bisa jadi tanaman. Adapun di daerah kita, yaitu Kal-sel sebagai salah satu bagian dari Kalimantan dan Indonesia merupakan daerah yang kaya SDA baik hutan, hasil tambang, pertanian, perkebunan, minyak dan gas bumi,dan lain-lain. Sektor pertambangan, khususnya batu bara menjadi leading sector bagi perekonomian Kal-sel. Di sektor perkebunan, kelapa sawit dan karet menjadi urat nadi perkebunan di Kal-sel.
Pada hari Selasa tanggal 5 Juni 2012 kembali diperingati sebagai hari lingkungan hidup sedunia dengan tema “Green Ekonomy : Does it include you” Diterjemahkan dalam bahasa Indonesia menjadi: Ekonomi Hijau : Ubah Perilaku, Tingkatkan Kualitas Lingkungan. tema ini menyoroti dua hal. Pertama ekonomi hijau adalah penting demi mewujudkan masa depan yang lebih cerah. Kedua, setiap orang baik individu, pemerintah, swasta, maupun masyarakat sipil merupakan komponen penting dalam mewujudkan ekonomi hijau.
Adapun pendapat sejumlah pakar lingkungan hidup menyatakan bahwa kemiskinan menyebabkan tekanan terhadap lingkungan makin tinggi. Oleh karena itu, kemiskinan harus dientaskan supaya lingkungan hidup dapat diselamatkan. Bagaimana dengan kondisi Indonesia saat ini? Menurut data BPS (2011) jumlah penduduk miskin di Indonesia mencapai 30,02 juta orang atau 12,49% dari penduduk Indonesia. Dibandingkan tahun 2010, penduduk miskin di Indonesia mengalami penurunan sebesar 0,84%. Dari 30,02 juta orang penduduk miskin, yang terbesar berada di pedesaan yaitu sebanyak 18.97 juta orang, sedangkan di perkotaan sebanyak 11,05 juta orang.
Kesadaran akan lingkungan hidup yang berkualitas belum menjadi “topik utama” dalam pembicaraan masyarakat. Sebagian dari penduduk Indonesia yang notabene adalah rakyat miskin, boro-boro memikirkan kualitas lingkungan hidup, untuk makan sesuap nasi saja bisa jadi mereka kesusahan. Belum lagi diantara bencana alam seperti gempa bumi,tanah longsor dan bencana banjir yang melanda beberapa daerah sekarang ini, yang semuanya pasti menimbulkan penderitaan.
Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar) (QS. Ar-Ruum (30): 41).”
Lantas dengan situasi demikian, apa sebenarnya yang dibutuhkan, tentu saja dengan Revolusi yang mendasar. dalam hal ini revolusi tersebut bersumber dari Islam. Seperti sistem Ekonomi di dalam Islam, dimana Negara wajib memenuhi kebutuhan pokok setiap rakyat. Jika dikaitkan dengan permasalahan lingkungan hidup, sebenarnya memang benar seperti yang dikatakan para pakar, bahwa ada korelasinya dengan kemiskinan, masalah kemiskinan sebenarnya berpangkal pada buruknya distribusi kekayaan di tengah masyarakat. Karena itu, masalah ini hanya dapat diselesaikan dengan tuntas dengan cara menciptakan pola distribusi yang adil. Kesalahan sistem ekonomi kapitalis yang diterapkan saat ini adalah, bahwa upaya penghapusan kemiskinan difokuskan hanya pada peningkatan produksi, baik produksi total Negara maupun pendapatan per kapita, bukan pada masalah distribusi. Dari waktu ke waktu, seiring meningkatnya produksi, telah terjadi penumpukan kekayaan di tangan segelintir orang. Pihak yang kuat meraih kekayaan yang lebih banyak melalui kekuatan yang mereka miliki. Sedangkan yang lemah semakin kekurangan, hal ini tak ayal semakin menambah angka kemiskinan.
Secara ekonomi, Negara harus memastikan bahwa kegiatan ekonomi baik yang menyangkut produksi, distribusi maupun konsumsi dari barang dan jasa, berlangsung sesuai dengan ketentuan syariah, dan didalamnya tidak ada pihak yang mendzalimi maupun didzalimi. Karena itu, Islam menetapkan hukum-hukum yang berkaitan dengan kegiatan ekonomi (produksi, industri, pertanian, distribusi, dan perdagangan), investasi, mata uang dan perpajakan, termasuk juga lingkungan hidup, dll, yang memungkinkan setiap orang mempunyai akses untuk mendapatkan kekayaan tanpa merugikan atau dirugikan orang lain.
Sistem ekonomi Kapitalis memberikan peluang kepada perusahaan swasta, baik dari dalam maupun luar negeri, untuk mengambil keuntungan dari sumberdaya alam yang dimiliki sebuah negara melalui pemberian ijin konsesi pertambangan, hak pengusahaan hutan, atau hak istimewa lain. Sementara, sumberdaya alam yang sudah dikelola oleh perusahaan negara juga tak luput dari sasaran. Cepat atau lambat semua akan dialihkan juga kepada perusahaan swasta melalui kebijakan privatisasi. Akibatnya, tentu saja hasil dari sumberdaya alam itu lebih banyak dinikmati oleh perusahaan-perusahaan swasta, sementara rakyat justru harus menghadapi kesulitan. Setelah diprivatisasi pasti akan terjadi kenaikan harga yang merupakan satu jalan guna memungkinkan perusahaan swasta itu meraup untung lebih besar. Sebagai contoh, penelitian dari Universitas Indonesia menunjukkan adanya kenaikan harga komoditas energi sejak tahun 1992-2005 baik untuk minyak, gas maupun listrik.
Demikianlah, saat segelintir orang meraup keuntungan yang luar biasa besar dengan menguasai sumber-sumberdaya alam, khususnya energi, masyarakat umum justru terpukul oleh harga energi yang semakin tak terjangkau. Setiap saat, warga negara harus bersiap menghadapi kenaikan tagihan gas dan listrik sehingga belanja untuk sektor yang semestinya tidak perlu justru semakin hari semakin besar. Akibatnya, rakyat secara sistemik semakin termiskinkan.
Islam menetapkan sumberdaya alam, khususnya energi sebagai salah satu kekayaan milik umum. Rasulullah saw. bersabda:
Umat Islam berserikat dalam tiga perkara: air, padang rumput, dan api. (Hr. Ahmad)
Sebagai pemilik, maka seluruh rakyat harus bisa menikmati hasil dari sumberdaya alam tersebut. Karena itu, negara wajib mengelola sumberdaya alam itu dengan sebaik-baiknya, bisa melalui semacam perusahaan milik negara (BUMN), untuk kesejahteraan rakyat. Negara tidak boleh sama sekali menyerahkan aset sumberdaya alam kepada pihak swasta. Sebab, tindakan ini sama saja dengan menyerahkan sesuatu yang bukan miliknya kepada pihak lain, yang tentu akan merugikan sang pemilik, yaitu rakyat. Inilah gambaran dari sebagian kecil sistem ekonomi Islam yang ada di dalam daulah khilafah Islamiyah.
By,Gusmawati Mahasiswi dan Aktivis Dakwah Kampus
FKIP UNLAM Banjarmasin





Swastanisasi PLN Bukan Solusi yang Tepat

25 11 2012

listrik
Selain hasil tambang yang dikuasai perusahaan swasta, kini merambah pada penguasaan Perusahaan Listrik Negara (PLN). Memang benar, kemampuan PLN dalam mensuplai listrik kepada masyarakat sudah tidak mungkin memiliki daya yang cukup, terkait dengan monopoli pemerintah dalam melayani rakyatnya di bidang penyediaan tenaga listrik dengan di adakannya pemadaman bergilir. Namun ada rencana swastanisasi sektor kelistrikan bukan menjadi solusi yang tepat untuk mengatasi krisis pasokan listrik. Hal ini akan menyebabkan keresahan di kalangan masyarakat yaitu dengan diambilalih pihak swasta, kenaikan Tarif Dasar Listrik (TDL) dikhawatirkan akan kerap terjadi. Karena PLN dikuasai oleh perusahaan swasta, maka PLN tidak akan mendapat subsidi lagi dari pemerintah. Apabila ini terjadi dan tarif dasar listrik naik, tidak menutup kemungkinan harga barang-barang yang lain juga ikut naik, seperti halnya harga sebako.Oleh karena itu, pemerintah harus bertanggung jawab dengan tetap mengelola PLN dengan baik agar tidak jatuh ke tangan perusahaan swasta.
oleh Gita








%d blogger menyukai ini: