Tantangan Dakwah

20 12 2011

Syabab.Com – “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kalian kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah dia perbuat untuk hari esok. Bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kalian kerjakan (TQS al-Hasyr [59]:18).
Ahli tafsir ternama, Imam Ibnu Katsir memaknai ayat tersebut: “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah! Ini adalah perintah untuk bertakwa kepada-Nya, yang mencakup melakukan apapun yang diperintahkan Allah dan meninggalkan apapun yang dilarang oleh Dia. Adapun perintah ‘Hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah dia perbuat untuk hari esok’ artinya adalah, ‘Hisablah diri kalian sendiri sebelum kalian dihisab. Lihatlah amal-amal shalih apa yang telah kalian lakukan untuk menyongsong hari yang telah dijanjikan kepada kalian dan hari saat kalian kembali kepada Rabb kalian. Bertakwalah kepada Allah. Ini merupakan penegasan kedua untuk bertakwa. ‘Sesungguhnya Allah Mahateliti atas apa yang kalian lakukan’ maknanya adalah, ‘Ketahuilah sesungguhnya Dia Mahatahu atas semua perbuatan kalian dan keadaan kalian.’ Tidak ada secuil pun yang tersembunyi bagi Allah. Tidak ada urusan kalian yang tersembunyi dari Dia, baik perkara yang dilakukan terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi.” (Ibn Katsir, Tafsir al-Quran al-‘Azhim, hlm. 548).

Salah satu pelajaran penting dari ayat itu adalah bahwa hidup di dunia ini mulai dari takwa, diselingi evaluasi (muhasabah) untuk semakin meneguhkan ketakwaan tersebut.

Selama tahun 2011 suara yang menyeru untuk kembali ke pangkuan syariah makin nyaring terdengar. Kawasan Timur Tengah sepanjang tahun ini terus menerus diguncang revolusi. Tunisia, Maroko, Libya, Yaman, Suriah dan Mesir berguncang. Gejolak revolusi umat terus menggelora. Islam politik di kawasan itu mulai naik bahkan mendominasi media massa. Terlepas dari apa yang dimaksud, pernyataan Perdana Menteri Tunisia, Hamadi Jebali, menarik disimak. Hamadi menyampaikan, “Masa kini adalah momentum Ilahi pada sebuah negara baru dan mudah-mudahan merupakan Masa Kekhalifahan ke-6.”

Ucapan seperti ini dari seorang moderat menggambarkan betapa keinginan masyarakat di sana untuk menerapkan Islam demikian besar sehingga berpengaruh pada ucapan Hamadi. Memang, kecenderungan alami dari masyarakat Arab lebih tertarik pada sistem Khilafah. Inilah ajaran agama mereka dan bagian dari sejarah mereka.

Di sisi lain, Eropa sedang dilanda gunjang-ganjing. Amerika masih berada dalam kubangan krisis. Gejolak selama tahun 2011 ini mengisyaratkan dunia kemudian akan kembali pada model masa pra-1945-yang merupakan dunia multipolar-yang didominasi oleh pusat-pusat pengaruh geopolitik yang berbeda, dengan Kekhalifahan di puncaknya.

Suara yang sama berkumandang di Indonesia. Dukungan para ulama tampak jelas. Berbagai forum ulama selama kurun 2011 menyerukan syariah dan Khilafah. Begitu juga dukungan dari kalangan tokoh, intelektual, mahasiswa dan pelajar. Tidak kalah pentingnya, kembali pada syariah Islam dan menyatukan kaum Muslim ke dalam Khilafah juga diserukan oleh ibu-ibu rumah tangga. Ini sebagian tanda makin dekatnya fajar kemenangan.

Bukan hanya harapan yang terang, tantangan dakwah Islam di Indonesia pun tidak menyurut. Ketidakadilan terhadap umat Islam terus berlangsung selama tahun 2011, yang bahkan dilakukan oleh sesama Muslim. Ketika terjadi bunuh diri di Cirebon dan Solo, langsung Presiden menyebut bahwa pelakunya adalah teroris hanya karena pelakunya beragama Islam. Namun, saat di Papua meledak granat disertai penembakan, buru-buru Ansyaad Mbai, Kepala Badan Penanggulangan Terorisme (BNPT), menyatakan bahwa itu tindak kriminal biasa. Pada saat umat Islam menyerukan syariah Islam untuk menyelamatkan Indonesia dari keterpurukan, segeralah mereka dituduh sebagai pihak yang membahayakan NKRI. Sebaliknya, upaya separatisme dan disintegrasi yang secara terang-terangan dinyatakan oleh segelintir orang yang tergabung dalam Organisasi Papua Merdeka (OPM) tidak disebut membahayakan NKRI. Bahkan TNI dan Polisi yang berupaya menindak tegas mereka segera dituduh oleh LSM-LSM komprador sebagai melanggar HAM. Intervensi Amerika Serikat (AS) dalam kasus ini tampak jelas. Menteri Pertahanan AS Leon Panetta dalam kunjungan kehormatan kepada Presiden SBY di Nusa Dua, Bali, Senin (24/10/2011) membicarakan Papua. Berikutnya, Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton angkat suara mengenai konflik di Papua. Hillary menyampaikan kekhawatiran akan kondisi HAM di Papua. Ia menyerukan adanya dialog untuk memenuhi aspirasi rakyat di wilayah konflik tersebut (AFP, 11/11/11). Obama dalam pembicaraannya dengan Presiden SBY di Bali juga menyinggung masalah Papua. Irama yang ditabuh asing ini diikuti oleh antek-anteknya di dalam negeri.

Persoalan calon Gereja Yasmin di Bogor menambah rasa ketidakadilan itu. Umat Islam di Bogor dituding tidak toleran. Padahal umat Islam Bogor ditipu. Ada penipuan dalam proses pengajuan izin IMB calon gereja tersebut. Hilary Clinton bicara tentang kasus ini. Vatikan turut campur. Pada 16 Desember 2011 Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) berencana mengadakan rapat dengan Pemerintah membahas hal ini. Masalah ini diinternasionalisasi. Memang, kalau untuk memojokkan umat Islam, suara jarum jatuh pun terdengar ke seantero dunia!

Bukan hanya itu. Untuk mengerem gerak perjuangan Islam digembar-gemborkan istilah deradikalisasi. Selama tahun 2011 digelar berbagai acara di daerah-daerah. Pimpinan dan ormas Islam dikumpulkan. Temanya deradikalisasi. Yang mengherankan, semua yang dimaksudkan dalam istilah deradikalisasi ditujukan kepada umat Islam! Sasarannya adalah Islam. Benar apa yang diingatkan oleh pengamat politik Herman Ibrahim bahwa hakikat dari deradikalisasi merupakan deIslamisasi. Dalam deradikalisasi pun terdapat politik belah-bambu di tubuh umat Islam. Last but not least, deradikalisasi ini tidak dapat dilepaskan dari program war on terrorism yang merupakan agenda AS. Yang rugi adalah umat Islam sendiri.

Tantangan seperti ini sebenarnya merupakan sunnatullah. Setiap upaya dakwah untuk membangkitkan umat Islam senantiasa menghadapi tantangan. Rasulullah saw. sejak awal dakwahnya telah menghadapi banyak tantangan. Beliau dituduh tukang sihir, tukang syair, gila, pemecah-belah bangsa Arab, dsb. Bahkan beliau diembargo selama dua tahun dan diancam pembunuhan. Justru, berbagai tantangan berupa tuduhan dan ancaman fisik menegaskan kemenangan dakwah semakin dekat. Sebab, tuduhan dan ancaman fisik dari pihak anti-Islam merupakan tanda kekalahan mereka secara intelektual. Yang penting adalah kita tetap berada di atas aturan Allah SWT. Rasulullah saw. bersabda, “Sekelompok dari umatku selalu berada di atas aturan Allah, orang-orang yang menentang dan menyalahi mereka tidak akan memadaratkan bagi mereka hingga datang keputusan Allah dan mereka dalam keadaan menang atas manusia.” (HR Muslim). [MR Kurnia]

Ayat al-Quran
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kalian kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah dia perbuat untuk hari esok. Bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kalian kerjakan (TQS al-Hasyr [59]:18).





Bersyukurlah!

19 12 2011

syukur“Bila kamu bersyukur maka Aku pasti menambahkan (nikmat). Tapi bila kamu mengingkarinya (kufur nikmat), maka azabKu sangat pedih.” (Al Qur’an, surat Ibrahim)

Rasululullah saw berpesan bahwa mereka yang mensyukuri sedikit akan mensyukuri yang banyak. “Lihatlah yang dibawahmu, jangan lihat yang di atasmu (‘masalah dunia’)”, sabda Rasulullah.

Kata syukur memang mudah diucapkan tapi sulit dilakukan. Tidak banyak orang yang mau mensyukuri hidupnya –keluarganya, rumahnya, kendaraannya dan lain-lain. Kebanyakan manusia iri hati atau panas jiwanya ketika melihat orang lain lebih kaya, lebih tinggi jabatannya, lebih mewah rumahnya, lebih mentereng mobilnya dan lain-lain. Jarang manusia yang bisa mengerem syahwat dunia ini.

Termasuk mensyukuri kondisi tubuhnya. Para wanita biasanya –lelaki juga tidak sedikit yang demikian– bila melihat wanita lain yang lebih cantik atau lebih indah tubuhnya dari dirinya, biasanya iri hati atau minder. Mereka suka bergosip tentang hal-hal yang berkaitan dengan tubuh ini.

Tentu hal yang wajar bila wanita ingin tampil cantik, punya tubuh indah dan lain-lain. Mungkin naluri wanita begitu. Karena saya tidak pernah jadi wanita jadi bisa persis merasakannya he he he. Tapi keinginan hal-hal fisik itu seringkali mengalahkan akalnya. Hingga mereka –kadang-kadang laki-laki juga– melakukan bedah plastik ke muda, payudara, pinggul dan lain-lain. Jadi mereka mengukurkan kepercayaan dirinya pada hal-hal fisik, bukan pada akalnya. Bukan pada pemikiran yang diyakininya.

Faham kapitalis (termasuk femisnisme), memang mengondisikan wanita khawatir berlebihan terhadap fisiknya. Feminisme yang seolah-olah mengangkat derajat perempuan dengan faham emansipasinya, sejujurnya juga telah meletakkan perempuan pada posisi yang sangat rendah. Kaum feminis tidak mengharamkan miss universe, perzinahan dan pameran-pameran tubuh perempuan. Kaum feminis selalu menginginkan kesamaan derajat pada semua bidang dengan laki-laki. Baik dalam bidang politik, budaya, ekonomi, keamanan (ya atau nggak ya) dan lain-lain. Feminis ekstrim karena nafsu ‘bencinya yang tinggi kepada laki-laki’ bahkan mengharamkan keluarga, membolehkan homoseksual dan kerusakan-kerusakan model hubungan badan laki-laki perempuan lainnya. Maka jangan heran sewaktu UU Pornografi dan Pornoaksi mau disahkan DPR, kaum feminis di Indonesia ‘paling lantang’ menyerangnya.

Begitulah orang yang menyalahi kodratnya sebagai manusia. Mereka tidak bersyukur menjadi manusia apakah laki-laki atau perempuan. Bila rasa syukur didahulukan, maka perempuan dan laki-laki akan bekerjasama erat bagaimana membangun diri mereka, mulai dari individu, keluarga, masyarakat bahkan negara. Tapi kalau nafsu irihatinya didulukan, maka yang terjadi adalah saling menjatuhkan. Simbiosis parasitisme bukan simbiosis mutualisme. Dan celakanya he he dalam sejarah pertarungan ‘genderisme’ ini, wanita yang banyak dieksploitasi oleh laki-laki. Meski dalam kehidupan politik atau keluarga kadangkala wanita lebih merajai dari laki-laki di rumahnya (nggak semuanya lho). Beberapa tokoh politik penting di negeri ini, kabarnya begitu. Si istri lebih berkuasa daripada sang suami. Maka ada sinetron Laki-Laki Takut Sama Istri.

Maka sebagai perempuan atau laki-laki, kita mesti bersyukur masih punya mata (yang masih punya), masih punya telinga, punya tangan, kaki dan terutama otak yang sehat. Bayangkan kalau kita buta, bisu atau tuli betapa susahnya hidup kita. Karena itu pesan Rasulullah saw dalam masalah ini, untuk selalu melihat yang lebih bawah dari kita, harus senantiasa kita camkan dan pegang erat-erat dalam jiwa kita , sehingga nafsu berbahaya iri hati ini bisa kita hilangkan. Ketika nafsu ini timbul, selekasnya kita istighfar atau menyebut asma Allah (berdzikir). Karena selain nafsu iri hati suka membisiki telinga kita, syetan juga suka meniup-niup otak kita untuk berbuat kerusakan.

Bila kita mensyukuri kepada Allah SWT, atas nikmat-nikmatnya yang diberikan pada tubuh kita, insya Allah hidup kita akan bahagia. Tenang wajah tidak setampan Richard Gere. Tenang muka tidak secantik Angelina Jolie dan seterusnya.

Cara bersyukur adalah dengan banyak ibadah kepada Allah SWT, dengan banyak shalat, membaca Al Qur’an (dan memahami makna-maknanya), mencari ilmu dan lain-lain. Atau memperbanyak kegiatan-kegiatan muamalat dengan manusia, seperti membantu orang miskin, mengajarkan kelebihan ilmu yang dimiliki, menolong orang lain yang kesusahan dan lain-lain. Bila hidup kita fokus kepada hal-hal ini –ibadah dan amal shaleh–, maka kita tidak khawatir terhadap kondisi tubuh. Mau tinggi, mau pendek, mau gembrot, mau kurus, mau cantik, mau biasa saja dan lain-lain.

Dan manusia, bila kita banyak bergaul dengan mereka, maka kita akan merasakan bila kita bergaul dengan orang yang bagus perilakunya. Enak diajak ngomong, hormat pada lawan bicara dan lain-lain. Ketika kita ngobrol dengan orang, maka kita tidak peduli apakah ia tampan atau jelek, apakah ia cantik atau tidak dan seterusnya. Meski pertamanya mungkin saja orang akan senang dengan ketampanan dan kecantikan, tapi berikutnya orang tidak peduli dengan semua itu. Untuk apa cantik kalau diajak ngomong nggak nyambung misalnya. Untuk apa tampan kalau diajak ngobrol diam saja dan seterusnya (tentu anda akan ngomong yang paling enak ngobrol dengan orang tampan dan gadis cantik yang nyambung diajak ngobrol he he he).

Kalau sudah begini itu namanya takdir. Takdir Richard Gere atau Jolie, tampan atau cantik karena lahir dari orang tua yang tampan dan cantik. Mereka tidak pernah bisa memilih lahir tampan, cantik atau biasa saja. Maka jangan lombakan hal-hal yang berkenaan dengan takdir yang ‘tidak bisa diubah’. Kasihan banyak orang lain akan irihati atau minder.

Dan itulah pentingnya iman kepada takdir. Qadha’ (keputusan-keputusan dari Allah SWT yang manusia tidak ikut campur dengannya) dan Qadar (khasiyat atau ciri khas masing benda atau tubuh manusia. Seperti api membakar, telinga mendengar bukan melihat, otak untuk berfikir dll) kepada Allah SWT. Rukun iman keenam ini. Kita lahir di Indonesia, dua artis itu lahir di Amerika (?) itu takdir. Kita tidak pernah bisa memilih lahir dimana dan siapa orang tua kita.

Dalam masalah takdir, maka manusia tidak dikenakan pahala dan dosa. Karena ia tidak bisa memilihnya. Dosa dan pahala dikenakan pada kita, pada bidang-bidang yang kita bisa memilihnya. Misalnya hari ini kita mau minum alkohol atau sprite, mau mencuri atau sedekah, mau shalat atau tidur, mau membunuh atau memijat, mau menyanyi atau menggosip (menebar fotnah) dan seterusnya.

“Maka Aku Ilhamkan jalan kekejian (fujur) dan taqwa. Sungguh beruntung orang yang menyucikan dirinya dan sungguh merugi orang yang mengotori dirinya.” Wallaahu ghafuurur rahiim. (Nuim Hidayat)





Meremehkan Dosa

19 11 2011

Bismillahirrahmanirrahiim

Di antara pintu masuk setan untuk menggoda manusia adalah mendatanginya dengan mengatakan, “Ini hanya dosa kecil, ini masih ringan.” Sehingga setan mampu menjerumuskan ke dalam kubangan dosa ini. Dengan meremehkan dosa-dosa yang telah dilakukannya, ia pun melakukan berbagai macam dosa.Ia melanggar larangan dan hukum-hukum Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Namun seorang muslim yang cerdas dan berakal, senantiasa memelihara dirinya dari berbagai noda dosa kecil dan besar. Sebab, melakukan dosa kecil akan menuntun seseorang melakukan dosa besar. Bahkan, apabila dosa-dosa kecil menumpuk pada diri seseorang, ia akan membinasakan orang tersebut.

Dari Sahal bin Sa’ad r.a ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jauhilah dosa-dosa kecil, (karena perumpamaan orang-orang yang meremehkan dosa-dosa kecil) laksana suatu kaum yang turun ke lembah suatu bukit, yang satu datang membawa kayu dan yang satu lagi membawa kayu yang lain, hingga mereka membawa kayu yang dapat memasak roti mereka.Sesungguhnya dosa-dosa kecil, jika dilakukan terus-menerus oleh pelakunya, niscaya akan membinasakannya.”
( HR. Ahmad ).

Dari Abu Hurairah r.a bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila seorang hamba melakukan satu kesalahan (dosa), maka hatinya akan dinodai satu noktah hitam; jika dia membersihkannya, meminta ampun dan bertaubat kepada Allah, noktah hitam itu akan hilang, dan jika dia berbuat dosa lagi, noktah hitam akan bertambah, hingga memenuhi hatinya. Dan inilah yang dimaksud dengan “Raan” (tutup atau dosa di atas dosa) yang disebutkan Allah di dalam firmanNya : “Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka.”(QS. Al-Muthaffifin : 14 )
(HR. Tirmidzi , Ibnu Majah ).

Dari Tsauban r.a bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya seseorang akan terhalang untuk memperoleh rezeki karena dosa yang ia lakukan.”
(HR. Ahmad ).

Abdullah bin Masud r.a berkata, “Saya menyangka bahwa oang yang lupa terhadap suatu ilmu yang pernah ia pelajari dikarenakan kesalahan (dosa) yang pernah ia lakukan.”

Sesungguhnya, meremehkan dosa kecil merupakan salah satu indikasi lemahnya iman.Sebab, setiap kali iman seseorang kuat, ia akan semakin kuat dalam memelihara diri dari dosa.

Imam Al-Bukhari menyebutkan di dalam Shahihnya, dari Anas bin Malik r.a ia berkata, “Sesungguhnya kalian melaksanakan perbuatan yang menurut kalian lebih berat daripada sehelai rambut, padahal kami menganggapnya di masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was sallam termasuk dari dosa-dosa penghancur.”
Imam Al-Bukhari berkata, “Maksudnya adalah dosa-dosa yang akan membinasakannya.”
(HR. Bukhari (11/329-Fathul Bari ).

Ada yang berkata, “Jangan melihat kecilnya dosa, tetapi lihatlah keagungan Zat yang kamu durhakai.”

Sesungguhnya rasa takut sahabat sangatlah besar, –meskipun mereka adalah umat yang paling beriman dan paling bertakwa–, namun mereka sangat takut kalau terjangkiti kemunafikan.

Hendaklah, hamba yang mau selamat tidak meremehkan dosa-dosa kecil.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada A’isyah : “Janganlah kamu meremehkan dosa-dosa kecil tersebut ada yang akan mencatatnya.”
( HR. Nasai, Ibnu Majah, Darimi ).

Dalam kitab Az-Zuhud, Asad bin Musa meriwayatkan dari Abu Ayyub Al-Anshari, “ Ada orang yang berbuat baik dan meresa yakin dengannya, dan ia melalaikan dosa-dosa kecil hingga berjumpa dengan Allah sementara dosa-dosanya bergelimpangan.Ada pula orang yang melakukan kejahatan, tetapi ia senantiasa merasa takut dan khawatir darinya hingga berjumpa dengan Allah dalam keadaan aman.”

Semoga yang sedikit ini bermanfaat.Marilah kita untuk senantiasa Mengajak Dan Menebar Kebaikan bagi para sesama.

Kami beristighfar kepada Allah.Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala melimpahkan shalawat,salam dan keberkahan kepada Nabi kita Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam, keluarga dan para shahabatnya serta seluruh pengikut beliau.

Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu alla ilaa hailla anta astaghfiruka wa atubu ilaika…

Wassalam…

http://www.facebook.com/notes/ardi-muluk/meremehkan-dosa/10150264466360760





Indonesia Butuh Pemimpin Negarawan Sejati

13 11 2011

Oleh: Ali Mustofa Akbar

Meski sesuai jadwal pilpres diselenggarakan masih sekitar dua tahun lagi, akan tetapi aroma persaingan menuju RI 1 sudah mulai menggeliat. Beredar nama-nama mentereng semacam Ani Yudhoyono, Abdurizal bakri, Prabowo, dan tak ketinggalan pula nama klasik seperti Megawati Soekarno Putri.

Sementara itu dari kalangan profesional, muncul sosok fenomenal yang pernah terlibat skandal Bank Century, Sri Mulyani. Meski bukan berasal dari partai politik, nama Sri Mulyani tampak cukup berkibar dalam peredaran. Bahkan partai SRI pun siap mengusungnya menuju pilpres mendatang. Mantan menteri keuangan ini juga baru saja mendapat “hadiah pencitraan” dari Majalah Forbes yang telah menobatkan dirinya sebagai salah satu wanita berpengaruh di dunia.

Pada pemilu 2009 lalu pun sebenarnya Sri Mulyani nyaris dipinang SBY untuk mendampingi sebagai Cawapresnya. Pertanyaannya, apakah ada kekuatan besar dibelakang wanita yang sekarang menjabat sebagai Direktur Pelaksana Bank Dunia ini.

Negri ini memang sedang mencari sosok pemimpin idaman. Pemimpin yang mampu membawa Indonesia menjadi negara merdeka sepenuhnya, bukan sekedar menghantarkan ke depan pintu gerbang kemerdekaan, sebagaimana dalam pembukaan UUD 45, belum masuk ke dalam kemerdekaan sepenuhnya.

Penjajahan ini bukan lagi dalam bentuk fisik, melainkan secara non fisik. Hal ini tercermin dari tatanan politik yang opurtunistik, ekonomi kapitalistik, sosial budaya hedonistik yang sekarang ini mewabah di negri ini.

Alhasil, Indonesia butuh seorang pemimpin yang jujur, adil dan tegas. Pemimpin yang berani mengambil keputusan tepat demi kemaslahatan bangsanya, bukan pemimpin yang peragu, pemimpin yang lebih mengerti urusan rakyatnya ketimbang urusan pribadi dan golongannya, juga bukan pemimpin yang hanya mencari restu sang tuan asing.

MR Kurnia (majalah al-waie) menyebut bahwa paradigma membentuk kepemimpinan yang kuat ialah harus memiliki tiga unsur: 1. Kualitas dan integritas personal, 2. Sistem yang diterapkan, 3. Sikap pihak yang dipimpin.

Pertama, pemimpin amat penting untuk memiliki kualitas dan integritas yang mumpuni. Tidak perlu ada dikotomi antara muda dengan tua, yang penting adalah kapabelitas. Negara yang baik hanya dapat lahir dari pemimpin yang memiliki visi menjadi pelayan masyarakat. Sementara itu, pemimpin yang hanya menipu rakyat, bermuka dua, atau menjadi antek asing jelas tidak bisa diharapkan.

Kedua, sistem yang diterapkan harus sistem terbaik. Sebagai contoh, seorang pemimpin paling hebat sepanjang masa, adalah Muhammad Saw, seorang yang mulia dan amanah, pada saat menjadi pemimpin Negara Islam Madinah saat itu juga memerlukan sebuah sistem aturan yang baik, berupa sistem Islam yang bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Ketiga, pihak yang dipimpin alias rakyat harus senantiasa melakukan kontrol terhadap pemimpin. Ketika pemimpin mengambil kebijakan yang tidak tepat, maka masyarakat meski mengoreksinya. Karena pemimpin juga manusia yang tak luput dari kesalahan. Sehingga diperlukan masyarakat yang sadar politik pula.

Sejatinya negri ini sedang terpenjara dalam kerangkeng sistem Kapitalisme-sekular. Siapapun pemimpin yang akan terpilih, selama masih dalam kerangka sistem ini maka hasilnya tetap nol, apalagi jika sampai yang terpilih adalah pengemban kapitalisme sejati.

Sudah saatnya masyarakat tidak mudah terlena dengan slogan-slogan perubahan, atau janji manis terwujudnya kesempurnaan demokrasi. Ralp Nader (1972) menjelaskan bahwa dalam sistem sekular seperti ini para kapitalis yang banyak berdaulat. Sedangkan H Newton (1963) bertutur bahwa kekuasaan diperuntukkan bagi siapa pun yang mampu membayarnya.

Karena itu, Indonesia membutuhkan pemimpin sejati untuk membawa negri ini menuju Baldatun Thoyyibatun wa Rabbun Ghofur. Pemimpin sejati adalah pemimpin yang bertaqwa, pemimpin yang mau menerapkan aturan-Nya secara keseluruhan.

Para khalifah di masa kekhilafahan Islam tentu layak untuk dijadikan panutan. Keberhasilannya dalam memimpin Negara telah mampu menorehkan tinta emas peradaban. Menjadikan masyarakat yang mulia dan sejahtera.

‘Ala kulli hal, siapapun boleh naik (asal sesuai dengan kriteria Islam). Tak perlu pula adanya perdebatan yang tidak mendasar terkait pendikotomian tua-muda. Yang paling utama, syariah Islam harus diterapkan secara kaffah dalam bingkai Negara khilafah. Karena hanya ini yang bisa diandalkan untuk menyelamatkan bangsa. Wallahu a’lam.





Kunci-kunci Surga

13 11 2011

Setiap Muslim, siapapun dia, tentu berharap masuk surga. Bahkan surga adalah puncak harapan setiap Muslim. Baik Muslim yang taat ataupun yang suka maksiat, yang adil ataupun yang fasik, yang lurus ataupun yang menyimpang, yang tunduk pada syariah ataupun yang menentang, yang pasrah kepada Allah SWT ataupun yang membantah, yang memperjuangkan syariah ataupun yang menghalangi tegaknya syariah; semuanya pasti ingin masuk surga; tak ada yang tidak menginginkan surga. Begitulah yang tampak di permukaan.
Namun, apa yang dinyatakan oleh baginda Rasulullah SAW ternyata berbeda dengan realitas atau klaim di atas. Pasalnya, Rasulullah SAW pernah bersabda, “Setiap orang dari umatku akan masuk surga, kecuali yang enggan.” Para sahabat bertanya heran, “Siapa yang enggan masuk surga, wahai Rasulullah?” Kata beliau, “Mereka yang menaati aku akan masuk surga, sedangkan yang menentang aku berarti mereka enggan masuk surga.” (HR al-Bukhari, Ahmad dan an-Nasa’i).
Karena itu, bagi seorang Muslim yang menaati Rasulullah SAW, surga tentu sedang menanti dirinya untuk dimasuki. Hanya saja, surga memiliki sejumlah pintu, dan pintu-pintu surga (bab al-jannah) memiliki kuncinya masing-masing (miftah al-jannah). Lalu apa kunci-kunci surga itu?
Ada banyak kunci surga sebagaimana yang dinyatakan langsung oleh baginda Rasulullah SAW dalam beberapa haditsnya. Tiga di antaranya adalah: ucapan La Ilaha illaLlah (kalimat at-tahlil); menegakkan shalat; mencintai orang miskin (hubb al-masakin).
Pertama: Rasulullah SAW bersabda, “Miftah al-jannah La ilaha illLlah (Kunci surga adalah Tiada Tuhan kecuali Allah).” (HR al-Bukhari). Di sini tentu yang dimaksud bukanlah sekadar mengucapkan kalimat tahlil di atas, tetapi memaknainya dengan cara merefleksikannya dalam kehidupan. Konsekuensi dari kalimat tahlil adalah: tunduk dan patuh hanya kepada Allah serta tidak membuat aturan sendiri selain aturan yang telah Allah tetapkan. Saat seorang Muslim enggan tunduk dan patuh kepada Allah SWT dengan cara tunduk dan patuh pada seluruh syariah-Nya, pada hakikatnya ia mengingkari kalimat tahlil di atas. Apalagi saat seorang Muslim malah membuat aturan sendiri yang berbeda bahkan bertentangan dengan aturan Allah SWT, yakni aturan yang menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal. Pada saat demikian, dia bukan saja mengingkari kalimat tahlil di atas, tetapi bahkan telah menyejajarkan dirinya dengan-malah menempatkan dirinya di atas-Allah SWT (Lihat: QS at-Taubah [9]: 31). Padahal Allah SWT telah menegaskan (yang artinya): Sesungguhnya hak membuat hukum itu (yakni menentukan halal-haram, pen.) adalah milik Allah semata(TQS al-An’am [6]: 57).
Kedua: Rasulullah SAW bersabda, “Miftah al-jannah ash-shalat (Kunci surga adalah shalat).”(HR at-Tirmidzi, Ahmad dan al-Baihaqi). Menegakkan shalat adalah ibadah pokok dan utama sekaligus wujud penghambaan seorang Muslim kepada Allah SWT. Tanpa menegakkan shalat, klaim seorang Muslim dalam kalimat La ilaha illalLah tentu layak dipertanyakan. Yang pasti, tanpa shalat, seorang Muslim berarti telah kehilangan salah satu kunci surga.
Ketiga: Rasulullah SAW bersabda, “Miftah al-jannah hub al-masakin (Kunci surga adalah mencintai orang-orang miskin).” (Ats-Tsa’labi, Tafsir ats-Tsa’labi, IV/184).
Refleksi kalimat tahlil dalam kehidupan dan aktivitas shalat adalah cerminan dari hubungan manusia dengan Allah SWT (habl[un] minalLah). Adapun mencintai orang-orang miskin merupakan cerminan dari hubungan manusia dengan manusia lain (habl[un] min an-nas).
Sebagian ulama menambahkan, bahwa di antara kunci surga adalah meninggalkan hawa nafsu. Imam al-Qurthubi, misalnya, mengutip Sahal, menyatakan “Miftah al-jannah tark al-hawa’ (Kunci surga adalah meninggalkan hawa nafsu).” (Al-Qurthubi, IX/208). Hawa nafsu adalah segala ucapan atau tindakan yang bertentangan dengan wahyu. Artinya, hawa nafsu adalah lawan dari wahyu. Ini sesuai dengan firman Allah SWT (yang artinya): Tidaklah yang diucapkan Rasul itu berasal dari hawa nafsunya. Ucapan Rasul itu tidak lain adalah wahyu yang diwahyukan Allah kepada dirinya (TQS an-Najm [53]: 3-4).
Jika ditelaah, meninggalkan hawa nafsu-tentu seraya mengikuti wahyu-hanyalah konsekuensi belaka dari kalimat tahlil di atas.
Itulah di antara kunci-kunci surga yang diisyaratkan oleh baginda Rasulullah SAW.
Sebaliknya, baginda Rasullah SAW pun menginformasikan kepada kita sejumlah penghalang yang bisa menghalangi kita masuk surga. Beliau, misalnya, bersabda, “Tidak akan masuk surga orang yang di dalam kalbunya terdapat sedikit saja sikap sombong (HR Muslim).”
Beliau juga bersabda, “Tidak akan masuk surga orang yang memutus tali silaturahmi (HR al-Bukhari).”
Beliau pun bersabda, “Tidak akan masuk surga orang yang gemar mengadu-domba (HR Muslim).”
Masih ada hadits-hadits senada. Pada akhirnya, semoga kita bisa mendapatkan kunci-kunci surga di atas, dan sebaliknya kita bisa menyingkirkan segala faktor penghalang yang bisa menghalangi kita masuk ke dalam surga-Nya. Amin. [] abi





Makanan Haram Berefek Negatif, Waspadalah!

22 10 2011

Rizki kita dijamin Allah. Tapi, sekalipun demikian, masih banyak orang yang menggunakan cara-cara haram dalam mencarinya. Tak sedikit di antara kita sering mengucapkan, “mencari yang halal saja susah, apalagi yang haram.” Kadangkala, pernyataan seperti ini tak hanya sebatas di mulut, bahkan sudah menjadi bagian dari hidupnya sehingga tak pernah memiliki sikap kehati-hatian dalam urusan mencari rizki.

Bagaimanapun, Islam mengajarkan umatnya mencari rizki yang halal, betatapun susahnya. Mestinya, kita ingat pesan Rasulullah SAW ini: ”Janganlah kalian malas mencari rizki, karena sesungguhnya seorang hamba itu tidak akan meninggal dunia sebelum rizki terakhir yang menjadi miliknya sampai kepadanya. Berusahalah dengan baik, mengambil yang halal dan meninggalkan yang haram.” (HR Baihaqi dan Hakim).

Seorang mukmin wajib mencari rizki dengan cara terhormat. Ia harus yakin dengan kemurahan Allah. Pesan Nabi SAW soal rizki yang harus kita cari dengan cara yang baik selaras dengan ajaran Allah.

هُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ ذَلُولاً فَامْشُوا فِي مَنَاكِبِهَا وَكُلُوا مِن رِّزْقِهِ وَإِلَيْهِ النُّشُورُ

“Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu. Maka, berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rizki-Nya.” (QS Al-Mulk [67]: 15).

وَكُلُواْ مِمَّا رَزَقَكُمُ اللّهُ حَلاَلاً طَيِّباً وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِيَ أَنتُم بِهِ مُؤْمِنُونَ

“Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezekikan kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya.” (QS. Al Maidah 5:88 )

Allah meminta kita untuk mengumpulkan harta dengan cara yang halal, lalu membelanjakannya dalam hal yang halal pula. Kelak, dari mana harta kita peroleh dan untuk apa digunakan harus kita pertanggungjawabkan. Ketahuilah, pada hari kiamat nanti kedua telapak kaki seorang hamba tidak akan beranjak sebelum dia ditanya tentang lima hal; tentang usianya untuk apa dihabiskan, tentang masa mudanya untuk apa dilewatkan, tentang ilmunya untuk apa diamalkan, tentang hartanya dari mana didapatkan serta untuk apa dibelanjakan, dan tentang waktunya untuk apa digunakan.

Allah itu MahaBaik dan hanya mau menerima yang baik-baik saja. Maka, siapa yang mengumpulkan harta dari yang halal, kemudian dia belanjakan untuk hal-hal yang halal, dia adalah orang yang pantas selamat dan bahagia. Sebaliknya, siapa yang menghimpun harta dari yang haram, dia adalah orang yang pantas mendapat balasan siksa kendatipun ia membelanjakannya untuk kebaikan-kebaikan.

Seorang mukmin harus yakin pada karunia Allah. Maka, kita harus selektif dan berhati-hati dalam mencari rizki. Islam melarang mencuri, merampas hak orang lain, menipu, curang, dan terlibat suap-menyuap. Islam mengategorikan setiap harta yang diterima tanpa melalui cara-cara yang dibenarkan syariat sama dengan memakan harta dengan bathil.

Menentukan ‘Wajah’ dan menghalangi Doa

Allah itu MahaBaik, dan hanya mau menerima yang baik-baik saja. Maka, tinggalkanlah yang haram! Barangsiapa memakan yang haram, maka doanya tidak dikabulkan selama empat puluh hari. Itu pesan Nabi kita.

Rasulullah SAW menceritakan tentang seorang pengembara berambut kusut dan dengan wajah bersimbah debu yang makanannya haram, pakaiannya haram, rumahnya haram, dan yang dibawanya juga haram. Ia berdoa, “Yaa Allah, Yaa Allah,” agar diperkenankan doanya. Namun, bagaimana doa itu akan dikabulkan Allah, sementara yang dikonsumsinya adalah makanan haram?

Umar bin Khaththab RA mengatakan: Pada Perang Khaibar, beberapa sahabat Nabi SAW muncul dan berkata, ”Si Fulan gugur sebagai syahid, dan si fulan gugur sebagai syahid”. Lalu, mereka menyebut seseorang dan berkata,”Si Fulan juga gugur sebagai syahid”. Nabi SAW bersabda, “Sekali-kali tidak, karena sesungguhnya aku melihatnya berada di neraka gara-gara mantel yang dicurinya dari harta ghanimah sebelum dibagikan.”

Hari ini, bangsa kita diguncang penyakit korupsi. Kata lain praktik pencurian yang dilakukan para pejabat di berbagai instansi. Kita semua sering mengecam perilaku ini. Sayang, kadang, secara tak terasa, kita sudah mempraktikkannya secara kecil-kecilan.

Misalnya, minta bon kosong agar bisa memark-up uang perusahaan, mengurangi timbangan, mencuri bensin, korupksi waktu, bekerja di tempat-tempat yang mendukung maksiat dll.

Bagaimanapun, jika kita bekerja dengan tidak baik atau di tempat tidak baik, peluang rizki tidak halal kemungkinan kita peroleh.

Karena itu, carilah makanan yang halal dan dari usaha yang diridhai-Nya, supaya Allah berkenan menerima amal dan mengabulkan doa kita.

Cermatilah ini: Sa’ad bin Abi Waqqash RA datang menemui Nabi SAW dan berkata: ”Wahai Rasulullah SAW, tolong berdoalah kepada Allah SWT agar Dia berkenan menjadikan aku orang yang doanya dikabulkan”. Nabi SAW bersabda: “Wahai Sa’ad, makanlah yang halal-halal, niscaya doamu dikabulkan. Sesungguhnya Allah memerintahkan orang-orang yang bertakwa seperti yang Dia perintahkan kepada para Rasul.”

Allah sangat menganjurkan umat Islam mencari makanan yang baik-baik dan halal saja.

يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحاً إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ

”Hai Rasul-Rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang shalih. Sesungguhnya Aku MahaMengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS Al-Mu’minun [23]: 51).

Perintah Allah di atas itu sangat penting, antara lain karena mengandung hikmah. Sebab makanan berpengaruh dominan bagi orang yang mengomsumsinya.

Syeikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan, pernah mengatakan, makanan (yang halal maupun yang haram), tak hanya berpengaruh kepada hati dan perilaku individu saja tapi juga berefek kepada masyarakat.

Masyarakat yang mengonsumsi makanan halal dan didominasi kejujuran dalam bermuamalah, maka warganya akan tumbuh menjadi sebuah komunitas yang bersih, saling menolong, dan kokoh.

Sementara, masyarakat yang terbelit praktik risywah (suap-menyuap) atau korupsi, tipu-menipu dan tersebarnya makanan yang haram, akan menjadi komunitas yang ternoda, tercerai-berai, individualistis, tak mengenal kerjasama untuk saling menolong, hina di mata masyarakat lain, dan juga menjadi ladang subur berkembangannya sifat-sifat buruk lainnya.

Makanan-makanan yang buruk bisa merusak tabiat manusia.

Menurut Ibnu Taimiyyah (majmu’ Fatawa 10/21), Allah mengharamkan makanan-makanan yang buruk lantaran mengandung unsur yang menimbulkan kerusakan, baik pada akal, akhlak maupun aspek lainnya. Keganjilan perilaku akan nampak pada orang-orang yang menghalalkan makanan dan minuman yang haram, sesuai dengan kadar kerusakan yang dikandung makanan tersebut.

Selain itu, makanan juga mempengaruhi doa kita dikabulkan atau tidak. Semakin banyak masuk makanan haram dan riba, semakin kecil doa kita diterima.

Rasulullah berkata, “Wahai Sa’ad, perbaikilah (murnikanlah) makananmu, niscaya kamu menjadi orang yang terkabul do’anya. Demi yang jiwa Muhammad dalam genggamanNya. Sesungguhnya seorang hamba melontarkan sesuap makanan yang haram ke dalam perutnya maka tidak akan diterima amal kebaikannya selama empat puluh hari. Siapapun yang dagingnya tumbuh dari yang haram maka api neraka lebih layak membakarnya.” (HR. Ath-Thabrani)

Jadi, berhati-hatilah! Marilah kita mencari rizki yang halal dan dengan cara halal pula. Selain itu, marilah sebagian rizki yang halal tadi kita belanjakan untuk mendapatkan makanan yang halal dan baik.

Miftahuddin, penulis adalah dosen STAIL Pesantren Hidayatullah Surabaya
(hidayatullah.com)





IMAN DAN ISTIQAMAH

19 10 2011

Oleh : Yahya Abdurrahman

… ‘Abu Amru Sufyan bin Abdullah ats-Tsaqafi ra. berkata: Aku berkata, “Wahai Rasulullah, katakan kepada diriku perkataan tentang Islam yang tidak perlu lagi aku tanyakan kepada seseorang selain dirimu. Nabi saw. bersabda, “Katakantah, Aku beriman kepada Allah.’ Kemudian beristiqamahlah.” (HR Muslim dan Ahmad).

Hadis ini juga diriwayatkan dengan lafal sedikit berbeda dan disertai tambahan di akhirnya dari Sufyan bin Abdullah ats-Tsaqafi (HR Ahmad, at Tirmidzi, Ibn Majah, ad-Darimi dll).

Hadis ini memuat pesan induk yang menghimpun semua kalimat. Pesan Rasul saw. ini merupakan jawaban dari permintaan Sufyan bin Abdullah ra. agar diberi pesan yang bisa dijadikan pegangan sehingga ia tidak perlu lagi bertanya atau meminta pesan lainnya kepada orang lain.

Rasul saw. berpesan. “Katakan (ikrarkan). ‘Aku beriman kepada Allah.’ Kemudian beristiqamahlah.” Pesan ini diambil dari firman Allah dalam Surat Fushshilat [41 ]: 30 dan al Ahqaf [46]:13-14.

Pesan ini menunjukkan bahwa keimanan itu merupakan dasar dan yang pertama. Maksud iman kepada Allah itu adalah mentauhidkan Allah SWT. Hal itu mencakup semua bentuk pentauhidan, baik tauhid utuhiyah, rububiyah maupun asma’ wa shifat: juga mencakup tauhid al-hakimiyah—bagian dari tauhid rububiyah—yaitu mentauhidkan Allah SWT sebagai satu-satunya yang berhak membuat hukum.

Setelah keimanan, beliau lalu memerintahkan agar kita membangun keistiqamahan atas dasar keimanan itu. Kata tsumma (kemudian) itu menunjukkan urutan. Artinya, keistiqamahan itu bukan sebelum keimanan. Ini menunjukkan, keistiqamahan yang diperintahkan adalah keistiqamahan atas dasar keimananan, bukan yang lain. Perintah agar istiqamah juga dinyatakan dalam firman Allah SWT:

Katakanlah, “Sesungguhnya aku hanyalah seorang manusia seperti kalian, diwahyukan kepada diriku bahwa Tuhan kalian adalah Tuhan yang Maha Esa. Karena itu, beristiqamahlah kalian menuju kepada-Nya dan mohonlah ampunannya. (QS Fushshilat [41]: 6).

Allah SWT pun memberitahukan bahwa orang yang beriman lalu beristiqamah tidak akan merasa takut, tidak akan bersedih hati dan akan mendapat pahala surga (lihat QS Fushshilat: 30, Al-Ahqaf: 13, al-jin: 16).

Syaikh Shalih bin Abdul Aziz Ali asy-Syaikh di dalam bukunya Syarh al-Arba’in an Nawawiyah menjelaskan, bahwa kata istiqamah itu menggunakan wazan istafala, maknanya bisa thalab (permintaan), misal istaghfara artinya thalab at-gufran (meminta ampunan); bisa juga bermakna luzum at-washfi wa katsratu at-ittishafi bihi wa ‘azhmu al ittishafi bihi (menetapi suatu sifat dan banyak serta besarnya menyifati diri dengan sifat itu), misal istaghnaLlah (QS at-Taghaabun: 6). Kata istiqamah adalah menurut makna yang kedua ini. Jadi dalam konteks ini istigamah maknanya memiliki sifat iqamah (menegakkan, meluruskan atau mengerjakan), banyak memiliki sifat itu dan menetapi sifat itu, tidak berubah dan tidak berganti dari sifat itu. Karena itu, istiqamah maknanya adalah tegak dan lurus di atas keimanan dan di atas agama Islam, banyak menyifati diri dengan itu dan menetapinya. Ringkasnya, istiqamah adalah ats-tsabat ‘ala ad-din (teguh secara kontinu di atas agama).

Karena itu, istiqamah itu seperti dijelaskan oleh Ibn Rajab al-Hanbali di dalam jami’ al ‘Ulum wa al-Hikam, yakni bertindak sesuai jalan (agama) yang lurus yaitu Islam tanpa menyimpang ke kiri atau ke kanan; dan hal itu mencakup melaksanakan semua aktivitas ketaatan zahir maupun batin, dan meninggalkan semua yang dilarang.

Imam an-Nawawi di dalam Syarh al Arba’in juga menjelaskan, bahwa dalam pesan itu Nabi saw. menyuruh Sufyan (tentu juga kepada kita) untuk memperbarui keimanannya dengan lisannya dan selalu ingat dengan hatinya. Nabi saw. pun menyuruh kita untuk istiqamah di atas amal-amal ketaatan dan menjauhi seluruh penyimpangan. Sebab, istiqamah itu tidak akan datang seiring dengan suatu kebengkokan, sebab itu adalah lawannya. Imam an-Nawawi juga menambahkan, yakni berimanlah kepada Allah SWT semata, kemudian beristiqamahlah di atas hal itu dan di atas ketaatan sampai dimatikan oleh Allah. Umar bin al-Khaththab berkata, “Beristiqamahlah di atas ketaatan kepada Alah dan jangan kalian menyimpang.”

Maknanya, luruslah dalam memperbanyak ketaatan kepada Allah baik dalam bentuk aqad (muamalah), perkataan atau perbuatan, dan kontiniu/langgenglah di atas hal itu.

Dengan demikian istiqamah yang sempurna dalam segala hal adalah tegak dan lurus di atas keimanan yang benar dan sempurna, melaksanakan dan menetapi semua bentuk ketaatan serta menjauhi semua bentuk kemaksiatan lahir maupun batin dalam semua keadaan dan kesempatan.

Istiqamah secara sempurna dalam segala hal artinya tidak pernah bermaksiat dan itu tentu mustahil. Karena itu, yang diperintahkan adalah agar kita berupaya semaksimal mungkin untuk mendekati keistiqamahan yang sempurna itu dan hendaknya diiringi dengan senantiasa meminta ampunan. seperti itulah yang diperintahkan Allah SWT dalam QS Fushshilat ayat 6 di atas.

Allahumma Anta Rabbuna fa[u]rzuqna al-istiqamah.








%d blogger menyukai ini: