Ibu Kaulah Inspirasiku

17 01 2012

Desember dijadikan momen sebagian orang merayakan keberadaannya, yaitu sering disebut sebagai hari ibu yang jatuh pada tanggal 22 des. Berbagai macam orang didunia memandang sosok ibu, ada yang memandang bahwa sosok ibu yang lemah lembut,perhatian kepada anak tapi ada juga karena perjuangan beliau membesarkan dan menafkahi anak-anaknya. Banyak kita melihat fakta yang terjadi disekitar kita, seorang ibu yang rela menjadi tukang becak,seorang ibu yang mestinya dirumah harus bekerja, membanting tulang juga untuk membantu ekonomi keluarga karena imbas krisis ekomoni serta kebutuhan hidup yang semakin mencekik tenggorokan saja.Bahkan pada kondisi seperti ini,mereka seakan harus memikul beban ganda, di satu sisi,selain dari yang disebutkan mereka juga dituntun menjadi benteng keluarga, menjaga anak-anak dan mengurusi rumah tangga.
Jika kita melihat lebih teliti lagi mengenai peristiwa yang banyak tejadi disekitar kita adalah karena faktor kemiskinan yang melanda negeri ini, tingkat pendidikan yang rendah. Perlu kita lihat lagi kenapa semua ini terjadi? Apakah ada yang salah? Apakah yang salah adalah pemimpinnya atau ada yang lebih krusial? Jika memandang semua terjadi karena pemimpin kita yang hanya mementingkan dirinya sendiri, hanya ingin mengembalikan modal, haus dengan kekuasaan, dan pengelolaan sumber daya manusia serta alam yang tidak efisien. Namun perlu kita teliti lagi, penyebab utama terjadinya semua ini, sistem kapitalismelah yang membuat sengsara karena sistem ini memang memiliki watak imprealistik dan ekploitatif,dan itu tercermin dalam berbagai aturan hidup bebas yang dilahirkannya. Di bidang politik,kapitalisme menciptakan situasi dimana yang kuat menindas yang lemah. Paradigma hubungan rakyat-penguasa yang dibangun olehnya tak lebih sebagai hubungan penjual dengan pembeli,dan negara diminimalisir peranya dalam mewujudkan kesejahteraan rakyat. Begitupun di bidang sosial dan budaya, kapitalisme telah menjadikan kemanfaatkan dan kebebasan sebagai “agama yang dipuja”.
Berbagai data perkembangan dunia sepuluh tahun terakhir memang menunjukkan bahwa penerapan kemiskinan dan mewujudkan kesejahteraan yang digembar-gemborkan PBB melalui program pengarusutamaan KKG dan proyek MDGs. Bagaimana bisa angka kemiskinandan kelaparan bisa diturunkan jika pembangunan ekonomi sektor riil mandeg akibat kebijakan pasar bebas dan privatisasi aset-aset strategis milik rakyat.
Kita bisa fahami bahwa siistem kapitalisme sangan ilusi sekali bisa mensejahterakan rakyat, tak terkecuali perempuan. Sekarang saatnya menguji kemampuan sistem islam sebagai sistem pengganti kapitalisme. Sistem islam yang diimplementasikan secara riil oleh institusi negara yaitu Khilafah Islamiyah. Kesejahteraan diartikan sebagai terpenuhinnya seluruh potensi yang dimiliki manusia secara optimal,baik yang terkait dengan pemenuhan kebutuhan pokok seperti sandang,pangan,papan,pendidikan,kesehatan dan keamanan termasuk agama sebagai tuntunan hidup, serta pemenuhan kebutuhan pelengkap baik berupa kebutuhan sekunder maupun tersier.
Jaminan pemenuhan kebutuhan pokok berupa barang(pangan,sandang, dan papan) dalam islam diwujudkan dalam bentuk pengaturan mekanisme sebagai berikut,
1.Setiap laki-laki yang mampu bekerja,pertama kali islam mewajibkan untuk berusaha sendiri dalam rangka memenuhi kebutuhannya dan keluarganya. Adapun terhadap perempuan, islam tidak mewajibkan mereka untuk bekerja,tetapi islam mewajibkan pemberian nafkah kepada mereka, sampai-sampai ketika suami/ayah yang wajib memberi nafkah kepada mereka ada dalam kondisi tidak mampu baik karena cacat, sakit keras atau lemah, maka kewajiban memberi nafkah berpindah kepada ahli waris atau keluarga terdekat yang mampu, seperti pada firman ALLAH Qs al-baqarah: 233.
2.Mewajibkan kerabat dekat membantu saudaranya seperti pada firman ALLAH Qs Al-Baqarah:233
3.Mewajibkan negara untuk mengurus rakyat miskin
Saat pemenuhan kebutuhan pokok berupa barang ini ternyata tidak bisa dipenuhi oleh suami/ ayah atau kerabat ayah atau ahli waris atau kerabat dekat mereka,islam menetapkan kewajiban atas negara. Dalam pandangan Islam Negara bertindak sebagai pemelihara dan pengatur urusan rakyatnya danbertanggung jawab mewujudkan kemaslahatan bagi mereka melalui penerapan hukum islam secara kaffah.
Rasulullah SAW bersabda:
“Seorang Imam seperti penggembala dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang digembalakannya”(al-hadist)
4.Mewajibkan kaum muslim membantu rakyat miskin
Rasulullah saw, juga bersabda
“ Siapa saja yang jadi penduduk suatu daerah,dimana diantara mereka terdapat seseorang yang kelaparan,maka perlindungan ALLAH Tabaraka Wata’ala terlepas dari mereka(HR Imam Ahmad)
Sedangkan terkait kebutuhan pokok berupa jasa dan bersifat kolektif(pendidikan,kesehatan,dan keamanan),islam telah menetapkan mekanisme secara langsung yaitu pemenuhan langsung oleh negara.
Nabi Saw bersabda:
Imam itu adalah pemimpin dan dia bertanggungjawab terhadap rakyatnya.
Syariah islam telah memerintahkan negara untuk menjamin kebutuhan kolektif warga negara tanpa membedakan kaya dan miskin. Warga negara dipelihara oleh negara hingga menjadi masyarakat yang cerdas,sehat,kuat dan aman.
Jalan satu-satunya mengembalikan kemulian umat sekaligus meraih kesejahteraan dan kebahagian hakiki hanyalah dengan mencampakkan aturan-aturan hidup sekuler dan kembali pada sistem islam. Karena islam baik dalam tatanan konsep maupun praktik telah terbukti mampu menjadikan umat islam sebagai umat terbaik, dimana setiap orang termasuk para ibu dan anak-anak mampu merasakan kesejahteraan dibawah naungannya selama rentang waktu yang sangat panjang. Hukum islam hanya bisa diterapkan secara kaffah dalam sistem islam yang diimplikasikan dalam bentuk negara yang disebut Negara Khilafah Islamiyah.
By Siti





Pentingnya Peran IBu

17 01 2012

Melihat wanita menjadi sopir kendaraan umum busway misalnya, bukanlah pemandangan yang aneh. Jangan heran juga jika ada ibu-ibu mengayuh becak di sekitar anda. Pekerjaan-pekerjaan berat (baca: pekerjaan lelaki) tersebut tidak canggung dilakoni oleh wanita saat ini. Kebutuhan ekonomi yang mendesak dan ide pemberdayaan ekonomi perempuan yang didengung-dengungkan oleh kaum feminis telah menyihir wanita-wanita Indonesia untuk terjun langsung di sektor ekonomi.
Dengan dalih pemberdayaan ekonomi perempuan tidak hanya akan memberi keuntungan, tetapi juga memberi solusi dari persoalan keluarga termasuk masalah perekonomian negara, maka dicanangkanlah program pemberdayaan perempuan berdasarkan Instruksi Presiden RI No.9 Tahun 2000 Tentang Pengarusutamaan Gender dalam Pembangunan Nasional Tanggal 19 Desember 2000.
Benarkah dengan pemberdayaan ekonomi perempuan ini bisa memperbaiki ekonomi keluarga-keluarga Indonesia yang notabene hampir 50% nya ini berada dalam kemiskinan?
Program pemberdayaaan ekonomi perempuan tersebut telah menggeser peran perempuan sebagai ibu menjadi ‘kepala’ rumah tangga yang harus menafkahi keluarga. Hal ini terjadi lantaran diterapkannya sistem kapitalisme yang secara nyata menunjukkan perlakukan keji terhadap perempuan karena menilai perempuan sebagai komoditi yang layak dieksploitasi demi mendatangkan materi. Kapitalisme juga mengukur partisipasi perempuan dalam pembangunan bangsa hanya dari kontribusi materi.
Program-program pemberdayaan ekonomi perempuan yang digencarkan oleh pemerintah, hanya bersifat parsial dan tidak menyentuh akar permasalahan mengenai kemiskinan. Padahal kemiskinan merupakan persoalan seluruh lapisan masyarakat, bukan hanya persoalan perempuan. Terlebih lagi penyebab kemiskinan saat ini, sifatnya struktural akibat diterapkannya sistem kapitalis.
Lalu apa hasil yang sudah dirasakan oleh bangsa ini dengan dilakukannya program pemberdayaan ekonomi perempuan? Apakah sesuai dengan harapan ataukah sebaliknya?
Ide pemberdayaan perempuan telah menambah tingkat perceraian akibat ketimpangan ekonomi keluarga, rusaknya generasi akibat rendahnya perhatian orang tua khususnya ibu, meningkatnya single parent dan rendahnya keinginan untuk menikah karena ingin menjadi wanita karir atau TKW.
Sistem ini pula yang menyebabkan seorang ibu tidak lagi memperhatikan apa peran utamanya sebagai istri dan ibu. Ketika mereka sibuk dengan pekerjaannya mencari nafkah. Yang seharusnya mereka lakukan adalah melayani suami, menjaga diri ketija ditinggal suami, dan mendidik anak-anaknya. Namun demi sesuap nasi mereka rela menelantarkan anak-anaknya dan dan diserahkannya kepada orang lain. Bahkan ada pula ibu yang membunuh anaknya karena takut tidak bisa memberi nafkah anaknya.
Begitulah potret kehidupan sekarang, hanya beberapa orang saja yang sadar akan kewajibannya. Istri yang benar-benar melayani suami, benar-benar mendidik anak. Sebagaimana bahwa ibu adalah madrasah utama dan pertama pada anak.ibu kah yang paling dekat anak, ibu yang akan memperhatikan perkembangan anak, ibu lah yang akan menjadi generasi-generasi yang luar biasa.
Kebutuhan seorang istri adalah kewajiban suami untuk memenuhinya, hukum seorang perempuan bekerja adalah mubah, sehingga jika bekerja maupun tidak dia tidak mendapatkan dosa maupun pahala, namun jika pekerjaan itu dpat melelaikan kewajibannya maka hukum bekerja itu bisa mengarah pada kemudharatan.
Dalam islam perempuan sangat terjaga, dia berada dirumah bersama keluarganya untukk mendidik anak-anaknya, kegiatannya bisa dilakukan dirumah atau tempat-tempat muslimah, masih bisa mengkaji ilmu, berkumpul dengan muslimah yang lain asal bermanfaat namun mereka tidak pernah melalikan kewajibannya. Sehingga lahirlah pejuang-pejuang islam yang tangguh dari ibu yang luar biasa juga tentunya.
Seperti imam syafi’i umur 7 tahun sudah bisa menghapal Alqur’an tentu itu semua karena bimbingan ibu dan dalam awasan ibu, sianak tidak boleh makan barang haram maupun subhat. Kemudian ada muhammad Alfatih sang penakluk konstantinopel tantu dibalik itu semua ada ibu yang selalu memberikan sugesti bahwa dia lah panglima terbaik. Dan masih banyak pejuang islam yang sangat luar biasa peranannya dalam membentuk generasi luar biasa. Bandingkan dengan ibu dalam kehidupan kapitalisme ini. Anak perempuan pacaran sampai hamil diluar nikah dibolehkan, anak perempuan keluar dengan pakaian terbuka dipersilakan, malah ada ibu yang khawatir kalo anaknya tidak pacaran atau tidak pakai pakaian yang terbuka. Anak selalu saja ditinggal bekerja walaupun bertemu sabtu dan minggu namun itu masih kurang bagi mereka. Sehingga tidak heran jika anak dekat dengan pembantu, dekat dengan tetangga dll.
Masa depan seorang anak ada ditangan ibu, ibu mesti mendidik anak dengan aqidah yang shohih. Inilah sebenarnya tugas seorang ibu. Lelahnya ibu akan diganti Allah dengan syurga, dan dibawah telapak ibu ada syurga, tentunya ibu lah orang yang paling dihormati setelah ayah.
Semoga kaum perempuan dibumi ini menyadari bahwa pentingnya peran ibu dalam pendidikan kepada anak, dan jangan sampai dengan berbagai program kapitalisme yang mengharuskan ibu bekerja atau menyuruh ibu tidak lagi terlalu memperhatikan anak kita mengikutinya sehingga kita lalai dari kewajiban yang sudah Allah berikan
Dan tentu lah sebagai anak yang baik kita harus hormat kepada orang tua karena beliau lah yangselama hidup kita bejasa dan telah membuat kita luar biasa. Allahu’alam bishawab
Rizka Afizzatul Umi
Mahasiswa FKIP UNLAM Banjarmasin.





Mulianya Peran “ibu”

17 01 2012

Suatu ketika ada seorang bayi yang siap dilahirkan. Sebelum dilahirkan dia bertanya kepada Tuhan. “ya Tuhan, Engkau akan mengirimku ke bumi. Tapi aku takut. Aku masih kecil dan tak berdaya. Siapakah nanti yang akan melindungiku di sana?”
Tuhan pun menjawab, “di antara semua malaikat-Ku, Aku telah memilihkan seorang yang khusus untukmu. Dia akan merawat dan mengasihimu” Si kecil bertanya lagi, “Tapi disini, di surga ini, aku tidak berbuat apa-apa, selain tersenyum dan bernyanyi. Semua itu cukup membuatku bahagia” Tuhan menjawab lagi,”Tak apa, malaikatmu itu akan selalu menyenandungkan lagu untukmu, dan dia akan membuatmu tersenyum setiap hari. Kamu akan merasakan cinta dan kasih sayang. Itu akan membuatmu bahagia.”
Namun si kecil bertanya lagi, “bagaimana aku bisa mengerti ucapan mereka, bila aku tidak mengerti bahasa mereka?”
Tuhanpun menjawab, “Malaikatmu akan membisikkan kata-kata paling indah, dia akan selalu bersabar di sampingmu, dia akan mengajarimu bicara dengan bahasa manusia”
“Lalu  bagaimana jika aku ingin bicara padaMu, Tuhan?”
Tuhan menjawab,”Malaikatmu akan membimbingmu, dia akan menengadahkan tangannya bersamamu, dan mengajarkanmu untuk berdoa” Lagi-lagi si kecil menyelidik,”Namun aku mendengar, disana, banyak sekali orang jahat, siapa yang akan melindungiku nanti?”
Tuhanpun menjawab, “Tenang, malaikatmu akan terus melindungimu, bahkan hingga nyawa yang menjadi taruhannya. Dia sering melupakan kepentingannya sendiri untuk keselamatanmu”
“Ya Tuhan, tentu aku akan sedih jika tak melihatMu lagi” Tuhan menjawab lagi, “Malaikatmu akan membimbingmu untuk selalu mengingatKu, dia akan mengajarkan keagunganKu. Walau begitu, Aku akan selalu tetap di sisimu”
Hening, kedamaianpun menyeruak. Suara panggilan dari bumi terdengar sayup. “Ya Tuhan, aku akan pergi sekarang. Tolong, sebutkan nama malaikat yang akan melindungiku…”
Tuhanpun kembali menjawab, ” Nama malaikatmu tak begitu penting. Kamu akan memanggilnya dengan sebutan: Ibu…”
Rasullullah saw. Bersabda:
“Kalian semua adalah pemimpin. Dan kalian semua akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipmpinnya. Seorang suami adalah pemimpin di rumah tangganya, dan dia bertanggungjawab atas apa yang dipimpinnya. Seorang wanita (ibu) adaah pemimpin di rumah suaminya dan anak-anaknya, dan dia bertanggungjawab atas apa yang dipimpinnya.”(Muttafaq’alaih)
Ya, ibu…islam telah menggambarkan peran ibu sebagai pengatur rumah tangga, mencetak dan mendidik generasi. Jika peran itu dapat terlaksana dengan baik maka surga bagi wanita yang bergelar ibu, betapa tidak dari awal, ibu telah mengandung janinnya selama sembilan bulan (bahkan ada yang lebih). Hari demi hari semakin merasakan beratnya kandungan dan ditambah rasa sakit saat melahirkan yang tak terdefinisi lg bagaimana sakitnya karena memang terlalu sakit hingga akhirnya bainya lahir, ibupun berdoa kepada Allah agar yang dilahirkannya menjadi anak yang sholeh dan menghadirkan kebahagiaan-kebahagian dalam kehidupanya. Kemudian selama hampir dua tahun memberikan ASI sebagai makanan terbaik bagi bayinya, menyusui, mendekap dalam pelukan hangat. Pun ketika sudah anak-anak dan dewasa seorang ibu tetap memperhatikan anaknya, kasih ibu bagai lingkaran yang tak ada akhirnya. Wajar jika islam memberikan penghormatan yang begitu besar pada seorang ibu. Abu Hurairah ra meriwayatkan bahwa seseorang datang kepada Rasullullah saw dan bertanya, ‘wahai Rasullullah siapa orang yang paling berha saya perlakukan dengan baik?’Rasulullah bersabda,”Ibumu”, dia bertanya, “setelah itu siapa?” Rasulullah menjawab,”Ibumu”, dia bertanya lagi, “setelah itu siapa”Rasulullah menjawab,”Bapakmu.”(HR.Bukhari-Muslim).
Rasululah juga bersabda:”Karena sesungguhnya surga itu dibawah telapak kaki ibu”.(HR Ahmad dan al-Nasa’i)
Kemuliaan ini terletak pada peran wanita sebagai ibu, akan tetapi jika kita melihat kondisi sekarang peran ibu sebagai menejer keluarga perlahan tapi pasti mulai bergeser pada sesuatu yang sangat tidak sebanding. Karena tidak semua wanita yang menjalankan peran keibuannya dengan baik. Bisa jadi anak yang keluar dari rahimnya adalah anak hasil perzinahan, padahal sejatinya sejak awal, sang ibu harusnya telah menyiapkan benih yang akan dikandungnya adalah benih terbaik dari memilh calon ayah yang memiliki kepribadian islam dengan cara yang benar dalam bingkai pernikahan. Bisa jadi pula ibu tidak ingin merasakan sakit ketika melahirkan hanya karena enggan merasakan penderitaan, padahal perjuangan saat melahirkan merupakan aktivitas setara dengan pahala pejuang fii sabiilllah dengan ganjaran syurga. Bisa jadi pula ia tidak merasa perlu menyusui bayinya hanya karena bia menghambat karier atau khawati merusak bentuk badan. Merawat dan mengasuh bayinya pun tidak di anggap penting karena toh bisa diserahkan kepada baby sitter. Bila demikian ia, maka ia telah mengabaikan peran keibuanya yang menjadi hak anaknya. Lalu bagaimana bisa dikatakan bahwa syurga ada pada telapak kakinya? Sebagian ada yang merasa mulia dan percaya diri jika bekarja, menduduki jabatan penting dan kariernya cemerlang, mereka rela bekerja walaupun tempatnya jauh atau full dari pagi sampai sore/mala. Akibatnya, mereka jarang bertemu dengan anaknya meskipun satu rumah. Sering saat mereka pergi anaknya belum bangun , dan saat mereka pulang aaknyasudah tidur. Inilah salah satu dampak dari ideologi kapitalisme dan liberalisme yang justru merendahkan wanita bukan memuliakannya sebagai ibu. Saat mereka harus bekerja sampai meninggalkan kewajiban utamanya sebagai ibu dan pengatur rumah tangga. Sebab yang demikian bisa menjadikan suami dan anaknya kurang perhatian. Anak anak tumbuh tanpa bimbingan orang tua terutama ibu, karena ibu mereka hampir setiap hari keluar rumah. Televisi dan jalanan pun lantas menjadi ibu pengganti, bahkan tak sedikit anak yang terpaksa harus memikul beban ekonomi dengan bekerja. Lalu lahirlah persoalan-persoalan kruasial lainnya; keuarga yang rapuh dan rentan perceraian, anak-anak bermasalah yang kehilangan masa depan, terasuk kriminalitas menyangkut perempuan dan anak; trafficking, AYLA (anak yang dilacurkan) dan lain-lain. Pada saat yang sama, umatpun kehilangan kekuatan dan terancam kehilangan masa depan, lost generation!
Ibu yang mulia adalah ibu yang bertakwa, yang mampu menjalankan perannya sesuai tuntunan syariah islam, mereka mengatur rumah tangganya dengan baik hingga mampu menciptakan suasana kondusif bagi suami dan anak-anaknya serta memiliki peran di masyarakat untuk membawa masyarakat pada islam untuk menggapai kemuliaan. Ibu juga merupakan madrasah (sekolah) utama dan pertama bagi anak-anaknya. Peran ini adalah peluang bagi ibu untuk memperoleh amal jariyah dengan membentuk anak yang sholeh.
By:Ina





Peran Emas Seorang Ibu..

17 01 2012

Suatu hari ada seorang sahabat mendatangi Rasulullah. Lelaki tersebut hendak menanyakan tentang bagaimanakah hendaknya ia memperlakukan ibunya dalam berbakti dalam hidupnya. Rasulullah pun menjawab bahwa seorang ibu memiliki hak yang sangat besar dalam masalah berbaktinya anak kepada orang tua. Seorang ibu memiliki perbandingan 3 kali lebih utama dibanding ayah (3:1) dalam pemrioritasan kebaktian seorang anak kepada orang tua. Sekali lagi, Nabi menyebut kedudukan ibu hingga 3 kali baru kemudian kedudukan seorang ayah 1 kali manakala lelaki tersebut menanyakan bagaimanakah hendaknya dia memperlakukan kedua orang tuanya [Diriwayatkan oleh Imam Bukhari). Kisah dari hadis yang sudah sangat terkenal dan dipegang kuat oleh umat Muhammad SAW tersebut membuktikan bahwa Islam sangat memuliakan kaum perempuan. Namun bentuk penghormatan Islam kepada kaum hawa memang sangat berbeda dengan yang dilakukan oleh Barat. Barat memang seolah-olah menjunjung tinggi hak-hak perempuan dengan berbagai program mereka yang terangkum dalam Proyek besar mereka yang bernama kesetaraan jender dalam berbagai bidang. Dalam kesetaraan jender versi barat, wanita diperbolehkan bahkan sangat didukung untuk masuk ke segala bidang kehidupan. Jadi kuli batu, jadi tentara, jadi sopir, jadi single parents.Pokoknya hampir segala bidang kehidupan yang mengandung Maskulinitas hendak mereka jamahi. Jika dalam Islam yang ideal seorang wanita hendaknya berada di rumah membangun keluarga yang baik dan peran mencari nafkah dilakonkan pada lelaki (ayah), maka hal itu dianggap sebagai pengekangan oleh Barat. Barat menganggap penataan keluarga model Islam semacam itu kuno dan mencederai keadilan Jender karena peran wanita dikesampingkan. Mereka (Barat) berdalih jika seorang wanita berada di rumah dan menjadi seorang ibu rumah tangga maka potensi besar kaum perempuan akan tereduksi. Lelaki dan perempuan harus setara, sejajar berbanding lurus an sich dalam segala hal. Itulah pandangan Barat. Nah, pertanyaan besar selanjutnya adalah apakah memang benar kesetaraan Jender model barat itu lebih berhasil daripada model keluarga Islami. Mari kita kaji bersama.
“Seorang anak yang rusak masih bisa menjadi baik asal ia pernah mendapatkan pengasuhan
seorang ibu yang baik. Sebaliknya, seorang ibu yang rusak akhlaknya, hanya akan melahirkan generasi yang rusak pula akhlaknya. Itulah mengapa yang dihancurkan pertama kali oleh Yahudi adalah wanita.”
Ucapan diatas dilontarkan oleh Muhammad Quthb, seorang ulama Mesir yang concern terhadap pendidikan Islam sekaligus pemikir ulung abad 20, yang juga merupakan seorang Profesor Kajian Islam dari Universitas Arab Saudi. Menurut beliau anak yang pada kemudian hari mendapatkan ujian berupa kehancuran moral masih akan bisa diatasi, asal sang anak pernah mendapatkan pengasuhan ibu yang solehah. Pendidikan Islami yang terinternalisasi dengan baik, akan membuat sang anak lekas bangkit dari keterpurukannya mengingat petuah-petuah rabbani yang pernah terekam dalam ingatannya. Sebaliknya, ayah yang memiliki istri yang sudah rusak dari awalnya, maka ia pun hanya akan melahirkan sebuah keturunan yang memiliki kepribadian persis dengan wanita yang dipinangnya.Sifat alami anak yang banyak meniru perilaku sang ibu akan membuka peluang penyaluran sifat alami ibu kepada anaknya. Oleh karena itu, dalam bukunya Ma’rakah At Taqaaliid, Muhammad Quthb mengemukakan alasan mengapa Islam mengatur konsep pendidikan yang terkait dengan arti kehadiran ibu dalam keluarga. Ia menulis:
“Dalam anggapan Islam, wanita bukanlah sekadar sarana untuk melahirkan, mengasuh, dan
menyusui. Kalau hanya sekedar begitu, Islam tidak perlu bersusah payah mendidik, mengajar, menguatkan iman, dan menyediakan jaminan hidup, jaminan hukum dan segala soal psikologis untuk menguatkan keberadaannya… Kami katakan mengapa ‘mendidik’, bukan sekedar melahirkan, membela dan menyusui yang setiap kucing dan sapi subur pun mampu melakukannya.”
Konsep inilah yang tidak terjadi di Negara Barat. Barat mengalami kehancuran total pada sisi masyarakatnya karena bermula dari kehancuran moral yang menimpa wanitanya. Wanita-wanita Barat hanya dikonsep untuk mendefinisikan arti kepribadian dalam pengertian yang sangat primitif, yakni tidak lain konsep pemenuhan biologis semata.
Memuliakan Ibu
Fenomena kerusakan wanita Barat sudah lumrah kita ketahui baik itu melalui film-film mereka maupun pemberitaan media dan infotainment. Bagaimana si selebritis A berselingkuh dengan artis Hollywood lain yang sudah berumah tangga. Bagaimana si idola para Beliber diberitakan menghamili fansnya. Dan bagaimana kelakuan-kelakua amoral laen dari masyarakat barat yang anehnya di negeri ini dianggap sebagai trend baru gaya hidup yang wajib di-kiblati. Lantas mengapa wanita sebenarnya yang ideal harus menjadi ibu rumah tangga? Karena masih menurut Muhammad Quthb, “Islam tidak menyukai wanita dilelahkan syarafnya dengan bekerja memeras tenaga. Wanita yang bekerja pulang ke rumah sudah dalam keadaan lelah seperti halnya si pria sendiri. Syarafnya tegang dan otot kaku. Lalu timbullah pergeseran-pergesaran tegang antara dia dengan suaminya. Kedua-duanya tidak mau mengalah. Anak-anaknya pun lalu merasa tidak punya ibu. Yang terasa oleh mereka adalah mereka punya dua ayah, yang sama-sama pria.”
Sungguh patut menjadi perenungan bersama bahwa memang demikianlah faktanya fenomena masyarakat kita saat ini. Dimana para wanita karier yang sama-sama sibuk masih juga ditambah ayah yang tak kalah sibuk dari istrinya yang juga wanita karier tersebut. Dan yang menjadi korban tentu saja anak-anaknya. Meski dengan dalih mencari uang buat hidup dan biaya agar anaknya mendapatkan pendidikan terbaik, toh tetap saja anak-anak tersebut merasa “terasing” dan “ditelantarkan”. Di rumah dia jumpai hanya pembantunya. Dari sini perlu dicerna kembali, apakah bekerja itu tuk membahagiakan keluarga atau mencari uang. Karena nyatanya uang berlimpah-limpah dari kerja siang malam kedua orang tuanya dengan mengorbankan waktu buat anaknya tak mampu membuat keluarga tersebut bahagia. Buktinya? Fenomena tawuran remaja dan anak sekolah di kota-kota besar saat ini ternyata dilakukan bukan hanya oleh anak-anak papah namun juga anak dari kalangan berpunya namun miskin perhatian orang tuanya. Anak-anak mereka “diasuh” oleh TV, majalah fashion, music dan sarana hedonis nan permissive lainnya. Dari sini saya jadi teringat dengan sebuah pepatah Arab yang berbunyi, “Ibu adalah sebuah madrasah (tempat pendidikan) yang jika kamu menyiapkannya. Berarti kamu menyiapkan (lahirnya) sebuah masyarakat yang baik budi pekertinya.” Dan petuah ini pulalah yang dibuktikan keberhasilannya oleh ibunda Imam Syafii R.A. Imam besar yang mazhabnya dianut oleh mayoritas umat Islam di Indonesia ini adalah hasil didikan perempuan hebat. Beliau dibesarkan oleh seorang ibu yang begitu sabar. Ketiadaan suami tidak membuat Ibunda Imam Syafi’i menyerah pada keadaan dan melupakan hak seorang anak untuk mendapatkan pendidikan terbaik dalam bidang agama. Kemiskinan pun tidak lantas membuatnya sungkan “melobi” seorang guru di al-kuttab (Sekolah Menghafal Qur’an) untuk curhat bahwa dirinya tidak memiliki biaya bagi sekolah Imam Syafi’i. Bayangkan karena tidak punya uang untuk membeli kertas, Imam Syafi’i sampai harus menulis di pecahan tembikar, tulang belulang, hingga pelepah kurma. Dan berkat kegigihan sang ibulah, guru di Al Kuttab itu merasa luluh. Imam Syafi’i lantas betul-betul memanfaatkan momen belajar yang telah dibuka oleh ketegaran seorang ibu. Bayangkan, Imam Syafi’i sudah hafal Qur’an sejak kecil dan di umur 15 tahun telah diizinkan untuk mengeluarkan fatwa. Subhanallah. Tanpa kehadiran seorang ibu, mungkin saat ini kita hanya mengenal nama Imam Syafi’i sebagai orang biasa, bukan ulama kesohor yang kejeniusannya dalam perkara fiqh menjadi peneman kita saat mengalami kebingungan dalam beribadah.
Islam sebagai agama mulia, secara tegas mengatur posisi wanita sebagai madrasah utama dalam pendidikan di rumah. Ibu, dalam Islam mendapat posisi penting sebagai guru pertama anaknya, dan bukan kakek dari anaknya, nenek dari anaknya, bahkan ayah dari anaknya sendiri. Maka itu peran istri dalam Islam bagai guru besar pendidikan pertama yang harus dihormati oleh suaminya. Al Qur’an sendiri secara jelas melekatkan peran mulia seorang ibu yang simetris dengan peranan membangun rumah tangga mulia. Dalam surah Al Ahzab ayat 33, Allah berfirman, “Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, Hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.”
Banyak orang salah kira, bahwa surat Al Ahzab ayat 33 hanya berlaku spesifik kepada istri nabi,anggapan ini sungguh keliru. Karena Al Qur’an adalah petunjuk bagi orang beriman dan Rasulullah SAW telah ditugaskan sebagai nabi yang menjadi panutan umat manusia. Islam disini bukan berarti melarang seorang istri bekerja, karena bekerja diperbolehkan dalam Islam. Tapi Islam hanya mendelegasikan bahwa sekalipun perempuan bekerja itu harus dalam kondisi darurat dan pekerjaan bukanlah sebagai pokok tugas utamanya, karena tugas utama mencari nafkah ada pada fihak suami sedangkan istri memiliki beban yang lebih mulia: orang pertama yang menyiapkan generasi rabbani. Perihal peran wanita dalam menyiapkan generasi emas Islam, Muhammad Quthb dalam bukunya Ma’rakah At Taqalid pun menulis,“Islam memperhatikan pria dan wanita karena mereka akan menjadi ibu-bapak produk baru. Tetapi Islam lebih memperhatikan wanita, karena wanitalah pembangun hakiki dari generasi. Sedangkan ayah baru menyusul kemudian. Mungkin ayah yang akan mendidik tapi itu nanti sesudah peranan sang ibu. Itulah sebabnya Islam mengusahakan terjaminnya belanja hidup sang ibu, agar ia tidak usah bekerja di luar rumah.” Kebenaran Al Qur’an dan konsep Islam dalam mendudukkan perang seorang wanita menjadi ibu di rumah memang terbukti benar dalam serangkaian penelitian. Karena di Inggris kini telah terjadi tren dimana para wanita sudah terfikir meninggalkan karirnya dan memilih untuk berkonsentrasi di rumahnya.
Perempuan yang merupakan benteng pertahanan terakhir dalam menjaga keberlangsungan hidup manusia-manusia selanjutnya dimana peradaban disusun didalamnya, seharusnya menyadari hakikat dihadirkannya dirinya di dunia ini oleh Allah. Perempuan dihadirkan di dunia oleh Allah bukan sekedar hanya agar dia bersolek, berhubungan seksual, melahirkan, menjadi korban mode dan iklan, berlenggak-lenggok di depan mata manusia dengan dalih ratu-ratuan/miss-miss an, dan segala hal remeh temeh lainnya. Lebih dari semua itu, perempuan di hadirkan di dunia ini agar dapat menumbuhkan generasi-generasi baru yang lebih baik bagi peradaban manusia berikutnya. Dan semua harapan besar dari umat manusia itu ada di pundak wanita-wanita Muslimah karena hanya merekalah wanita terbaik yang dihadirkan Allah di dunia ini. Karena mereka lebih memilih mengikuti perintah “Langit” daripada perintah bos-bos mode , fashion, dan yang sejenisnya.
Sungguh, begitu luar biasa peran seorang ibu. Beginilah islam memuliakan wanita, kitakah orangnya yang akan menjadi ibu pencetak generasi emas untuk kebangkitan ISLAM..!!
By: Ika_Hanifa, Muslimah HTI Lingkar Kampus Unlam





IBU, kita pasti bisa Bangkit !

17 01 2012

Tanggal 22 Desember diperingati hari ibu, tentu hapal kan dengan lirik lagu “Kasih ibu kepada beta tak terhingga sepanjang masa/Hanya memberi tak harap kembali/Bagai sang surya menyinari dunia.” Lirik ini mengandung ungkapan begitu agungnya dedikasi ibu kepada kehidupan kita. dipastikan, siapa pun yang mendengarnya dengan penuh keimanan, hatinya akan tersentuh dan malu akan tingkah laku kita yang menganggap biasa kasih sayang dan pengorbanan besar seorang ibu. Tak terbantahkan kawan, membahagiakan ibu adalah kewajiban. Ia telah mengandungmu dalam rahimnya berhari-hari dan berbulan-bulan. ia memeliharamu dengan segenap jiwa sepanjang waktunya. Melimpahkan segala dayanya untuk melindungimu. Ia tidak peduli kesenangannya, sedangkan engkau diberi kebahagiaan sepenuhnya. Apa yang diharapkannya sering tergadaikan, tetapi impianmu selalu dinyatakan. Maka, apalagi yang membuat kita ragu untuk mempertanyakan “Kapan terakhir kali kaulihat ibumu benar-benar merasakan kebahagiaan bersamamu?”.
Jika bicara tentang ibu teringat potret nasib perempuan saat ini, termasuk nasib ibu-ibu kita, menjumpai betapa perempuan di berbagai belahan dunia saat ini masih jauh dari kemuliaan dan kesejahteraan. Tak sedikit fakta perempuan hari ini yang masih berada di kubangan keterpurukan. Kemiskinan, kebodohan, kekurangan pangan-sandang-papan, derajat kesehatan buruk pun masih menghiasi wajah perempuan dunia. Belum lagi soal ancaman keamanan dan kehormatan seperti pelecehan, kekerasan, eksploitasi dan sebagainya.
Potret buram nasib perempuan di abad 21 ini tak bisa dilepaskan di era globalisasi yang didrive oleh sistem saat ini. Gelombang globalisasi saat ini harus dibayar mahal dengan kenyataan bahwa 2/3 angka buta huruf dunia serta 3/5 angka penduduk dunia termiskin masih diwakili oleh kaum perempuan. Inilah paradoks globalisasi yang dipimpin oleh sistem kapitalisme. Untuk kemajuan bagi perempuan disikapi oleh pemerintah di berbagai negara, termasuk Indonesia dengan upaya pemberdayaan perempuan, akses pendidikan dibuka selebar-lebarnya untuk perempuan, begitupun akses ekonomi. Perempuan dipersilahkan untuk bertarung mengakses ekonomi demi “kemajuan dan kesejahteraan” yang didambanya. kemudian kaum perempuan menerjuni hiruk pikuk dunia kerja hingga tidak sedikit melupakan peran pentingnya ketika sudah menjadi seorang ibu. Di Indonesia saja, data Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak menyebut jumlah perempuan bekerja mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Jumlah perempuan bekerja 38,6 juta orang pada tahun 2006 dan meningkat menjadi 42,8 juta pada tahun 2008.
Cerita Umar bin Khattab dengan seorang Ibu Pemasak Batu. 
Kala itu Umar sedang berjalan-jalan berkeliling malam hari, dalam gubuk terlihat seorang ibu yang sedang memasak, dan dikelilingi oleh anak-anaknya yang masih kecil. Si ibu berkata kepada anak-anaknya, “Tunggulah…! Sebentar lagi makanannya matang.” Khalifah Umar memutuskan untuk menemui ibu itu, “Mengapa anak-anakmu tidak juga berhenti menangis, Bu ?” tanya Sang Khalifah. “Mereka sangat lapar,” jawab si ibu. “Kenapa tidak cepat engkau berikan makanan yang dimasak dari tadi itu?” tanya Khalifah. “Kami tidak ada makanan. Periuk yang dari tadi aku masak hanya berisi batu untuk mendiamkan mereka. Biarlah mereka berfikir bahwa periuk itu berisi makanan, dengan begitu mereka akan berhenti menangis karena kelelahan dan tertidur.” jawab si ibu. Setelah mendengar jawab si ibu, hati sang Khalifah serasa teriris-iris. Kemudian Khalifah bertanya lagi, “Mengapa ibu tidak meminta pertolongan kepada Khalifah supaya ia dapat meolong dengan bantuan uang dari Baitul Mal?” “Ia telah zalim kepada saya…,” jawab si ibu. “Iya, saya sangat menyesalkan pemerintahannya”. Seharusnya ia melihat kondisi rakyatnya. Siapa tahu ada banyak orang yang senasib dengan saya!” kata si ibu. Khalifah Umar bin Khattab kemudian berdiri dan berkata, “Tunggulah sebentar, Saya akan segera kembali.” Di malam yang semakin larut dan hembusan angin terasa kencang menusuk, Sang Khalifah segera bergegas menuju Baitul Mal di Madinah. Ia segera mengangkat sekarung gandum yang besar di pundaknya ditemani oleh sahabatnya Ibnu Abbas. Sahabatnya membawa minyak samin untuk memasak. Jarak antara Madinah dengan rumah ibu itu terbilang jauh, hingga membuat keringat bercucuran dengan derasnya dari tubuh Umar. Melihat hal ini, Abbas berniat untuk menggantikan Umar untuk mengangkat karung yang dibawanya itu, tapi Umar menolak sambil berkata, “Tidak akan aku biarkan engkau membawa dosa-dosaku di akhirat kelak. Biarkan aku bawa karung besar ini karena aku merasa sudah begitu bersalah atas apa yang terjadi pada ibu dan anak-anaknya itu.” Beberapa lama kemudian sampailah Khalifah dan Abbas di gubuk ibu itu. Begitu sekarung gandum dan minyak samin itu diserahkan, bukan main gembiranya mereka. Setelah itu, Umar berpesan agar ibu itu datang menemui Khalifah keesokan harinya untuk mendaftarkan dirinya dan anak-anaknya di Baitul Mal. Setelah keesokan harinya, ibu dan anak-anaknya pergi untuk menemui Khalifah. Dan betapa sangat terkejutnya si ibu begitu menyaksikan bahwa lelaki yang telah menolongnya tadi malam adalah Khalifahnya sendiri, Khalifah Umar bin Khattab. Segera saja si ibu minta maaf atas kekeliruannya yang telah menilai bahwa khalifahnya zalim terhadapnya. Namun Sang Khalifah tetap mengaku bahwa dirinyalah yang telah bersalah.
Luar biasa Jika ada Sang Pemimpin negara seperti Khalifah Umar,lalu bagaimana dengan sistem yang diterapkan saat ini dan pemimpinnya.
Sistem yang diberlakukan saat ini adalah sistem kapitalisme, dengan standar produktivitas materinya menyeret perempuan seolah sebagai  mesin produksi devisa negara. Kaum ibu harus pula memberikan kontribusi dalam produksi barang dan jasa, karena bagi kapitalisme, peran ibu tidak memberikan sumbangan bagi penambahan pendapatan nasional. Fakta ini jauh berbeda dengan nasib para ibu di zaman kegemilangan Islam.
Kesuksesan program ala kapitalisme harus didukung asumsi : (1) Produktivitas harus diukur secara materi. Perempuan tidak berpendapatan dipandang tidak produktif bila tak punya penghasilan/ pendapatan. (2) Perempuan berpendapatan menurunkan KDRT. Perempuan berpendapatan akan meningkat bargainingnya di hadapan suami. Perempuan berpendapatan tak perlu khawatir menuntut cerai karena telah mandiri berpenghasilan. (3) Cerai bukan persoalan, namun pilihan kemandirian perempuan kapitalisme dengan paket pemberdayaan ekonomi kaum ibu bukan jalan keluar bagi kemiskinan bangsa.
Penyebab kemiskinan bangsa : 
(1) Negara menyerahkan pengelolaan kekayaan alamnya yang berlimpah kepada asing.
(2) Pengelolaan perekonomian ala kapitalisme. Kas yang ada disimpan untuk cadangan devisa. Pembangunan infrastruktur menggandeng investor asing yang berhitung keuntungan, bukan pelayanan.
(3) Kebobrokan mengelola negara. Pengeluaran negara sia-sia untuk fasilitas mewah pejabat, kunjungan-kunjungan yang menyedot uang negara, kolusi, korupsi dan nepotisme. Ini bukti bahwa Kapitalisme tak akan pernah mengentaskan kemiskinan bangsa. Bahkan pemberdayaan perempuan ala kapitalisme menyebabkan : (1) Menurunnya kualitas peran ibu di setiap rumah tangga. (2) Ketaatan istri pada suami akan berkurang, khususnya bila penghasilan suami lebih rendah daripada penghasilan istri. Pelayanan istri terhadap suami dipandang melecehkan perempuan. (3) Istri yang lebih berdaya secara ekonomi tidak lagi memerlukan suami untuk menafkahi dirinya. (4) Ketidakpercayaan diri kaum laki-laki. Suami menjadi malas mencari nafkah untuk keluarga. (5) Krisis rasa tanggung jawab para suami dan menjadikan mereka kerdil dihadapan istri. (6) Para suami kehilangan identitas sebagai pelindung, pengayom dan pemimpin keluarganya. (7) Pengangguran para suami tetap tidak terselesaikan. (8) Memicu keretakan dalam rumah tangga. Anak-anak akan kehilangan peran ibu, para suami kehilangan peran istri.
Kembalikan peranmu IBU !
Islam menjamin peran pokok perempuan yang sesungguhnya, yakni menjadi ibu dan pengelola rumah tangga. Peran utama kaum perempuan adalah penopang utama ketentraman dan ketenangan dalam keluarga. Kesempurnaan peran perempuan sebagai ibu akan melahirkan generasi pemimpin masa depan yang akan mengantarkan umat islam menjadi terdepan dalam kancah perpolitikan internasional. Kekuatan peran kaum perempuan sebagai istri, mitra sejati suami, pendamping yang dikasihi, akan memunculkan sosok-sosok laki-laki sebagai pemimpin keluarga yang mumpuni, pemimpin umat yang mandiri, pejuang yang tangguh, yang tak akan tertipu skenario busuk menyesatkan, yang tak akan pernah bertekuk lutut di hadapan negara-negara penjajah/imperialis.
Wallahu a’lam bi ash-shawab.
By,Gusmawati Mahasiswi FKIP UNLAM Banjarmasin





Mengapa Harus Ada Hari Ibu?

22 12 2011

Jika Anda punya account Facebook, cobalah lihat sejenak. Jika kemarin Anda kebetulan membukanya, niscaya ribuan status yang ada di sana berisi tentang pujian, penghargaan, apresiasi, dan segala hal lainnya kepada seorang ibu. Begitu juga di surat kabar, televisi dan media-media lainnya juga sama membahas tentang kemuliaan seorang ibu. 22 Desember memang dinobatkan menjadi Hari Ibu—seperti yang kita ketahui.

Tidak ada yang salah dengan kemuliaan seorang Ibu. Islam, sejak keberadaannya dan sejak dibawa oleh Rasulullah, telah meletakkan posisi seorang ibu sangat tinggi. Ibu, ibu, ibu, baru kemudianlah seorang ayah, yang wajib dihormati oleh seorang anak, begitu hadist Rasulullah saw yang sudah terkenal. Pemuliaan kepada seorang ibu terjadi setiap waktu, bukan hanya satu hari saja.

Tentu jika sekarang ada Hari Ibu, maka ada sesauatu yang lain di sana. Hari Ibu adalah hari peringatan/ perayaan terhadap peran seorang ibu dalam keluarganya, baik untuk suami, anak-anaknya, maupun lingkungan sosialnya. Peringatan dan perayaan biasanya dilakukan dengan membebas-tugaskankan ibu dari tugas domestik yang sehari-hari dianggap merupakan kewajibannya, seperti memasak, merawat anak, dan urusan rumah tangga lainnya. Dan Hari Ibu dilaksanakan di seluruh dunia dengan nama Mother’s Day dengan berbeda-beda tanggalnya.

Menurut Wikipedia, Peringatan Mother’s Day di sebagian negara Eropa dan Timur Tengah, mendapat pengaruh dari kebiasaan memuja Dewi Rhea, istri Dewa Kronus, dan ibu para dewa dalam sejarah Yunani kuno. Maka, di negara-negara tersebut, peringatan Mother’s Day jatuh pada bulan Maret. Di Amerika Serikat dan lebih dari 75 negara lain, seperti Australia, Kanada, Jerman, Italia, Jepang, Belanda, Malaysia, Singapura, Taiwan, dan Hongkong, peringatan Mother’s Day jatuh pada hari Minggu kedua bulan Mei karena pada tanggal itu pada tahun 1870 aktivis sosial Julia Ward Howe mencanangkan pentingnya perempuan bersatu melawan perang saudara.

Jadi di sini, Hari Ibu bisa jadi kedudukannya sama dengan Hari Valentine, April Mop, Tahun Baru Masehi, Hari Bumi dan hari-hari lainnya yang bermuara pada kepercayaan pagan Yunani. Merayakannya sama saja dengan mengakui adanya kebiasaan-kebiasaan ritual itu.

Mungkin ada pembenaran; yah, nggak apa-apalah, dalam satu hari, seorang ibu libur dulu dari tugas-tugas rutinnya. Ibnu Umar ra berkata, Sabda Rasulullah saw bersabda: “Wanita yang tinggal di rumah bersama anak-anaknya, akan tinggal bersama-samaku dalam surga.” Artinya, tidak ada berhenti atau cuti ketika sudah menjadi ibu—posisi yang sangat mulia dalam kehidupan. Adapun beban pekerjaan, bukankah Islam telah mengatur sedemikian rupa pendelegasian dengan suami hingga semua tugas dibagi rata antara suami dan istri?

Hadist di atas bukannya mengekang seorang perempuan atau seorang ibu. Kita tentu ingat bahwa Rasul juga membuka wilayah social untuk para muslimah ketika itu. Ada banyak kisah yang menceritakan keterlibatan para ummahat dalam dakwah Rasulullah, termasuk peperangan.

Lantas, dimanakah posisi lelaki? Mungkin satu hadist ini bisa menjadi petunjuk dari berbagai posisi lelaki dan perempuan dalam Islam, “Satu dinar yang kamu belanjakan ke jalan Allah, satu dinar yang kamu belanjakan untuk memerdekakan budak, satu dinar yang kamu sedekahkan kepada orang miskin, dan satu dinar yang kamu belanjakan untuk kepentingan keluarga, yang paling besar pahalanya adalah yang kamu” belanjakan untuk kepentingan keluarga.”(HR Muslim).

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: ‘Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)’. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.” (sa/eramuslim)





Sekularisme, akar merosotnya moral generasi muda Indonesia

8 10 2011

PADANG – Pendidikan terkait pemahaman agama yang sangat kurang, arus informasi dan teknologi yang tidak terproteksi dengan baik, pengawasan yang lemah orang tua terhadap anak, kebutuhan ekonomi, serta penegakan hukum yang kurang berjalan dengan baik, dinilai sebagai faktor penyebab merosotnya moral anak.
Hal tersebut diungkapkan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Barat yang menyatakan prihatin terhadap kemerosotan moral generasi muda yang kurang menghayati nilai-nilai keagamaan, hingga melakukan perbuatan yang dilarang agama.
Ketua Majelis Dakwah MUI Sumbar Duski Samad di Padang, Rabu (5/10/2011) mengatakan, saat ini sudah terlihat kemerosotan moral generasi muda, yang kurang meresapi nilai-nilai agama, budaya dan adat istiadat yang ada.
“Kita dapat melihat kemerosotan moral generasi muda itu dari jumlah kasus pemerkosaan yang terjadi di Sumbar periode Januari hingga Agustus 2011 yang mencapai 55 kasus, begitu juga tahun 2010 yang jumlahnya sama persis dengan kasus pada tahun ini,” kata Duski.
Untuk mengatasi semakin merosotnya moral generasi muda, peran keluarga sebagai lingkungan terdekat harus lebih aktif dalam memberikan pemahaman keagamaan agar anak-anak tidak gampang menuruti budaya sekuler yang kerapkali merusak moral anak.
Selain data yang ada di Polda Sumbar terkait kasus pemerkosaan yang mencapai 55 kasus, beberapa waktu belakangan di Sumbar juga marak pemberitaan tentang tersebarnya video porno pelajar yang baru duduk di SMK dan SMP provinsi itu.
Data dan fakta yang ada tersebut dapat menjadi acuan kemerosotan generasi muda saat ini, yang sudah harus dibenahi dan mengharuskan peran serata semua pihak, mulai dari keluarga, sekolah, masyarakat, alim ulama, cendikiawan, pemuka adat, serta pihak pemerintah.
Penyebab kemerosotan moral generasi muda menurut MUI Sumbar, diantaranya disebabkan oleh Pendidikan terkait pemahaman agama yang sangat kurang, arus informasi dan teknologi yang tidak terproteksi dengan baik, pengawasan orang tua terhadap anak yang lemah karena kesibukan masing-masing, pengaruh kebutuhan ekonomi, serta penegakan hukum yang kurang berjalan dengan baik.
“Semua pihak saat ini perlu memberikan keteladanan yang dapat dijadikan panutan bagi generasi muda agar terhindar dari bahaya kemerosotan moral, sebab itu, semua pihak harus merapatkan barisan dalam menangani permasalahan ini,” jelas Duski.
Kepada aparat penegak hukum sudah sepatutnya menjalankan fungsinya dengan baik, dengan menghukum seberat-beratnya para pelaku dan sumber yang dapat menyebabkan kemerosotan moral generasi muda ini.
Yang paling penting tentu saja, peran orang tua dan alim ulama yang harus lebih proaktif dalam mendidik dan mengisi akidah generasi saat ini. Yang patut dipahami oleh setiap orang tua, dan para calon orang tua tentunya, bahwa saat ini kaum Muslimin tidak hanya diserang secara fisik oleh musuh-musu Islam seperti yang terjadi di Afganistan atau Palestina.
Serangan yang tidak kalah bahayanya adalah serangan pemikiran dari musuh Islam yang bertujuan menjauhkan Ummat dari ajaran Islam yang benar. Liberalisme, secularism, pluralism, dan isme-isme lain sengaja dikoarkan-koarkan untuk mengaburkan Islam. Dampak serangan ini memang tak tampak secara fisik, karena tak menimbulkan kerusakan rumah, wilayah, atau bahkan kematian. Tetapi merosotnya moral, terkotorinya aqidah, hingg amenjadikan Islam hanya sebagai agama di KTP adalah tujuan utama serangan pemikiran tersebut. Wallohua’lam.








%d blogger menyukai ini: