SIAPAKAH PEMUDA ITU???

25 11 2012

Apa kalian kenal mengenai seorang pemuda yang saat usianya masih relatif muda sudah dapat menguasai 7 bahasa, hafizh Al-Qur’an, ahli ilmu hadits, hukum Islam, matematika, astronomi, dan ketentaraan terutama dalam hal strategi perang??

Apa kalian juga kenal mengenai seorang pemuda yang tidak pernah meninggalkan shalat fardhu, shalat sunat rawatib dan shalat tahajjud sejak baligh??

Apakah anda termasuk orang yang memiiliki ciri-ciri tersebut????

Nahhh ada lagi nieee…

Apakah anda dapat membuat sebuah meriam seberat 700 ton dan peluru 1500 kg yang dapat merobohkan benteng setinggi 30 m dan tebalnya 10 m??

Apa kalian tahu siapakah pemuda tersebut????
Seorang pemuda yang dikabarkan oleh Nabi Muhammad SAW dalam hadits sebagai seorang Khalifah (pemimpin umat Islam) yang dapat menaklukan kota Konstantinopel yang selama 8 abad gagal ditaklukan oleh para Khalifah terdahulu.
Dari Abu Qubail berkata: Ketika kita sedang bersama Abdullah bin Amr bin al-Ash, dia ditanya: Kota manakah yang akan dibuka terlebih dahulu; Konstantinopel atau Rumiyah? Abdullah meminta kotak dengan lingkaran-lingkaran miliknya. Kemudian dia mengeluarkan kitab. Abdullah berkata: Ketika kita sedang menulis di sekitar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, beliau ditanya: Dua kota ini manakah yang dibuka lebih dulu: Konstantinopel atau Rumiyah/ Roma?
Rasul menjawab, “Kota Heraklius dibuka lebih dahulu.” Yaitu: Konstantinopel. (HR. Ahmad, ad-Darimi, Ibnu Abi Syaibah dan al-Hakim)
Seorang pemuda berumur 23 tahun yang satu-satunya mempunyai ide hebat yaitu dengan memindahkan kapal-kapal melalui darat untuk menghindari rantai penghalang, hanya dalam semalam dan 70-an kapal bisa memasuki wilayah Teluk Golden Horn (ini adalah ide ”tergila” pada masa itu namun Taktik ini diakui sebagai antara taktik peperangan (warfare strategy) yang terbaik di dunia oleh para sejarawan Barat sendiri).
Dalam waktu satu bulan kota Konstantinopel dapat ditaklukan, dengan halangan dan rintangan yang sangat besar yaitu harus merobohkan benteng yang tidak tertembus selama 8 abad, harus melewati parit yang lebarnya 7 m, dan membawa kapal perang beserta meriam melewati perbukitan yang terjal hanya untuk satu tujuan yaitu untuk menyebarkan Islam keseluruh penjuru dunia dan membebaskan negara-negara dari pemimpin yang zhalim terhadap rakyatnya.
Jadi siapakah pemuda itu????

Dia adalah Muhammad Al-Fatih

^nisa bio^

Iklan




Bagaimana Kaya Tapi Tetap Zuhud ?

25 11 2012

قيل لسفيان الثوري: أيكون ذو المال زاهدا قال: “نعم إن كان إذا زيد في ماله شكر وإن نقص شكر وصبر”.

kaya tetapi tetap zuhud
Imam Sufyan ats-Tsauri ditanya: “Akankah orang yang berharta itu menjadi seorang zuhud?” Beliau menjawab: “Ya, dengan catatan jika hartanya bertambah, maka ia bersyukur, dan sebaliknya jika hartanya berkurang, maka ia juga bersyukur dan bersabar.”

sumber : http://www.hizb-ut-tahrir.info/info/index.php/contents/entry_20420





KHILAFAH Akan Tegak

25 11 2012

khilafah akan tegak

Para musuh-musuh Islam memerlukan waktu kurang lebih 1 abad untuk benar2 dapat mencabut ideology Islam pada kaum Muslimin, yaitu pada awal2 abad ke 19 Khilafah mulai melemah hingga akhirnya pada abad ke 20 tepatnya tanggal 3 Maret 1924 Khilafah islam di Turki terakhir telah dihapuskan. Suatu peristiwa yang tlah mencabik-cabik kaum muslimin, mencerai-beraikan kesatuannya, dan menambah lemah dan kesengsaraan pada manusia. Dan tahukah kalian, melemahnya kaum muslimin hingga runtuhnya Khilafah bukannya karena sistem/ideology Islam ini salah… namun saat itu kekuatan kaum muslimin telah benar2 dilemahkan, para umat Rasul ini telah banyak berbuat maksiat dengan kemunduran berpikirnya dan menyekutukan Allah (syirik)… wajarlah ketika kemaksiatan inilah yang hingga akhirnya membuat kekalahan kaum muslimin… seperti yang pernah dikhawatirkan oleh Khalifah Umar bin Khattab dalam surat yang pernah disampaikannya kepada Sa’ad bin Abi Waqash ketika akan menghadapi sebuah pertempuran. Pada surat itu ditulis pesan sebagai berikut:

“Umar bin Kaththab ra. telah menulis sepucuk surat kepada Sa’ad bin Abi Waqash r.a.: ‘Sesungguhnya kami memerintahkan kepadamu dan kepada seluruh pasukan yang kamu pimpin, agar taqwa dalam segala keadaan, karena taqwa kepada Alloh merupakan seutama-utamanya persiapan dan strategi paling kuat dalam menghadapi pertempuran. Aku perintahkan pula kepadamu dan pasukan yang kamu pimpin agar benar-benar menjaga diri dari berbuat maksiat. Karena maksiat yang engkau perbuat pada saat berjuang lebih aku khawatirkan daripada kekuatan musuh, sebab engkau akan ditolong Alloh jika musuh-musuh Alloh telah berbuat banyak maksiat, karena jika tidak demikian kamu tidak akan punya kekuatan sebab jumlah kita tidaklah sebanyak jumlah pasukan mereka, dimana persiapan mereka berbeda dengan persiapan yang kita lakukan. Jika kita sama-sama berbuat maksiat sebagaimana yang dilakukan oleh musuh-musuh kita, maka kekuatan musuh akan semakin hebat. Sangatlah berat kita akan dapat mengalahkan musuh kita jika hanya mengandalkan pada kekuatan yang kita miliki, kecuali dengan mengandalkan ketaqwaan kita kepada Alloh dan senantiasa menjaga diri dari berbuat maksiat…” (Lihat : Kitab Al ‘Aqdul Farid jilid I, hlm. 101; Kitab Nihayatul Arab jilid VI, hlm. 168; Kitab Ikhbarul Umar wa Ikhbaru Abdullah bin Umar jilid I, hlm. 241-242; Kitab Ikbasu min Ikhbarul Khulafa Ar-Rosyidin hlm 779, serta buku Jihad tulisan Dr. Mahfudz Azzam, hlm. 28).

Kawan, Khilafah telah hilang ditengah-tengah kita selama kurang lebih 88 tahun lamanya, jikalau Khilafah berhasil diruntuhkan dan Ideologi ini telah hilang di dada2 kaum muslimin dengan usaha 1 abad oleh musuh Allah, maka tinggal sedikit lagi bagi kita dalam mengembalikannya…. Wajarlah kaum muslimin telah begitu asing dengan Islam kaffah, karena 88 tahun bukanlah waktu yang singkat untuk mencerabut ideology mulia ini dalam dada-dada mereka… namun kita harus bangkit kawan!!! Kitalah yang akan meneruskan perjuangan para mujahid mulia pejuang Islam… detik ini juga!!! Mari berazzam kawan!!!

(by_Titien Al-Mustanir)





Kisah Seorang Pemuda, Mati Satu Tumbuh Seribu

25 11 2012

pemuda islam

Pada zaman dahulu kala, sebelum zaman Nabi Muhammad SAW, hiduplah seorang raja. Dia memiliki seorang tukang sihir yang sudah tua. Suatu ketika, tukang sihir ini berkata kepada raja, “Sesungguhnya saya telah lanjut usia, maka utuslah kepada saya seorang pemuda agar saya mengajarinya ilmu sihir.” Si tukang sihir ini menginginkan agar ada generasi muda yang dapat meneruskan ilmu sihirnya. Lalu sang raja mengutus seorang pemuda kepadanya untuk diajari ilmu sihir.
Ketika dalam perjalanan, pemuda yang diutus itu menjumpai seorang Rahib (seorang Nasrani yang ahli ibadah). Lalu pemuda itu duduk di hadapan sang Rahib dan mendengarkan ucapannya. Ternyata Pemuda ini terkesan dengan perkataan sang Rahib. Akhirnya, setiap kali pemuda ini ingin menemui si Tukang Sihir, ia selalu menemui si Rahib dahulu untuk duduk kepadanya. Setelah itu barulah dia menemui si Tukang Sihir. Dan setiap kali dia bertemu si Tukang Sihir, pemuda ini selalu dipukul karena selalu terlambat. Terlambat gara-gara selalu menemui si Rahib dalam perjalanan.
Karena selalu dipukul, pemuda ini melaporkannya kepada si Rahib. Rahib lalu menanggapinya, “Kalau kamu takut tukang sihir, maka katakanlah: ‘Saya tertahan oleh keluarga saya’, dan apabila kamu takut pada keluargamu, maka katakanlah: ‘Saya tertahan oleh Tukang Sihir.
Nah, pada suatu hari Pemuda ini memergoki seekor binatang besar yang merintangi orang banyak. Lalu dia berkata, “Hari ini saya akan mengetahui, tukang sihir yang lebih afdhal ataukah rahib yang lebih afdhal?”
Lalu dia ambil sebuah batu dan berdoa, “Ya Allah, jikalau perkara sang Rahib yang lebih Engkau cintai daripada perkara tukang sihir, maka bunuhlah hewan ini sehingga orang-orang bisa berlalu.”
Kemudian dia lemparkan batu itu dan berhasil membunuhnya. Sehingga orang lain pun dapat meneruskan perjalanan. Akhirnya, Pemuda ini mendatangi Rahib dan menceritakan kejadian barusan kepadanya.
Menanggapi hal tersebut, Rahib berkata, “Hai Putraku, engkau sekarang lebih utama daripada aku, perkaramu telah sampai pada apa yang aku lihat. Dan sesungguhnya engkau bakal diuji. Jika engkau benar-benar diuji maka janganlah engkau menunjukkan kepada aku.”
Singkat cerita, maka jadilah Pemuda ini sebagai orang yang bisa menyembuhkan buta bawaan, sopak, dan mengobati orang-orang dari semua penyakit (dengan izin Allah).
**
Suatu ketika, ada seorang buta yang mendengar tentang hal ini. Si buta ini adalah teman dekat Raja. Dia lalu mendatangi pemuda itu dengan membawa hadiah yang melimpah.
Si Buta berkata, “Semua yang ada di sini adalah untukmu jika kamu bisa menyembuhkan aku.”
Lalu si Pemuda tadi menanggapinya, “Sesungguhnya aku tidak bisa menyembuhkan seorangpun. Sesungguhnya yang menyembuhkan itu adalah Allah Ta’ala. Jika Anda beriman kepada Allah Ta’ala saya akan memohon kepada Allah, maka Dia pasti menyembuhkanmu.”
Kemudian si Buta beriman kepada Allah, dan Allah membuatnya sembuh. Orang yang tadinya buta itu kemudian mendatangi raja dan duduk menemaninya sebagaimana selama ini ia duduk menemani Raja. Sang Raja melihat dia sudah tidak buta lagi. Kemudian bertanya, “Siapa yang telah mengembalikan kebutaanmu ini?”
“Tuhanku dan Tuhan Anda adalah Allah” jawab teman Raja itu.
Akibat perkataannya itu sang Raja menghukum dan terus menyiksanya, sampai ia menunjukkan tentang adanya seorang Pemuda. Akhirnya Pemuda itu pun didatangkan dan Raja berkata kepadanya, “Hai Putraku, sihirmu telah sampai pada tingkat menyembuhkan penyakit buta bawaan, sopak, dan engkau telah berbuat dan berbuat!”
Maka si Pemuda menjawabnya, “Sesungguhnya saya tidak bisa menyembuhkan siapa pun. Sesungguhnya yang menyembuhkan itu adalah Allah Ta’ala.”
Akibat perkataannya itu, sang Raja menghukumnya dan terus menyiksanya, hingga ia memberitahu adanya seorang Rahib. Akhirnya si Rahib didatangkan pula. Raja berkata kepadanya, “Tinggalkan agamamu!”
Tapi si Rahib menolaknya. Sehingga Raja memerintahkan untuk mengambil gergaji. Gergaji itu diletakkan di tengah kepalanya, lalu dibelahnya kepala itu, hingga robohlah kedua belahannya. Kemudian teman dekat Raja yang sudah tidak buta itu dihadirkan lagi. Sang Raja berkata kepadanya, “Tinggalkan agamamu itu!”
Dia pun menolaknya. Maka gergaji diletakkan di tengah-tengah kepalanya, dan dia dibelah hingga roboh kedua belahannya itu. Kemudian si Pemuda itu dihadirkan. Sang Raja berkata kepadanya, “Tinggalhkan agamamu!”
Sang Pemuda menolaknya. Sehingga sang Raja menyodorkan pemuda ini kepada sekelompok sahabatnya. Sang Raja memerintahkan, “Pergilah, bawa ia ke gunung ini dan itu, dan jika kamu telah sampai pada puncaknya, maka jika ia meninggalkan agamanya, bebaskan dia. Tetapi jika tidak, maka lemparkan dia.”
Sekelompok sahabat Raja tadi membawa pemuda itu ke pergi ke puncak gunung. Pemuda itu pun berdo’a, “Ya Allah, cukupkanlah saya terhadap mereka dengan sesuatu yang Engkau kehendaki.”
Lalu tiba-tiba gunung bergetar, menggoncang para sahabat Raja dan mereka berjatuhan. Akhirnya Pemuda tersebut berjalan menuju Raja. Raja heran dan bertanya kepadanya, “Apa yang telah dilakukan oleh sahabat-sahabatmu?”
“Allah ta’ala telah mencukupi aku terhadap mereka” jawab Pemuda itu. Akhirnya sang Raja menyerahkan Pemuda ini kepada sekelompok sahabatnya lagi. Dia memerintahkan, “Bawalah dia dan naikkan dia di atas sebuah perahu hingga ke tengah laut. Jika dia menginggalkan agamanya, maka lepaskan. Jika tidak, maka ceburkan dia.”
Maka sekonyong-konyong para sahabat Raja itu membawanya. Si Pemuda ini lalu berdoa lagi, “Ya Allah, cukupkanlah saya terhadap mereka dengan sesuatu yan Engkau kehendaki.”
Maka tiba-tiba kapal pun terbalik dan mereka mati tenggelam. Pemuda ini lalu berjalan lagi mendatangi Raja. Raja terheran-heran lagi, dan dia bertanya, “Apa yang telah dilakukan oleh sahabat-sahabatmu?”
Si Pemuda menjawabnya, “Allah Ta’ala telah mencukupi aku terhadap mereka.”
Lantas Pemuda ini berkata lagi, “Sesungguhnya Anda tidak bisa membunuh saya hinga Anda mau mengerjakan apa yang saya perintahkan kepada Anda.”
“Apa itu?” tanya Raja.
“Anda kumpulkan orang-orang dalam satu tanah lapang, dan Anda salib saya di atas pohon korma. Kemudian ambillah satu anak panah dari tempat penyimpanan anak panah saya. Kemudian letakkan anak panah tepat pada tengah-tengah busur, kemudian ucapkanlah: ‘Dengan menyebut nama Allah, Tuhannya Pemuda ini’. Kemudian panahlah saya.
Maka sesungguhnya jika Anda melakukan hal tersebut maka Anda pasti bisa membunuh saya”, jawab Pemuda itu dengan rinci. Akhirnya sang Raja menuruti saran Pemuda itu. Dia kumpulkan orang-orang dalam satu tanah lapang. Dia juga menyalib Pemuda itu di atas batang pohon korma. Kemudian dia ambil satu anak panah dari kantongnya, dia letakkan di tengah-tengah busur panah, dan dia mengucapkan, “Dengan menyebut nama Allah, Tuhannya pemuda ini.”
Kemudian dia bidikkan anak panah itu kepadanya. Anak panah itu tepat mengenai pelipis Pemuda itu. Si Pemuda meletakkan tangannya pada pelipisnya, kemudian dia meninggal.
Dari peristiwa itu, maka ternyata orang-orang banyak yang mengatakan, “Kami beriman dengan Tuhannya pemuda ini.” Lalu Sang Raja diberitahu tentang kondisi tersebut. Dia mendapatkan laporan, “Apakah Anda melihat apa yang dulu Anda khawatirkan? Orang-orang telah beriman.”
Sang Raja lalu memerintahkan menggali parit di mulut-mulut jalan yang ada di antara rumah-rumah. Parit pun di gali dan api dikobarkan di dalamnya.
Raja lalu berkata, “Siapa yang tidak kembali dari agamanya, maka lemparkan ia ke dalamnya!” Sehingga setiap orang yang tidak mau keluar dari agamanya, diperintahkan Raja, “Masuklah (ke dalam parit)!”
Mereka melakukan hal tersebut terus menerus hingga datang seorang wanita. Bersama wanita ini juga ada seorang pemuda cilik miliknya. Wanita itu enggan untuk menceburkan diri ke dalam api. Maka si pemuda cilik tersebut berkata kepadanya, “Ibu, bersabarlah. Sesungguhnya engkau berada di atas yang benar.”
HIKMAH KISAH
Demikianlah sebuah kisah nyata yang disampaikan dari Rasulullah SAW. Banyak hikmah yang bisa kita ambil dalam kisah ini. Di antaranya, bahwa pengorbanan nyawa seorang pemuda yang istiqomah beriman kepada Allah, justru telah menjadikan masyarakat luas ikut beriman kepada Allah. Pengorbanan pemuda itu bahkan turut menjadikan seorang anak cilik beriman kepada Allah, dan si cilik itu meneguhkan pendirian ibunya. Subhanallah. Sungguh luar biasa pengorbanan di jalan Allah. “Mati satu tumbuh seribu”

….. dari berbagai sumber





Menjadi Hafizh Qur’an, Mungkinkah?

25 11 2012

qur'an
Bismillaahirrohmaanirrohiim,

Di sini ada sebuah kisah perjuangan beberapa mahasiswa dalam menghafal qur’an di sela-sela waktu kuliahnya. Selamat membaca, semoga terinspirasi.. 🙂

= = = = =

Di sebuah kota besar di Indonesia, yang kehidupan metropolitan masih dapat dirasakan, di satu sisi kadangkala ditemukan hal hal yang sangat bersifat religius.

Di sana Penulis sempat menemukan sekelompok pemuda yang sangat akrab dengan Al Qur’an, seakan-akan Al-Quran adalah bagian dari dirinya. Di saku baju atau di tas mereka akan selalu ditemui sebuah Al-Quran kecil. Mereka juga adalah pemuda yang sangat akrab dengan Masjid. Pada saat shubuh mereka hadir di masjid dan di waktu petang mereka telah ada kembali di masjid, di samping kehidupan mereka sebagai mahasiswa.

Yang sangat berkesan bagi penulis adalah bagaimana mereka mencuri waktu untuk dapat menghafal Al Quran atau membaca Al Quran. Ada di antaranya yang mencuri waktu di sela sela waktu stop lampu merah (ampel/traffick light sedang merah ) membuka Al Quran di sakunya untuk sekedar melihat beberapa ayat Al Quran, ketika sedang mengendarai motor.

Ada juga yang mengambil waktu luang ketika mereka sedang berada di kendaraan umum untuk menghafal Al Quran. Agar tidak diketahui ia sedang membaca Al Quran oleh orang sekitarnya, Al Quran tersebut dibungkus dengan sampul buku biasa. Seakan akan orang mengira ia sedang membaca buku. Mereka lakukan untuk menjaga keikhlasannya.

Ada juga yang membawa kaset murrotal Al Quran mendengarkan di waktu luang/free, orang lain mengira ia sedang mendengarkan musik biasa. (Mungkin disaat sekarang dapat digunakan usb MP3 yang lebih praktis)

Dan yang lebih menarik ada yang memfotokopi Al Quran pada halaman tertentu, kemudian dibawa dan agar lebih praktis dengan mudah dihafal seperti note. Subhanallah…..

Adalah sesuatu yang sulit dibayangkan jika pada masa sekarang, di mana kehidupan semakin keras dirasakan, masih ada orang yang melakukan hal demikian, menghidupkan Al Quran. Setidaknya hal tersebut memberikan inspirasi bagi kita untuk lebih akrab dengan Al Quran.

Mimpi orang orang demikian untuk menjadi seorang hafidz Quran bukanlah omong kosong. Jika mereka adalah pemuda yang berumur 20 tahun, maka perlahan tapi istiqomah, ketika ia menjadi seorang ayah berumur 40 tahun, sangat mungkin baginya menjadi seorang penghafal Al Quran. Ia akan mendidik anaknya menjadi seorang hafidz Quran juga. Andaikan mereka adalah seorang yang berumur 40 tahun maka perlahan tapi tetap istiqomah, di waktu ia menjadi seorang tua berumur 60 tahun ,dirinya sudah siap menghadap Alloh sebagai seorang hafidz Qur’an.Ia akan siap mendidik cucunya menjadi seorang Hafidz Quran.

Rasulullah bersabda bahwa pada hari akhir kelak, orang tua para penghafal Al Quran tersebut akan memperoleh penghargaan besar, yaitu akan mendapatkan sebuah mahkota cahaya.

”Barangsiapa yang membaca al-Qur’an dan mengamalkannya maka akan dipakaikan kepada kedua orang tuanya mahkota yang sinarnya lebih terang daripada sinar matahari di dunia pada hari kiamat nanti, kalaulah sekiranya ada bersama kalian, maka apa perkiraan kalian tentang orang yang mengamalkannya (al-Qur’an)?”

(HR. Ahmad, Abu Daud, Al-Baihaqi, dan Al-Hakim)

Tentu kita juga tergiur untuk memberikan Hadiah bagi orang tua kita, sebuah hadiah berupa penghargaan dari Alloh SWT. Terlebih jika orang tua kita telah pergi,untuk mengobati kerinduan kita kepadanya kelak di hari Akhir akan kita berikan berita bahagia bagi mereka bahwa anaknya adalah seorang hafidz Quran. Memang benar pendapat bahwa menghafal Al-Qur’an tidak mudah, tapi setidaknya ada yang bisa kita persembahkan kelak, sesuatu yang berat dan diperlukan kesabaran, sesuatu yang indah sebelum Menghadap kepada Nya dan mempersiapkan mahkota cahaya untuk Bapak dan Ibu kita,….Menjadi Penghafal Al Quran, Hafidz Qur’an.

“Ya Alloh, tuntun diri kami ke jalan yang lurus sebagaimana jalan orang orang yang Engkau beri petunjuk “

Aamiin..

= = = =

Mungkinkah kita menjadi penghafal al-Qur’an?

-Insya Allah…

-Man jadda wajada.. Barangsiapa yang bersungguh-sungguh, ia akan mendapatkan.

-Where there is a will, there is a way.. Di mana ada kemauan, di situ ada jalan.

-Inna ma’al ‘usri yusroo.. Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan.

-Walaqod yasssarnal qur’aana lidz-dzikri fahal min muddakkir.. Sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Qur’an untuk dihafal, adakah yang mau menghafalnya?

-Dengan doa, keyakinan, kesungguhan, dan kesabaran, sesuatu yang nampaknya tidak mungkin bisa menjadi mungkin. bi idznillaah.. Allaahu Akbar!!





..**Belajar Psikologi Wanita Dari Ummi Khadijah RA (1): Potret Seorang Muslimah Sejati**..

21 02 2012

khadijah
Dalam konten psikologi Islami, semangat dari psikologi wanita adalah keteladanan. Cara ini dengan mudah untuk dipahami, karena kita dapat melihat realitas yang ada dari tokoh muslimah yang memberikan contoh berakhlak yang baik sebagai wanita. Dalam kesempatan ini, kita coba akan mengangkat Ummi Khadijah binti Khuwailid RA sebagai jalan menemukan itu.

Istri nabi Muhammad yang pertama ini diangkat semata-mata telah memberikan tafsiran ulang mengenai arti seorang wanita bagi kita semua. Wanita yang tersudutkan terhadap definisi kecantikan dan muda secara empirik, namun terlempar dari fakta keteladanan bagi dinamika kehidupan.

Ummi Khadijah bagai dahaga bagi kaum muslim, karena walaupun secara umur jauh diatas Nabi Muhammad dan dapat dibilang sedang melewati masa tua, namun api jiwa enerjiknya terus menyala walau telah dihantam berbagai ujian. Ini penting bagi kita yang justru menaruh makna masa tua sebagai menurunnya aktivitas dan spirit.

Asam Garam seorang Istri

Beliau adalah seorang sayyidah wanita sedunia pada zamannya. Dia adalah putri dari Khuwailid bin Asad bin Abdul Uzza bin Qushai bin Kilab al-Qurasyiyah al-Asadiyah. Dijuluki ath-Thahirah yakni yang bersih dan suci. Sayyidah Quraisy ini dilahirkan di rumah yang mulia dan terhormat kira-kira 15 tahun sebelum tahun fill (tahun gajah). Beliau tumbuh dalam lingkungan keluarga yang mulia dan pada gilirannya berkembang menjadi wanita cerdas dan agung. Ummi Khadijah RA juga dikenal sebagai seorang yang teguh dan cerdik dan memiliki perangai yang luhur. Karena itulah, tak heran banyak laki-laki dari kaumnya menaruh simpati kepadanya. Tidak hanya berhenti pada fase mengagumi, tapi juga menikahi.

Sebenarnya, pada mulanya beliau dinikahi oleh Abu Halah bin Zurarah at-Tamimi dan membuahkan dua orang anak yang kemudian diberi nama Halah dan Hindun. Tatkala Abu Halah wafat, Ummi Khadijah kemudian dinikahi oleh Atiq bin ‘A’id bin Abdullah al-Makhzumi hingga beberapa waktu lamanya namun akhirnya mereka cerai.

Setelah itu babak baru dijalani. Banyak dari para pemuka-pemuka Quraisy yang menginginkan beliau, tetapi Ummi Khadijah RA lebih memprioritaskan perhatiannya dalam mendidik putra-putrinya. Pun saat itu Ummi Khadijah berada pada basis waktu yang sibuk mengurusi perniagaan dimana beliau melambung menjadi wanita kaya raya berkat kesuksesan bisnisnya.

Sampai suatu ketika, beliau hendak mencari orang yang dapat menjual dagangannya, maka tatkala beliau mendengar tentang Muhammad sebelum bi’tsah (diangkat menjadi Nabi), yang memiliki sifat jujur, amanah dan berakhlak mulia, maka beliau meminta kepada Muhammad untuk menjualkan dagangannya bersama seorang pembantunya yang bernama Maisarah. Akhirnya, beliau memberikan barang dagangan kepada Muhammad melebihi dari apa yang dibawa oleh selainnya. Sejak itu Muhammad memasuk fase baru dalam karir niaga pada konteks Arab waktu itu.

Muhammad al-Amin pun menyetujuinya dan berangkatlah beliau bersama Maisarah, dan Allah menjadikan perdagangannya tersebut menghasilkan laba yang begitu melimpah. Sontak Ummi Khadijah merasa gembira dengan hasil yang banyak tersebut karena usaha dari Muhammad. Akan tetapi disamping itu semua, pada kenyataannya ketakjuban Ummi Khadijah RA terhadap kepribadian Muhammad lebih besar dan lebih mendalam dari sekedar kumpulan harta yang ada. Maka mulailah muncul perasaan dan biduk aneh yang berbaur dibenaknya, yang belum pernah beliau rasakan sebelumnya. Dalam pandangan Ummi Khadijah, pemuda ini yang tak lain Muhammad, tidak sebagamana kebanyakan laki-laki lain yang ada.

Kepercayaan Diri seorang Wanita

Suatu kali Ummi Khadijah merasa pesimis; apa mungkin pemuda tersebut mau menikahinya? Mengingat umurnya sudah renta, bayangkan 40 tahun? Apa kata orang-orang nantinya karena Ummi Khadijah sendiri telah menutup pintu bagi para pemuka Quraisy yang sebelumnya telah gigih melamarnya.

Maka disaat Beliau bingung dan gelisah karena problem yang menggelayuti pikirannya itu, tiba-tiba muncullah seorang temannya bernama Nafisah binti Munabbih. Selanjutnya dia ikut duduk dan berdialog hingga kecerdikan Nafisah mampu menyibak rahasia yang disembuyikan oleh Khodijah tentang problem yang dihadapi dalam kehidupannya. Nafisah layaknya konselor mencoba membesarkan hati Ummi Khadijah RA dan menenangkan perasaannya dengan mengatakan bahwa Khadijah adalah seorang wanita yang memiliki martabat, keturunan orang terhormat, memiliki harta dan berparas cantik. Terbukti dengan banyaknya para pemuka Quraisy yang melamarnya.

Selanjutnya, tatkala Nafisah keluar dari rumah Khadijah, dia langsung menemui Muhammad al-Amin hingga terjadilah dialog yang menunjukan kelihaian dan kecerdikannya seorang Nafisah melempar dadu cinta Ummi kepada lelaki terpercaya itu:

Nafisah : Apakah yang menghalangimu untuk menikah wahai Muhammad?

Muhammad : Aku tidak memiliki apa-apa untuk menikah.

Nafisah : (Dengan tersenyum berkata) Jika aku pilihkan untukmu seorang wanita yang kaya raya, cantik dan berkecukupan, maka apakah kamu mau menerimanya?

Muhammad : Siapa dia ?

Nafisah : (Dengan cepat dia menjawab) Dia adalah Khadijah binti Khuwailid

Muhammad : Jika dia setuju maka akupun setuju.

Nafisah pergi menemui Khadijah untuk menyampaikan kabar gembira tersebut, sedangkan Muhammad al-Amin memberitahukan kepada paman-paman beliau tentang keinginannya untuk menikahi sayyidah Khadijah. Kemudian berangkatlah Abu Tholib, Hamzah dan yang lain menemui paman Khadijah yang bernama Amru bin Asad untuk melamar Khadijah bagi putra saudaranya, dan selanjutnya menyerahkan mahar.

Maka jadilah Sayyidah Quraisy sebagai istri dari Muhammad al-Amin dan jadilah dirinya sebagai contoh yang paling utama dan paling baik dalam hal mencintai suami dan mengutamakan kepentingan suami dari pada kepentingan sendiri. Manakala Muhammad mengharapkan Zaid bin Haritsah, maka dihadiahkanlah oleh Khadijah kepada Muhammad. Demikian juga tatkala Muhammad ingin mengembil salah seorang dari putra pamannya, Abu Tholib, maka Khadijah menyediakan suatu ruangan bagi Ali bin Abi Tholib radhiallâhu ‘anhu agar dia dapat mencontoh akhlak suaminya, Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Di sinlah letak keberanian dan bentuk PD seorang wanita yang tidak harus dipusingkan dengan kecantikkan dan melulu ingin merasa muda secara fisik. Karena bagi Ummi segalanya adalah kedewasaan hati dan keikhlasan atas potensi diri yang membuatnya yakin bahwa Muhammad adalah pilihan terbaik dan mau meminangnya.

Sebuah Komitmen Teguh

Jika Sternberg memberi sinyal komitmen adalah bagian inti dari cinta sejati, namun tak ada orang selain Khadijah yang memberikan komitmen melebihi garis yang didefinisikan Sternberg. Suatu ketika Allah Ta’ala menjadikan Muhammad al-Amin ash-Shiddiq menyukai Khalwat (menyendiri), bahkan tiada suatu aktifitas yang lebih ia sukai dari pada menyendiri. Beliau menggunakan waktunya untuk beribadah kepada Allah di Gua Hira’ sebulan penuh pada setiap tahunnya. Beliau tinggal didalamnya beberapa malam dengan bekal yang sedikit jauh dari perbuatan sia-sia yang dilakukan oleh orang-orang Makkah yakni menyembah berhala dan lain –lain.

Sayyidah ath-Thahirah tidak merasa tertekan dengan tindakan Sang Suami yang terkadang harus berpisah jauh darinya, tidak pula beliau mengusir kegalauannya dengan banyak pertanyaan maupun mengobrol yang tidak berguna, bahkan beliau mencurahkan segala kemampuannya untuk membantu suaminya dengan cara menjaga dan menyelesaikan tugas yang harus dia kerjakan dirumah. Apabila dia melihat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam pergi ke gua, kedua matanya senantiasa mengikuti suaminya terkasih dari jauh. Bahkan dia juga menyuruh orang-orang untuk menjaga beliau tanpa mengganggu suaminya yang sedang menyendiri.

Ketika Rasullullah mulai mendekam di Gua Hira dan mendapatkan wahyu yang membuat Rasululah ketakutan dengan minta untuk diselimutkan. Maka Istri yang dicintainya dan yang cerdas itu menghiburnya dengan percaya diri dan penuh keyakinan, berkatalah ia: “Allah akan menjaga kita wahai Abu Qasim, bergembiralah wahai putra pamanku dan teguhkanlah hatimu. Demi yang jiwaku ada ditangan-Nya, sugguh aku berharap agar anda menjadi Nabi bagi umat ini. Demi Allah, Dia tidak akan menghinakanmu selamanya, sesungguhnya anda telah menyambung silaturahmi, memikul beban orang yang memerlukan, memuliakan tamu dan menolong para pelaku kebenaran.”

Maka menjadi tentramlah hati Nabi berkat dukungan ini dan kembalilah ketenangan beliau karena pembenaran dari istrinya dan keimanannya terhadap apa yang beliau bawa. Sebagai istri, Ummi Khadijah tahu betul psikologis Rasulullah SAW dan apa yang diinginkan sang suami jika mendalami situasi mencekam yaitu sifat menghibur dan memberi situasi nyaman.

Ummi Khadijah akhirnya merubah mindset bagi kita, bahwa istri tidak boleh lantas redup jika sang suami mengalami kesulitan. Akan tetapi, situasinya harus melengkapi dan Ummi Khadijah melalukan itu dengan terkesan menjadi “suami” bukan istri dalam definisi sempit. Inilah sebuah pencerdasan paradigma perempuan untuk bersama-sama kontrukstif dalam bingkai rumah tangga. Tidak lantas surut ketika situasi sang suami ditimpa musibah. Karena suami bukanlah segala-galanya, ia juga makhluk lemah, bisa sakit, dan sewaktu-waktu bisa meninggalkan kita semua. Sudah siapkah para perempuan? Belajarlah dari Ummi Khadijah RA. (Pz/dbs) [khoirunnisa-syahidah.blogspot.com]





..**Memaafkan Seperti Rasulullah Sallallahu Alaihi Wassalam**..

3 02 2012

maaf
ini adalah kisah teladan bagi umat manusia. Ini adalah kisah dari seorang manusia yang mulia. Seseorang yang begitu dikasihi oleh para makhluk penghuni langit dan seisi dunia. Dialah kekasih Allah, Rasulullah Sallallahu Alaihi wassalam, yang namanya akan terus abadi dan terukir dihati para pengikut beliau, bahkan sampai di akhir jaman. Ini adalah kisah dari seorang manusia yang mulia, yang berakhlak mulia, dan yang akan selalu di muliakan.

Sebuah kisah berawal di sudut pasar Madinah Al-Munawarah. Disana hiduplah seorang seorang pengemis Yahudi buta, yang hari demi hari apabila ada orang yang mendekatinya ia selalu berkata “Wahai saudaraku jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu pembohong, dia itu tukang sihir, apabila kalian mendekatinya kalian akan dipengaruhinya”.

Namun setiap pagi pula, Rasulullah sallallahu alaihi wassalam mendatanginya. Beliaupun tak pernah lupa untuk selalu membawakan pengemis tersebut makanan. Semua itu beliau lakukan dengan tanpa berkata sepatah kata pun. Dengan tetap rendah hati dan penuh kasih sayang, beliau menyuap makanan yang dibawanya tersebut, kepada sang pengemis. Dan setiap itu pula, si pengemis tak lupa berpesan dengan kalimat yang sama. Namun, Rasulullah Sallallahu alaihi wassalam masih dan terus melanjutkan kebiasaan itu, sampai akhirnya beliau wafat.

Suatu hari Abubakar r.a berkunjung ke rumah anaknya Aisyah r.a. Abubakar r.a bertanya kepada putrinya tersebut, tentang adakah sunnah dari Rasulullah sallallahu alaihi wassalam yang belum dikerjakannya. Aisyah r.a kemudian menjelaskan bahwa setiap pagi Rasulullah Sallallahu alaihi selalu pergi ke ujung pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang berada di sana.

Keesokan harinya Abubakar r.a. pergi ke pasar dengan membawa makanan dan menemui pengemis buta itu. Beliau mendatanginya dan memberikan makanan kepada si pengemis yahudi.

Ketika beliau mulai menyuapinya, tiba- tiba si pengemis itu berteriak,
“Siapa kau ? engkau bukan orang yang biasa mendatangiku. Apabila dia datang kepadaku, aku tak perlu memegang dan mengunyah makananku sendiri. Dia yang biasa menghaluskan makanan itu dengan mulutnya, setelah itu dia menyuapkannya untukku”, kata pengemis itu dengan nada marah.

Subhanallah, Abubakar r.a. terkejut mendengar kalimat itu, dan selanjutnya beliau tidak dapat menahan air matanya. Sambil menangis, Beliau menceritakan kepada pengemis itu, bahwa beliau memang bukanlah orang yang terbiasa datang kepadanya. Dia adalah sahabat manusia mulia tersebut.

“Beliau adalah Rasulullah Muhammad Sallallahu Alaihi Wassalam.” Lanjut Abu bakar r.a.
Mendengar cerita dari beliau, Seketika itu si pengemis pun ikut menangis dan kemudian berkata,
“Selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya, tapi dia tidak pernah memarahiku sedikitpun, ia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi. Dia benar- benar sangat mulia” cerita sang pengemis dengan terisak.
Dan di akhir kisah, akhirnya si Pengemis Yahudi buta tersebut, bersyahadat dihadapan Abubakar r.a.

Subhanallah, sungguh mulia pribadi Rasulullah Sallallahu alaihi wassalam. Beliau mengajarkan kepada kita tentang bersikap arif kepada orang miskin, dan tetap memperlakukan sesama kita dengan baik, walau bagaimanapun jahatnya mereka atas kita. Beliau juga mengajarkan tentang kedalaman kebaikan dari sebuah memaafkan, dan kasih sayang dalam mengasihi. Semoga rahmat Allah selalu tercurah untuk beliau, Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa ala ‘aali Muhammad.(NayMa/Voa-islam.com). [khoirunnisa-syahidah.blogspot.com]








%d blogger menyukai ini: