Membangun Ketahanan Keluarga Muslim Dari Ancaman Liberalisasi

22 12 2011

HTI Press. Keluarga merupakan sebuah institusi terkecil dalam masyarakat. Dari keluargalah awal sebuah generasi terbentuk. Itulah sebabnya, bangunan sebuah keluarga haruslah kuat supaya mampu menghasilkan generasi tangguh. Ketangguhan keluarga ditentukan oleh landasan pembangun keluarga. Landasan pembangun itu adalah aqidah. Aqidah Islam-lah yang menjadi dasar pemikiran semua anggota keluarga, yang akan menguatkan ketahanan keluarga tersebut.
Disisi lain, tumbuh suburnya kapitalisme yang ditopang oleh negara dalam mengatur kehidupan bermasyarakat dan bernegara tentu membawa pengaruh bagi setiap keluarga. Kapitalisme yang menjunjung tinggi empat (4) macam kebebasan yaitu kebebasan beraqidah, kebebasan berpendapat, kebebasan bertingkah laku, dan kebebasan kepemilikan telah membuat eksistensi sebuah keluarga terancam.
Terkait dengan hal tersebut, pada Ahad (11/12), Muslimah HTI DPD II Tulungagung menggelar acara Sarasehan Muslimah di Aula Dinas Kesehatan yang dihadiri sekitar 200 peserta.
Dr. Nur Erlin dari Muslimah HTI DPD II Tulungagung memaparkan fakta rapuhnya keluarga muslim yang disebabkan faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal yaitu lemahnya aqidah kaum muslimin sehingga tidak memiliki visi dan misi hidup yang jelas, juga lemahnya pemahaman terhadap aturan-aturan Islam termasuk konsep pernikahan dan berkeluarga. “Sedangkan faktor eksternal yang membuat keluarga muslim semakin rapuh, adalah konspirasi asing untuk menghancurkan umat Islam dan keluarga muslim melalui serangan pemikiran dan budaya sekuler yang rusak dan merusak,” ungkap dr Nur. Caranya dengan membujuk masyarakat untuk mendukung nilai-nilai liberal. Faktor eksternal inilah yang saat ini sedang digencarkan oleh pengemban ideologi liberalisme kepada kaum muslimin.
Sedangkan Ustazah Nabila Asy Syafi’ie dari DPP Muslimah HTI memberikan gambaran dan profil keluarga muslim. Keluarga muslim haruslah dibangun berdasarkan ketaqwaan kepada Allah SWT, sehingga setiap anggota keluarga senantiasa berupaya menjalankan hak dan kewajiban menurut syariat Islam. Disamping itu keluarga muslim adalah keluarga yang punya tanggungjawab dan kepedulian untuk amar makruf baik di tingkat masyarakat maupun terhadap penguasa.
Acara diakhiri dengan renungan dan komitmen para peserta untuk berupaya menyelamatkan keluarga dari liberalisasi dengan turut memperjuangkan syariat Islam dalam segala aspek kehidupan, kemudian ditutup dengan do’a.[]

Iklan




PERAN NEGARA MEMPERKOKOH KELUARGA

23 07 2011

Oleh : Kholda Naajiyah

Semua tahu, keluarga adalah elemen terkecil yang merupakan pondasi terpenting pembentukan masyarakat. Keluarga yang utuh, harmonis, sejahtera dan bahagia adalah jaminan terwujudnya masyarakat ideal. Namun, saat ini, bukan perkara mudah membangun sebuah keluarga ideal. Jalan menuju pernikahan semakin terjal, penuh rintangan dan hambatan. Sementara di sisi lain, keluarga yang sudah terbentuk pun kerap mengalami goncangan hingga sulit dipertahankan. Apa masalahnya? Peringatan Hari Keluarga setiap 29 Juni lalu, mungkin bisa menjadi momentum untuk merenungkan kembali makna keluarga, baik dari sisi individual maupun negara. Baca entri selengkapnya »





MEMBIASAKAN ANAK HIDUP BERSAMA AL-QUR’AN

23 04 2011

oleh : Zulia Ilmawati

Setiap orang tua pasti menginginkan buah hatinya menjadi anak yang shalih dan shalihah. Anak shalih shalihah merupakan harta yang paling berharga bagi orang tua. Untuk mendapatkan itu semua, tentu harus ada upaya keras dari orang tua dalam mendidik anak. Salah satu yang wajib diajarkan kepada anak adalah segala hal tentang Al-Qur’an karena ia adalah pedoman hidup manusia. Mengajari anak Al-Qur’an berarti mengajak anak untuk dekat kepada pedoman hidupnya. Dengan cara itu, mudah-mudahan kelak ketika dewasa anak-anak benar-benar dapat menjalani hidup sesuai dengan Al-Qur’an. Inilah satu-satunya jalan untuk membentuk menjadi manusia yang shaleh. Tak heran bila Rasulullah mengingatkan kita untuk mendidik anak dengan Al-Qur’an. Baca entri selengkapnya »





BUNDA, AKU SAYANG KAMU

9 04 2011

by : Zulia Ilmawati

Apa yang paling dinanti seorang wanita yang baru saja menikah ?
Sudah pasti jawabannya adalah : k-e-h-a-m-i-l-a-n.
Seberapa jauh pun jalan yang harus ditempuh, Seberat apa pun langkah yang mesti diayun, Seberapa lama pun waktu yang harus dijalani, Tak kenal menyerah demi mendapatkan satu kepastian dari seorang bidan: p-o-s-i-t-i-f.

Meski berat, tak ada yang membuatnya mampu bertahan hidup kecuali benih dalam kandungannya. Baca entri selengkapnya »





Mawaddah “Unlimit Love”

2 03 2011

Terinspirasi ketika belajar ushul fiqh bersama guru saya, pada waktu itu pembahasannya tentang qarinah, tapi kemudian guru saya sekilas bertanya, kecintaan seorang ibu kepada anaknya apakah al hubb atau mawaddah?

Kecintaan seorang suami kepada istrinya yang tetap setia bertahun-tahun hidup bersama, tanpa melihat fisik apakah al hubb atau mawaddah?

Kecintaan Rasulullah saw ketika mendakwahi umatnya yang susah diajak berpikir apakah al hubb atau mawaddah? Awalnya, saya fikir Baca entri selengkapnya »








%d blogger menyukai ini: