Pencalonan Diri dalam Khilafah

20 03 2012

Di dalam kaidah Hukum Islam, diatur tata cara atau metode menetapkan/ pengangkatan khalifah. Metodenya jelas dengan dilakukan baiat. Hal ini didasarkan pada baiat kaum Muslim kepada Rasulullah SAW dan perintah beliau kepada kita untuk membaiat seorang khalifah. Baiat kaum Muslim kepada Rasulullah SAW bukanlah baiat atas kenabian, tetapi baiat atas pemerintahan.

Dalam Surat al Mumtahanah Allah SWT berfirman :.

Hai Nabi, apabila datang kepadamu perempuan-perempuan yang beriman untuk mengadakan janji setia, bahwa mereka tidak akan mempersekutukan sesuatu pun dengan Allah; tidak akan mencuri, tidak akan berzina, tidak akan membunuh anak-anaknya, tidak akan berbuat dusta yang mereka ada-adakan antara tangan dan kaki mereka dan tidak akan mendurhakaimu dalam urusan yang baik, maka terimalah janji setia mereka dan mohonkanlah ampunan kepada Allah untuk mereka (TQS al-Mumtahanah [60]: 12).

Selanjutnya dalam Sunnah juga diatur sebagaimana Imam al-Bukhari meriwayatkan dalam hadits dari Ubadah bin al-Shamit yang mengatakan:

Kami telah membaiat Rasulullah saw agar mendengar dan menaatinya, baik dalam keadaan senang maupun yang tidak disenangi; dan agar kami tidak mengambil kekuasaan dari orang yang berhak; dan agar kami mengerjakan atau mengatakan yang haqq di mana saja kami berasa, tidak takut kepada Allah kepada celaan orang yang suka mencela (HR al-Bukhari).

Juga Diriwayatkan dari Abdullah bin Amru bin Ash ra, bahwa dia pernah mendengarkan Rasulullah saw bersabda:

Siapa saja yang telah membaiat seorang imam, lalu ia memberikan uluran tangan dan buah hatinya, hendaklah mentaatinya jika mampu. Apabila ada orang lain yang hendak merebutnya maka penggallah leher orang itu (HR Muslim dan Abu Daud).

Nash-nash Alquran dan Sunnah tersebut menunjukkan bahwa baiat merupakan satu-satunya metode pengangkatan khilafah. Para sahabat telah memahami perkara tersebut. Bahkan mereka telah mempraktikkannya dalam pengangkatan al-khulafâ’ al-râsyidûn.

Kampanye dan Pencalonan dalam Khalifah

Proses pengangkatan dan pembaitan khalifah dapat dilaksanakan dalam bentuk yang berbeda-beda. Mengacu kepada yang telah dilakukan dalam al-khulafâ‘ al-râsyidûn. Yaitu Abu Bakar, Umar bin al-Khaththab, Utsman bin ‘Affan, dan Ali bin Abi Thalib radhiyallah ‘anhum. Seluruh sahabat mendiamkan dan menyetujui tata cara yang dilakukan saat itu. Seandainya bertentangan dengan syariah tentu tatacara tersebut termasuk dalam perkara yang harus diingkari. Sebab, perkara tersebut berkaitan dengan perkara terpenting yang menjadi sandaran keutuhan institusi kaum Muslim dan kelestarian pemerintahan yang melaksanakan hukum Islam.

Pertama, pengangkatan Abu Bakar ra sebagai khalifah dihasilkan dari hasil musyawarah sebagian kaum Muslim di Saqifah Bani Sa’idah. Pada saat itu, yang dicalonkan adalah Sa’ad bin Ubadah, Abu Ubaidah bin al-Jarrah, Umar bin al-Khaththab, dan Abu Bakar. Hanya saja, Umar bin al-Khaththab dan Abu Ubaidah tidak bersedia menjadi pesaing Abu Bakar sehingga seakan-akan pencalonan itu hanya terjadi di antara Abu Bakar dan Saad bin Ubadah saja. Bukan yang lain. Dari hasil musyawarah itu, dibaiatlah Abu Bakar. Pada hari kedua kaum Muslim diundang ke Masjid Nabawi untuk membaiat Abu Bakar. Dengan demikian, baiat di Saqifah adalah baiat in’iqãd yang mengangkat Abu Bakar menjadi Khalifah. Sementara baiat pada hari kedua merupakan baiat taat.

Kedua, ketika Abu Bakar merasa bahwa sakitnya akan mengantarkannya pada kematian dan pasukan Muslim sedang berada medan perang melawan negara besar (Persia dan Romawi), beliau memanggil kaum Muslim untuk meminta pendapat mereka mengenai siapa yang akan menjadi khalifah sepeninggalnya. Proses pengumpulan pendapat itu berlangsung selama tiga bulan. Setelah Abu Bakar telah selesai meminta pendapat kaum Muslim, beliau pun mengetahui pendapat mayoritas yang menghendaki Umar sebagai penggantinya. Maka Abu Bakar menunjuk Umar bin al-Khaththab untuk menjadi khalifah sesudahnya. Penunjukan atau pencalonan itu bukanlah merupakan akad pengangkatan Umar sebagai khalifah. Sebab, sesudah wafatnya Abu Bakar, kaum Muslim datang ke masjid dan tetap membaiat Umar untuk memangku jabatan kekhilafahan. Artinya, dengan baiat inilah Umar bin al-Khaththab sah menjadi khalifah kaum Muslim. Bukan dengan proses pengumpulan pendapat kaum Muslim. Juga bukan dengan proses penunjukan oleh Abu Bakar. Seandainya pencalonan oleh Abu Bakar merupakan akad kehilafahan kepada Umar, tentu tidak diperlukan baiat kaum Muslim. Apalagi terdapat nash-nash yang telah disebutkan sebelumnya yang menunjukkan secara jelas bahwa seseorang tidak akan menjadi khalifah kecuali melalui baiat kaum Muslim.

Ketiga, pada waktu Umar bin al-Khaththab tertikam, kaum Muslim meminta beliau menunjuk penggantinya. Akan tetapi, Umar menolaknya. Karena terus didesak, Umar pun menunjuk enam orang yang bermusyawarah mengenai khalifah penggantinya. Keenam orang itu adalah Ali bin Abi Thalib, Utsman bin ‘Affan, Abdurrahman bin ‘Auf, Thalhab bin Ubaidillah, Zubair bin al-Awwam, dan Saad bi Abi Waqash. Beliau juga menunjuk Suhaib untuk mengimami masyarakat dan memimpin enam orang yang telah dicalonkan itu hingga terpilih seorang khalifah dari mereka. Mereka diberikan jangka waktu tiga hari untuk membuat keputusan. Beliau berkata kepada Suhaib, “Jika lima orang telah bersepakat, dan meridhai seseorang (untuk menjadi khalifah), sementara satu orang yang lain menolaknya, maka penggallah leher orang itu dengan pedang.” Kemudian Umar menunjuk Abu Thalhah al-Anshari bersama lima puluh orang lainnya untuk mengawal mereka. Beliau memilih Miqdad untuk memilih tempat bagi para calon itu untuk mengadakan pertemuan.

Setelah Umar wafat dan setelah para calon berkumpul Abdurrahman bin ‘Auf berkata, “Siapakah di antara kalian yang mau mengundurkan diri dan bersedia menyerahkan urusannya untuk dipimpin oleh orang yang terbaik di antara kalian?” Semua diam. Lalu Abdurrahman bin ‘Auf berkata, “Aku mengundurkan diri.”

Abdurrahman bin ‘Auf mulai meminta pendapat mereka satu-persatu. Ia menanyai mereka, seandainya perkara itu diserahkan kepada masing-masing, siapa di antara mereka yang lebih berhak. Akhirnya jawabannya terbatas pada dua orang: Ali bin Abi Thalib dan Utsman bin ‘Affan. Setelah itu, Abdurrahman mulai merujuk pendapat kaum Muslim dan menanyai siapa di antara kedua orang itu (Ali dan Utsman) yang mereka kehendaki. Ia menanyai baik laki-laki maupun perempuan dalam rangka menggali pendapat masyarakat. Abdurrahman melakukannya bukan hanya siang hari, tetapi juga malam hari.

Imam al-Bukhari mengeluarkan riwayat dari jalan al-Miswar bin Mukhrimah yang berkata, “Abdurrahman mengetuk pintu rumahku pada tengah malam, ia mengetuk pintu hingga aku terbangun. Ia berkata,“Aku melihat engkau banyak tidur. Demi Allah, janganlah kalian banyak tidur menghabiskan tiga hari ini -yakni tiga malam-dengan banyak tidur.” Ketika orang-orang melaksanakan subuh, maka sempurnalah pembaitan Utsman. Dengan baiat kaum Mukmin itulah Utsman menjadi khalifah. Bukan dengan penetapan Umar kepada enam orang tersebut.

Keempat, sesudah Utsman bin ‘Affan terbunuh, mayoritas kaum Muslim di Madinah dan Kufah membaiat Ali bin Abi Thalib. Dengan baiat kaum Muslim itu pula Ali menjadi khalifah.

Bertolak dari tatacara pembaiatan al-khulafâ‘ al-râsyidûn para sahabat itu, daat di tarik garis merah bahwa orang-orang yang dicalonkan itu diumumkan kepada masyarakat. Di samping itu, syarat in’iqãd terpenuhi pada masing-masing calon. Kemudian diambil alih pendapat Ahli Halli wa al-aqdi di antara kaum Muslim, yaitu yang merepresentasikan umat. Mereka merepresentasikan umat ini telah dikenal luas pada masa al-khulafâ‘ al-râsyidûn. Siapa saja yang dikehendaki sahabat atau mayoritas para sahabat untuk dibaiat dengan in’iqãd, yang dengan itu ia menjadi khalifah, maka kaum Muslim wajib membaiat mereka dengan baiat taat. Demikianlah proses terwujudnya khilafah yang menjadi wakil umat dalam menjalankan pemerintahan dan kekuasaan.

Inilah yang dapat dipahami dari apa yang terjadi pada proses pembaiatan al-khulafa’ al-rasyidun -semoga Allah meridhai mereka. Selain itu, ada dua perkara lain yang dapat dipahami pencalonan Umar kepada enam orang dan dari prosedur pembaiatan Utsman. Dua perkara itu adalah: (1) adanya amir atau pemimpin sementara selama masa penngangkatan khalifah yang baru, dan (2) pembatasan calon sebanyak enam orang sebagai batasan maksimal.

Wallahu’alam bishshawab…
[al-khilafah.org]

Iklan




14 Penemuan Islam Terpenting

20 03 2012

Oleh : Fahmi Amhar

Kehidupan sehari-hari di zaman modern ini tidak dapat dibayangkan seandainya tidak ada jejak karya ilmuwan Islam di dalamnya. Berikut ini adalah 14 penemuan terpenting yang dipilih dari situs Science Museum of Univ. of Manchester (www.1001inventions.com). Pemilihan dimulai dari yang paling dekat dengan semua orang, yaitu makanan, pakaian, tempat tinggal, urusan pendidikan dan kesehatan, transportasi, hiburan, hingga politik. Tentu saja, siapa saja dapat membuat daftar seperti ini sesuai selera masing-masing.

1. Minum Kopi
Kita mulai dari minuman terpopuler di dunia. Konon ini ditemukan di Ethiopia, ketika seorang penggembala Muslim melihat kambing-kambingnya lebih segar setelah memakan biji-bijian dari dari sejenis tumbuhan. Ia lalu merebus biji tersebut dan membuat kopi pertama di dunia. Sejarah lalu mencatat setelah biji-biji kopi tersebut dibawa ke Yaman, digunakan oleh para sufi untuk mengusir kantuk saat beribadah di malam hari. Pada akhir abad 15 kopi tiba di Mekah dan Turki hingga akhirnya tiba di Venesia pada tahun 1645. Kopi yang dalam bahasa Arabnya “qahwa” di Turki disebut “kahve” di Italia disebut “caffe” dan di Inggris disebut “coffee”.

2. Tata Cara Makan
Tata cara makan yang berupa tiga urutan hidangan makanan yang bermula dari sup, diikuti dengan ikan atau daging, lalu makan buah dan kacang, diperkenalkan oleh Ali bin Nafi, yang dikenal populer dengan Ziryab di Cordoba pada abad 9. Dia juga memperkenalkan cara minum dengan gelas kristal (bukan lagi cangkir logam atau keramik).

3. Memakai Sabun dan Shampoo
Mencuci dan mandi adalah hal religius bagi umat Islam, tidak heran jika mereka menyempurnakan resep untuk sabun yang kita gunakan saat ini. Bangsa Mesir kuno atau orang Romawi sudah mengenal sabun, tapi orang Islamlah yang menggabungkan minyak nabati dengan sodium hidroksida dan aromatik. Shampoo diperkenalkan ke Inggris oleh seorang Muslim yang membuka pemandian “Mahomed’s India Vavour bath” di pinggir laut Brighton pada 1759 M. Dari sana Keramas di perkenalkan dari ahli bedah hingga Raja George IV dan William IV.

4. Menggelar Karpet
Karpet sebagai perlengkapan rumah nyaman adalah produk teknik tenun umat Islam, paduan dari bahan kimia Islam dan pola yang ditata dengan rapi. Menurut pujangga Belanda Erasmus, sebelum rumah-rumah Eropa mengenal karpet, lantai-lantainya biasa tertutup rumput, dan bertahun-tahun, menyimpan dahak, muntah, kotoran anjing, dan lainnya. Tidak mengejutkan bagaimana akhirnya karpet dengan cepat berkembang di sana.

5. Taman untuk Meditasi
Bangsa Eropa sudah biasa memiliki dapur dan taman obat, tapi orang-orang Islamlah yang mengembangkan gagasan kebun sebagai tempat keindahan dan meditasi. Taman dengan julukan “The Royal Pleasure Garden” pertama dibuka di Eropa pada abad ke-11 oleh Muslim Spanyol. Di samping itu kita juga mengenal bunga yang berasal dari daerah Muslim termasuk anyelir dan tulip.

6. Menulis dengan Pena
Tidak ada pendidikan tanpa tulis-menulis. Fountanin pen (pena cair) diciptakan untuk Sultan Mesir pada 953 M setelah ia menuntut pena yang tidak akan menodai tangan atau pakaian. Pena tersebut menyimpan tinta dalam sebuah reservoir dan sebagai pena modern, ia bekerja dengan sistem gravitasi dan sistem kapiler. Ratusan tahun setelah itu, di Eropa orang masih saja harus menulis dengan bulu ayam yang tetesan tintanya akan sering menodai kertas atau tangan mereka.

7. Berhitung “Cara Arab”
Sistem angka mungkin berasal dari India tapi sistem penjabaran angka berasal dari Arab dan pertama kali muncul dalam karya Al-Khwarizmi dan Al-Kindi sekitar tahun 825 M. Isi buku al-Khawarizmi, Al-Jabr wa-al-Muqabilah, masih dipakai hingga kini. Karya ini dibawa ke Eropa 300 tahun kemudian oleh matematikawan Italia, Fibonacci. Algoritma dan banyak teori trigonometri datang dari dunia Muslim. Dan penemuan Al-Kindi mengenai analisis frekuensi telah menciptakan dasar ilmu kriptologi modern.

8. Alat Bedah
Rumah sakit modern tidak terbayangkan tanpa unit bedah. Banyak peralatan bedah modern yang desainnya persis dengan yang dibuat abad 10 oleh Abu Qosim Az-Zahrawi. Pisau bedah, gergaji tulang, tang, gunting halus untuk bedah mata dan sebanyak 200 alat ciptaannya tetap di pakai oleh ahli bedah modern. Dialah yang menemukan Catgut, alat yang digunakan untuk jahitan internal yang dapat melarutkan diri secara alami (penemuan itu terjadi ketika seekor monyet menelan senar kecapinya) dan ternyata benda tersebut juga dapat digunakan untuk membuat kapsul obat. Pada abad ke-13, petugas medis Muslim lainnya bernama Ibn Nafis menjabarkan tentang sirkulasi darah, 300 tahun sebelum William Harvey menemukannya. Muslim dokter juga menemukan obat bius dari campuran opium dan alkohol dan menemukan jarum berongga yang dipakai untuk menyedot katarak dari mata, sebuah teknik yang masih digunakan sampai saat ini.

9. Vaksinasi
Teknik inokulasi dengan kuman yang dilemahkan untuk merangsang kekebalan tubuh ternyata dirancang di dunia Muslim dan dibawa ke Eropa dari Turki oleh istri duta besar Inggris ke Istanbul pada tahun 1724 M. Anak-anak Turki telah divaksin dengan cacar sapi untuk melawan cacar yang mematikan setidaknya 50 tahun sebelum Jenner dan Pasteur di Barat menemukannya.

10 Engkol Poros
Engkol-poros adalah perangkat yang mengubah putaran menjadi gerak linear di hampir semua mesin dalam dunia modern. Penemuan mekanis terpenting dalam sejarah manusia ini diciptakan oleh Al-Jazari untuk mengangkat air untuk irigasi. Dalam bukunya tahun 1206 M mengenai Pengetahuan tentang Alat Mesin, ia menunjukkan penyempurnaan penggunaan katup dan piston, merancang beberapa jam mekanik tenaga air dan berat, dan merupakan ayah dari dunia robotika. Salah satu diantara 50 penemuannya adalah kunci kombinasi.

11. Pesawat Terbang
Penemu prinsip pesawat terbang adalah Abbas Ibnu Firnas, seribu tahun sebelum Wright bersaudara menambahkan mesin padanya. Abbas Ibnu Firnas pada tahun 852 M melompat dari menara Masjid Agung di Cordoba menggunakan jubah longgarnya yang dipadu dengan kayu. Dia berharap untuk meluncur seperti burung, tetapi yang didapatnya adalah apa yang kini dianggap sebagai parasut pertama. Pada tahun 875 M, saat usianya sudah 70 tahun, setelah menyempurnakan alat terbangnya yang memakai sutera dan bulu elang ia mencoba lagi, melompat dari sebuah gunung. Dia terbang dari bisa bertahan di ketinggian selama sepuluh menit tetapi jatuh saat mendarat. Ia menyimpulkan bahwa itu karena ia tidak memberikan ekor pada perangkatnya sehingga akan melambat saat mendarat.

12. Kamera
Tidak terbayangkan saat ini ada suatu acara tanpa diabadikan dengan kamera. Adalah Ibn al-Haitham yang membuat kamera pin-hole pertama setelah mengamati cara cahaya datang melalui lubang di jendela-jendela. Semakin kecil lubang, semakin jelas bentuknya, ia lalu membuat Kamera Obscura pertama (dari kata “qamara” dalam bahasa Arab untuk ruangan gelap atau ruang pribadi). Dia juga disebut orang pertama yang merancang secara fisik sebuah pemikiran filsafat menjadi bentuk eksperimen ilmiah.

13. Geografi
Tidak ada urusan politik tanpa geografi. Pada abad ke-9 M, geografer Muslim telah menganggap bahwa bumi itu bulat. Ibn Hazm mengatakan, “bahwa matahari selalu vertikal terhadap satu titik tertentu di Bumi, itu adalah bukti bumi itu bulat”. Hal itu terjadi 500 tahun sebelum Galileo. Astronom Muslim menghitung keliling bumi kira-kira 40,253 km – hanya kelebihan 253 km dari harga saat ini. Al-Idrisi membawa globe yang menggambarkan dunia ke Raja Roger Sizilia pada 1139 M.

14. Senjata Api
Senjata api adalah perlengkapan standar polisi dan militer di manapun saat ini. Cina adalah penemu mesiu, dan menggunakannya dalam kembang api mereka, tetapi insinyur Muslimlah yang memurnikannya dengan potasium nitrat untuk kepentingan militer. Pada abad ke 15 mereka telah membuat roket, yang mereka disebut “telur bergerak sendiri dan membakar”, dan sebuah terpedo paduan bom berbentuk buah pir dengan tombak di bagian depan yang akan menusuk dirinya dan meledak bila ditembakkan ke kapal musuh.

Semua penemuan ini terjadi karena ada sinergi para ilmuwan yang terdidik dan difasilitasi oleh Daulah Khilafah, kemudian disebarkan ke seluruh dunia dengan semangat rahmatan lil ‘alamin.
[al-khilafah.org]





Penciptaan Komputer Analog di Era Keemasan Islam

12 03 2012

Oleh: Heri Ruslan
Ketika peradaban Islam menggengam dunia, para insinyur Muslim ternyata sudah menguasai teknologi komputer. Yang pasti teknologi yang dikembangkan para saintis di zaman itu bukan komputer digital, melainkan komputer analog. Istilah komputer analog, menurut Wikipedia, digunakan untuk menggambarkan alat penghitung yang bekerja pada level analog – lawan (dual) dari level digital.
Komputer analog pun kerap didefinisikan sebagai komputer yang mengolah data berdasarkan sinyal yang bersifat kualitatif, atau sinyal analog, untuk mengukur variabel-variabel seperti voltase, kecepatan suara, resistansi udara, suhu, pengukuran gempa dan lain-lain. Komputer ini biasanya digunakan untuk mempresentasikan suatu keadaan, seperti untuk termometer, radar, kekuatan cahaya dan lain-lain.
Cikal-bakal penggunaan teknologi komputer analog telah mulai berkembang jauh sebelum Islam datang. Menurut para ahli, Antikythera Mechanism merupakan komputer analog pertama yang digunakan peradaban manusia. Alat yang dikembangkan peradaban Yunani sejak 100 tahun SM itu, tak hanya digunakan untuk memprediksi pergerakan matahari dan bulan, tetapi digunakan juga untuk merencanakan Olimpiade.
Dengan menggunakan teknologi pemindai tiga dimensi, para ahli menemukan fakta bahwa alat yang terdiri cakra angka terbuat dari kuningan dan roda penggerak itu juga dipakai untuk menentukan tanggal Olimpiade. Pada salah satu roda penggerak alat itu tergores kata-kata Isthmia, Olympia, Nemea dan Pythia – bagian dari pertandingan pendahuluan pada kompetisi Panhellic.
Pada era kekhalifahan, teknologi komputer analog dikuasai dan dikembangkan para insinyur Muslim. Sederet peralatan yang menggunakan prinsip komputer analog telah ditemukan para ilmuwan Islam. Alat-alat itu, umumnya digunakan untuk beragam kegiatan ilmiah. Di zaman keemasannya, para astronom Muslim berhasil menemukan beragam jenis astrolabe.
Peralatan astronomi itu digunakan untuk menjawab 1001 permasalahan yang berhubungan dengan astronomi, astrologi, horoskop, navigasi, survei, penentuan waktu, arah kiblat dan jadwal shalat. Menurut D De S Price (1984) dalam bukunya bertajuk “A History of Calculating Machines“, Abu Raihan Al-Biruni merupakan ilmuwan pertama yang menemukan alat astrolabe mekanik pertama untuk menentukan kalender bulan-matahari.
Astrolabe yang menggunakan roda gigi itu ditemukan Al-Biruni pada tahun 1000 M. Tak lama kemudian, Al-Biruni pun menemukan peralatan astronomi yang menggunakan prinsip komputer analog yang dikenal sebagai Planisphere – sebuah astrolabe peta bintang. Pada tahun 1015, komputer analog lainnya ditemukan ilmuwan Muslim di Spanyol Islam bernama Abu Ishaq Ibrahim Al-Zarqali.
Arzachel, demikian orang Barat biasa menyebut Al-Zarqali, berhasil menemukan Equatorium – alat penghitung bintang. Peralatan komputer analog lainnya yang dikembangkan A-Zarqali bernama Saphaea. Inilah astrolabe pertama universal latitude-independent. Astrolabe itu tak tergantung pada garis lintang pengamatnya dan bisa digunakan di manapun di seluruh dunia.
Dua abad kemudian, insinyur Muslim terkemuka bernama Al-Jazari mampu menciptakan “jam istana” (castle clock) – sebuah jam astronomi. Jam yang ditemukan tahun 1206 itu diyakini sebagai komputer analog pertama yang bisa diprogram. Jam astronomi buatan Al-Jazari itu mampu menampilkan zodiak, orbit matahari dan bulan serta bentuk-bentuk bulan sabit.
Peralatan komputer analog lainnya berupa astrolab juga ditemukan Abi Bakar Isfahan pada tahun 1235 M. Peralatan astronomi yang diciptakan astronom dari Isfahan, Iran itu berupa komputer kalender mekanik. Ilmuwan Muslim lainnya bernama Al-Sijzi juga tercatat berhasil menemukan peralatan astronomi yang menggunakan prinsip kerja komputer analog. Alatnya bernama Zuraqi – sebuah astrolabe heliosentris.
Ibnu Samh – astronom terkemuka di abad ke-11 M – juga dicacat dalam sejarah sains islam sebagai salah seorang penemu peralatan komputer analog berupa astrolabe mekanik. Seabad kemudian, ilmuwan Muslim serbabisa legendaris bernama Sharaf Al-Din Al-Tusi menciptakan astolabe linear.
Pada abad ke-15 M, penemuan peralatan yang menggunakan prinsip kerja komputer analog di dunia Islam terbilang makin canggih. Ilmuwan Islam bernama Al-Kashi sukses menciptakanPlate of Conjunctions — sebuah alat hitung untuk menentukan waktu dan hari terjadinya konjungsi planet-planet.
Selain itu, Al-Kashi pun juga menemukan komputer planet: The Plate of Zones. Yakni sebuah komputer planet mekanik yang secara nyata mampu memecahkan sederet masalah terkait planet. Alat yang diciptakan pada abad ke-15 M ini juga dapat memprediksi posisi garis bujur Matahari dan Bulan secara tepat. Tak cuma itu, peralatan astronomi ini juga mampu menentukan orbit planet-planet, garis lintang Matahari, Bulan dan planet-planet serta orbit Matahari.
Semua penemuan itu membuktikan bahwa peradaban Islam menguasai teknologi di era kejayaannya. Padahal, pada masa itu masyarakat Barat berada dalam keterbelakangan dan kebodohan. Tak dapat dipungkiri lagi jika sains dan teknologi merupakan kontribusi paling monumental yang diberikan peradaban Islam kepada dunia modern.
Berkat sains yang berkembang di dunia Islam, peradaban Barat pun bisa keluar dari cengkraman kebodohan. Berkembangnya ilmu pengetahuan serta teknologi di dunia Islam telah membuat para pemikir Barat berdecak kagum. “Pencapaian terpenting di abad pertengahan adalah terciptanya semangat eksperimental yang dikembangkan peradaban Muslim,” tutur Bapak Sejarah Sains, George Sarton dalam bukunya The Introduction to the History of Science.
Oliver Joseph Lodge dalam the Pioneers of Science juga mengakui kehebatan peradaban Islam di masa keemasan. Menurut dia, peradaban Islam yang diwakili masyarakat Arab telah berhasil menghubungkan secara efektif antara sains yang baru dengan ilmu pengetahuan lama. “Zaman kegelapan terjadi karena terjadinya jurang kesenjangan dalam sejarah sains Eropa. Sekitar seribu tahun tak ada aktivitas sains, kecuali di peradaban Islam,” cetus Lodge.
Muhammad Iqbal dalam The Reconstruction of Religious Thought in Islam menyatakan bahwa peradaban Islam yang berkembang di Arab berhasil mendorong berkembangnya sains dengan begitu pesat di saat Barat dikungkung kebodohan. Pada masa itu, umat Islam telah memperkenalkan metoda eksperimental, observasi dan pemikiran.
Itulah sumbangan penting peradaban Islam dalam mengembangkan teknologi komputer analog.
sumber: republika.co.id (10/3/2012)





Top-14 Penemuan Islam Terpenting

3 03 2012

tokoh
Fahmi Amhar
Kehidupan sehari-hari di zaman modern ini tidak dapat dibayangkan seandainya tidak ada jejak karya ilmuwan Islam di dalamnya. Berikut ini adalah 14 penemuan terpenting yang dipilih dari situs Science Museum of Univ. of Manchester (www.1001inventions.com). Pemilihan dimulai dari yang paling dekat dengan semua orang, yaitu makanan, pakaian, tempat tinggal, urusan pendidikan dan kesehatan, transportasi, hiburan, hingga politik. Tentu saja, siapa saja dapat membuat daftar seperti ini sesuai selera masing-masing.
1. Minum Kopi
Kita mulai dari minuman terpopuler di dunia. Konon ini ditemukan di Ethiopia, ketika seorang penggembala Muslim melihat kambing-kambingnya lebih segar setelah memakan biji-bijian dari dari sejenis tumbuhan. Ia lalu merebus biji tersebut dan membuat kopi pertama di dunia. Sejarah lalu mencatat setelah biji-biji kopi tersebut dibawa ke Yaman, digunakan oleh para sufi untuk mengusir kantuk saat beribadah di malam hari. Pada akhir abad 15 kopi tiba di Mekah dan Turki hingga akhirnya tiba di Venesia pada tahun 1645. Kopi yang dalam bahasa Arabnya “qahwa” di Turki disebut “kahve” di Italia disebut “caffe” dan di Inggris disebut “coffee”.
2. Tata Cara Makan
Tata cara makan yang berupa tiga urutan hidangan makanan yang bermula dari sup, diikuti dengan ikan atau daging, lalu makan buah dan kacang, diperkenalkan oleh Ali bin Nafi, yang dikenal populer dengan Ziryab di Cordoba pada abad 9. Dia juga memperkenalkan cara minum dengan gelas kristal (bukan lagi cangkir logam atau keramik).
3. Memakai Sabun dan Shampoo
Mencuci dan mandi adalah hal religius bagi umat Islam, tidak heran jika mereka menyempurnakan resep untuk sabun yang kita gunakan saat ini. Bangsa Mesir kuno atau orang Romawi sudah mengenal sabun, tapi orang Islamlah yang menggabungkan minyak nabati dengan sodium hidroksida dan aromatik. Shampoo diperkenalkan ke Inggris oleh seorang Muslim yang membuka pemandian “Mahomed’s India Vavour bath” di pinggir laut Brighton pada 1759 M. Dari sana Keramas di perkenalkan dari ahli bedah hingga Raja George IV dan William IV.
4. Menggelar Karpet
Karpet sebagai perlengkapan rumah nyaman adalah produk teknik tenun umat Islam, paduan dari bahan kimia Islam dan pola yang ditata dengan rapi. Menurut pujangga Belanda Erasmus, sebelum rumah-rumah Eropa mengenal karpet, lantai-lantainya biasa tertutup rumput, dan bertahun-tahun, menyimpan dahak, muntah, kotoran anjing, dan lainnya. Tidak mengejutkan bagaimana akhirnya karpet dengan cepat berkembang di sana.
5. Taman untuk Meditasi
Bangsa Eropa sudah biasa memiliki dapur dan taman obat, tapi orang-orang Islamlah yang mengembangkan gagasan kebun sebagai tempat keindahan dan meditasi. Taman dengan julukan “The Royal Pleasure Garden” pertama dibuka di Eropa pada abad ke-11 oleh Muslim Spanyol. Di samping itu kita juga mengenal bunga yang berasal dari daerah Muslim termasuk anyelir dan tulip.
6. Menulis dengan Pena
Tidak ada pendidikan tanpa tulis-menulis. Fountanin pen (pena cair) diciptakan untuk Sultan Mesir pada 953 M setelah ia menuntut pena yang tidak akan menodai tangan atau pakaian. Pena tersebut menyimpan tinta dalam sebuah reservoir dan sebagai pena modern, ia bekerja dengan sistem gravitasi dan sistem kapiler. Ratusan tahun setelah itu, di Eropa orang masih saja harus menulis dengan bulu ayam yang tetesan tintanya akan sering menodai kertas atau tangan mereka.
7. Berhitung “Cara Arab”
Sistem angka mungkin berasal dari India tapi sistem penjabaran angka berasal dari Arab dan pertama kali muncul dalam karya Al-Khwarizmi dan Al-Kindi sekitar tahun 825 M. Isi buku al-Khawarizmi, Al-Jabr wa-al-Muqabilah, masih dipakai hingga kini. Karya ini dibawa ke Eropa 300 tahun kemudian oleh matematikawan Italia, Fibonacci. Algoritma dan banyak teori trigonometri datang dari dunia Muslim. Dan penemuan Al-Kindi mengenai analisis frekuensi telah menciptakan dasar ilmu kriptologi modern.
8. Alat Bedah
Rumah sakit modern tidak terbayangkan tanpa unit bedah. Banyak peralatan bedah modern yang desainnya persis dengan yang dibuat abad 10 oleh Abu Qosim Az-Zahrawi. Pisau bedah, gergaji tulang, tang, gunting halus untuk bedah mata dan sebanyak 200 alat ciptaannya tetap di pakai oleh ahli bedah modern. Dialah yang menemukan Catgut, alat yang digunakan untuk jahitan internal yang dapat melarutkan diri secara alami (penemuan itu terjadi ketika seekor monyet menelan senar kecapinya) dan ternyata benda tersebut juga dapat digunakan untuk membuat kapsul obat. Pada abad ke-13, petugas medis Muslim lainnya bernama Ibn Nafis menjabarkan tentang sirkulasi darah, 300 tahun sebelum William Harvey menemukannya. Muslim dokter juga menemukan obat bius dari campuran opium dan alkohol dan menemukan jarum berongga yang dipakai untuk menyedot katarak dari mata, sebuah teknik yang masih digunakan sampai saat ini.
9. Vaksinasi
Teknik inokulasi dengan kuman yang dilemahkan untuk merangsang kekebalan tubuh ternyata dirancang di dunia Muslim dan dibawa ke Eropa dari Turki oleh istri duta besar Inggris ke Istanbul pada tahun 1724 M. Anak-anak Turki telah divaksin dengan cacar sapi untuk melawan cacar yang mematikan setidaknya 50 tahun sebelum Jenner dan Pasteur di Barat menemukannya.
10 Engkol Poros
Engkol-poros adalah perangkat yang mengubah putaran menjadi gerak linear di hampir semua mesin dalam dunia modern. Penemuan mekanis terpenting dalam sejarah manusia ini diciptakan oleh Al-Jazari untuk mengangkat air untuk irigasi. Dalam bukunya tahun 1206 M mengenai Pengetahuan tentang Alat Mesin, ia menunjukkan penyempurnaan penggunaan katup dan piston, merancang beberapa jam mekanik tenaga air dan berat, dan merupakan ayah dari dunia robotika. Salah satu diantara 50 penemuannya adalah kunci kombinasi.
11. Pesawat Terbang
Penemu prinsip pesawat terbang adalah Abbas Ibnu Firnas, seribu tahun sebelum Wright bersaudara menambahkan mesin padanya. Abbas Ibnu Firnas pada tahun 852 M melompat dari menara Masjid Agung di Cordoba menggunakan jubah longgarnya yang dipadu dengan kayu. Dia berharap untuk meluncur seperti burung, tetapi yang didapatnya adalah apa yang kini dianggap sebagai parasut pertama. Pada tahun 875 M, saat usianya sudah 70 tahun, setelah menyempurnakan alat terbangnya yang memakai sutera dan bulu elang ia mencoba lagi, melompat dari sebuah gunung. Dia terbang dari bisa bertahan di ketinggian selama sepuluh menit tetapi jatuh saat mendarat. Ia menyimpulkan bahwa itu karena ia tidak memberikan ekor pada perangkatnya sehingga akan melambat saat mendarat.
12. Kamera
Tidak terbayangkan saat ini ada suatu acara tanpa diabadikan dengan kamera. Adalah Ibn al-Haitham yang membuat kamera pin-hole pertama setelah mengamati cara cahaya datang melalui lubang di jendela-jendela. Semakin kecil lubang, semakin jelas bentuknya, ia lalu membuat Kamera Obscura pertama (dari kata “qamara” dalam bahasa Arab untuk ruangan gelap atau ruang pribadi). Dia juga disebut orang pertama yang merancang secara fisik sebuah pemikiran filsafat menjadi bentuk eksperimen ilmiah.
13. Geografi
Tidak ada urusan politik tanpa geografi. Pada abad ke-9 M, geografer Muslim telah menganggap bahwa bumi itu bulat. Ibn Hazm mengatakan, “bahwa matahari selalu vertikal terhadap satu titik tertentu di Bumi, itu adalah bukti bumi itu bulat”. Hal itu terjadi 500 tahun sebelum Galileo. Astronom Muslim menghitung keliling bumi kira-kira 40,253 km – hanya kelebihan 253 km dari harga saat ini. Al-Idrisi membawa globe yang menggambarkan dunia ke Raja Roger Sizilia pada 1139 M.
14. Senjata Api
Senjata api adalah perlengkapan standar polisi dan militer di manapun saat ini. Cina adalah penemu mesiu, dan menggunakannya dalam kembang api mereka, tetapi insinyur Muslimlah yang memurnikannya dengan potasium nitrat untuk kepentingan militer. Pada abad ke 15 mereka telah membuat roket, yang mereka disebut “telur bergerak sendiri dan membakar”, dan sebuah terpedo paduan bom berbentuk buah pir dengan tombak di bagian depan yang akan menusuk dirinya dan meledak bila ditembakkan ke kapal musuh.
Semua penemuan ini terjadi karena ada sinergi para ilmuwan yang terdidik dan difasilitasi oleh Daulah Khilafah, kemudian disebarkan ke seluruh dunia dengan semangat rahmatan lil ‘alamin.





SEKILAS PERJALANAN DAN PRESTASI IPTEK DI BAWAH NAUNGAN ISLAM

17 01 2012

Kaum muslim saat ini berada dalam keadaan tidak berdaya dan mengalami stagnasi bahkan kemunduran dalam berbagai bidang terutama Iptek. Sekalipun memiliki kekayaan SDA yang melimpah dan SDM yang mayoritas Muslim namun tetap terkebelakang bahkan masih terjajah. Keadaan menyedihkan ini bukan disebabkan lantaran mengikuti aturan Islam tetapi justru karena kaum muslim tidak mengikuti aturan Islam atau tidak adanya kesungguhan kaum muslim dalam mengaplikasikan Islam sebagai pandangan hidup atau ideologi.
Tidak ada umat yang maju, baik dalam bidang Iptek maupun bidang yang lainnya tanpa berpedoman pada ideologi tertentu, tak terkecuali kaum Muslim. Orang-orang Barat berpedoman pada ideologi kapitalisme dan mereka meraih kemajuan diberbagai bidang. Karena sebelumnya perkembangan Iptek mengalami kemandegan pada masa kekuasaan gereja-gereja kristen di eropa. Oleh karena itu, diambilah jalan tengah yaitu kapitalisme. Selain itu, orang-orang di wilayah bekas Uni Soviet dan Eropa Timur pernah mangambil komunisme dan mereka pun mengalami kemajuan, khusunya dalam bidang Iptek.
Islam tidak hanya agama, tapi Islam adalah ideologi yang berasaskah akidah dan melahirkan peraturan yang menyeluruh. Aturan Islam seluruh aspek kehidupan, tidak hanya hubungan dengan Allah tapi juga hubungan dengan sesama dan individu sendiri. Islam sebagai ideologi mendorong manusia untuk berpikir dan memperoleh pendidikan, Kaum muslim diwajibkan untuk berinteraksi dengan umat lain dalam rangka menyampaikan dakwah kepada mereka. Dalam upayanya melaksanakan tugas ini, kaum muslim diperintahkan untuk membangun kekuatan material. Khalifah bertanggung jawab untuk menggunakan segala cara yang diperbolehkan syara’ untuk memelihara urusan umat. Ini semua merupakan faktor yang mendorong kaum muslim untuk menguasai Iptek.
Sejak masa-masa awal Islam, kaum muslim di seluruh wilayah pada umumnya dan di jazirah Arab pada khususnya, pergi menjelajahi berbagai daratan, bukit, sungai, lautan, hutan, dan gurun untuk keperluan jihad, haji, atau berdagang. Dalam melakukan aktivitas hidupnya, mereka mengumpulkan berbagai informasi tentang masalah-masalah sosial, politik, sejarah, geografi, ekonomi, pertanian, maupun masalah-masalah lainnya dari negeri yang dikunjungi atau ditempati.
Informasi yang dikumpulkan semakin banyak, maka beberapa pengetahuan seperti sejarah dan gografi pun semakin berkembang. Pada masa-masa tersebut, penjelajahan merupakan aktivitas yang membosankan sekaligus membahayakan, karena belum ada sarana transportasi selain hewan dan jalan yang permanen. Namun, kaum muslim telah sering melakukan penjelajahan dan ekspedisi melalui berbagai macam medan.
Dengan kecermatan pengamatan, mereka mengumpulkan informasi tentang hewan seperti kuda, unta, dan domba, serta sejumlah tumbuhan yang biasa tumbuh di padang pasir. Pemanfaatan beberapa jenis tumbuhan untuk keperluan obat-obatan juga sudah dikenal. Penyebutan beberapa istilah organ luar dan dalam tubuh manusia dan hewan dalam beberapa literatur Arab pra-Islam menunjukkan bahwa pengetahuan mereka tentang anatomi sudah cukup berkembang. Bangsa Arab juga sudah mempunyai pengetahuan tentang astronomi dan meteorologi. Mereka telah memilki informasi mengenai beberapa bintang, pergerakan planet-planet, serta pola cuaca. Mereka juga menguasai beberapa keahlian, seperti pengembangbiakan kuda maupun perawatan unta.
Agar karya ilmiah dari luar negeri dapat dipahami dengan mudah, maka perlu dilakukan alih bahasa atau penerjemahan karya ilmiah tersebut ke dalam bahasa Arab. Bahasa Arab merupakan bahasa yang fleksibel dan kaya, sehingga berbagai istilah dalam ilmu-ilmu baru itu dapat dijelaskan dengan mudah. Tujuan ilmu tentu bukan sekedar penerjemahan yang terpenting adalah mendayagunakan apa yang telah diterjemahkan itu.
Sekolah-sekolah didirikan disejumlah tempat di dunia Islam untuk mengemban tugas penerjemahan. Pada masa Khilafah Bani Abbasiyah, khusunya zaman Khalifah al-Mansur dan al-Makmun, berbagai aktivitas sudah banyak dilakukan untuk menyiapkan dan menerjemahkan berbagai karya ilmiah. Pada akhir abad ke-10 telah banyak karya penting yang berhasil diselesaikan. Para penerjemah berasal dari berbagai golongan etnik, seperti Naubakht dari Persia, Muhammad bin Ibrahim al-Fazari dari Arab, dan Hunain bin Ishaq yang dulunya adalah seorang penganut Kristen Nestorian dari Hirah.
Para ilmuwan muslim seringkali menerima kesimpulan ilmiah dari pihak lain, kemudian mengujinya dengan melakukan verifikasi. Namun tidak jarang pula mereka melakukan observasi dan eksperimen terhadap masalah-masalah baru hingga menghasilkan penemuan-penemuan baru. Para ilmuwan muslim biasa menggunakan pendekatan praktis bagi permasalahan ilmiah yang memuat pemikiran-pemikiran abstrak.
Para ilmuwan muslim sudah mengenal aspek fisik (kualitatif) dan aspek matematis (kuantitatif) dari suatu ilmu pengetahuan. Mereka melakukan penelitian terhadap aspek kualitatif maupun kuantitatif dari berbagai problem ilmiah. Sebagai contoh, Ibnu Khurdadhbeh menghitung derajat lintang dan bujur berbagai tempat di dunia Islam. Sementara itu, al-Biruni menghitung gaya tarik sejumlah zat kimia.
Eksperimen-eksperimen ilmiah dalam bidang kimia, fisika, dan farmasi dilakukan di laboratorium, sedangkan penelitian dalam bidang patologi dan pembedahan dilakukan di rumah sakit-rumah sakit. Sejumlah observatorium juga dibangun di beberapa lokasi di dunia Islam, seperti di Damaskus, Baghdad, dan Naisabur untuk melakukan pengamatan astronomi.
Persiapan bedah mayat juga dilakukan dalam rangka praktik pengajaran anatomi. Khalifah al-Mu’tashim pernah mengirimkan kera untuk dijadikan peraga dalam kegiatan ini. Demonstrasi operasi pembedahan bagi para mahasiswa diberikan di rumah sakit-rumah sakit.
Tingkat melek huruf di kalangan kaum muslim mencapai level tertinggi pada abad 11 dan 12 M. Tingginya semangat keilmuan pada masa itu diindikasikan dengan karya optik Shihab al-Din al-Qirafi, seorang ulama fiqih dan hakim Kairo yang menangani 50 macam masalah penglihatan.
Dalam naungan hukum Islam, para ilmuwan tidak hanya memberikan konstribusi demi kemajuan ilmu pengetahuan, tetapi juga mengaplikasikan penemuan ilmiahnya dalam bentuk inovasi teknologi. Mereka mengamati bintang-bintang, kemudian menyusun peta bintang untuk keperluan navigasi. Ibnu Yunus memanfaatkan pendulum untuk menentukan ukuran waktu. Ibnu Sina menggunakan termometer udara untuk mengukur temperatur udara. Kertas, kompas, senapan, bubuk mesiu, asam anorganik, dan alkali merupakan sebagian bukti perkembangan Iptek di kalangan ilmuwan Muslim yang menghasilkan revolusi peradaban manusia yang tidak pernah terjadi sebelumnya.
Para ilmuwan Muslim menjadikan aljabar sebagai cabang dari matematika. Istilah’aljabar’ berasal dari bahasa Arab yaitu ‘Jabr’. Para cendikiawan Muslim juga mengembangkan trigonometri bidang datar dan sferis, serta mengaplikasikannya dalam ilmu astronomi. Mereka juga membedakan astrologi dari astronomi, astrologi adalah keyakian bahwa posisi bintang sangat berpengaruh terhadap nasib manusia dan merupakan bid’ah sedangkan astronomi berkembang menjadi ilmu murni, setelah dibersihkan dari kepercayaan-kepercayaan takhayul.
Berbagai kata atau istilah Arab yang banyak digunakan dalam bahasa Eropa menjadi monumen hidup atau bukti nyata konstribusi kaum Muslim, pada sains modern. Disamping itu, sejumlah besar buku diberbagai perpustakaan di Asia dan Eropa, museum-museum di berbagai negeri, serta masjid dan istana yang dibangun berabad-abad silam juga merupakan bukti adanya fenomena penting ini dalam sejarah dunia.
Dalam proses penerjemahan, banyak nama ilmuwan muslim yang mengalami perubahan,sehingga membuat para pembaca mengira bahwa mereka adalah orang-orang non- Muslim dari Eropa. Beberapa nama diantaranya adalah:
Abul Qasim al-Zahrawi menjadi Albucasis
Muhammad ibnu Jabir ibnu Sinan al-Battani menjadi Albbetinius
Abu ‘Ali ibnu Sina menjadi Avicenna, dll.

Dengan demikian, jelas sekali bahwa semangat penelitian di kalangan kaum Muslim serta metode ilmiah yang mereka rumuskan telah menghasilkan revolusi ilmu pengetahuan modern.
Wallahu’alam…
Dikutip sebagian besar dalam buku Warisan Peradaban Islam & Saintis Muslim oleh Shahib al Kutb…
*Mujahiddah Balangan^_^





IPTEK ERA KHILAFAH: MEMBANGUN NALAR ILMIAH & PERADABAN DUNIA

17 11 2011

IPTEK merupakan salah satu kunci keunggulan suatu bangsa. Namun, lebih urgen lagi jika suatu bangsa mempunyai motivasi untuk menguasai IPTEK. Sayang jika suatu bangsa tidak peduli dan tidak mempunyai motivasi untuk IPTEK. Selama motivasi ini ada, bangsa tak kan pernah kenal lelah untuk mempelajari dan mengembangkan IPTEK serta menyiapkan segala infrastruktur yang diperlukan. Bangsa tidak hanya mengejar ketinggalan tapi akan bisa mempertahankan keunggulan yang mereka raih.
Motivasi dalam IPTEK paling rendah adalah paksaan atau rangsangan ekonomi; karena mudah hilang dan tidak berkesinambungan. Beda dengan motivasi tinggi, yaitu keyakinan bahwa itu benar dan harus dilakukan; karena akan hidup terus-menerus dan bisa diwariskan ke generasi berikutnya. Motivasi inilah yang dimiliki oleh para Nabi dan juga diwarisi umat Islam di masa lalu sehingga bisa mengangkat bangsa yang ummi (buta huruf) menjadi bangsa yang meningglkan jejak luar biasa pada dunia IPTEK.
Aspek Normatif
Ayat yang turun pertama adalah ayat tentang perintah membaca (QS. al-‘Alaq [96]: 1-5). Selanjutnya Allah memerintahkan menggunakan akal, menyebut kedudukan yang tinggi bagi orang-orang yang melihat alam, berpikir, memahami dan mempertebal keimanannya, Sains terkait langsung dengan iman (QS. Yunus [10]: 100; Fathir [35]: 28; Yunus [10]: 101). Kemudian Allah memerintahkan kita untuk menundukkan alam sesuai sunnatullah maka muncullah teknologi (QS. al-Jatsiyah [45]: 13).
Banyak contoh yang diberikan Nabi dan lalu diteruskan oleh para salafusshalih yang menjadikan umat Islam dalam waktu singkat bisa mengungguli IPTEK yang tidak pernah dikuasai oleh bangsa manapun sebelumnya. Buktinya Islam unggul dalam IPTEK yaitu:
1. Pembentukan penalaran ilmiah
Islam tidak menerima pendapat tanpa argumentasi rasional, siapapun yang megucapkan (QS. An-Naml [27]: 64). Islam tidak mengakui sangkaan (zhann) untuk hal-hal yang perlu keyakinan penuh dan ilmu yang akurat (QS. An-Najm [53]:28). Islam menolak subyektivitas emosi karena apapun kesimpulannya, ia berinterkasi pada hukum alam (QS. Shad [38]: 26). Islam mengikis patuh buta (taklid), baik itu kepada nenek moyang, pemimpin, apalagi pada orang awam (QS. Al-Baqarah [2]: 170). Islam mementingkan pengamatan empiris terhadap langit dan bumi dan segala isinya (QS. Adz-Dzariyat [51]: 20-21).

2. Pengakuan metode eksperimental
Pada kasus pencakokkan kurma yang ternyata gagal, Rasulullah saw bertanya, “Apa yang terjadi?” Mereka menjawab, “Baginda telah mengatakan begini dan begitu”. Rasulullah bersabda, “Kalian lebih tahu urusan teknik dunia kalian.” (HR. Muslim).
Dalam hadits lain, Rasul saw, bersabda, “Ucapanku dulu hanyalah dugaanku. Jika berguna, lakukanlah. Aku hanyalah seorang manusia seperti kamu. Dugaan bisa benar bisa salah. Namun, apa yang kukatakan kepada kamu dengan Allah berfirman, maka aku tak akan pernah berdusta terhadap Allah.” (HR. Ahmad).

3. Memetik segala yang bermanfaat
Rasulullah saw. bersabda, “ilmu itu bagai binatang ternak sesat orang Mukmin. Di manapun ia menemukannya, ia lebih berhak atasnya.” (HR. At-Tirmizi dan Ibnu Majah).
Atas dasar ini, maka umat Islam tidak perlu merasa risih belajar ilmu-ilmu yang tidak terwarnai pandangan hidup pemiliknya. Seperti, mate-matika, fisika, kedokteran, ilmu militer hingga administrasi.

4. Memberantas tahayul dan khurafat
Saat terjadi gerhana matahari yang bertepatan dengan wafatnya Ibrahim putra Nabi saw., sebagian muslim menghubungkan hal itu sebagai tanda kebenaran Nabi saw. sehingga “matahari pun turut berduka”. Namun, Nabi saw. bersabda, “Gerhana matahari dan bulan tidak terjadi karena kematian atau kelahiran seseorang, tetapi keduanya adalah tanda-tanda kekuasaan Allah.” (HR. Muslim).

Implikasi Kebijakan
Semua amalan itu ada ilmunya. Amalan yang fardhu ‘ain, ilmunya juga fardhu ‘ain; adalah amalan yang sehari-hari harus dikerjakan oleh setiap orang, baik untuk diri sendiri, berhubungan kepada Allah, maupun dengan sesama manusia. Amalan yang fardhu kifayah, ilmunya pun fardhu kifayah.
Hidup dalam dakwah. Dengan itu, dalam belajar seorang Muslim akan menyerap ilmu secara maksimal sebab nanti ia harus mampu meneruskannya ke orang lain; dalam bekerja harus mencapai prestasi terbaik sebab nanti ia harus bisa menjadi contoh bagi yang lain.
Negara Islam menyiapkan infrastruktur yang mendukung. Dukungan Negara bisa dimulai dari menjamin kebebasan akademis, pemerataan akses ilmu (pendirian sekolah, perpustakaan, observatorium, laboratorium) hingga implementasinya, Kestabilan politik serta jumlah “penjaga gawang keadilan” yang memadai juga membebaskan para ilmuwan IPTEK untuk berkonsentrasi pada riset IPTEK-nya, tanpa harus selalu diputus untuk amar makruf nahi mungkar.
Bukti Historis
Prestasi umat Islam dalam sains dan teknologi sangat banyak dan berjalan konsisten selama hampir 1200 tahun. Memang, ada masa-masa ketika ilmu-ilmu dasar seperti matematika, fisika, kimia, dan astronomi lebih berkembang, yaitu pada awal era Abbasiyah. Kemudian ada pada masa saat teknologi seperti kedokteran, geografi, pertanian, permesinan, arsitektur bahkan teknik senjata lebih berkembang, seperti pada era Utsmani. Hal ini diakui oelh banyak sejahrawan Barat.
John J. O’connor dan Edmund F. Robertson (1999) menulis dalam MacTutor History of Mathematics Archive yang artinya:
“Penelitian terkini memberikan gambaran yang baru pada hutang yang telah diberikan matematika Islam pada kita. Dapat dipastikan bahwa banyak ide yang sebelumnya kita anggap merupakan konsep-konsep brilian matematikawan Eropa pada abad 15, 17, dan 18 ternyata telah dikembangkan oleh matematikawan Arab / Islam kira-kira empat abad lebih awal”.
Will Durant juga menulis dalam The Story of Civilization IV: The Age of Faith yang artinya:
“Kimia adalah ilmu yang hampir seluruhnya diciptakan oleh kaum muslim. Saat dalam bidang ini orang-orang Yunani tidak memiliki pangalaman industri dan hanya memberikan hipotesis yang meragukan, para ilmuwan muslim mengantarkan pada pengamatan teliti, eksperimen terkontrol dan catatan yang hati-hati. Mereka menemukan dan memberi nama alembic (al-anbiq), menganalisis substansi yang tak terhitung banyaknya, membedakan alkali dan asam, mempelajari kemiripannya, mempelajari dan memproduksi ratusan jenis obat. Alkimia yang diwarisi kaum muslim dari Mesir menyumbangkan untuk kimia ribuan penemuan insedental, dari metodenya yang paling ilmiah dari seluruh kegiatan pada zaman pertengahan.
Phillip K. Hitti pun menulis dalam History of the Arabs tentang Abbas ibn Firnas (abad 10 M) yang melakukan eksperimen alat terbang di Cordoba.
Donald R Hill dalam bukunya, Islamic Technology: an Illustrated History (Unesco & The Press Syndicate of the University of Cambridge, 1986), membuat sebuah daftar yang lumayan panjang dari industri yang pernah ada dalam sejarah Islam; dari industri mesin, bahan bangunan, pesenjataan, perkapalan, kimia, tekstil, kertas, kulit, pangan hingga pertambangan dan metalurgi.
Kata-kata Arab pun terwarisi dalam istila-istilah astronomi, alat-alat bedah hingga barang-barang yang ada di dapur.
Wallahu’alam…
By: Mujahiddah Balangan, Rahmi S
*Diambil dari al-Wa’ie oleh Prof. Dr. –Ing. Fahmi Amhar.





ILMU PENGETAHUAN BERKEMBANG PESAT DI DALAM NEGARA ISLAM

17 11 2011

Pernyataan bahwa agama bertentangan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, sama sekali tak dikenal dalam Islam. Sejarah menunjukkan bahwa hampir semua kemajuan ilmu pengetahuan diraih kaum muslim pada saat mereka berada dalam naungan hukum Islam, bukan pada saat Islam dipisahkan dari kehidupan mereka. Bahkan buku-buku sejarah karangan para penulis non-muslim mengakui kenyataan ini. Bukti yang lain adalah adanya berbagai kata yang biasa digunakan Barat, seperti alcohol, cipher, sugar, algebra, admiral, alchemy, atlas, coffe, cotton, dan sebagainya berasal dari istilah-istilah bahasa Arab. Banyak di antara kata-lata tersebut yang biasa digunakan dalam khazanah ilmu pengetahuan berasal dari negara Islam. Inilah indikasi bahwa budaya ilmiah sudah berkembang dengan baik.
Ilmu pengetahuan berkembang pesat dalam naungan Islam. Tidak ada penindasan sebagaimana yang dilkukan otoritas gereja di Eropa, yang mengakibatkan “era kegelapan”, sampai akhirnya masyarakat menghapuskan pengaruh gereja. Para pemikir Islam mendefinisikan dengan jelas dua jenis pengetahuan. Ibnu Khaldun dalam kitabnya, al-Muqaddimah, mengatakan bahwa pengetahuan (‘uluum) itu ada dua macam, yaitu ilmu thabi’i (alamiah) di mana manusia mendapatkannya melalui pemikirannya, dan ilmu naqly (pemberitaan) yang diperoleh manusia dari Yang Membuatnnya. Pertama, adalah pengetahuan yang bersifat rasional dan filsafat yang diperoleh seseorang dari pemikirannya sendiri. Dengan pemikirannya ia memperoleh topik-topiknya, masalah-masalahnya, dan seluruh bukti-buktinya, maupun juga aspek pengajarannya, sehingga melalui pengamatan dan pembahasan ia mengetahui yang benar dari yang keliru dengan potensi akalnya. Yang kedua, adalah pengetahuan-pengetahuan naqliyah (informatif), yang seluruhnya disandarkan pada berita-berita dari sumber syara’. Pada jenis yang kedua ini, akal tidak turut campur kecuali mengaitkan masalah-masalah yang bersifat cabang (furu’) ke masalah pokoknya (‘ushul).” Ibnu Khaldun juga mengatakan, “Pengetahuan-pengetahuan yang bersifat rasional dan alamiah dimiliki oleh seluruh umat manusia, karena manusia memperoleh pengetahuan tersebut melalui tabiat pemikirannya.”
Dalam penentuan hukum Islam, kaum muslim dilarang mengambil dari sumber-sumber lain kecuali dari nash-nash syara’. Allah Swt memerintahkan dan mewajibkan kaum muslim untuk merujuk pada petunjuk wahyu dalam mengatur urusan kehidupan. Kaum muslim memahami bahwa pengetahuan yang bersifat rasional dan alamiah terbuka bagi siapa saja yang ingin mempelajari. Dalam wilayah ilmu murni, kita boleh menggunakan akal kita; atau mengambil pendapat-pendapat yang bersifat teknis dan ilmiah dari pemikiran orang lain. Sebagai contoh, bila seseorang hendak merancang mesin mobil, ia boleh merujuk pada rancangan mesin yang sudah ada tanpa perlu mempertimbangkan lagi siapa yang membuatnya, muslim atau non-muslim. Ilmu-ilmu murni tidak melibatkan sudut pandang seseorang tentang kehidupan, baik kapitalisme, budhisme, atau Islam. Ilmu murni memberikan pemahaman yang sama bagi semua orang.
Dengan demikian, jelas bahwa kaum muslim terdahulu telah meraih tingkat perkembangan ilmu pengetahuan yang sangat tinggi pada massa itu serta menjadi pelopor ilmu pengetahuan di berbagai bidang baru.
Dikutib dari buku “Warisan Peradaban Islam & Saintis Muslim” oleh Shahib al Kutb.
Wallahu’alam… Mujahiddah Balangan^_^








%d blogger menyukai ini: