“Arab Spring” di Arab Saudi

26 12 2012

Oleh Adnan Khan
Saat pergolakan di Timur Tengah yang dikenal dengan “Arab Spring” mendekati ulang tahunnya yang kedua, banyak diskusi yang membicarakan sampai manakah Revolusi Arab itu setelah terjadinya penggulingan terhadap sejumlah penguasa dan munculnya sejumlah partai politik ke tampuk kekuasaan yang telah lama mendukung Islam. Sementara rezim-rezim baru itu masih belum stabil, ada sejumlah negara di mana pemberontakan rakyatnya gagal menggulingkan rezim dan dalam beberapa kasus ada sedikit demonstrasi atau bahkan tidak ada sama sekali. Arab Saudi adalah sebuah negara yang dianggap oleh banyak orang tidak mengalami musim semi Arab. Ada sejumlah alasan mengapa demonstrasi massal tidak terjadi dan secara fundamental rezim mampu untuk menenangkan penduduk karena sejumlah kebijakannya dan karena arsitektur internal keluarga kerajaan Al Saud yang telah dibangun.

Protes-protes yang tidak terjadi di Kerajaan itu dipresentasikan oleh Kerajaan Saudi sebagai protes kecil di daerah-daerah yang didominasi kaum Syiah dan ini menyebabkan sebagian besar penduduknya mendukung tindakan keras atas kota-kota seperti Qatif, al-Awamiyah, dan Hofuf. [ 1] Diskriminasi ekonomi yang jelas karena wilayah-wilayah itu berwajah Syiah dilakukan baik oleh rezim maupun oleh lembaga-lembaga agama karena mereka dipandang sebagai agen Iran. Pemerintah secara kolektif menghukum masyarakat Syiah dengan meminggirkan mereka dalam masyarakat Saudi. Kerajaan mampu melakukan hal ini secara langsung karena mengoperasikan perusahaan-perusahaan radio dan televisi di Inggris dan surat kabar-surat kabar yang disubsidi dan diatur oleh pemerintah Saudi. Sensor pemerintah terus menghantui pers, dan akses legal atas internet harus melalui server lokal, yang dikontrol pemerintah. Kementerian-kementrian kunci diberikan untuk keluarga kerajaan, sebagaimana juga kekuasaan untuk para gubernur di tiga belas wilayah. Kerajaan mengontrol setiap aspek masyarakat sehingga sulit untuk menjatuhkan rezim karena berarti harus menghapus seluruh klan Al Saud.

Faktor lain yang menenangkan rakyat adalah peran lembaga-lembaga agama. Kerajaan telah membentuk jaringan patronase yang banyak dan kompleks, yang meliputi para ulama papan atas. Keturunan Muhammad ibn Abd al-Wahhab, pendiri Mazhab Wahhabi abad ke-18 mendukung keluarga Al Saud dan dengan demikian melegitimasi kekuasaan mereka. [2] Pos-pos keagamaan yang paling penting terkait erat dengan keluarga Saud Al karena tingginya tingkat perkawinan. Para ulama itu telah mempromosikan keluarga kerajaan sebagai para pembela Islam melalui upaya internasional mereka dalam membangun masjid. Dalam situasi di mana masyarakat mempertanyakan kebijakan-kebijakan tertentu keluarga kerajaan, para ulama akan mengeluarkan fatwa yang membelokkan perbedaan pendapat apapun. Grand Mufti Arab Saudi mengeluarkan fatwa yang menentang petisi dan demonstrasi di tengah terjadinya musim semi Arab, termasuk diantara fatwanya adalah “ancaman besar terhadap perbedaan pendapat internal.” [3]

Kerajaan Saudi mampu menyuap sebagian besar penduduknya dengan uang kas dan janji-janji reformasi. Dalam rangka membendung pemberontakan, Kerajaan mengumumkan serangkaian keuntungan bagi warganya sebesar $ 10,7 miliar. Uang itu termasuk pendanaan untuk mengimbangi inflasi yang tinggi dan untuk membantu orang-orang muda pengangguran dan warga Saudi yang belajar di luar negeri, serta menghapus sebagian pinjaman. Sebagai bagian skema Saudi, pegawai negeri melihat kenaikan gaji sebesar 15%, dan disediakan uang tunai untuk kredit perumahan. Tidak ada reformasi politik yang diumumkan sebagai bagian dari paket itu.

Baris terakhir pertahanan Kerajaan Saudi adalah dinas rahasia Saudi – yakni “Mabahith”. Menurut Human Rights Watch, Mabahith “memonitor terduga lawan-lawan politik dan lain-lain, mentargetkan penangkapan individu tertentu, dan menginterogasi para tahanan. Agen-agen Mabahith beroperasi dengan memiliki impunitas dan telah bertanggung jawab atas berbagai pelanggaran HAM, termasuk penahanan sewenang-wenang, penahanan terputus-putus, dan penyiksaan “[4] Mabahith bahkan mengoperasikan penjara sendiri – yakni `Penjara Ulaysha di Riyadh [5].

Siapapun yang telah mengunjungi Arab Saudi atau tinggal di negara itu akan merasakan bahwa hiburan publik dan kehidupan jalanan, apalagi protes, jarang ada, karena sebagian orang bersosialisasi di luar keluarga mereka. Kenyataan ini membuat media sosial sangat populer dan twitter baru-baru ini hanya mempertanyakan lebih lanjut atas peran rezim [1]. Untuk saat ini, Kerajaan Saudi telah selamat dari musim semi Arab, namun arsitektur wilayah itu yang cepat berubah dan banyaknya orang yang mempertanyakan dominasi klan Saud pada kehidupan politik negara yang mengalami korupsi besar. Meskipun punya cadangan minyak yang besar, Saudi Arabia memiliki tingkat kemiskinan, yang menurut perkiraan sebagian orang hingga 60% [6]. Pada saat masyarakat Saudi mengakses opini internasional mengenai Kerajaan Saudi melalui media-media sosial, Kerajaan Saudi akan mendapatkan pertanyaan dan tantangan atas pilar-pilar pemerintahannya. (RZ)

Iklan




Khilafah Memenuhi Kebutuhan Perempuan

26 12 2012

kpi
HTI Press.Jakarta- Berbeda dengan kapitalisme yang eksploitatif terhadap perempuan, khilafah Islam sebaliknya. “Khilafah tidak akan menempatkan wanita dalam penderitaan,” ujar Iffa Ainur Rochmah pada wartawan saat konferensi press Konferensi Perempuan Internasional (KPI), Sabtu (22/12) di Hotel Grand Sahid, Jakarta.

Menurut Juru Bicara Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia (MHTI) tersebut disadari atau tidak, sistem yang diterapkan saat ini memaksa bahkan memperbudak perempuan dalam mencari nafkah. Sedangkan khilafah memenuhi kebutuhan perempuan dengan mewajibkan laki-laki menafkahi perempuan.

“Bila perempuan tidak mempunyai keluarga laki-laki untuk memenuhi kebutuhan finansialnya maka negara harus bertanggung jawab memenuhinya,” ujar Iffah.

Ia menambahkan, dalam khilafah perempuan bekerja karena pilihan bukan karena tekanan keadaan. “Martabat dan posisi perempuan ditempatkan dalam area sakral dalam khilafah,” pungkasnya.[] (mediaumat.com, 26/12)





Peran Guru Dalam Menyelamatkan Generasi untuk Bangsa

25 11 2012

Guru
HTI Press. Bojonegoro, Ahad 18 November 2012 Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia (MHTI) DPD II Bojonegoro menggelar acara Diskusi Terbatas dengan tema “Peran Guru Dalam Menyelamatkan Generasi Untuk Bangsa”. Acara ini dilaksanakan di aula SMKN 2 Bojonegoro, Jl. Patimura Bojonegoro, diselenggarakan dalam rangka Hari Guru yang bertepatan pada 25 November nanti. Dihadiri oleh sekitar 70 orang baik internal maupun eksternal dari kalangan guru, mulai guru PAUD hingga guru SMA yang tersebar di berbagai wilayah kabupaten Bojonegoro. Diskusi terbatas ini menghadirkan dua pembicara, yaitu Ustadzah Mu’jizatin Fadiana, M.Pd (Dosen Universitas Ronggolawe Tuban) yang memaparkan materi dengan tema “Peradaban Islam Mencetak Generasi Berkualitas” dan Ustadzah Khoirin Nisa, S.Pd yang memaparkan materi dengan tema “Peran Strategis Guru Dalam Menyelamatkan Generasi Bangsa.

Setelah para peserta disuguhkan persembahan teatrikal, acara dilanjutkan dengan pemaparan materi pertama, dimana ustadzah Fadiana memulai materinya dengan menjelaskan alasan kita memilih Islam, yang secara itiqody/keyakinan hal itu adalah bagian konsekuensi iman, secara rasional, Islam merupakan aturan terbaik dari pencipta manusia, secara normatif, Islam memiliki nidzom (sistem kehidupan) sempurna, dan secara empirik, terbukti Islam telah mewujudkan kemuliaan dan kesejahteraan kehidupan. Untaian pemaparan pemateri pertama membawa para peserta kembali untuk merenungkan dan memahami bahwa peradaban Islam telah berhasil mencetak generasi yang berkualitas. Pemateri kedua, Ustadzah Nisa menjelaskan akar permasalahan yang terjadi saat ini karena kapitalisme sekuler, sehingga sebagai seorang guru, banyak hal yang bisa kita lakukan antara lain, guru sebagai profesi yang mulia, mampu mengembalikan kesadaran generasi sebagai hamba Allah, menjadi teladan dalam berpikir dan berbuat berlandaskan aqidah Islam, dan menyadarkan generasi bahwa untuk menjadi negara yang mandiri, kuat, besar dan terdepan, hanya kembali kepada syariat Islam.

Testimoni dari Ibu Endang, seorang guru dari SMP diwilayah Baureno, diharapkan mampu memompa semangat para guru untuk tetap berjuang mendidik anak bangsa ke arah yang lebih baik. Acara ditutup dengan doa yang dipimpin Ustadzah Kusmiah. Semoga acara ini menjadi titik tolak perubahan bagi guru dan pendidik pada umumnya untuk kembali kepada syariat Islam dalam naungan Daulah Khilafah Islamiyah sehingga menghasilkan generasi yang cemerlang. Selamat Hari Guru, 25 November 2012. Jadilah guru ideologis, guru yang jadi teladan dan senantiasa menyampaikan kebenaran.[]





Tentara Israel Penakut dan Pakai Popok

25 11 2012

israel

Mediaumat.com. Jakarta- Banyak kalangan menuturkan sulit untuk mengalahkan Israel. Padahal, menurut Ketua Lajnah Siyasiyah DPP Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Yahya Abdurrahman hal tersebut hanya berupa mitos-mitos. “Militer Israel bisa dikalahkan walau persenjataan mereka canggih,” ujarnya di hadapan peserta Halqoh Islam dan Peradaban (HIP) Edisi ke 43, Kamis (22/11) di Wisma Antara, Jakarta.
“Militer Israel itu penakut, tentaranya menggunakan Pampers (baca; popok) dan lebih memilih sembunyi dalam tank karena takut tertembak,” ucapnya.
Mitos yang lain menurut Yahya, yaitu dilindungi oleh pelindung yang sangat kuat yakni Amerika. Padahal, Israel hanya dilindungi oleh penguasa-penguasa negeri muslim di sekeliling Israel.
“Ketakutan Israel itu, kalau penguasa-penguasa negeri muslim berbalik menyerang Israel dan tidak melindungi Israel lagi,” imbuhnya.
Yahya melanjutkan revolusi di timur tengah membuat Israel ketakutan. “Jika penguasa negeri muslim itu sadar dan berbalik mengepung Israel. Ibarat mengencingi Israel saja Israel akan tenggelam,” ujarnya.
HIP edisi 43 kali ini bertajuk Mengungkap Motif Serangan Israel Terhadap Gaza, menghadirkan pembicara Hamdan Basyar (Pengamat Timur Tengah), Jendral (purn) Tyasno Sudarto (Mantan KSAD), dan Hafidz Abdurrahman (DPP HTI).diambil dari http://hizbut-tahrir.or.id





Benarkah Penjajah Israel Tidak Bisa diKalahkan

25 11 2012

Salah satu argumentasi yang sering dilontarkan oleh pihak-pihak yang ingin menghentikan perjuangan membebaskan Palestina adalah anggapan bahwa Israel adalah negara yang kuat. Fakta di lapangan menunjukkan sebaliknya. Israel adalah negara yang sangat kecil yang tidak memiliki kedalaman strategis. Sebuah pesawat tempur jet hanya dapat terbang di seluruh Israel (sejauh 40 mil laut dari Sungai Yordan ke Laut Mediterania) dalam waktu empat menit. Tidak memiliki tentara regular yang besar karena penduduknya harus mengandalkan cadangan. Jumlah Populasi Israel yang kecil menambah kepekaan terhadap kerugian sipil dan militer.

Israel, dari awal, mengandalkan migrasi dari berbagai kawasan dunia . Di masa lalu memang banyak yang bermigrasi ke Israel, namun saat ini kecenderungan ini terbalik. Karena kekhawatiran keamanan , semakin meningkat jumlah warga Israel ingin meninggalkan Israel. Sekarang ini , lebih banyak warga Israel yang pindah ke Eropa dan Amerika Serikat daripada sebaliknya.

Dari segi motivasi tentara Israel sangat lemah. Padahal motifasi inilah sangat menentukan kemenangan dalam perang. Tentara-tentara muda tidak mengalami pergulatan ideologis seperti di awal-awal pendirian Israel. Mereka juga banyak bermigrasi karena ingin mendapat kenyamanan hidup seperti perumahan gratis. Namun, mereka pasti berpikir seribu kali, ketika harus mempertaruhkan nyawa mereka. Terdapat fakta-fakta bagaimana prajurit Israel tampak ketakutan menghadapi rudal-rudal yang diluncurkan dari Gaza.

Pasukan konvensional Israel terdiri dari hanya memiliki 176.000 tentara aktif dengan 500.000 tentara cadangan. Persenjataan -yang banyak yang dibeli dari AS- meliputi 600 pesawat tempur. Sementara penduduk Israel hanya 7,5 juta.

Bandingkan dengan Mesir memiliki 240 pesawat tempur F-16 dari total 1200 pesawat udara. Mesir juga memiliki 450.000 tentera reguler. Sementara Turki memiliki 700 jet tempur dengan tentara aktif yang berjumlaah 400.000 personel.

Jumlah tentara regular ini tentu semakin kalau ditambah dengan pasukan cadangan yang bisa diambil dari total penduduk Mesir yang berjumlah 77 juta. Ditambah lagi dengan tentara cadangan dari 72 juta total penduduk Turki.

Persoalan umat Islam sekarang tinggal satu, adakah komando yang mau menggerakkan tentara-tentara regular dengan persenjataannya yang tidak kalah dengan Israel. Tentara regular ini akan didukung oleh jutaan umat Islam yang siap jihad fi sabillah membebaskan Palestina. Motifasi tentara Islam ini juga sangat kuat didasarkan pada aqidah Islam dan kerinduan syahid fi sabilillah.

Komando ini seharusnya muncul dari penguasa Mesir , Turki, Saudi dan Iran. Namun karena hampir seluruh penguasa Arab dan militernya memberikan loyalitasnya kepada Amerika,hal ini sangat sulit diharapkan. Karena itu penggulingan penguasa pengecut ini dan menggantikannya dengan Kholifah yang akan menerapkan sistem Khilafah menjadi sangat penting. Sebab hanya dengan menggerakan tentara lah Israel akan bisa dikalahkan hingga ke akar-akarnya.

Diambil dari situs Hizbut-tahrir.or.id





Serangan Brutal Israel ke Gaza Disebabkan Kepasrahan Otoritas dan Penguasa Dhirar

25 11 2012

Keterangan Pers

Serangan Brutal Entitas Yahudi terhadap Warga Gaza Tak Bersenjata

Disebabkan Kepasrahan Otoritas dan Para Penguasa Dhirar

Entitas Yahudi penjahat memanfaatkan kepasrahan menyedihkan dan terus menerus pada diri rezim-rezim Arab dan Otoritas, maka entitas Yahudi pada hari Rabu melakukan operasi militer secara luas pemboman dari udara terhadap warga Gaza. Sejumlah laki-laki dan anak-anak syahid dan yang terdepan adalah asy-syahid (komandan) al-Qasam Ahmad al-Ja’bari. Dan Israel pun terus melakukan serangan terhadap warga Gaza yang menghadapi serangan pengecut itu dengan dada telanjang mereka dan dengan senjata ringan seadanya.

Serangan pengecut itu datang setelah entitas Yahudi paham bahwa peran rezim Mesir yang baru tidak lebih dari peran mediator antara entitas Yahudi dan Otoritas Gaza untuk mengikat gencatan senjata jangka panjang yang menjaga keamanan Yahudi. Serangan itu juga datang setelah presiden Otoritas menegaskan pemberian konsesi atas sebagian besar Palestina untuk Yahudi. Dia menegaskan bahwa warga Palestina tidak memiliki hak menuntut atas pendudukan tahun 48 atau untuk kembali ke sana. Dia juga menegaskan, Otoritas hanya berusaha mendapat pengakuan atas negara kecil di atas kertas pada batas pendudukan tahun 67 dengan posisi sebagai anggota peninjau di PBB.

Entitas Yahudi makin berani melakukan serangan karena rezim Turki, Qatar, Saudi, Iran, Mesir dan rezim-rezim dhirar lainnya, menegaskan berulang-ulang kali bahwa peran mereka tidak lebih hanya melontarkan pernyataan-pernyataan di media dan mengerahkan remah-remahan harta untuk dua otoritas di Gaza dan Ramallah. Mereka menegaskan bahwa mereka berlaku tuli, bisu, dan buta; tidak bisa melihat teriakan-teriakan meminta pertolongan dari orang-orang yang kehilangan anak, para wanita, orang-orang tua, anak-anak dan laki-laki tak bersenjata ketika mereka dibombardir oleh pesawat tempur pendudukan Yahudi yang menguji coba bermacam jenis baru senjata dan rudal.

Entitas Yahudi penjahat ini merasa aman dari sanksi sehingga terus melakukan serangan. Berapa banyak komandan yang dibunuh oleh tangan-tangan teroris ini! Mulai dari Abu Jihad, syaikh Ahmad Yasin, komandan asy-Syaikh ar-Rantisi dan syuhada’ lainnya. Apakah para penguasa menggerakkan pesawat mereka untuk menyerang entitas Yahudi supaya tidak mengulangi lagi kejahatannya, ataukah bahwa pesawat-pesawat milik para penguasa dhirar itu hanya untuk membombardir rakyatnya sendiri seperti yang terjadi di Suria, Pakistan, dan lainnya?!

Fakta kebenaran yang sudah dipahami oleh setiap orang berakal dan jujur adalah bahwa rezim-rezim boneka Amerika dan Barat ini diadakan untuk melindungi entitas Yahudi dan untuk melakukan konspirasi terhadap bangsa-bangsa seperti yang terjadi di Qatar akhir-akhir ini dengan dibuatnya koalisi yang disusupkan dalam revolusi. Koalisi yang dibuat di bawah pengawasan Amerika dan Eropa, agar menjadi alternatif pengganti rezim Assad yang jahat dalam menjaga kepentingan-kepentingan barat dan entitas Yahudi. Rezim-rezim yang berkomplot melawan rakyatnya sendiri ini seharusnya memobilisasi pasukannya untuk membebaskan Palestina atau untuk membela warga Gaza atau kaum muslimin lainnya yang berteriak meminta pertolongan.

Balasan yang benar terhadap serangan Yahudi yang berulang-ulang ini adalah dengan memobilisasi pasukan untuk membela warga Palestina dan meghancurkan entitas Yahudi penjahat serta mengembalikan Palestina dan warganya ke pangkuan Umat Islam. Para komandan pasukan yang telah mengetahui pengkhianatan para politisi yang mencengkeram tengkuk mereka dan tengkuk umat itu, wajib mencabut para penguasa itu dan membaiat seorang imam yang memerintah mereka dengan kitabullah dan sunnah rasul-Nya saw, memimpin mereka di medan jihad untuk membebaskan Palestina dan seluruh negeri islami yang diduduki. Untuk itulah Hizbut Tahrir yang ada di tengah Anda dan bersama-sama Anda, berjuang. Maka tolonglah Hizbut Tahrir agar Islam dan pemeluknya menjadi mulia dan sebaliknya kekufuran dan penganutnya menjadi hina, atas izin Allah SWT.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ

Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu (TQS al-Anfal [8]:24)





Pemerintahan Burma lakukan langkah baru untuk menjadikan Muslim Rohingya sebagai “Bengali”

25 11 2012

rohingya
ARAKAN (Arrahmah.com) – Pemerintah Burma (Myanmar) kembali berupaya untuk memaksa Muslim Rohingya terdaftar sebagai “Bengali,” etnis yang selama ini dituduhkan kepada warga Muslim Rohingya.

Rezim Musyrik Burma sebelumnya telah melakukan langkah untuk memaksa warga Rohingya merubah identitas mereka menjadi etnis Bengali. Namun nampaknya upaya mereka gagal, dan sekarang pemerintah kembali melakukan kampanye perubahan identitas warga Rohingya.

Pemerintah Burma melakukan segala cara untuk membuktikan kepada dunia bahwa warga Rohingya di Arakan adalah ilegal yang bermigrasi dari Bangladesh.

Pertama, pemerintah mulai memeriksa dan menyelidiki dokumen dan bukti-bukti untuk identifikasi, terutama di daerah-daerah di mana rumah-rumah warga Rohingya telah hangus dibakar oleh warga Buddhis Rakhine. Kedua, tim investigasi pemerintah menargetkan para korban yang kehilangan seluruh milik mereka akibat insiden pembakaran, para pengungsi yang lemah, miskin, dan terkhusus yang buta huruf, sehingga akan mudah bagi pemerintah untuk memaksa dan mengelabui mereka.

Para warga Rohingya diberikan janji-janji palsu bahwa jika mereka mau mengakui sebagai orang Bengali, maka pemerintah akan memenuhi seluruh hak fundamental mereka.

Ketika pemerintah gagal membujuk mereka dengan cara tersebut, karena warga Rohingya tidak berani berbohong tentang asal mereka, upaya selanjutnya adalah mengancam mereka, seperti biasa yaitu dengan menangkapi mereka, memukuli, menyiksa mereka dan memeras sejumlah uang dari mereka. Tetapi nampaknya upaya ini akan gagal juga, sebab warga Rohingya tetap teguh terhadap pendirian mereka meskipun mereka terus didiskriminasi.

Kasus pemaksaan terbaru

Menurut laporan Rohingya Blogger pada Sabtu (24/11/2012), di wilayah yang berada di bawah otoritas aparat perbatasan (Nasaka), Maungdaw dan Buthidaung, setiap imam masjid -yang merupakan tokoh-tokoh agama masyarakat Rohingya- dipanggil oleh Nasaka ke kantor mereka bersama dengan petugas desa, dengan dalih untuk menghadiri pertemuan resmi.

Setelah mereka tiba di kantor itu, mereka diminta untuk melepaskan atribut Islam, seperti kopiah dan baju panjang (gamis laki-laki), dan diharuskan membayar 500 Kyat sebelum masuk kantor. Kemudian, mereka dipaksa untuk mengisi sebuah form informasi identitas dan harus ditandatangani, tetapi kolom “ras” dalam keadaan kosong, atau bahkan diminta untuk menandatangani form yang benar-benar kosong. Dengan begitu otoritas bisa mengisi kolom “ras” dengan identitas Bengali. Setelah itu, para petugas Nasaka membiarkan mereka pulang dengan harus membayar 2000 hingga 6000 Kyat dari setiap imam.

Dengan cara ini, pemerintah Burma nampaknya berharap bahwa dengan memaksa para imam menandatangi form identitas sebagai etnis Bengali, masyarakat Rohingya lainnya akan mengikuti para imam, dan mereka bisa secara resmi dianggap sebagai “imigran ilegal.”

Rezim Burma selama ini tidak bisa membuktikan kepada dunia bahwa Muslim Rohingya di Arakan adalah imigran ilegal dari Bangladesh, sebab pengakuan warga Rohingya sendiri menyatakan bahwa mereka lahir dan besar di Arakan selama generasi ke generasi. Oleh karena itu, Burma membutuhkan bukti tertulis bahwa Muslim Rohingya adalah “imigran gelap.” (siraaj/arrahmah.com)








%d blogger menyukai ini: