Tentang Hijab Syar’i

25 11 2012

http://ekaazzahra.files.wordpress.com/2011/11/niqob1.jpg?w=584muslimah
Teman-temanku saudari semuslim, sebagai wanita muslimah kita tentu telah akrab dan paham dengan kewajiban kita yang satu ini. Yaitu menggunakan pakaian muslimah, atau yang kita kenal dengan istilah hijab. Disini saya ingin berbagi ilmu mengenai hijab yang syar’i. Saudariku, pakaian yang biasa digunakan wanita muslimah (hijab) itu terdiri dari jilbab dan khimar. Jilbab merupakan kewajiban yang berdasar pada surah Al-Ahzab ayat 59, sedangkan kewajiban kerudung (khimar) dasarnya adalah surah An-Nur ayat 31.

Mengenai jilbab, Allah SWT berfirman yang artinya :

“Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu’min, ’Hendaklah mereka mengulurkan jilbab-jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’ (QS Al-Ahzab : 59).

Dalam ayat ini terdapat kata jalabib yang merupakan bentuk jamak (plural) dari kata jilbab. Para mufassir berbeda pendapat mengenai arti jilbab ini. Imam Syaukani sendiri berpendapat jilbab adalah baju yang lebih besar daripada kerudung, dengan mengutip pendapat Al-Jauhari pengarang kamus Ash-Shihaah, bahwa jilbab adalah baju panjang dan longgar (milhafah).

Jadi, jilbab itu bukanlah kerudung, melainkan baju panjang dan longgar (milhafah) atau baju kurung (mula`ah) yang dipakai menutupi seluruh tubuh di atas baju rumahan. Jilbab wajib diulurkan sampai bawah, sebab hanya dengan cara inilah dapat diamalkan firman Allah (artinya) “mengulurkan jilbab-jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”.

Sedangkan khimar (kerudung), Allah SWT berfirman yang artinya :

…Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya…” (QS An-Nur : 31).

Dalam ayat ini, terdapat kata khumur, yang merupakan bentuk jamak (plural) dari khimaar. Arti khimaar adalah kerudung, yaitu apa-apa yang dapat menutupi kepala (maa yughaththa bihi ar-ra`su). (Tafsir Ath-Thabari, 19/159; Ibnu Katsir, 6/46; Ibnul ‘Arabi, Ahkamul Qur`an, 6/65 ).

Nah, setelah definisi Jilbab dan khimar tadi, pakaian muslimah yang memenuhi syariah sesuai Al-Qur’an dan Sunnah adalah sebagai berikut :

Menutupi seluruh badan

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman :

“Katakanlah (ya Muhammad) kepada wanita-wanita yang beriman: hendaklah mereka menundukkan pandangan mata dan menjaga kemaluan mereka, dan jangan menampakkan perhiasan mereka kecuali apa yang biasa nampak darinya. Hendaklah mereka meletakkan dan menjulurkan kerudung di atas kerah baju mereka (dada-dada mereka)… (An-Nuur: 31)

Tebal tidak tipis

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda :

“Akan ada nanti di kalangan akhir umatku para wanita yang berpakaian tapi hakikatnya mereka telanjang…

bersabda ; Kemudian Beliau Shallallahu ‘alaihi wassalam

“…laknatlah mereka karena sesungguhnya mereka itu terlaknat”. Kata Ibnu Abdil Baar: “Yang dimaksud Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam dalam sabdanya (di atas) adalah para wanita yang mengenakan pakaian dari bahan yang tipis yang menerawangkan bentuk badan dan tidak menutupinya maka wanita seperti ini istilahnya saja mereka berpakaian tapi hakikatnya mereka telanjang”. (HR. Ath Thabrani dalam Al Mu`jamush Shaghir dengan sanad yang shahih sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Albani dalam kitab beliau Jilbab Al Mar’ah Al Muslimah, hal. 125)

Lebar tidak sempit

“Usamah bin Zaid berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam memakaikan aku pakaian Qibthiyah yang tebal yang dihadiahkan oleh Dihyah Al Kalbi kepada beliau maka aku memakaikan pakaian itu kepada istriku. Suatu ketika Beliau Shallallahu ‘alaihi wassalam bertanya: “Mengapa engkau tidak memakai pakaian Qibthiyah itu?” Aku menjawab: “Aku berikan kepada istriku”. Beliau berkata : “Perintahkan istrimu agar ia memakai kain penutup setelah memakai pakaian tersebut karena aku khawatir pakaian itu akan menggambarkan bentuk tubuhnya”. (Diriwayatkan oleh Adl Dliya Al Maqdisi, Ahmad dan Baihaqi dengan sanad hasan, kata Syaikh Al-Albani t dalam Jilbab, hal. 131)

Tidak diberi wangi-wangian

Karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda :

“Wanita mana saja yang memakai wangi-wangian lalu ia melewati sekelompok orang agar mereka mencium wanginya maka wanita itu pezina.” (HR. An Nasai, Abu Daud dan lainnya, dengan isnad hasan kata Syaikh Al-Albani dalam Jilbab, hal. 137)

Tidak menyerupai pakaian laki-laki

Abu Hurairah mengatakan: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam melaknat laki-laki yang memakai pakaian wanita dan wanita yang memakai pakaian laki-laki”. (HR. Abu Daud, Ibnu Majah dan lainnya. Dishahihkan Syaikh Al-Albani dalam Jilbab, hal. 141)

Tidak menyerupai pakaian wanita kafir

Karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam dalam banyak sabdanya memerintahkan kita untuk menyelisihi orang-orang kafir dan tidak menyerupai mereka baik dalam hal ibadah, hari raya/perayaan ataupun pakaian khas mereka. Dan kita dituntut untuk tidak menggunakan pakaian untuk ketenaran, yakni pakaian yang dikenakan dengan tujuan agar terkenal di kalangan manusia, sama saja apakah pakaiaan kita itu mahal/ mewah dengan maksud untuk menyombongkan diri di dunia atau pakaian yang jelek yang dikenakan dengan maksud untuk menampakkan kezuhudan dan riya.

“Siapa yang memakai pakaian untuk ketenaran di dunia maka Allah akan memakaikannya pakaian kehinaan pada hari kiamat kemudian dinyalakan api padanya”. (HR. Abu Daud, Ibnu Majah dengan isnad hasan kata Syaikh Albani dalam Jilbab, hal. 213)

Semoga teman-temanku sesama muslim yang telah berhijab syar’i makin konsisten mengenakannya, sebagai lambang ketakwaan kita. Dan semoga teman-temanku yang belum mengenakannya, semoga mendapatkan hidayah dan termotivasi untuk melaksanakan kewajiban yang mulia ini. Sesungguhnya Allah menciptakan wanita sebagai makhluk yang indah, hendaknya kita mensyukuri keindahan kita dengan wujud menutupnya dengan pakaian takwa.

Hey girls, let’s wear your hijab !!!

Re-post: http://ekaazzahra.wordpress.com/2011/11/24/bicara-hijab-syari/





Mengumbar aurat kok bangga

25 11 2012

muslimah
Baju kentat yang memperliatkan setiap lekuk tubuh, celana pendek atau rok yang mini yang memperlihatkan paha, baju tipis yang memperlihatkan sesuatu yang ada di baliknya, rambut tergerai yang tertiup angin, ataupun celana panjang namun sangat kentat yang memperlihatkan keindahan lekuk kaki sang pemakai itu sendiri. Mungkin itulah yang biasa kita lihat di jalanan umum dan karena terlalu seringnya melihat sampai di dalam hati hanya bisa mengucapkan istighfar karena memang terlalu banyak wanita yang memperlihatkan keindahan lekuk tubuh mereka, seolah-olah mereka tidak risih ataupun malu lagi untuk memperlihatkan itu semua.
Ironis, memang kini kita tidak bisa lagi membedakan mana wanita yang muslim dan mana yang bukan, karena kebanyakan dari wanita yang muslim itu sendiri memakai pakaian yang sama dengan yang dipakai oleh non muslim. Padahal kita sebagai seorang muslimah sudah ada aturan yang jelas bahwa bila sudah baligh haruslah menutup aurat. Namun apa yang terjadi, bukannya menutup aurat malah memperlihatkannya secara gratis kepada orang yang belum halal untuk melihat. Bagaimana mungkin kejahatan tidak terjadi terhadap mereka, kalau mereka sendiri yang mengundangnya. Seperti kata Bang Napi, “ Kejahatan bukan terdapat pada niat pelakunya, namun karena adanya kesempatan, jadi waspada…. Waspadalah.” Nah bukankah itu terbukti dengan banyaknya pemerkosaan terhadap wanita-wanita yang berpakaian minim atau terhadap wanita-wanita yang tidak menutup auratnya dengan sempurna. Kita umpamakan saja seperti ini, misalnya ikan yang di letakkan di dalam tudung saji dengan ikan yang dibiarkan saja di ruang terbuka, mana yang akan lebih dulu di makan oleh kucing. Bukankah ikan yang dibiarkan saja di ruang terbuka? Begitu pula dengan seorang wanita yang tidak menutup auratnya, bukankah dia membiarkan laki-laki untuk menikmatinya dan bukan tidak mungkin ada niat jahat dari laki-laki yang melihatnya untuk melakukan sesuatu yang merugikan wanita tersebut. Karena menurut penelitian di sebuah studi oleh Georgia Gwinnett College, AS memperlihatkan bahwa pada otak laki-laki terjadi efek seperti saat seseorang meminum miras atau obat-obatan bila melihat lekuk tubuh wanita yang ramping dan seksi.
Lalu bandingkan dengan perempuan yang menutup auratnya, yang sesuai dengan Al-Qur’an surah Al-Ahzab ayat 59 yaitu memakai pakaian yang longgar dan tidak bersambung atau yang biasa kita sebut dengan jubah, dan kerudung yang menutup dada dan tidak tipis. Dengan pakaian seperti itu apakah ada laki-laki yang bernafsu dengan kita? Ini membuktikan bahwa Allah sangat menjaga kehormatan wanita agar terhindar dari kejahatan dan pelecehan seksual. Ini membuktikan bahwa wanita yang mengumbar atau memperliahatkan auratnya itu berpotensi sekali untuk mengalami kejahatan seksual. Sehingga saya sebagai seorang perempuan yang peduli terhadap nasib kita, sebagai seorang perempuan janganlah kita bangga untuk memperlihatkan keindahan tubuh kita terhadap kaum laki-laki yang belum halal untuk melihatnya, karena bila kita melakukan itu sama saja kita merendahkan derajat kita sendiri sebagai seorang wanita. Apakah kita mau keindahan kita dilihat secara gratis oleh laki-laki yang memang belum halal untuk melihatnya? Sehingga menjadi totontonan gratis bagi laki-laki? Coba kita pikirkan, Allah SWT. telah memberikan kemuliaan dan perlindungan kepada kita sebagai seorang wanita, yaitu di wajibkannya menutup aurat dengan sempurna, dengan begitu maka Insya Allah kita akan terjaga dari niat jahat dari laki-laki yang tidak bisa mengendalikan nafsunya.
Namun apakah benar masalahnya hanya terdapat pada perempuan itu sendiri, tidak tapi terdapat pada system yang mengatur masyarakat pada saat ini yang menganggap bahwa boleh saja setiap individu melakukan apapun yang dia sukai asal jangan merugikan individu lainnya. Tanpa itu tidaklah cukup karena masalahnya bukanlah terletak pada wanitanya sendiri tapi karena system yang sekarang terlalu liberal. Sehingga banyak wanita yang menjadi korban atas system yang di anut oleh negeri ini. Oleh karena itu yang perlu diganti adalah sistemnya yang akan mengatur semua itu sehingga harkat dan martabat perempuanpun akan terjaga. Kapitalis maupun sosialis sudah terbukti gagal dalam memuliakan perempuan sehingga penggantinya ialah Islam yang sudah terbukti dapat memuliakan wanita dengan segala hokum-hukumnya. Jadi sebagai perempuan yang ingin terjaga kehormatannya maka perjuangkanlah syariah Islam dalam bingkai Daulah Khilafah Islamiyah.





Hak Pendidikan Perempuan Hanya akan Terjamin di Tangan Kepemimpinan Islam yang Lurus – Khilafah

10 10 2012

Central Media Office

Issue No : 1433 AH /25
Sunday, 09 Dhul Qi’dah 1433 AH / 25-09-2012 CE

Pembatasan Hak Perempuan di Universitas-universitas Iran, Menunjukkan bahwa Hak Pendidikan Perempuan hanya akan terjamin di Tangan Kepemimpinan Islam yang Lurus – Khilafah

Pada 22 September 2012, Al Jazeera dan berbagai media lain melaporkan bahwa keputusan 36 universitas di Iran melarang perempuan untuk mempelajari 77 mata kuliah, dengan persetujuan dari pemerintahan Iran, akan mulai diberlakukan. Program sarjana yang termasuk dalam larangan ini adalah jurusan Teknik, Akuntansi, Kimia, Matematika, Ilmu Komputer, dan Manajemen Industri. Menteri Sains dan Pendidikan Tinggi, Kamran Daneshjou memberikan dukungan kepada pembatasan pendidikan tinggi perempuan ini dengan menyatakan bahwa “keseimbangan” dalam sistem pendidikan perlu diwujudkan, mengacu pada tingginya rasio perempuan dibanding laki-laki yang menempuh studi pendidikan tinggi di berbagai bidang studi di Iran. Alasan lain yang diungkap adalah karena kebijakan pengecualian gender yang baru, termasuk tingginya angka pengangguran sarjana perempuan di berbagai bidang dan kelangkaan pekerjaan…

Di seluruh dunia Muslim, apakah itu di Iran atau Arab Saudi dimana pemerintahannya menampilkan dirinya sebagai penjaga Islam, ataukah di Turki, Yordania, Pakistan, Indonesia atau negara manapun di kawasan ini, kaum perempuan berada di bawah kekuasaan para pemimpin yang tidak rasional yang dapat membuang hak-hak Islami mereka begitu saja, termasuk hak untuk mengakses penuh pendidikan tinggi tanpa diskriminasi. Semua negara-negara ini struktur kekuasaan dan pembuatan undang-undangnya didasarkan pada perintah parlemen, ulama ataupun diktator, dan bukan kepada Syariah. Konsekuensinya akses perempuan pada institusi sistem Islam yang membolehkan mereka mengkritik, meminta pertanggungjawaban dan bahkan membatalkan kebijakan tidak islami yang tidak adil -seperti pembatasan hak-hak pendidikan mereka – menjadi absen di bawah rezim-rezim penindas ini. Mereka kemudian dipaksa untuk menelan mentah-mentah ketidakadilan dari negaranya, yang telah mencabut hak-hak Syar’i mereka.

Adalah sebuah lelucon jika pemerintah Iran yang telah menyelenggarakan ‘International Conference on Women and the Islamic Awakening’ di Tehran Juli ini, secara palsu menampikan dirinya sebagai pendukung kaum perempuan yang berjuang untuk menjatuhkan kediktatoran di negeri mereka agar hak-hak dasar mereka terjamin – namun pada saat yang sama merampas hak-hak Syar’i perempuan di halaman belakang rumahnya sendiri. Alangkah lemahnya alasan mereka yang mengklaim pembatasan pendidikan tinggi bagi perempuan diperlukan karena tingginya angka pengangguran perempuan terdidik, kelangkaan pekerjaan ataupun untuk ‘menyeimbangkan’ tingginya rasio perempuan terhadap laki-laki di perguruan tinggi.

. Tingginya angka pengangguran di negeri ini (20% dari penduduk usia di bawah 30 tahun adalah pengangguran), tidak tersambungnya antara angka lulusan perguruan tinggi – laki-laki maupun perempuan- dengan ketersediaan lapangan kerja yang berkualitas, serta keengganan kaum laki-laki memasuki pendidikan tinggi sehingga membuat ‘ketidakseimbangan’ jumlah mahasiswi dibandingkan mahasiswa semua ini merupakan akibat dari lemahnya sistem kebijakan ekonomi Iran, yang telah gagal melahirkan kesempatan kerja yang layak dan sesuai untuk lulusan universitas. Jadi yang perlu ditangani seharusnya adalah cacatnya fondasi ekonomi Iran, bukan malah membatasi perempuan dari mempelajari bidang-bidang studi tertentu yang hanya dapay menguntungkan negara.

Sebagaimana yang diharapkan, kalangan oportunis liberal yang memusuhi Islam lalu menggunakan isu ini untuk menyalahkan faktor agama dalam kebijakan Iran ini, terlepas dari kenyataan bahwa Islam justru menegaskan pentingnya memberikan pendidikan bagi kaum perempuan. Islam telah mempelopori pendidikan tinggi bagi kaum perempuan secara global dan ketika diterapkan dengan benar oleh sistem Khilafah akan menciptakan peradaban Islam selama lebih dari 1300 tahun dimana pendidikan bagi perempuan berkembang pesat. Khilafah adalah negara yang secara historis melahirkan ribuan sarjana perempuan; sebuah negara dimana seorang Muslimah bernama Fathimah al Fithri mendirikan universitas pertama di dunia, yakni Universitas Qarawiyyin di Maroko, sebuah negara dimana universitas bergengsi Al-Azhar di Kairo telah memberikan akses pada perempuan sebagai mahasiswa dan juga sebagai dosen – hak-hak yang baru diperoleh oleh perempuan di Barat beberapa abad setelahnya; dan Khilafah adalah sebuah negara dimana proporsi dosen perempuan di banyak perguruan tinggi Islam klasik lebih besar dibandingkan universitas-universitas Barat modern.

Prinsip-prinsip Islam yang mendasari Khilafah – tidak seperti sistem pseudo-Islam hari ini- telah mewajibkan negara untuk memberikan nilai dan perhatian yang besar terhadap pendidikan yang layak; untuk memanfaatkan potensi kaum perempuan dan menjamin aspirasi pendidikan mereka terpenuhi. Negara ini, yang merupakan representasi dari sistem Islam, tidak membolehkan pembedaan antara laki-laki dan perempuan sehubungan dengan akses hak-hak kewarganegaraan ataupun pendidikan tinggi, sejalan dengan ketentuan Syari’ah. Selain itu, karena kedaulatan dalam pembuatan Undang-undang di dalam Khilafah adalah milik Syariah, dan bukan milik individual penguasa, ulama, ataupun parlemen, maka hak-hak tersebut tidak dapat dibuang atau diubah sesuai dengan keinginan dari mereka yang berkuasa. Di samping semua itu, Khilafah menerapkan sistem ekonomi Islam yang mengandung fondasi dan pilar-pilar yang mampu mewujudkan kesejahteraan ekonomi dan kesempatan kerja berlimpah termasuk bagi lulusan perguruan tinggi. Hanya sebuah sistem yang benar-benar menjunjung dan menerapkan hukum Islam secara keseluruhanlah yang mampu mencapai semua ini.

Kami menyeru pada kaum Muslimah yang benar-benar merindukan status dan hak-haknya ditinggikan di dunia Muslim, agar berjuang untuk mengganti sistem buatan manusia di negerinya yang merupakan rezim penindas jahat. Kami memanggil dukungan dan upaya anda semua untuk penegakkan Khilafah yang akan tegak di abad 21 ini sebagaimana ia pernah tegak selama ratusan tahun dan menjadi model sejati dan pelopor dalam menjamin hak-hak perempuan.

((وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنزَلَ اللَّهُ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ))

“Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim.”

[QS. Al-Maidah : 45]

Dr. Nazreen Nawaz

Central Media Representative, Hizb-ut Tahrir

No : 1433 AH/25 Sunday, 09 Dhul Qi’dah 1433 AH/25-09-201





Memelihara Kelembutan Dalam Keluarga

10 10 2012

Oleh : Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia

khoirunnisa-syahidah.blogspot.com – Merasakan kasih sayang dan ketenangan dalam rumah tangga adalah sesuatu yang niscaya pada keluarga Muslim. Allah SWT telah menjelaskan bahwa pernikahan adalah tempat ketenangan bagi suami-istri (QS ar-Rum [30]: 21).

Ketenangan dan kasih sayang tercipta dari pergaulan yang baik di antara suami dan istri. Mereka menempatkan pasangan sebagai sahabat satu sama lain. Masing-masing menyertai pasangan saat suka dan duka, saling memenuhi kebutuhan masing-masing, memahami keinginan dan harapan masing-masing. Lebih dari itu, sesungguhnya terdapat hubungan timbal-balik yang secara prinsipil telah Allah tetapkan pada diri mereka sebagai hak yang dimiliki masing-masing yang wajib dipenuhi oleh pasangannya (Lihat: QS al-Baqarah [2]: 228).

Ibnu Abbas memberi penjelasan tentang pelaksanaan ayat ini, ”Sesungguhnya aku berhias untuk istriku sebagaimana ia berhias untuk aku. Aku suka untuk menuntaskan semua hak yang ada padaku untuk dia karena dia (istri) akan memenuhi segala apa yang menjadi hakku atas dirinya.”

Dalam kehidupan Rasulullah saw., ketenangan dan ketentrraman rumah tangga diberi perhatian penting oleh beliau. Setiap malam, setelah shalat isya beliau biasa menyempatkan untuk berbincang dan bersenda gurau dengan istri sebelum tidur. Dalam khutbah haji wada’ beliau berpesan agar para suami berlaku baik kepada istri-istrinya: Bertakwalah kepada Allah dalam perkara perempuan. Sungguh, kalian telah mengambil mereka dengan amanah Allah…Pada mereka ada hak rezeki (makanan) dan pakaian yang baik.”

Dalam sabda beliau yang lain: ”Sebaik-baik kalian adalah yang berlaku baik terhadap istri mereka.”Demikianlah, Allah SWT telah menjelaskan dan Rasulullah saw. telah mencontohkan bagaimana bergaul yang baik dan benar antara suami dan istri.

Saat terjadi ketidakseimbangan dalam pemenuhan hak suami ataupun istri akan muncul gangguan terhadap ketenangan dan ketentraman. Saat ini, gangguan tersebut muncul secara sistemik. Selain situasi masyarakat yang dilanda berbagai krisis, suami maupun istri sering tidak memahami hak dan kewajiban masing-masing. Mereka jahil (bodoh) akan hukum syariah dalam berumah tangga yang harus mereka jalankan. Oleh sebab itulah, untuk mewujudkan rumah tangga yang sakinah mawaddah wa rahmah diperlukan situasi hidup bermasyarakat dan berbangsa yang selaras dengan syariah Islam.

Untuk mewujudkan pergaulan yang makruf dan berlemah lembut antara suami istri, apalagi dalam situasi sekarang, memang bukan perkara mudah. Namun, kita harus berproses untuk mewujudkannya dan kemudian memeliharanya terus-menerus. Rasulullah saw. telah memberikan contoh untuk kita semua, antara lain:

Pertama, saling mencintai karena Allah SWT. Mahabbah filLah antara suami-istri harus senantiasa dipupuk sebagai perekat persahabatan di antara keduanya. Munculnya cinta karena Allah SWT disebabkan karena keduanya memiliki keimanan dan melakukan ketaatan-ketaatan kepada-Nya. Jika ada yang tidak disukai dari pasangannya, itu karena ia tidak rela sahabatnya melakukan kemaksiatan dan kemungkaran kepada Allah SWT. Rasulullah saw. bersabda “Siapa saja yang memberi karena Allah, menolak karena Allah, mencintai karena Allah, membenci karena Allah, dan menikah karena Allah, berarti ia telah sempurna imannya.” (HR al-Hakim).

Suami-istri diperintahkan untuk saling bergaul secara makruf dan saling berlemah-lembut di antara keduanya (Lihat: QS an-Nisa’ [4]: 19).

Bergaul maknanya adalah berinteraksi secara intens, berlemah lembut dan penuh canda serta bersahabat dengan penuh keakraban. Persahabatan keduanya akan menciptakan ketenteraman dalam jiwa dan kedamaian dalam hidup. Seorang suami tidak boleh membuat istrinya cemberut atau bermuka masam—meski dalam perkara yang tidak sampai menimbulkan dosa; berlemah-lembut dalam bertutur kata, tidak bertingkah keji dan kasar, serta tidak menampakkan kecenderungan kepada wanita lain. Begitu juga istri, dia melaksanakan ketaatan kepada suami bukan karena terpaksa, tetapi karena ketaatannya kepada Allah SWT. Ketaatan istri kepada suami akan dapat menciptakan ketenteraman dan kedamaian di dalam kehidupan suami-istri. Ibnu Abbas pernah bertutur, “Para istri berhak untuk merasakan suasana persahabatan dan pergaulan yang baik dari suami mereka, sebagaimana mereka pun berkewajiban untuk melakukan ketaatan dalam hal yang memang diwajibkan atas mereka terhadap suami mereka.”

Rasulullah saw. juga pernah bersabda:
«خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لأَهْلِي»
Orang yang paling baik di antara kalian adalah yang paling baik perlakuannya terhadap keluarganya. Sesungguhnya aku sendiri adalah orang yang paling baik di antara kalian dalam memperlakukan keluargaku (HR Ibnu Majah).

Rasul saw. pun bersabda, “Orang Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya dan sebaik-baik kalian ialah yang paling baik kepada istrinya.” (HR at-Tirmidzi)

Kedua, saling memahami. Kita ketahui bersama bahwa pernikahan adalah menyatukan dua orang yang berasal dari latar belakang yang berbeda dan dua keluarga yang berbeda. Karena itu, suam-istri perlu saling memahami kelebihan dan kekurangan masing-masing; menerimanya dengan lapang dada tanpa ada penyesalan yang berkepanjangan. Saling memahami akan menjadikan suami-istri berempati terhadap pasangannya sehingga tidak mudah saling berburuk sangka, tetapi tidak berarti toleran terhadap kesalahan dan kelemahan yang dapat merugikan pasangannya. Sikap ini memudahkan suami-istri untuk berpikir jernih sebelum memberikan pendapat dan menilai pasangannya.

Ketiga, saling menasihati. Manusia manapun tidak luput dari kesalahan. Ketika Islam mengharuskan saling bergaul secara makruf atau berlemah lembut antara suami dan istri, lantas tidak berarti menjadikan nasihat-menasihati antara suami dan istri menjadi terhalang. Ketika suami melakukan perbuatan maksiat atau tidak memenuhi kewajibannya, maka istri wajib mengingatkan suaminya untuk kembali pada tuntunan Islam. Ketika suaminya membawa uang tambahan bagi istri dan anak-anaknya, maka bukan suatu hal yang salah jika istri bertanya dari mana uang tambahan tersebut. Demikian pula sebaliknya, ketika istrinya berbuat maksiat atau tidak melaksanakan kewajibannya, maka seorang suami wajib untuk menasihatinya. Dengan begitu keluarga tersebut menjadi keluarga yang penuh berkah karena syariah dilaksanakan dalam keluarga tersebut dengan penuh kesungguhan.

Persahabatan suami-istri akan mengantarkan setiap orang tidak pernah rela pasangannya melakukan kesalahan, baik yang disengaja maupun yang tidak. Saling memberi nasihat merupakan wujud suatu hubungan yang saling mencintai karena Allah SWT. Sebab, tujuannya adalah dalam rangka menjaga ketaatan kepada Allah SWT, dan menjauhkan pasangannya dari melakukan kemakshiatan kepada-Nya. Nasihat yang disertai dengan komunikasi yang tepat waktu dan tepat cara (lemah-lembut dan tidak menjustifikasi kesalahan) akan membuat pasangan yang dinasihati merasakan kesejukan dan ketenteraman dalam menerima masukan.

Keempat, saling memaafkan. Kehidupan suami-istri tidak luput dari berbagai kelemahan, kesalahpahaman dan pertengkaran kecil. Hal-hal ini akan dapat merenggangkan hubungan persahabatan satu sama lain. Pada saat salah seseorang dari suami-istri melakukan sesuatu hal yang menimbulkan kemarahan, maka langkah yang perlu disuburkan oleh yang lainnya adalah menahan marah dan memaafkan. Saling memaafkan satu sama lainnya adalah kunci untuk memelihara pergaulan yang makruf di antara suami-istri.

Kelima, saling bekerjasama dan tolong-menolong. Kehidupan suami-istri adalah kehidupan yang berpeluang mengalami kesulitan-kesulitan seperti beban pekerjaan yang memberatkan, pemenuhan nafkah, pendidikan anak, dan lain-lain. Namun, perlu dipahami, saling tolong-menolong bukan berarti kewajiban masing-masing bisa saling dipindahkan atau dihilangkan. Jika suami istri selalu saling tolong-menolong, selain akan meringankan beban satu sama lainnya, juga akan melanggengkan kasih sayang dan sikap lemah lembut di antara keduanya.

Demikianlah Rasulullah saw. telah menuntun kita untuk senantiasa bergaul dengan makruf kepada pasangan, saling bersenda gurau, berlemah lembut di antara suami-istri. Dengan tuntunan beliau di atas, seyogyanya seorang suami menjalankan tugasnya sebagai pemimpin dengan penuh kelembutan dan kasih sayang kepada istri dan anggota keluarganya yang lain. Demikian pula, istrinya pun diperintah untuk dan bergaul dengan baik, taat kepadanya dalam perkara yang disyariatkan. Dengan itu akan terwujud ketenangan di antara keduanya dan abadilah ikatan cinta dan kasih sayang di antara keduanya (Lihat: QS al-A’raf [7]: 189). Dengan demikian, nyatalah bahwa keluarga Muslim adalah keluarga yang sarat dengan ketenangan dan curahan kasih sayang.

Semoga Allah SWT senantiasa memberi kemudahan kepada kita semua untuk senantiasa memelihara ketenangan dan ketentraman dalam kehidupan pernikahan kita. Amin. WalLahu a’lam bi ash-shawab.





Menghiasi Diri Dengan Akhlak Mulia

10 10 2012

khoirunnisa-syahidah.blogspot.com – Dalam realitas keseharian kita, kadangkala kita pernah menjumpai seorang Muslim yang mungkin dari sisi ritualitas ibadahnya bagus, namun hal
http://www.konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2011/05/bacaan-sujud-sahwi-460×250.jpgdemikian sering tidak tercermin dalam perilaku atau akhlaknya. Shalatnya rajin, tetapi sering tak peduli dengan tetangganya yang miskin. Shaum sunnahnya rajin, namun wajahnya jarang menampakkan sikap ramah kepada sesama. Zikirnya rajin, tetapi tak mau bergaul dengan masyarakat umum. Demikian seterusnya. Tentu saja, Muslim demikian bukanlah Muslim yang ideal.

Muslim yang ideal tentu adalah Muslim yang memiliki hubungan yang baik secara vertikal kepada Allah SWT yang terwujud dalam akidah dan ibadahnya yang lurus dan baik, sekaligus juga memiliki hubungan yang baik secara horisontal dengan sesama manusia yang tercermin dalam akhlaknya yang mulia.

Akhlak mulia (akhlaq al-karimah) adalah salah satu tanda kesempurnaan keimanan dan ketakwaan seorang Muslim. Karena itu, tentu tidak dikatakan sempurna keimanan dan ketakwaan seorang Muslim jika ia tidak memiliki akhlak mulia. Bahkan Baginda Rasulullah SAW menyebut keimanan yang paling sempurna dari seorang Muslim ditunjukkan oleh akhlaknya yang mulia, “Mukmin yang paling sempurna adalah yang paling baik akhlaknya,” demikian sabda beliau sebagaimana diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Imam Muslim. Karena itu, tidak aneh jika Baginda Rasulullah SAW pun menyebut Muslim yang berakhlak mulia sebagai manusia terbaik. Beliau bersabda, “Sesungguhnya yang terbaik di antara kalian adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR al-Bukhari dan Muslim).

Dalam sejumlah hadits lainnya, Baginda Rasulullah SAW menyebut sejumlah keistimewaan akhlak mulia ini. Saat beliau ditanya tentang apa itu kebajikan (al-birr), misalnya, beliau lansung menjawab, “Al-Birr husn al-khulq (Kebajikan itu adalah akhlak mulia.” (HR Muslim).

Beliau bahkan bersabda, “Tidak ada sesuatu pun yang lebih berat dalam timbangan seorang Mukmin pada Hari Kiamat nanti selain akhlak mulia. Sesungguhnya Allah membenci orang yang berbuat keji dan berkata-keta keji.” (HR at-Tirmidzi).

Dalam kesempatan lain Baginda Rasulullah SAW pernah ditanya tentang apa yang paling banyak menyebabkan orang masuk surga. Beliau menjawab, “Takwa kepada Allah dan akhlak mulia.” (HR at-Tirmidzi).

Akhlak mulia tentu saja bagian dari ketakwaan itu sendiri. Namun demikian, akhlak mulia disebut secara khusus dalam hadits di atas. Ini menunjukkan betapa istimewanya akhlak mulia. Ibn al-Qayyim berkata, “Penggabungan takwa dengan akhlak mulia karena takwa menunjukkan baiknya hubungan seseorang dengan Tuhannya, sementara akhlak mulia menunjukkan baiknya hubungan dirinya dengan orang lain.” (Muhammad ‘Alan, Dalil al-Falihin, III/68).

Sebaliknya, saat Baginda Rasulullah SAW ditanya tentang apa yang paling banyak menyebabkan orang masuk neraka. Beliau menjawab, “Mulut dan kemaluan.” (HR at-Tirmidzi).

Mengapa mulut? Sebab, dari mulut bisa meluncur kata-kata kekufuran, ghibah (membicarakan kejelekan orang lain), namimah (mengadu-domba orang lain), memfitnah orang lain, membatalkan yang haq dan membenarkan yang batil, dll.

Keutamaan kedudukan orang yang berakhlak mulia juga disejajarkan dengan keutamaan kedudukan orang yang biasa memperbanyak ibadah shaum dan sering menunaikan shalat malam. Baginda Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya seorang Mukmin-karena kebaikan akhlaknya-menyamai derajat orang yang biasa melakukan shaum dan menunaikan shalat malam.” (HR Abu Dawud).

Bahkan kedudukan orang yang berakhlak mulia pada Hari Kiamat nanti dekat dengan kedudukan Baginda Rasulullah saw., sebagaimana sabda beliau, “Sesungguhnya orang yang paling aku cintai dan paling dekat kedudukannya dengan majelisku pada Hari Kiamat nanti adalah orang yang paling baik akhlaknya. Sebaliknya, orang yang aku benci dan paling jauh dari diriku adalah orang yang terlalu banyak bicara (yang tidak bermanfaat, pen.) dan sombong.” HR at-Tirmidzi).

Lalu apa yang dimaksud dengan akhlak mulia atau husn al-khulq? Di dalam tafsirnya, Abdullah ibn al-Mubarak, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi, menyebut husn al-khulq sebagai: selalu bermuka manis; biasa melakukan kebajikan, di antaranya dengan biasa memberikan nasihat kepada orang lain dengan kata-kata yang baik, ringan tangan (mudah membantu orang lain), dll; serta sanggup menahan diri dari sikap menyakiti orang lain baik lewat ucapan maupun tindakan.

Husn al-hulq sesungguhnya juga merupakan gabungan dari sikap suka memaafkan, biasa memerintahkan kebajikan dan berpaling dari orang-orang yang jahil/bodoh, sebagaimana firman Allah SWT: Berilah maaf, perintahkanlah kebaikan dan berpalinglah dari orang-orang yang bodoh (TQS al-A’raf [7]: 199). (Muhammad ‘Alan, Dalil al-Falihin, III/72). Wa ma tawfiqi illa bilLah! [] [khoirunnisa-syahidah.blogspot.com]





..**Biarlah Allah Memilihnya Untukmu**.

15 07 2012

Di suatu sudut taman, aku melihat seorang gadis sedang menangis. Tidak..dia tidak sendirian, namun ditemani seorang wanita dan seorang laki-laki. Kebetulan duduk kami tidak lah berjauhan, samar-samar aku masih mendengar pembicaraan mereka.

“Kalau kamu yakin, abang sih nggak apa-apa Lena. Toh kamu sudah besar, bisa memilih dan memilah, ya kan ummi? Tapi yang abang nggak suka, cara kalian berhubungan.”

Aku sudah bisa menerka, bahwa wanita dan laki-laki itu adalah sepasang suami istri dan gadis itu adalah adik dari laki-laki itu. Dan lagi-lagi aku bisa menebak ke arah mana pembicaraan mereka, apalagi kalau bukan “Cinta”

“Aku juga tahu batasannya, Bang.” Gadis itu menjawab dengan sesegukan.

“Lena, seorang laki-laki yang mengenal syariat dan kalau dia benar mencintaimu seperti yang dia katakan, dia tidak akan pernah memanjakanmu dengan kata-kata manis sebelum dia halal denganmu. Karena dia tahu, apa yang dia perbuat padamu selalu ada yang melihatnya yaitu Allah.”

Giliran wanita tadi yang berbicara, rupanya yang wanita bisa berpikir lebih bijak, mungkin karena dia sama-sama wanita dan lebih paham isi hati wanita.

“Biarlah Allah yang memilihkannya untukmu, Lena. Memilihkan laki-laki yang pantas untukmu, yang perlu kamu lakukan adalah membersihkan hatimu dari virus-virus yang menyerangnya agar kelak laki-laki yang dipilihkan-Nya untukmu pun bersih dari virus hati yang merusaknya.”

Ada genangan di mataku yang berubah menjadi butiran-butiran yang terus menetes di pipiku. Semakin menderas. Nasehat itu seolah-olah ditujukan Allah untukku lewat wanita tadi.

Aku baru patah hati dan putus cinta karena laki-laki yang tadinya aku cintai lebih memilih orang lain. Dan di taman inilah aku menginjakkan kaki untuk menenangkan pikiranku, dan ternyata Allah memberikanku sebuah kejutan yang membuat hatiku terbuka lewat tiga orang itu. Terima kasih yaa Rabb, Kau masih mencintaiku justru ketika aku berpaling dari-Mu.

***

Banyak yang tidak menyadari ketika hati memilih seseorang, seolah-olah dia pasti akan menjadi pendampingmu. Padahal belum tentu adanya, jadi ketika Allah Azza Wa Jalla memutuskan untuk mengembalikanmu kepada-Nya dengan menjauhkanmu dari maksiat, kamu justru membenci-Nya, menyalahkan takdir-Nya.

Kesadaran kamu atas cinta Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah disamarkan oleh cinta pada makhluk-Nya, sangat disayangkan kamu lupa bahwa dengan mencintai Allah Subhanahu Wa Ta’ala, kamu justru akan mendapatkan cinta yang jauh lebih berharga.

Sadarilah, Allah akan memilihkanmu seseorang yang jauh lebih pantas ketika kamu mampu menjaga hatimu dari kekejian massa yang memberikan kebebasan pada kemaksiatan ketimbang kamu memilih ikut untuk berkecimpung dalam kemaksiatan dengan dalih-dalih cinta atau ketakutan tidak mendapatkan cinta.

”Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula)…” (QS An Nur:26) [khoirunnisa-syahidah.blogspot.com]





Mencintai Dalam Diam dan Kesedarhanaan

15 07 2012

Sahabat Muslimah..
Cintailah ia dalam diam, dari kejauhan, dengan kesederhanaan dan keikhlasan…

Ketika cinta kini hadir tidaklah untuk Yang Maha Mengetahui saat secercah rasa tidak lagi tercipta untuk Yang Maha Pencipta izinkanlah hati bertanya untuk siapa ia muncul dengan tiba-tiba…mungkinkah dengan ridha-Nya atau hanya mengundang murka-Nya…

Jika benar cinta itu karena Allah maka biarkanlah ia mengalir mengikuti aliran Allah karena hakikatnya ia berhulu dari Allahmaka ia pun berhilir hanya kepada Allah..

“Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat kebesaran Allah.” (QS. Adz Dzariyat:49)

“Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu, danorang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelakidan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akanmemampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas(pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. ” (QS. An Nuur: 32)

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmuisteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasatenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang.Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tandabagi kaum yang berfikir. ” (QS. Ar-Ruum:21)

Tapi jika memang kelemahan masih nyata dipelupuk mata maka bersabarlah… berdo’alah… berpuasalah…

” Wahai kaum pemuda,siapa saja diantara kamu yang sudah sanggup untukmenikah,maka menikahlah,sesungguhnya menikah itu memelihara mata,danmemelihara kemaluan,maka bila diantara kamu belum sanggup untukmenikah,berpuasalah,karena ssungguhnya puasa tersebut sebagaipenahannya ” (Hadist)

“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatuperbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk. ” (QS. Al Israa’ :32)

Cukup cintai ia dalam diam…
bukan karena membenci hadirnya…tapi menjaga kesuciannya bukan karena menghindari dunia…tapi meraih surga-Nya bukan karena lemah untuk menghadapinya…tapi menguatkan jiwa dari godaan syaitan yang begitu halus dan menyelusup..

Cukup cintai ia dari kejauhan…
karena hadirmu tiada kan mampu menjauhkannya dari cobaankarena hadirmu hanya akan menggoyahkan iman dan ketenangankarena hadirmu mungkin saja ‘kan membawa kenelangsaan hati-hati yang terjaga…

Cukup cintai ia dengan kesederhanaan…
memupuknya hanya akan menambah penderitaan menumbuhkan harapan hanya akan mengundang kekecewaanmengharapkan balasan hanya akan membumbui kebahagiaan para syaitan…

Maka cintailah ia dengan keikhlasan
karena tentu kisah fatimah dan ali bin abi thalib diingini oleh hati…tapi sanggupkah jika semua berakhir seperti sejarah cinta Salman Al Farisi…?

“ Boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. ” (QS. Al-Baqarah:216)

“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, danlaki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), danwanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-lakiyang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yangdituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduhitu). Bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia (surga)” (QS.An Nuur:26)

Cukup cintai ia dalam diam dari kejauhan dengan kesederhanaan dan keikhlasan…

karena tiada yang tahu rencana ALLAH…mungkin saja rasa ini ujian yang akan melapuk atau membeku dengan perlahan karena hati ini begitu mudah untuk dibolak-balikan…serahkankan rasa yang tiada sanggup dijadikan halal itu pada Yang Memberi dan Memilikinya biarkan ia yang mengatur semuanya hingga keindahan itu datang pada waktunya…

“Barangsiapa menjaga kehormatan orang lain, pasti kehormatan dirinya akan terjaga.” (Umar bin Khattab radiyallahu anhu) [khoirunnisa-syahidah.blogspot.com]








%d blogger menyukai ini: