TERORISME, ISU TAHUNAN

25 11 2012

terorisme
Isu terorisme mencuat lagi. Nampaknya isu terorisme memang menjadi isu paling populer sekaligus isu yang paling membawa ketakutan ditengah-tengah masyarakat diantara isu-isu yang sering di angkat. Betapa tidak, isu ini selalu hadir setiap tahun tanpa terkecuali sejak peristiwa serangan terhadap menara kembar WTC di New York 2001.
Kita tak kan lupa, ketika Presiden Bush memberikan wacana yang menyeret opini umum saat itu““Either you are with us or with terrorists (Anda bersama kami atau bersama teroris)”. Telebih lagi dengan dukungan Dewan Keamanan PBB yang begitu responsif dengan mengeluarkan Resolusi 1373 yang dikeluarkan pada 28 September 2001. Hal ini bukan tanpa tujuan, resolusi ini melakukan pembatasan segala aktivitas gerakan, organisasi dan pendanaan berbagai kelompok teroris. Negara-negara anggota PBB didorong untuk saling berbagi informasi intelijen yang berkenaan dengan kelompok-kelompok teroris. Tak lama berselang, tiga tahun kemudian tepatnya 8 Oktober 2004 lahirlah Resolusi DK-PBB 1566 untuk melengkapi definisi dari terorisme yang digelontorkan. Terorisme didefinisikan sebagai ‘tindakan-tindakan kriminal, termasuk dari negara terhadap warganegara, yang menyebabkan kematian atau siksaan fisik atau penyanderaan yang dilakukan dengan tujuan menciptakan keadaan teror di tengah-tengah masyarakat umum atau sekelompok orang atau orang-orang tertentu, mengintimidasi suatu populasi atau memaksa suatu pemerintahan atau suatu organisasi internasional untuk melakukan atau tidak melakukan suatu tindakan.’
Terlebih jika kita mencoba memperhatikan kearah mana penggiringan isu itu dibentuk kita akan melihat betapa hal ini begitu dikebiri. Seperti yang diungkapkan Bush: ‘The murderous ideology of the Islamic radicals is the great challenge of our new century. Like the ideology of communism, our new enemy teaches that innocent individuals can be sacrificed to serve a political vision (Ideologi pembunuh Islam radikal adalah tantangan terbesar dari abad baru kita. Seperti ideologi komunis, musuh baru kita mengajarkan bahwa individu yang tidak bersalah bisa dikorbankan untuk melaksanakan sebuah visi politik).
Tentu, ketika kita memandang apa yang dilontarkan Bush bukan sekedar seseorang (orang biasa) yang memberikan opini. Namun, ketika ia melontarkan hal itu ia adalah seorang kepala negara dari sebuah negara “adikuasa” yang setiap lontarannya menjadi “visi dan misi baru” untuk kebijakan negara yang bertumpu padanya. Dari hal ini saja kita bisa melihat. Bagaimana negara adikuasa ini menjadikan terorisme sebagai sebuah alat politik yang relevan untuk melakukan perang ideologi (bukan perang terhadap individu) maupun alat untuk terus membuat umat percaya pada ideologi kapitalisme (yang sebentar lagi akan runtuh, Insya Allah) yang mereka usung serta menjadi jalan untuk terus menjajah negeri-negeri kaum Muslim, dengan melakukan pengkaburan sebagai perang terhadap Islam radikal.
Bagaimana dengan Indonesia? Dengan kesetiaannya kepada kapitalis dan pengusungnya isu ini terus saja dipelihara dan sebagai upaya pemulus pula bagi sarana permainan politik (menutup isu, kerjasama militer AS-Indonesia,dll) maupun penggolan atas UU yang ingin disahkan. Misalnya, pasca bom Bali 12 Oktober 2002 muncul Perpu No 1 dan 2 tahun 2002 tentang pemberantasan tindak terorisme, yang kemudian ditetapkan menjadi UU No 15 dan 16 tahun 2003. Ternyata, pembentukan siklus ataupun pendompling isu-isu tertentu cukup efektif dalam mencapai tujuan tersebut, baik isu terorisme yang diangkat berkenaan dengan adanya ledakan bom atau ditangkapnya orang tertentu dengan simbol-simbol (berbaju koko, berjenggot, buku-buku islam)ataupun bukti-bukti tertentu yang dianggap mendukung dalam melaksanakan aksinya. Padahal telah jelas di dalam firman Nya:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَتَّخِذُوا عَدُوِّي وَعَدُوَّكُمْ أَوْلِيَاءَ
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengambil musuh-Ku dan musuh kalian sebagai teman-teman setia (QS al-Mumtahanah [60]: 1).

Sikap kita.
Pertama: Meyakini bahwa Islam hadir sebagai sebuah agama yang paripurna. Islam selalu membersamai pada ruang lingkup apapun. Sehingga wajar islam hadir dengan seperangkat sistem dan aturan yang akan menjamin dan menentramkan setiap umatnya
Kedua: diperlukannya kesatuan umat dalam memahami bahwa Islam hanya lah satu, tidak ada pengelompokkan baik islam moderat-radikal ataupun liberal-fundamentalis, dll. Allah berfirman:
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيعًا وَلاَ تَفَرَّقُوا
Berpegang teguhlah kalian semuanya pada tali (agama) Allah dan janganlah bercerai-berai (QS Ali ‘Imran [3]: 103).
Tiga: perlunya selalu mengedukasi diri dan mengedukasi umat dalam pemahaman islam dan kesadaran politik yang utuh untuk menangkal isu-isu yang memungkinkan berkembang, menyulut dan menggoyahkan kita akan keyakinan bahwa islam sebuah agama-ideologi paripurna. Bukan ideologi yang meyakini yang satu dan meninggalkan yang lain atas dasar kemanfaatan ataupun atas dasar pertimbangan “agar dapat diterima”.
Empat: Mengikuti metode da’wah yang diajarkan Rasulullah yaitu dengan melakukan perbaikan fikriyah (pemikiran), siyasiyah (politik) dan ghoiru ‘unfiyah (tanpa kekerasan) serta melakukan perubahan untuk mewujudkan penerapan islam secara menyeluruh yang merupakan sebuah kemestian akan terwujud penerapannya, sebagaimana firman-Nya:
]لَقَدِ ابْتَغَوُا الْفِتْنَةَ مِنْ قَبْلُ وَقَلَّبُوا لَكَ اْلأُمُورَ حَتَّى جَاءَ الْحَقُّ وَظَهَرَ أَمْرُ اللَّهِ وَهُمْ كَارِهُونَ
Sesungguhnya dari dulu pun mereka telah mencari-cari kekacauan dan membuat pelbagai macam tipudaya untuk (menghancurkan)-mu hingga datang kebenaran (pertolongan Allah) dan menanglah agama Allah, padahal mereka tidak menyukainya. (QS at-Taubah [9]: 48).

Agustina Rahmi


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: