Tawuran Berujung Maut Bukti Tidak Tertanamkan Kepribadian Islam

25 11 2012

tawuran pelajar
Tawuran kian marak terjadi di SMA. Mereka seperti tak ingin kalah dengan lawan-lawan mereka yang akhirnya menyebabkan salah satu pelajar tersebut ada yang meninggal maupun kritis di rumah sakit. Sebut saja Alawy Yusianto Putra (15) yang menjadi korban penyerbuan gerombolan anak SMAN 70, sebagai buntut tawuran sebelumnya,ia di celurit dadanya hingga tewas(media Umat 19/10). Itu hanya segelintir fakta, dan itu masih banyak lagi korban-korban lainnya yang akhirnya berujung maut.

Kalau kita lihat fakta tersebut, apa sebab mereka bisa saling tawuran sampai berujung maut? Ya, mereka mungkin ada cekcok antar sekolah atau mungkin diadu domba oleh pihak ketiga. Tidak hanya itu, ternyata sebuah game Online saja bisa mempengaruhi terjadinya tawuran. Dimana game Online tersebut mengajarkan kepada remaja-remaja berkelahi terhadap lawan dan lain sebagainya. Lalu, ada faktor lain yang menjadikan diri remaja menyebabkan mereka terlibat perkelahian. Pertama, pendidikan di keluarga. Keluarga adalah peran utama untuk menjadi keluarga yang sejahtera dan penuh kasih sayang. Tapi apa yang didapat oleh remaja sekarang ialah sebaliknya. Ibu yang seharusnya mendidik, merawat, mengasuh dan mendidik tidak perduli dengan anaknya disebabkan ibu yang bekerja atau figurnya pun tidak nampak di keluarga, sedangkan ayahnya yang siang malam banting tulang cari nafkah juga tidak pernah menanyakan kabar anak dan istri atau sering bertemu dengan wanita di tempat kerja yang itu mengakibatkan orang tunya selalu bertengkar. Anak pun yang terganggu dengan semua itu dan itu yang menyebabkan mereka mencari kesenangan diluar.

Kedua, faktor sekolah. Sekolah yang seharusnya dipandang sebagai lembaga pendidik malah tidak berperan baik pada siswanya. Dengan pelajaran yang hanya sebatas ilmu saja yang tidak disuruh untuk dipraktekkan atau pun diamalkan. Tidak hanya itu, dengan kurikulum yang berbasiskan asing pun bisa mempengaruhi gaya hidup mereka. Nilai yang menuntut siswa agar mendapatkan nilai yang baik menjadikan siswa tersebut melakukan segala cara agar mendapatkan nilai baik mau dengan cara yang halal atau haram. Lalu, Pelajaran agama yang hanya dua kali seminggu itu tidak akan pernah cukup untuk siswa. Mereka yang hanya di ajarkan akhlak lalu di UTS kan misalnya itu tidak akan pernah berbekas. Karena setelah mereka sudah berada di luar jam sekolah pun mereka tetapkan dengan aktivitas seperti biasa.

Ketiga, faktor lingkungan. Lingkungan yang sangat mempengaruhi gaya hidup remaja sekarang. Misalnya lingkungan yang selalu terjadinya perkelahian, seks bebas, mabuk-mabukkan dan tindakan kriminal lainnya.

Lalu, apa solusinya agar remaja sekarang tidak melakukan tawuran dan tindakkan kriminalitas lainnya? Yang pastinya ialah dengan mengubah pola pikir dan pola sikap berkepribadian islam. Didikan keluarga yang paling utama karena dengan keluarga, mereka bisa melihat dan langsung mempraktekkan apa yang dilakukan oleh orang tuanya dan juga menjadi sebuah teladan untuk anaknya. Lalu, pendidikan di sekolah yang tidak hanya berbasiskan pelajaran tapi juga dengan memperkuat keimanan mereka agar mereka bisa berpikir dan sadar akan masa depan nanti. Lingkungan yang berbasiskan religius itu bisa menumbuhkembangkan kekerabatan sesama muslim dengan tiap malam mengadakan pengajian dan lain sebagainya. Terakhir ialah Negara yang harus bisa mengontrol seluruh tayangan yang itu bisa merusak kepribadian remaja.*

*Gita Pebrina Ramadhana ,Mahasiswi FKIP Unlam Bjm.
Penulis: Mahasiswi FKIP Pendidikan B. Inggris Unlam, Bjm.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: