Perubahan Kurikulum Pendidikan, Gagasan Brilian atau Bentuk dari Keputus Asaan?

25 11 2012

kurikulum baru pendidikan
“Menteri pendidikan baru, saatnya kurikulum baru”, mungkin tidak terlalu berlebihan jika itu dikatakan, mengingat begitu seringnya kurikulum Indonesia ini berganti. Dalam perjalanan sejarah sejak tahun 1945, kurikulum pendidikan nasional telah mengalami perubahan, yaitu pada tahun 1947, 1952, 1964, 1968, 1975, 1984, 1994, 2004, dan 2006. Sekarang, hal yang sama akan terulang lagi. Staf ahli Mendikbud Prof Kacung Marijan MA menegaskan bahwa kementerian itu akan melakukan perubahan kurikulum pendidikan nasional mulai 2013 untuk menyeimbangkan aspek akademik dan karakter (Kompas.com).
Timbul sebuah pertanyaan, apakah perubahan kurikulum yang baru ini adalah sebuah bentuk rekomendasi serius dan merupakan gagasan yg brilian dari Kemendikbud ataukah sekedar usulan atas sebuah bentuk keputus asaan? Putus asa karena walau kurikulum sudah berganti berkali-kali tetap tidak ada perubahan yang berarti bagi generasi. Meski menuai banyak pro dan kontra perombakan kurikulum, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tetap akan melaksanakannya pada tahun ajaran 2013-2014. Sebuah hal yang wajar jika ini menuai banyak pro dan kontra di tengah masyarakat, karena melihat fakta yang terjadi bagaimana rusaknya generasi saat ini. Kasus tawuran, narkoba, seks bebas, dan kasus-kasus lainnya yang mayoritas dilakukan oleh generasi bangsa selalu meningkat setiap tahunnya. Ini menunjukkan bahwa generasi muda saat ini sudah begitu banyak mengalami kemunduran. Memang, akan tetap ada generasi muda yang berprestasi, akan tetapi bukankah fakta yang terlihat saat ini justru generasi yang ‘merusak’ prestasi?
Bagaimanapun, seperti apa tingkah laku dari para generasi sekarang tidak lepas dari peran pendidikan yang mendidik mereka, entah itu lingkungan masyarakat maupun lingkungan sekolah. Akan tetapi, jika diperhatikan lebih teliti lagi maka lingkungan sekolah lah yang berperan lebih dalam pembentukan pribadi mereka. Hal ini karena mereka dididik sejak TK, SD, SMP, SMA hingga perguruan tinggi. Oleh karena itu, begitu besarnya peran pendidikan sekolah memberikan kontribusi dalam pembentukan generasi bangsa. Berbica sekolah tentu tidak akan lepas dari yang namanya kurikulum pendidikan. Namun sayang, kurikulum Negara sekarang ini rupanya tidak teguh pada pendiriannya, selalu saja berubah. Memang alasan Menteri pendidikan untuk merubahnya adalah untuk memperbaiki kurikulum yang ada, namun kenyataannya perubahan kurikulum pendidikan justru terkesan seperti sebuah ketidakseriusan. Banyak pihak yang mengatakan belum rampung satu kurikulum pendidikan kini sudah berencana mau merubah kurikulum lagi. Padahal, untuk perubahan itu tentu akan memerlukan dana yang banyak lagi.
Ada hal menarik dari rencana perubahan kurikulum ini, kata staf ahli Mendikbud Prof Kacung Marijan MA perubahan kurikulum tersebut bertujuan untuk menyeimbangkan aspek akademik dan karakter. Selama ini memang dunia pendidikan dihebohkan dengan slogan pendidikan berkarakter, walaupun memang pada kenyataannya begitu sulit untuk membentuk karakter yang baik kepada para peserta didik. Pendidikan sekarang memang lebih banyak mengedepankan nilai akademis, contoh sederhana ketika UN kejujuran sudah tidak diperhatikan lagi, yang penting lulus. Bahkan yang lebih parah lagi, terkadang justru nilai akademispun sudah tidak diperhatikan lagi, contoh sederhana ketika masuk ke perguruan tinggi misalnya, tidak jarang justru uang yang bermain, yang banyak uangnya akan mendapatkan peluang lebih besar untuk masuk ke dalamnya (red: Perguruan Tinggi). Hal ini membuktikan bahwa saat ini tidak sekedar karakter yang bermasalah, tapi akademik pun sepertinya sudah mulai ditinggalkan. Jika demikian, apa jadinya generasi ini di masa depan?
Usulan Kemendikbud untuk mengubah kurikulum kembali dengan tujuan untuk menyeimbangkan akademik dan karakter memang adalah tujuan yang sangat bagus. Akan tetapi, yang menjadi pertanyaan berikutnya adalah apakah dengan merubah kurikulum baru lagi akan menjadikan pendidikan sekarang ini menjadi lebih baik? Karena melihat fakta yang ada, sudah berkali-kali kurikulum diganti tetap tidak ada perubahan lebih baik yang berarti. Dari sini, harusnya yang dipikirkan bukanlah sekedar kurikulum yang terus berganti tapi bagaimana ‘kabar’ system pendidikannya? Yang saat ini sudah tidak mengedepankan penguasaan ilmu pengetahuan di peserta didiknya, tapi justru lebih kepada mengejar gelar ketika lulusnya. Sistem pendidikan sekarang jua didesain layaknya sebuah proyek bisnis yang menguntungkan. Saat mendekati UN misalnya, begitu banyak jasa yang menawarkan les privat, bimbel-bimbel, hingga buku-buku soal latihan, bahkan yang paling parah ada juga yang menjual bocoran jawaban soal UN dengan tarif yang berbeda-beda. Sungguh luar biasa dunia pendidikan kita sekarang ini, dan semua itu tidak lepas dari system pendidikan yang ada sebagai bentuk ‘anak’ dari system Kapitalis yang saat ini dijadikan sebagai system yang memayungi Negara kita Indonesia.
Sungguh kondisi ini sangat jauh berbeda dengan system pendidikan Islam yang benar-benar menjadikan peserta didik untuk benar-benar menguasai berbagai bidang ilmu pengetahuan yang tentunya ditujukan untuk kesejahteraan masyarakat. Dalam system pendidikan Islam, sejak awal penyusunan kurikulum dan materi pelajaran dimana terdapat dua tujuan pokok pendidikan yang harus diperhatikan: Pertama, Membangun kepribadian Islami, pola pikir (aqliyah) dan jiwa (nafsiyah) bagi umat; yaitu dengan cara menanamkan tsaqofah Islam berupa aqidah, pemikiran, dan perilaku Islami ke dalam akal dan jiwa anak didik. Karenanya harus di susun dan dilaksanakan kurikulum Negara Khilafah untuk merealisasikan tujuan tersebut. Kedua, Mempersiapkan anak-anak kaum muslim agar diantara mereka menjadi ulama-ulama yang ahli di setiap aspek kehidupan, baik ilmu-ilmu ke-Islaman (ijtihad, fiqih, peradilan dan lain-lain) maupun ilmu-ilmu terapan (teknik, kimia, fisika, kedokteran dan lain-lain). Ulama-ulama yang mumpuni akan membawa Negara Islam dan umat Islam –melalui pundak mereka- untuk menempati posisi puncak diantara bangsa-bangsa dan Negara-negara lain di dunia, bukan sebagai pengekor maupun agen pemikiran dan ekonomi Negara lain.
Dengan system pendidikan ini, maka keseimbangan antara akademik dan karakter pasti akan dapat terwujud. Oleh karenanya, kenapa harus ragu mengambil system pendidikan Islam untuk dijadikan sebagai acuan dalam perbaikan kurikulum pendidikan di Indonesia. Namun, tentu system pendidikan Islam tak akan mungkin bisa diterapkan dalam wadah Negara yang bukan islam. Maka, system pendidikan Islam yang akan mampu melahirkan generasi yang hebat akademis dan berkarakter juga hanya bisa berada dalam sebuah Negara Islam yakni Daulah Khilafah Islamiyah.

by Rusma


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: