PERLUKAH MEMPERTAHANKAN PENDIDIKAN ALA SEKULERISME..?!?

25 11 2012

pendidikan
Pendidikan sekarang seolah-olah tujuannya sangat jauh sekali dengan pendidikan sebenarnya, yang namanya pendidikan seharusnya adalah mencerdaskan anak bangsa bukan sebaliknya yang hanya mengambil keuntungan dengan menjadikan pendidikan itu sendiri sebagai lahan basah untuk berbisnis. Wajar, kalau kita lihat pendidikan sekarang ini seperti itu, karena kita berada ada system yang sekuler tentunya pendidikan yang komersialisasi dan materialistik ini adalah pendidikan ala sekulerisme-kapitalisme yang ujung-ujungnya mengarah kepada ,materialisme dan perbisnisan.
Pendidikan yang materialistik merupakan gambaran dari kehidupan sekuleristik yang terbukti telah gagal menghantarkan manusia menjadi sosok pribadi yang utuh. Hal ini disebabkan oleh dua hal. Pertama, paradigma pendidikan yang keliru di mana dalam sistem kehidupan sekuler, asas penyelenggaraan pendidikan juga sekuler. Tujuan pendidikan yang ditetapkan juga adalah buah dari paham sekuleristik, yakni sekedar membentuk manusia-manusia yang berpaham materialistik dan individu. Jadi, tanpa kita sadari atau tidak, berkembang penilaian bahwa hasil pendidikan haruslah dapat mengembalikan investasi yang telah ditanam. Pengembalian itu dapat berupa gelar kesarjanaan, jabatan, kekayaan, atau apapun yang setara dengan nilai materi yang telah dikeluarkan. Agama ditempatkan pada posisi yang sangat individual. Nilai agama dinomor sekiankan dijadikan sebagai standar penilaian sikap dan perbuatan. Tempatnya telah digantikan yang pada faktanya bernilai materi terlihat pada saat ini.
Dalam sistem sekuler saat ini, aturan-aturan, pandangan, dan nilai-nilai Islam memang tidak pernah secara sengaja digunakan untuk menata berbagai bidang, termasuk bidang pendidikan. Karena itu, di tengah-tengah sistem sekularistik ini lahirlah berbagai bentuk tatanan yang jauh dari nilai-nilai agama. Apakah dengan ini kita dapat menghasilkan generasi penerus yang benar-benar berkualitas? Tentu tidak. Dari sini dapat kita lihat kalau sistem sekarang ini seolah-olah yang hanya bisa mengemban pendidikan hanyalah orang-orang kaya saja, karena biaya pendidikan yang begitu sangat tinggi, sehingga orang yang pintar tetapi tidak mempunyai uang tidak bisa bersekolah karena tidak mampu membayar biaya pendidikan dan kalah kualifikasi hanya dari segi biaya, tetapi orang yang kurang pandai tapi memiliki uang banyak dia bisa merentas pendidikannya hanya dia mampu memiliki uang… Pendidikan merupakan hak setiap warga negara. Oleh karena itu, negaralah yang seharusnya mengelola bidang pendidikan, baik pembiayaan maupun kurikulumnya. Karena, baik/buruknya pendidikan akan berdampak langsung bagi baik/buruknya suatu negara. Paradigma baru dalam bidang pendidikan tersebut, seperti sebuah gagasan yang mulia. Akan tetapi, dampak yang nampak saat ini adalah privatisasi dan komersialisasi pendidikan.
Pendidikan yang diharapkan dapat melepaskan bangsa ini dari belenggu kebodohan dan keterbelakangan, tetapi menjadi komoditas bisnis yang menguntungkan. Peserta didik dari keluarga miskin tidak akan mampu membayar biaya kuliah di perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta, yang mahal. Hasilnya, apabila ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, mereka terpaksa mencari universitas yang biasa-biasa saja. Dampak nyata dari kebijakan privatisasi PTN adalah merosotnya mutu pendidikan tinggi negeri karena dasar penerimaan mahasiswa baru tidak murni tes, tetapi tawar menawar modal yang disetorkan.
Selain itu, apalagi jika UU BHP (Badan Hukum Pendidikan) BHP itu akan diterapkan pada semua universitas di negeri ini yang mana BHP itu adalah upaya pengalihan tanggungjawab negara terhadap pendidikan dengan meminta masyarakat memikul pembiayaan pendidikan. Jika RUU ini diterapkan akan makin sedikit masyarakat tidak mampu yang bisa mengakses pendidikan tinggi. Konsekuensinya, kampus hanya bisa diakses oleh mahasiswa kaya, sementara yang miskin kian tersisih. Kampus yang sudah terlanjur besar dengan mudah membuat jaringan/link dengan dunia usaha sehingga kian maju. Sebaliknya, kampus yang terbelakang sulit dilirik oleh dunia usaha sehingga tetap tertinggal di tengah ketatnya persaingan pasar.

Hal ini sangat berbeda sekali dengan pendidikan berdasarkan system Islam, . Pendidikan Islam Adalah Pendidikan Terpadu Agar keluaran pendidikan menghasilkan SDM yang sesuai harapan, harus dibuat sebuah sistem pendidikan yang terpadu. Artinya, pendidikan tidak hanya terkonsentrasi pada satu aspek saja. Sistem pendidikan yang ada harus memadukan seluruh unsur pembentuk sistem pendidikan yang unggul. Tujuan Pendidikan Islam Pendidikan Islam merupakan upaya sadar, terstruktur, terprogram, dan sistematis yang bertujuan untuk membentuk manusia yang berkarakter, yakni: berkepribadian Islam. Ini sebetulnya merupakan konsekuensi keimanan seorang Muslim. Intinya, seorang Muslim harus memiliki dua aspek yang fundamental, yaitu pola pikir (aqliyyah) dan pola jiwa (nafsiyyah) yang berpijak pada akidah Islam. Pada zaman khulafaur rasyidin, biaya pendidikan gratis ditanggung oleh negara bahkan negara sangat menghargai pentingnya pendidikan. Dalam konteks pendidikan, Islam telah menentukan bahwa negaralah yang berkewajiban untuk mengatur segala aspek yang berkenaan dengan sistem pendidikan yang diterapkan dan mengupayakan agar pendidikan dapat diperoleh rakyat secara mudah. Rasulullah saw. bersabda: “Imam (Khalifah) adalah pengurus rakyat dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas urusan rakyatnya.” (HR al-Bukhari dan Muslim). Perhatian Rasulullah saw. terhadap dunia pendidikan tampak ketika beliau menetapkan para tawanan Perang Badar dapat bebas jika mereka mengajarkan baca-tulis kepada sepuluh orang penduduk Madinah. Hal ini merupakan tebusan. Dalam pandangan Islam, barang tebusan itu merupakan hak Baitul Mal (Kas Negara). Tebusan ini sama nilainya dengan pembebasan tawanan Perang Badar. Artinya, Rasulullah saw. telah menjadikan biaya pendidikan itu setara nilainya dengan barang tebusan yang seharusnya milik Baitul Mal. Dengan kata lain, beliau memberikan upah kepada para pengajar (yang tawanan perang itu) dengan harta benda yang seharusnya menjadi milik Baitul Mal. Kebijakan beliau ini dapat dimaknai, bahwa kepala negara bertanggung jawab penuh atas setiap kebutuhan rakyatnya, termasuk pendidikan. Jika kita melihat sejarah Kekhalifahan Islam, kita akan melihat begitu besarnya perhatian para khalifah terhadap pendidikan rakyatnya. Misalnya saja, masa Khalifah Umar bin al-Khaththab memberikan gaji kepada setiap guru saat itu sebesar 15 dinar (1 dinar=4,25 gram emas). Perhatian para khalifah tidak hanya tertuju pada gaji pendidik dan sekolah, tetapi juga sarana pendidikan seperti perpustakaan, auditorium, observatorium, dll. Bahkan para khalifah memberikan penghargaan yang sangat besar terhadap para penulis buku, yaitu memberikan imbalan emas seberat buku yang ditulisnya. Subhanallah, begitu besarnya perhatian para khalifah (pemimpin) saat itu terhadap pendidikan.

Wahai saudara ku kaum muslim mari kita membuka mata, hati, dan pikiran kita , apakah sistem pendidikan sekuler saat ini akan terus kita pertahankan? Apakah sistem pendidikan yang terbukti gagal ini akan terus kita wujudkan? Marilah kita bergegas membangun sistem pendidikan Islam, dalam sebuah naungan negara Khilafah, yang akan melahirkan generasi yang berkepribadian Islam. Generasi inilah yang akan mampu mewujudkan kemakmuran dan kemuliaan peradaban manusia di seluruh dunia. Jadi, pilihan ditangan kalian, apakah tetap mempertahankannya atau menggantinya dengan system pendidikan yang benar-benar bisa membawa perubahan? Yaitu sistem pendidikan Islam yang telah terbukti keunggulannya… Wallahu’alam Bishawab…
By Hayatun Izati Annisa


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: