Lingkungan Hidup, kenapa harus Islam

25 11 2012

Lingkungan rusak

Isu mengenai energi, lingkungan hidup, dan pemanasan global menjadi isu yang penting untuk dibahas karena melibatkan banyak aktor dan kepentingan. Ini tercermin dari alotnya perundingan dan negosiasi pengurangan emisi gas rumah kaca dalam banyak perundingan yang diselenggarakan oleh badan-badan di lingkungan PBB ataupun berbagai perundingan multilateral lainnya.
Pernahkah terpikirkan oleh kita atau sekedar membandingkan mengapa kualitas lingkungan hidup di negara-negara asing seringkali terasa lebih baik dibandingkan dengan negara yang mayoritas penduduknya adalah muslim, misalnya Indonesia. Krisis lingkungan seperti polusi udara, degradasi lahan, defisitnya sumber daya air dan kualitasnya yang buruk, serta berbagai masalah lingkungan lainnya seakan-akan menjadi hal yang sudah biasa terjadi. Padahal Indonesia dijuluki sebagai negeri khatulistiwa yang hijau ranau bak untaian zamrud khatulistiwa, dan para seniman mengabadikan Indonesia dengan berbagai gambaran penuh kebaikan dan keindahan. Wilayahnya luas, tanahnya subur dan mengandung kekayaan sumber daya alam yang melimpah, hutannya luas, lautnya luas mengandung ikan dan kekayaan yang luar biasa besar. Saking suburnya, tongkat kayu dilempar pun bisa jadi tanaman. Adapun di daerah kita, yaitu Kal-sel sebagai salah satu bagian dari Kalimantan dan Indonesia merupakan daerah yang kaya SDA baik hutan, hasil tambang, pertanian, perkebunan, minyak dan gas bumi,dan lain-lain. Sektor pertambangan, khususnya batu bara menjadi leading sector bagi perekonomian Kal-sel. Di sektor perkebunan, kelapa sawit dan karet menjadi urat nadi perkebunan di Kal-sel.
Pada hari Selasa tanggal 5 Juni 2012 kembali diperingati sebagai hari lingkungan hidup sedunia dengan tema “Green Ekonomy : Does it include you” Diterjemahkan dalam bahasa Indonesia menjadi: Ekonomi Hijau : Ubah Perilaku, Tingkatkan Kualitas Lingkungan. tema ini menyoroti dua hal. Pertama ekonomi hijau adalah penting demi mewujudkan masa depan yang lebih cerah. Kedua, setiap orang baik individu, pemerintah, swasta, maupun masyarakat sipil merupakan komponen penting dalam mewujudkan ekonomi hijau.
Adapun pendapat sejumlah pakar lingkungan hidup menyatakan bahwa kemiskinan menyebabkan tekanan terhadap lingkungan makin tinggi. Oleh karena itu, kemiskinan harus dientaskan supaya lingkungan hidup dapat diselamatkan. Bagaimana dengan kondisi Indonesia saat ini? Menurut data BPS (2011) jumlah penduduk miskin di Indonesia mencapai 30,02 juta orang atau 12,49% dari penduduk Indonesia. Dibandingkan tahun 2010, penduduk miskin di Indonesia mengalami penurunan sebesar 0,84%. Dari 30,02 juta orang penduduk miskin, yang terbesar berada di pedesaan yaitu sebanyak 18.97 juta orang, sedangkan di perkotaan sebanyak 11,05 juta orang.
Kesadaran akan lingkungan hidup yang berkualitas belum menjadi “topik utama” dalam pembicaraan masyarakat. Sebagian dari penduduk Indonesia yang notabene adalah rakyat miskin, boro-boro memikirkan kualitas lingkungan hidup, untuk makan sesuap nasi saja bisa jadi mereka kesusahan. Belum lagi diantara bencana alam seperti gempa bumi,tanah longsor dan bencana banjir yang melanda beberapa daerah sekarang ini, yang semuanya pasti menimbulkan penderitaan.
Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar) (QS. Ar-Ruum (30): 41).”
Lantas dengan situasi demikian, apa sebenarnya yang dibutuhkan, tentu saja dengan Revolusi yang mendasar. dalam hal ini revolusi tersebut bersumber dari Islam. Seperti sistem Ekonomi di dalam Islam, dimana Negara wajib memenuhi kebutuhan pokok setiap rakyat. Jika dikaitkan dengan permasalahan lingkungan hidup, sebenarnya memang benar seperti yang dikatakan para pakar, bahwa ada korelasinya dengan kemiskinan, masalah kemiskinan sebenarnya berpangkal pada buruknya distribusi kekayaan di tengah masyarakat. Karena itu, masalah ini hanya dapat diselesaikan dengan tuntas dengan cara menciptakan pola distribusi yang adil. Kesalahan sistem ekonomi kapitalis yang diterapkan saat ini adalah, bahwa upaya penghapusan kemiskinan difokuskan hanya pada peningkatan produksi, baik produksi total Negara maupun pendapatan per kapita, bukan pada masalah distribusi. Dari waktu ke waktu, seiring meningkatnya produksi, telah terjadi penumpukan kekayaan di tangan segelintir orang. Pihak yang kuat meraih kekayaan yang lebih banyak melalui kekuatan yang mereka miliki. Sedangkan yang lemah semakin kekurangan, hal ini tak ayal semakin menambah angka kemiskinan.
Secara ekonomi, Negara harus memastikan bahwa kegiatan ekonomi baik yang menyangkut produksi, distribusi maupun konsumsi dari barang dan jasa, berlangsung sesuai dengan ketentuan syariah, dan didalamnya tidak ada pihak yang mendzalimi maupun didzalimi. Karena itu, Islam menetapkan hukum-hukum yang berkaitan dengan kegiatan ekonomi (produksi, industri, pertanian, distribusi, dan perdagangan), investasi, mata uang dan perpajakan, termasuk juga lingkungan hidup, dll, yang memungkinkan setiap orang mempunyai akses untuk mendapatkan kekayaan tanpa merugikan atau dirugikan orang lain.
Sistem ekonomi Kapitalis memberikan peluang kepada perusahaan swasta, baik dari dalam maupun luar negeri, untuk mengambil keuntungan dari sumberdaya alam yang dimiliki sebuah negara melalui pemberian ijin konsesi pertambangan, hak pengusahaan hutan, atau hak istimewa lain. Sementara, sumberdaya alam yang sudah dikelola oleh perusahaan negara juga tak luput dari sasaran. Cepat atau lambat semua akan dialihkan juga kepada perusahaan swasta melalui kebijakan privatisasi. Akibatnya, tentu saja hasil dari sumberdaya alam itu lebih banyak dinikmati oleh perusahaan-perusahaan swasta, sementara rakyat justru harus menghadapi kesulitan. Setelah diprivatisasi pasti akan terjadi kenaikan harga yang merupakan satu jalan guna memungkinkan perusahaan swasta itu meraup untung lebih besar. Sebagai contoh, penelitian dari Universitas Indonesia menunjukkan adanya kenaikan harga komoditas energi sejak tahun 1992-2005 baik untuk minyak, gas maupun listrik.
Demikianlah, saat segelintir orang meraup keuntungan yang luar biasa besar dengan menguasai sumber-sumberdaya alam, khususnya energi, masyarakat umum justru terpukul oleh harga energi yang semakin tak terjangkau. Setiap saat, warga negara harus bersiap menghadapi kenaikan tagihan gas dan listrik sehingga belanja untuk sektor yang semestinya tidak perlu justru semakin hari semakin besar. Akibatnya, rakyat secara sistemik semakin termiskinkan.
Islam menetapkan sumberdaya alam, khususnya energi sebagai salah satu kekayaan milik umum. Rasulullah saw. bersabda:
Umat Islam berserikat dalam tiga perkara: air, padang rumput, dan api. (Hr. Ahmad)
Sebagai pemilik, maka seluruh rakyat harus bisa menikmati hasil dari sumberdaya alam tersebut. Karena itu, negara wajib mengelola sumberdaya alam itu dengan sebaik-baiknya, bisa melalui semacam perusahaan milik negara (BUMN), untuk kesejahteraan rakyat. Negara tidak boleh sama sekali menyerahkan aset sumberdaya alam kepada pihak swasta. Sebab, tindakan ini sama saja dengan menyerahkan sesuatu yang bukan miliknya kepada pihak lain, yang tentu akan merugikan sang pemilik, yaitu rakyat. Inilah gambaran dari sebagian kecil sistem ekonomi Islam yang ada di dalam daulah khilafah Islamiyah.
By,Gusmawati Mahasiswi dan Aktivis Dakwah Kampus
FKIP UNLAM Banjarmasin


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: