Witing Tresno Jalaran Soko Kulino (Sebuah Muhasabah)

24 11 2012

muhasabah

Witing Tresno Jalaran Soko Kulino

Kalimat sakti yang biasanya diucapkan para mbok-mbok dan pa’e-pa’e jaman baheula untuk menikahkan anaknya dengan orang yang tidak dicintainya atau dengan orang yang belum dikenalnya.

Kalimat itu ga sepenuhnya keliru, buktinya buanyaak para ortu hasil tradisi ini perkawinannya langgeng hingga sekarang, yo po ra’?😀

Well, itu cuma mukaddimah, sekedar pengantar bahwa content tulisan ini memang relevan dengan judul.

>Berawal dari urgensi interaksi.

Manusia ga bisa hidup sendiri. Dengan anugerah akalnya ia mampu mengerahkan dan mengarahkan segenap potensinya untuk saling melengkapi dengan orang-orang disekitarnya, melalui komunikasi dan interaksi. Aktivitas dakwah pun begitu. Lucu ajja kalo ada yang ngaku pengemban dakwah tapi ga pernah berkomunikasi. Terlebih ketika medan dakwah mengharuskan adanya koordinasi dan komunikasi lintas gender (baca: ikhwan-akhwat).

Yeah,, tulisan ini memang mencoba mengangkat fenomena, yang disatu sisi miris menyaksikan fakta, tapi bukan berari ingin membuka aib saudara. Hanya saja, berharap bisa menjadi pengingat saat kita mulai meremehkan kemaksiatan ‘kecil’. Kita coba angkat beberapa fenomena, tidak perlu mencari-cari siapa, dimana dan kapan kejadiannya, tak perlu bisik sana bisik sini hanya sekedar menyatakan ‘aku tau ini siapa’, sekali lagi, tidak perlu!! Diulangi, tidak perlu!! Ini hanya untuk muhasabah bagi kita semua :

KASUS I :

Alkisah, seorang akhwat menganggap seorang ikhwan sebagai ‘adik’nya (memang faktanya adik kelas, sih), tapi interaksi antar keduanya yaa cukup perhatian, apalagi kalo si adik ga masuk kuliah, nilainya rendah, dan sebagainya. Hmm….

KASUS II :

Disebuah lembaga antah berantah, terjadi kekeringan kepemimpinan. Terpaksa ikhwan ’golongan tua’ turun kaki untuk demi mempertahankan tetap tegaknya salah satu wasilah dakwah ini. Penguasaannya terhadap medan, ditambah kepiawaiannya dalam manajemen lembaga diluar dugaan ternyata mampu ‘menyihir’ beberapa oknum di Keputrian. Akhirnya keputusan berat harus diambil dengan ‘mengasingkan’ sang Ketum idola. Ckckckck…

KASUS III :

Di sebuah lembaga dakwah XXXXXX, terpilihlah ketum yang berpengaruh lagi mempesona. Dengan pesonanya, si ketum ‘menjaring’ para mahasiswi baru sebagai ushlub perekrutan. Wow..

KASUS IV :

Di sebuah lembaga dakwah ZZZZZZZ , beda lagi ceritanya. Terjadi ‘tag’ illegal yang dilakukan seorang ikhwan senior kepada seorang akhwat. Parahnya nih ya, dia bilang2 ma temen-temennya kalo dia men-‘tag’ si akhwat itu dan berencana akan mengkhitbahnya. Sayangnya nih ikhwan NAPO (Not Action Planning Only). Coba bayangin kalo disaat yang sama ada temennya yang juga punya kecenderungan yang sama, udah siap lahir batin, siap action, tapi junior. Mana beraanii ngelangkahin seniornya?? Apalagi udah main ‘tag’ begitu… jadi ingat kata Azzam di pilem KCB “Mendahulukan saudara dalam perkara ibadah itu makruh hukumnya!”

KASUS V

Ada beberapa lembaga yang memperbolehkan membuka jalur koordinasi antar ketua panitia pelaksana acara ikhwan-akhwat, dibalik kesuksesan menggarap acara ternyata juga meninggalkan bekas ‘sukses’nya curi-curi perhatian, nah lho!??

KASUS VI

Seorang ikhwan militan, cukup terkenal dikalangan aktivis dikampusnya. Namun siapa sangka ia kepincut dengan ‘gadis biasa’. ‘Dididiknya’-lah si gadis dengan memintanya berjilbab dan ngaji. Diberi buku-buku hingga kitab Islami. Tapi sebelum halal udah pake antar-jemput segala???? Ini yang namanya pacaran ideologis??? Ngaco…

CUKUP!!!

Baru 6 kasus aja udah bikin merinding disco… Penulis terus berharap ini bukan seperti fenomena gunung es yang keliatannya dikit tapi kenyataannya*)… Masya Allah… Istigfar… Istigfar…

*) Belum termasuk kasus di dunia maya lho!

Di dunia ini hanya ada laki-laki dan perempuan. Itu qadha, sunnatullah. Kita ga mungkin menyalahkan mahluk bernama ikhwan atau akhwat yang memang ditakdirkan untuk menjadi pasangan kita. But, sadar diri adalah dua kata yang paling tepat untuk membuka mata yang mulai ditutupi kabut cinta imitasi, terutama buat yang meyandang gelar: hamlud dakwah.

Cuma kagum kok, katanya mulai ngeles. Kagum kok sampe ngumpulin foto si dia, sampe mengorek-ngorek sisi kehidupan pribadi si dia, nangis-nangis pas tau dia akhirnya nikah ma yang lain?? Sadar diri laaah, yang namanya setan mana mau pake jurus murahan dengan musuh sekaliber pengemban dakwah yang udah pada tau dalil-dalil pengaturan gharizah na’unya???

Witing Tresno Jalaran soko Kulino.

Terjemah bebasnya sih, cinta bersemi karena seringnya berinteraksi. Anggapan ini kondisional. Ia tepat jika memang dalam kondisi yang juga sesuai konteksnya. Dalam hal khitbah, ta’aruf hingga pernikahan. Tapi bisa jadi bencana kalau terjadi dalam organisasi dakwah dan tidak terkendali.

So, bukan menggurui, hanya sekedar berbagi kiat berinteraksi secara sehat, setidaknya ada 4 hal yang mesti diperhatikan oleh kita sebagai pengemban mabda yang tidak main-main dalam perjuangannya:

1. Tetap berpegang teguh pada syariat

Pahami urgensi, tujuan, motivasi dan tata cara berinteraksi. Pastikan semua tidak ada yang bertentangan dengan hukum syara. Urgensi adanya koordinasi dan komunikasi lintas gender dalam sebuah organisasi dakwah tidak lain adalah adanya akad untuk mengelola sebuah lembaga hingga semua target-target lembaga berhasil diraih bersama. Tujuan dan motivasinya ya tidak lain hanya untuk kepentingan aktivitas dakwah, bukan yang lain. Hormati setiap tata cara yang disepakati diawal; tidak berkhalwat, tidak ikhtilath, batas-batas waktu koordinasi, dan kesepakatan lainnya selama tidak bertentangan dengan hukum syara’.

2. Gunakan Orientasi (Cara Pandang) yang Benar Mengenai Interaksi

Interaksi dakwah akan menjadi berbahaya ketika orientasinya menggunakan sudut pandang maskulinitas-feminitas. Orientasi ini menjadi orientasi pandangan mengenai interaksi antar lawan jenis yang diterapkan oleh kaum Kapitalis dan Sosialis. Om Sigmund Freud menyatakan kalau dorongan naluri (nau’) tidak disalurkan/dipenuhi akan menyebabkan kematian. Well, wajar bagi mereka yang menganut paham ini begitu mendewakan kepuasan jasmani semata. Mau?? Ich… Kada usah gin…

Sementara Islam memperbolehkan orientasi berinteraksi dengan sudut pandang perempuan dan laki-laki sebagai sesama hamba Allah, sebagai sesama aktivis dakwah, sesama mahasiswa, sesama anggota masyarakat yang menjadikan hukum syara sebagai landasan setiap perbuatannya. Dengan sudut pandang yang benar seperti ini, insya Allah tidak akan muncul gejolak-gejolak yang tidak diinginkan, minimal mampu diredam lah…

3. Minimalkan Faktor Pendorong Munculnya Gharizah Na’u

Pernah denger ikhwan genit atau akhwat genit?? Pelakunya salah?? Belum tentu. Bisa jadi si korban ke-genit-an itu yang justru mengundang pelaku untuk menjadi genit. Bisa jadi cara bicara yang dibuat-buat agar mendayu-dayu, performance yang dibuat-buat hingga tampak lebih hebat, pakai minyak wangi, dan hal-hal yang terkait interaksi langsung lainnya yang mengundang munculnya gharizah nau’. Atau dengan interaksi tidak langsung, lewat sms misalnya dengan kalimat gombal, romantis, atau smile grafik ^_^, L, T_T, dan seterusnya biar efeknya lebih berrrasssa. Heiii, ingat yang kita sms itu lawan jenis… Astagfirullah…

4. Jika terasa orientasi mulai bergeser, maka hentikan interaksi saat itu juga!

Diamanahkan sebagai seseorang yang mempunyai jalur koordinasi memang susah-susah gampang. Kalau dipikir-pikir, buat apa berkoordinasi dengan lawan jenis yang tidak ada kepentingan pribadi dengan kita? Hanya saja, karena ada akad pengelolaan lembaga yang menuntut kerapian dan keprofesionalan kerja lembaga maka dipercayakanlah perwakilan masing-masing dari departemen rijal dan nisa. Memilih dan memilah topik pembicaraan juga terkadang sulit karena setan senantiasa menggoda lewat jalur mana saja. Tergantung bagaimana kesadaran kita bahwa ada Dia Yang Maha Menyaksikan dan malaikat di kiri dan kanan senantiasa melaksanakan tugasnya tanpa lalai sedikitpun. Bahasa kerennya sih, menyertakan ‘ruh’ disetiap aktivitas. Ketika perkara yang dibicarakan mulai bergeser dari perkara dakwah, misalnya mengarah pada aspek personal; cara ngomong, cara duduk, cara makan, maka perlu diwaspadai, jangan-jangan saat itu dominasi orientasi kita adalah maskulinitas-feminitas… So, analisa mutlak dilakukan. Jika ternyata orientasi kita maskulinitas-feminitas, hentikan interaksi saat itu juga. Beda perkaranya kalau yang dibicarakan memang hal lain tapi masih dibenarkan oleh syara; muamalah, pendidikan, persaksian atau kesehatan. Itu pun tetap berpegang pada hal-hal yang dibenarkan oleh syara. Lha kalo misalnya si ikhwan di Fakultas Kedokteran nanya PR ke akhwat di Fakultas Keguruan?? Plis deh,,,

Baiklah… setitik inspirasi untuk ikhwahfillah_

Sungguh, tidak ada niat apa-apa. Jika pun benar adanya, biarlah menjadi evaluasi bersama. Jikapun terjadi dengan orang-orang disekitar kita, kewajiban kita sebagai saudara-lah untuk meluruskannya dengan ma’ruf. Sungguh, dakwah ini akan menjadi beban yang luar biasa berat ketika menjadikannya sebagai kambing hitam tidak bebasnya kita bermain-main dengan perasaan-perasaan kita karena sebenarnya ia menjaga kita. Sungguh, tidak sedikit daun-daun yang berguguran hanya karena perkara ‘rasa’, maukah kita menyusulnya??

I don’t think so_

Ya Allah, kami telah memulainya, maka teguhkanlah kami dalam menjejaki setiap anak-anak tangga ini hingga kami sampai dipuncak tertinggi, saat Islam menjadi pemenang ideologi_

Tetaplah saling mengingatkan, tetaplah saling menginspirasi_

Allahu Akbar!!

By : Jadwa BKLDK Kalsel


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: