Mengembangkan bakat atau eksploitasi aksi anak?

24 11 2012

eksploitasi anak
Maraknya dunia hiburan ditelevisi kian merambah ke berbagai elemen, artis-artis pendatang baru bermunculan, tidak pandang anak muda saja, orang tua bahkan balita saja bisa menjadi artis dengan modal bakat seadanya kemudian buat video streeming dan upload ke youtube di like banyak orang akhirya tidak sengaja ada produser rekaman tertarik mengajak rekaman dan jadilah artis. Sangat mudah dan seperti sulap untuk menjadikan seseorang bisa terkenal di layar TV.
Ada pula cara lain agar sesorang bisa menjadi artis instan yaitu lewat acara hiburan pencarian bakat. Acara ini Orang dewasa, anak-anak boleh mengikutinya. Ada acara khusunya dewasa, khusus anak-anak dna ada pula yang campuran, namun kebanyakan anak-anaklah pesertanya. Sebut saja seperti indonesia idol, mencari bakat indonesia, idola cilik dll. Bahkan tak tanggung-tanggung ajang ini menjaring usia mulai 3 hingga 6 tahun. Bahkan bagi yang usia 1-2 tahun tapi ngotot ingin ikut. Diadakan ajang tersendiri. Tujuannya: menggali kemampuan sang buah hati dalam hal bernyanyi, menari, bermain musik atau gabungan ketiganya. Orang tua hanya berdalih agar anaknya bisa mengembangkan bakatnya menjadi orang yang TOP dikenal banyak orang dan bisa mendapatkan uang yang besar untuk investasi dia kelak atau untuk membantu orang tua.
Eksplorasi bakat anak boleh saja, masing-masing anak memiliki talenta dan kecenderungan untuk mengasahnya menjadi sebuah hobi yang menyenangkan. Selain itu, juga mengembangkan nalar dan kreativitasnya. Selama tujuannya untuk mendukung pendidikan, mencuat potensi terpendam anak dan mengajarkan rasa percaya diri sah-sah saja. Bahkan, terkadang memang diperlukan ajang untuk menyalurkan energi anak di bidang kreativitas yang cenderung kurang wadah. Sayangnya, ajang seperti ini kebanyakan sekedar sara mencetak artis cilik. Orang tua sangat terobsesi agar anaknya menjadi mesin pencetak uang, dengan berdalih agar anak bisa belajar mandiri jadi pemain film, sinetron, model, penyanyi dan lain-lain.
Anak akhirnya memiliki mental sok ngartis, show yang padat, jeprat jepret sana-sini, jadwal panggung padat akhirnya anak sibuk cari kerja padahal jadwal main mereka itu adalah waktu yang berharga bagi mereka. Selain itu anak berada dilingkungan yang glamour, mereka kehilangan keluguan, kepolosan, waktu bermain, hak privasi dan teman-temannya. Akhirnya mereka menjadi pencari nafkah yeng menjadi tugas orang tuanya yang justri dijadikan manajer yang mengatur jadwalnya.
Disinilah yang dipertanyakan batasan antara “eksplorasi” potensi anak dan “eksploitasi” yang memang sangat tipis. Kata eksploitasi kerap disematkan pada anak pengamen, pengemis, atau dipekerjakan, orang tua dituduh sudah mengeksploitasi anak-anaknya padahal ini karena orang tua mereka yang benar-benar tidak mampu yang ada adalah negara yang tega membiarkan para orang tua kesulitan memenuhi hak anak-anaknya. Walhasl boro-boro mereka mengeksplorasi talentanya, yang ada mereka selalu saja mencari sepeser uang untuk hidup.
Lalu bagaimana dengan anak-anak yang tampil dipanggung hiburan, ini sangat kontras sekali dengan fakta diatas. Anak-anak yang seharusnya bisa sekolah dengan normal, bermain dengan teman-teman sebaya malah sibuk sana-sini memenuhi jadwal tampil dimedia manapun. Anak itu, orang tuanya, produsernya dan semua yang terlibat dalam eksploitasi justru disanjung setinggi langit. Tak pernah disorot dan dituding mengeksploitasi anak-anak alias bocah dibawah umur. Mereka justru dianggap berjasa bak pahlawan, karena telah berhasil menemukan bakat terpendam anak hingga “su
kses”. Ukuran suksesnya? Terkenal dan mendatangkan pundi-pundi uang.
Cara pandang sungguh tidak adil, dipengaruhi pola pikir dan gaya hidup materialistis. Bagi kalanagna tertentu anak dijadikan aset bagi orang tuanya. Selama aset itu bisa mendatangkan manfaat kenapa tidak?
Mereka berlindung dibawah ungkapan “demi anak”. Hasilnya kan ditabung untuk masa depan dia. Ya, dengan honor itu, anak-anak mampu mewujudkan semua keinginannya. Lagi pula anak-anak enjoy, tidak merasa terpaksa dan dipaksa”. Begitu kata orang tua.
Padahal sudah bukan rahasia, anak-anak yang diorrbitkan menjadi artsi sejak kecil tak sedikit yang labil jiwanya. Kalaupun ada yang enjoy dan bagus prestasi sekolah bisa dihitung dengan jari. Lebih memprihatinkan lagi, anak-anak dengan bakat luar biasa ini,akhirnya akan menjejali dunia hiburanketika dewasa. Hampir dipastikan, artis cilik akan selamanya menjadi artis hingga dewasa, atau bahkan usia senja. Maklum, sudah mencicipi nikmatnya dapat duit dipanggung hiburan yang serba gemerlap, akhirnya mengabaikan cita-cita luhurnya dimasa lalu. Walhasil, tujuan mulia untuk menggali potensi anak demi mendukung pengembangan kecerdasan dan kreativitasnya dimasa depan tergadaikan.
Anak adalah amanah. Tugas orang tua untuk memenuhi hak-haknya. Mengalihkan beban nafkah pada anak adalah bentuk pengabaian atas tugas orang tua dari Allah SWT. Celakalah orang tua yang justru menjerumuskan anak dalam industri hiburan yang rawan kemaksiatan. Semua tahu, kehidupan artis sangat jauh dari sosok sholih dan sholihah.
Padahal tugas orang tua mengajarkan anak agar bertaqwa, patuh pada agama dan taat beribadah. Akan dibawa kemana generasi muda ini jika sejak balita sudah diarahkan untuk menjadi artis idola? Untuk itu perlu kit aingan doa Nabi Ibrahim: “ Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seornag anak) yan termasuk orang-orang yang sholih” (QS Ash-Shaffat [37]: 100). Dan resapi ayat ini wahai orang-ornag beriman! Janganlah kamu menhkhianati Allah dan RasulullahNya dan janganlah kamu mengkhianati amanat yang dipercayakan kepadamu sedang kamu mengetahui (Al-Anfal: 27)
Allahualam bishawab

oleh :
Mahasiswa FKIP UNLAM
Rizka Afizzatul Umi


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: