Indonesia Ingin Cerdas, Kok Biaya Kampus Tambah Mahal?

25 05 2012

Anak SMA sekarang yang baru lulus ujian, jika ditanya mau melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi atau tidak, pasti kebanyakan dari mereka berkata “iya”. Bagaimana jika kita ubah pertanyaannya, mampu tidak melanjutkan pendidikan lanjutan ke perguruan tinggi? Anda bisa membayangkan jawabannya?

Pada dasarnya, anak indonesia punya semangat yang luar biasa untuk belajar segala hal. Mereka juga punya semangat yang luar biasa untuk menggali ilmu dan bereksperimen sesuai dengan keilmuannya. Tetapi semua semangat ini jatuh begitu saja karena tersandung biaya pendidikan yang sangat mahal.

Banyak anak-anak hanya bisa “menggantung” mimpi mereka dilangit. Masalahnya klasik yakni uang.

Apa yang dilakukan pemerintah? Pemerintah mengupayakan segala usaha untuk mencerdaskan umat. Diantaranya dengan menggratiskan pendidikan hingga jenjang SMA -meskipun fakta dilapangan tidak demikian.

Terbesit pertanyaan, kenapa pendidikan yang gratis hanya sebatas SMA saja? Apa bisa indonesia maju jika SDM yang dimiliki negara rata-rata cuma lulusan SMA? Apa bisa taraf berpikir masyarakat bisa meningkat jika level pendidikannya hanya sebatas SMA?

Terkait beasiswa sendiri, Apakah beasiswa bisa menyelesaikan masalah pendidikan di negara ini? Bahkan saya memandang beasiswa itu merupakan bentuk “deskriminasi” pemerintah dalam dunia pendidikan. Padahal pendidikan itu hak seluruh masyarakat tanpa terkecuali.

Sekarang kita melihat bahwa kampus merupakan lahan basah untuk pemilik modal. Sekarang kampus bukan merupakan tempat belajar dan menggali ilmu. Tetapi kampus sekarang tempat usaha dan menggali emas.

Komersilisasi kampus memiliki pengaruh yang besar terhadap kualitas pendidikan indonesia. Kebanyakan mahasiswa berusaha lulus secepat yang dia bisa agar bisa menghemat biaya kuliah bagaimana pun caranya. Anda bisa bayangkan? Orientasi mahasiswa bukan lagi menikmati ilmu pengetahuan dan belajar untuk membangun umat. Tetapi belajar secepat mungkin agar bisa menghemat biaya pendidikan. Ini adalah sebuah ironi bagi negeri. Dimana pilar intelektual yang menopang negara ini hanya bisa belajar sampai di’kulit’ saja.

Selama sistem pendidikan indonesia berorientasi pada uang semata maka tidak akan ada intelektual yang akan membangkitkan harkat negeri ini.

*Amy Jakal M


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: