RUU Keadilan dan Kesetaraan Gender (KKG), Madu atau Racun?

16 05 2012

Saat ini DPR sedang menggodok RUU Kesetaraan dan Keadilan
Gender (KKG) yang diusulkan pemerintah. Sejak awal RUU KKG itu menuai
pro dan kontra di kalangan masyarakat.

Kesetaraan Gender adalah kesamaan kondisi dan posisi bagi perempuan
dan laki-laki untuk mendapatkan kesempatan mengakses, berpartisipasi,
mengontrol dan memperoleh manfaat pembangunan di semua bidang
kehidupan”. Sedangkan “Keadilan Gender adalah suatu keadaan dan
perlakuan yang menggambarkan adanya persamaan hak dan kewajiban
perempuan dan laki-laki sebagai individu, anggota keluarga, masyarakat
dan warga negara”.

Alasan klasik  munculnya RUU KKG ini seperti yang sering didengungkan oleh kaum feminis adalah bahwa wanita sering mengalami diskriminasi dalam berbagai aspek kehidupan. Misalnya saja hak politik, hak ekonomi, hak sosial ataupun  yang lain wanita selalu dipinggirkan. Mereka mengira ketika jumlah kursi yang diduduki diparlemen minim akan wanita, maka diskriminasi gender akan sangat mudah dilakukan. Sampai akhirnya logika mereka bermain,  salah satunya keterlibatan wanita di pemerintahan minimal 30% agar aturan-aturan yang dibuat oleh pemerintah tidak bias gender. Walhasil ketika mereka berhasil menduduki kursi pemerintahan dengan standar yang mereka buat, tingkat depresi  meningkat dua kali lipat selama 40 tahun terakhir karena beban luar biasa akibat kesulitan menyeimbangkan peran mengurus rumah, merawat anak dan karir (College Eropa Neuropsychopharmacology tahun 2011). Sungguh sangat ironis.

Bila dilihat dari Aspek
Filosofis dan Ideologis, Ide KKG sebenarnya merupakan ide yang
stereotype barat sebagai perlawanan atas penindasan perempuan di barat
(Eropa). Penindasan itu dianggap akibat adanya pembedaan dan
ketaksetaraan perempuan dan laki-laki. Untuk menghilangkan penindasan
itu, laki-laki dan perempuan harus setara dan disamakan, dan tidak
boleh ada diskriminasi. Dan begitulah baru dianggap adil. Dalam
perspektif gender, penindasan atas perempuan juga dipengaruhi oleh
pandangan budaya dan agama yang dianggap patriarkhis. Maka pengaturan
relasi laki-laki dan perempuan dalam semua aspek harus dijauhkan dari
ketentuan agama itu dan harus diserahkan kepada manusia dengan
partisipasi perempuan yang setara dengan laki-laki.

Dari sini dapat dilihat bahwa spirit RUU ini pada hakikatnya
menjadi gugatan terhadap Islam. RUU ini memandang Islam diskriminatif
terhadap perempuan. Kaum feminis memposisikan Islam sebagai hambatan bagi tercapainya Keadilan dan Kesetaraan Gender (KKG). Mereka menyimpulkan bahwa Islam menghambat kemajuan wanita. Karena itulah mereka berupaya mengubah hukum Islam. Mereka juga menanamkan keraguan kepada umat Islam terhadap kebenaran ajarannya, khususnya dengan mempertanyakan keadilan Islam dalam memperlakukan perempuan. Mereka mengatakan, hukum-hukum agama (Islam) telah memasung kebebasan perempuan, membuat perempuan tidak maju karena hanya beraktivitas pada sektor domestik (rumah tangga). Disebabkan posisi tersubordinasi inilah perempuan rentan mengalami kekerasan.

Aturan syariah seperti terkait pakaian, larangan
perempuan menjadi pemimpin negara/penguasa, tanggung jawab keibuan,
relasi suami istri, perkawinan, perwalian, nusyuz, ketentuan waris dan
lainnya dianggap diskriminasi dan tak adil atas perempuan. Islam
dilekatkan bias patriarkhis, bahkan banyak ayat dan hadits dituduh
bermuatan misogynist (membenci wanita). Selain itu, di dalam Pasal 20
mencantumkan sanksi administratif atau pemberian disinsentif bagi
pihak yang mencederai komitmen PUG. Bahkan pasal 21 ayat (2)
menentukan bila terjadi tindak pidana yang dilatarbelakangi
diskriminasi gender, pidananya dapat ditambah sepertiga dari ancaman
maksimum pidana yang diancamkan dalam KUHP dan UU lainnya. Lebih parah
lagi, pasal 70 RUU ini memberikan ancaman pidana penjara bagi setiap
orang yang sengaja melanggar pasal 67. Dengan pasal ini, penjara
nantinya akan dipenuhi oleh kaum Muslimin yang melaksanakan ketentuan
syariah yang dianggap tidak sejalan dengan ide gender dan KKG yang
diusung RUU ini

Sedangkan terkait alasan yuridis   yang melatarbelakangi  adanya RUU KKG ini adalah  karena Indonesia telah meratifikasi CEDAW (Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Wanita). Mau tidak mau Indonesia harus menurunkannya dalam bentuk Undang-Undang. Sebagai buktinya pada sesi ke -39 Sidang Komite CEDAW PBB pada tanggal 23 Juli- 10 Agustus 2007, meminta pemerintah menuangkan konvensi itu dalam hukum nasional. Sehingga disusunlah RUU KKG itu dengan rujukan dokumen CEDAW,BPFA dan MDGs. Isi bahkan kalimatnya pun tidak jauh dari dokumen-dokumen itu.

Arah RUU KKG dan perjuangan feminism secara umum adalah untuk menjadikan keluarnya perempuan dari ranah domestik ke ranah publik karena ranah domestik dianggap sangat rentan penyiksaan/diskriminasi terhadap perempuan. Mereka menganggap dengan keluarnya mereka dari peran utama mereka yang  sesungguhnya (peran istri sekaligus ibu) dan berlomba-lomba mengejar karir setinggi-tingginya merupakan pandangan yang akan mengangkat derajat wanita. Sebagai konsekuensinya mereka akan meninggalkan tugas utama mereka sebagai sebagai seorang istri maupun ibu yaitu pencetak generasi unggul. Jelas saja akan terjadi ketidaktaatan terhadap aturan Sang Kholik karena terabaikannya ranah domestik yang menjadi tanggungjawabnya yaitu keluarga.    Dan jelas sekali ini berhubungan erat dengan ide sekulerisme, yaitu ide yang akan memisahkan adanya peran Tuhan dalam kehidupan.  Dari sini dapat diketahui,  feminism merupakan senjata yang sangat efektif bagi Barat untuk menjajah negeri-negeri muslim dengan meliberalkan kaum perempuannya.

RUU ini adalah RUU yang merusak karena nantinya akan bisa merusak
kaharmonisan keluarga bahkan bisa menghancurkan bangunan masyarakat.
Perempuan didorong lebih banyak berkiprah di ruang publik dan berkarir
yang akan menambah beban bagi perempuan sendiri.  Ide KKG mendorong
perempuan bebas mengekspresikan diri termasuk dalam pemenuhan seksual.
Keharmonisan keluarga terancam. Bangunan masyarakat juga bisa runtuh.
Tercatat, saat ini di Inggris hanya 40% anak yang lahir dari
pernikahan. Ide RUU ini juga berpotensi melahirkan ancaman masyarakat
tua akibat pertumbuhan penduduk minus seperti yang terjadi di Eropa.

Islam datang untuk memberi solusi terhadap seluruh problem manusia secara umum dengan hukum yang sama berlaku untuk laki-laki dan perempuan. Kadang solusi
hukum itu datang untuk problem yang lahir dari sebagian jenis manusia,
baik perempuan atau laki-laki. Dalam konteks ini, Islam membawa hukum
yang berbeda-beda sesuai dengan tabiat fitrah perempuan dan laki-laki,
dan sesuai dengan posisi masing-masing di dalam jamaah serta peran,
fungsi dan status di masyarakat. Perbedaan tersebut diciptakan bukan
untuk mendiskriminasikan perempuan tetapi demi harmonisasi peran
masing-masing. Karena pada dasarnya semua aturan Islam bersumber dari
Allah SWT, jika diterapkan secara sempurna mampu menjadi solusi berbagai masalah kehidupan sekaligus menjamin keadilan bagi
seluruh manusia.

Dalam Islam mengakses pendidikan (menuntut ilmu) setinggi-tingginya bukanlah sekedar hak akan tetapi merupakan suatu kewajiban yang berlaku bagi laki-laki dan perempuan dan jika tidak dilaksanakan akan mendapatkan dosa, dan negara memberikan fasilitas luar biasa untuk dipenuhinya hak dan kewajiban ini. Kemudian dalam bidang politik, Islam juga telah mengatur bagaimana antara wanita dan lelaki mempunyai hak yang sama. Begitu pula dalam ekonomi, kesejahteraan merupakan hak laki-laki juga perempuan. Dari sana kita tahu bahwa Islam benar-benar agama yang adil baik bagi perempuan ataupun bagi laki-laki. Semua telah ditentukan kadarnya secara adil oleh Allah SWT.

Penulis : Faridah Afifah, SPd : Pemerhati Masalah Sosial dan Guru SMP di Batola 


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: