Tema HARDIKNAS 2012 Hanya Tulisan di Atas Kertas

5 05 2012

Hari ini tidak masuk bu”, kata salah seorang murid salah satu SMA di Banjarmasin saat saya ingin masuk ke ruangan kelas mereka untuk penelitian skripsi bertepatan di hari yang diperingati seluruh Indonesia sebagai hari Pendidikan Nasional. Apa mau dikata, mau tidak mau terpaksa penelitian pun dipending. Memang, setiap tahunnya ini sudah menjadi kebiasaan, mengisi HARDIKNAS dengan berbagai kegiatan dan acara salah satunya acara peliburan sekolah. Menjadi sebuah pertanyaan kembali, tepatkah perayaan HARDIKNAS dengan meliburkan belajar di sekolah? Ataukah ini bentuk hari perayaan ‘kebebasan’ untuk satu hari dari tekanan pelajaran-pelajaran? Tapi satu hal yang pasti kebanyakan siswa lebih senang merayakan HARDIKNAS karena mereka tidak belajar dan bisa bersenang-senang tanpa beban mata pelajaran untuk satu hari tersebut.

Hari Pendidikan Nasional yang diperingati tahun 2012 ini memiliki tema yang sangat menarik dan bagus sekali yakni “Bangkitnya Generasi Emas Indonesia”. Namun, apakah itu benar-benar mampu terealisasi ataukah hanya sebagai tulisan di atas kertas? Jika diteliti lebih mendalam berdasarkan analisis fakta yang ada maka kemungkinan kedualah yang sebenarnya terjadi. Kenapa demikian? Jelas saja, pendidikan di Indonesia saat ini sangat terkenal, terkenal dengan kebobrokannya, terkenal dengan kemundurannya, terkenal dengan  sekolah rusaknya, terkenal dengan kecurangan-kecurangan saat ujiannya dan yang paling miris adalah terkenal sebagai negeri kaya namun memiliki sekolah-sekolah yang hampir tak layak pakai karena rusak dan sebagainya. itu hanya dilihat dari segi fisik sekolah, belum lagi jika melihat ke dalamnya, siswa-siswa tawuran, mahasiswa demo dengan anarkis dan kekerasan, serta para koruptor di pemerintahan yang dihasilkan dari sebuah pendidikan.

Miris, itulah mungkin kata yang tepat untuk pendidikan Indonesia saat ini. Belum lagi masalah mahalnya biaya pendidikan yang membuat semakin miris kondisi negeri. Hanya dengan mahalnya biaya pendidikan akan mampu menurunkan jumlah angka generasi yang melanjutkan sekolahnya. Maka akan semakin banyaklah generasi-generasi bangsa yang tidak bersekolah, jika sudah seperti ini bagaimana mungkin generasi emas Indonesia akan bangkit? Padahal generasi-generasi emas tidak menutup kemungkinan justru terlahir dari keluarga-keluarga yang mereka miskin secara ekonomi.

Membangkitkan generasi emas Indonesia tentu memang bukan hal mudah, sekali lagi bukan hal mudah di system sekarang! Dalam system pendidikan yang saat ini dipayungi oleh sebuah ideologi Kapitalis tidak akan dan bahkan tidak akan pernah mampu melahirkan generasi-generasi emas Indonesia. Kenapa demikian? Karena system Kapitalis hanya mendidik generasi-generasi yang dididiknya bermental bisnis dan mendapatkan keuntungan dari segala yang ada. Makanya, UN saja dijadikan ajang bisnis, sekolah mahal juga jadi ajang bisnis, wajar saja lulusannya juga bermental ‘pokoknya dapat duit’, jadilah ketika dia mewakili rakyat di kursi pemerintahan mental ‘pokoknya dapat duit’ tidka bisa ditinggalkannya. Jadi, bagaimana mungkin generasi emas bisa lahir dari system seperti ini? tentu hanya satu jawaban pasti, tidak mungkin.

Namun, apakah berarti tidak akan pernah bisa negeri ini atau bahkan negeri seluruh dunia melahirkan generasi emas? Tentu bukan berarti seperti itu. Dulu, sekitar 13 abad lamanya ada sebuah peradaban yang disana melahirkan banyak sekali para ilmuan, ahli diberbagai bidang, termasuk ahli dalam bidang agama, fikih, hadits, dan sebagainya hingga juga ahli dalam bidang sains dan teknologi. Dia merupakan peradaban yang menjadi mercusuar dunia, memiliki perpustakaan dengan ribuan koleksi buku terlengkap hingga menjadi rujukan seluruh Negara. Peradaban itu tidak lain adalah peradaban Islam dalam sebuah kepemimpinan di bawah naungan Khilafah Islamiyah. Sebuah peradaban yang di dalamnya diterapkan seluruh hukum-hukum Islam dalam setiap aspek kehidupannya. Dalam system Islam, biaya sekolah ditanggung oleh Negara, sehingga istilah pendidikan mahal tidak ada dalam Islam. Dalam system Islam, segala sarana dan prasarana pendidikan termasuk sekolah juga merupakan tanggung jawab Negara, maka sudah tentu tidak akan ada ditemukan sekolah-sekolah yang sampai tidak layak pakai. Hal ini Karena kewajiban Negara adalah memelihara urusan rakyatnya, dan pendidikan merupakan salah satu pengurusan rakyat. Itulah kenapa dalam Islam pendidikan benar-benar sangat diperhatikan oleh Negara. Lebih dari itu, Islam menetapkan pendidikan sebagai salah satu kebutuhan utama masyarakat secara umum yang pemenuhannya menjadi kewajiban negara. Negara wajib menyediakan pendidikan bagi rakyat secara gratis. Inilah prinsip dasar dalam sistem Islam. Prinsip dasar ini jelas bertolak belakang dengan prinsip dasar dalam sistem kapitalisme yang sedang diterapkan di dunia, termasuk di negeri ini.

Rasulullah saw langsung mendidik masyarakat. Beliau juga mengangkat orang-orang yang bertugas memberikan pengajaran kepada masyarakat. Seperti yang diriwayatkan oleh Ibn Hisyam di dalam Sirah Ibn Hisyam, Rasul juga pernah menjadikan tebusan bagi tawanan Perang Badar dalam bentuk mengajari anak-anak kaum Anshar membaca dan menulis. Untuk semua itu masyarakat tidak dipungut biaya sepersen pun. Prinsip itu pula yang mendorong para khalifah setelah beliau membangun berbagai fasilitas pendidikan secara cuma-cuma untuk rakyat. Penyelenggaraan pendidikan berkualitas disediakan untuk rakyat yang menginginkannya tanpa dipungut biaya. Hal itu seperti yang dilakukan oleh Khalifah Mu’tashim billah, Khalifah al-Mustanshir, Sultan Nuruddin, dan para penguasa Islam lainnya sepanjang masa kekhilafahan Islam. Wajar jika sepanjang kekuasaan kekhilafahan Islam, lahir banyak ulama, cendekiawan dan ahli di berbagai bidang. Mereka melahirkan temuan-temuan spektakuler yang mendahului ilmuwan-ilmuwan Barat puluhan bahkan ratusan tahun lebih dulu.

Dengan demikian, maka tema pendidikan HARDIKNAS 2012 yakni “Bangkitnya generasi Emas Indonesia” hanya akan mampu terwujud jika dalam system Islam. Oleh karenanya maka saat ini yang harus dilakukan adalah mengembalikannya untuk diterapkan dalm setiap aspek kehidupan. Wallahu a’lam

By: Rusma, Mahasiswi : Pendidikan Kimia angkatan 2008

 


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: