Membangkitkan Generasi Emas Indonesia

5 05 2012

Sesuai dengan tema Hari Pendidikan Nasional tahun 2012 ini  “Bangkitnya Generasi Emas Indonesia” namun ironi pendidikan Indonesia masih terus berlangsung. Kualitas pendidikan kita secara umum belum baik. Jika kita menengok ke pinggiran kota, apalagi di daerah terpencil, keadaannya lebih memprihatinkan lagi. Kesenjangan dari segi kualitas dan ketersediaan sarana prasarana masih terasa mencolok.

Ujian Nasional (UN) yang dijadikan salah satu alat untuk mengukur standar pendidikan masih ramai diperdebatkan. Berikut pula kebocoran dan kecurangan pelaksanaan UN banyak kasus terungkap. Dan pastinya masih lebih banyak kasus kecurangan yang telah menjadi rahasia umum yang tidak diungkap. Dalam hal ini, kejujuran dan integritas baik guru, murid dan orang tua masih harus kita pertanyaaan. Selain fakta tersebut, pendidikan mahal pun masih jadi masalah, belum semua siswa usia sekolah ikut besekolah. Angka siswa yang tidak melanjutkan ke jenjang SMP masih tinggi. Lalu apa kabar dengan sekolah gratis? SPP gratis saja tampaknya belum menyelesaikan masalah. Di beberapa sekolah, Sekolah gratis rasanya malah menghimpit ruang gerak sekolah untuk maju. Namun di sisi lain bagi yang tak mampu biaya sekolah gratis saja tidak cukup. Kemiskinan masih menjadi hambatan orang tua untuk menyekolahkan anak-anaknya.

Masih sangat banyak fakta kebobrokan pendidikan saat ini. Ironi memang, apabila kita mengingat bangsa Indonesia yang setelah 66 tahun merdeka namun belum mampu menghadirkan pendidikan yang berkualitas dan terjangkau bagi setiap rakyatnya. Hal ini terlihat dari moral generasi mudanya yang semakin hari semakin mengalami kemerosotan. Peran lembaga pendidikan membentuk generasi yang bermoral dan memiliki paradigma ke depan sangatlah kurang. Angka putus sekolah dan pengangguran setiap tahunnya selalu mengalami peningkatan. Hal ini sangat bertentangan dengan apa yang diamanatkan dalam Undang-Undang Pendidikan, dimana pendidikan diharapkan tidak hanya mengedepankan proses transfer ilmu saja tetapi juga dengan pembentukan moral para generasi penerus bangsa ini.

Menurut Dr. Fahmy Lukman, M.Hum (Universitas Padjadjaran), permasalahan masyarakat kita akibat produk dunia pendidikan dapat disimpulkan sebagai berikut : Agama dipandang sebagai sesuatu yang terpisah dengan pengaturan kehidupan (sekularisme) sehingga agama (Islam) tidak lagi berperan sebagai pengendali motivasi manusia (driving integrating motive) atau faktor pendorong (unifying factor);  Kepribadian peserta didik mengalami keguncangan citra diri (disturbance of self image) dan kepribadian yang pecah (split personality) sehingga tidak memiliki kepribadian yang islami (Asy Syakhshiyyah Al Islamiyyah); Pola hidup masyarakat bergeser dari sosial-religius ke arah masyarakat individual materialistis dan sekuler; Pola hidup sederhana dan produktif cenderung ke arah pola hidup mewah dan konsumtif; Struktur keluarga yang semula extended family cenderung ke arah nuclear family bahkan menuju single parent family; Hubungan keluarga yang semula erat dan kuat cenderung menjadi longgar dan rapuh; Nilai-nilai agama dan tradisional masyarakat cenderung berubah menjadi masyarakat modern bercorak sekuler dan permissive society; Lembaga perkawinan mulai diragukan dan masyarakat cenderung untuk memilih hidup bersama tanpa nikah; Ambisi karier dan materi yang tidak terkendali mengganggu hubungan interpersonal baik dalam keluarga maupun masyarakat. (dakwahkampus.com)

Untuk mengubah dan memperbaiki kondisi dunia pendidikan harus dilakukan pendekatan yang integratif dengan pengubahan paradigma dan pokok-pokok penopang sistem pendidikan. Untuk itu diperlukan Islam sebagai solusi terhadap kenyataan tersebut.

 

Pendidikan Dalam Perspektif Islam

Paradigma Pendidikan dibangun dengan memandang Islam sebagai ideologi (aqidah). Hal itu memberikan arah bagi pengembangan kurikulum, tujuan, metodologi, sampai pembangunan sarana-prasarana penddikan. Negara memegang peranan dominan, karena pendidikan merupakan bagian public services yang harus diberikan untuk melayani rakyat. Pada titik ini jelas bahwa pendidikan dalam Islam ditujukan dalam upaya membentuk individu shaleh, taat Allah dan Rasul-Nya.

Penetapan tujuan pedidikan tidak lepas dari ideologi Islam. Tujuan ini adalah konsekuensi setiap muslim yang terikat pada syariat Islam. Tujuan ini membentuk identitas muslim yang  tampak pada pola pikir dan pola tingkah lakunya. Oleh sebab itu dalam konteks negara, maka pendidikan ditujukan untuk pertama, menanamkan aqidah Islam sebagai aqidah aqliyah dan siyasiyah, kedua, aqidah Islam sebagai world view dan point of view dalam bertindak serta ketiga,penguasaan tsaqofah Islamiyah dan sains-teknologi (teori dan terapan) sebagai sarana peningkatan ibadah.

Sistem pendidikan Islam didasarkan pada sebuah kesadaran bahwa setiap muslim wajib menuntut ilmu dan tidak boleh mengabaikannya. Allah mewajibkan setiap muslim untuk membekali dirinya dengan berbagai macam ilmu yang dibutuhkan dalam kehidupan. Ilmu dianggap sebagai sesuatu yang harus ada termasuk kebutuhan primer manusia. Atas dasar ini, Negara wajib menyediakan pendidikan bebas biaya kepada warga negaranya, baik muslim maupun non muslim. Negara bersungguh-sungguh berupaya memperoleh pendapatan Negara, seperti yang telah dicontohkan Rasullah saw. Dalam mengelola perekonomian Negara, agar bisa memenuhi kebutuhan primer bagi warga negaranya, termasuk kebutuhan pendidikan. Islam memiliki solusi bagi setiap masalah manusia, termasuk masalah pendidikan saat ini. Tidak ada alasan bagi kita menolak penerapan sistem islam. oleh karenanya, generasi emas Indonesia tentu akan bisa terwujud jika system pendidikan yang mendidik generasi masa depan adalah system yang mampu memberikan solusi, dan tentu hanya sistem Islamlah yang mampu seperti itu.

Penulis : Titien, Mahasiswi : Pendidikan Biologi angkatan 2009

 

 


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: