Kartini-Kartini 2012

22 04 2012

Para Kartini-Kartini tahun 2012, saat ini tangan gemulainya memikul batu untuk makan. saat ini matanya melihat kehancuran keluarganya, matanya melihat anak-anaknya terjebak dalam liberalisme-hedonisme, matanya melihat ekonomi rumahtangganya terjebak dalam jurang kemiskinan. Saat ini kaki ringkihnya memikul beban yang sangat berat, menjadi pioner di dalam rumahnya, hanya untuk meyambung makan.
Itulah segelintir kisah kasih di negeri ini, dimana setelah R. A. Kartini menerbitkan terang setelah gelap, perempuan indonesia kembali ke dalam masa gelap. Begitu banyak ibu yang menangis karena anak perempuannya aborsi dan anak laki-lakinya candu obat terlarang, tidak sedikit istri yang menangis karena ditinggal selingkuh oleh suaminya. Tidak terhitung wanita yang memeras keringat untuk sesuap nasi.
Masih adakah harapan untuk mereka? Masih adakah harapan untuk perempuan indonesia untuk merasakan hidup mulia dan bahagia? Sementara begitu banyak catatan derita perempuan indonesia. Mereka yang berteriak dengan lantang untuk menyerukan hak perempuan, apakah cukup hanya dengan apresiasi dan kesetaraan gender bisa memuliakan perempuan indonesia?. Semenjak isu gender digulirkan, adakah kebahagian yang dirasakan oleh perempuan indonesia?.
Kemuliaan dan kebahagiaan hakiki manusia tidak berada ditangan manusia. Sesungguhnya kemuliaan dan kebahagiaan itu berada ditangan Allah SWT semata. Masalah utama perempuan indonesia tidak terletak pada gender atau penghargaan jasa. Tetapi masalah perempuan indonesia terletak pada sistem yang melingkupi kehidupanya.
Sekarang perempuan indonesia hidup didalam jeruji kapitalisme, dimana keringat mereka adalah uang, air mata mereka adalah emas, dan darah mereka adalah berlian. Perempuan hanya dihargai sebagai materi semata, yang akan ada harganya jika ada uang. Sungguh ironi yang mengerikan. Bagaimana mungkin sebuah sistem yang menganggap perempuan adalah materi mampu memuliakan perempuan itu sendiri -dengan kemuliaan yang pantas disandang oleh seorang perempuan?.
Kita bayangkan saja, seorang ibu yang harus bekerja mati-matian untuk menghidupi keluarganya, akankah beliau merasakan nikmatnya mendidik anak-anaknya hingga menjadi anak yang luar biasa dimata umat, sementara waktunya lebih banyak digunakan untuk bekerja? Bukan untuk mendidik anak.
Padahal Perempuan tidak diciptakan untuk menghasilkan uang, tetapi perempuan diciptakan untuk menjadi seorang istri yang menentramkan hati suaminya, untuk menjadi ibu yang mendidik anaknya menjadi mujtahid dan mujahid, dan seutama-utama penciptaan manusia adalah menjadi hamba yang paling bertakwa dihadapan Allah SWT.
Selama sistem kapitalisme masih melingkupi perempuan indonesia, tidak ada kata bahagia dan sejahtera bagi perempuan indonesia. Perempuan Indonesia hanya akan sejahtera di bawah naungan khilafah islamiyah. Wallahu’alam
*AMY JAKAL M.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: