BANJIR MENGANAK SUNGAI

13 02 2012

“Kota Sungai”, sepertinya akan lebih mengena untuk julukan kota Banjarmasin. Pasalnya genangan-genangan air dan banjir yang melanda kota Banjarmasin akhir-akhir ini benar-benar telah menganak sungai. Membuat Banjarmasin layaknya sungai di tengah kota. Ratusan rumah penduduk tak luput dari jilatan air yang pasang dari sungai-sungai sekitar. Bukan hanya Banjarmasin, tetapi kota-kota besar lainnya juga mengalami hal serupa, di Jakarta contohnya. Banjir hampir terjadi setiap tahunnya.
Bencana lingkungan seperti banjir adalah sedikit dari sederet bencana yang datang silih berganti. Disadari atau tidak, sebenarnya bencana-bencana tersebut tidak selamanya disebabkan faktor alam. Banjir misalnya, merupakan bencana yang tidak bisa dipisahkan dengan faktor manusia yang kurang ramah dengan alam dan lingkungannya sendiri. Banjir yang terjadi adalah hasil dari hukum sebab akibat yang manusia lakukan terhadap alam sekitar.
Banyak hal yang memungkinkan terjadinya berbagai bencana alam seperti banjir, mulai dari pembuangan limbah kesungai, saluran irigasi yang tidak tertata rapi dan sebagainya. Namun, eksploitasi yang berlebihan terhadap sumber daya alam dilihat sebagai penyebab utama terjadinya bencana alam seperti longsor maupun banjir di Indonesia. Bencana alam ini tidak hanya akan mengakibatkan ratusan manusia kehilangan tempat tinggal mereka, lebih parahnya bisa mengakibatkan banyak manusia kehilangan nyawa mereka.
Ketika alam sudah marah, siapakah yang salah? Alamkah atau manusia yang terlalu serakah? Fakta membuktikan, manusia seringkali memperlakukan alam secara tidak proporsional. Padahal semestinya manusia bersikap ramah terhadapnya. Sebuah rekor yang patut disayangkan dan memalukan. Negara Indonesia pernah masuk buku rekor dunia (Guinness World Records). Indonesia dijuluki sebagai perusak hutan tercepat di dunia dari 44 negara yang secara kolektif memiliki 90 % dari luas hutan di dunia.
Atas penilaian itu, kita sebenarnya tak perlu mencari alasan untuk memungkirinya. Bagaimana pun, kita mesti mengakui, kasus pembalakan hutan secara liar telah menjadi fakta dan bukti nyata. Sudah tak terhitung jumlah hutan yang digunduli oleh tangan-tangan usil tak bertanggung jawab. Dalam surat resmi berisi sertifikat yang dikirimkan oleh Green Peace tercatat, sekitar 1,8 juta hektar hutan yang dihancurkan pertahun mulai tahun 2000 sampai 2005, berarti kehancuran hutan sekitar 2 % atau 51 kilometer perhari. Sungguh luar biasa. Itu adalah perhitungan 7 tahun yang lalu, bisa dibayangkan di tahun 2012 ini telah berapa banyak sumber daya alam yang telah di eksploitasi.
Akibat perbuatan sebagian manusia yang rakus, saat ini, besok, dan dimasa yang akan datang semua orang harus menanggung resiko menghadapi kekuatan alam yang maha dahsyat. Dan banjir hanyalah bagian kecil dari bencana yang ditimbulkan. Lebih parahnya, eksploitasi hutan tersebut hanya menjadi keuntungan di pihak-pihak tertentu dan rakyat kecil yang tidak tahu menahu mendapatkan bencana secara terus-menerus. Hal ini tentu tidak luput dari peran pemerintah yang menghalalkan segala macam praktik penggunaan sumber daya alam yang akhirnya tidak terkontrol.
Langkah strategis perlu dilakukan dengan perbaikan-perbaikan yang mendasar dari segala macam problematika yang dihadapi. Pengendalian kerusakan lingkungan harus dimulai dari pengendalian manusia sebagai subjek atas pengendali keberlangsungan ekosistem. Namun, perbaikan mendasar yang utama adalah keteraturan sistem pemerintahan yang dijalankan.
Sistem menjadi keutamaan dalam usaha perbaikan dikarenakan salah satu masalah dan kendala sangat alert dan akut, khususnya menyangkut lingkungan hidup di Indonesia adalah ketidak-pastian peraturan yang kemudian menjadi dasar hukum yang ada dalam sistem tersebut. Seringnya laporan-laporan dan kasus pelaku pembalakan hutan, maupun para oknum bos pabrik yang memalsukan surat Amdal dan lainnya divonis bersalah oleh hukum “yang tidak pasti itu” dan dijebloskan ke dalam penjara. Namun tetap saja, aktivitanya bebas berkeliaran dan meneruskan pengrusakan lingkungan seenaknya. Hal tersebut tentunya tidak lepas dari tipu muslihat orang-orang yang menjadikan asas manfaat sebagai pertimbangan dalam berbuat. Sehingga hukum menjadi “kabur” untuk kasus-kasus semacam itu. Jika keuntungan dan kepentingan pihak-pihak tertentu yang kemudian didukung penuh oleh aturan yang ada, maka jangan pernah bermimpi lingkungan hidup di Indonesia yang menjadi paru-paru dunia, akan lestari dan banjir sebagai akibat dari kerusakan lingkungan akan lenyap dari pandangan.
Diperlukan pandangan yang arif dan komprehensif agar dapat melihat persoalan-persoalan di lingkungan secara bijaksana agar dapat memberikan solusi yang terbaik. Terdapat empat hal dalam memahami masalah lingkungan, diantaranya, pendekatan scientific (pembuktian empiris, penelitian, kajian ilmiah), konstruksi sosial budaya (interpretasi sosial budaya terhadap alam lingkungan), dan agama (teologi). Peran agama dalam hal ini adalah memberikan ruang integrasi berbagai kearifan (keilmuan, budaya, politik, ekonomi, dsb), untuk menjadi kanal dari terbentuknya transformasi sosial, serta menyediakan wahana untuk memahami peristiwa alam. Selain itu kita juga harus mampu memahami konteks missi Islam sebagai Rahmatan Lil Alamiin atau rahmat bagi sekalian alam. Kata alam disini jelas bukan hanya makhluk hidup seperti mausia dan binatang, tetapi juga alam semesta.
Oleh karena itu, tentu tidak berlebihan jika islam menjadi solusi di tengah berbagai problematika yang dihadapi pada saat ini. Konsep syariat islam yang akan diterapkan secara keseluruhan pada negara dan sistem hukum akan memberikan efek jera bagi para pelaku perusak lingkungan karena hukum yang ditetapkan adalah hukum yang tidak memihak pada siapapun. Sedangkan islam yang dianut oleh individu akan membentuk individu-individu yang berkualitas dalam keimanan dan perbuatan, tidak akan menjadikan asas manfaat dan keuntungan pribadi menjadi pertimbangan dalam melakukan sesuatu, melainkan menjadikan keridhoan Allah sebagai tujuan dalam bertindak.
Pada dasarnya Islam akan menjadi solusi yang benar-benar memelihara alam dan manusia yang menerapkan hukum atasnya. Karena islam sebagai agama sekaligus ideologi adalah rahmat bagi seluruh alam, bukan hanya orang islam saja namun juga seluruh manusia yang ada di alam ini. Syariat islam akan menjadi sempurna dengan sistem pemerintahan islam yaitu Khilafah yang menjadi pelindung dan akan menerapkan segala aturan yang ada. Karena hanya dengan Khilafahlah islam bisa benar-benar diterapkan.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: