Pentingnya Peran IBu

17 01 2012

Melihat wanita menjadi sopir kendaraan umum busway misalnya, bukanlah pemandangan yang aneh. Jangan heran juga jika ada ibu-ibu mengayuh becak di sekitar anda. Pekerjaan-pekerjaan berat (baca: pekerjaan lelaki) tersebut tidak canggung dilakoni oleh wanita saat ini. Kebutuhan ekonomi yang mendesak dan ide pemberdayaan ekonomi perempuan yang didengung-dengungkan oleh kaum feminis telah menyihir wanita-wanita Indonesia untuk terjun langsung di sektor ekonomi.
Dengan dalih pemberdayaan ekonomi perempuan tidak hanya akan memberi keuntungan, tetapi juga memberi solusi dari persoalan keluarga termasuk masalah perekonomian negara, maka dicanangkanlah program pemberdayaan perempuan berdasarkan Instruksi Presiden RI No.9 Tahun 2000 Tentang Pengarusutamaan Gender dalam Pembangunan Nasional Tanggal 19 Desember 2000.
Benarkah dengan pemberdayaan ekonomi perempuan ini bisa memperbaiki ekonomi keluarga-keluarga Indonesia yang notabene hampir 50% nya ini berada dalam kemiskinan?
Program pemberdayaaan ekonomi perempuan tersebut telah menggeser peran perempuan sebagai ibu menjadi ‘kepala’ rumah tangga yang harus menafkahi keluarga. Hal ini terjadi lantaran diterapkannya sistem kapitalisme yang secara nyata menunjukkan perlakukan keji terhadap perempuan karena menilai perempuan sebagai komoditi yang layak dieksploitasi demi mendatangkan materi. Kapitalisme juga mengukur partisipasi perempuan dalam pembangunan bangsa hanya dari kontribusi materi.
Program-program pemberdayaan ekonomi perempuan yang digencarkan oleh pemerintah, hanya bersifat parsial dan tidak menyentuh akar permasalahan mengenai kemiskinan. Padahal kemiskinan merupakan persoalan seluruh lapisan masyarakat, bukan hanya persoalan perempuan. Terlebih lagi penyebab kemiskinan saat ini, sifatnya struktural akibat diterapkannya sistem kapitalis.
Lalu apa hasil yang sudah dirasakan oleh bangsa ini dengan dilakukannya program pemberdayaan ekonomi perempuan? Apakah sesuai dengan harapan ataukah sebaliknya?
Ide pemberdayaan perempuan telah menambah tingkat perceraian akibat ketimpangan ekonomi keluarga, rusaknya generasi akibat rendahnya perhatian orang tua khususnya ibu, meningkatnya single parent dan rendahnya keinginan untuk menikah karena ingin menjadi wanita karir atau TKW.
Sistem ini pula yang menyebabkan seorang ibu tidak lagi memperhatikan apa peran utamanya sebagai istri dan ibu. Ketika mereka sibuk dengan pekerjaannya mencari nafkah. Yang seharusnya mereka lakukan adalah melayani suami, menjaga diri ketija ditinggal suami, dan mendidik anak-anaknya. Namun demi sesuap nasi mereka rela menelantarkan anak-anaknya dan dan diserahkannya kepada orang lain. Bahkan ada pula ibu yang membunuh anaknya karena takut tidak bisa memberi nafkah anaknya.
Begitulah potret kehidupan sekarang, hanya beberapa orang saja yang sadar akan kewajibannya. Istri yang benar-benar melayani suami, benar-benar mendidik anak. Sebagaimana bahwa ibu adalah madrasah utama dan pertama pada anak.ibu kah yang paling dekat anak, ibu yang akan memperhatikan perkembangan anak, ibu lah yang akan menjadi generasi-generasi yang luar biasa.
Kebutuhan seorang istri adalah kewajiban suami untuk memenuhinya, hukum seorang perempuan bekerja adalah mubah, sehingga jika bekerja maupun tidak dia tidak mendapatkan dosa maupun pahala, namun jika pekerjaan itu dpat melelaikan kewajibannya maka hukum bekerja itu bisa mengarah pada kemudharatan.
Dalam islam perempuan sangat terjaga, dia berada dirumah bersama keluarganya untukk mendidik anak-anaknya, kegiatannya bisa dilakukan dirumah atau tempat-tempat muslimah, masih bisa mengkaji ilmu, berkumpul dengan muslimah yang lain asal bermanfaat namun mereka tidak pernah melalikan kewajibannya. Sehingga lahirlah pejuang-pejuang islam yang tangguh dari ibu yang luar biasa juga tentunya.
Seperti imam syafi’i umur 7 tahun sudah bisa menghapal Alqur’an tentu itu semua karena bimbingan ibu dan dalam awasan ibu, sianak tidak boleh makan barang haram maupun subhat. Kemudian ada muhammad Alfatih sang penakluk konstantinopel tantu dibalik itu semua ada ibu yang selalu memberikan sugesti bahwa dia lah panglima terbaik. Dan masih banyak pejuang islam yang sangat luar biasa peranannya dalam membentuk generasi luar biasa. Bandingkan dengan ibu dalam kehidupan kapitalisme ini. Anak perempuan pacaran sampai hamil diluar nikah dibolehkan, anak perempuan keluar dengan pakaian terbuka dipersilakan, malah ada ibu yang khawatir kalo anaknya tidak pacaran atau tidak pakai pakaian yang terbuka. Anak selalu saja ditinggal bekerja walaupun bertemu sabtu dan minggu namun itu masih kurang bagi mereka. Sehingga tidak heran jika anak dekat dengan pembantu, dekat dengan tetangga dll.
Masa depan seorang anak ada ditangan ibu, ibu mesti mendidik anak dengan aqidah yang shohih. Inilah sebenarnya tugas seorang ibu. Lelahnya ibu akan diganti Allah dengan syurga, dan dibawah telapak ibu ada syurga, tentunya ibu lah orang yang paling dihormati setelah ayah.
Semoga kaum perempuan dibumi ini menyadari bahwa pentingnya peran ibu dalam pendidikan kepada anak, dan jangan sampai dengan berbagai program kapitalisme yang mengharuskan ibu bekerja atau menyuruh ibu tidak lagi terlalu memperhatikan anak kita mengikutinya sehingga kita lalai dari kewajiban yang sudah Allah berikan
Dan tentu lah sebagai anak yang baik kita harus hormat kepada orang tua karena beliau lah yangselama hidup kita bejasa dan telah membuat kita luar biasa. Allahu’alam bishawab
Rizka Afizzatul Umi
Mahasiswa FKIP UNLAM Banjarmasin.

Iklan

Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: