Mulianya Peran “ibu”

17 01 2012

Suatu ketika ada seorang bayi yang siap dilahirkan. Sebelum dilahirkan dia bertanya kepada Tuhan. “ya Tuhan, Engkau akan mengirimku ke bumi. Tapi aku takut. Aku masih kecil dan tak berdaya. Siapakah nanti yang akan melindungiku di sana?”
Tuhan pun menjawab, “di antara semua malaikat-Ku, Aku telah memilihkan seorang yang khusus untukmu. Dia akan merawat dan mengasihimu” Si kecil bertanya lagi, “Tapi disini, di surga ini, aku tidak berbuat apa-apa, selain tersenyum dan bernyanyi. Semua itu cukup membuatku bahagia” Tuhan menjawab lagi,”Tak apa, malaikatmu itu akan selalu menyenandungkan lagu untukmu, dan dia akan membuatmu tersenyum setiap hari. Kamu akan merasakan cinta dan kasih sayang. Itu akan membuatmu bahagia.”
Namun si kecil bertanya lagi, “bagaimana aku bisa mengerti ucapan mereka, bila aku tidak mengerti bahasa mereka?”
Tuhanpun menjawab, “Malaikatmu akan membisikkan kata-kata paling indah, dia akan selalu bersabar di sampingmu, dia akan mengajarimu bicara dengan bahasa manusia”
“Lalu  bagaimana jika aku ingin bicara padaMu, Tuhan?”
Tuhan menjawab,”Malaikatmu akan membimbingmu, dia akan menengadahkan tangannya bersamamu, dan mengajarkanmu untuk berdoa” Lagi-lagi si kecil menyelidik,”Namun aku mendengar, disana, banyak sekali orang jahat, siapa yang akan melindungiku nanti?”
Tuhanpun menjawab, “Tenang, malaikatmu akan terus melindungimu, bahkan hingga nyawa yang menjadi taruhannya. Dia sering melupakan kepentingannya sendiri untuk keselamatanmu”
“Ya Tuhan, tentu aku akan sedih jika tak melihatMu lagi” Tuhan menjawab lagi, “Malaikatmu akan membimbingmu untuk selalu mengingatKu, dia akan mengajarkan keagunganKu. Walau begitu, Aku akan selalu tetap di sisimu”
Hening, kedamaianpun menyeruak. Suara panggilan dari bumi terdengar sayup. “Ya Tuhan, aku akan pergi sekarang. Tolong, sebutkan nama malaikat yang akan melindungiku…”
Tuhanpun kembali menjawab, ” Nama malaikatmu tak begitu penting. Kamu akan memanggilnya dengan sebutan: Ibu…”
Rasullullah saw. Bersabda:
“Kalian semua adalah pemimpin. Dan kalian semua akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipmpinnya. Seorang suami adalah pemimpin di rumah tangganya, dan dia bertanggungjawab atas apa yang dipimpinnya. Seorang wanita (ibu) adaah pemimpin di rumah suaminya dan anak-anaknya, dan dia bertanggungjawab atas apa yang dipimpinnya.”(Muttafaq’alaih)
Ya, ibu…islam telah menggambarkan peran ibu sebagai pengatur rumah tangga, mencetak dan mendidik generasi. Jika peran itu dapat terlaksana dengan baik maka surga bagi wanita yang bergelar ibu, betapa tidak dari awal, ibu telah mengandung janinnya selama sembilan bulan (bahkan ada yang lebih). Hari demi hari semakin merasakan beratnya kandungan dan ditambah rasa sakit saat melahirkan yang tak terdefinisi lg bagaimana sakitnya karena memang terlalu sakit hingga akhirnya bainya lahir, ibupun berdoa kepada Allah agar yang dilahirkannya menjadi anak yang sholeh dan menghadirkan kebahagiaan-kebahagian dalam kehidupanya. Kemudian selama hampir dua tahun memberikan ASI sebagai makanan terbaik bagi bayinya, menyusui, mendekap dalam pelukan hangat. Pun ketika sudah anak-anak dan dewasa seorang ibu tetap memperhatikan anaknya, kasih ibu bagai lingkaran yang tak ada akhirnya. Wajar jika islam memberikan penghormatan yang begitu besar pada seorang ibu. Abu Hurairah ra meriwayatkan bahwa seseorang datang kepada Rasullullah saw dan bertanya, ‘wahai Rasullullah siapa orang yang paling berha saya perlakukan dengan baik?’Rasulullah bersabda,”Ibumu”, dia bertanya, “setelah itu siapa?” Rasulullah menjawab,”Ibumu”, dia bertanya lagi, “setelah itu siapa”Rasulullah menjawab,”Bapakmu.”(HR.Bukhari-Muslim).
Rasululah juga bersabda:”Karena sesungguhnya surga itu dibawah telapak kaki ibu”.(HR Ahmad dan al-Nasa’i)
Kemuliaan ini terletak pada peran wanita sebagai ibu, akan tetapi jika kita melihat kondisi sekarang peran ibu sebagai menejer keluarga perlahan tapi pasti mulai bergeser pada sesuatu yang sangat tidak sebanding. Karena tidak semua wanita yang menjalankan peran keibuannya dengan baik. Bisa jadi anak yang keluar dari rahimnya adalah anak hasil perzinahan, padahal sejatinya sejak awal, sang ibu harusnya telah menyiapkan benih yang akan dikandungnya adalah benih terbaik dari memilh calon ayah yang memiliki kepribadian islam dengan cara yang benar dalam bingkai pernikahan. Bisa jadi pula ibu tidak ingin merasakan sakit ketika melahirkan hanya karena enggan merasakan penderitaan, padahal perjuangan saat melahirkan merupakan aktivitas setara dengan pahala pejuang fii sabiilllah dengan ganjaran syurga. Bisa jadi pula ia tidak merasa perlu menyusui bayinya hanya karena bia menghambat karier atau khawati merusak bentuk badan. Merawat dan mengasuh bayinya pun tidak di anggap penting karena toh bisa diserahkan kepada baby sitter. Bila demikian ia, maka ia telah mengabaikan peran keibuanya yang menjadi hak anaknya. Lalu bagaimana bisa dikatakan bahwa syurga ada pada telapak kakinya? Sebagian ada yang merasa mulia dan percaya diri jika bekarja, menduduki jabatan penting dan kariernya cemerlang, mereka rela bekerja walaupun tempatnya jauh atau full dari pagi sampai sore/mala. Akibatnya, mereka jarang bertemu dengan anaknya meskipun satu rumah. Sering saat mereka pergi anaknya belum bangun , dan saat mereka pulang aaknyasudah tidur. Inilah salah satu dampak dari ideologi kapitalisme dan liberalisme yang justru merendahkan wanita bukan memuliakannya sebagai ibu. Saat mereka harus bekerja sampai meninggalkan kewajiban utamanya sebagai ibu dan pengatur rumah tangga. Sebab yang demikian bisa menjadikan suami dan anaknya kurang perhatian. Anak anak tumbuh tanpa bimbingan orang tua terutama ibu, karena ibu mereka hampir setiap hari keluar rumah. Televisi dan jalanan pun lantas menjadi ibu pengganti, bahkan tak sedikit anak yang terpaksa harus memikul beban ekonomi dengan bekerja. Lalu lahirlah persoalan-persoalan kruasial lainnya; keuarga yang rapuh dan rentan perceraian, anak-anak bermasalah yang kehilangan masa depan, terasuk kriminalitas menyangkut perempuan dan anak; trafficking, AYLA (anak yang dilacurkan) dan lain-lain. Pada saat yang sama, umatpun kehilangan kekuatan dan terancam kehilangan masa depan, lost generation!
Ibu yang mulia adalah ibu yang bertakwa, yang mampu menjalankan perannya sesuai tuntunan syariah islam, mereka mengatur rumah tangganya dengan baik hingga mampu menciptakan suasana kondusif bagi suami dan anak-anaknya serta memiliki peran di masyarakat untuk membawa masyarakat pada islam untuk menggapai kemuliaan. Ibu juga merupakan madrasah (sekolah) utama dan pertama bagi anak-anaknya. Peran ini adalah peluang bagi ibu untuk memperoleh amal jariyah dengan membentuk anak yang sholeh.
By:Ina

Iklan

Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: